Dua Hijrah yang Mulia dan Pelajaran Berharga dari Sebuah Ekspedisi
Kepulangan Romantis Para Muhajirin dari Habasyah
Tahun itu adalah tahun yang penuh dengan kebahagiaan bagi
Rasulullah ﷺ.
Di tengah kesibukan pascaperang Khaibar, sebuah kabar gembira datang. Rombongan
kaum muslimin yang tersisa di Habasyah (Ethiopia) akhirnya tiba di Madinah.
Mereka adalah para perantau yang lama berpisah, dan di puncak rombongan itu
terdapat seorang pahlawan yang sangat dirindukan, yaitu Ja’far bin Abi
Thalib, pahlawan Perang Mu’tah kelak, beserta sekitar lima puluh orang
lainnya.
Di antara mereka juga ada rombongan dari Yaman, yaitu suku
Asy’ariyyun, yang dipimpin oleh Abu Musa al-Asy’ari, saudaranya Abu
Burdah, dan Abu Rahim. Kisah perjalanan mereka unik. Abu Musa berkisah: “Kami
mendengar kabar tentang hijrahnya Rasulullah ﷺ saat kami masih di Yaman. Maka kami pun
berangkat dengan menaiki sebuah kapal. Namun, angin bertiup kencang dan membawa
kapal kami hingga terdampar di Habasyah. Di sana, kami bertemu dengan Ja’far
dan para sahabat lainnya. Kami pun tinggal bersama mereka hingga akhirnya
Rasulullah ﷺ
mengutus ‘Amr bin Umayyah adh-Dhamri untuk menyampaikan surat kepada Raja
Najasyi agar mengirimkan Ja’far dan rombongan kembali ke Madinah.”
Raja Najasyi yang mulia itu segera memenuhi permintaan.
Beliau mempersiapkan dua kapal untuk mengantarkan mereka pulang dengan penuh
kemuliaan. Ketika sampai di Madinah, wajah Rasulullah ﷺ berseri-seri.
Kegembiraan yang Berlipat
Saat melihat kedatangan Ja’far, Rasulullah ﷺ bersabda dengan penuh suka cita. Beliau
mengungkapkan perasaannya yang sangat bahagia, seolah tidak bisa memilih mana
yang lebih membahagiakan di antara dua nikmat besar yang datang berbarengan.
“ما
أَدْرِي بِأَيَّهِمَا أَنَا أَسَرُّ: بِفَتْحِ خَيْبَرَ، أَمْ بِقُدُومِ جَعْفَرٍ؟”
Artinya: “Aku tidak tahu mana yang lebih membuatku bahagia, apakah karena
terbukanya (kemenangan) Khaibar, atau karena kedatangan Ja’far?”
Di antara yang datang bersama Ja’far adalah istrinya, Asma
binti ‘Umays, serta Ummu Habibah binti Abu Sufyan, istri mulia Rasulullah ﷺ
sendiri. Juga ikut serta Khalid bin Sa’id bin al-‘Ash beserta keluarga, ‘Amr
bin Sa’id, dan rombongan Asy’ariyyun.
💬 Perdebatan Tentang
Kedudukan Hijrah
Namun, kepulangan mereka menyisakan sebuah diskusi hangat.
Suatu hari, sahabat yang tegas, Umar bin al-Khaththab (yang kelak bergelar
al-Faruq), melihat Asma binti ‘Umays. Beliau berkata dengan nada setengah
bergurau namun serius: “Wahai Asma, kami (para sahabat yang hijrah ke Madinah)
telah mendahuluimu dalam hijrah. Maka kami lebih berhak atas Rasulullah ﷺ
darimu.”
Asma pun merasa kurang berkenan dengan ucapan itu. Hatinya
berkobar. Dengan tegas ia menjawab:
“Tidak, demi Allah! Tidak demikian. Kalian bersama Rasulullah ﷺ, di mana beliau
memberi makan orang yang lapar di antara kalian dan menasihati orang yang bodoh
di antara kalian. Sedangkan kami berada di negeri yang jauh dan penuh
permusuhan, jauh dari Rasulullah ﷺ, dan itu semua kami lakukan karena Allah dan karena Rasul-Nya.”
Asma kemudian melaporkan percakapan itu kepada Rasulullah ﷺ.
Beliau pun memberikan keputusan yang adil dan menjadi penyejuk hati bagi para
sahabat yang pernah hijrah ke Habasyah.
Rasulullah ﷺ
bersabda kepada Asma:
“Tidaklah dia (Umar) lebih berhak atasku daripada kalian. Baginya dan para
sahabatnya (yang hijrah ke Madinah) adalah satu kali hijrah. Sedangkan bagi
kalian, wahai penghuni kapal, adalah dua kali hijrah.”
Artinya: hijrah pertama ke Habasyah, dan hijrah kedua ke
Madinah.
Abu Musa al-Asy’ari berkata: “Maka tidak ada
sesuatu pun yang lebih membahagiakan para sahabat ‘penghuni kapal’ selain dari
sabda Rasulullah ﷺ
ini.”
Sebagai penghargaan atas pengorbanan mereka yang luar biasa,
Rasulullah ﷺ
memberikan bagian dari harta rampasan perang Khaibar kepada mereka semua,
meskipun mereka tidak ikut serta dalam perang tersebut. Ini adalah kehormatan
khusus yang tidak diberikan kepada orang lain yang tidak ikut perang, kecuali
satu orang yang tiba saat perang usai, yaitu Abu Hurairah.
