Ismā‘īl dan Jejak Silsilah Arab

Ilustrasi Ismā‘īl sebagai leluhur bangsa Arab dan lahirnya kabilah‑kabilah Ismā‘īliyyīn: lanskap gurun luas di sekitar Mekah kuno pada senja keemasan, bukit-bukit pasir, beberapa pohon kurma, dan Ka‘bah dalam bentuk sederhana dari batu tanpa hiasan mewah. Di depan Ka‘bah tampak sosok Nabi Ibrāhīm dan Ismā‘īl (tanpa penggambaran wajah jelas, hanya siluet dan gestur hormat), sedang berdiri bersama di depan bangunan suci, sementara di kejauhan terlihat perkemahan suku-suku badui: tenda-tenda hitam bulu kambing, unta dan kambing merumput, para pemanah Arab pra‑Islam berlatih memanah, melambangkan keturunan Ismā‘īl yang dikenal sebagai ahli panah dan pengembara gurun.

Dalam tradisi Islam, nama Ismā‘īl ‘alaihissalām dikenal sebagai putra Nabi Ibrāhīm yang sabar, yang bersama ayahnya membangun Ka‘bah, dan menjadi leluhur Rasulullah . Namun dalam tradisi sejarah dan ilmu nasab, Ismā‘īl juga menempati posisi lain yang sangat penting: ia dipandang sebagai leluhur besar Arab Musta‘ribah, yaitu jalur ‘Adnaniyyah, yang darinya lahir suku-suku Arab utara.

Di sisi lain, Taurat menyajikan gambaran ringkas tetapi berpengaruh. Di sana, Ismā‘īl (Ishmael/Yishma‘el) disebut sebagai anak Ibrāhīm dari istri bernama Hajar. Makna namanya kira-kira “Tuhanku mendengar” atau “Allah mendengar”. Taurat menyebut bahwa Ismā‘īl disunat pada usia tiga belas tahun, kemudian hidup di padang gurun Fārān, menikah dengan seorang perempuan Mesir, dan menjadi pemanah yang andal. Diceritakan pula bahwa ia hadir ketika Ibrāhīm dimakamkan, lalu hidup hingga usia seratus tiga puluh tujuh tahun.

Sampai di sini, kisah Taurat berhenti. Sisanya dilanjutkan oleh tradisi lisan orang Arab dan para ahli sejarah Muslim: bahwa Ismā‘īl kemudian datang ke lembah Mekah, tinggal di sana di tengah kabilah Jurhum, belajar berbahasa Arab, dan dikuburkan di al‑Ḥijr, dekat makam ibunya Hajar. Di sinilah jalur kisah kitab suci dan kisah lokal bertemu.


Dua Belas Putra Ismā‘īl: Dari Taurat ke Tradisi Arab

Daftar Taurat dan Adaptasi Arab

Taurat menyebut bahwa Allah menganugerahkan kepada Ismā‘īl dua belas putra, dan menegaskan bahwa dari mereka akan lahir suatu umat besar. Nama-nama mereka, sesuai Kitab Kejadian, adalah:

Nebayoth, Qedar, Adbeel, Mibsam, Mishma‘, Dumah, Massa, Hadar/Hadad, Tema, Yetur (Jetur), Nafish, Qedemah.

Para ahli nasab dan ahli sejarah Arab awal menerima daftar ini sebagai kerangka, lalu mengadaptasinya ke dalam bentuk lafaz Arab. Nama-nama itu berubah menjadi:

Nābit atau Nabit, Qaydar, Adhbal atau Adbīl, Mabshā, Masma‘ atau Mishma‘, Dūmā, Masyā atau Massā, Adar atau Adad, Ṭīmā, Yaṭūr atau Yatūr, Nafis, Qidman atau Qaydhimā.

Sebagian perubahan ini wajar, karena lidah Arab tidak selalu memiliki huruf yang sama dengan bahasa Ibrani. Sebagian lagi mungkin muncul dari salah dengar atau salah salin ketika kisah-kisah itu diturunkan secara lisan.

