Tahun Keenam Hijriah: Antara Keadilan, Strategi Perang, dan Hidayah
1. Pasukan Muhammad bin Maslamah: Saat Pembesar Musuh Masuk Islam
Di bulan Muharram tahun keenam hijriah, Rasulullah ﷺ
mengirim Muhammad bin Maslamah bersama tiga puluh orang berkuda untuk menyerang
Bani Bakr bin Kilab. Mereka bergerak dengan siasat perang yang cerdik:
bersembunyi di siang hari dan berjalan di malam hari. Dalam keheningan malam,
mereka tiba-tiba menyerang musuh yang sedang lengah.
Sepuluh orang berhasil dibunuh, sisanya melarikan diri.
Kabilah itu kehilangan unta dan kambing mereka yang kemudian dibawa pulang ke
Madinah sebagai rampasan perang.
Di tengah perjalanan pulang, mereka bertemu dengan seorang
pria yang tidak mereka kenal. Tanpa tahu siapa dia, mereka menangkapnya dan
membawanya ke Madinah. Pria itu adalah Tsumamah bin Utsal Al-Hanafi, pembesar
Bani Hanifah yang sangat terpandang.
Sesampainya di Madinah, Rasulullah ﷺ mengenalinya. Beliau tidak
memperlakukannya seperti tawanan biasa. Selama tiga hari, beliau
memperlakukannya dengan baik, memberinya makan dan minum, bahkan menawarkan
Islam kepadanya. Tsumamah awalnya menolak.
Namun, setelah melihat akhlak mulia Rasulullah, hati
Tsumamah luluh. Ia kembali kepada Rasulullah dan menyatakan masuk Islam. Ia
kemudian menjadi salah seorang muslim yang terbaik dan sangat berjasa dalam
membuka jalan dakwah di Yamamah.
Ibnu Katsir berpendapat bahwa peristiwa ini terjadi
setelah Perang Khaibar (tahun 7 H), karena Abu Hurairah yang meriwayatkan kisah
ini baru masuk Islam setelah Khaibar.
2. Ekspedisi Bani Lahyan: Membalas Pengkhianatan dan
Shalat Khauf Pertama
Bani Lahyan adalah kabilah yang telah berkhianat dengan
membunuh Ashim bin Tsabit dan kawan-kawannya dalam peristiwa Bi'ru Ma'unah
(Ekspedisi Raji'). Rasulullah ﷺ
tidak pernah melupakan pengkhianatan ini. Hingga tiba bulan Jumadal Ula tahun
ini, beliau berangkat dengan dua ratus orang berkuda untuk menuntut balas.
Beliau menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai penggantinya di
Madinah. Untuk mengelabui musuh, beliau mengambil jalur menuju Syam,
seolah-olah tidak berniat menyerang Bani Lahyan. Namun ketika tiba di
perkampungan mereka, Bani Lahyan yang ketakutan langsung lari dan bersembunyi
di puncak-puncak gunung.
Melihat musuh kabur, Rasulullah ﷺ berkata kepada para sahabat,
"Seandainya kita turun menuju 'Usfan, tentulah orang-orang Quraisy akan
melihat bahwa kita telah datang ke Mekah." Maksud beliau adalah ingin
menunjukkan kekuatan kepada Quraisy agar gentar. Beliau mengirim dua orang
penunggang kuda hingga ke Kar' Al-Ghamim untuk memperlihatkan keperkasaan kaum
muslimin.
Di 'Usfan, mereka dihadang oleh sekelompok musyrikin yang
dipimpin Khalid bin Walid (saat itu masih kafir). Tibalah waktu shalat Zhuhur.
Kaum musyrikin berkata satu sama lain, "Mereka sedang lengah sekarang.
Andai kita bisa menyerang mereka." Lalu mereka berkata lagi,
"Sebentar lagi mereka akan shalat, yang lebih mereka cintai daripada
anak-anak dan jiwa mereka."
