Dua Hijrah yang Mulia dan Pelajaran Berharga dari Sebuah Ekspedisi

Suasana penuh kegembiraan dan kehangatan. Di tengah kota Madinah yang sederhana dengan arsitektur khas gurun, sekelompok laki-laki dan perempuan yang baru tiba dari perjalanan jauh disambut oleh sekelompok penduduk kota. Tampak seorang tokoh utama (bukan Nabi, tidak digambarkan wajahnya) dengan pakaian sederhana berdiri di tengah, sementara beberapa orang lain mengelilinginya dengan ekspresi bahagia. Di antara mereka ada seorang wanita yang sedang berbicara dengan seorang pria yang lebih tua, menggambarkan dialog antara Asma binti ‘Umays dan Umar bin al-Khattab.

Kepulangan Romantis Para Muhajirin dari Habasyah

Tahun itu adalah tahun yang penuh dengan kebahagiaan bagi Rasulullah . Di tengah kesibukan pascaperang Khaibar, sebuah kabar gembira datang. Rombongan kaum muslimin yang tersisa di Habasyah (Ethiopia) akhirnya tiba di Madinah. Mereka adalah para perantau yang lama berpisah, dan di puncak rombongan itu terdapat seorang pahlawan yang sangat dirindukan, yaitu Ja’far bin Abi Thalib, pahlawan Perang Mu’tah kelak, beserta sekitar lima puluh orang lainnya.

Di antara mereka juga ada rombongan dari Yaman, yaitu suku Asy’ariyyun, yang dipimpin oleh Abu Musa al-Asy’ari, saudaranya Abu Burdah, dan Abu Rahim. Kisah perjalanan mereka unik. Abu Musa berkisah: “Kami mendengar kabar tentang hijrahnya Rasulullah saat kami masih di Yaman. Maka kami pun berangkat dengan menaiki sebuah kapal. Namun, angin bertiup kencang dan membawa kapal kami hingga terdampar di Habasyah. Di sana, kami bertemu dengan Ja’far dan para sahabat lainnya. Kami pun tinggal bersama mereka hingga akhirnya Rasulullah mengutus ‘Amr bin Umayyah adh-Dhamri untuk menyampaikan surat kepada Raja Najasyi agar mengirimkan Ja’far dan rombongan kembali ke Madinah.”

Raja Najasyi yang mulia itu segera memenuhi permintaan. Beliau mempersiapkan dua kapal untuk mengantarkan mereka pulang dengan penuh kemuliaan. Ketika sampai di Madinah, wajah Rasulullah berseri-seri.

Kegembiraan yang Berlipat
Saat melihat kedatangan Ja’far, Rasulullah bersabda dengan penuh suka cita. Beliau mengungkapkan perasaannya yang sangat bahagia, seolah tidak bisa memilih mana yang lebih membahagiakan di antara dua nikmat besar yang datang berbarengan.

ما أَدْرِي بِأَيَّهِمَا أَنَا أَسَرُّ: بِفَتْحِ خَيْبَرَ، أَمْ بِقُدُومِ جَعْفَرٍ؟
Artinya: “Aku tidak tahu mana yang lebih membuatku bahagia, apakah karena terbukanya (kemenangan) Khaibar, atau karena kedatangan Ja’far?”

Di antara yang datang bersama Ja’far adalah istrinya, Asma binti ‘Umays, serta Ummu Habibah binti Abu Sufyan, istri mulia Rasulullah sendiri. Juga ikut serta Khalid bin Sa’id bin al-‘Ash beserta keluarga, ‘Amr bin Sa’id, dan rombongan Asy’ariyyun.


💬 Perdebatan Tentang Kedudukan Hijrah

Namun, kepulangan mereka menyisakan sebuah diskusi hangat. Suatu hari, sahabat yang tegas, Umar bin al-Khaththab (yang kelak bergelar al-Faruq), melihat Asma binti ‘Umays. Beliau berkata dengan nada setengah bergurau namun serius: “Wahai Asma, kami (para sahabat yang hijrah ke Madinah) telah mendahuluimu dalam hijrah. Maka kami lebih berhak atas Rasulullah darimu.”

Asma pun merasa kurang berkenan dengan ucapan itu. Hatinya berkobar. Dengan tegas ia menjawab:
“Tidak, demi Allah! Tidak demikian. Kalian bersama Rasulullah , di mana beliau memberi makan orang yang lapar di antara kalian dan menasihati orang yang bodoh di antara kalian. Sedangkan kami berada di negeri yang jauh dan penuh permusuhan, jauh dari Rasulullah , dan itu semua kami lakukan karena Allah dan karena Rasul-Nya.”

Asma kemudian melaporkan percakapan itu kepada Rasulullah . Beliau pun memberikan keputusan yang adil dan menjadi penyejuk hati bagi para sahabat yang pernah hijrah ke Habasyah.

Rasulullah bersabda kepada Asma:
“Tidaklah dia (Umar) lebih berhak atasku daripada kalian. Baginya dan para sahabatnya (yang hijrah ke Madinah) adalah satu kali hijrah. Sedangkan bagi kalian, wahai penghuni kapal, adalah dua kali hijrah.”

Artinya: hijrah pertama ke Habasyah, dan hijrah kedua ke Madinah.

Abu Musa al-Asy’ari berkata: “Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih membahagiakan para sahabat ‘penghuni kapal’ selain dari sabda Rasulullah ini.”

