Pensyariatan Haji dan Wafatnya Sa'ad bin Mu'adz
Pensyariatan Haji: Panggilan Abadi dari Nabi Ibrahim
Di tahun yang diperselisihkan ulama—ada yang mengatakan
tahun keenam, kedelapan, atau kesembilan Hijriah—Allah SWT mewajibkan ibadah
haji atas hamba-Nya. Ayat yang menjadi landasan utama kewajiban ini adalah
firman Allah:
وَلِلَّهِ
عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
"Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah
adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu
mengadakan perjalanan ke sana." (QS. Ali Imran: 97)
Ada pula yang berpendapat bahwa dasar kewajiban haji adalah
firman Allah:
وَأَتِمُّوا
الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
"Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena
Allah." (QS. Al-Baqarah: 196)
Namun, pendapat yang lebih kuat adalah yang pertama, karena
perintah menyempurnakan (itmam) datang setelah suatu ibadah ditetapkan.
Kewajiban haji telah ditetapkan oleh Al-Qur'an, Sunnah, dan ijma' (konsensus
ulama), sehingga menjadi salah satu rukun Islam yang diketahui secara pasti
dalam agama.
Haji bukanlah ibadah yang baru muncul di masa Islam. Ia
adalah syariat kuno yang telah ada sejak zaman bapak para nabi, Ibrahim
Al-Khalil 'alaihis salam. Ketika Ibrahim bersama putranya Ismail selesai
membangun Kakbah, Allah memerintahkannya untuk berdiri di bukit Abu Qubais di
Mekah dan menyeru manusia untuk melaksanakan haji. Dengan rendah hati Ibrahim
bertanya, "Wahai Tuhanku, bagaimana suaraku bisa sampai ke mereka?"
Allah menjawab, "Berserulah, wahai Ibrahim! Aku yang akan menyampaikannya."
Maka Ibrahim pun berseru, "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah
telah mewajibkan atas kalian haji, maka berhajilah!" Allah memperdengarkan
suara Ibrahim kepada siapa saja yang masih berada di sulbi laki-laki, rahim
perempuan, atau bahkan di alam dzar sebelum mereka dilahirkan! Sejak saat itu,
orang-orang yang dikehendaki Allah untuk berhaji akan menjawab panggilan
tersebut dengan kalimat yang abadi, "Labbaikallahumma labbaik, labbaik la
syarika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, la syarika
lak" (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku
penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu.
Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu, tiada sekutu
bagi-Mu).
Ibadah haji terus dilestarikan oleh bangsa Arab hingga masa
kenabian Muhammad ﷺ.
Namun, mereka mencampuradukkannya dengan kesyirikan dengan menempatkan
berhala-berhala di sekitar Kakbah, di bukit Shafa dan Marwah, serta mengubah
beberapa tata cara manasik. Ketika Islam datang, ia membersihkan haji dari
segala noda kesyirikan dan adat jahiliah, lalu mengembalikannya ke bentuk
aslinya yang murni di masa Ibrahim: sebagai simbol tauhid, persatuan, kasih
sayang, dan kebersamaan.
Haji menyimpan hikmah dan filosofi yang dalam. Jika tidak
ada keutamaan lain selain menjadi konferensi akbar umat Islam tahunan, itu
sudah cukup. Apalagi di dalamnya terdapat penyucian jiwa, peninggian ruh,
ampunan dosa, serta penanaman nilai takwa, kesetaraan, dan berbagai pelajaran
berharga.
Ya, haji adalah konferensi tahunan terbesar di mana Muslim
dari berbagai penjuru dunia bertemu. Mereka berbagi suka dan duka, bergema
dalam kesedihan dan harapan, bermusyawarah dalam segala urusan agama dan dunia,
serta saling bekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan, tolong-menolong dan
bahu-membahu. Alangkah agungnya konferensi ini seandainya umat Islam mau
memanfaatkan peluangnya dengan baik!
