Menjelajahi Kota Delhi: Menyaksikan Keajaiban di Ujung Dunia
Kota yang Megah
Di tengah pengembaraanku menjelajahi dunia, sampailah aku di
sebuah kota yang begitu megah, pusat peradaban Islam di tanah India. Namanya
Delhi. Demi Allah, kota ini membuat mataku takjub dan hatiku kagum. Tiada
bandingannya di negeri-negeri yang pernah kusinggahi.
Benteng Raksasa yang Mengelilingi Kota
Kota ini dikelilingi oleh benteng yang sangat kokoh dan
luas. Lebar temboknya mencapai sebelas hasta, sebuah ukuran yang mengagumkan.
Di dalam benteng itu, aku melihat ruangan-ruangan yang dihuni oleh para penjaga
malam dan pengawal pintu. Ada pula gudang-gudang besar untuk menyimpan bahan
makanan yang mereka sebut anbarat, gudang senjata, serta gudang
untuk menyimpan manjanik dan alat-alat perang lainnya.
Yang paling membuatku heran, hasil panen yang disimpan di
gudang-gudang itu bisa bertahan dalam waktu yang sangat lama tanpa rusak atau
terserang hama. Aku sendiri menyaksikan beras yang dikeluarkan dari salah satu
gudang tersebut. Warnanya sudah menghitam karena usia, namun rasanya masih
enak! Aku juga melihat kudru—sejenis padi-padian—yang dikeluarkan
dari gudang yang sama. Penduduk setempat berkata kepadaku bahwa semua itu
adalah sisa-sisa penyimpanan dari masa Sultan Balaban, sekitar sembilan puluh
tahun yang lalu!
Subhanallah, betapa hebatnya negeri ini.
Di atas benteng yang tebal itu, aku melihat para pasukan
berkuda dan prajurit pejalan kaki lalu lalang dengan leluasa, menyusuri kota
dari ujung ke ujung. Di sepanjang benteng terdapat jendela-jendela yang terbuka
ke arah kota, tempat cahaya matahari masuk menerangi bagian dalam. Bagian bawah
benteng dibangun dari batu yang kokoh, sementara bagian atasnya dari bata
merah. Menara-menara pengawasnya banyak dan berdekatan satu sama lain, siap
siaga menjaga keamanan.
Dua Puluh Delapan Pintu Gerbang
Kota megah ini memiliki dua puluh delapan pintu gerbang.
Penduduk setempat menyebutnya darwazah. Setiap pintu memiliki nama
dan kisahnya sendiri. Aku berjalan dari satu pintu ke pintu lainnya, mencatat
nama-nama itu dalam ingatanku.
Ada Darwazah Bada'un, yang merupakan pintu
terbesar. Ada Darwazah al-Mandawi, di dekatnya terdapat lapangan
tempat hasil panen dijemur. Darwazah Jul—dengan huruf Jim yang
didhammah—menghadap ke kawasan kebun-kebun yang hijau. Darwazah Syah dan Darwazah
Balam dinamai menurut nama seseorang dan sebuah desa yang pernah
kusebutkan sebelumnya. Ada pula Darwazah Najib dan Darwazah
Kamal, keduanya juga nama orang-orang terhormat.
Darwazah Ghaznah dinisbatkan pada kota Ghaznah
yang terletak di ujung Khurasan. Di luar pintu ini terdapat tanah lapang untuk
salat Id dan beberapa makam. Lalu ada Darwazah al-Bajalsah—dengan
fathah pada huruf Ba, Jim, dan Shad. Di luar pintu inilah terbentang pemakaman
utama Delhi.
Pemakaman yang Indah dengan Bunga-Bunga Harum
Aku melangkahkan kaki menuju pemakaman Delhi. Sungguh,
pemandangan yang tak biasa. Penduduknya membangun kubah-kubah di atas pusara,
dan di setiap makam pasti terdapat mihrab, meskipun makam itu tidak berkubah.
Mereka menanam pepohonan yang berbunga harum di sekitar makam, seperti
melati, raybil, dan mawar. Aroma wangi semerbak memenuhi udara.