Ibu Mereka: Perempuan Mesir atau Perempuan Jurhum?

Dalam Taurat, ibu anak-anak Ismā‘īl hanyalah disebut “perempuan Mesir”; namanya tidak disebut, dan tidak dikaitkan dengan bangsa Arab tertentu. Berbeda dengan itu, tradisi ahli berita Muslim menggambarkan bahwa Ismā‘īl akhirnya menikah dengan perempuan Jurhum, kabilah Arab yang telah lebih dulu menguasai lembah Mekah.

Dalam sebagian riwayat, disebut bahwa istri itu bernama Ra‘lah binti Muḍāḍ bin ‘Amr al‑Jurhumī atau “as‑Sayyidah binti Muḍāḍ bin ‘Amr al‑Jurhumī”. Sebelum Ra‘lah, Ismā‘īl dikatakan sempat menikahi perempuan Jurhum lain yang akhirnya diceraikan atas saran Ibrāhīm, karena dianggap tidak menghormati tamu. Dari Ra‘lah inilah, kata ahli berita, lahir dua belas putra Ismā‘īl yang dikenal.

Perbedaan ini jelas menunjukkan dua lapis tradisi: lapis kitab suci yang berbahasa Ibrani, dan lapis tradisi Arab yang berusaha menempatkan Mekah di pusat kisah Ismā‘īl.


Peta Kasar Kaum Isma‘iliyyīn

Dari Havilah ke Shur: Tanah Ismā‘īl

Taurat menggambarkan wilayah kaum Ismā‘īl dengan kalimat singkat: mereka tinggal “dari Havilah sampai Shur, yang letaknya di depan Mesir”. Havilah sendiri sulit dipastikan posisinya, tetapi para ahli cenderung menempatkannya tidak jauh dari Palestina, karena raja Saul disebut pernah memerangi kaum ‘Amāliq dari Havilah sampai Shur. Shur, di sisi lain, bisa diidentifikasi sebagai wilayah di perbatasan timur‑laut Mesir, di padang gurun antara Mesir dan Kanaan.

Jika wilayah ini adalah “tanah Ismā‘īl”, berarti kaum Isma‘iliyyīn tinggal di sabuk padang gurun yang menghubungkan Mesir, Palestina, dan Jazirah Arab bagian barat laut. Di sanalah tenda-tenda hitam mereka berdiri, di sela-sela rute dagang yang membawa kafilah antara Syam dan Mesir.

Kitab Mazmur mengisyaratkan mereka sebagai kaum pengembara yang keras, hidup dari perang dan serangan, lebih mengenal bunyi panah dan pedang daripada damai. Taurat menyebut bahwa Allah memberi kabar gembira kepada Hajar: anaknya akan menjadi “seorang yang liar tangannya, dan tangannya akan melawan semua orang, dan tangan semua orang melawan dia.” Dalam bahasa padang pasir, ini berarti: ia akan menjadi leluhur para penyerbu dan pengembara gurun.

Hubungan dengan Bani Israil

Orang-orang Ibrani mengakui bahwa mereka dan kaum Ismā‘īl punya hubungan darah melalui Ibrāhīm. Tetapi hubungan ini lebih sering muncul sebagai ketegangan tetangga daripada persaudaraan. Kaum Isma‘iliyyīn—yang dalam narasi Taurat hidup sebagai “orang tenda”—kerap digambarkan mengganggu jalur niaga, menyerbu wilayah perbatasan, dan berteman dekat dengan kabilah-kabilah lain seperti Amalek dan Midian ketika bersekutu melawan Israel.

Meski demikian, hubungan itu tidak selalu berupa permusuhan. Dalam kisah Nabi Yusuf, misalnya, Taurat menyebut bahwa Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya kepada rombongan pedagang Isma‘iliyyīn dan Madyaniyyīn yang hendak membawa barang dagangan ke Mesir. Di sini, mereka tampil sebagai para pedagang padang pasir: penghubung antara dunia Kanaan dan Mesir.


