Ketika Perjanjian Dikhianati: Sikap Tegas Rasulullah Menghadapi Yahudi
Awal Mula: Perjanjian yang Terus Dilanggar
Saat pertama kali tiba di Madinah, Rasulullah ﷺ
menyambut penduduk Yahudi dengan tangan terbuka. Beliau mengadakan perjanjian
damai, menuliskan kesepakatan bersama yang menjamin kebebasan beragama bagi
mereka, dengan satu syarat: tidak berkhianat dan tidak bersekutu dengan
musuh Islam.
Namun tabiat buruk telah mendarah daging dalam diri sebagian
mereka. Mereka membalas kebaikan dengan keburukan, menyambut dakwah Islam
dengan tipu daya, dan tidak henti-hentinya melancarkan makar. Mereka pernah
berupaya membunuh Rasulullah ﷺ
saat beliau berada di perkampungan mereka, namun Allah menjaga kekasih-Nya.
Mereka juga terus-menerus berusaha merusak hubungan persaudaraan yang telah
terjalin erat antara suku Aus dan Khazraj—dua suku besar yang dulu berseteru
panjang sebelum Islam menyatukan hati mereka.
Begitulah kehidupan mereka di Madinah. Rangkaian panjang
pengkhianatan, makar, dan adu domba. Hingga akhirnya, Rasulullah ﷺ
mengambil sikap tegas. Mereka yang pantas dihukum mendapat ganjarannya, dan
mereka yang terus berbuat kerusakan diusir dari kota Madinah. Memasuki tahun
ketujuh Hijriah, kekuasaan mereka di Jazirah Arab telah runtuh. Tak tersisa
lagi pengaruh berarti.
Upaya Membangkitkan Kembali Dendam Lama
Api Permusuhan yang Hampir Menyala
Suatu hari, seorang tokoh Yahudi tua yang penuh kebencian
bernama Syaas bin Qais melewati sekelompok sahabat dari suku
Aus dan Khazraj yang sedang duduk bersama dalam suasana penuh keakraban.
Pemandangan itu sangat menyakitkan hatinya. Di masa jahiliah, kedua suku ini
adalah musuh bebuyutan yang sering bertumpah darah. Kini, karena Islam, mereka
duduk bersaudara.
Syaas pun berbisik kepada seorang pemuda Yahudi yang ikut
bersamanya:
“Bangkitkan kenangan mereka tentang Perang Bu’ats! Ingatkan mereka tentang
syair-syair yang dulu mereka saling lontarkan!”
Pemuda itu pun melakukan perintahnya. Ia mulai menceritakan
kembali kisah perang besar terakhir antara Aus dan Khazraj—Perang Bu’ats—di
mana kedua belah pihak saling membunuh dengan sengit. Udara yang tadinya damai
tiba-tiba berubah panas. Kenangan lama tersulut kembali.
“Jika kalian mau,” ujar salah seorang dari mereka dengan
nada menantang, “kita bisa ulangi perang itu sekarang juga!”
Kedua kelompok pun bangkit dalam kemarahan. Seruan “Angkat
senjata! Angkat senjata!” mulai terdengar. Mereka sepakat untuk bertempur di
daerah al-Harrah.
Kabar ini segera sampai kepada Rasulullah ﷺ. Beliau pun segera
menuju ke tempat kejadian bersama sejumlah sahabat dari kalangan Muhajirin.
Kedamaian yang Dipulihkan oleh Kalimat Pencerahan
Tiba di tengah kerumunan yang hampir bertikai, Rasulullah ﷺ
berdiri dan bersabda dengan suara yang meneduhkan:
“يَا
مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَأَنَا بَيْنَ
أَظْهُرِكُمْ، بَعْدَ إِذْ أَكْرَمَكُمُ اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ، وَقَطَعَ بِهِ
عَنْكُمْ أَمْرَ الْجَاهِلِيَّةِ، وَأَلَّفَ بَيْنَكُمْ، تَرْجِعُونَ إِلَى مَا
كُنْتُمْ عَلَيْهِ كُفَّارًا؟! اللَّهَ اللَّهَ”
Artinya: “Wahai kaum muslimin, apakah seruan jahiliah (masih terdengar)
sementara aku ada di tengah-tengah kalian, setelah Allah memuliakan kalian
dengan Islam, memutuskan dari kalian urusan jahiliah, dan mempersatukan hati
kalian? Apakah kalian hendak kembali kepada kekafiran seperti dulu? Ingatlah
Allah, ingatlah Allah!”