Yang paling mengagumkanku, bunga-bunga di sana tak pernah
berhenti mekar silih berganti sepanjang musim. Jika satu jenis bunga layu,
jenis lainnya akan mekar. Indah sekali.
Masjid Jami' Delhi: Kemegahan dari Batu Putih
Kemudian aku mengunjungi jantung kota, Masjid Jami' Delhi.
Masjid ini memiliki lapangan yang sangat luas. Dinding, atap, dan lantainya
seluruhnya terbuat dari batu putih yang dipahat dengan indah, lalu disatukan
dengan timah hitam yang dilelehkan. Begitu rapat dan kuat, hingga tak ada
setitik celah pun. Aku memeriksanya dengan saksama dan kusadari: tidak ada
sepotong kayu pun di bangunan masjid ini. Semua dari batu.
Di dalamnya terdapat tiga belas kubah yang juga terbuat dari
batu. Mihrabnya pun dari batu yang diukir halus. Masjid ini memiliki empat
halaman yang lapang, tempat orang-orang duduk belajar dan bercengkerama.
Tiang Aneh dari Tujuh Logam
Di tengah halaman masjid, mataku tertumbuk pada sebuah tiang
raksasa. Aku berdiri lama di bawahnya, penuh takjub. Tak seorang pun tahu dari
logam apa tiang itu dibuat. Seorang pejabat setempat—yang ramah padaku—berkata
bahwa tiang itu bernama Haft Jausy, yang berarti "tujuh
logam". Konon, tiang ini terbuat dari campuran tujuh jenis logam yang
berbeda.
Aku mendekat dan mengamatinya. Bagian yang dipoles dari
tiang itu, selebar ruas jari, memancarkan kilau yang luar biasa. Aku mencoba
menggoresnya dengan sebilah besi yang kubawa, namun tak sedikit pun bekasnya.
Besi tak mampu melukainya.
Tingginya mencapai tiga puluh hasta. Aku penasaran, lalu
melilitkan sorban milikku mengelilinginya. Ternyata, panjang sorban yang
melingkar itu mencapai delapan hasta. Besar sekali.
Di dekat pintu timur masjid, aku melihat dua patung besar
yang terbuat dari tembaga. Keduanya tergeletak di tanah dan direkatkan dengan
batu. Setiap orang yang masuk atau keluar masjid pasti menginjaknya. Penduduk
bercerita padaku bahwa tempat ini dulunya adalah budkhane, yaitu
rumah berhala. Ketika Delhi ditaklukkan, bangunan itu diubah menjadi masjid dan
berhala-berhala itu direndahkan.
Menara yang Bisa Dilewati Gajah
Di halaman utara masjid, berdiri sebuah menara yang tak ada
tandingannya di seluruh negeri Islam. Aku menengadah, leherku hampir sakit
memandang tingginya. Menara ini dibangun dari batu merah, berbeda dengan batu
putih pada bangunan masjid lainnya. Batu-batu menara itu diukir dengan indah,
menjulang tinggi ke angkasa. Puncaknya terbuat dari marmer putih berkilau, dan
bagian-bagiannya dihiasi dengan emas murni yang berkilauan di bawah sinar
matahari.
Yang paling menakjubkan, lebar lorong di dalam menara itu
sedemikian rupa, hingga seekor gajah pun bisa naik ke atasnya! Aku tak percaya,
lalu bertanya pada seorang yang kupercaya perkataannya. Ia bersumpah kepadaku
bahwa ketika menara ini dibangun, seekor gajah benar-benar digunakan untuk
mengangkut batu-batu ke puncak. Bayangkan, gajah itu berjalan memutar di dalam
lorong menara sambil membawa beban!
Menara ini dibangun oleh Sultan Mu'izzuddin bin Nashiruddin
bin Sultan Ghiyatsuddin Balaban.
