Perang Khandaq: Ketika Umat Islam Dikepung Sepuluh Ribu Pasukan
Ancaman dari Tiga Penjuru
Tahun kelima Hijriah menjadi saksi salah satu ujian terbesar
dalam sejarah Islam. Madinah, kota yang selama ini menjadi naungan aman bagi
kaum muslimin, tiba-tiba terancam kepungan dari berbagai penjuru. Tiga kekuatan
besar bersatu padu dengan satu tujuan: menghancurkan Nabi Muhammad
Shallallahu'alaihi Wasallam dan pengikutnya hingga ke akar-akarnya.
Quraisy di Mekah masih menyimpan dendam atas
kekalahan mereka di berbagai pertempuran. Mereka menanti saat yang tepat untuk
melampiaskan amarah.
Kaum Arab Badui dari berbagai penjuru, yang
pernah merasakan ketajaman pedang kaum muslimin, juga menyimpan dendam dan
mencari kesempatan untuk membalas.
Yahudi Bani Qainuqa' dan Bani Nadhir yang telah
diusir Nabi dari Madinah karena pengkhianatan mereka, semakin membara
kebenciannya. Mereka lupa bahwa Nabi masih memberi ampunan dengan hanya
mengusir, padahal bisa saja membinasakan mereka.
Tiga kekuatan jahat ini berkolaborasi, membentuk koalisi
besar yang dikenal dengan sebutan "Ahzab" (kelompok-kelompok
bersekutu). Maka terjadilah Perang Ahzab, atau yang lebih dikenal dengan Perang
Khandaq.
Peran Licik Yahudi: Menjilat Musyrik Quraisy
Bencana ini dipicu oleh ulah para pemimpin Yahudi Bani
Nadhir yang diusir dari Madinah. Sebuah rombongan yang dipimpin oleh Huyay
bin Akhtab An-Nadhri, Salam bin Abi Al-Huqaiq, Kinannah
bin Ar-Rabi' bin Abi Al-Huqaiq, dan beberapa orang lainnya keluar menuju
Mekah.
Mereka datang kepada para pemimpin Quraisy dan berkata,
"Kami akan bersama kalian memerangi Muhammad hingga kita
membinasakannya!"
Quraisy menyambut gembira kedatangan mereka. Tawaran kerja
sama ini persis seperti yang mereka idam-idamkan.
Namun, terjadi sesuatu yang sangat memalukan. Quraisy yang
saat itu masih musyrik penyembah berhala bertanya kepada para tokoh Yahudi yang
mengaku sebagai Ahli Kitab, "Wahai kaum Yahudi, kalian adalah pemilik
kitab pertama dan memiliki ilmu tentang apa yang kami perselisihkan dengan
Muhammad. Manakah yang lebih baik, agama kami atau agamanya?"
Dengan penuh kebodohan dan kedengkian, para Yahudi itu
menjawab, "Agama kalian lebih baik daripada agamanya, dan kalian
lebih berhak atas kebenaran!"
Subhanallah, sebuah pernyataan yang sangat memalukan dari
orang-orang yang mengaku beriman kepada kitab suci! Mereka lebih memilih
kemusyrikan daripada tauhid yang dibawa Nabi Muhammad. Allah SWT mengabadikan
kebodohan ini dalam Al-Qur'an:
أَلَمْ
تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ
وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَٰؤُلَاءِ أَهْدَىٰ مِنَ
الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا. أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَمَنْ
يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang
diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut dan
mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah) bahwa mereka itu lebih
benar jalannya daripada orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang-orang
yang dilaknat Allah. Barangsiapa yang dilaknat Allah, niscaya kamu sekali-kali
tidak akan mendapat penolong baginya."
(QS. An-Nisa: 51-52)
Bahkan seorang orientalis Yahudi, Dr. Israel
Wolfensohn, dalam bukunya "Sejarah Yahudi di Jazirah
Arab" mengomentari:
"Sudah seharusnya orang-orang Yahudi ini tidak
terjerumus dalam kesalahan besar seperti ini, dan tidak menyatakan di hadapan
pemimpin Quraisy bahwa penyembahan berhala lebih baik daripada tauhid Islam,
meskipun hal itu mengakibatkan mereka tidak mendapat apa yang mereka
minta."
