Surat-Surat Cinta untuk Dunia: Ketika Islam Menyapa Para Penguasa
Perjanjian Hudaibiyah telah mengubah peta politik Jazirah Arab. Ancaman dari Quraisy mereda, dan untuk pertama kalinya kaum Muslimin memiliki kesempatan bernapas lega. Rasulullah ﷺ melihat peluang emas ini. Kini saatnya menyebarkan risalah Islam tidak hanya kepada penduduk Arab, tetapi kepada seluruh umat manusia. Beliau akan menyapa para raja dan penguasa di empat penjuru dunia dengan pesan yang sama: Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.
Momen Bersejarah di Balik Kedamaian
Kembali dari Hudaibiyah, Rasulullah ﷺ merasa aman dari
gangguan Quraisy yang selama ini menjadi penghalang utama dakwah Islam. Beliau
tahu bahwa risalahnya tidak terbatas untuk orang Arab saja. Allah telah
berfirman:
قُلْ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai manusia! Sesungguhnya
aku adalah utusan Allah kepada kamu semua.'" (QS. Al-A'raf: 158)
وَمَا
أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan
sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya': 107)
وَمَا
أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan
kepada seluruh umat manusia." (QS. Saba': 28)
Ayat-ayat ini menjadi landasan. Dunia saat itu didominasi
dua kekuatan besar: Romawi (Bizantium) di barat dan Persia di timur. Keduanya
telah lama terperangkap dalam peperangan yang melemahkan. Kerusakan akidah,
kebobrokan moral, dan ketimpangan sosial merajalela. Rakyat jelata merindukan
kedamaian dan keadilan. Islam hadir sebagai jawaban atas kerinduan itu.
Persiapan: Membuat Segel Kenabian
Suatu hari, Rasulullah ﷺ berkumpul dengan para sahabat. Beliau
bersabda:
"Wahai manusia, sesungguhnya Allah mengutusku
sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maka janganlah kalian berselisih tentang aku,
sebagaimana murid-murid (hawariyyun) berselisih tentang Isa putra Maryam."
Para sahabat bertanya, "Bagaimana mereka berselisih,
wahai Rasulullah?"
"Ia memanggil mereka sebagaimana aku memanggil
kalian. Mereka yang diutus ke tempat yang dekat menerima dengan senang hati,
sementara yang diutus ke tempat yang jauh merasa berat dan enggan."
Beliau kemudian mengumumkan rencana untuk mengirim surat
kepada Heraklius (Kaisar Romawi), Kisra (Raja Persia), Muqauqis (Penguasa
Mesir), Najasyi (Raja Habsyah), dan para penguasa lainnya. Para sahabat
menyambut dengan antusias.
Untuk keperluan ini, Rasulullah ﷺ membuat sebuah cincin dari perak. Pada
cincin itu terukir tiga baris: Muhammad pada baris
pertama, Rasul pada baris kedua, dan Allah pada
baris ketiga. Cincin ini digunakan sebagai stempel untuk mengesahkan
surat-surat kerajaan yang akan dikirim ke seluruh penjuru dunia.
Surat kepada Heraklius: Dialog Seorang Kaisar dengan
Musuhnya
Rasulullah ﷺ
memilih Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi untuk menyampaikan surat kepada Heraklius,
Kaisar Romawi. Beliau memerintahkan agar Dihyah menyerahkan surat itu kepada
gubernur Bushra, yang kemudian meneruskannya kepada sang kaisar.
Isi Surat
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
"Dari Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya, kepada
Heraklius, penguasa besar Romawi. Keselamatan atas orang yang mengikuti
petunjuk. Amma ba'du, sungguh aku mengajakmu dengan ajakan Islam. Masuk
Islamlah, niscaya engkau selamat. Allah akan memberimu pahala dua kali. Jika
engkau berpaling, maka engkau menanggung dosa para petanimu.
قُلْ
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ
أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ
بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا
اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
'Katakanlah (Muhammad), "Wahai Ahli Kitab! Marilah
(berpegang) pada kalimat (ketetapan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita
tidak menyembah selain Allah, dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu
apa pun, dan kita tidak menjadikan satu sama lain sebagai tuhan selain
Allah." Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka),
"Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim."'" (QS. Ali
'Imran: 64)
Pertemuan Bersejarah: Abu Sufyan di Hadapan Kaisar
Ketika surat itu tiba, Heraklius—yang dikenal sebagai
pemimpin cerdas—berkata, "Carikan aku seorang dari kaumnya agar aku bisa
menanyainya." Pencarian dilakukan, dan mereka menemukan Abu Sufyan bin
Harb, yang saat itu masih kafir, sedang dalam perjalanan dagang ke Syam bersama
rombongan Quraisy. Mereka dibawa ke hadapan kaisar.
