Menjelajahi Kota Delhi: Menyaksikan Keajaiban di Ujung Dunia

pemandangan kota Delhi kuno pada abad ke-14 Masehi, masa kejayaan Kesultanan Delhi. Lukisan digital dengan gaya realis yang hangat dan detail, menangkap keajaiban arsitektur yang diceritakan oleh pengelana Muslim Ibnu Battuta.

Kota yang Megah

Di tengah pengembaraanku menjelajahi dunia, sampailah aku di sebuah kota yang begitu megah, pusat peradaban Islam di tanah India. Namanya Delhi. Demi Allah, kota ini membuat mataku takjub dan hatiku kagum. Tiada bandingannya di negeri-negeri yang pernah kusinggahi.


Benteng Raksasa yang Mengelilingi Kota

Kota ini dikelilingi oleh benteng yang sangat kokoh dan luas. Lebar temboknya mencapai sebelas hasta, sebuah ukuran yang mengagumkan. Di dalam benteng itu, aku melihat ruangan-ruangan yang dihuni oleh para penjaga malam dan pengawal pintu. Ada pula gudang-gudang besar untuk menyimpan bahan makanan yang mereka sebut anbarat, gudang senjata, serta gudang untuk menyimpan manjanik dan alat-alat perang lainnya.

Yang paling membuatku heran, hasil panen yang disimpan di gudang-gudang itu bisa bertahan dalam waktu yang sangat lama tanpa rusak atau terserang hama. Aku sendiri menyaksikan beras yang dikeluarkan dari salah satu gudang tersebut. Warnanya sudah menghitam karena usia, namun rasanya masih enak! Aku juga melihat kudru—sejenis padi-padian—yang dikeluarkan dari gudang yang sama. Penduduk setempat berkata kepadaku bahwa semua itu adalah sisa-sisa penyimpanan dari masa Sultan Balaban, sekitar sembilan puluh tahun yang lalu!

Subhanallah, betapa hebatnya negeri ini.

Di atas benteng yang tebal itu, aku melihat para pasukan berkuda dan prajurit pejalan kaki lalu lalang dengan leluasa, menyusuri kota dari ujung ke ujung. Di sepanjang benteng terdapat jendela-jendela yang terbuka ke arah kota, tempat cahaya matahari masuk menerangi bagian dalam. Bagian bawah benteng dibangun dari batu yang kokoh, sementara bagian atasnya dari bata merah. Menara-menara pengawasnya banyak dan berdekatan satu sama lain, siap siaga menjaga keamanan.


Dua Puluh Delapan Pintu Gerbang

Kota megah ini memiliki dua puluh delapan pintu gerbang. Penduduk setempat menyebutnya darwazah. Setiap pintu memiliki nama dan kisahnya sendiri. Aku berjalan dari satu pintu ke pintu lainnya, mencatat nama-nama itu dalam ingatanku.

Ada Darwazah Bada'un, yang merupakan pintu terbesar. Ada Darwazah al-Mandawi, di dekatnya terdapat lapangan tempat hasil panen dijemur. Darwazah Jul—dengan huruf Jim yang didhammah—menghadap ke kawasan kebun-kebun yang hijau. Darwazah Syah dan Darwazah Balam dinamai menurut nama seseorang dan sebuah desa yang pernah kusebutkan sebelumnya. Ada pula Darwazah Najib dan Darwazah Kamal, keduanya juga nama orang-orang terhormat.

Darwazah Ghaznah dinisbatkan pada kota Ghaznah yang terletak di ujung Khurasan. Di luar pintu ini terdapat tanah lapang untuk salat Id dan beberapa makam. Lalu ada Darwazah al-Bajalsah—dengan fathah pada huruf Ba, Jim, dan Shad. Di luar pintu inilah terbentang pemakaman utama Delhi.


Pemakaman yang Indah dengan Bunga-Bunga Harum

Aku melangkahkan kaki menuju pemakaman Delhi. Sungguh, pemandangan yang tak biasa. Penduduknya membangun kubah-kubah di atas pusara, dan di setiap makam pasti terdapat mihrab, meskipun makam itu tidak berkubah. Mereka menanam pepohonan yang berbunga harum di sekitar makam, seperti melati, raybil, dan mawar. Aroma wangi semerbak memenuhi udara.

