Surat-Surat Cinta untuk Dunia: Ketika Islam Menyapa Para Penguasa

Beberapa orang pria berjubah putih berdiri di pintu gerbang kota, masing-masing membawa gulungan surat di tangan. Mereka akan berangkat ke berbagai arah: ada yang menuju utara (Romawi), timur (Persia), barat (Mesir), dan selatan (Habsyah). Matahari terbit menyinari wajah-wajah mereka yang penuh tekad. Latar belakang adalah kota Madinah yang tenang dengan masjid sederhana.

Perjanjian Hudaibiyah telah mengubah peta politik Jazirah Arab. Ancaman dari Quraisy mereda, dan untuk pertama kalinya kaum Muslimin memiliki kesempatan bernapas lega. Rasulullah melihat peluang emas ini. Kini saatnya menyebarkan risalah Islam tidak hanya kepada penduduk Arab, tetapi kepada seluruh umat manusia. Beliau akan menyapa para raja dan penguasa di empat penjuru dunia dengan pesan yang sama: Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.

Momen Bersejarah di Balik Kedamaian

Kembali dari Hudaibiyah, Rasulullah merasa aman dari gangguan Quraisy yang selama ini menjadi penghalang utama dakwah Islam. Beliau tahu bahwa risalahnya tidak terbatas untuk orang Arab saja. Allah telah berfirman:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua.'" (QS. Al-A'raf: 158)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya': 107)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada seluruh umat manusia." (QS. Saba': 28)

Ayat-ayat ini menjadi landasan. Dunia saat itu didominasi dua kekuatan besar: Romawi (Bizantium) di barat dan Persia di timur. Keduanya telah lama terperangkap dalam peperangan yang melemahkan. Kerusakan akidah, kebobrokan moral, dan ketimpangan sosial merajalela. Rakyat jelata merindukan kedamaian dan keadilan. Islam hadir sebagai jawaban atas kerinduan itu.

Persiapan: Membuat Segel Kenabian

Suatu hari, Rasulullah berkumpul dengan para sahabat. Beliau bersabda:

"Wahai manusia, sesungguhnya Allah mengutusku sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maka janganlah kalian berselisih tentang aku, sebagaimana murid-murid (hawariyyun) berselisih tentang Isa putra Maryam."

Para sahabat bertanya, "Bagaimana mereka berselisih, wahai Rasulullah?"

"Ia memanggil mereka sebagaimana aku memanggil kalian. Mereka yang diutus ke tempat yang dekat menerima dengan senang hati, sementara yang diutus ke tempat yang jauh merasa berat dan enggan."

Beliau kemudian mengumumkan rencana untuk mengirim surat kepada Heraklius (Kaisar Romawi), Kisra (Raja Persia), Muqauqis (Penguasa Mesir), Najasyi (Raja Habsyah), dan para penguasa lainnya. Para sahabat menyambut dengan antusias.

Untuk keperluan ini, Rasulullah membuat sebuah cincin dari perak. Pada cincin itu terukir tiga baris: Muhammad pada baris pertama, Rasul pada baris kedua, dan Allah pada baris ketiga. Cincin ini digunakan sebagai stempel untuk mengesahkan surat-surat kerajaan yang akan dikirim ke seluruh penjuru dunia.


Surat kepada Heraklius: Dialog Seorang Kaisar dengan Musuhnya

Rasulullah memilih Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi untuk menyampaikan surat kepada Heraklius, Kaisar Romawi. Beliau memerintahkan agar Dihyah menyerahkan surat itu kepada gubernur Bushra, yang kemudian meneruskannya kepada sang kaisar.

Isi Surat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

"Dari Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya, kepada Heraklius, penguasa besar Romawi. Keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk. Amma ba'du, sungguh aku mengajakmu dengan ajakan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau selamat. Allah akan memberimu pahala dua kali. Jika engkau berpaling, maka engkau menanggung dosa para petanimu.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

'Katakanlah (Muhammad), "Wahai Ahli Kitab! Marilah (berpegang) pada kalimat (ketetapan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan kita tidak menjadikan satu sama lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka), "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim."'" (QS. Ali 'Imran: 64)

Pertemuan Bersejarah: Abu Sufyan di Hadapan Kaisar

Ketika surat itu tiba, Heraklius—yang dikenal sebagai pemimpin cerdas—berkata, "Carikan aku seorang dari kaumnya agar aku bisa menanyainya." Pencarian dilakukan, dan mereka menemukan Abu Sufyan bin Harb, yang saat itu masih kafir, sedang dalam perjalanan dagang ke Syam bersama rombongan Quraisy. Mereka dibawa ke hadapan kaisar.