Nebayoth dan Qedar: Dua Nama yang Menonjol

Nebayoth (Nābit/Nabit)

Dalam daftar Taurat, Nebayoth disebut sebagai anak sulung Ismā‘īl. Dalam tradisi Arab, ia ditulis sebagai Nābit atau Nabit. Dari dialah, bersama Qedar, para ahli berita memandang bangsa Arab berkembang. Sebagian bahkan mengaitkannya dengan nama-nama seperti Yasyjub dan Ya‘rub, walaupun di kalangan ahli nasab besar, Yasyjub lebih sering dinisbatkan kepada Ya‘rub bin Qaḥṭān.

Nama Nebayoth muncul dalam prasasti Asyur bersama Qedar. Keduanya kerap disebut beriringan, memberi kesan bahwa wilayah mereka bersebelahan atau saling bersinggungan. Nebayoth juga disebut memiliki hubungan pernikahan dengan orang Edom, menunjukkan kedekatan geografis mereka dengan wilayah selatan Palestina.

Sebagian peneliti modern berpendapat bahwa Nebayoth mungkin mewakili sebuah kerajaan kecil di dataran al‑Qaṣīm, sezaman dengan kerajaan-kerajaan Arab lain yang disebut “Aribi” dalam prasasti Asyur.

Dalam dunia Arab sendiri, nama an‑Nabīt tampak hidup dalam kabilah-kabilah seperti Aus dan Iyād. Penyair Qays bin al‑Khaṭīm memuji an‑Nabīt Aus sebagai kabilah yang kuat dan disegani di Yatsrib, meski kemudian konflik internal membuat sebagian dari mereka berpindah dan bersekutu dengan kabilah lain.

Qedar (Qaydar) dan Tenda-Tenda Hitam

Nama Qedar (Qaydar) sangat jelas jejaknya. Dalam prasasti Asyur, ia disebut sebagai Kidru atau Kadru; dalam karya Plinius, sebagai Cedrei. Mereka digambarkan sebagai suku Arab kuat yang hidup di sekitar wilayah Nabatean, memelihara ternak, tinggal di tenda-tenda hitam, dan ahli memanah.

Nabi Yesaya menggambarkan Qedar sebagai bangsa yang memiliki “kemuliaan” dan “para pemanah pemberani”. Kidung Agung menyebut tenda-tenda Qedar sebagai perumpamaan bagi kehitaman kulit dan keindahan sekaligus: “Hitam aku, tetapi cantik, hai putri-putri Yerusalem, seperti tenda-tenda Qedar.”

Taurat dan kitab-kitab lain menceritakan bagaimana Nebukadnezar menghantam Qedar: membakar tenda-tenda mereka, merampas unta dan kambing, dan menaklukkan wilayah mereka, mungkin sebagai balasan atas gangguan mereka terhadap jalur ekspedisi Babel menuju Palestina.

Dalam literatur Muslim kemudian, Qedar diangkat menjadi figur sentral: sebagian ahli berita menyebut Qaydar bin Ismā‘īl sebagai “bapak bangsa Arab”, bahkan ada yang menganggapnya nabi, dan menisbatkan kepadanya makam-makam tertentu di luar jazirah Arab. Ada pula upaya memadukan kisah-kisah lokal Nabi Ṣāliḥ dan kaum Tsamud dengan nama Qedar: tokoh “Qadār bin Sālif” digambarkan sebagai “Ahīmar Tsamud” yang menyembelih unta ajaib.

Di sini kita melihat pergeseran makna: dari nama kabilah dalam prasasti Asyur dan Taurat, menjadi tokoh personal yang diberi peran dalam kisah-kisah keagamaan dan lokal Arab.


Jejak Qeturah: Jembatan antara Ismā‘īl dan Yaqtaniyyīn

Qeturah dalam Taurat

Setelah Sarah wafat, Taurat menyebut bahwa Ibrāhīm menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Qeturah. Ia melahirkan enam putra: Zimran, Yaqshan, Medan, Midian, Yishbaq, dan Shuah. Dari mereka, terutama dari Yaqshan dan Midian, muncul lebih banyak nama kabilah.