Kalimat itu bagaikan guyuran air dingin di tengah kobaran
api. Mereka tersadar bahwa apa yang terjadi hanyalah hasutan setan dan tipu
daya musuh. Mereka menangis, melemparkan senjata, lalu saling berpelukan.
Bersama Rasulullah ﷺ,
mereka kembali dengan hati yang penuh kepatuhan.
Tentang peristiwa inilah Allah menurunkan firman-Nya:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تُطِيعُوا فَرِيقًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا
الْكِتَابَ يَرُدُّوكُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ . وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ
وَأَنتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۚ وَمَن
يَعْتَصِم بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu
menaati sebagian dari orang-orang yang diberi Kitab, niscaya mereka akan
mengembalikan kamu menjadi orang kafir setelah kamu beriman. Bagaimana mungkin
kamu menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepadamu, dan Rasul-Nya
pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa berpegang teguh kepada Allah,
maka sungguh, dia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus.”
*(QS. Ali ‘Imran: 100-101)*
Perdebatan dan Kebohongan Kaum Yahudi
“Allah Itu Fakir, Kami Kaya!”
Tidak hanya adu domba, kaum Yahudi juga melancarkan perang
pemikiran. Mereka bersembunyi di balik kebohongan dan kedustaan terhadap Allah
dan para rasul.
Suatu hari, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu
‘anhu—sosok yang dikenal sangat penyabar dan berwibawa—masuk ke sebuah tempat
peribadatan Yahudi (al-Midras). Di sana ia melihat sekelompok tokoh Yahudi
sedang berkumpul mengelilingi seorang pendeta bernama Finhash bin
‘Azura.
Abu Bakar pun menasihatinya:
“Celaka engkau, wahai Finhash! Bertakwalah kepada Allah dan masuklah Islam.
Demi Allah, sungguh engkau tahu bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ia datang
membawa kebenaran dari sisi-Nya, yang kalian dapati tertulis dalam Taurat dan
Injil milikmu.”
Finhash menjawab dengan sombong:
“Demi Allah, wahai Abu Bakar, kami tidak butuh kepada Allah. Justru Allah lah
yang butuh kepada kami, dan kami kaya terhadap-Nya! Seandainya Dia itu kaya,
tentu tidak perlu meminjam dari kami seperti yang dikatakan oleh teman kalian!”
Ia mengolok-olok firman Allah yang berbunyi: “Siapakah
yang mau memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik?”
Seketika itu juga, kesabaran Abu Bakar—yang terkenal sebagai
Al-Awwah (sang penyantun)—meledak. Ia menampar wajah Finhash dengan keras
seraya berkata:
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya bukan karena perjanjian
antara kami dan kalian, niscaya akan kupenggal lehermu, wahai musuh Allah!”
Finhash yang marah segera mengadu kepada Rasulullah ﷺ.
Ketika beliau bertanya kepada Abu Bakar tentang apa yang melatarbelakanginya,
Abu Bakar menceritakan ucapan Finhash yang berani terhadap Allah. Namun Finhash
mengingkarinya.
Maka turunlah ayat Allah sebagai pembelaan atas
kehormatan-Nya:
لَقَدْ
سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ
أَغْنِيَاءُ ۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ الْأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ
وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ
Artinya: “Sungguh, Allah telah mendengar perkataan
orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami kaya.’
Kami akan mencatat perkataan mereka dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi
tanpa hak (alasan yang benar), dan Kami akan mengatakan (kepada mereka),
‘Rasakanlah azab kebakaran (neraka)!’”
(QS. Ali ‘Imran: 181)
Kedustaan Lain: Pengingkaran terhadap Kitab Suci
Tidak hanya itu, mereka juga mengaku bahwa Allah telah
mengambil perjanjian dari mereka untuk tidak beriman kepada seorang rasul,
kecuali jika rasul itu mendatangkan kurban yang dimakan api dari langit. Allah
membantah klaim ini dengan firman-Nya:
الَّذِينَ
قَالُوا إِنَّ اللَّهَ عَهِدَ إِلَيْنَا أَلَّا نُؤْمِنَ لِرَسُولٍ حَتَّىٰ
يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُ ۗ قُلْ قَدْ جَاءَكُمْ رُسُلٌ مِّن
قَبْلِي بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالَّذِي قُلْتُمْ فَلِمَ قَتَلْتُمُوهُمْ إِن كُنتُمْ
صَادِقِينَ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya
Allah telah memerintahkan kepada kami agar kami tidak beriman kepada seorang
rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami kurban yang dimakan api.’