Maka turunlah Jibril membawa ayat tentang shalat khauf:
وَاِذَا
كُنْتَ فِيْهِمْ فَاَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلٰوةَ فَلْتَقُمْ طَاۤىِٕفَةٌ مِّنْهُمْ
مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوْٓا اَسْلِحَتَهُمْۚ فَاِذَا سَجَدُوْا فَلْيَكُوْنُوْا مِنْ
وَّرَاۤىِٕكُمْۚ وَلْتَأْتِ طَاۤىِٕفَةٌ اُخْرٰى لَمْ يُصَلُّوْا فَلْيُصَلُّوْا
مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوْا حِذْرَهُمْ وَاَسْلِحَتَهُمْۗ وَدَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا
لَوْ تَغْفُلُوْنَ عَنْ اَسْلِحَتِكُمْ وَاَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيْلُوْنَ
عَلَيْكُمْ مَّيْلَةً وَّاحِدَةً ۗ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِنْ كَانَ بِكُمْ
اَذًى مِّنْ مَّطَرٍ اَوْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَنْ تَضَعُوْٓا اَسْلِحَتَكُمْ ۚ
وَخُذُوْا حِذْرَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ اَعَدَّ لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًا
"Dan apabila engkau (Nabi Muhammad) berada di
tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu engkau hendak melaksanakan shalat
bersama mereka, hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu
dengan menyandang senjata mereka. Apabila mereka telah sujud, hendaklah mereka
pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh). Lalu hendaklah datang golongan
lain yang belum shalat, shalatlah bersama engkau dan hendaklah mereka bersiap
siaga dengan menyandang senjata mereka. Orang-orang kafir ingin agar kamu
lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, sehingga mereka dapat menyerang
kamu sekaligus. Tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata jika kamu mendapat
sesuatu kesusahan karena hujan atau jika kamu dalam keadaan sakit. Akan tetapi,
tetaplah bersiap siaga. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang
menghinakan bagi orang-orang kafir." (QS. An-Nisa: 102)
Inilah pertama kalinya shalat khauf disyariatkan. Sebuah
bukti nyata betapa Islam adalah agama yang mudah dan sesuai untuk setiap zaman
dan tempat. Ada perbedaan pendapat ulama tentang waktu pertama kali shalat
khauf ini dilaksanakan. Ibnu Ishaq berpendapat tahun keempat Hijriah dalam
Ekspedisi Dzatur Riqa', sementara Imam Bukhari berpendapat tahun ketujuh
Hijriah saat Khaibar.
3. Pengkhianatan 'Ukl dan 'Urainah: Antara Kebaikan dan
Balasan Setimpal
Di bulan Syawal tahun ini, datanglah sekelompok orang dari
kabilah 'Ukl dan 'Urainah ke Madinah. Mereka menyatakan masuk Islam dan
membaiat Rasulullah ﷺ.
Tubuh mereka kurus kering, kulit mereka pucat kekuningan, tidak cocok dengan
cuaca Madinah.
Dengan penuh kasih sayang, Rasulullah ﷺ memerintahkan mereka
untuk mengikuti unta-unta beliau di luar kota, minum susu dan air kencing unta
itu sebagai obat. Mereka pun melakukannya dan sembuh.
Namun, setelah sembuh, mereka membalas kebaikan dengan
kejahatan paling keji. Mereka membunuh penggembala unta, menyiksanya dengan
kejam, menusuk matanya dengan duri, lalu menggiring unta-unta itu pergi. Sebuah
pengkhianatan yang memilukan.
Saat kabar ini sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau segera
mengirim pasukan di bawah pimpinan Kurz bin Jabir Al-Fihri dengan dua puluh
penunggang kuda. Mereka berhasil mengejar para pembunuh dan membawa mereka
kembali ke Madinah.
Hukuman pun dijatuhkan setimpal dengan perbuatan mereka.
Tangan dan kaki mereka dipotong secara bersilang, mata mereka dicongkel dengan
paku panas, lalu mereka dibiarkan di padang panas (Al-Harrah) meminta-minta air
namun tidak diberi hingga mereka mati.
Hukuman ini bukanlah bentuk penyiksaan tanpa dasar,
melainkan qishash yang adil: mereka mencuri (maka dipotong tangannya), mereka
membunuh dan memberontak (maka dibunuh), mereka menyiksa penggembala (maka
mereka disiksa setimpal), dan mereka memerangi Allah dan Rasul-Nya.
4. Upaya Pembunuhan Abu Sufyan: Dari Pengkhianatan Menuju
Hidayah
Suatu hari, Abu Sufyan bin Harb duduk di majelis kaumnya.
