Kisah Pengkhianatan, Ironi Takdir, dan Siklus Berdarah Perebutan Takhta Delhi

suasana damai di tengah Sungai Gangga yang luas pada masa kejayaan Kesultanan Delhi abad ke-13. Dua perahu kayu tradisional India bertemu perlahan di tengah sungai, diterangi cahaya keemasan matahari senja yang memantul indah di permukaan air. Di atas perahu pertama, seorang ayah berjubah putih sederhana dengan janggut putih terhormat—Sultan Nashiruddin—berdiri dengan tangan terbuka, wajahnya memancarkan kasih sayang dan kerelaan. Di perahu kedua, putranya—Sultan Mu'izzuddin—berpakaian kebesaran berwarna biru tua dengan sorban, berlutut dengan penuh hormat, tangannya meraih kaki ayahnya untuk dicium.

Malam Kematian Sultan dan Konspirasi Licik

Malam itu sunyi menyelimuti istana Delhi. Sultan Ghiyatsuddin Balban menghembuskan napas terakhirnya, meninggalkan takhta yang kosong dan pewaris yang sedang jauh di negeri Lakhnauti. Putranya, Nashiruddin, sedang memerintah di wilayah timur jauh, sementara wasiat Sultan telah menetapkan cucunya —Kay Khusraw, putra dari al-Khan asy-Syahid yang gugur di Multan— sebagai penerus takhta.

Namun takdir berkata lain. Seorang pejabat tinggi bergelar Malik al-Umara' (Penguasa Para Amir), yang menjabat sebagai wakil Sultan Ghiyatsuddin, ternyata menyimpan dendam dan iri kepada Kay Khusraw. Ia merancang tipu daya yang sangat licin.

Dengan cerdik, ia menulis sebuah dokumen baiat palsu. Ia memalsukan tanda tangan para amir besar, seolah-olah mereka telah membaiat Mu'izzuddin —cucu Sultan Balban yang lain, putra dari Nashiruddin— sebagai sultan baru. Setelah dokumen palsu itu siap, ia mendatangi Kay Khusraw dengan berpura-pura menjadi penasihat setia.

"Wahai Tuanku," katanya dengan wajah cemas, "para amir telah membaiat sepupumu, Mu'izzuddin. Aku khawatir keselamatanmu terancam."

Kay Khusraw yang masih muda dan polos terkejut. "Lalu apa yang harus kulakukan?"

"Selamatkan dirimu! Larilah ke negeri Sind," bisik Malik al-Umara'.

"Bagaimana mungkin? Semua pintu istana terkunci rapat," kata Kay Khusraw putus asa.

Dengan nada meyakinkan, Malik al-Umara' berkata, "Kunci-kunci ada di tanganku. Aku akan membukakan pintu untukmu."

Kay Khusraw yang lugu langsung percaya. Ia mencium tangan sang pejabat sebagai tanda terima kasih. Malam itu juga, ia bersama pengawal dan budak-budak kepercayaannya berkuda meninggalkan istana. Malik al-Umara' membukakan pintu, membiarkannya pergi, lalu segera menutup dan menguncinya kembali dari dalam.

Setelah Kay Khusraw lenyap dalam kegelapan malam, Malik al-Umara' segera menghadap Mu'izzuddin. Ia membujuknya untuk menerima baiat. Mu'izzuddin awalnya ragu, "Bagaimana mungkin? Bukankah putra mahkota adalah sepupuku, Kay Khusraw?"

Maka diceritakanlah seluruh tipu daya itu. Bahwa Kay Khusraw telah terusir, bahwa para amir telah siap membaiatnya. Malam itu juga, para amir dan pejabat istana dikumpulkan. Dalam senyap malam, mereka membaiat Mu'izzuddin sebagai Sultan Delhi yang baru.

Keesokan harinya, ketika matahari terbit, seluruh rakyat berbaiat kepadanya. Takhta telah berpindah tangan, tanpa setetes darah pun tertumpah —setidaknya untuk saat itu.