Heraklius memanggil penerjemahnya. Ia bertanya, "Siapa
di antara kalian yang paling dekat hubungan kerabatnya dengan orang yang
mengaku sebagai nabi ini?"
Abu Sufyan menjawab, "Aku."
Kaisar memerintahkan Abu Sufyan duduk di depannya, sementara
teman-temannya duduk di belakang. Heraklius berkata, "Jika dia berdusta,
bantahlah."
Kemudian bertanyalah Heraklius:
- Tentang
nasabnya
Abu Sufyan menjawab, "Dia berasal dari nasab yang terhormat di antara kami." - Pernahkah
ada yang mengaku seperti ini sebelumnya?
"Tidak pernah." - Apakah
ia dikenal pendusta sebelum mengaku sebagai nabi?
"Tidak. Kami tidak pernah menuduhnya dusta." - Apakah
nenek moyangnya ada yang menjadi raja?
"Tidak." - Siapa
yang mengikutinya, orang terhormat atau orang lemah?
"Orang-orang lemah." - Apakah
jumlah pengikutnya bertambah atau berkurang?
"Bertambah." - Apakah
ada yang keluar dari agamanya karena benci?
"Tidak." - Apakah
ia pernah berkhianat?
"Tidak. Kami dalam masa gencatan senjata dengannya, kami tidak tahu apa yang akan dilakukannya." (Ini satu-satunya jawaban Abu Sufyan yang tidak jujur karena ia merasa malu mengakui ketidakkhianatan Rasulullah). - Bagaimana
peperangan kalian dengannya?
"Bergantian. Kadang kami menang, kadang dia menang." - Apa
yang ia perintahkan?
"Ia menyuruh kami menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dan meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami. Ia menyuruh shalat, jujur, menjaga kehormatan, menepati janji, dan menunaikan amanah."
Setelah mendengar semua itu, Heraklius berkata:
"Aku bertanya tentang nasabnya, dan engkau katakan ia
berasal dari nasab terhormat. Para rasul diutus dari nasab terhormat kaumnya.
Aku bertanya, apakah ada yang mengaku seperti ini sebelumnya, dan engkau
katakan tidak. Maka aku tahu ia bukanlah orang yang mengikuti ucapan orang
sebelumnya.
Aku bertanya apakah ia dikenal pendusta, dan engkau katakan tidak. Maka aku
tahu ia tidak mungkin berdusta kepada manusia lalu berdusta kepada Allah.
Aku bertanya apakah nenek moyangnya ada yang menjadi raja, dan engkau katakan
tidak. Maka ia bukan orang yang ingin mengembalikan kerajaan keluarganya.
Aku bertanya siapa pengikutnya, dan engkau katakan orang-orang lemah. Merekalah
pengikut para rasul.
Aku bertanya apakah pengikutnya bertambah, dan engkau katakan ya. Begitulah
iman, hingga sempurna.
Aku bertanya apakah ada yang murtad karena benci, dan engkau katakan tidak.
Begitulah iman, ketika kenikmatannya telah meresap dalam hati.
Aku bertanya apakah ia berkhianat, dan engkau katakan tidak. Para rasul tidak
pernah berkhianat.
Aku bertanya tentang peperangan kalian, dan engkau katakan bergantian.
Begitulah para rasul, mereka diuji lalu kemenangan akhir menjadi milik mereka.
Aku bertanya apa yang ia perintahkan, dan engkau katakan ia menyuruh menyembah
Allah, melarang kemusyrikan, menyuruh shalat, jujur, menjaga kehormatan,
menepati janji, dan menunaikan amanah. Inilah sifat-sifat seorang nabi."
Heraklius kemudian berkata, "Aku tahu seorang nabi akan
muncul, tetapi aku tidak menyangka dari kalian. Jika apa yang engkau katakan
benar, maka ia akan menguasai tempat di mana kedua kakiku berpijak. Seandainya
aku bisa menemuinya, aku pasti akan menemuinya. Dan jika aku bersamanya, pasti
aku akan membasuh kedua kakinya."
Kaisar kemudian meminta surat Rasulullah dibacakan di
hadapan para pembesar Romawi. Ketika isi surat dibacakan, terdengar keributan.
Banyak dari mereka yang marah. Heraklius memerintahkan agar Abu Sufyan dan
rombongan dikeluarkan.