Katakanlah (Muhammad), ‘Sungguh, telah datang kepadamu rasul-rasul sebelumku
dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan apa yang kamu katakan itu. Maka
mengapa kamu membunuh mereka, jika kamu orang-orang yang benar?’”
(QS. Ali ‘Imran: 183)
Suatu ketika, Malik bin ash-Shaif, seorang
pendeta Yahudi yang gemuk, datang untuk berdebat dengan Rasulullah ﷺ.
Beliau bertanya kepadanya:
“أَنْشُدُكَ
بِاللَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ التَّوْرَاةَ عَلَى مُوسَى، أَمَا تَجِدُ فِي
التَّوْرَاةِ أَنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ الْحَبْرَ السَّمِينَ”
Artinya: “Aku bersumpah kepadamu demi Allah yang menurunkan Taurat kepada
Musa, apakah engkau tidak mendapati dalam Taurat bahwa Allah membenci pendeta
yang gemuk?”
Malik pun marah dan dengan gegabah berkata: “Allah
tidak menurunkan sesuatu apa pun kepada manusia.”
Setelah kejadian itu, para sahabatnya menegurnya. Ia
menjawab, “Kemarahanku kepada Muhammad membuatku berkata demikian.”
Maka Allah menurunkan ayat:
وَمَا
قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ بَشَرٍ
مِّن شَيْءٍ ۗ قُلْ مَنْ أَنزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَىٰ نُورًا
وَهُدًى لِّلنَّاسِ ۖ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا
ۖ وَعُلِّمْتُم مَّا لَمْ تَعْلَمُوا أَنتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ
ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ
Artinya: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan
pengagungan yang semestinya ketika mereka berkata, ‘Allah tidak menurunkan
sesuatu apa pun kepada manusia.’ Katakanlah, ‘Siapakah yang menurunkan Kitab
(Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, yang kamu
jadikan sebagai lembaran-lembaran kertas yang diperlihatkan (sebagian) dan
banyak (yang) kamu sembunyikan, dan kamu diajari apa yang tidak diketahui, baik
kamu maupun nenek moyangmu?’ Katakanlah, ‘Allah-lah (yang menurunkannya).’
Kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.”
*(QS. Al-An’am: 91)*
Mengapa Mereka Ingkar? Padahal Dulu Mereka Tahu
Sebelum kedatangan Rasulullah ﷺ, orang-orang Yahudi sering berkata kepada
suku Aus dan Khazraj:
“Akan segera tiba masa seorang nabi di akhir zaman. Kami akan mengikutinya dan
membunuh kalian bersamanya seperti pembunuhan terhadap kaum ‘Ad dan Iram.”
Namun ketika nabi yang mereka nanti-nantikan itu—seorang
Arab yang membawa mukjizat dan wahyu—benar-benar datang, mereka justru
mengingkarinya. Allah berfirman:
وَلَمَّا
جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِن
قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُم مَّا عَرَفُوا
كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ . وَلَمَّا جَاءَهُمْ
رَسُولٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِّنَ
الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ
لَا يَعْلَمُونَ
Artinya: “Dan setelah sampai kepada mereka sebuah Kitab
(Al-Qur’an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal
sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah
sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka mengingkarinya. Maka
laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar. Dan setelah sampai kepada mereka
seorang Rasul dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, sebagian
dari orang-orang yang diberi Kitab melemparkan Kitab Allah ke belakang punggung
mereka, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah).”
*(QS. Al-Baqarah: 89, 101)*
Demikianlah perang pemikiran yang terjadi. Kaum Yahudi terus
mengajukan perdebatan seputar arah kiblat, keutamaan Masjidil Haram versus
Masjidil Aqsha, siapa nabi yang disembelih (Ismail atau Ishak), serta hukum
rajam bagi pezina. Namun dalam setiap perdebatan, Allah selalu membela
kebenaran Islam dan menampakkan kehinaan kaum yang ingkar.
Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah

Komentar
Posting Komentar