Kemarahan Seorang Ayah di Tanah Jauh

Sementara itu, kabar tentang naiknya Mu'izzuddin ke singgasana Delhi sampai ke telinga ayahnya sendiri, Sultan Nashiruddin, yang sedang memerintah di Banggala dan Lakhnauti. Reaksinya bukanlah kebanggaan, melainkan kemarahan yang membara.

"Aku ini pewaris sah kerajaan!" serunya dengan geram. "Bagaimana mungkin anakku sendiri menjadi sultan dan memerintah secara independen sementara aku masih hidup dan bernapas?"

Maka ia pun mengerahkan seluruh pasukannya dari wilayah timur. Ribuan prajurit berkuda, gajah perang, dan pasukan infanteri bergerak menuju Delhi. Di sisi lain, putranya Sultan Mu'izzuddin juga mengerahkan pasukan ibu kota untuk menghadang ayahnya sendiri.

Dua pasukan besar bergerak mendekat. Ayah dan anak, darah daging yang sama, bersiap saling menghancurkan di medan laga. Keduanya bertemu di kota Kara, sebuah kota di tepi sungai Gangga yang dianggap suci oleh orang-orang Hindu.

Sultan Nashiruddin berkemah di satu sisi sungai. Sultan Mu'izzuddin berkemah di sisi yang berseberangan. Air Gangga yang luas memisahkan mereka, dan kedua pasukan bersiap untuk pertempuran yang akan menumpahkan darah Muslim.


Pertemuan di Tengah Sungai

Namun Allah Subhanahu wa Ta'ala berkehendak lain. Ia ingin darah kaum Muslimin tertahan, tidak tertumpah sia-sia. Maka ditanamkan-Nya dalam hati Sultan Nashiruddin perasaan kasih sayang kepada putranya. Ia berkata dalam hati, "Jika anakku yang menjadi raja, bukankah itu suatu kebanggaan bagiku? Akulah yang lebih pantas meridhai hal ini."

Di saat yang sama, Allah tanamkan dalam hati Sultan Mu'izzuddin perasaan rendah hati dan hormat kepada ayahnya. Maka terjadilah sesuatu yang indah di tengah sungai yang tadinya akan menjadi saksi pertumpahan darah.

Keduanya menaiki perahu masing-masing, meninggalkan pasukan di tepi. Perahu mereka bergerak perlahan menuju tengah sungai. Di situlah mereka bertemu —di atas air Gangga yang mengalir tenang, di bawah langit yang luas.

Saat perahu mereka bersisian, Sultan Mu'izzuddin segera merendahkan diri. Ia memegang kaki ayahnya dan menciumnya dengan penuh hormat. Ia meminta maaf atas segala yang terjadi, meskipun sejatinya ia tidak bersalah.

Sang ayah, Sultan Nashiruddin, terharu melihat kerendahan hati putranya. Dengan suara bergetar ia berkata, "Aku hibahkan kerajaanku kepadamu. Aku membaiatmu sebagai sultan."

Setelah itu ia berniat kembali ke wilayah kekuasaannya. Namun Mu'izzuddin berkata, "Ayah harus ikut ke ibu kota bersamaku."

Maka berangkatlah mereka berdua menuju Delhi. Sesampainya di istana, Sultan Nashiruddin justru mempersilakan putranya duduk di singgasana. Ia sendiri berdiri di hadapannya sebagai seorang ayah yang bangga dan tunduk kepada sultan yang sah.

Peristiwa pertemuan di sungai ini dikenang orang dengan sebutan Liqa' as-Sa'dain —Pertemuan Dua Kebahagiaan. Dinamakan demikian karena di dalamnya terjadi penghentian pertumpahan darah, saling menghadiahkan kerajaan, dan saling mengalah demi menghindari perpecahan.

Para penyair pada masa itu menggubah banyak syair untuk mengabadikan momen agung ini. Sultan Nashiruddin kemudian kembali ke wilayahnya di timur, dan beberapa tahun kemudian wafat di sana dengan tenang. Ia meninggalkan keturunan, di antaranya Ghiyatsuddin Bahadur —yang kelak ditawan oleh Sultan Tughluq dan dibebaskan oleh putranya, Muhammad, setelah kematian Tughluq.