Heraklius memanggil penerjemahnya. Ia bertanya, "Siapa di antara kalian yang paling dekat hubungan kerabatnya dengan orang yang mengaku sebagai nabi ini?"

Abu Sufyan menjawab, "Aku."

Kaisar memerintahkan Abu Sufyan duduk di depannya, sementara teman-temannya duduk di belakang. Heraklius berkata, "Jika dia berdusta, bantahlah."

Kemudian bertanyalah Heraklius:

  • Tentang nasabnya
    Abu Sufyan menjawab, "Dia berasal dari nasab yang terhormat di antara kami."
  • Pernahkah ada yang mengaku seperti ini sebelumnya?
    "Tidak pernah."
  • Apakah ia dikenal pendusta sebelum mengaku sebagai nabi?
    "Tidak. Kami tidak pernah menuduhnya dusta."
  • Apakah nenek moyangnya ada yang menjadi raja?
    "Tidak."
  • Siapa yang mengikutinya, orang terhormat atau orang lemah?
    "Orang-orang lemah."
  • Apakah jumlah pengikutnya bertambah atau berkurang?
    "Bertambah."
  • Apakah ada yang keluar dari agamanya karena benci?
    "Tidak."
  • Apakah ia pernah berkhianat?
    "Tidak. Kami dalam masa gencatan senjata dengannya, kami tidak tahu apa yang akan dilakukannya." (Ini satu-satunya jawaban Abu Sufyan yang tidak jujur karena ia merasa malu mengakui ketidakkhianatan Rasulullah).
  • Bagaimana peperangan kalian dengannya?
    "Bergantian. Kadang kami menang, kadang dia menang."
  • Apa yang ia perintahkan?
    "Ia menyuruh kami menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dan meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami. Ia menyuruh shalat, jujur, menjaga kehormatan, menepati janji, dan menunaikan amanah."

Setelah mendengar semua itu, Heraklius berkata:

"Aku bertanya tentang nasabnya, dan engkau katakan ia berasal dari nasab terhormat. Para rasul diutus dari nasab terhormat kaumnya.
Aku bertanya, apakah ada yang mengaku seperti ini sebelumnya, dan engkau katakan tidak. Maka aku tahu ia bukanlah orang yang mengikuti ucapan orang sebelumnya.
Aku bertanya apakah ia dikenal pendusta, dan engkau katakan tidak. Maka aku tahu ia tidak mungkin berdusta kepada manusia lalu berdusta kepada Allah.
Aku bertanya apakah nenek moyangnya ada yang menjadi raja, dan engkau katakan tidak. Maka ia bukan orang yang ingin mengembalikan kerajaan keluarganya.
Aku bertanya siapa pengikutnya, dan engkau katakan orang-orang lemah. Merekalah pengikut para rasul.
Aku bertanya apakah pengikutnya bertambah, dan engkau katakan ya. Begitulah iman, hingga sempurna.
Aku bertanya apakah ada yang murtad karena benci, dan engkau katakan tidak. Begitulah iman, ketika kenikmatannya telah meresap dalam hati.
Aku bertanya apakah ia berkhianat, dan engkau katakan tidak. Para rasul tidak pernah berkhianat.
Aku bertanya tentang peperangan kalian, dan engkau katakan bergantian. Begitulah para rasul, mereka diuji lalu kemenangan akhir menjadi milik mereka.
Aku bertanya apa yang ia perintahkan, dan engkau katakan ia menyuruh menyembah Allah, melarang kemusyrikan, menyuruh shalat, jujur, menjaga kehormatan, menepati janji, dan menunaikan amanah. Inilah sifat-sifat seorang nabi."

Heraklius kemudian berkata, "Aku tahu seorang nabi akan muncul, tetapi aku tidak menyangka dari kalian. Jika apa yang engkau katakan benar, maka ia akan menguasai tempat di mana kedua kakiku berpijak. Seandainya aku bisa menemuinya, aku pasti akan menemuinya. Dan jika aku bersamanya, pasti aku akan membasuh kedua kakinya."

Kaisar kemudian meminta surat Rasulullah dibacakan di hadapan para pembesar Romawi. Ketika isi surat dibacakan, terdengar keributan. Banyak dari mereka yang marah. Heraklius memerintahkan agar Abu Sufyan dan rombongan dikeluarkan.

