Surat Al-Fath: Ketika Kemenangan Datang Tanpa Pedang

Suasana malam di padang pasir yang tenang. Kelompok pria berjubah putih duduk melingkar dengan khusyuk di bawah langit berbintang. Di atas mereka, cahaya lembut berwarna biru keperakan turun seperti selimut, menyelimuti mereka dengan kehangatan dan kedamaian. Wajah-wajah mereka terlihat tenang, penuh ketenteraman. Beberapa dari mereka menunduk, beberapa memejamkan mata, larut dalam kedamaian. Di latar belakang, bukit pasir membentuk siluet lembut.

Peristiwa Hudaibiyah telah usai. Rasulullah dan para sahabat kembali ke Madinah dengan perasaan campur aduk. Ada yang lega, ada pula yang masih menyimpan tanya di hati. Namun di tengah perjalanan pulang, langit Madinah kembali disinari wahyu. Turunlah Surat Al-Fath, sebuah surat yang mengubah cara pandang para sahabat tentang apa yang baru saja mereka alami. Surat ini bukan sekadar bacaan, melainkan penjelasan Ilahi bahwa apa yang tampak sebagai kemunduran ternyata adalah kemenangan yang nyata.

Al-Fath: Kemenangan yang Sesungguhnya

Allah memulai surat ini dengan kabar yang menggembirakan:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." (QS. Al-Fath: 1)

Para ulama sepakat bahwa "kemenangan yang nyata" (fathan mubina) yang dimaksud dalam ayat ini adalah Perjanjian Hudaibiyah. Sebuah kesepakatan damai yang di mata banyak orang terasa berat dan merugikan, namun Allah menyebutnya sebagai kemenangan yang nyata.

Ampunan untuk Sang Nabi: Antara Kesalahan dan Kemuliaan

Allah melanjutkan firman-Nya:

لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ

"Agar Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang." (QS. Al-Fath: 2)

Ayat ini sering menimbulkan pertanyaan. Bukankah Rasulullah adalah seorang yang ma'shum (terjaga dari dosa)? Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "dosa" di sini adalah hal-hal yang menurut kedudukan beliau sebagai Nabi dan utusan Allah, dianggap sebagai kekurangan atau hal yang tidak sesuai dengan al-awla (yang lebih utama). Misalnya, ketika beliau mengambil keputusan untuk menebus tawanan perang Badar, atau ketika beliau memberikan keringanan bagi orang-orang yang tidak ikut Perang Tabuk. Bukan dosa dalam arti maksiat, tetapi bagi seorang yang derajatnya setinggi Nabi, meninggalkan hal yang lebih utama pun dianggap sebagai sesuatu yang perlu dimintakan ampunan.

Inilah makna dari ungkapan para ulama: Hasanatul abrar sayyi'atul muqarrabin (Kebaikan orang-orang saleh bisa dianggap sebagai kekurangan bagi orang-orang yang didekatkan kepada Allah).

Setelah itu, Allah menyebutkan tiga karunia besar yang menyertai kemenangan ini:

وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا. وَيَنصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

"Dan agar Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu, dan memudahkanmu berjalan di jalan yang lurus, serta menolongmu dengan pertolongan yang mulia." (QS. Al-Fath: 2-3)

Artinya, melalui peristiwa Hudaibiyah ini, Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepada Rasulullah, menunjukkan jalan yang lurus bagi umatnya, dan menjanjikan pertolongan yang mulia di masa depan.

Ketenangan di Hati Para Mukmin

Salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan pada hari itu adalah ketenangan:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ

"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin, supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)." (QS. Al-Fath: 4)

Sakinah adalah ketenangan, ketenteraman, dan kewibawaan yang Allah tanamkan dalam hati para sahabat saat menghadapi ujian berat. Mereka yang tadinya ragu dan sedih karena harus kembali tanpa bisa berumrah, ditenangkan hatinya sehingga mereka bisa menerima keputusan Rasulullah dengan lapang dada. Ayat ini juga menjadi dalil bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang.

