Surat Al-Fath: Ketika Kemenangan Datang Tanpa Pedang
Peristiwa Hudaibiyah telah usai. Rasulullah ﷺ dan para sahabat kembali ke Madinah dengan perasaan campur aduk. Ada yang lega, ada pula yang masih menyimpan tanya di hati. Namun di tengah perjalanan pulang, langit Madinah kembali disinari wahyu. Turunlah Surat Al-Fath, sebuah surat yang mengubah cara pandang para sahabat tentang apa yang baru saja mereka alami. Surat ini bukan sekadar bacaan, melainkan penjelasan Ilahi bahwa apa yang tampak sebagai kemunduran ternyata adalah kemenangan yang nyata.
Al-Fath: Kemenangan yang Sesungguhnya
Allah memulai surat ini dengan kabar yang menggembirakan:
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang
nyata." (QS. Al-Fath: 1)
Para ulama sepakat bahwa "kemenangan yang nyata" (fathan
mubina) yang dimaksud dalam ayat ini adalah Perjanjian Hudaibiyah. Sebuah
kesepakatan damai yang di mata banyak orang terasa berat dan merugikan, namun
Allah menyebutnya sebagai kemenangan yang nyata.
Ampunan untuk Sang Nabi: Antara Kesalahan dan Kemuliaan
Allah melanjutkan firman-Nya:
لِّيَغْفِرَ
لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ
"Agar Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu
yang telah lalu dan yang akan datang." (QS. Al-Fath: 2)
Ayat ini sering menimbulkan pertanyaan. Bukankah Rasulullah ﷺ
adalah seorang yang ma'shum (terjaga dari dosa)? Para ulama menjelaskan bahwa
yang dimaksud dengan "dosa" di sini adalah hal-hal yang menurut
kedudukan beliau sebagai Nabi dan utusan Allah, dianggap sebagai kekurangan
atau hal yang tidak sesuai dengan al-awla (yang lebih utama).
Misalnya, ketika beliau mengambil keputusan untuk menebus tawanan perang Badar,
atau ketika beliau memberikan keringanan bagi orang-orang yang tidak ikut
Perang Tabuk. Bukan dosa dalam arti maksiat, tetapi bagi seorang yang derajatnya
setinggi Nabi, meninggalkan hal yang lebih utama pun dianggap sebagai sesuatu
yang perlu dimintakan ampunan.
Inilah makna dari ungkapan para ulama: Hasanatul
abrar sayyi'atul muqarrabin (Kebaikan orang-orang saleh bisa dianggap
sebagai kekurangan bagi orang-orang yang didekatkan kepada Allah).
Setelah itu, Allah menyebutkan tiga karunia besar yang
menyertai kemenangan ini:
وَيُتِمَّ
نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا. وَيَنصُرَكَ اللَّهُ
نَصْرًا عَزِيزًا
"Dan agar Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu, dan
memudahkanmu berjalan di jalan yang lurus, serta menolongmu dengan pertolongan
yang mulia." (QS. Al-Fath: 2-3)
Artinya, melalui peristiwa Hudaibiyah ini, Allah
menyempurnakan nikmat-Nya kepada Rasulullah, menunjukkan jalan yang lurus bagi
umatnya, dan menjanjikan pertolongan yang mulia di masa depan.
Ketenangan di Hati Para Mukmin
Salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan pada hari itu
adalah ketenangan:
هُوَ
الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا
مَّعَ إِيمَانِهِمْ
"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati
orang-orang mukmin, supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka
(yang telah ada)." (QS. Al-Fath: 4)
Sakinah adalah ketenangan, ketenteraman, dan
kewibawaan yang Allah tanamkan dalam hati para sahabat saat menghadapi ujian
berat. Mereka yang tadinya ragu dan sedih karena harus kembali tanpa bisa
berumrah, ditenangkan hatinya sehingga mereka bisa menerima keputusan
Rasulullah ﷺ
dengan lapang dada. Ayat ini juga menjadi dalil bahwa iman itu bisa bertambah
dan berkurang.
Janji untuk Orang Mukmin, Ancaman untuk Orang Munafik
Allah kemudian membedakan nasib tiga golongan manusia pasca
peristiwa ini:
Bagi orang mukmin, Allah menjanjikan surga:
لِّيُدْخِلَ
الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
"Supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan
perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (QS.
Al-Fath: 5)
Bagi orang munafik dan musyrik, Allah mengancam azab:
وَيُعَذِّبَ
الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ
الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ
"Dan agar Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki
dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu
menyangka terhadap Allah dengan sangkaan yang buruk." (QS. Al-Fath: 6)
Mereka menyangka bahwa Allah tidak akan menolong Nabi-Nya
dan kaum mukminin. Mereka mengira Islam akan hancur. Namun Allah membalikkan
keadaan: daa'iratus suu (lingkaran keburukan) itu justru
menimpa mereka sendiri.