Abu Sufyan kemudian berkata kepada teman-temannya, "Sungguh, urusan Ibnu Abi Kabasyah (sindiran untuk Rasulullah) telah menjadi besar. Raja Bani Asfar (Romawi) saja takut kepadanya." Abu Sufyan mengakui, "Sejak saat itu aku semakin yakin bahwa ia akan menang, hingga akhirnya Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku."

Ujian Ketaatan Kaum Romawi

Setelah itu, Heraklius pergi ke Homs. Ia mengumpulkan para pembesar Romawi di istananya, lalu memerintahkan pintu-pintu dikunci. Ia berkata, "Wahai bangsa Romawi! Maukah kalian meraih keberuntungan dan petunjuk? Berbaiatlah kepada nabi ini dan tegakkan kerajaan kalian!"

Mendengar itu, mereka seperti kawanan keledai liar yang berlari menuju pintu, namun pintu terkunci. Melihat mereka marah dan menolak, Heraklius berkata, "Kembalikan mereka!" Setelah mereka berkumpul kembali, ia berkata, "Aku hanya menguji keteguhan kalian terhadap agama kalian." Mereka pun sujud dan merasa senang.

Demikianlah, kecintaan Heraklius pada kerajaannya mengalahkan keinginannya untuk memeluk Islam. Ia pun menanggung dosa dirinya dan dosa rakyatnya, sebagaimana yang dikhawatirkan Rasulullah . Meski demikian, Heraklius tetap memuliakan Dihyah dan memberinya hadiah yang baik.


Surat kepada Kisra: Merobek Surat, Merobek Kerajaan

Rasulullah mengutus Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi dengan surat kepada Kisra, Raja Persia. Surat itu diserahkan kepada gubernur Bahrain, yang kemudian meneruskannya kepada Kisra.

Isi Surat

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Kisra, penguasa besar Persia. Keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku mengajakmu dengan ajakan Allah, karena aku adalah utusan Allah kepada seluruh umat manusia, untuk memberi peringatan kepada siapa yang hidup, dan agar ketetapan (azab) berlaku atas orang-orang kafir. Maka masuk Islamlah, niscaya engkau selamat. Jika engkau menolak, maka dosa kaum Majusi berada di pundakmu."

Ketika surat itu dibacakan, Kisra murka. Ia merobek-robek surat tersebut dengan kasar. Mendengar kabar itu, Rasulullah bersabda:

اللَّهُمَّ مَزِّقْ مُلْكَهُ

"Ya Allah, robek-robeklah kerajaannya."

Doa Rasulullah terkabul. Tak lama kemudian, putra Kisra, Syiruya, memberontak dan membunuh ayahnya. Kerajaan Persia mulai porak-poranda.

Kebodohan Kisra tidak berhenti di situ. Ia mengirim utusan kepada Bâdzân, gubernurnya di Yaman, memerintahkan untuk mengirim dua orang menangkap Nabi Muhammad . Bâdzân pun mengirim dua utusan.

Ketika kedua utusan itu sampai di Madinah dan menyampaikan maksud mereka, Rasulullah bersabda dengan tenang:

"Sampaikan kepada pengirim kalian bahwa Tuhanku telah membunuh rajanya pada malam ini."

Hari itu adalah malam Selasa, tanggal 10 Jumadil Akhir tahun ke-7 Hijriah. Kedua utusan itu kembali ke Yaman. Tak lama kemudian, datang kabar bahwa Kisra memang telah terbunuh. Syiruya mengirim surat kepada Bâdzân yang berisi: "Jangan ganggu orang itu (Muhammad) sampai ada perintah dariku."

Bâdzân berkata, "Sungguh, orang ini benar-benar utusan." Ia pun masuk Islam, dan diikuti oleh orang-orang Persia yang tinggal di Yaman.


Surat kepada Muqauqis: Hadiah dari Penguasa Mesir

Rasulullah mengutus Hathib bin Abi Balta'ah kepada Muqauqis, penguasa Mesir yang mewakili kekuasaan Romawi. Surat itu disampaikan di kota Iskandariyah.

Isi Surat

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Muqauqis, penguasa besar Qibthi. Keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk. Amma ba'du, sungguh aku mengajakmu dengan ajakan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau selamat. Allah akan memberimu pahala dua kali. Jika engkau berpaling, maka engkau menanggung dosa kaum Qibthi.

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ ...

