Di Istana Delhi yang Penuh Intrik

Sultan 'Ala al-Din Muhammad Syah yang bijaksana sedang berdiri di tengah pasar tradisional India kuno (abad ke-14). Ia mengenakan jubah kebesaran berwarna putih dan emas, dikelilingi oleh para menteri dan rakyat biasa. Sultan terlihat sedang berbincang hangat dengan seorang pedagang tua sambil menunjuk ke arah tumpukan gandum dan daging di kios pasar. Ekspresinya tenang, penuh perhatian, dan berwibawa.

Awal Mula Kekuasaan Sultan 'Ala al-Din

Semuanya bermula ketika 'Ala al-Din membunuh pamannya sendiri, merebut tahta yang pernah digenggam sang paman. Dari perbuatan keji itu, sebagian besar pasukan pamannya justru membelot kepadanya. Sementara yang lain kembali ke Delhi dan berkumpul di bawah panji Rukn al-Din, putra sah penguasa sebelumnya. Namun, saat Rukn al-Din maju untuk mempertahankan haknya, para pendukungnya justru gentar dan melarikan diri menuju 'Ala al-Din. Rukn al-Din sendiri akhirnya terpaksa melarikan diri ke Sind. Maka berdirilah 'Ala al-Din Muhammad Syah al-Khalji di atas singgasana Delhi, dan negerinya berada dalam genggamannya selama dua puluh tahun.

Sultan yang Dekat dengan Rakyatnya

Aku mendengar banyak pujian tentang Sultan 'Ala al-Din dari penduduk India. Ia benar-benar seorang sultan yang baik. Ia tak hanya duduk di istana, tetapi turun langsung memperhatikan urusan rakyatnya. Setiap hari, ia menanyakan harga-harga kebutuhan pokok di pasar kepada pejabat yang disebut al-ra'is.

Suatu hari, ia bertanya mengapa harga daging melambung tinggi. Sang pejabat menjawab, "Wahai Sultan, ini karena pajak yang tinggi atas sapi." Mendengar itu, Sultan segera memerintahkan agar pajak tersebut dihapuskan. Ia bahkan memanggil para pedagang, memberikan mereka modal dari kas negara, dan berkata, "Belilah sapi dan kambing dengan uang ini, lalu juallah kepada rakyat. Keuntungannya kembalikan ke kas negara, dan kalian akan mendapat upah atas jerih payah kalian." Para pedagang pun melakukannya, dan harga daging pun turun.

Bukan hanya daging, ia juga melakukan hal serupa dengan kain-kain yang didatangkan dari Daulatabad. Dan ketika harga gandum melambung, ia tak segan membuka lumbung-lumbung penyimpanan milik kerajaan dan menjualnya dengan harga murah hingga pasar kembali stabil.

Ada satu kejadian yang sangat terkenal. Suatu ketika harga pangan melambung tinggi. Sultan 'Ala al-Din memerintahkan agar gandum dijual dengan harga tertentu. Namun, para pedagang justru menimbun dan menolak menjualnya. Dengan tegas, Sultan mengumumkan, "Tak seorang pun boleh menjual gandum kecuali dari lumbung kerajaan!" Selama enam bulan penuh, Sultan-lah satu-satunya penyedia pangan bagi rakyat Delhi. Melihat stok mereka sendiri akan busuk, para penimbun itu akhirnya ketakutan dan memohon agar diizinkan kembali berjualan. Sultan mengizinkannya, dengan syarat mereka menjual dengan harga yang lebih murah dari harga yang dulu mereka tolak. Sungguh, keadilan seorang Sultan adalah rahmat bagi rakyatnya.

Luka yang Tak Kunjung Sembuh: Pengkhianatan Keponakan

Namun, di balik keadilannya, ada luka yang tak pernah sembuh dalam diri Sultan 'Ala al-Din. Sejak peristiwa nahas itu, ia tak pernah lagi menunggang kuda, baik untuk shalat Jumat, shalat Id, atau keperluan lainnya.

Sebabnya adalah keponakannya sendiri, Sulaiman Syah. Sultan sangat menyayangi dan memuliakannya. Suatu hari, mereka pergi berburu bersama. Di saat Sultan 'Ala al-Din sedang lengah dan bersiap untuk makan siang, Sulaiman Syah yang telah menyusun rencana jahat, melepaskan anak panah dan mengenai pamannya. Sultan pun tersungkur. Seorang budak segera menutupi Sultan dengan perisai. Melihat pamannya tak bergerak, Sulaiman Syah mengira ia sudah tewas. Ia bergegas memasuki istana menemui para perempuan harem. Namun, Sultan 'Ala al-Din ternyata hanya pingsan. Ia sadar, segera menaiki kudanya, dan pasukan kembali berkumpul di sekelilingnya. Keponakannya yang durhaka itu berhasil ditangkap dan dihadirkan ke hadapannya. Tak ada ampun. Ia pun dihukum mati atas perbuatannya. Sejak hari itu, Sultan tak pernah lagi menaiki kendaraan.