Janji untuk Orang Mukmin, Ancaman untuk Orang Munafik

Allah kemudian membedakan nasib tiga golongan manusia pasca peristiwa ini:

Bagi orang mukmin, Allah menjanjikan surga:

لِّيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

"Supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (QS. Al-Fath: 5)

Bagi orang munafik dan musyrik, Allah mengancam azab:

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ

"Dan agar Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu menyangka terhadap Allah dengan sangkaan yang buruk." (QS. Al-Fath: 6)

Mereka menyangka bahwa Allah tidak akan menolong Nabi-Nya dan kaum mukminin. Mereka mengira Islam akan hancur. Namun Allah membalikkan keadaan: daa'iratus suu (lingkaran keburukan) itu justru menimpa mereka sendiri.

Bai'atur Ridwan: Tangan di Atas Tangan

Allah kemudian mengingatkan peristiwa baiat di bawah pohon yang penuh kemuliaan:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ

"Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka." (QS. Al-Fath: 10)

Ayat ini turun untuk mengagungkan Bai'atur Ridwan. Ketika para sahabat mengulurkan tangan kepada Rasulullah , sejatinya mereka sedang berjanji kepada Allah. Allah sendiri hadir menyaksikan kesetiaan mereka. Inilah kemuliaan yang tidak diberikan kepada siapa pun selain generasi terbaik ini.

Orang-Orang Badui yang Tertinggal

Setelah membahas para sahabat yang setia, Allah menceritakan tentang orang-orang Badui yang tidak ikut serta dalam perjalanan ke Hudaibiyah. Mereka memberikan alasan-alasan yang dibuat-buat:

سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِم مَّا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ

"Orang-orang Badui yang tertinggal (dari peperangan) akan berkata kepadamu, 'Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.' Mereka mengucapkan dengan mulut mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka." (QS. Al-Fath: 11)

Allah membongkar kedok mereka. Bukan karena kesibukan, tetapi karena mereka tidak yakin Rasulullah dan para sahabat akan kembali dengan selamat. Mereka menyangka bahwa pasukan Quraisy akan membinasakan kaum muslimin. Mereka menyangka yang tidak baik terhadap Allah.

Janji dan Teguran untuk Orang-Orang yang Tertinggal

Setelah kemenangan Khaybar dan harta rampasan yang melimpah, orang-orang Badui yang sebelumnya malas itu tiba-tiba bersemangat. Mereka berkata:

ذَرُونَا نَتَّبِعْكُمْ

"Biarkanlah kami mengikuti kalian." (QS. Al-Fath: 15)

Mereka ingin ikut serta mengambil bagian dari harta rampasan Khaybar. Namun Allah menegur mereka melalui lisan Rasulullah . Mereka tidak akan diizinkan ikut karena Allah telah berjanji bahwa harta rampasan Khaybar adalah khusus bagi orang-orang yang hadir di Hudaibiyah.

Allah kemudian memberikan kesempatan kedua kepada mereka:

قُل لِّلْمُخَلَّفِينَ مِنَ الْأَعْرَابِ سَتُدْعَوْنَ إِلَىٰ قَوْمٍ أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ تُقَاتِلُونَهُمْ أَوْ يُسْلِمُونَ

"Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal itu, 'Kamu akan diajak (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu perangi mereka atau mereka masuk Islam.'" (QS. Al-Fath: 16)

Ada dua tafsir tentang siapa "kaum yang mempunyai kekuatan besar" ini. Sebagian ulama mengatakan mereka adalah Bani Hanifah (pengikut Musailamah Al-Kadzdzab) dan suku-suku lain yang murtad. Sebagian lain mengatakan mereka adalah bangsa Persia dan Romawi. Jika mereka taat, mereka akan mendapat pahala. Jika kembali membangkang, mereka akan mendapat azab yang pedih.

Pengecualian bagi yang Memiliki Uzur

Islam adalah agama yang penuh rahmat. Allah memberikan keringanan bagi mereka yang benar-benar memiliki uzur:

لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ

"Tidak ada dosa atas orang buta, tidak ada dosa atas orang pincang, dan tidak ada dosa atas orang sakit (apabila tidak ikut berperang)." (QS. Al-Fath: 17)

Ayat ini menegaskan bahwa hanya orang-orang yang tidak memiliki uzur sajalah yang dimintai pertanggungjawaban atas keengganan mereka berjihad.

