Fathu Makkah (Bagian 2)

malam hari di padang pasir dekat Marru azh-Zhahran. Latar belakang adalah langit gelap dengan bulan sabit dan bintang-bintang. Di tengah, terlihat tenda-tenda sederhana dan puluhan api unggun kecil yang tersebar, menciptakan lautan cahaya keemasan di tengah kegelapan. Di depan salah satu tenda, dua orang laki-laki dewasa (menggambarkan Abbas dan Abu Sufyan) berdiri berdampingan. Satu orang (Abu Sufyan) mengangkat tangannya dengan ekspresi takjub, menunjuk ke arah barisan pasukan yang sedang bersiap untuk salat. Di kejauhan, terlihat barisan laki-laki berpakaian putih rapi sedang rukuk dan sujud dalam formasi teratur.

Hikmah di Balik Kesalahan Hâtib: Kekuatan Sejati Adalah Mengasihi yang Lemah

Hâtib bin Abi Balta'ah bukanlah seorang munafik. Ia adalah sahabat yang ikut dalam Perang Badar, yang Rasulullah sendiri memberi kesaksian bahwa Allah telah mengampuni para pesertanya. Namun, tidak ada manusia yang sempurna. Dalam diri setiap anak Adam ada sisi lemah yang kadang menguasai, menjerumuskan ke dalam kesalahan.

Rasulullah , dengan hati yang agung dan akhlak yang mulia, mengetahui betul kelemahan manusiawi ini. Beliau tidak menghukum Hâtib, justru membelanya di hadapan para sahabat yang marah. Beliau mengingatkan bahwa Hâtib telah berterus terang, dan jasa besarnya dalam Perang Badar tidak bisa dihapus begitu saja.

إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا، وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

Artinya: “Sungguh ia telah ikut Perang Badar. Tahukah engkau, boleh jadi Allah telah melihat (amalan) para peserta Perang Badar lalu berfirman: ‘Beramallah sesukamu, sungguh Aku telah mengampuni kalian.’” (HR. Bukhari)

Inilah pelajaran agung: orang yang benar-benar kuat adalah yang mampu mengasihi yang lemah. Orang yang benar-benar agung adalah yang mau mencari alasan bagi mereka yang tergelincir karena setan, di tengah kelengahan dari keimanan yang tulus dan hati nurani yang masih hidup. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan maaf dan kasih sayang.


Pasukan Besar Menuju Mekah

Rasulullah melanjutkan persiapan untuk ekspedisi besar. Beliau menunjuk Abu Ruhm – Kultsum bin Hushain al-Ghifari sebagai pengganti beliau di Madinah. Keberangkatan dilakukan pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriah.

Awalnya, Rasulullah dan para sahabat berpuasa. Ketika tiba di daerah Al-Kadid (antara Mekah dan Madinah), beliau berbuka dan meninggalkan puasa, hingga akhirnya tiba di Mekah setelah bulan Ramadhan berakhir.

Seluruh kaum Muhajirin dan Anshar ikut serta, tidak ada seorang pun yang tertinggal. Bergabung pula ribuan orang dari suku Sulaim, Muzainah, Ghifar, dan Gathafan. Ketika tiba di Marru azh-Zhahran, jumlah pasukan telah mencapai sepuluh ribu (ada yang mengatakan dua belas ribu). Padang pasir Arab menyaksikan pasukan luar biasa yang belum pernah ada sebelumnya—dalam hal aqidah, keimanan, dan kesiapan mengorbankan hidup demi akhirat.


Kedatangan Abbas dan Dua Pemuka Quraisy

Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah , keluar dari Mekah bersama keluarganya menuju Madinah. Beliau bertemu Rasulullah di daerah Al-Juhfah (atau Rabigh) dan menyatakan keislamannya. Rasulullah sangat gembira, karena selama ini Abbas tinggal di Mekah sebagai penjaga sumber air zamzam, dan meskipun belum masuk Islam, ia selalu membantu dan membela Rasulullah secara rahasia.

Dua tokoh Quraisy lainnya juga keluar menuju Madinah: Abu Sufyan bin al-Harits (sepupu Rasulullah dari Bani Hasyim) dan Abdullah bin Abi Umayyah (sepupu dari pihak ibu). Mereka menemui Rasulullah di daerah Niyq al-'Uqab dan meminta izin masuk. Ummu Salamah (istri Nabi) mencoba membantu mereka, tetapi Rasulullah bersabda: “Aku tidak butuh mereka berdua. Adapun sepupuku (Abu Sufyan bin al-Harits), ia telah keterlaluan dalam menyakitiku. Dan adapun saudara sepupuku dari pihak ibu (Abdullah bin Abi Umayyah), ia telah mengatakan di Mekah apa yang telah ia katakan (cacian).”