Yang paling mengagumkanku, bunga-bunga di sana tak pernah berhenti mekar silih berganti sepanjang musim. Jika satu jenis bunga layu, jenis lainnya akan mekar. Indah sekali.


Masjid Jami' Delhi: Kemegahan dari Batu Putih

Kemudian aku mengunjungi jantung kota, Masjid Jami' Delhi. Masjid ini memiliki lapangan yang sangat luas. Dinding, atap, dan lantainya seluruhnya terbuat dari batu putih yang dipahat dengan indah, lalu disatukan dengan timah hitam yang dilelehkan. Begitu rapat dan kuat, hingga tak ada setitik celah pun. Aku memeriksanya dengan saksama dan kusadari: tidak ada sepotong kayu pun di bangunan masjid ini. Semua dari batu.

Di dalamnya terdapat tiga belas kubah yang juga terbuat dari batu. Mihrabnya pun dari batu yang diukir halus. Masjid ini memiliki empat halaman yang lapang, tempat orang-orang duduk belajar dan bercengkerama.


Tiang Aneh dari Tujuh Logam

Di tengah halaman masjid, mataku tertumbuk pada sebuah tiang raksasa. Aku berdiri lama di bawahnya, penuh takjub. Tak seorang pun tahu dari logam apa tiang itu dibuat. Seorang pejabat setempat—yang ramah padaku—berkata bahwa tiang itu bernama Haft Jausy, yang berarti "tujuh logam". Konon, tiang ini terbuat dari campuran tujuh jenis logam yang berbeda.

Aku mendekat dan mengamatinya. Bagian yang dipoles dari tiang itu, selebar ruas jari, memancarkan kilau yang luar biasa. Aku mencoba menggoresnya dengan sebilah besi yang kubawa, namun tak sedikit pun bekasnya. Besi tak mampu melukainya.

Tingginya mencapai tiga puluh hasta. Aku penasaran, lalu melilitkan sorban milikku mengelilinginya. Ternyata, panjang sorban yang melingkar itu mencapai delapan hasta. Besar sekali.

Di dekat pintu timur masjid, aku melihat dua patung besar yang terbuat dari tembaga. Keduanya tergeletak di tanah dan direkatkan dengan batu. Setiap orang yang masuk atau keluar masjid pasti menginjaknya. Penduduk bercerita padaku bahwa tempat ini dulunya adalah budkhane, yaitu rumah berhala. Ketika Delhi ditaklukkan, bangunan itu diubah menjadi masjid dan berhala-berhala itu direndahkan.


Menara yang Bisa Dilewati Gajah

Di halaman utara masjid, berdiri sebuah menara yang tak ada tandingannya di seluruh negeri Islam. Aku menengadah, leherku hampir sakit memandang tingginya. Menara ini dibangun dari batu merah, berbeda dengan batu putih pada bangunan masjid lainnya. Batu-batu menara itu diukir dengan indah, menjulang tinggi ke angkasa. Puncaknya terbuat dari marmer putih berkilau, dan bagian-bagiannya dihiasi dengan emas murni yang berkilauan di bawah sinar matahari.

Yang paling menakjubkan, lebar lorong di dalam menara itu sedemikian rupa, hingga seekor gajah pun bisa naik ke atasnya! Aku tak percaya, lalu bertanya pada seorang yang kupercaya perkataannya. Ia bersumpah kepadaku bahwa ketika menara ini dibangun, seekor gajah benar-benar digunakan untuk mengangkut batu-batu ke puncak. Bayangkan, gajah itu berjalan memutar di dalam lorong menara sambil membawa beban!

Menara ini dibangun oleh Sultan Mu'izzuddin bin Nashiruddin bin Sultan Ghiyatsuddin Balaban.