Pengulangan Keridhaan Allah

Allah kemudian mengulangi kabar gembira tentang Bai'atur Ridwan:

لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

"Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat." (QS. Al-Fath: 18)

Kemenangan dekat yang disebutkan adalah Perjanjian Hudaibiyah itu sendiri, kemudian dilanjutkan dengan harta rampasan yang banyak di Khaybar.

Menarik untuk dicatat sejarah tentang pohon tempat baiat itu terjadi. Setelah peristiwa ini, orang-orang datang untuk beribadah di bawah pohon tersebut. Hingga pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, beliau memerintahkan untuk menebang pohon itu. Mengapa? Karena Umar khawatir orang-orang akan terfitnah dan mulai menyembah pohon itu, mengulangi kesalahan Bani Israil yang dulu mengagungkan bekas-bekas tempat ibadah.

Harta Rampasan yang Berlimpah

Allah menjanjikan lebih banyak lagi:

وَعَدَكُمُ اللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأْخُذُونَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هَٰذِهِ وَكَفَّ أَيْدِيَ النَّاسِ عَنكُمْ

"Allah menjanjikan kepadamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, lalu disegerakan-Nya (pemberian) ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu." (QS. Al-Fath: 19-20)

Harta rampasan Khaybar adalah yang disegerakan. Allah juga melindungi kaum muslimin dari serangan musuh-musuh yang mengintai di Madinah. Ada pula janji tentang kemenangan lain yang belum bisa mereka capai saat itu—mungkin Fathu Mekah, atau penaklukan Persia dan Romawi—yang Allah pastikan akan terjadi.

Sunnah Allah yang Tidak Berubah

Allah menegaskan bahwa jika saja Quraisy memerangi kaum muslimin saat itu, mereka pasti akan kalah:

وَلَوْ قَاتَلَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوَلَّوُا الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا. سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلُ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

"Dan jika orang-orang kafir itu memerangi kamu, pastilah mereka akan berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong. (Itulah) sunnah Allah yang telah berlaku sejak dahulu, dan kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunnah Allah." (QS. Al-Fath: 22-23)

Ini adalah janji Allah yang abadi: pertolongan-Nya pasti datang bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. Tidak ada yang bisa mengubah sunnah ini.

Menahan Tangan di Perut Kota Mekah

Salah satu nikmat terbesar dalam peristiwa ini adalah Allah menahan kedua belah pihak untuk tidak saling membunuh:

وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُم بِبَطْنِ مَكَّةَ مِن بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ

"Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan menahan tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah (kota) Mekah setelah Allah memenangkan kamu atas mereka." (QS. Al-Fath: 24)

Para sahabat saat itu berhasil menangkap sekitar 70 mata-mata Quraisy. Mereka bisa saja membunuh para tawanan itu, tetapi Allah menahan tangan mereka. Demikian pula Allah menahan tangan Quraisy untuk tidak menyerang. Semua ini terjadi di perut kota Mekah, tempat yang sangat dekat dengan pusat kekuasaan musuh.

Rahasia di Balik Keterlambatan

Mengapa Allah tidak mengizinkan kaum muslimin memasuki Mekah saat itu? Allah sendiri yang menjelaskan alasannya:

وَلَوْلَا رِجَالٌ مُّؤْمِنُونَ وَنِسَاءٌ مُّؤْمِنَاتٌ لَّمْ تَعْلَمُوهُمْ أَن تَطَئُوهُمْ فَتُصِيبَكُم مِّنْهُم مَّعَرَّةٌ بِغَيْرِ عِلْمٍ

"Dan sekiranya tidak ada (beberapa) orang mukmin laki-laki dan perempuan yang tidak kamu ketahui (keberadaan mereka) dan kamu akan membunuh mereka, maka (kamu akan) ditimpa bencana karena membunuh mereka tanpa (sengaja) mengetahui (identitas mereka)." (QS. Al-Fattah: 25)

Di dalam Mekah saat itu terdapat orang-orang yang beriman namun belum mampu hijrah. Jika pertempuran terjadi, mereka bisa saja ikut terbunuh oleh tangan kaum muslimin sendiri. Ini adalah rahmat Allah yang tersembunyi.