Zimran, Yaqshan, Medan, Midian, Yishbaq, Shuah,
Sheba, Dedan, Ashurim, Letushim, Leummim, ‘Ifah, ‘Efer, Ḥanok, ‘Abida, Eldaa‘.

Daftar ini pada dasarnya adalah daftar kabilah dan wilayah yang kemudian dipersonifikasi sebagai “anak-anak Qeturah”. Sebagian besar nama itu bergaung di wilayah Arabia Barat, antara Yaman dan Palestina, dan sebagian lagi dapat dilacak jejaknya dalam toponimi dan prasasti di selatan dan barat jazirah Arab.

Dengan demikian, Qeturah bukan hanya istri Ibrāhīm, tetapi juga lambang sebuah konfederasi kabilah yang hidup di ruang antara dua kelompok besar: Isma‘iliyyīn dan Yaqtaniyyīn (keturunan Yaqtan/Joktan).

Qeturah dalam Tradisi Arab

Dalam literatur Arab klasik, Qeturah dikenal dengan beberapa bentuk: Qaṭūrā’, Qaṭūrā, Qanṭūrā’. Makna asal Ibraninya adalah “dupa” atau “kemenyan”. Ahli berita meminjam nama ini, lalu mengisikan ke dalamnya berbagai macam nasab.

Sebagian menyebutnya putri Yaqtan, sehingga membuat jalur nasab yang saling silang antara keturunan Yaqtan (Qaḥṭān) dan keturunan Ibrāhīm. Sebagian lagi menisbatkannya kepada tokoh-tokoh lain yang tidak dikenal dalam Taurat. Bahkan ada yang menjadikannya sebagai ibu bangsa Turki, Cina, dan Sudan, dengan alasan politis: untuk merangkul bangsa-bangsa kuat di timur dan selatan ke dalam kerangka keluarga Ibrāhīm.

Di dalam riwayat-riwayat “malāḥim” (ramalan perang akhir zaman), muncul istilah “Banū Qanṭūrā’” sebagai sebutan untuk gelombang besar kekuatan yang akan datang dari timur. Ada riwayat yang mengatakan: “Hampir-hampir Banū Qanṭūrā’ mengusir kalian dari Basrah.” Dengan demikian, nama Qeturah menjadi kode simbolik untuk ancaman dari timur dalam imajinasi politik awal Islam.

Sekali lagi, di sini terlihat bahwa nama-nama dalam nasab tidak hanya berfungsi sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai simbol dan metafora politik.


Madyan dan Syu‘aib: Pertemuan Taurat dan Al‑Qur’an

Madyan dalam Al‑Qur’an

Nama Madyan (Midian) muncul berulang kali dalam Al‑Qur’an. Mereka digambarkan sebagai salah satu umat terdahulu yang mendustakan rasulnya, Nabi Syu‘aib, dan melakukan kecurangan dalam ukuran dan timbangan.

Allah Ta‘ālā berfirman:

﴿وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهِ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِنْ كُنتُمْ مُّؤْمِنِينَ﴾
(QS. الأعراف [7]: 85)

“Dan kepada (penduduk) Madyan, Kami utus saudara mereka Syu‘aib. Ia berkata: Wahai kaumku, sembahlah Allah; tidak ada bagi kalian sesembahan selain-Nya. Sungguh, telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Tuhan kalian. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kalian mengurangi hak orang lain, dan janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah ia diperbaiki. Itulah yang lebih baik bagi kalian jika kalian benar‑benar beriman.”

Ayat-ayat lain menyebut bahwa mereka dihancurkan oleh “ar‑rajfah” (guncangan hebat), suatu bentuk bencana alam yang sangat mungkin berupa gempa atau letusan kawasan berbatu lava. Hal ini sejalan dengan kondisi geologi wilayah barat laut jazirah Arab, yang memang termasuk kawasan rawan gempa dan aktivitas vulkanik.