Abu Sufyan kemudian berkata kepada teman-temannya,
"Sungguh, urusan Ibnu Abi Kabasyah (sindiran untuk Rasulullah) telah
menjadi besar. Raja Bani Asfar (Romawi) saja takut kepadanya." Abu Sufyan
mengakui, "Sejak saat itu aku semakin yakin bahwa ia akan menang, hingga
akhirnya Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku."
Ujian Ketaatan Kaum Romawi
Setelah itu, Heraklius pergi ke Homs. Ia mengumpulkan para
pembesar Romawi di istananya, lalu memerintahkan pintu-pintu dikunci. Ia
berkata, "Wahai bangsa Romawi! Maukah kalian meraih keberuntungan dan
petunjuk? Berbaiatlah kepada nabi ini dan tegakkan kerajaan kalian!"
Mendengar itu, mereka seperti kawanan keledai liar yang
berlari menuju pintu, namun pintu terkunci. Melihat mereka marah dan menolak,
Heraklius berkata, "Kembalikan mereka!" Setelah mereka berkumpul
kembali, ia berkata, "Aku hanya menguji keteguhan kalian terhadap agama
kalian." Mereka pun sujud dan merasa senang.
Demikianlah, kecintaan Heraklius pada kerajaannya
mengalahkan keinginannya untuk memeluk Islam. Ia pun menanggung dosa dirinya
dan dosa rakyatnya, sebagaimana yang dikhawatirkan Rasulullah ﷺ. Meski demikian,
Heraklius tetap memuliakan Dihyah dan memberinya hadiah yang baik.
Surat kepada Kisra: Merobek Surat, Merobek Kerajaan
Rasulullah ﷺ
mengutus Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi dengan surat kepada Kisra, Raja Persia.
Surat itu diserahkan kepada gubernur Bahrain, yang kemudian meneruskannya
kepada Kisra.
Isi Surat
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Kisra, penguasa besar Persia.
Keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya, dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada
sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku mengajakmu
dengan ajakan Allah, karena aku adalah utusan Allah kepada seluruh umat
manusia, untuk memberi peringatan kepada siapa yang hidup, dan agar ketetapan
(azab) berlaku atas orang-orang kafir. Maka masuk Islamlah, niscaya engkau
selamat. Jika engkau menolak, maka dosa kaum Majusi berada di pundakmu."
Ketika surat itu dibacakan, Kisra murka. Ia merobek-robek
surat tersebut dengan kasar. Mendengar kabar itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
اللَّهُمَّ
مَزِّقْ مُلْكَهُ
"Ya Allah, robek-robeklah kerajaannya."
Doa Rasulullah ﷺ terkabul. Tak lama kemudian, putra Kisra, Syiruya, memberontak
dan membunuh ayahnya. Kerajaan Persia mulai porak-poranda.
Kebodohan Kisra tidak berhenti di situ. Ia mengirim utusan
kepada Bâdzân, gubernurnya di Yaman, memerintahkan untuk mengirim dua orang
menangkap Nabi Muhammad ﷺ.
Bâdzân pun mengirim dua utusan.
Ketika kedua utusan itu sampai di Madinah dan menyampaikan
maksud mereka, Rasulullah ﷺ
bersabda dengan tenang:
"Sampaikan kepada pengirim kalian bahwa Tuhanku
telah membunuh rajanya pada malam ini."
Hari itu adalah malam Selasa, tanggal 10 Jumadil Akhir tahun
ke-7 Hijriah. Kedua utusan itu kembali ke Yaman. Tak lama kemudian, datang
kabar bahwa Kisra memang telah terbunuh. Syiruya mengirim surat kepada Bâdzân
yang berisi: "Jangan ganggu orang itu (Muhammad) sampai ada perintah
dariku."
Bâdzân berkata, "Sungguh, orang ini benar-benar
utusan." Ia pun masuk Islam, dan diikuti oleh orang-orang Persia yang
tinggal di Yaman.
Surat kepada Muqauqis: Hadiah dari Penguasa Mesir
Rasulullah ﷺ
mengutus Hathib bin Abi Balta'ah kepada Muqauqis, penguasa Mesir yang mewakili
kekuasaan Romawi. Surat itu disampaikan di kota Iskandariyah.
Isi Surat
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Muqauqis, penguasa besar Qibthi.
Keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk. Amma ba'du, sungguh aku
mengajakmu dengan ajakan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau selamat. Allah
akan memberimu pahala dua kali. Jika engkau berpaling, maka engkau menanggung
dosa kaum Qibthi.
يَا
أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ
...