Bai'atur Ridwan: Tangan di Atas Tangan
Allah kemudian mengingatkan peristiwa baiat di bawah pohon
yang penuh kemuliaan:
إِنَّ
الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ
أَيْدِيهِمْ
"Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu,
sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan
mereka." (QS. Al-Fath: 10)
Ayat ini turun untuk mengagungkan Bai'atur Ridwan. Ketika
para sahabat mengulurkan tangan kepada Rasulullah ﷺ, sejatinya mereka sedang berjanji kepada
Allah. Allah sendiri hadir menyaksikan kesetiaan mereka. Inilah kemuliaan yang
tidak diberikan kepada siapa pun selain generasi terbaik ini.
Orang-Orang Badui yang Tertinggal
Setelah membahas para sahabat yang setia, Allah menceritakan
tentang orang-orang Badui yang tidak ikut serta dalam perjalanan ke Hudaibiyah.
Mereka memberikan alasan-alasan yang dibuat-buat:
سَيَقُولُ
لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا
فَاسْتَغْفِرْ لَنَا يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِم مَّا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ
"Orang-orang Badui yang tertinggal (dari peperangan)
akan berkata kepadamu, 'Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami,
maka mohonkanlah ampunan untuk kami.' Mereka mengucapkan dengan mulut mereka
apa yang tidak ada dalam hati mereka." (QS. Al-Fath: 11)
Allah membongkar kedok mereka. Bukan karena kesibukan,
tetapi karena mereka tidak yakin Rasulullah ﷺ dan para sahabat akan kembali dengan
selamat. Mereka menyangka bahwa pasukan Quraisy akan membinasakan kaum
muslimin. Mereka menyangka yang tidak baik terhadap Allah.
Janji dan Teguran untuk Orang-Orang yang Tertinggal
Setelah kemenangan Khaybar dan harta rampasan yang melimpah,
orang-orang Badui yang sebelumnya malas itu tiba-tiba bersemangat. Mereka
berkata:
ذَرُونَا
نَتَّبِعْكُمْ
"Biarkanlah kami mengikuti kalian." (QS. Al-Fath:
15)
Mereka ingin ikut serta mengambil bagian dari harta rampasan
Khaybar. Namun Allah menegur mereka melalui lisan Rasulullah ﷺ. Mereka tidak akan
diizinkan ikut karena Allah telah berjanji bahwa harta rampasan Khaybar adalah
khusus bagi orang-orang yang hadir di Hudaibiyah.
Allah kemudian memberikan kesempatan kedua kepada mereka:
قُل
لِّلْمُخَلَّفِينَ مِنَ الْأَعْرَابِ سَتُدْعَوْنَ إِلَىٰ قَوْمٍ أُولِي بَأْسٍ
شَدِيدٍ تُقَاتِلُونَهُمْ أَوْ يُسْلِمُونَ
"Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal
itu, 'Kamu akan diajak (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar,
kamu perangi mereka atau mereka masuk Islam.'" (QS. Al-Fath: 16)
Ada dua tafsir tentang siapa "kaum yang mempunyai
kekuatan besar" ini. Sebagian ulama mengatakan mereka adalah Bani Hanifah
(pengikut Musailamah Al-Kadzdzab) dan suku-suku lain yang murtad. Sebagian lain
mengatakan mereka adalah bangsa Persia dan Romawi. Jika mereka taat, mereka
akan mendapat pahala. Jika kembali membangkang, mereka akan mendapat azab yang
pedih.
Pengecualian bagi yang Memiliki Uzur
Islam adalah agama yang penuh rahmat. Allah memberikan
keringanan bagi mereka yang benar-benar memiliki uzur:
لَيْسَ
عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ
حَرَجٌ
"Tidak ada dosa atas orang buta, tidak ada dosa atas
orang pincang, dan tidak ada dosa atas orang sakit (apabila tidak ikut
berperang)." (QS. Al-Fath: 17)
Ayat ini menegaskan bahwa hanya orang-orang yang tidak
memiliki uzur sajalah yang dimintai pertanggungjawaban atas keengganan mereka
berjihad.
Pengulangan Keridhaan Allah
Allah kemudian mengulangi kabar gembira tentang Bai'atur
Ridwan:
لَّقَدْ
رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ
فَتْحًا قَرِيبًا
"Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika
mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada
dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan
dengan kemenangan yang dekat." (QS. Al-Fath: 18)
Kemenangan dekat yang disebutkan adalah Perjanjian
Hudaibiyah itu sendiri, kemudian dilanjutkan dengan harta rampasan yang banyak
di Khaybar.