⚔️ Ekspedisi Pahit di Fadak:
Kesabaran Bashir bin Sa’d
Rasulullah ﷺ
juga terus mengirim ekspedisi untuk menjaga keamanan. Beliau mengutus Bashir
bin Sa’d al-Anshari untuk memerangi Bani Murrah di daerah sekitar
Fadak.
Ketika Bashir dan pasukannya tiba di wilayah musuh, mereka
tidak melihat seorang pun. Mereka pun mengambil unta-unta milik musuh sebagai
rampasan. Namun, penduduk setempat yang berada di lembah segera mendengar
teriakan peringatan dari orang-orang yang minta tolong. Mereka mengejar Bashir
dan pasukannya di malam hari.
Pertempuran sengit terjadi. Panah berhamburan dari kedua
belah pihak. Keesokan paginya, pertempuran semakin dahsyat. Hampir seluruh
pasukan yang bersama Bashir gugur. Bashir sendiri bertempur dengan kegagahan
luar biasa. Tubuhnya penuh dengan luka parah hingga musuh menyangka ia telah
mati.
Setelah musuh pergi, dengan kondisi tubuh yang hancur,
Bashir merangkak dan menahan sakit. Dengan tekad baja, ia berjalan hingga
sampai di hadapan Rasulullah ﷺ
dan melaporkan apa yang terjadi. Inilah bentuk pengorbanan seorang komandan
yang tak kenal lelah.
📜 Pelajaran Berharga dari
Ekspedisi Ghālib bin ‘Abdullāh
Di bulan Ramadhan tahun ke-7 Hijriah, Rasulullah ﷺ
mengirim ekspedisi lain di bawah komando Ghālib bin ‘Abdullāh al-Kalbi menuju
daerah al-Mifa’ah, wilayah Bani Murrah. Pasukan ini terdiri dari beberapa
sahabat terkenal, seperti Abu Mas’ud al-Badri, Ka’b bin ‘Ujrah, dan pemuda
kesayangan Rasulullah, Usamah bin Zaid.
Dalam pengejaran, Usamah dan seorang sahabat Anshar
bernama Mirdas bin Nuhayk berhasil mengepung seorang pria.
Ketika mereka menghunuskan pedang, pria itu berteriak: “Asyhadu alla
ilaha illallah” (Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah).
Sahabat Anshar itu segera menghentikan tangannya. Namun,
Usamah bin Zaid, mungkin karena perang masih berkecamuk dan ia mengira itu
hanyalah tipu daya untuk menyelamatkan diri, tetap melancarkan tikaman dan pria
itu pun meninggal.
Sesampainya di Madinah, para sahabat lain menegur Usamah
atas perbuatannya. Usamah pun menyesal. Ketika mereka melaporkan kejadian itu
kepada Rasulullah ﷺ,
beliau bersabda dengan nada yang sangat berat:
“Wahai Usamah, bagaimana engkau bisa membunuhnya setelah
ia mengucapkan ‘Laa ilaha illallah’?”
Usamah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkannya hanya
karena takut akan pedang kami (takut mati).”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda dengan kalimat yang menusuk kalbu:
“فَهَلَّا
شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ فَنَظَرْتَ إِلَيْهِ؟!”
Artinya: “Mengapa engkau tidak membelah dadanya sehingga engkau dapat
melihat isi hatinya?!”
Beliau terus mengulang-ulang pertanyaan itu:
“فَكَيْفَ
لَكَ بِلا إِلَهَ إِلا اللَّهُ؟”
Artinya: “Bagaimana kamu nanti menghadapi kalimat ‘Laa ilaha illallah’?”
Hingga Usamah bin Zaid berdoa dalam hatinya, “Aku sangat
menyesal. Demi Allah, aku berharap aku belum masuk Islam sebelum hari ini
saja.” Lalu ia berjanji: “Aku bersumpah kepada Allah, aku tidak akan membunuh
seorang pun yang mengucapkan ‘Laa ilaha illallah’ untuk selamanya.”
Rasulullah ﷺ
bertanya: “Sampai setelah aku (meninggal) nanti, wahai Usamah?”
Usamah menjawab, “Iya, setelah engkau.”
Peristiwa ini menjadi pelajaran besar bagi seluruh umat
Islam tentang mulianya kalimat tauhid. Selama seseorang menampakkan kalimat
tersebut, darahnya terlindungi.
Peristiwa serupa juga terjadi pada sahabat lain seperti
al-Miqdad, yang karena salah tafsir, melakukan hal yang sama. Maka turunlah
ayat Al-Qur’an sebagai teguran ilahi agar umat Islam selalu berhati-hati dan
tidak tergesa-gesa menuduh kafir kepada orang yang mengucapkan salam.
Teks Ayat Al-Qur’an (Surat An-Nisa’, 4: 94):
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا ۖ
وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَىٰ إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا
تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ ۚ
كَذَٰلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا ۚ إِنَّ
اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu
pergi (berperang) di jalan Allah, maka pastikan (kebenaran) dengan teliti. Dan
janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: ‘Kamu
bukan orang beriman,’ (dengan maksud) mencari harta benda kehidupan dunia. Di
sisi Allah ada harta rampasan yang banyak. Demikian jugalah keadaan kamu
dahulu, lalu Allah memberi karunia kepadamu. Maka pastikan (kebenaran) dengan
teliti. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah

Komentar
Posting Komentar