Jejak “Anak-Anak Kush” di Persimpangan Afrika dan Arabia

pemandangan luas Laut Merah dilihat dari ketinggian, dengan dua garis pantai yang jelas — di kiri pesisir Arabia (Yaman, Hijaz), di kanan pesisir Afrika (Habasyah/Nubia). Di sisi Arab tampak pegunungan batu dan padang pasir dengan kota-kota kuno kecil: satu kota bertulis kaligrafi halus “سَبَأ”, lainnya bertanda “دَدَان”. Di sisi Afrika tampak dataran berbukit hijau-kecoklatan dengan perkampungan batu sederhana melambangkan Kush. Di permukaan laut tampak beberapa kapal dagang kayu kuno berlayar di antara dua benua, dan di daratan terlihat kafilah unta menyusuri jalur perdagangan. Di langit, samar-samar tampak peta garis besar wilayah dengan nama‑nama kaligrafi bercahaya lembut: “كوش”, “سَبَأ”, “رَعْمَة”, “حَوِيلَة”, menghubungkan Afrika dan Arabia seperti jaringan nasab.

Di dalam tabel-tabel silsilah dalam Kitab Kejadian, ada satu ruas yang sering memunculkan perdebatan di kalangan ahli kitab suci: “anak-anak Kush”. Taurat menyebut bahwa dari Kush, putra Ham, lahir beberapa nama: Seba, Hawilah, Sabtah, Ra‘mah, Sabteka. Sekilas, ini tampak seperti daftar biasa. Namun, ketika para peneliti mulai mencocokkan nama-nama itu dengan geografi nyata, gambaran menjadi jauh lebih rumit – dan menarik.

Kush: Antara Afrika dan Arabia

Secara klasik, Kush dalam Taurat dipahami sebagai wilayah yang meliputi Ethiopia dan Nubia, yakni dataran di sebelah selatan Mesir yang dihuni bangsa-bangsa berkulit hitam. Karena itu, frasa “anak-anak Kush” secara spontan dipahami sebagai suku-suku Afrika.

Namun nama-nama yang muncul sebagai anak-anak Kush justru bergaung kuat di Jazirah Arab. Seba (Saba’), Hawilah, Sabtah, Ra‘mah, Sabteka – hampir semuanya punya bayangan di peta Arabia: di Yaman, Hadramaut, Hijaz, hingga ke wilayah di sekitar Teluk Persia.

Dari sini muncullah dua arah penafsiran:

  • Satu kelompok mengatakan: ini menunjukkan bahwa sebagian kabilah Arab dulunya telah bermigrasi ke pantai Afrika, menetap di sana, dan pada akhirnya dinisbatkan ke wilayah Kush, sehingga dicatat sebagai “anak-anak Kush” dalam Taurat.
  • Kelompok lain mengatakan: “anak-anak Kush” yang dimaksud di sini bukan bangsa Afrika, tetapi kelompok Arab yang hidup di kawasan tertentu di jazirah, yang oleh penulis Ibrani juga disebut “Kush”.

Kedua tafsir ini sama-sama menampilkan satu gambaran: jalur migrasi kuno yang menghubungkan Arabia dengan Afrika, di mana suku-suku dari Yaman dan Arabia Selatan menyeberangi Laut Merah, membangun koloni di pantai seberang, dan dalam benak penulis Ibrani, melebur menjadi bagian dari dunia “Kush”.

Saba’ di Dua Benua

Nama Seba/Saba’ adalah yang paling terang benderang. Dalam tradisi Arab dan prasasti Arabia Selatan, Saba’ adalah nama sebuah kerajaan besar di Yaman, yang kekuasaannya meluas hingga ke dataran tinggi, bahkan di berbagai masa menyentuh wilayah utara Hijaz dan jalur menuju Syam.

Jika Taurat menyebut Saba’ sebagai anak Kush, maka ada dua kemungkinan:

  • Penulis Taurat melihat koloni Saba’ di Afrika (di wilayah yang kini dikenal sebagai Etiopia dan Eritrea), dan menisbatkannya ke Kush karena secara geopolitik sudah berada di benua Afrika.
  • Atau, penulis Taurat memotret Saba’ Arabia Selatan, tetapi memasukkannya ke dalam kelompok Kush karena dari sudut pandang mereka, wilayah-wilayah di selatan Laut Merah itu termasuk dunia Kush yang luas.

Menariknya lagi, nama Saba’ dalam Taurat kadang ditulis dengan huruf “syin” (ש), yang secara fonetik dekat dengan “Shēba”, dan kadang dengan “sin” (ס), lebih dekat ke “Seba”. Penulis teks kita menduga kemungkinan besar ini bukan dua bangsa berbeda, tetapi variasi penulisan satu nama: sekali mengikuti lafal Ibrani, sekali mengikuti cara orang Arab mengucapkannya. Akibatnya, kita melihat Saba’ muncul di beberapa tempat:

  • Satu kali sebagai anak Kush (dengan “sin”),
  • Satu kali sebagai anak Ra‘mah dan saudara Dedan,
  • Dan sekali lagi sebagai keturunan Yaqtan (Joktan), yang secara tradisi dihubungkan dengan leluhur bangsa-bangsa Arabia Selatan.

Di sini, nama Saba’ bagaikan jembatan yang menghubungkan tiga dunia: dunia Kush Afrika, dunia Yaqtaniyyīn di Arabia Selatan, dan dunia jaringan dagang yang menghubungkan Yaman dengan Syam melalui Hijaz.