'Wahai Ahli Kitab! Marilah (berpegang) pada kalimat (ketetapan) yang sama antara kami dan kamu.'" (QS. Ali 'Imran: 64)

Hathib menyerahkan surat itu. Muqauqis membacanya, lalu mencium surat itu sebagai bentuk penghormatan. Ia memuliakan Hathib dan menyediakan tempat yang baik untuknya.

Muqauqis kemudian mengumpulkan para pemuka agamanya. Ia berkata, "Aku akan bertanya tentang sesuatu, tolong pahami dengan baik."

Ia bertanya kepada Hathib, "Apakah Nabimu benar-benar seorang nabi?" Hathib menjawab, "Ya, dia adalah utusan Allah."

Muqauqis bertanya lagi, "Jika demikian, mengapa ia tidak mendoakan keburukan kepada kaumnya yang mengusirnya dari kampung halamannya?"

Hathib menjawab dengan cerdas, "Bukankah engkau mengakui Isa sebagai nabi? Mengapa ia tidak berdoa kepada kaumnya yang hendak menyalibnya, sehingga ia diangkat ke langit?"

Muqauqis terkesima. Ia berkata, "Engkau orang bijak, datang dari orang bijak."

Muqauqis kemudian menulis surat balasan yang isinya:

"Untuk Muhammad bin Abdullah, dari Muqauqis, penguasa besar Qibthi. Salam untukmu. Amma ba'du: Aku telah membaca suratmu dan memahami apa yang engkau sebutkan serta ajakanmu. Aku tahu bahwa seorang nabi akan muncul, dan aku mengira ia akan muncul di Syam. Aku telah memuliakan utusanmu. Aku kirimkan dua budak perempuan yang memiliki kedudukan tinggi di kalangan Qibthi, beberapa pakaian, dan seekor bagal untukmu. Wassalam."

Muqauqis tidak masuk Islam. Rupanya ia takut kehilangan kekuasaannya. Seandainya tidak ada rasa takut itu, ia pasti akan meraih keimanan.

Dua budak perempuan yang dikirim adalah Mâriyah (yang kemudian menjadi ibu dari putra Rasulullah , Ibrahim) dan Sirin (yang diberikan kepada Hasan bin Tsabit). Muqauqis juga mengirimkan seekor bagal putih bernama Duldul, seekor keledai bernama Ya'fur, dan seorang pelayan yang telah dikebiri bernama Mabur.


Surat kepada Najasyi: Raja yang Telah Menerima Kabar Gembira

Rasulullah mengutus Amr bin Umayyah Adh-Dhamri dengan surat kepada Najasyi, Raja Habsyah. Najasyi adalah raja yang telah menerima para sahabat yang hijrah ke Habsyah sebelumnya.

Isi Surat

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Najasyi, penguasa besar Habsyah. Keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dia tidak beristri dan tidak beranak, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku mengajakmu dengan ajakan Allah. Maka masuk Islamlah, niscaya engkau selamat.

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ ...

'Wahai Ahli Kitab! Marilah (berpegang) pada kalimat (ketetapan) yang sama antara kami dan kamu.' Jika engkau menolak, maka engkau menanggung dosa orang-orang Nasrani di kalangan kaummu.""

Ketika surat itu sampai, Najasyi memuliakan surat tersebut dan menghormati pembawanya. Ia berkata, "Aku bersaksi bahwa ia adalah utusan Allah. Sungguh, aku tahu bahwa Isa telah menyampaikan kabar gembira tentang kedatangannya. Namun orang-orang yang membantuku di Habsyah sedikit. Beri aku waktu untuk mengumpulkan kekuatan dan melunakkan hati mereka."

Sebagian riwayat menyebut bahwa Najasyi masuk Islam. Namun pendapat yang lebih kuat adalah ia belum sempat menyatakan keislamannya secara terbuka karena situasi politik. Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah mengirim surat kepada Kisra, Heraklius, Najasyi, dan setiap penguasa. Namun Najasyi yang dishalati (dilaksanakan salat gaib) oleh Rasulullah saat wafat adalah Najasyi yang berbeda.

Rasulullah kemudian mengirim surat lagi melalui Amr bin Umayyah untuk meminta bantuan Najasyi mengirim para sahabat yang masih berada di Habsyah. Najasyi menyiapkan dua kapal yang mengangkut mereka kembali ke Madinah. Mereka tiba setelah Perang Khaibar.