Menarik untuk dicatat sejarah tentang pohon tempat baiat itu
terjadi. Setelah peristiwa ini, orang-orang datang untuk beribadah di bawah
pohon tersebut. Hingga pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, beliau
memerintahkan untuk menebang pohon itu. Mengapa? Karena Umar khawatir
orang-orang akan terfitnah dan mulai menyembah pohon itu, mengulangi kesalahan
Bani Israil yang dulu mengagungkan bekas-bekas tempat ibadah.
Harta Rampasan yang Berlimpah
Allah menjanjikan lebih banyak lagi:
وَعَدَكُمُ
اللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأْخُذُونَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هَٰذِهِ وَكَفَّ
أَيْدِيَ النَّاسِ عَنكُمْ
"Allah menjanjikan kepadamu harta rampasan yang banyak
yang dapat kamu ambil, lalu disegerakan-Nya (pemberian) ini untukmu dan Dia
menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu." (QS. Al-Fath: 19-20)
Harta rampasan Khaybar adalah yang disegerakan. Allah juga
melindungi kaum muslimin dari serangan musuh-musuh yang mengintai di Madinah.
Ada pula janji tentang kemenangan lain yang belum bisa mereka capai saat
itu—mungkin Fathu Mekah, atau penaklukan Persia dan Romawi—yang Allah pastikan
akan terjadi.
Sunnah Allah yang Tidak Berubah
Allah menegaskan bahwa jika saja Quraisy memerangi kaum
muslimin saat itu, mereka pasti akan kalah:
وَلَوْ
قَاتَلَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوَلَّوُا الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يَجِدُونَ
وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا. سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلُ وَلَن
تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
"Dan jika orang-orang kafir itu memerangi kamu,
pastilah mereka akan berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian
mereka tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong. (Itulah) sunnah
Allah yang telah berlaku sejak dahulu, dan kamu sekali-kali tidak akan
menemukan perubahan pada sunnah Allah." (QS. Al-Fath: 22-23)
Ini adalah janji Allah yang abadi: pertolongan-Nya pasti
datang bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. Tidak ada yang bisa mengubah
sunnah ini.
Menahan Tangan di Perut Kota Mekah
Salah satu nikmat terbesar dalam peristiwa ini adalah Allah
menahan kedua belah pihak untuk tidak saling membunuh:
وَهُوَ
الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُم بِبَطْنِ مَكَّةَ مِن
بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ
"Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari
(membinasakan) kamu dan menahan tangan kamu dari (membinasakan) mereka di
tengah (kota) Mekah setelah Allah memenangkan kamu atas mereka." (QS.
Al-Fath: 24)
Para sahabat saat itu berhasil menangkap sekitar 70
mata-mata Quraisy. Mereka bisa saja membunuh para tawanan itu, tetapi Allah
menahan tangan mereka. Demikian pula Allah menahan tangan Quraisy untuk tidak
menyerang. Semua ini terjadi di perut kota Mekah, tempat yang sangat dekat
dengan pusat kekuasaan musuh.
Rahasia di Balik Keterlambatan
Mengapa Allah tidak mengizinkan kaum muslimin memasuki Mekah
saat itu? Allah sendiri yang menjelaskan alasannya:
وَلَوْلَا
رِجَالٌ مُّؤْمِنُونَ وَنِسَاءٌ مُّؤْمِنَاتٌ لَّمْ تَعْلَمُوهُمْ أَن تَطَئُوهُمْ
فَتُصِيبَكُم مِّنْهُم مَّعَرَّةٌ بِغَيْرِ عِلْمٍ
"Dan sekiranya tidak ada (beberapa) orang mukmin
laki-laki dan perempuan yang tidak kamu ketahui (keberadaan mereka) dan kamu
akan membunuh mereka, maka (kamu akan) ditimpa bencana karena membunuh mereka
tanpa (sengaja) mengetahui (identitas mereka)." (QS. Al-Fattah: 25)
Di dalam Mekah saat itu terdapat orang-orang yang beriman
namun belum mampu hijrah. Jika pertempuran terjadi, mereka bisa saja ikut
terbunuh oleh tangan kaum muslimin sendiri. Ini adalah rahmat Allah yang
tersembunyi.
Allah juga mengisyaratkan bahwa jika saja orang-orang mukmin
itu terpisah dari orang-orang kafir, pasti Allah akan memberikan izin untuk
memerangi mereka. Namun karena tercampurnya orang mukmin dan kafir di Mekah
saat itu, Allah menahan tangan kaum muslimin.