Empat Tahun yang Seperti Hari Raya

Sultan Mu'izzuddin memerintah selama empat tahun setelah peristiwa itu. Orang-orang yang mengalami masa pemerintahannya berkata bahwa empat tahun itu terasa seperti hari raya yang berkelanjutan. Harga-harga bahan pangan murah, rakyat hidup makmur, dan Sultan dikenal sangat dermawan.

Di masanya, ia membangun sebuah menara (shawma'ah) di halaman utara Masjid Raya Delhi. Menara itu sangat indah, dan menurutku tidak ada bandingannya di negeri-negeri lain. Setiap kali aku melihatnya, aku teringat akan kemegahan Islam di negeri India ini.

Namun ada kabar yang sampai kepadaku tentang kebiasaan Sultan Mu'izzuddin. Konon ia terlalu banyak menikah dan meminum minuman keras. Akibatnya, ia terserang penyakit yang membingungkan para dokter. Separuh tubuhnya lumpuh (yubisa ahadu syiqqayhi). Ia menjadi lemah dan tidak mampu memerintah dengan baik.

Kelemahannya ini segera dimanfaatkan oleh orang-orang yang berambisi. Jalaluddin Firuz Syah al-Khalji —dengan huruf "kha" difatah, "lam", dan "jim"— yang menjabat sebagai wakil Sultan (na'ib), mulai bergerak diam-diam.


Pengkhianatan Jalaluddin

Ketika Sultan Mu'izzuddin terbaring lumpuh, Jalaluddin memberontak. Ia keluar dari kota Delhi dan berdiri di sebuah bukit dekat kubah yang dikenal sebagai Kubah al-Jaisyani. Dari sana ia mengumpulkan kekuatan.

Mu'izzuddin mengirim para amir untuk memeranginya. Namun anehnya, setiap amir yang dikirim justru membaiat Jalaluddin dan bergabung dengannya. Satu per satu pasukan Sultan berpaling kepada pemberontak.

Akhirnya Jalaluddin masuk ke kota dan mengepung istana selama tiga hari. Aku mendengar dari seseorang yang menyaksikan sendiri kejadian itu, bahwa Sultan Mu'izzuddin kelaparan di dalam istananya sendiri. Ia tidak mendapatkan makanan. Seorang syarif —tetangganya— mengirimkan makanan secukupnya untuk menghilangkan laparnya.

Namun takdir telah berbicara. Jalaluddin masuk ke dalam istana dan membunuh Sultan Mu'izzuddin. Maka berakhirlah riwayat cucu Balban itu, dan Jalaluddin naik takhta menggantikannya.


Sultan yang Lembut Hati yang Terbunuh Karena Kelembutannya

Jalaluddin adalah sultan yang penyantun dan utama. Namun kelembutan hatinya kelak menjadi penyebab kematiannya —seperti yang akan kuceritakan nanti. Ia memerintah beberapa tahun dan membangun sebuah istana megah yang dikenal dengan namanya.

Istana itulah yang kelak diberikan oleh Sultan Mahmud kepada iparnya, Amir Ghada bin Muhanna, ketika ia menikahkannya dengan saudara perempuannya. Ini akan kuceritakan di bagian lain, insya Allah.

Jalaluddin memiliki seorang putra bernama Ruknuddin, dan seorang keponakan laki-laki bernama Alauddin. Alauddin ini dinikahkan dengan putri Jalaluddin, dan diangkat menjadi penguasa kota Kara dan Manikpur beserta wilayah sekitarnya.

Kara adalah negeri yang sangat subur di India. Banyak gandum, padi, dan gula di sana. Di kota ini dibuat pakaian-pakaian mewah yang diekspor ke Delhi. Jarak antara Kara dan Delhi adalah delapan belas hari perjalanan.