Surat kepada Para Penguasa Lainnya

Kepada Mundzir bin Sawa

Rasulullah mengirim Al-Ala' bin Al-Hadhrami kepada Mundzir bin Sawa, penguasa Bahrain. Ia mengajaknya masuk Islam. Mundzir pun masuk Islam. Nabi mengukuhkannya sebagai penguasa dan berpesan agar berbuat baik, taat, dan tidak memaksa seseorang masuk Islam. Siapa yang tetap memeluk Yahudi atau Majusi dikenakan jizyah.

Kepada Gubernur Bushra

Rasulullah mengirim Al-Harits bin Umair Al-Azdi dengan surat kepada gubernur Bushra. Ketika sampai di Mu'tah, sebuah desa di perbatasan Syam, ia dicegat oleh Syurahbil bin Amr Al-Ghassani. Syurahbil bertanya, "Kamu utusan Muhammad?" "Ya," jawab Al-Harits. Maka Syurahbil memerintahkan agar Al-Harits dipenggal. Inilah satu-satunya utusan Rasulullah yang dibunuh.

Kepada Gubernur Damaskus

Rasulullah mengutus Syuja' bin Wahb Al-Asadi kepada Al-Harits bin Abi Syamr Al-Ghassani, gubernur Damaskus yang berada di bawah kekuasaan Romawi. Ia diajak masuk Islam dan dijanjikan kekuasaan tetap jika masuk Islam. Namun Al-Harits merobek surat itu dan berkata, "Siapa yang akan mengambil kerajaanku?" Ia bersiap mengirim pasukan, tetapi kemudian mendapat surat dari Heraklius yang melarangnya. Ia pun membatalkan niatnya dan memuliakan Syuja' dengan pakaian serta bekal perjalanan.

Kepada Raja Yamamah

Rasulullah mengirim Sulith bin Amr Al-Amiri kepada Haudzah bin Ali, Raja Yamamah. Ia diajak masuk Islam. Haudzah menjawab, "Apa yang kau ajak sangat indah. Aku adalah penyair dan orator kaumku, orang-orang Arab segan kepadaku. Berikan aku sebagian kekuasaan, niscaya aku akan mengikutimu." Mendengar jawaban itu, Rasulullah bersabda:

"Seandainya ia meminta sepotong tanah pun, aku tidak akan memberikannya. Biarkan ia binasa bersama apa yang ada di tangannya."

Haudzah tidak lama kemudian meninggal dunia, sebelum Rasulullah menaklukkan Mekah.

Kepada Penguasa Lainnya

Rasulullah juga mengirim surat kepada Jabalah bin Al-Aiham Al-Ghassani, kepada Al-Harits bin Abdul Kibal Al-Himyari (Raja Yaman), kepada Jaifar dan 'Abbad putra Al-Julanda (penguasa Oman), dan kepada penguasa-penguasa lainnya. Di antara mereka ada yang masuk Islam, ada yang menolak dengan cara yang buruk.


Hikmah di Balik Pengiriman Surat-Surat Ini

Ada beberapa pelajaran berharga dari peristiwa bersejarah ini:

Pertama, ketepatan Rasulullah dalam membaca karakter orang yang dituju. Beliau memilih kata-kata yang sesuai dengan masing-masing penerima, yang mampu membangkitkan emosi dan kesadaran.

Kedua, meskipun ada yang menolak dengan kasar, sebagian yang belum masuk Islam tetap membalas dengan sopan dan menghormati. Ini menunjukkan kekuatan pengaruh Islam dan keluhuran dakwahnya—tidak rumit, tidak membingungkan.

Ketiga, para sahabat yang ditugaskan membawa surat benar-benar memenuhi amanah dengan sempurna. Mereka berani dan tidak mundur, berbeda dengan beberapa murid Nabi Isa yang mundur saat ditugaskan ke tempat yang jauh.

Keempat, hanya satu utusan yang terbunuh dari sekian banyak pengiriman. Ini menandakan bahwa dunia saat itu sedang menanti agama baru yang membawa keselamatan, yang akan mengangkat mereka dari keterpurukan. Agama itu adalah Islam.

Tak sampai tiga puluh tahun setelah surat-surat ini dikirim, negeri-negeri yang dituju mulai memasuki Islam satu per satu. Dunia pun menyaksikan kebenaran janji Allah bahwa Islam akan mencapai seluruh penjuru, sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Sumber :

Sirah Nabawiyah Fii Dauil Qur’an was Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pensyariatan Haji dan Wafatnya Sa'ad bin Mu'adz

Zainab binti Jahsy: Pernikahan Langit yang Mengubah Syariat

Tahun Keenam Hijriah: Antara Keadilan, Strategi Perang, dan Hidayah