Kisah Pengkhianatan, Ironi Takdir, dan Siklus Berdarah Perebutan Takhta Delhi
Malam Kematian Sultan dan Konspirasi Licik
Malam itu sunyi menyelimuti istana Delhi. Sultan
Ghiyatsuddin Balban menghembuskan napas terakhirnya, meninggalkan
takhta yang kosong dan pewaris yang sedang jauh di negeri Lakhnauti.
Putranya, Nashiruddin, sedang memerintah di wilayah timur jauh,
sementara wasiat Sultan telah menetapkan cucunya —Kay Khusraw, putra
dari al-Khan asy-Syahid yang gugur di Multan— sebagai penerus takhta.
Namun takdir berkata lain. Seorang pejabat tinggi
bergelar Malik al-Umara' (Penguasa Para Amir), yang menjabat
sebagai wakil Sultan Ghiyatsuddin, ternyata menyimpan dendam dan iri kepada Kay
Khusraw. Ia merancang tipu daya yang sangat licin.
Dengan cerdik, ia menulis sebuah dokumen baiat palsu. Ia
memalsukan tanda tangan para amir besar, seolah-olah mereka telah
membaiat Mu'izzuddin —cucu Sultan Balban yang lain, putra dari
Nashiruddin— sebagai sultan baru. Setelah dokumen palsu itu siap, ia mendatangi
Kay Khusraw dengan berpura-pura menjadi penasihat setia.
"Wahai Tuanku," katanya dengan wajah cemas,
"para amir telah membaiat sepupumu, Mu'izzuddin. Aku khawatir
keselamatanmu terancam."
Kay Khusraw yang masih muda dan polos terkejut. "Lalu
apa yang harus kulakukan?"
"Selamatkan dirimu! Larilah ke negeri Sind," bisik
Malik al-Umara'.
"Bagaimana mungkin? Semua pintu istana terkunci
rapat," kata Kay Khusraw putus asa.
Dengan nada meyakinkan, Malik al-Umara' berkata,
"Kunci-kunci ada di tanganku. Aku akan membukakan pintu untukmu."
Kay Khusraw yang lugu langsung percaya. Ia mencium tangan
sang pejabat sebagai tanda terima kasih. Malam itu juga, ia bersama pengawal
dan budak-budak kepercayaannya berkuda meninggalkan istana. Malik al-Umara'
membukakan pintu, membiarkannya pergi, lalu segera menutup dan menguncinya
kembali dari dalam.
Setelah Kay Khusraw lenyap dalam kegelapan malam, Malik
al-Umara' segera menghadap Mu'izzuddin. Ia membujuknya untuk menerima baiat.
Mu'izzuddin awalnya ragu, "Bagaimana mungkin? Bukankah putra mahkota
adalah sepupuku, Kay Khusraw?"
Maka diceritakanlah seluruh tipu daya itu. Bahwa Kay Khusraw
telah terusir, bahwa para amir telah siap membaiatnya. Malam itu juga, para
amir dan pejabat istana dikumpulkan. Dalam senyap malam, mereka membaiat
Mu'izzuddin sebagai Sultan Delhi yang baru.
Keesokan harinya, ketika matahari terbit, seluruh rakyat
berbaiat kepadanya. Takhta telah berpindah tangan, tanpa setetes darah pun
tertumpah —setidaknya untuk saat itu.
Kemarahan Seorang Ayah di Tanah Jauh
Sementara itu, kabar tentang naiknya Mu'izzuddin ke
singgasana Delhi sampai ke telinga ayahnya sendiri, Sultan Nashiruddin,
yang sedang memerintah di Banggala dan Lakhnauti. Reaksinya bukanlah
kebanggaan, melainkan kemarahan yang membara.
"Aku ini pewaris sah kerajaan!" serunya dengan
geram. "Bagaimana mungkin anakku sendiri menjadi sultan dan memerintah
secara independen sementara aku masih hidup dan bernapas?"
