Zainab binti Jahsy: Pernikahan Langit yang Mengubah Syariat
1. Ketika Seorang Budak Meminang Putri Bangsawan
Kisah ini bermula dari sebuah perintah Allah yang sulit
diterima akal manusia. Rasulullah ๏ทบ diminta untuk menikahkan sepupunya sendiri, Zainab binti Jahsy,
dengan Zaid bin Haritsah, seorang mantan budak yang telah dimerdekakan dan
diangkat sebagai anak angkat beliau.
Zainab dan keluarganya awalnya keberatan. Mereka adalah
keluarga terhormat dari Bani Abdul Muthallib. Namun ketika tahu bahwa ini
adalah perintah Allah dan Rasul-Nya, Zainab pun tunduk. Ia menikah dengan Zaid,
bukan karena cinta, tetapi karena iman.
Namun pernikahan ini tidak berlangsung harmonis. Zaid,
meskipun seorang mukmin yang saleh, merasa tidak nyaman hidup dengan Zainab
yang berasal dari kalangan bangsawan Quraisy. Perbedaan latar belakang sosial
membuat rumah tangga mereka goyah. Zaid beberapa kali datang kepada Rasulullah ๏ทบ
mengeluhkan keadaannya, dan setiap kali itu pula Rasulullah berpesan,
"Pertahankan istrimu dan bertakwalah kepada Allah."
Hingga suatu hari, setelah Zaid merasa tidak sanggup lagi
mempertahankan rumah tangganya, beliau menceraikan Zainab.
2. Pinangan Langsung dari Rasulullah
Setelah masa iddah Zainab selesai, Rasulullah ๏ทบ
memanggil Zaid. Beliau bersabda:
"Pergilah kamu kepada Zainab, dan lamarlah ia
untukku."
Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik
radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
"Ketika masa iddah Zainab telah selesai, Nabi ๏ทบ
bersabda kepada Zaid, 'Pergilah, sebutlah namaku kepada Zainab (pinang ia
untukku).' Maka berangkatlah Zaid hingga ia menemui Zainab yang sedang membuat
adonan roti.
Anas berkata: 'Tatkala aku melihatnya, terasa begitu agung
di hatiku hingga aku tak sanggup menatapnya, karena Rasulullah ๏ทบ
telah menyebutnya (untuk dinikahi). Maka aku membelakanginya dan mundur ke
belakang, lalu berkata: "Wahai Zainab, berbahagialah! Rasulullah ๏ทบ
mengutusku untuk meminangmu."'
Zainab menjawab: 'Aku tidak akan melakukan sesuatu pun
hingga aku bermusyawarah dengan Tuhanku Azza wa Jalla.'
Kemudian Zainab berdiri menuju tempat shalatnya. Maka
turunlah Al-Qur'an (yang membolehkan pernikahan itu), dan datanglah Rasulullah ๏ทบ
lalu masuk menemuinya tanpa izin." (HR. Ahmad dan Muslim)
Subhanallah, Zainab tidak menjawab "ya" atau
"tidak" dengan tergesa-gesa. Ia langsung menuju mihrabnya, bersimpuh
menghadap Rabbnya. Dan Allah pun menjawab doa hamba-Nya yang tawadhu' itu
dengan menurunkan wahyu yang mengizinkan pernikahan tersebut.
3. Keutamaan Zainab: Kebanggaan Seorang Perempuan yang
Dinikahkan Langsung oleh Allah
Setelah pernikahan itu, Zainab radhiyallahu 'anha sering
berkata kepada istri-istri Nabi yang lain dengan penuh kebanggaan yang
dibenarkan syariat:
"Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian, sedangkan aku
dinikahkan oleh Allah dari atas langit yang tujuh."
Benar. Ketika pernikahan biasanya diatur oleh wali dari
pihak keluarga, pernikahan Zainab diatur langsung oleh Allah ๏ทป melalui wahyu yang
turun. Sungguh suatu kemuliaan yang tak tertandingi.
Zainab adalah salah satu wanita yang pertama kali hijrah
(Al-Muhajirat Al-Awwal). Ia dikenal sebagai perempuan yang sangat dermawan,
banyak bersedekah, dan suka menyambung tali silaturahmi. Aisyah radhiyallahu
'anha, istri Nabi yang paling dicintainya, pernah bersaksi tentang ketakwaan
dan kehati-hatian Zainab dalam beragama.