Madyan dalam Taurat dan Tradisi Yahudi

Taurat menyebut Madyan sebagai keturunan Qeturah. Mereka tinggal di kawasan timur dan selatan Bani Israil, kadang muncul sebagai sekutu Moab dan Amalek, kadang sebagai pedagang yang membawa emas dan kemenyan dari Saba’ ke Palestina, kadang sebagai lawan yang ditekan oleh hakim-hakim Israel seperti Gideon.

Taurat juga menceritakan bahwa Nabi Musa melarikan diri ke tanah Madyan setelah membunuh seorang Mesir, lalu menikahi Ṣafūra (Zipporah), putri seorang imam Madyan bernama Yitro (Reu’el/Hobab). Di sinilah muncul titik pertemuan dengan kisah Al‑Qur’an: para mufassir lalu mengidentikkan Yitro dengan Nabi Syu‘aib, dan menggabungkan dua tradisi menjadi satu rangkaian.

Penulis modern mencatat bahwa penyatuan dua figur ini mungkin belum dikenal pada generasi pertama Muslim, tetapi berkembang belakangan seiring makin intensnya hubungan ilmiah dengan tradisi Yahudi.


Menutup: Silsilah sebagai Cermin Identitas dan Tafsir Kitab Suci

Jika kita memandang semua nama dan jalur nasab ini sebagai pohon keluarga yang rapi, mungkin kita akan kecewa. Di sana banyak terdapat perbedaan, kerancuan, bahkan unsur karangan. Nebayoth berubah menjadi Nabit, Qedar menjadi Qaydar, Qeturah menjadi Qaṭūrā’ lalu Qanṭūrā’. Nama-nama baru muncul untuk mengisi celah yang kosong.

Namun bila kita melihatnya sebagai cermin cara orang Arab awal memahami dirinya di hadapan kisah besar para nabi, gambaran ini menjadi lebih masuk akal. Mereka hidup dalam dunia di mana Al‑Qur’an hadir sebagai kitab penutup, menyebut nama-nama seperti Ibrāhīm, Ismā‘īl, Madyan, Syu‘aib. Di sisi lain, dari Taurat dan Injil, mereka mendengar kisah-kisah yang mirip tetapi lebih panjang.

Di antara keduanya, berdiri para ahli sejarah dan ahli nasab yang berusaha:

  • meletakkan kabilah-kabilah Arab yang mereka kenal ke dalam kerangka silsilah Nabi Ibrāhīm,
  • menyesuaikan nama-nama kabilah padang pasir dengan nama-nama dalam kitab suci,
  • dan, kadang-kadang, menyelipkan kepentingan politik atau kebanggaan lokal ke dalam nasab.

Dari proses inilah lahir gambaran bahwa:

Ismā‘īl adalah bapak Arab ‘Adnaniyyah,
Yaqtan (Qaḥṭān) adalah bapak Arab Qaḥṭāniyyah,
Qeturah menjadi jembatan antara dua kelompok itu,
sementara kabilah-kabilah lain seperti Madyan, Qedar, Nebayoth, Dumah, Taimā’, dan sebagainya, mengisi ruang-ruang kosong di antara mereka.

Di ujung jaringan ini, berdiri sosok yang oleh umat Islam diyakini sebagai penutup para nabi, keturunan Ismā‘īl lewat jalur ‘Adnān dan Ma‘add, lahir di kota Mekah yang dihuni oleh kabilah Quraisy. Dengan demikian, kisah silsilah bukan hanya tentang “siapa anak siapa”, tetapi juga tentang bagaimana orang Arab mengaitkan dirinya dengan Ibrāhīm, Ismā‘īl, dan kisah besar wahyu.


Sumber:
Jawād ‘Alī, al‑Mufassal fī Tārīkh al‑‘Arab qabla al‑Islām

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India

Nizār, Rabī‘ah, Muḍar, dan Lahirnya Quraisy

Tahun Penuh Kenangan: Antara Duka dan Kebahagiaan di Sekitar Rasulullah ﷺ