Ketika kabar ini sampai kepada Abu Sufyan bin al-Harits, ia berkata: “Demi Allah, beliau pasti akan mengizinkanku, atau aku akan memegang tangan anakku ini lalu kami akan berjalan di muka bumi sampai mati kehausan dan kelaparan.” Mendengar itu, hati Rasulullah lunak. Beliau mengizinkan mereka masuk, dan kedu pun masuk Islam.


Kekhawatiran Abbas terhadap Nasib Quraisy

Abbas melihat sendiri betapa besarnya pasukan di bawah keponakannya. Ia merasakan getaran iman yang luar biasa dari ribuan manusia yang siap mati demi Rasulullah . Hatinya cemas. Ia berkata dalam hati: “Celakalah Quraish! Demi Allah, jika Rasulullah memasuki Mekah secara paksa sebelum mereka datang meminta perlindungan, maka itu akan menjadi kehancuran Quraisy selamanya.”

Ia segera menaiki baghal (keledai) putih milik Rasulullah dan pergi ke arah Al-Arak, berharap bertemu dengan seorang penebang kayu atau penggembala yang bisa menyampaikan kabar ke Mekah agar penduduknya segera keluar menemui Rasulullah dan meminta perlindungan. Takdir mempertemukannya dengan Abu Sufyan bin Harb dan rombongannya.


Abu Sufyan Mencari Kabar untuk Quraisy

Sementara itu, Quraisy di Mekah dilanda kebingungan. Tidak ada kabar tentang Rasulullah , dan mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan beliau terhadap mereka. Abu Sufyan bin Harb, Hakim bin Hizam, dan Budail bin Warqa' keluar untuk mencari informasi.

Ketika mereka sampai di daerah sekitar Marru azh-Zhahran, mereka melihat api yang sangat banyak—sebanyak sepuluh ribu api, karena Rasulullah memerintahkan setiap pasukan menyalakan api. Abu Sufyan berkata: “Aku belum pernah melihat api seperti ini, dan pasukan seperti ini!” Budail berkata: “Ini pasti pasukan Khuza'ah.” Abu Sufyan menolak: “Khuza'ah terlalu lemah dan sedikit untuk memiliki api dan pasukan sebanyak ini.”

Saat mereka sedang berbincang, Abbas mengenali suara Abu Sufyan. Ia memanggil: “Wahai Abu Hanzhalah!” Abu Sufyan menjawab: “Wahai Abu al-Fadhl!” Abbas berkata: “Celaka engkau, wahai Abu Sufyan! Ini adalah Rasulullah bersama pasukannya.” Abu Sufyan panik: “Lalu apa yang harus saya lakukan? Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu!” Abbas berkata: “Naiklah ke belakang baghal ini. Aku akan membawamu kepada Rasulullah dan meminta perlindungan untukmu.”


Perjumpaan dengan Abbas dan Jaminan Keamanan

Abu Sufyan naik, sementara dua rekannya berjalan di belakang. Setiap kali mereka melewati api unggun, orang-orang bertanya: “Siapa ini?” Ketika melihat baghal Rasulullah dan Abbas di atasnya, mereka berkata: “Paman Rasulullah di atas baghal Rasulullah .” Mereka terus berjalan hingga melewati api unggun Umar bin al-Khaththab.

Umar mengenali Abu Sufyan. Ia segera menghampiri dan memegang lehernya, hampir membunuhnya, namun Abbas melindungi dan berlari cepat dengan baghal hingga masuk ke kemah Rasulullah . Abbas dan Abu Sufyan masuk menemui Rasulullah . Tak lama kemudian, Umar masuk dan berkata: “Wahai Rasulullah, ini Abu Sufyan, Allah telah menguasakannya tanpa perjanjian. Izinkan aku memenggal lehernya!”

Abbas berkata: “Aku telah memberinya jaminan keamanan.”

Abbas lalu duduk di samping Rasulullah berbisik. Ketika Umar terus mendesak, Abbas berkata: “Sabar wahai Umar. Demi Allah, jika ia berasal dari Bani 'Adi bin Ka'ab, engkau tidak akan berkata seperti ini. Namun engkau tahu ia dari Bani 'Abdu Manaf!” Umar menjawab: “Sabar wahai Abbas. Demi Allah, keislamanmu pada hari engkau masuk Islam lebih aku sukai daripada keislaman al-Khaththab (ayahku) seandainya ia masuk Islam. Tidak ada maksudku selain karena aku tahu bahwa keislamanmu lebih dicintai Rasulullah daripada keislaman al-Khaththab.”