Rasulullah ๏ทบ
sendiri pernah bersabda tentang siapa di antara istri-istri beliau yang paling
cepat menyusulnya kelak. Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu
'anha:
ุนَْู
ุนَุงุฆِุดَุฉَ ุฃُู
ِّ ุงْูู
ُุคْู
َِِููู َูุงَูุชْ: َูุงَู ุฑَุณُُูู ุงَِّููู ุตََّูู ุงَُّููู
ุนََِْููู َูุณََّูู
َ: «ุฃَุณْุฑَุนَُُّูู َูุญَุงًูุง ุจِู ุฃَุทََُُّْูููู َูุฏًุง» َูุงَูุชْ:
ََُّููู َูุชَุทَุงََْููู ุฃََّูุชَُูุง ุฃَุทَُْูู َูุฏًุง، َูุงَูุชْ: ََููุงَูุชْ ุฃَุทَََْูููุง
َูุฏًุง ุฒََْููุจُ ِูุฃَََّููุง َูุงَูุชْ ุชَุนْู
َُู ุจَِูุฏَِูุง َูุชَุตَّุฏَُّู
"Rasulullah ๏ทบ bersabda: 'Orang yang paling cepat
menyusulku di antara kalian adalah yang paling panjang tangannya.' Aisyah
berkata: 'Maka kami pun saling mengukur, siapa di antara kami yang paling
panjang tangannya.' Aisyah melanjutkan: 'Ternyata yang paling panjang tangan di
antara kami adalah Zainab, karena ia bekerja dengan tangannya dan
bersedekah.'" (HR. Muslim)
Para istri Nabi mengira "panjang tangan" di sini
adalah panjang secara fisik. Ternyata yang dimaksud adalah panjang tangan dalam
kebaikan dan sedekah. Zainab adalah wanita yang suka bekerja keras dengan
tangannya, lalu hasil jerih payahnya ia sedekahkan di jalan Allah.
Zainab wafat pada tahun 20 Hijriah. Jenazahnya dishalatkan
oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu dan dimakamkan di
Baqi'. Ia adalah perempuan pertama yang dibuatkan kubah di atas usungan
jenazahnya untuk menutupi sosoknya dari pandangan laki-laki asing, sebuah
bentuk penghormatan atas kedudukannya sebagai Ummul Mukminin.
4. Pagi Itu, Turunlah Ayat Hijab
Setelah pernikahan itu, Rasulullah ๏ทบ mengadakan walimah (pesta pernikahan).
Beliau menyuguhkan roti dan daging, suatu hidangan yang mewah di masa itu. Para
sahabat diundang, mereka datang bergantian, makan, lalu pergi.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik
radhiyahu 'anhu:
(ุจََูู
ุนََูู ุงَّููุจِِّู ุตََّูู ุงَُّููู ุนََِْููู َูุณََّูู
َ ุจِุฒََْููุจَ ุงุจَْูุฉِ ุฌَุญْุดٍ
ุจِุฎُุจْุฒٍ ََููุญْู
ٍ، َูุฃَุฑْุณَْูุชُ ุนََูู ุงูุทَّุนَุงู
ِ ุฏَุงุนًِูุง، ََููุฌِูุกُ َْููู
ٌ
ََููุฃَُُْูููู ََููุฎْุฑُุฌَُูู، ุซُู
َّ َูุฌِูุกُ َْููู
ٌ ََููุฃَُُْูููู ََููุฎْุฑُุฌَُูู،
َูุฏَุนَْูุชُ ุญَุชَّู ู
َุง ุฃَุฌِุฏُ ุฃَุญَุฏًุง ุฃَุฏْุนُู، َُْูููุชُ: َูุง َูุจَِّู ุงَِّููู ู
َุง
ุฃَุฌِุฏُ ุฃَุญَุฏًุง ุฃَุฏْุนُُูู، َูุงَู: «ุงุฑَْูุนُูุง ุทَุนَุงู
َُูู
ْ» ، َูุจََِูู ุซََูุงุซَุฉُ