Menyebarkan Racun ke Seluruh Jazirah
Setelah sukses membakar semangat Quraisy, rombongan Yahudi
ini berkeliling ke berbagai kabilah Arab yang memiliki dendam dengan kaum
muslimin. Mereka mendatangi Bani Murrah, Bani Fazarah, Bani Asyja', Bani
Sulaim, Bani Sa'd, Bani Asad, dan semua suku yang pernah merasakan kekalahan di
tangan pasukan Nabi.
Mereka menghasut dan memberitahu bahwa Quraisy telah
bergabung dengan mereka. Maka berduyun-duyunlah suku-suku Arab bergabung dalam
koalisi besar ini.
Pasukan Raksasa Menuju Madinah
Koalisi Ahzab bergerak menuju Madinah dengan kekuatan luar
biasa:
- Quraisy dipimpin
Abu Sufyan bin Harb dengan 4.000 pasukan, 300 kuda, dan 1.500 unta.
Pembawa panji mereka adalah Utsman bin Thalhah bin Abu Thalhah (ayahnya
terbawa panji saat perang Uhud).
- Bani
Ghathafan dipimpin Uyainah bin Hishn Al-Ahmas (yang pernah diberi
tanah oleh Nabi untuk menggembalakan ternaknya) dengan 1.000 pasukan
berkuda.
- Bani
Murrah dipimpin Al-Harits bin Auf Al-Murri dengan 400 pasukan.
- Bani
Sulaim dengan 700 pejuang.
- Bani
Asad dipimpin Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadi.
- Bani
Asyja' juga ikut bergabung.
Total kekuatan mereka mencapai 10.000 pasukan dengan
panglima tertinggi Abu Sufyan bin Harb. Sebuah pasukan raksasa yang belum
pernah dilihat Jazirah Arab sebelumnya. Mereka bergerak menuju Madinah dengan
keyakinan akan menghabisi Nabi dan para sahabat.
Musyawarah Nabi: Strategi Bertahan
Kabar datangnya pasukan besar ini sampai juga ke telinga
Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam. Beliau segera mengumpulkan para sahabat
untuk bermusyawarah: akankah mereka tetap tinggal di Madinah dan bertahan,
ataukah keluar menghadapi musuh di luar kota?
Melihat kekuatan musuh yang luar biasa, mustahil rasanya
menghadapi mereka di tanah lapang seperti dalam Perang Badar. Akibatnya bisa
fatal. Maka mayoritas sahabat sepakat untuk bertahan di dalam kota.
Namun, apakah bertahan di dalam kota cukup? Madinah saat itu
tidak memiliki benteng pertahanan yang memadai. Musuh bisa dengan mudah masuk
dari berbagai penjuru.
Di saat genting itulah, Salman Al-Farisi radhiyallahu'anhu
maju memberikan idenya. Sebagai orang Persia yang mengenal strategi perang, ia
mengusulkan:
"Wahai Rasulullah, di negeri Persia, jika kami
menghadapi musuh yang mengepung, kami biasa menggali parit di sekitar
kota."
Rasulullah menyambut baik ide cemerlang ini. Madinah saat
itu hanya memiliki satu celah terbuka di sebelah utara yang bisa dimasuki
pasukan berkuda. Sisi-sisi lainnya terlindung oleh bangunan yang rapat dan
kebun kurma yang sulit ditembus pasukan besar. Maka diputuskan untuk menggali
parit di sisi utara Madinah.
Semangat Menggali Parit di Tengah Dingin
Para sahabat segera bekerja membagi tugas. Rasulullah
membagi mereka menjadi kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari
sepuluh orang harus menggali parit sepanjang 40 hasta.
Di tengah cuaca yang sangat dingin, Rasulullah turun
langsung menggali dan mengangkut tanah bersama para sahabat. Beliau tidak
pernah meninggalkan mereka dalam kesusahan. Kaum Muhajirin dan Anshar berebut
ingin mengklaim Salman sebagai bagian dari kelompok mereka. Maka Rasulullah
memutuskan dengan bijak:
"سَلْمَانُ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ"
"Salman dari kami, Ahlul Bait."