Allah juga mengisyaratkan bahwa jika saja orang-orang mukmin itu terpisah dari orang-orang kafir, pasti Allah akan memberikan izin untuk memerangi mereka. Namun karena tercampurnya orang mukmin dan kafir di Mekah saat itu, Allah menahan tangan kaum muslimin.

Dari sinilah kemudian muncul hikmah lain: orang-orang yang kuat dan berpengaruh seperti Khalid bin Walid, Amr bin Ash, dan Utsman bin Thalhah memeluk Islam antara peristiwa Hudaibiyah dan Fathu Mekah. Mereka yang tadinya menjadi lawan tangguh, kemudian menjadi benteng pertahanan Islam.

Hamiyah Jahiliyah versus Sakinah Ilahiah

Apa yang membuat Quraisy bersikeras menolak perjanjian? Allah menyebutnya sebagai hamiyyah (kesombongan) jahiliah:

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ

"Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan, yaitu kesombongan jahiliah." (QS. Al-Fath: 26)

Kesombongan itu tampak ketika mereka menolak menulis "Bismillahirrahmanirrahim" dan menolak mengakui gelar kenabian Muhammad. Namun Allah memberikan ketenangan (sakinah) kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Mereka tidak terbawa oleh kesombongan, tetapi taat dan patuh.

Mimpi yang Terbukti

Allah menegaskan bahwa mimpi Rasulullah pasti benar:

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ

"Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya (bahwa) kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, jika Allah menghendaki, dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut." (QS. Al-Fath: 27)

Kata "insya Allah" dalam ayat ini menjadi pelajaran penting: meskipun Allah mengetahui segala yang akan terjadi, manusia tetap diajarkan untuk mengucapkan "insya Allah" ketika berbicara tentang masa depan. Ini sesuai dengan firman-Nya di surat Al-Kahfi: "Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan tentang sesuatu, 'Aku akan melakukan itu besok,' kecuali (dengan mengatakan), 'Insya Allah.'"

Mimpi itu akhirnya terwujud pada tahun berikutnya, ketika kaum muslimin melaksanakan umrah qadha dengan aman dan tenang.

Muhammad Rasulullah: Potret Para Sahabat

Surat Al-Fath ditutup dengan gambaran yang sangat indah tentang Rasulullah dan para sahabatnya:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ

"Muhammad itu adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Engkau melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud." (QS. Al-Fath: 29)

Inilah ciri utama para sahabat: tegas terhadap musuh Allah, tetapi lembut dan penuh kasih di antara mereka sendiri. Mereka adalah generasi yang tidak pernah lepas dari shalat, senantiasa mengharap karunia dan ridha Allah.

Allah kemudian memberikan perumpamaan tentang mereka dalam kitab-kitab sebelumnya:

ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

"Itulah perumpamaan mereka dalam Taurat. Dan perumpamaan mereka dalam Injil bagaikan tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati para petani, sehingga Allah membuat orang-orang kafir itu marah (dengan keberadaan mereka)." (QS. Al-Fattah: 29)

Perumpamaan ini menggambarkan bagaimana dakwah Islam dimulai dari kelompok kecil yang lemah, lalu perlahan tumbuh, menguat, dan akhirnya menjadi kokoh dan besar—menakjubkan semua orang yang melihatnya, dan membuat marah orang-orang yang membencinya.

Surat Al-Fath ditutup dengan janji Allah yang indah:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

"Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka dan mengerjakan amal saleh, (bahwa mereka akan mendapat) ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Fattah: 29)

Ini adalah kabar gembira bagi generasi sahabat yang mulia, dan juga bagi siapa pun yang mengikuti jejak mereka hingga akhir zaman. Meskipun para sahabat memiliki keutamaan dan kedudukan yang tidak bisa disamai oleh siapa pun setelahnya, pintu ampunan dan pahala besar tetap terbuka bagi siapa pun yang beriman dan beramal saleh dengan mengikuti petunjuk mereka.

Sumber :
Sirah Nabawiyah fi Dhauil Quran was Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pensyariatan Haji dan Wafatnya Sa'ad bin Mu'adz

Di Balik Pernikahan Rasulullah: Membantah Fitnah dan Menyingkap Hikmah Agung

Zainab binti Jahsy: Pernikahan Langit yang Mengubah Syariat