ุฑَْูุทٍ َูุชَุญَุฏَّุซَُูู ِูู ุงْูุจَْูุชِ، َูุฎَุฑَุฌَ ุงَّููุจُِّู ุตََّูู ุงَُّููู
ุนََِْููู َูุณََّูู
َ َูุงْูุทَََูู ุฅَِูู ุญُุฌْุฑَุฉِ ุนَุงุฆِุดَุฉَ ََููุงَู: «ุงูุณََّูุงู
ُ
ุนََُْูููู
ْ ุฃََْูู ุงْูุจَْูุชِ َูุฑَุญْู
َุฉُ ุงَِّููู» ََููุงَูุชْ: َูุนَََْููู
ุงูุณََّูุงู
ُ َูุฑَุญْู
َุฉُ ุงَِّููู، ََْููู َูุฌَุฏْุชَ ุฃَََْููู ุจَุงุฑََู ุงَُّููู ََูู،
َูุชََูุฑَّู ุญُุฌَุฑَ ِูุณَุงุฆِِู َُِِّّูููู َُُูููู ََُّููู َูู
َุง َُُูููู ِูุนَุงุฆِุดَุฉَ،
َََُْููููู َُูู َูู
َุง َูุงَูุชْ ุนَุงุฆِุดَุฉُ، ุซُู
َّ ุฑَุฌَุนَ ุงَّููุจُِّู ุตََّูู ุงَُّููู
ุนََِْููู َูุณََّูู
َ َูุฅِุฐَุง ุซََูุงุซَุฉٌ ู
ِْู ุฑَْูุทٍ ِูู ุงْูุจَْูุชِ َูุชَุญَุฏَّุซَُูู،
ََููุงَู ุงَّููุจُِّู ุตََّูู ุงَُّููู ุนََِْููู َูุณََّูู
َ ุดَุฏِูุฏَ ุงْูุญََูุงุกِ،
َูุฎَุฑَุฌَ ู
ُْูุทًَِููุง َูุญَْู ุญُุฌْุฑَุฉِ ุนَุงุฆِุดَุฉَ، َูู
َุง ุฃَุฏْุฑِู ุฃَุฎْุจَุฑْุชُُู ุฃَْู
ุฃُุฎْุจِุฑَ ุฃََّู ุงَْْูููู
َ ุฎَุฑَุฌُูุง، َูุฑَุฌَุนَ، ุญَุชَّู ุฅِุฐَุง َูุถَุนَ ุฑِุฌَُْูู ِูู
ุฃُุณَُّْููุฉِ ุงْูุจَุงุจِ ุฏَุงุฎَِูุฉً َูุฃُุฎْุฑَู ุฎَุงุฑِุฌَุฉً ุฃَุฑْุฎَู ุงูุณِّุชْุฑَ ุจَِْููู
َูุจََُْููู، َูุฃُْูุฒَِูุชْ ุขَูุฉُ ุงْูุญِุฌَุงุจِ. (ุฑูุงู ุงูุจุฎุงุฑู)
"Nabi ๏ทบ mengadakan walimah pernikahan dengan
Zainab binti Jahsy dengan hidangan roti dan daging. Aku diutus untuk mengundang
orang-orang. Datanglah sekelompok orang, mereka makan lalu pergi. Kemudian
datang kelompok lain, makan lalu pergi. Aku terus mengundang hingga tak ada
lagi yang bisa kuundang. Aku berkata, 'Wahai Nabi Allah, aku tak menemukan
seorang pun lagi untuk kuundang.' Beliau bersabda, 'Angkatlah makanan kalian.'
Tersisalah tiga orang yang masih asyik berbincang-bincang
di dalam rumah. Maka Nabi ๏ทบ keluar menuju kamar Aisyah. Beliau berkata, 'Assalamu'alaikum
ahlal bait wa rahmatullah.' Aisyah menjawab, 'Wa'alaikas salam wa rahmatullah,
bagaimana engkau dapati istrimu? Semoga Allah memberkahimu.' Beliau kemudian
mengelilingi kamar istri-istrinya yang lain, mengucapkan salam kepada mereka
seperti yang beliau ucapkan kepada Aisyah, dan mereka menjawab seperti jawaban
Aisyah.
Kemudian Nabi ๏ทบ kembali (ke rumah Zainab). Ternyata tiga
orang itu masih saja berbincang di dalam rumah. Nabi ๏ทบ adalah orang yang
sangat pemalu. Maka beliau pergi lagi menuju kamar Aisyah. Aku tak tahu, apakah
aku yang mengabarkan beliau atau beliau dikabarkan bahwa ketiga orang itu telah
pergi. Maka beliau pun kembali.
