Rahasia di Balik Kemenangan: Strategi, Doa, dan Kekuatan Gaib
Perang Khandaq memasuki babak yang paling menegangkan. Umat Islam terkepung dari luar oleh pasukan Quraisy dan Ghathafan, sementara dari dalam, ancaman pengkhianatan Bani Quraizhah menganga bagaikan lubang maut. Namun, di tengah situasi yang mencekik ini, tangan-tangan takdir mulai bergerak. Seorang pemberani datang, sebuah strategi jenius dilancarkan, dan pada akhirnya, pertolongan Allah turun dengan cara yang sangat dramatis.
1. "Perang Itu Tipu Daya": Seorang Pemberani
Masuk Islam
Di saat genting, Allah ﷻ yang Maha Mengatur segala sebab,
menghadirkan seorang tokoh penting dari kabilah Ghathafan, yaitu Nu'aim bin
Mas'ud Al-Asyja'i. Ia adalah seorang yang disegani dan memiliki hubungan baik
dengan Quraisy maupun kaum Yahudi. Hingga suatu hari, ia menemui Rasulullah ﷺ
dan menyatakan keislamannya, seraya berkata, "Wahai Rasulullah,
sesungguhnya aku telah masuk Islam, namun kaumku tidak mengetahui keislamanku.
Perintahkanlah aku dengan perintahmu, aku akan membantumu."
Rasulullah ﷺ,
dengan kecerdasan dan kebijaksanaan yang agung, tidak menyuruhnya berperang
secara fisik. Beliau bersabda:
"إِنَّمَا أَنْتَ رَجُلٌ وَاحِدٌ، وَمَاذَا عَسَى أَنْ تَفْعَلَ؟
وَلَكِنْ خَذِّلْ عَنَّا مَا اسْتَطَعْتَ، فَإِنَّ الْحَرْبَ خُدْعَةٌ"
"Sesungguhnya kamu hanyalah seorang laki-laki
sendirian, dan apa yang bisa kamu perbuat? Akan tetapi, buatlah mereka gentar
(bercerai-berai) dari (menyerang) kami semampumu, karena peperangan itu adalah
tipu daya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Nu'aim pun membuktikan dirinya layak atas kepercayaan ini.
Ia segera melancarkan strategi cerdik yang akan memecah belah barisan musuh
dari dalam.
2. Memecah Belah Musuh: Strategi yang Berhasil
Nu'aim bergerak cepat. Pertama, ia mendatangi Bani
Quraizhah, sekutu Yahudi yang baru saja mengkhianati perjanjian. Ia berkata,
"Wahai Bani Quraizhah, kalian tahu kecintaanku kepada kalian. Aku akan
memberitahu kalian suatu rahasia, jagalah rahasia ini." Mereka pun
mempercayainya. Nu'aim melanjutkan, "Kalian telah melihat apa yang menimpa
Bani Qainuqa' dan Bani Nadhir (Yahudi sebelumnya). Ingatlah, Quraisy dan
Ghathafan tidak seperti kalian. Mereka adalah orang luar. Jika melihat peluang menguntungkan,
mereka akan memanfaatkannya, jika tidak, mereka akan pulang ke negeri mereka.
Sedangkan kalian, tinggal berdampingan dengan Muhammad. Kalian tidak akan
sanggup sendirian melawannya. Menurutku, janganlah kalian terlibat perang ini
sebelum kalian mendapatkan jaminan dari Quraisy dan Ghathafan. Mintalah mereka
menyerahkan tujuh puluh orang terkemuka sebagai sandera yang akan berada di
tangan kalian, sebagai jaminan bahwa mereka akan benar-benar bertempur sampai
tuntas bersama kalian." Bani Quraizhah menyambut baik usul ini.
Kedua, Nu'aim mendatangi pemimpin Quraisy, Abu Sufyan, dan
berkata, "Aku punya informasi rahasia. Bani Quraizhah ternyata menyesali
pengkhianatan mereka pada Muhammad. Mereka berencana meminta sandera dari
tokoh-tokoh Quraisy untuk diserahkan kepada Muhammad agar dipenggal, sebagai
tanda kesetiaan baru mereka!" Ia juga mendatangi Ghathafan dan
menyampaikan berita serupa.
Hasilnya, kekacauan mulai merambat di kubu musuh. Ketika Abu
Sufyan mengirim utusan ke Bani Quraizhah untuk mengajak perang keesokan
harinya, Bani Quraizhah menjawab, "Hari ini hari Sabtu (hari yang mereka
agungkan dan tidak boleh berperang). Lagipula, kami tidak akan berperang
bersama kalian sebelum kalian menyerahkan sandera kepada kami." Utusan
Quraisy kembali dengan jawaban itu. Abu Sufyan bersumpah, "Demi Allah,
berita Nu'aim benar!" Lalu mereka mengirim balasan ke Bani Quraizhah,
"Kami tidak akan menyerahkan seorang pun sandera. Jika kalian mau perang,
keluarlah!" Bani Quraizhah pun berkata, "Ternyata Nu'aim benar!"
Kedua belah pihak saling curiga dan strategi Nu'aim berhasil memecah belah
aliansi Ahzab.