Maka ia pun mengerahkan seluruh pasukannya dari wilayah
timur. Ribuan prajurit berkuda, gajah perang, dan pasukan infanteri bergerak
menuju Delhi. Di sisi lain, putranya Sultan Mu'izzuddin juga mengerahkan
pasukan ibu kota untuk menghadang ayahnya sendiri.
Dua pasukan besar bergerak mendekat. Ayah dan anak, darah
daging yang sama, bersiap saling menghancurkan di medan laga. Keduanya bertemu
di kota Kara, sebuah kota di tepi sungai Gangga yang
dianggap suci oleh orang-orang Hindu.
Sultan Nashiruddin berkemah di satu sisi sungai. Sultan
Mu'izzuddin berkemah di sisi yang berseberangan. Air Gangga yang luas
memisahkan mereka, dan kedua pasukan bersiap untuk pertempuran yang akan
menumpahkan darah Muslim.
Pertemuan di Tengah Sungai
Namun Allah Subhanahu wa Ta'ala berkehendak lain. Ia ingin
darah kaum Muslimin tertahan, tidak tertumpah sia-sia. Maka ditanamkan-Nya
dalam hati Sultan Nashiruddin perasaan kasih sayang kepada putranya. Ia berkata
dalam hati, "Jika anakku yang menjadi raja, bukankah itu suatu kebanggaan
bagiku? Akulah yang lebih pantas meridhai hal ini."
Di saat yang sama, Allah tanamkan dalam hati Sultan
Mu'izzuddin perasaan rendah hati dan hormat kepada ayahnya. Maka terjadilah
sesuatu yang indah di tengah sungai yang tadinya akan menjadi saksi pertumpahan
darah.
Keduanya menaiki perahu masing-masing, meninggalkan pasukan
di tepi. Perahu mereka bergerak perlahan menuju tengah sungai. Di situlah
mereka bertemu —di atas air Gangga yang mengalir tenang, di bawah langit yang
luas.
Saat perahu mereka bersisian, Sultan Mu'izzuddin segera
merendahkan diri. Ia memegang kaki ayahnya dan menciumnya dengan penuh hormat.
Ia meminta maaf atas segala yang terjadi, meskipun sejatinya ia tidak bersalah.
Sang ayah, Sultan Nashiruddin, terharu melihat kerendahan
hati putranya. Dengan suara bergetar ia berkata, "Aku hibahkan kerajaanku
kepadamu. Aku membaiatmu sebagai sultan."
Setelah itu ia berniat kembali ke wilayah kekuasaannya.
Namun Mu'izzuddin berkata, "Ayah harus ikut ke ibu kota bersamaku."
Maka berangkatlah mereka berdua menuju Delhi. Sesampainya di
istana, Sultan Nashiruddin justru mempersilakan putranya duduk di singgasana.
Ia sendiri berdiri di hadapannya sebagai seorang ayah yang bangga dan tunduk
kepada sultan yang sah.
Peristiwa pertemuan di sungai ini dikenang orang dengan
sebutan Liqa' as-Sa'dain —Pertemuan Dua Kebahagiaan.
Dinamakan demikian karena di dalamnya terjadi penghentian pertumpahan darah,
saling menghadiahkan kerajaan, dan saling mengalah demi menghindari perpecahan.
Para penyair pada masa itu menggubah banyak syair untuk
mengabadikan momen agung ini. Sultan Nashiruddin kemudian kembali ke wilayahnya
di timur, dan beberapa tahun kemudian wafat di sana dengan tenang. Ia
meninggalkan keturunan, di antaranya Ghiyatsuddin Bahadur —yang
kelak ditawan oleh Sultan Tughluq dan dibebaskan oleh putranya, Muhammad,
setelah kematian Tughluq.