Tatkala beliau meletakkan salah satu kakinya di ambang
pintu dan kaki yang lain masih di luar, beliau menurunkan tabir antara aku dan
beliau. Dan turunlah ayat hijab." (HR. Bukhari)
Rasulullah ๏ทบ
yang sangat pemalu, tidak tega mengusir para tamu yang asyik mengobrol. Namun
Allah, dengan keagungan-Nya, tidak malu untuk menegakkan kebenaran. Maka
turunlah firman Allah:
َูุง
ุฃََُّููุง ุงَّูุฐَِูู ุขู
َُููุง َูุง ุชَุฏْุฎُُููุง ุจُُููุชَ ุงَّููุจِِّู ุฅَِّูุง ุฃَْู
ُูุคْุฐََู َُููู
ْ ุฅَِูู ุทَุนَุงู
ٍ ุบَْูุฑَ َูุงุธِุฑَِูู ุฅَِูุงُู ََِْูููู ุฅِุฐَุง
ุฏُุนِูุชُู
ْ َูุงุฏْุฎُُููุง َูุฅِุฐَุง ุทَุนِู
ْุชُู
ْ َูุงْูุชَุดِุฑُูุง ََููุง ู
ُุณْุชَุฃِْูุณَِูู
ِูุญَุฏِูุซٍ ۚ ุฅَِّู ุฐَُِٰููู
ْ َูุงَู ُูุคْุฐِู ุงَّููุจَِّู ََููุณْุชَุญِْูู ู
ُِْููู
ْ ۖ
َูุงَُّููู َูุง َูุณْุชَุญِْูู ู
َِู ุงْูุญَِّู ۚ َูุฅِุฐَุง ุณَุฃَْูุชُู
َُُّููู ู
َุชَุงุนًุง
َูุงุณْุฃََُُّูููู ู
ِْู َูุฑَุงุกِ ุญِุฌَุงุจٍ ۚ ุฐَُِٰููู
ْ ุฃَุทَْูุฑُ ُُِููููุจُِูู
ْ
َُُููููุจَِِّูู ۚ َูู
َุง َูุงَู َُููู
ْ ุฃَْู ุชُุคْุฐُูุง ุฑَุณَُูู ุงَِّููู ََููุง ุฃَْู
ุชَِْููุญُูุง ุฃَุฒَْูุงุฌَُู ู
ِْู ุจَุนْุฏِِู ุฃَุจَุฏًุง ۚ ุฅَِّู ุฐَُِٰููู
ْ َูุงَู ุนِْูุฏَ
ุงَِّููู ุนَุธِูู
ًุง
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu
memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kamu diizinkan untuk makan dengan tidak
menunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah, dan
apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan.
Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi sehingga dia malu kepadamu
(untuk menyuruhmu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.
Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka
mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu
dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak
boleh (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah (Nabi wafat).
Sesungguhnya perbuatan itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah." (QS.
Al-Ahzab: 53)
5. Peran Umar dalam Turunnya Ayat Hijab
Menariknya, turunnya ayat hijab ini adalah salah satu dari
sekian banyak "kebenaran" yang diucapkan Umar bin Khattab sebelum
Al-Qur'an menurunkannya.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata:
Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata:
"Wahai Rasulullah, banyak orang yang masuk menemui
engkau, baik yang baik maupun yang jahat. Alangkah baiknya jika engkau
memerintahkan para Ummul Mukminin untuk berhijab (ber-tabir)." Maka Allah
pun menurunkan ayat hijab. (HR. Bukhari)
Umar memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap kemuliaan
rumah tangga Nabi. Ia merasa tidak pantas jika sembarang orang bisa leluasa
melihat dan berbicara dengan istri-istri Rasulullah ๏ทบ yang merupakan ibu-ibu kaum mukminin.
6. Ketika Tabir Itu Juga untuk Keluarga
Setelah ayat hijab turun, sebagian sahabat bertanya,
"Apakah kami dilarang berbicara dengan putri-putri paman kami kecuali dari
balik tabir?" Bahkan ada seorang munafik yang berkata dengan sinis,
"Jika Muhammad mati, aku akan menikahi Aisyah." Maka turunlah
lanjutan ayat yang melarang keras menikahi istri-istri Nabi selamanya.