Ambisi yang Tersembunyi di Balik Penderitaan Rumah Tangga

Namun rumah tangga Alauddin tidak bahagia. Istrinya —putri Sultan Jalaluddin sendiri— selalu menyakiti hatinya. Ia terus-menerus mengadu kepada pamannya yang juga mertuanya itu. Hubungan mereka semakin renggang karena masalah rumah tangga ini.

Alauddin adalah pemuda pemberani, gagah perkasa, dan selalu menang dalam setiap pertempuran. Namun ambisi untuk menjadi raja telah lama bersemayam di hatinya. Sayangnya, ia tidak memiliki harta kecuali dari rampasan perang melawan orang-orang kafir.

Suatu hari, ia memimpin pasukan menyerbu negeri Dawatiqir —yang juga disebut negeri Katakah. Negeri ini adalah pusat kekuasaan daerah Malwah dan Marathah, diperintah oleh seorang raja kafir yang sangat besar kekuasaannya. Dialah penguasa terbesar di antara raja-raja kafir di wilayah itu.


Harta Karun di Bawah Batu

Dalam perjalanan menuju Dawatiqir, terjadi sesuatu yang mengubah segalanya. Kuda tunggangan Alauddin tersandung batu hingga hampir jatuh. Dari batu itu terdengar suara seperti tanah liat yang pecah.

Alauddin yang cerdik segera memerintahkan penggalian di tempat itu. Dan sungguh menakjubkan! Mereka menemukan harta karun yang sangat besar terpendam di bawah batu itu. Alauddin tidak serakah. Ia membagi-bagikan harta itu kepada seluruh pasukannya.

Ketika sampai di Dawatiqir, takdir kembali berpihak padanya. Raja kafir di sana tunduk tanpa perlawanan. Ia mengizinkan Alauddin masuk kota dengan damai, bahkan menghadiahinya dengan hadiah-hadiah besar. Alauddin kembali ke kota Kara dengan membawa kekayaan dan kemenangan.

Namun satu kesalahan besar ia lakukan: tidak mengirimkan sebagian harta rampasan itu kepada pamannya, Sultan Jalaluddin di Delhi.


Sungai yang Sama, Pengkhianatan yang Serupa

Orang-orang mulai menghasut Sultan Jalaluddin. Mereka membisikkan bahwa keponakannya itu berkhianat dan merencanakan sesuatu. Jalaluddin memanggil Alauddin untuk datang ke Delhi, namun Alauddin menolak.

Dengan nada penuh kasih, Jalaluddin berkata, "Aku sendiri yang akan menjemputnya. Ia seperti anakku sendiri."

Maka berangkatlah Sultan Jalaluddin dengan seluruh pasukannya. Ia menempuh perjalanan panjang hingga tiba di tepi sungai kota Kara —tepat di tempat yang sama di mana dulu Sultan Mu'izzuddin bertemu ayahnya di tengah sungai Gangga.

Sejarah hendak terulang, namun dengan akhir yang berbeda —dan lebih kejam.

Sultan Jalaluddin menaiki perahu dengan niat damai, ingin merangkul keponakannya dan menyelesaikan masalah. Alauddin juga menaiki perahu, namun hatinya dipenuhi rencana jahat. Sebelum berangkat, ia berbisik kepada para pengawalnya:

"Jika aku sudah memeluknya, bunuh dia!"

Kedua perahu itu bertemu di tengah sungai yang sama. Alauddin merangkul pamannya dengan erat. Saat pelukan itu terjadi, para pengawalnya segera menyerbu dan membunuh Sultan Jalaluddin di atas perahu itu. Darahnya mengalir membasahi air Gangga yang suci —air yang sama yang delapan belas tahun lalu menyaksikan pelukan damai antara ayah dan anak.


Sumber Kisah

رحلة ابن بطوطة (تحفة النظار في غرائب الأمصار وعجائب الأسفار)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nizār, Rabī‘ah, Muḍar, dan Lahirnya Quraisy

Kisah Al-Ifk: Fitnah Keji yang Menimpa Aisyah, Istri Rasulullah

Ismā‘īl dan Jejak Silsilah Arab