Sebagai penghargaan atas pengorbanan mereka yang luar biasa, Rasulullah memberikan bagian dari harta rampasan perang Khaibar kepada mereka semua, meskipun mereka tidak ikut serta dalam perang tersebut. Ini adalah kehormatan khusus yang tidak diberikan kepada orang lain yang tidak ikut perang, kecuali satu orang yang tiba saat perang usai, yaitu Abu Hurairah.


⚔️ Ekspedisi Pahit di Fadak: Kesabaran Bashir bin Sa’d

Rasulullah juga terus mengirim ekspedisi untuk menjaga keamanan. Beliau mengutus Bashir bin Sa’d al-Anshari untuk memerangi Bani Murrah di daerah sekitar Fadak.

Ketika Bashir dan pasukannya tiba di wilayah musuh, mereka tidak melihat seorang pun. Mereka pun mengambil unta-unta milik musuh sebagai rampasan. Namun, penduduk setempat yang berada di lembah segera mendengar teriakan peringatan dari orang-orang yang minta tolong. Mereka mengejar Bashir dan pasukannya di malam hari.

Pertempuran sengit terjadi. Panah berhamburan dari kedua belah pihak. Keesokan paginya, pertempuran semakin dahsyat. Hampir seluruh pasukan yang bersama Bashir gugur. Bashir sendiri bertempur dengan kegagahan luar biasa. Tubuhnya penuh dengan luka parah hingga musuh menyangka ia telah mati.

Setelah musuh pergi, dengan kondisi tubuh yang hancur, Bashir merangkak dan menahan sakit. Dengan tekad baja, ia berjalan hingga sampai di hadapan Rasulullah dan melaporkan apa yang terjadi. Inilah bentuk pengorbanan seorang komandan yang tak kenal lelah.


📜 Pelajaran Berharga dari Ekspedisi Ghālib bin ‘Abdullāh

Di bulan Ramadhan tahun ke-7 Hijriah, Rasulullah mengirim ekspedisi lain di bawah komando Ghālib bin ‘Abdullāh al-Kalbi menuju daerah al-Mifa’ah, wilayah Bani Murrah. Pasukan ini terdiri dari beberapa sahabat terkenal, seperti Abu Mas’ud al-Badri, Ka’b bin ‘Ujrah, dan pemuda kesayangan Rasulullah, Usamah bin Zaid.

Dalam pengejaran, Usamah dan seorang sahabat Anshar bernama Mirdas bin Nuhayk berhasil mengepung seorang pria. Ketika mereka menghunuskan pedang, pria itu berteriak: “Asyhadu alla ilaha illallah” (Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah).

Sahabat Anshar itu segera menghentikan tangannya. Namun, Usamah bin Zaid, mungkin karena perang masih berkecamuk dan ia mengira itu hanyalah tipu daya untuk menyelamatkan diri, tetap melancarkan tikaman dan pria itu pun meninggal.

Sesampainya di Madinah, para sahabat lain menegur Usamah atas perbuatannya. Usamah pun menyesal. Ketika mereka melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah , beliau bersabda dengan nada yang sangat berat:

“Wahai Usamah, bagaimana engkau bisa membunuhnya setelah ia mengucapkan ‘Laa ilaha illallah’?”

Usamah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkannya hanya karena takut akan pedang kami (takut mati).”

Maka Rasulullah bersabda dengan kalimat yang menusuk kalbu:
فَهَلَّا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ فَنَظَرْتَ إِلَيْهِ؟!”
Artinya: “Mengapa engkau tidak membelah dadanya sehingga engkau dapat melihat isi hatinya?!”

Beliau terus mengulang-ulang pertanyaan itu:
فَكَيْفَ لَكَ بِلا إِلَهَ إِلا اللَّهُ؟
Artinya: “Bagaimana kamu nanti menghadapi kalimat ‘Laa ilaha illallah’?”

Hingga Usamah bin Zaid berdoa dalam hatinya, “Aku sangat menyesal. Demi Allah, aku berharap aku belum masuk Islam sebelum hari ini saja.” Lalu ia berjanji: “Aku bersumpah kepada Allah, aku tidak akan membunuh seorang pun yang mengucapkan ‘Laa ilaha illallah’ untuk selamanya.”

Rasulullah bertanya: “Sampai setelah aku (meninggal) nanti, wahai Usamah?”
Usamah menjawab, “Iya, setelah engkau.”

Peristiwa ini menjadi pelajaran besar bagi seluruh umat Islam tentang mulianya kalimat tauhid. Selama seseorang menampakkan kalimat tersebut, darahnya terlindungi.

Peristiwa serupa juga terjadi pada sahabat lain seperti al-Miqdad, yang karena salah tafsir, melakukan hal yang sama. Maka turunlah ayat Al-Qur’an sebagai teguran ilahi agar umat Islam selalu berhati-hati dan tidak tergesa-gesa menuduh kafir kepada orang yang mengucapkan salam.

Teks Ayat Al-Qur’an (Surat An-Nisa’, 4: 94):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا ۖ وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَىٰ إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ ۚ كَذَٰلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka pastikan (kebenaran) dengan teliti. Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: ‘Kamu bukan orang beriman,’ (dengan maksud) mencari harta benda kehidupan dunia. Di sisi Allah ada harta rampasan yang banyak. Demikian jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah memberi karunia kepadamu. Maka pastikan (kebenaran) dengan teliti. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Allah Membela Para Wanita Mukmin yang Hijrah

Surat-Surat Cinta untuk Dunia: Ketika Islam Menyapa Para Penguasa

Hudaibiyah: Perjalanan Cinta yang Berbuah Kemenangan