Namun, bagaimana dengan mahram (kerabat dekat) para istri
Nabi? Allah kemudian menurunkan firman-Nya:
َูุง
ุฌَُูุงุญَ ุนَََِّْูููู ِูู ุขุจَุงุฆَِِّูู ََููุง ุฃَุจَْูุงุฆَِِّูู ََููุง ุฅِุฎَْูุงَِِّููู
ََููุง ุฃَุจَْูุงุกِ ุฅِุฎَْูุงَِِّููู ََููุง ุฃَุจَْูุงุกِ ุฃَุฎََูุงุชَِِّูู ََููุง
ِูุณَุงุฆَِِّูู ََููุง ู
َุง ู
َََููุชْ ุฃَْูู
َุงَُُّููู ۗ َูุงุชََِّููู ุงََّููู ۚ ุฅَِّู
ุงََّููู َูุงَู ุนََٰูู ُِّูู ุดَْูุกٍ ุดَِููุฏًุง
"Tidak ada dosa bagi istri-istri Nabi (untuk berjumpa
tanpa tabir) dengan ayah mereka, anak laki-laki mereka, saudara laki-laki
mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari
saudara perempuan mereka, perempuan-perempuan (sesama muslim), dan hamba sahaya
yang mereka miliki. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha
Menyaksikan segala sesuatu." (QS. Al-Ahzab: 55)
Ayat ini menegaskan bahwa tabir (hijab) hanya berlaku untuk
laki-laki asing (bukan mahram). Adapun terhadap mahram, para istri Nabi boleh
tidak berhijab.
Kemudian turun pula ayat yang mengatur adab berbicara dan
etika tinggal di rumah:
َูุง
ِูุณَุงุกَ ุงَّููุจِِّู َูุณْุชَُّู َูุฃَุญَุฏٍ ู
َِู ุงِّููุณَุงุกِ ุฅِِู ุงุชََّْููุชَُّู ََููุง
ุชَุฎْุถَุนَْู ุจِุงَِْْูููู ََููุทْู
َุนَ ุงَّูุฐِู ِูู َْููุจِِู ู
َุฑَุถٌ ََُْูููู ًَْูููุง
ู
َุนْุฑًُููุง . ََููุฑَْู ِูู ุจُُููุชَُِّูู ََููุง ุชَุจَุฑَّุฌَْู ุชَุจَุฑُّุฌَ
ุงْูุฌَุงَِِّูููุฉِ ุงْูุฃَُٰููู َูุฃَِูู
َْู ุงูุตََّูุงุฉَ َูุขุชَِูู ุงูุฒََّูุงุฉَ َูุฃَุทِุนَْู
ุงََّููู َูุฑَุณَُُููู ۚ ุฅَِّูู
َุง ُูุฑِูุฏُ ุงَُّููู ُِููุฐِْูุจَ ุนَُْููู
ُ ุงูุฑِّุฌْุณَ
ุฃََْูู ุงْูุจَْูุชِ َُููุทَِّูุฑَُูู
ْ ุชَุทِْููุฑًุง
"Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti
perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk
(melembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada
penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu
tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti
orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan
taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan
dosa dari kamu, wahai ahlulbait, dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya." (QS. Al-Ahzab: 32-33)
7. Hijab untuk Seluruh Muslimah: Antara Kekhususan dan
Keumuman
Ayat-ayat di atas secara tekstual berbicara kepada
istri-istri Nabi. Namun, para ulama sepakat bahwa hukum yang terkandung di
dalamnya berlaku untuk seluruh perempuan mukminah. Istri-istri Nabi hanyalah
teladan utama karena kedudukan mereka yang mulia.
Imam Al-Alusi dalam tafsirnya berkata:
"Yang dimaksud dengan perintah agar mereka (istri Nabi)
selalu tinggal di rumah adalah perintah yang juga ditujukan kepada seluruh
perempuan muslimah. Imam Tirmidzi dan Al-Bazzar meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud,
dari Nabi ๏ทบ,
beliau bersabda: 'Sesungguhnya perempuan itu adalah aurat. Apabila ia
keluar rumah, setan akan memperindahnya (di mata laki-laki). Dan
sedekat-dekatnya ia dengan rahmat Rabbnya adalah ketika ia berada di dasar
rumahnya.' "
Al-Qurthubi dalam tafsirnya juga menegaskan:
"Makna ayat ini adalah perintah untuk selalu tinggal di
rumah. Meskipun redaksinya khusus untuk istri Nabi, namun perempuan lain masuk
di dalamnya secara makna. Apalagi syariat Islam secara keseluruhan penuh dengan
perintah agar wanita tinggal di rumah dan tidak keluar kecuali untuk keadaan
darurat."
Allah ๏ทป
telah merinci dalam kitab-Nya yang mulia tentang adab-adab bagi muslimah:
menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, tidak menampakkan perhiasan kecuali
yang biasa tampak (wajah dan telapak tangan), menutupkan kain kerudung ke dada,
dan tidak menghentakkan kaki agar perhiasan yang tersembunyi diketahui.