Tuduhan bahwa haji mengandung unsur penyembahan berhala,
seperti yang dilontarkan musuh-musuh Islam, adalah tidak berdasar. Buktinya,
setiap ritus dan manasik haji senantiasa diiringi dengan tahlil, takbir, dan
pujian kepada Allah Yang Maha Agung. Hal ini persis seperti ungkapan dalam
syair:
Aku melewati kampung, kampung kekasihku
Aku mencium tembok ini dan tembok itu
Bukan karena cinta pada tembok yang menggetarkan hatiku
Melainkan cinta kepada yang mendiami tembok itu
Tawaf di Kakbah bukanlah untuk mengagungkan batu-batuan,
melainkan untuk mengagungkan Pemilik Rumah. Mencium Hajar Aswad bukanlah karena
cinta pada batu, tetapi karena cinta kepada Tuhan Pemilik batu, yaitu Allah
SWT. Jika seorang muslim tidak memahami hikmah di balik suatu syariat,
hendaklah ia berkata, "Kami dengar dan kami taat." Jangan sekali-kali
ia menuduh syariat, tetapi tuduhlah akalnya yang terbatas. Seperti yang
diucapkan oleh Umar bin Khattab, sang khalifah yang mendapat ilham dan jenius,
ketika mencium Hajar Aswad:
اللهم
إني أعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع، ولولا أني رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم
قبلك ما قبلتك
"Ya Allah, aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang
tidak bisa memberi mudarat maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat
Rasulullah ﷺ
menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu." (HR. Bukhari)
Wafatnya Sa'ad bin Mu'adz: Syahid yang Menggetarkan 'Arsy
Masih dalam ingatan kita tentang Perang Khandaq (Ahzab). Di
tengah peperangan itu, Sa'ad bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu, pemimpin suku Aus
yang mulia, terkena panah yang melukai urat di lengannya. Saat terluka, ia
berdoa:
"Ya Allah, jika Engkau masih menyisakan peperangan
melawan Quraisy, maka biarkanlah aku hidup untuk berperang melawan mereka.
Sesungguhnya tidak ada kaum yang lebih aku cintai untuk kuperangi selain kaum
yang telah menyakiti Rasul-Mu, mendustakannya, dan mengusirnya. Namun jika
Engkau telah mengakhiri perang antara kami dan mereka, maka jadikanlah luka ini
sebagai jalan kesyahidan bagiku. Dan janganlah Engkau matikan aku hingga Engkau
menyejukkan mataku melihat (balasan atas) Bani Quraizhah."
Allah mengabulkan doa kekasih-Nya itu. Dia menyejukkan mata
Sa'ad dengan kemenangan atas Bani Quraizhah, dan justru Bani Quraizhah sendiri
yang meminta Sa'ad menjadi hakim atas mereka. Atas izin Allah dan kebijaksanaan
yang diberikan, Sa'ad memutuskan hukuman bagi para pengkhianat itu sesuai
dengan hukum Allah. Ketika keputusan itu disampaikan, Rasulullah ﷺ
bersabda:
«لقد
حكمت فيهم يا سعد بحكم الله من فوق سبع سماوات»
"Sungguh, engkau telah memutuskan hukum atas mereka,
wahai Sa'ad, dengan hukum Allah dari atas tujuh langit."
Setelah itu, Sa'ad dibawa kembali ke tendanya di Masjid
Nabawi yang disediakan untuk merawat para korban luka. Tak lama kemudian, para
sahabat dikejutkan oleh aliran darah yang mengalir di masjid. Mereka segera
masuk ke tenda, dan mendapati luka Sa'ad telah pecah kembali dan ia
menghembuskan nafas terakhirnya sebagai syahid. Rasulullah ﷺ dan para sahabat
turut mengantarkan jenazahnya hingga ke liang lahat.
Sa'ad bin Mu'adz adalah pemuka suku Aus dan termasuk muslim
pilihan yang memiliki banyak jasa. Banyak hadits yang menjelaskan keutamaannya.
Di antaranya, dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim), Rasulullah ﷺ
bersabda:
«اهتز
العرش لموت سعد بن معاذ»
"Berguncanglah 'Arsy (singgasana Allah) karena
kematian Sa'ad bin Mu'adz."
Maksudnya, 'Arsy berguncang karena gembira menyambut ruhnya
dan menyambut kedatangannya untuk berjumpa dengan Tuhannya. Dalam riwayat lain,
ketika Rasulullah ﷺ
diberi hadiah sehelai jubah sutra, para sahabat takjub akan kelembutan dan
keindahannya. Beliau bersabda:
«أتعجبون
من هذه؟ لمناديل سعد بن معاذ في الجنة خير منها أو ألين»
"Apakah kalian takjub dengan ini? Sungguh, sapu
tangan Sa'ad bin Mu'adz di surga lebih baik dan lebih lembut dari ini."
Semoga Allah menggolongkan Sa'ad bin Mu'adz bersama para
nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Mereka itulah sebaik-baik teman.
Sumber Kisah:

Komentar
Posting Komentar