Menara Gagal yang Menjadi Keajaiban
Aku mendengar bahwa Sultan Quthbuddin berkeinginan untuk
membangun menara serupa di halaman barat, bahkan yang lebih besar lagi. Ia
berhasil membangun sepertiganya, namun ajal menjemput sebelum bangunan itu
rampung. Kemudian Sultan Muhammad—penguasa setelahnya—berencana
menyelesaikannya, tetapi ia mengurungkan niatnya. Konon ia merasa sial,
khawatir akan bernasib buruk seperti pendahulunya.
Aku pun menaiki menara yang belum selesai itu. Dari atas
sana, aku dapat melihat sebagian besar rumah-rumah di Delhi. Tembok kota yang
menjulang tinggi itu tampak rendah dari atas sana, dan orang-orang di bawah
terlihat seperti anak-anak kecil. Namun anehnya, jika dilihat dari bawah,
menara ini tak terlihat terlalu tinggi. Mengapa? Karena ukuran tubuhnya yang
begitu besar dan lebar membuatnya tampak lebih pendek dari sebenarnya.
Sepertiga bangunan yang telah rampung ini saja sudah
setinggi menara utara yang utuh. Seandainya selesai, entah setinggi apa
jadinya.
Masjid Agung yang Tak Kunjung Rampung
Ambisi membangun tak berhenti di situ. Sultan Quthbuddin
juga berencana mendirikan masjid agung di Siri, yang dikenal sebagai Dar
al-Khilafah—Pusat Kekhalifahan. Namun, dari seluruh bangunan yang
direncanakan, hanya dinding kiblat dan mihrabnya saja yang terselesaikan saat
kematian menjemputnya.
Aku mengunjungi reruntuhan itu dan takjub. Bangunannya
sangat indah, menggunakan batu putih, hitam, merah, dan hijau yang dipadukan.
Jika saja rampung, niscaya tak akan ada masjid yang menandinginya di seluruh
penjuru negeri.
Sultan Muhammad—yang memerintah di zamanku—berniat
menyelesaikannya. Ia mengutus para mandor bangunan untuk memperkirakan
biayanya. Mereka memperkirakan dana yang dibutuhkan mencapai tiga puluh
lima lak. Satu lak sama dengan seratus ribu, jadi jumlahnya sangat
besar. Sultan pun mengurungkan niatnya karena merasa biayanya terlalu mahal.
Namun seorang kepercayaan sultan berbisik kepadaku,
"Sebenarnya bukan karena mahal, Tuan. Sultan merasa sial. Sultan
Quthbuddin, pencetus bangunan itu, terbunuh sebelum proyeknya rampung."
Telaga Raksasa Sumber Kehidupan
Di luar kota Delhi, aku berjalan-jalan dan menemukan sebuah
telaga buatan yang sangat besar. Penduduk menyebutnya sebagai telaga Sultan
Syamsuddin Lalmisy. Dari telaga inilah penduduk kota mengambil air minum.
Letaknya dekat dengan tanah lapang tempat salat Id.
Aku mengukur panjangnya dengan langkahku, ternyata mencapai
sekitar dua mil. Lebarnya setengah dari panjang itu. Airnya berasal dari
tampungan air hujan, jernih dan segar.
Sisi barat telaga, yang berbatasan dengan tanah lapang,
dibangun dengan indah dari batu. Di sana dibuat teras-teras bertingkat seperti
bangku-bangku panjang, sebagian lebih tinggi dari yang lain. Di bawah setiap
teras terdapat anak tangga yang memudahkan orang turun ke air. Di samping
setiap teras, dibangun kubah-kubah batu yang berfungsi sebagai tempat pertemuan
bagi para pengunjung yang ingin bersantai dan menikmati pemandangan.
Di tengah telaga, berdiri sebuah kubah besar yang juga
terbuat dari batu berukir, dibangun dua tingkat. Aku penasaran dan bertanya
cara mencapainya. Penduduk menjelaskan, jika air telaga sedang pasang, kubah
itu hanya bisa dicapai dengan perahu. Namun jika air surut, orang-orang bisa
berjalan kaki memasukinya. Di dalam kubah tersebut terdapat sebuah masjid yang
sederhana namun khusyuk.