Empat Tahun yang Seperti Hari Raya
Sultan Mu'izzuddin memerintah selama empat tahun setelah
peristiwa itu. Orang-orang yang mengalami masa pemerintahannya berkata bahwa
empat tahun itu terasa seperti hari raya yang berkelanjutan. Harga-harga bahan
pangan murah, rakyat hidup makmur, dan Sultan dikenal sangat dermawan.
Di masanya, ia membangun sebuah menara (shawma'ah) di
halaman utara Masjid Raya Delhi. Menara itu sangat indah, dan menurutku tidak
ada bandingannya di negeri-negeri lain. Setiap kali aku melihatnya, aku
teringat akan kemegahan Islam di negeri India ini.
Namun ada kabar yang sampai kepadaku tentang kebiasaan
Sultan Mu'izzuddin. Konon ia terlalu banyak menikah dan meminum minuman keras.
Akibatnya, ia terserang penyakit yang membingungkan para dokter. Separuh
tubuhnya lumpuh (yubisa ahadu syiqqayhi). Ia menjadi lemah dan tidak
mampu memerintah dengan baik.
Kelemahannya ini segera dimanfaatkan oleh orang-orang yang
berambisi. Jalaluddin Firuz Syah al-Khalji —dengan huruf
"kha" difatah, "lam", dan "jim"— yang menjabat
sebagai wakil Sultan (na'ib), mulai bergerak diam-diam.
Pengkhianatan Jalaluddin
Ketika Sultan Mu'izzuddin terbaring lumpuh, Jalaluddin
memberontak. Ia keluar dari kota Delhi dan berdiri di sebuah bukit dekat kubah
yang dikenal sebagai Kubah al-Jaisyani. Dari sana ia mengumpulkan
kekuatan.
Mu'izzuddin mengirim para amir untuk memeranginya. Namun
anehnya, setiap amir yang dikirim justru membaiat Jalaluddin dan bergabung
dengannya. Satu per satu pasukan Sultan berpaling kepada pemberontak.
Akhirnya Jalaluddin masuk ke kota dan mengepung istana
selama tiga hari. Aku mendengar dari seseorang yang menyaksikan sendiri
kejadian itu, bahwa Sultan Mu'izzuddin kelaparan di dalam istananya sendiri. Ia
tidak mendapatkan makanan. Seorang syarif —tetangganya— mengirimkan makanan
secukupnya untuk menghilangkan laparnya.
Namun takdir telah berbicara. Jalaluddin masuk ke dalam
istana dan membunuh Sultan Mu'izzuddin. Maka berakhirlah riwayat cucu Balban
itu, dan Jalaluddin naik takhta menggantikannya.
Sultan yang Lembut Hati yang Terbunuh Karena
Kelembutannya
Jalaluddin adalah sultan yang penyantun dan utama. Namun
kelembutan hatinya kelak menjadi penyebab kematiannya —seperti yang akan
kuceritakan nanti. Ia memerintah beberapa tahun dan membangun sebuah istana
megah yang dikenal dengan namanya.
Istana itulah yang kelak diberikan oleh Sultan Mahmud kepada
iparnya, Amir Ghada bin Muhanna, ketika ia menikahkannya dengan saudara
perempuannya. Ini akan kuceritakan di bagian lain, insya Allah.
Jalaluddin memiliki seorang putra bernama Ruknuddin,
dan seorang keponakan laki-laki bernama Alauddin. Alauddin ini
dinikahkan dengan putri Jalaluddin, dan diangkat menjadi penguasa kota Kara dan
Manikpur beserta wilayah sekitarnya.
Kara adalah negeri yang sangat subur di India. Banyak
gandum, padi, dan gula di sana. Di kota ini dibuat pakaian-pakaian mewah yang
diekspor ke Delhi. Jarak antara Kara dan Delhi adalah delapan belas hari
perjalanan.