Menara Gagal yang Menjadi Keajaiban

Aku mendengar bahwa Sultan Quthbuddin berkeinginan untuk membangun menara serupa di halaman barat, bahkan yang lebih besar lagi. Ia berhasil membangun sepertiganya, namun ajal menjemput sebelum bangunan itu rampung. Kemudian Sultan Muhammad—penguasa setelahnya—berencana menyelesaikannya, tetapi ia mengurungkan niatnya. Konon ia merasa sial, khawatir akan bernasib buruk seperti pendahulunya.

Aku pun menaiki menara yang belum selesai itu. Dari atas sana, aku dapat melihat sebagian besar rumah-rumah di Delhi. Tembok kota yang menjulang tinggi itu tampak rendah dari atas sana, dan orang-orang di bawah terlihat seperti anak-anak kecil. Namun anehnya, jika dilihat dari bawah, menara ini tak terlihat terlalu tinggi. Mengapa? Karena ukuran tubuhnya yang begitu besar dan lebar membuatnya tampak lebih pendek dari sebenarnya.

Sepertiga bangunan yang telah rampung ini saja sudah setinggi menara utara yang utuh. Seandainya selesai, entah setinggi apa jadinya.


Masjid Agung yang Tak Kunjung Rampung

Ambisi membangun tak berhenti di situ. Sultan Quthbuddin juga berencana mendirikan masjid agung di Siri, yang dikenal sebagai Dar al-Khilafah—Pusat Kekhalifahan. Namun, dari seluruh bangunan yang direncanakan, hanya dinding kiblat dan mihrabnya saja yang terselesaikan saat kematian menjemputnya.

Aku mengunjungi reruntuhan itu dan takjub. Bangunannya sangat indah, menggunakan batu putih, hitam, merah, dan hijau yang dipadukan. Jika saja rampung, niscaya tak akan ada masjid yang menandinginya di seluruh penjuru negeri.

Sultan Muhammad—yang memerintah di zamanku—berniat menyelesaikannya. Ia mengutus para mandor bangunan untuk memperkirakan biayanya. Mereka memperkirakan dana yang dibutuhkan mencapai tiga puluh lima lak. Satu lak sama dengan seratus ribu, jadi jumlahnya sangat besar. Sultan pun mengurungkan niatnya karena merasa biayanya terlalu mahal.

Namun seorang kepercayaan sultan berbisik kepadaku, "Sebenarnya bukan karena mahal, Tuan. Sultan merasa sial. Sultan Quthbuddin, pencetus bangunan itu, terbunuh sebelum proyeknya rampung."


Telaga Raksasa Sumber Kehidupan

Di luar kota Delhi, aku berjalan-jalan dan menemukan sebuah telaga buatan yang sangat besar. Penduduk menyebutnya sebagai telaga Sultan Syamsuddin Lalmisy. Dari telaga inilah penduduk kota mengambil air minum. Letaknya dekat dengan tanah lapang tempat salat Id.

Aku mengukur panjangnya dengan langkahku, ternyata mencapai sekitar dua mil. Lebarnya setengah dari panjang itu. Airnya berasal dari tampungan air hujan, jernih dan segar.

Sisi barat telaga, yang berbatasan dengan tanah lapang, dibangun dengan indah dari batu. Di sana dibuat teras-teras bertingkat seperti bangku-bangku panjang, sebagian lebih tinggi dari yang lain. Di bawah setiap teras terdapat anak tangga yang memudahkan orang turun ke air. Di samping setiap teras, dibangun kubah-kubah batu yang berfungsi sebagai tempat pertemuan bagi para pengunjung yang ingin bersantai dan menikmati pemandangan.

Di tengah telaga, berdiri sebuah kubah besar yang juga terbuat dari batu berukir, dibangun dua tingkat. Aku penasaran dan bertanya cara mencapainya. Penduduk menjelaskan, jika air telaga sedang pasang, kubah itu hanya bisa dicapai dengan perahu. Namun jika air surut, orang-orang bisa berjalan kaki memasukinya. Di dalam kubah tersebut terdapat sebuah masjid yang sederhana namun khusyuk.