Setiap kali melihat para sahabat kelelahan dan kepayahan,
Rasulullah membangkitkan semangat mereka dengan syair:
اللَّهُمَّ
إِنَّ الْعَيْشَ عَيْشُ الْآخِرَةْ ... فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَةْ
"Ya Allah, sesungguhnya kehidupan yang hakiki adalah
kehidupan akhirat ... Maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin."
Maka para sahabat pun menjawab dengan penuh semangat:
نَحْنُ
الَّذِينَ بَايَعُوا مُحَمَّدَا ... عَلَى الْجِهَادِ مَا بَقِينَا أَبَدَا
"Kamilah yang telah berbaiat kepada Muhammad ...
untuk berjihad selama kami hidup selamanya."
Suasana iman menyatu dengan semangat juang yang luar biasa.
Rasa lelah dan dinginnya malam sirna oleh kobaran iman di dada.
Kisah Heroik dari Balik Galian Parit
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab sahih
mereka dari sahabat Al-Bara' bin Azib radhiyallahu'anhu, ia
berkata:
"Pada perang Ahzab, ketika Rasulullah menggali
parit, aku melihat beliau mengangkut tanah galian hingga tanah itu menutupi
kulit perutnya yang berbulu lebat. Aku mendengar beliau bersenandung dengan
syair Abdullah bin Rawahah sambil memindahkan tanah:
اللَّهُمَّ
لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا ... وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا
فَأَنْزِلَنْ
سَكِينَةً عَلَيْنَا ... وَثَبِّتِ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا
إِنَّ الْأُلَى
قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا ... وَإِنْ أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا
"Ya Allah, jika bukan karena-Mu kami tidak akan
mendapat petunjuk
Tidak pula bersedekah dan tidak pula shalat
Maka turunkanlah ketenangan atas kami
Dan kokohkanlah pendirian kami jika kami bertemu musuh
Sesungguhnya mereka telah melampaui batas terhadap kami
Dan jika mereka menghendaki fitnah, kami menolaknya"
Kemudian beliau memanjangkan suaranya di akhir syair: أَبَيْنَا...
أَبَيْنَا (kami
menolak... kami menolak).*
Subhanallah, kalimat-kalimat penuh iman ini mampu
menggandakan tenaga para sahabat, membuat mereka meremehkan kepayahan dan
keletihan. Dengan kerja keras yang luar biasa, parit sepanjang itu selesai
hanya dalam enam hari. Batu-batu besar mereka gunakan sebagai
benteng pertahanan di balik parit.
Keajaiban di Balik Batu Besar
Dalam riwayat lain diceritakan, ketika para sahabat
menggali, mereka menemukan batu besar yang tidak bisa dipecahkan. Mereka
melapor kepada Rasulullah. Maka turunlah beliau ke dalam galian, mengambil
beliung, dan mengucapkan "Bismillah" lalu memukulkan
ke batu itu. Terpecahlah sepertiganya, dan muncullah cahaya yang menyinari
istana-istana di Syam. Rasulullah bersabda, "Ini adalah pintu-pintu istana
di Syam, Allah membukanya untuk umatku."
Pukulan kedua, terpecah lagi sepertiga, muncul cahaya yang
menyinari istana-istana di Persia. Beliau bersabda, "Ini adalah
pintu-pintu istana Persia, Allah membukanya untuk umatku."
Pukulan ketiga, terpecah sisanya, muncul cahaya yang
menyinari istana-istana di Yaman. Beliau bersabda, "Ini adalah pintu-pintu
istana Yaman, Allah membukanya untuk umatku."
Para sahabat yang menyaksikan bergembira dengan janji
kemenangan ini, meskipun saat itu mereka masih dikepung puluhan ribu pasukan
musuh.
Sumber Kisah:
As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhaw'i Al-Qur'an wa As-Sunnah

Komentar
Posting Komentar