Dengan perasaan kesal terhadap kekuatan Islam yang terus tumbuh, ia berkata,
"Adakah seseorang yang mau pergi membunuh Muhammad dengan cara licik? Agar
kita terbebas darinya."
Seorang badui maju dan berkata, "Aku ahli jalan, sangat
mengenal rute. Aku punya sebilah belati seperti sayap burung nasar." Abu
Sufyan memberinya unta dan bekal, serta berpesan agar merahasiakan misi ini.
Badui itu berangkat menuju Madinah. Ia mencari Rasulullah
hingga akhirnya menemukan beliau bersama para sahabat. Begitu melihatnya,
Rasulullah ﷺ
bersabda, "Orang ini datang hendak berkhianat. Allah akan menghalangi niat
jahatnya."
Badui itu berhenti dan bertanya, "Siapa di antara
kalian yang Ibnu Abdul Muthallib?" Nabi menjawab, "Aku." Pria
itu mendekat, pura-pura hendak membisikkan sesuatu. Seketika, Asir bin Hudhair
menariknya keras-keras dan memegang ujung kainnya. Ternyata di balik kain itu
tersembunyi belati!
"Wahai Rasulullah, ini pengkhianat!" seru Asir.
Badui itu pucat pasi dan berteriak, "Darahku! Darahku!" Asir bin
Hudhair memegang kerah bajunya.
Rasulullah ﷺ
berkata dengan tenang, "Katakan sejujurnya, siapa engkau dan apa tujuanmu.
Jika engkau jujur, kejujuran akan bermanfaat bagimu. Jika engkau berbohong, aku
sudah tahu niatmu."
Badui itu bertanya, "Apakah aku aman?" Rasul
menjawab, "Engkau aman." Maka ia pun menceritakan semua rencana Abu
Sufyan dan hadiah yang dijanjikan.
Ia ditahan di rumah Asir bin Hudhair. Keesokan harinya,
Rasulullah ﷺ
memanggilnya dan berkata, "Engkau telah kuberi keamanan. Pergilah ke mana
engkau suka. Atau mau yang lebih baik dari itu?"
"Apa itu?" tanya badui.
"Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku utusan Allah," jawab
Nabi.
Seketika itu juga badui itu masuk Islam. Dengan penuh
keharuan ia berkata, "Wahai Muhammad, aku tidak takut pada lelaki mana
pun. Tapi begitu melihatmu, akal sehatku hilang dan tubuhku melemah. Aku tahu
niat jahatku, dan tak seorang pun tahu kecuali aku sendiri. Kini aku yakin
engkau dijaga, engkau benar, dan kelompok Abu Sufyan adalah kelompok
setan!" Rasulullah ﷺ
tersenyum mendengar pengakuannya.
Badui itu tinggal beberapa hari, lalu pamit pergi.
Setelah itu, Rasulullah ﷺ ingin memberi pelajaran kepada Abu Sufyan
atas usahanya membunuh beliau. Beliau memanggil Amr bin Umayyah
Adh-Dhamri—seorang pemberani yang terkenal sebagai pendekar di masa
jahiliyah—dan Salamah bin Aslam bin Harisy. Beliau bersabda, "Pergilah kalian
berdua menemui Abu Sufyan bin Harb. Jika kalian mendapat kesempatan lengah,
bunuhlah ia."
Keduanya berangkat hingga tiba di Mekah. Mereka thawaf di
Ka'bah dan shalat dua rakaat. Orang-orang Mekah curiga melihat Amr. Mereka
berkata, "Amr datang pasti membawa keburukan." Mereka hampir membunuh
keduanya, tetapi Amr dan Salamah berhasil melarikan diri kembali ke Madinah
tanpa berhasil menjalankan misi.
Demikianlah, Allah menghendaki lain. Abu Sufyan diselamatkan
hingga akhirnya masuk Islam pada malam penaklukan Mekah (Fathu Makkah). Ia
kemudian menjadi salah satu pembela Islam setelah sebelumnya menjadi musuh
paling gigih.
Sungguh, hidayah adalah milik Allah, diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.
Sirah Nabawiyah fi Dhauil Quran was Sunnah

Komentar
Posting Komentar