Ambisi yang Tersembunyi di Balik Penderitaan Rumah Tangga
Namun rumah tangga Alauddin tidak bahagia. Istrinya —putri
Sultan Jalaluddin sendiri— selalu menyakiti hatinya. Ia terus-menerus mengadu
kepada pamannya yang juga mertuanya itu. Hubungan mereka semakin renggang
karena masalah rumah tangga ini.
Alauddin adalah pemuda pemberani, gagah perkasa, dan selalu
menang dalam setiap pertempuran. Namun ambisi untuk menjadi raja telah lama
bersemayam di hatinya. Sayangnya, ia tidak memiliki harta kecuali dari rampasan
perang melawan orang-orang kafir.
Suatu hari, ia memimpin pasukan menyerbu negeri Dawatiqir —yang
juga disebut negeri Katakah. Negeri ini adalah pusat kekuasaan
daerah Malwah dan Marathah, diperintah oleh
seorang raja kafir yang sangat besar kekuasaannya. Dialah penguasa terbesar di
antara raja-raja kafir di wilayah itu.
Harta Karun di Bawah Batu
Dalam perjalanan menuju Dawatiqir, terjadi sesuatu yang
mengubah segalanya. Kuda tunggangan Alauddin tersandung batu hingga hampir
jatuh. Dari batu itu terdengar suara seperti tanah liat yang pecah.
Alauddin yang cerdik segera memerintahkan penggalian di
tempat itu. Dan sungguh menakjubkan! Mereka menemukan harta karun yang sangat
besar terpendam di bawah batu itu. Alauddin tidak serakah. Ia membagi-bagikan
harta itu kepada seluruh pasukannya.
Ketika sampai di Dawatiqir, takdir kembali berpihak padanya.
Raja kafir di sana tunduk tanpa perlawanan. Ia mengizinkan Alauddin masuk kota
dengan damai, bahkan menghadiahinya dengan hadiah-hadiah besar. Alauddin
kembali ke kota Kara dengan membawa kekayaan dan kemenangan.
Namun satu kesalahan besar ia lakukan: tidak
mengirimkan sebagian harta rampasan itu kepada pamannya, Sultan Jalaluddin di
Delhi.
Sungai yang Sama, Pengkhianatan yang Serupa
Orang-orang mulai menghasut Sultan Jalaluddin. Mereka
membisikkan bahwa keponakannya itu berkhianat dan merencanakan sesuatu.
Jalaluddin memanggil Alauddin untuk datang ke Delhi, namun Alauddin menolak.
Dengan nada penuh kasih, Jalaluddin berkata, "Aku
sendiri yang akan menjemputnya. Ia seperti anakku sendiri."
Maka berangkatlah Sultan Jalaluddin dengan seluruh
pasukannya. Ia menempuh perjalanan panjang hingga tiba di tepi sungai kota Kara
—tepat di tempat yang sama di mana dulu Sultan Mu'izzuddin bertemu ayahnya di
tengah sungai Gangga.
Sejarah hendak terulang, namun dengan akhir yang berbeda
—dan lebih kejam.
Sultan Jalaluddin menaiki perahu dengan niat damai, ingin
merangkul keponakannya dan menyelesaikan masalah. Alauddin juga menaiki perahu,
namun hatinya dipenuhi rencana jahat. Sebelum berangkat, ia berbisik kepada
para pengawalnya:
"Jika aku sudah memeluknya, bunuh dia!"
Kedua perahu itu bertemu di tengah sungai yang sama.
Alauddin merangkul pamannya dengan erat. Saat pelukan itu terjadi, para
pengawalnya segera menyerbu dan membunuh Sultan Jalaluddin di atas perahu itu.
Darahnya mengalir membasahi air Gangga yang suci —air yang sama yang delapan
belas tahun lalu menyaksikan pelukan damai antara ayah dan anak.
Sumber Kisah
رحلة
ابن بطوطة (تحفة
النظار في غرائب الأمصار وعجائب الأسفار)

Komentar
Posting Komentar