'Wahai Ahli Kitab! Marilah (berpegang) pada kalimat
(ketetapan) yang sama antara kami dan kamu.'" (QS. Ali 'Imran: 64)
Hathib menyerahkan surat itu. Muqauqis membacanya, lalu
mencium surat itu sebagai bentuk penghormatan. Ia memuliakan Hathib dan
menyediakan tempat yang baik untuknya.
Muqauqis kemudian mengumpulkan para pemuka agamanya. Ia
berkata, "Aku akan bertanya tentang sesuatu, tolong pahami dengan
baik."
Ia bertanya kepada Hathib, "Apakah Nabimu benar-benar
seorang nabi?" Hathib menjawab, "Ya, dia adalah utusan Allah."
Muqauqis bertanya lagi, "Jika demikian, mengapa ia
tidak mendoakan keburukan kepada kaumnya yang mengusirnya dari kampung
halamannya?"
Hathib menjawab dengan cerdas, "Bukankah engkau
mengakui Isa sebagai nabi? Mengapa ia tidak berdoa kepada kaumnya yang hendak
menyalibnya, sehingga ia diangkat ke langit?"
Muqauqis terkesima. Ia berkata, "Engkau orang bijak,
datang dari orang bijak."
Muqauqis kemudian menulis surat balasan yang isinya:
"Untuk Muhammad bin Abdullah, dari Muqauqis,
penguasa besar Qibthi. Salam untukmu. Amma ba'du: Aku telah membaca suratmu dan
memahami apa yang engkau sebutkan serta ajakanmu. Aku tahu bahwa seorang nabi
akan muncul, dan aku mengira ia akan muncul di Syam. Aku telah memuliakan
utusanmu. Aku kirimkan dua budak perempuan yang memiliki kedudukan tinggi di
kalangan Qibthi, beberapa pakaian, dan seekor bagal untukmu. Wassalam."
Muqauqis tidak masuk Islam. Rupanya ia takut kehilangan
kekuasaannya. Seandainya tidak ada rasa takut itu, ia pasti akan meraih
keimanan.
Dua budak perempuan yang dikirim adalah Mâriyah (yang
kemudian menjadi ibu dari putra Rasulullah ﷺ, Ibrahim) dan Sirin (yang diberikan kepada
Hasan bin Tsabit). Muqauqis juga mengirimkan seekor bagal putih bernama Duldul,
seekor keledai bernama Ya'fur, dan seorang pelayan yang telah dikebiri bernama
Mabur.
Surat kepada Najasyi: Raja yang Telah Menerima Kabar
Gembira
Rasulullah ﷺ
mengutus Amr bin Umayyah Adh-Dhamri dengan surat kepada Najasyi, Raja Habsyah.
Najasyi adalah raja yang telah menerima para sahabat yang hijrah ke Habsyah
sebelumnya.
Isi Surat
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Najasyi, penguasa besar Habsyah.
Keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya, dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada
sekutu bagi-Nya, Dia tidak beristri dan tidak beranak, dan bahwa Muhammad
adalah hamba dan utusan-Nya. Aku mengajakmu dengan ajakan Allah. Maka masuk
Islamlah, niscaya engkau selamat.
يَا
أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ
...
'Wahai Ahli Kitab! Marilah (berpegang) pada kalimat
(ketetapan) yang sama antara kami dan kamu.' Jika engkau menolak, maka engkau
menanggung dosa orang-orang Nasrani di kalangan kaummu.""
Ketika surat itu sampai, Najasyi memuliakan surat tersebut
dan menghormati pembawanya. Ia berkata, "Aku bersaksi bahwa ia adalah
utusan Allah. Sungguh, aku tahu bahwa Isa telah menyampaikan kabar gembira
tentang kedatangannya. Namun orang-orang yang membantuku di Habsyah sedikit.
Beri aku waktu untuk mengumpulkan kekuatan dan melunakkan hati mereka."
Sebagian riwayat menyebut bahwa Najasyi masuk Islam. Namun
pendapat yang lebih kuat adalah ia belum sempat menyatakan keislamannya secara
terbuka karena situasi politik. Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah
ﷺ
mengirim surat kepada Kisra, Heraklius, Najasyi, dan setiap penguasa. Namun
Najasyi yang dishalati (dilaksanakan salat gaib) oleh Rasulullah ﷺ
saat wafat adalah Najasyi yang berbeda.
Rasulullah ﷺ
kemudian mengirim surat lagi melalui Amr bin Umayyah untuk meminta bantuan
Najasyi mengirim para sahabat yang masih berada di Habsyah. Najasyi menyiapkan
dua kapal yang mengangkut mereka kembali ke Madinah. Mereka tiba setelah Perang
Khaibar.