3. Doa yang Menggetarkan di Tengah Badai Ketakutan
Di tengah situasi yang mencekam, saat jantung berdegup
kencang dan nyawa terasa sampai di kerongkongan, Rasulullah ﷺ dan para sahabat
tidak pernah lepas dari doa. Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu berkata,
"Pada Perang Khandaq, aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, adakah sesuatu yang
bisa kami ucapkan? Sungguh, hati ini sudah sampai di kerongkongan karena takut!'
Beliau bersabda:
"نَعَمْ، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا، وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا"
"Ya Allah, tutuplah aurat kami (aib dan keburukan
kami), dan amankanlah kami dari rasa takut." (HR. Ahmad)
Dalam riwayat lain yang masyhur di Shahih Bukhari dan
Muslim, Rasulullah ﷺ
berdoa dengan khusyuk:
"اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ، سَرِيعَ الْحِسَابِ، اهْزِمِ
الأَحْزَابَ، اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ"
"Ya Allah, Yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an), Yang
Maha Cepat perhitungan-Nya, kalahkanlah pasukan sekutu (Ahzab). Ya Allah,
kalahkanlah mereka dan goncangkanlah mereka."
Doa-doa ini adalah senjata paling ampuh yang dipanjatkan ke
langit di saat tidak ada lagi daya dan upaya.
4. Malam yang Mencekam: Kekalahan Pasukan Ahzab
Allah mengabulkan doa Rasul-Nya. Pertolongan datang dari
arah yang tidak disangka-sangka. Pada malam yang sangat dingin, Allah
mengirimkan angin topan yang dahsyat. Angin itu merobohkan tenda-tenda,
memadamkan api unggun, dan menjungkirbalikkan periuk-periuk makanan pasukan
Ahzab. Hawa dingin menusuk tulang, ditambah kepanikan, membuat suasana kacau
balau. Allah juga mengirimkan pasukan-Nya yang tidak terlihat (malaikat) untuk
menebar ketakutan di hati mereka.
Rasulullah ﷺ
yang terjaga, mendengar hiruk-pikuk dari kubu musuh. Beliau bersabda kepada
para sahabat yang ketakutan dan kelaparan, "Siapakah orang yang pergi
mengintai keadaan musuh untuk kita, lalu kembali, dan aku memohon kepada Allah
agar dia menjadi temanku di surga?" Karena sangat takut dan dingin, tak
seorang pun bergerak. Beliau kemudian memanggil Hudzaifah bin Al-Yaman.
Hudzaifah berkata, "Tidak ada pilihan bagiku selain pergi ketika beliau
memanggilku." Rasulullah berpesan, "Pergilah, masuklah ke
tengah-tengah mereka, lihat apa yang mereka perbuat, tapi jangan lakukan apa
pun sampai engkau kembali."
Hudzaifah masuk ke tengah pasukan musuh yang porak-poranda.
Ia melihat Abu Sufyan berdiri dan berkata, "Hendaklah setiap orang melihat
siapa teman duduknya!" (karena takut ada mata-mata). Hudzaifah dengan
sigap memegang tangan orang di sampingnya dan bertanya, "Siapa kamu?"
agar tidak dicurigai. Orang-orang Badui (Ghathafan) mulai berteriak untuk
pulang. Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadi berseru, "Muhammad telah
mendatangkan bencana kepada kalian, selamatkan diri, selamatkan diri!"
Akhirnya Abu Sufyan berseru lantang, "Wahai Quraisy, sungguh kita tidak
berada di tempat yang aman. Kuda dan unta kita telah binasa. Bani Quraizhah pun
mengingkari janji. Kita diterpa angin kencang ini. Berangkatlah, karena aku
akan berangkat!" Ia segera menaiki untanya dan pergi. Ghathafan yang
mendengar kepergian Quraisy pun segera kembali ke negeri mereka.
Hudzaifah kembali ke perkemahan Muslimin. Saat itu
Rasulullah ﷺ
sedang shalat dengan mengenakan selimut. Setelah selesai, Hudzaifah
menyampaikan kabar gembira itu. Rasulullah ﷺ lalu menyelimuti Hudzaifah yang kedinginan
dengan ujung selimut beliau, hingga ia merasa hangat dan tertidur hingga pagi.
5. Kembali dengan Kemenangan dan Janji Masa Depan
Rasulullah ﷺ
dan para sahabat kembali ke Madinah dengan penuh kemenangan. Allah telah
menghilangkan kesedihan dan membuka kesempitan. Beliau menjanjikan kepada para
sahabat bahwa setelah ini, orang-orang musyrik tidak akan lagi menyerang
mereka, tetapi merekalah yang akan menyerang orang-orang musyrik. Janji itu
terbukti. Kekuatan kaum muslimin terus meningkat, berpuncak pada Fathu Makkah
(Pembebasan Makkah), dan manusia pun berbondong-bondong masuk Islam.
Saat kembali, mereka bertakbir dan bergembira, mengucapkan
kalimat-kalimat syukur yang diajarkan Rasulullah ﷺ:
لَا
إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ
وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، آيِبُونَ تَائِبُونَ، عَابِدُونَ سَاجِدُونَ،
لِرَبِّنَا حَامِدُونَ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ،
وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Komentar
Posting Komentar