Firman Allah dalam QS. An-Nur: 31:
َُْููู
ِْููู
ُุคْู
َِูุงุชِ َูุบْุถُุถَْู ู
ِْู ุฃَุจْุตَุงุฑَِِّูู ََููุญَْูุธَْู ُูุฑُูุฌََُّูู ََููุง
ُูุจْุฏَِูู ุฒَِููุชََُّูู ุฅَِّูุง ู
َุง ุธََูุฑَ ู
َِْููุง ۖ ََْูููุถْุฑِุจَْู ุจِุฎُู
ُุฑَِِّูู
ุนََٰูู ุฌُُููุจَِِّูู ۖ ََููุง ُูุจْุฏَِูู ุฒَِููุชََُّูู ุฅَِّูุง ِูุจُุนَُููุชَِِّูู ุฃَْู
ุขุจَุงุฆَِِّูู ุฃَْู ุขุจَุงุกِ ุจُุนَُููุชَِِّูู ุฃَْู ุฃَุจَْูุงุฆَِِّูู ุฃَْู ุฃَุจَْูุงุกِ
ุจُุนَُููุชَِِّูู ุฃَْู ุฅِุฎَْูุงَِِّููู ุฃَْู ุจَِูู ุฅِุฎَْูุงَِِّููู ุฃَْู ุจَِูู
ุฃَุฎََูุงุชَِِّูู ุฃَْู ِูุณَุงุฆَِِّูู ุฃَْู ู
َุง ู
َََููุชْ ุฃَْูู
َุงَُُّููู ุฃَِู
ุงูุชَّุงุจِุนَِูู ุบَْูุฑِ ุฃُِููู ุงْูุฅِุฑْุจَุฉِ ู
َِู ุงูุฑِّุฌَุงِู ุฃَِู ุงูุทِِّْูู
ุงَّูุฐَِูู َูู
ْ َูุธَْูุฑُูุง ุนََٰูู ุนَْูุฑَุงุชِ ุงِّููุณَุงุกِ ۖ ََููุง َูุถْุฑِุจَْู
ุจِุฃَุฑْุฌَُِِّููู ُِููุนَْูู
َ ู
َุง ُูุฎَِْููู ู
ِْู ุฒَِููุชَِِّูู ۚ َูุชُูุจُูุง ุฅَِูู
ุงَِّููู ุฌَู
ِูุนًุง ุฃََُّูู ุงْูู
ُุคْู
َُِููู َูุนََُّููู
ْ ุชُِْููุญَُูู
"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman,
agar mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah
menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan
hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. Dan janganlah menampakkan
perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau
ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau
saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau
putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama muslim), atau
hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak
mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti
tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar
diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada
Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur:
31)
Al-Khumur (jamak dari khimar) adalah
kain penutup kepala dan leher. Al-Juyub adalah lubang leher
baju. Pada masa jahiliah, wanita membiarkan kerudung terurai di punggung
sehingga dada dan leher mereka terbuka. Maka Allah memerintahkan mereka untuk
melilitkan kerudung hingga menutupi dada.
Adapun jilbab secara khusus, Allah berfirman:
َูุง
ุฃََُّููุง ุงَّููุจُِّู ُْูู ِูุฃَุฒَْูุงุฌَِู َูุจََูุงุชَِู َِููุณَุงุกِ ุงْูู
ُุคْู
َِِููู
ُูุฏَِْููู ุนَََِّْูููู ู
ِْู ุฌََูุงุจِูุจَِِّูู ۚ ุฐََِٰูู ุฃَุฏَْٰูู ุฃَْู ُูุนْุฑََْูู
ََููุง ُูุคْุฐََْูู ۗ ََููุงَู ุงَُّููู ุบَُููุฑًุง ุฑَุญِูู
ًุง
"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak
perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah
dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang." (QS. Al-Ahzab: 59)
Jilbab adalah kain longgar yang diletakkan di
atas pakaian, menutupi seluruh tubuh layaknya selembar mukena atau gamis
longgar. Pada masa itu, wanita merdeka dan wanita hamba sering keluar malam
untuk buang hajat di tempat terbuka. Para pemuda nakal suka mengganggu
wanita-wanita ini. Jika wanita itu adalah hamba sahaya, mereka akan
mengganggunya. Namun jika wanita itu adalah wanita merdeka, mereka akan segan.
Maka Allah memerintahkan wanita merdeka untuk memakai jilbab agar mereka
dikenali sebagai wanita terhormat dan tidak diganggu.
Sirah Nabawiyah fi Dhauil Quran was Sunnah

Komentar
Posting Komentar