Rasulullah memutuskan perselisihan mereka:

 اذْهَبْ بِهِ يَا عَبَّاسُ إِلَى رَحْلِكَ، فَإِذَا أَصْبَحْتَ فَأْتِنِي بِهِ

Artinya: “Bawalah dia, wahai Abbas, ke kemahmu. Jika pagi telah tiba, datanglah kepadaku dengannya.”

Adapun Hakim bin Hizam dan Budail bin Warqa' langsung masuk Islam pada malam itu juga.


Malam yang Membuka Hati Abu Sufyan

Abu Sufyan bermalam di kemah Abbas. Ia menyaksikan pemandangan yang menggetarkan jiwanya. Ketika mendengar azan, para sahabat segera berwudu, lalu mereka mengikuti Rasulullah dalam salat—rukuk jika beliau rukuk, sujud jika beliau sujud. Abu Sufyan berkata kepada Abbas: “Wahai Abbas, apakah beliau memerintahkan sesuatu, pasti mereka langsung melakukannya?” Abbas menjawab: “Ya, demi Allah. Sekiranya beliau memerintahkan mereka meninggalkan makan dan minum, pasti mereka taat.”

Yang lebih menakjubkan lagi, ketika Rasulullah berwudu, para sahabat berebut mendapatkan percikan air wudu beliau. Abu Sufyan berkata: “Wahai Abbas, aku belum pernah melihat sesuatu seperti malam ini. Bukan seperti ini kerajaan Kisra (Persia) dan Kaisar (Romawi)!”


Keislaman Abu Sufyan

Pagi harinya, Abbas membawa Abu Sufyan kepada Rasulullah . Beliau bersabda:

وَيْحَكَ يَا أَبَا سُفْيَانَ، أَلَمْ يَأْنِ لَكَ أَنْ تَعْلَمَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟

Artinya: “Celaka engkau, wahai Abu Sufyan! Bukankah sudah saatnya engkau mengetahui bahwa tiada tuhan selain Allah?”

Abu Sufyan menjawab: “Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Betapa sabarnya engkau, betapa mulianya engkau, betapa baik hubunganmu. Demi Allah, aku sungguh menduga bahwa jika ada tuhan lain selain Allah, pasti ia akan memberiku manfaat setelah ini.”

Rasulullah kembali bertanya:

وَيْحَكَ أَلَمْ يَأْنِ لَكَ أَنْ تَعْلَمَ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ؟

Artinya: “Celaka engkau! Bukankah sudah saatnya engkau mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah?”

Abu Sufyan menjawab: “Adapun yang ini, sungguh masih ada sesuatu dalam hatiku sampai sekarang.”

Abbas segera memperingatkan: “Celaka engkau! Masuk Islamlah dan bersaksilah bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, sebelum lehermu dipenggal!” Maka Abu Sufyan pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan masuk Islam.


Jaminan Keamanan untuk Seluruh Penduduk Mekah

Abbas kemudian berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah orang yang suka dengan kemegahan. Berilah dia sesuatu (kedudukan).”

Dengan cahaya hati dan keluasan akalnya, Rasulullah memberikan sesuatu yang tidak hanya menyelamatkan Abu Sufyan, tetapi juga menyelamatkan sebanyak mungkin orang dari pertumpahan darah. Beliau bersabda:

مَنْ دَخَلَ دَارَ أَبِي سُفْيَانَ فَهُوَ آمِنٌ، وَمَنْ دَخَلَ دَارَ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ فَهُوَ آمِنٌ، وَمَنْ دَخَلَ الْكَعْبَةَ فَهُوَ آمِنٌ، وَمَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَهُوَ آمِنٌ، وَمَنْ أَغْلَقَ بَابَهُ فَهُوَ آمِنٌ

Artinya: “Barang siapa masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, maka ia aman. Barang siapa masuk ke dalam rumah Hakim bin Hizam, maka ia aman. Barang siapa masuk ke dalam Ka'bah, maka ia aman. Barang siapa masuk ke dalam Masjidil Haram, maka ia aman. Barang siapa menutup pintu rumahnya, maka ia aman.”

Dengan kebijaksanaan ini, Rasulullah membuka pintu keselamatan seluas-luasnya. Darah tidak perlu tertumpah. Mekah akan ditaklukkan dengan damai.


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mu'tah: Ketika 3.000 Melawan 200.000

Tahun Ke-8 Hijriah: Tiga Bintang Quraisy Menyinari Islam

Umrah Perjanjian: Ketika Kerinduan Bertemu Keagungan