Aku diberitahu bahwa di sebagian besar waktu, kubah ini
dihuni oleh para fakir yang mengasingkan diri, hanya beribadah dan bertawakal
kepada Allah. Aku sempat melihat beberapa dari mereka, duduk berzikir dengan
tenang.
Ketika air di tepi telaga surut, penduduk memanfaatkan tanah
yang subur itu untuk menanam tebu, mentimun, qutsa, serta semangka
hijau dan kuning. Aku mencicipi buah semangka itu. Manis rasanya meskipun
ukurannya kecil.
Telaga Khusus dan Kota Kesenian
Di antara Delhi dan Dar al-Khilafah (Siri),
aku menemukan sebuah telaga lain yang disebut Haudh al-Khash—Telaga
Khusus. Ukurannya bahkan lebih besar dari telaga Sultan Syamsuddin. Di tepinya
berdiri sekitar empat puluh kubah yang indah.
Di sekitar telaga inilah bermukim para seniman dan
penghibur, sehingga kawasan itu dinamakan Tharababad—Kota Kesenian.
Aku berjalan-jalan di pasar mereka, dan sungguh ramai. Mereka memiliki pasar
sendiri yang sangat ramai, sebuah masjid jami', dan banyak masjid-masjid kecil
lainnya.
Sebuah kabar menarik sampai ke telingaku. Para penyanyi
wanita yang tinggal di sana, bersama rombongannya, biasa melaksanakan salat
Tarawih berjamaah di masjid-masjid itu pada bulan Ramadhan, dengan dipimpin
oleh para imam. Jumlah mereka sangat banyak. Demikian pula para penyanyi pria.
Mereka semua tetap menjaga kewajiban agama di tengah profesi mereka.
Aku sendiri pernah menyaksikan para seniman ini di pesta
pernikahan Amir Saifuddin Ghada bin Muhanna. Masing-masing dari mereka memiliki
sajadah sendiri yang diletakkan di bawah lutut. Begitu mendengar azan
berkumandang, mereka segera bangkit, berwudhu, dan melaksanakan salat dengan
khusyuk. Setelah salat, mereka kembali ke pesta. Menarik sekali melihat
keseimbangan dunia dan akhirat dalam diri mereka.
Makam Para Wali yang Penuh Berkah
Tak hanya kemegahan duniawi, Delhi juga menyimpan keberkahan
dari para kekasih Allah. Aku sengaja mengunjungi makam-makam mereka untuk
mengambil berkah.
Di sana terdapat makam Syekh Quthbuddin Bakhtiyar Al-Ka'ki,
seorang wali yang sangat diagungkan. Penduduk berbondong-bondong datang
berziarah, dan aku merasakan sendiri aura ketenangan di tempat itu. Ia dijuluki
Al-Ka'ki karena kebiasaannya yang mulia. Setiap kali ada orang yang datang
kepadanya mengeluhkan hutang, kefakiran, atau kesulitan menikahkan anak
perempuan karena tak punya biaya, Syekh Quthbuddin akan memberi setiap orang
yang datang itu sekeping roti—ka'kah—dari emas atau perak. Hingga ia pun
terkenal dengan panggilan Al-Ka'ki. Semoga Allah merahmatinya.
Di tempat yang sama, terdapat pula makam fakih utama,
Nuruddin Al-Kurlami. Aku turut mendoakannya. Dan juga makam fakih 'Alauddin
Al-Kirmani, yang dinisbatkan pada negeri Kirman. Makam 'Alauddin ini juga
sangat bercahaya dan penuh berkah, terletak di dekat tanah lapang tempat salat
Id, menghadap ke arah kiblat.
Di sekitar tempat itu, masih banyak lagi makam para lelaki
saleh yang telah banyak memberikan manfaat, dengan izin Allah Ta'ala. Aku
berdiri di antara makam-makam itu, merenungkan betapa Allah mengangkat derajat
hamba-hamba-Nya yang saleh di mana pun mereka berada.
Rihlah Ibnu Bathuthah

Komentar
Posting Komentar