Surat kepada Para Penguasa Lainnya
Kepada Mundzir bin Sawa
Rasulullah ﷺ
mengirim Al-Ala' bin Al-Hadhrami kepada Mundzir bin Sawa, penguasa Bahrain. Ia
mengajaknya masuk Islam. Mundzir pun masuk Islam. Nabi mengukuhkannya sebagai
penguasa dan berpesan agar berbuat baik, taat, dan tidak memaksa seseorang
masuk Islam. Siapa yang tetap memeluk Yahudi atau Majusi dikenakan jizyah.
Kepada Gubernur Bushra
Rasulullah ﷺ
mengirim Al-Harits bin Umair Al-Azdi dengan surat kepada gubernur Bushra.
Ketika sampai di Mu'tah, sebuah desa di perbatasan Syam, ia dicegat oleh
Syurahbil bin Amr Al-Ghassani. Syurahbil bertanya, "Kamu utusan
Muhammad?" "Ya," jawab Al-Harits. Maka Syurahbil memerintahkan
agar Al-Harits dipenggal. Inilah satu-satunya utusan Rasulullah ﷺ
yang dibunuh.
Kepada Gubernur Damaskus
Rasulullah ﷺ
mengutus Syuja' bin Wahb Al-Asadi kepada Al-Harits bin Abi Syamr Al-Ghassani,
gubernur Damaskus yang berada di bawah kekuasaan Romawi. Ia diajak masuk Islam
dan dijanjikan kekuasaan tetap jika masuk Islam. Namun Al-Harits merobek surat
itu dan berkata, "Siapa yang akan mengambil kerajaanku?" Ia bersiap
mengirim pasukan, tetapi kemudian mendapat surat dari Heraklius yang
melarangnya. Ia pun membatalkan niatnya dan memuliakan Syuja' dengan pakaian
serta bekal perjalanan.
Kepada Raja Yamamah
Rasulullah ﷺ
mengirim Sulith bin Amr Al-Amiri kepada Haudzah bin Ali, Raja Yamamah. Ia
diajak masuk Islam. Haudzah menjawab, "Apa yang kau ajak sangat indah. Aku
adalah penyair dan orator kaumku, orang-orang Arab segan kepadaku. Berikan aku
sebagian kekuasaan, niscaya aku akan mengikutimu." Mendengar jawaban itu,
Rasulullah ﷺ
bersabda:
"Seandainya ia meminta sepotong tanah pun, aku tidak
akan memberikannya. Biarkan ia binasa bersama apa yang ada di tangannya."
Haudzah tidak lama kemudian meninggal dunia, sebelum
Rasulullah ﷺ
menaklukkan Mekah.
Kepada Penguasa Lainnya
Rasulullah ﷺ
juga mengirim surat kepada Jabalah bin Al-Aiham Al-Ghassani, kepada Al-Harits
bin Abdul Kibal Al-Himyari (Raja Yaman), kepada Jaifar dan 'Abbad putra
Al-Julanda (penguasa Oman), dan kepada penguasa-penguasa lainnya. Di antara
mereka ada yang masuk Islam, ada yang menolak dengan cara yang buruk.
Hikmah di Balik Pengiriman Surat-Surat Ini
Ada beberapa pelajaran berharga dari peristiwa bersejarah
ini:
Pertama, ketepatan Rasulullah ﷺ dalam membaca
karakter orang yang dituju. Beliau memilih kata-kata yang sesuai dengan
masing-masing penerima, yang mampu membangkitkan emosi dan kesadaran.
Kedua, meskipun ada yang menolak dengan kasar,
sebagian yang belum masuk Islam tetap membalas dengan sopan dan menghormati.
Ini menunjukkan kekuatan pengaruh Islam dan keluhuran dakwahnya—tidak rumit,
tidak membingungkan.
Ketiga, para sahabat yang ditugaskan membawa surat
benar-benar memenuhi amanah dengan sempurna. Mereka berani dan tidak mundur,
berbeda dengan beberapa murid Nabi Isa yang mundur saat ditugaskan ke tempat
yang jauh.
Keempat, hanya satu utusan yang terbunuh dari sekian
banyak pengiriman. Ini menandakan bahwa dunia saat itu sedang menanti agama
baru yang membawa keselamatan, yang akan mengangkat mereka dari keterpurukan.
Agama itu adalah Islam.
Tak sampai tiga puluh tahun setelah surat-surat ini dikirim,
negeri-negeri yang dituju mulai memasuki Islam satu per satu. Dunia pun
menyaksikan kebenaran janji Allah bahwa Islam akan mencapai seluruh penjuru,
sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Sumber :

Komentar
Posting Komentar