Ra‘mah: Nama Leluhur atau Nama Persekutuan?

Nama Ra‘mah disebut sebagai salah satu anak Kush, dan sebagai ayah Sheba dan Dedan. Sekilas, ini tampak sebagai satu sosok personal. Namun ketika para peneliti memetakan nama-nama itu di peta, mereka menemukan kemungkinan lain: Ra‘mah boleh jadi adalah nama suatu wilayah atau persekutuan kabilah.

Dedan hampir pasti berhubungan dengan wilayah al‑‘Ulā di Hijaz utara, yang dalam prasasti dan sumber-sumber klasik dikenal sebagai Dēdān atau Daidān. Sheba di sini sangat mungkin menunjuk pada satu kelompok Saba’ yang berdiam lebih ke utara, di sepanjang rute niaga antara Yaman dan Syam. Lalu di mana Ra‘mah?

Ptolemaios menyebut suatu daerah bernama Regma di pesisir Teluk Persia. Strabo menulis tentang sekelompok orang bernama Rammanitae. Prasasti Arab Selatan mencatat nama tempat yang mirip: Rakmat, Rukmat, Rajmat. Semua ini mengisyaratkan adanya sabuk wilayah di timur dan tenggara Arabia yang mungkin pernah dihuni oleh persekutuan suku-suku tertentu, yang oleh penulis Ibrani disatukan di bawah nama Ra‘mah.

Penulis teks kita bahkan berani mengajukan gambaran: mungkin Ra‘mah bukan sekadar seorang “leluhur”, tetapi nama persekutuan (ḥilf) antara beberapa kelompok Saba’ utara, Dedan, dan kabilah lain pada masanya. Karena itu, ia pun dijadikan “ayah” Sheba dan Dedan dalam daftar nasab, sekadar cara simbolik untuk menandai bahwa mereka berasal dari satu rumpun persekutuan.

Sabtah dan Sabteka: Jejak yang Samar di Peta Arabia

Dua nama lain, Sabtah dan Sabteka, jauh lebih samar. Kedua nama ini muncul sebagai anak Kush, tetapi kita hampir tidak punya informasi tambahan tentangnya. Para peneliti mencoba menebak:

  • Ada yang mengaitkan Sabtah dengan suku atau kota di sekitar Syabwa, ibu kota Hadramaut kuno, berdasarkan kemiripan bunyi antara “Sabota” (dalam sumber Yunani) dan Sabtah.
  • Sebagian lain mengarahkan pandangan ke wilayah Yamāmah, di bagian tengah jazirah, sebagai lokasi Sabtah atau Sabteka.
  • Ada juga yang menganggap Sabteka hanya bentuk lain dari Sabtah, akibat salah salin atau perubahan bunyi.

Apa pun yang benar, yang jelas nama-nama ini memperkuat kesan bahwa bagi penulis Taurat, batas antara Afrika dan Arabia tidaklah tajam seperti di peta modern. Di benak mereka, dunia Kush, Saba’, dan Arabia Selatan saling bersinggungan, dihubungkan oleh laut sempit dan jaringan dagang yang hidup.


Mengapa Penting bagi Sejarah Arab?

Bagi sebagian pembaca modern, detail-detail seperti ini tampak sebagai rincian teknis semata. Namun bagi peneliti sejarah Arab dan perkembangan konsep “Arab” itu sendiri, ia punya beberapa makna penting.

Pertama, ia menunjukkan bahwa bangsa Ibrani sudah sejak lama menyadari keberadaan dan peran bangsa-bangsa Arabia: Saba’, Dedan, kabilah-kabilah di Sinai, bahkan koloni-koloni Arab di Afrika. Nama-nama ini muncul dalam konteks perdagangan, perang, dan jaringan politik.

Kedua, ia menandai bahwa migrasi dari Arabia ke Afrika dan sebaliknya bukan hal yang dimulai di masa Islam, melainkan sudah berlangsung jauh sebelumnya. Kerajaan-kerajaan di Afrika Timur seperti Aksum, misalnya, punya lapisan Arab Selatan yang kental, dan Saba’ disebut di kedua sisi Laut Merah.

Ketiga, ia membantu kita memahami mengapa sebagian ahli nasab dan ahli sejarah Muslim kemudian merasa perlu mengaitkan kabilah-kabilah Arab dengan figur-figur dalam Taurat. Ketika Al‑Qur’an menyebut nama-nama seperti Ibrāhīm, Ismā‘īl, Madyan, atau Saba’, sementara Taurat menyodorkan daftar nama seperti Kush, Saba, Dedan, Ra‘mah, para ulama merasa ada jembatan yang bisa dibangun: jembatan antara silsilah kitab suci dan realitas kabilah Arab di lapangan.

Di sinilah nama-nama seperti Saba, Dedan, Hawilah, Ra‘mah, Sabtah, Sabteka tidak lagi sekadar baris dalam daftar, tetapi menjadi titik-titik di peta yang membantu kita melihat bagaimana dunia Arab, Afrika, dan Ibrani saling beririsan sejak ribuan tahun lalu.


Sumber:
Jawād ‘Alī, al‑Mufassal fī Tārīkh al‑‘Arab qabla al‑Islām

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nizār, Rabī‘ah, Muḍar, dan Lahirnya Quraisy

Ismā‘īl dan Jejak Silsilah Arab

Fitnah Besar yang Berakhir dengan Kemuliaan: Kisah Al-Ifk