Dari sinilah kemudian muncul hikmah lain: orang-orang yang
kuat dan berpengaruh seperti Khalid bin Walid, Amr bin Ash, dan Utsman bin
Thalhah memeluk Islam antara peristiwa Hudaibiyah dan Fathu Mekah. Mereka yang
tadinya menjadi lawan tangguh, kemudian menjadi benteng pertahanan Islam.
Hamiyah Jahiliyah versus Sakinah Ilahiah
Apa yang membuat Quraisy bersikeras menolak perjanjian?
Allah menyebutnya sebagai hamiyyah (kesombongan) jahiliah:
إِذْ
جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ
الْجَاهِلِيَّةِ
"Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka
kesombongan, yaitu kesombongan jahiliah." (QS. Al-Fath: 26)
Kesombongan itu tampak ketika mereka menolak menulis
"Bismillahirrahmanirrahim" dan menolak mengakui gelar kenabian
Muhammad. Namun Allah memberikan ketenangan (sakinah) kepada Rasul-Nya
dan orang-orang mukmin. Mereka tidak terbawa oleh kesombongan, tetapi taat dan
patuh.
Mimpi yang Terbukti
Allah menegaskan bahwa mimpi Rasulullah ﷺ pasti benar:
لَقَدْ
صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ
الْحَرَامَ إِن شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ
لَا تَخَافُونَ
"Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya
tentang kebenaran mimpinya (bahwa) kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram,
jika Allah menghendaki, dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan
memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut." (QS. Al-Fath: 27)
Kata "insya Allah" dalam ayat ini menjadi
pelajaran penting: meskipun Allah mengetahui segala yang akan terjadi, manusia
tetap diajarkan untuk mengucapkan "insya Allah" ketika berbicara
tentang masa depan. Ini sesuai dengan firman-Nya di surat Al-Kahfi: "Dan
jangan sekali-kali engkau mengatakan tentang sesuatu, 'Aku akan melakukan itu
besok,' kecuali (dengan mengatakan), 'Insya Allah.'"
Mimpi itu akhirnya terwujud pada tahun berikutnya, ketika
kaum muslimin melaksanakan umrah qadha dengan aman dan tenang.
Muhammad Rasulullah: Potret Para Sahabat
Surat Al-Fath ditutup dengan gambaran yang sangat indah
tentang Rasulullah ﷺ
dan para sahabatnya:
مُّحَمَّدٌ
رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ
بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ
وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ
"Muhammad itu adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang
bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih
sayang sesama mereka. Engkau melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia
Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas
sujud." (QS. Al-Fath: 29)
Inilah ciri utama para sahabat: tegas terhadap musuh Allah,
tetapi lembut dan penuh kasih di antara mereka sendiri. Mereka adalah generasi
yang tidak pernah lepas dari shalat, senantiasa mengharap karunia dan ridha
Allah.
Allah kemudian memberikan perumpamaan tentang mereka dalam
kitab-kitab sebelumnya:
ذَٰلِكَ
مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ
شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ
الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ
"Itulah perumpamaan mereka dalam Taurat. Dan
perumpamaan mereka dalam Injil bagaikan tanaman yang mengeluarkan tunasnya,
lalu tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak di atas pokoknya.
Tanaman itu menyenangkan hati para petani, sehingga Allah membuat orang-orang
kafir itu marah (dengan keberadaan mereka)." (QS. Al-Fattah: 29)
Perumpamaan ini menggambarkan bagaimana dakwah Islam dimulai
dari kelompok kecil yang lemah, lalu perlahan tumbuh, menguat, dan akhirnya
menjadi kokoh dan besar—menakjubkan semua orang yang melihatnya, dan membuat
marah orang-orang yang membencinya.
Surat Al-Fath ditutup dengan janji Allah yang indah:
وَعَدَ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً
وَأَجْرًا عَظِيمًا
"Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di
antara mereka dan mengerjakan amal saleh, (bahwa mereka akan mendapat) ampunan
dan pahala yang besar." (QS. Al-Fattah: 29)
Ini adalah kabar gembira bagi generasi sahabat yang mulia,
dan juga bagi siapa pun yang mengikuti jejak mereka hingga akhir zaman.
Meskipun para sahabat memiliki keutamaan dan kedudukan yang tidak bisa disamai
oleh siapa pun setelahnya, pintu ampunan dan pahala besar tetap terbuka bagi
siapa pun yang beriman dan beramal saleh dengan mengikuti petunjuk mereka.
Sirah Nabawiyah fi Dhauil Quran was Sunnah

Komentar
Posting Komentar