Aku diberitahu bahwa di sebagian besar waktu, kubah ini dihuni oleh para fakir yang mengasingkan diri, hanya beribadah dan bertawakal kepada Allah. Aku sempat melihat beberapa dari mereka, duduk berzikir dengan tenang.

Ketika air di tepi telaga surut, penduduk memanfaatkan tanah yang subur itu untuk menanam tebu, mentimun, qutsa, serta semangka hijau dan kuning. Aku mencicipi buah semangka itu. Manis rasanya meskipun ukurannya kecil.


Telaga Khusus dan Kota Kesenian

Di antara Delhi dan Dar al-Khilafah (Siri), aku menemukan sebuah telaga lain yang disebut Haudh al-Khash—Telaga Khusus. Ukurannya bahkan lebih besar dari telaga Sultan Syamsuddin. Di tepinya berdiri sekitar empat puluh kubah yang indah.

Di sekitar telaga inilah bermukim para seniman dan penghibur, sehingga kawasan itu dinamakan Tharababad—Kota Kesenian. Aku berjalan-jalan di pasar mereka, dan sungguh ramai. Mereka memiliki pasar sendiri yang sangat ramai, sebuah masjid jami', dan banyak masjid-masjid kecil lainnya.

Sebuah kabar menarik sampai ke telingaku. Para penyanyi wanita yang tinggal di sana, bersama rombongannya, biasa melaksanakan salat Tarawih berjamaah di masjid-masjid itu pada bulan Ramadhan, dengan dipimpin oleh para imam. Jumlah mereka sangat banyak. Demikian pula para penyanyi pria. Mereka semua tetap menjaga kewajiban agama di tengah profesi mereka.

Aku sendiri pernah menyaksikan para seniman ini di pesta pernikahan Amir Saifuddin Ghada bin Muhanna. Masing-masing dari mereka memiliki sajadah sendiri yang diletakkan di bawah lutut. Begitu mendengar azan berkumandang, mereka segera bangkit, berwudhu, dan melaksanakan salat dengan khusyuk. Setelah salat, mereka kembali ke pesta. Menarik sekali melihat keseimbangan dunia dan akhirat dalam diri mereka.


Makam Para Wali yang Penuh Berkah

Tak hanya kemegahan duniawi, Delhi juga menyimpan keberkahan dari para kekasih Allah. Aku sengaja mengunjungi makam-makam mereka untuk mengambil berkah.

Di sana terdapat makam Syekh Quthbuddin Bakhtiyar Al-Ka'ki, seorang wali yang sangat diagungkan. Penduduk berbondong-bondong datang berziarah, dan aku merasakan sendiri aura ketenangan di tempat itu. Ia dijuluki Al-Ka'ki karena kebiasaannya yang mulia. Setiap kali ada orang yang datang kepadanya mengeluhkan hutang, kefakiran, atau kesulitan menikahkan anak perempuan karena tak punya biaya, Syekh Quthbuddin akan memberi setiap orang yang datang itu sekeping roti—ka'kah—dari emas atau perak. Hingga ia pun terkenal dengan panggilan Al-Ka'ki. Semoga Allah merahmatinya.

Di tempat yang sama, terdapat pula makam fakih utama, Nuruddin Al-Kurlami. Aku turut mendoakannya. Dan juga makam fakih 'Alauddin Al-Kirmani, yang dinisbatkan pada negeri Kirman. Makam 'Alauddin ini juga sangat bercahaya dan penuh berkah, terletak di dekat tanah lapang tempat salat Id, menghadap ke arah kiblat.

Di sekitar tempat itu, masih banyak lagi makam para lelaki saleh yang telah banyak memberikan manfaat, dengan izin Allah Ta'ala. Aku berdiri di antara makam-makam itu, merenungkan betapa Allah mengangkat derajat hamba-hamba-Nya yang saleh di mana pun mereka berada.


Sumber Kisah:
Rihlah Ibnu Bathuthah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India

Nizār, Rabī‘ah, Muḍar, dan Lahirnya Quraisy

Tahun Penuh Kenangan: Antara Duka dan Kebahagiaan di Sekitar Rasulullah ﷺ