Putra Mahkota yang Tersisih

Sultan 'Ala al-Din memiliki beberapa putra: Khidr Khan, Syadi Khan, Abu Bakr Khan, Mubarak Khan (yang kelak bergelar Quthb al-Din dan menjadi raja), dan Syihab al-Din. Di antara mereka, Quthb al-Din adalah yang paling sedikit mendapat perhatian ayahnya. Ia merasa bahwa ayahnya lebih mengutamakan saudara-saudaranya yang lain.

Suatu hari, Sultan memberikan penghargaan berupa panji-panji dan genderang kebesaran kepada semua putranya, kecuali Quthb al-Din. Melihat itu, Sultan berkata kepadanya, "Aku pasti akan memberimu seperti yang kuberikan kepada saudara-saudaramu."

Dengan rendah hati, Quthb al-Din menjawab, "Allah-lah yang akan memberiku."

Jawaban itu, meskipun tampak pasrah, justru membuat Sultan 'Ala al-Din terkejut dan merasa cemas. Ada firasat buruk yang menyelimuti hatinya.

Wasiat yang Terabaikan dan Kudeta Istana

Sakit keras menghampiri Sultan 'Ala al-Din. Sementara itu, istrinya, Mah Haq (yang berarti "Bulan Kebenaran"), ibu dari Khidr Khan, berkomplot dengan saudara laki-lakinya, Sanjar, untuk menjadikan Khidr Khan sebagai putra mahkota. Rencana ini diketahui oleh seorang amir berpengaruh bernama Malik Na'ib, yang dikenal dengan julukan al-Alfi karena Sultan pernah membelinya dengan seribu tanka (mata uang emas yang nilainya sangat besar). Ia segera melaporkan konspirasi itu kepada Sultan yang sedang sakit.

Sultan pun merancang tipu daya. Ketika Sanjar datang menghadap, ia diberi hadiah sehelai pakaian kebesaran. Begitu Sanjar memakainya, para pengawal langsung menangkapnya dan membunuhnya di tempat. Saat itu, Khidr Khan sedang berada di Sondibat, sebuah tempat yang berjarak sehari perjalanan dari Delhi. Ia pergi untuk berziarah ke makam para syuhada, memenuhi nazarnya untuk berjalan kaki demi kesembuhan ayahnya. Ketika kabar kematian pamannya sampai, ia sangat berduka dan merobek bajunya, sesuai adat India untuk orang yang sangat dicintai. Namun, tindakannya itu justru membuat Sultan 'Ala al-Din murka. Ia menganggapnya sebagai bentuk protes.

Sekembalinya ke Delhi, Khidr Khan bukan disambut kasih sayang. Ayahnya sendiri memerintahkan agar tangan dan kakinya dibelenggu. Ia kemudian diserahkan kepada Malik Na'ib untuk dipenjarakan di benteng Kalbur (atau Kayalir), sebuah benteng yang menjulang tinggi di tengah wilayah orang-orang kafir Hindu, sepuluh hari perjalanan dari Delhi.

Kondisi Sultan kian memburuk. Di ambang kematian, ia memanggil Malik Na'ib dan berwasiat, "Panggil kembali putraku, Khidr Khan. Aku ingin menunjuknya sebagai putra mahkota." Malik Na'ib hanya mengiyakan, "Baiklah, Tuanku." Namun, ia terus menunda-nunda. Setiap Sultan bertanya, ia menjawab, "Sedang dalam perjalanan, Tuanku." Hingga akhirnya, Sultan 'Ala al-Din menghembuskan nafas terakhirnya. Wasiatnya tak pernah terlaksana.

Quthb al-Din: Antara Korban dan Penguasa

Sepeninggal Sultan 'Ala al-Din, Malik Na'ib bertindak cepat. Ia menobatkan putra bungsu Sultan, Syihab al-Din, sebagai Sultan. Namun, kekuasaan sesungguhnya ada di tangannya. Ia membutakan Abu Bakr Khan dan Syadi Khan, lalu mengirim mereka ke benteng Kalbur. Di sana, ia juga memerintahkan agar Khidr Khan, kakak mereka, dibutakan matanya. Semua putra Sultan 'Ala al-Din dipenjara, kecuali Quthb al-Din yang untuk sama sekali tak tersentuh.

Sementara itu, Malik Na'ib menjadi sangat sombong. Dua orang budak kepercayaan Sultan 'Ala al-Din yang setia, bernama Basyir dan Mubasyir, dihasut oleh ibunda para pangeran. Sang ibunda mengingatkan mereka akan kebaikan mendiang Sultan dan bagaimana Malik Na'ib telah menyiksa anak-anaknya, serta berencana membunuh Quthb al-Din.

Kedua budak itu pun menyusun rencana. Mereka biasa tidur berjaga di dekat Malik Na'ib dan selalu membawa senjata. Pada malam yang telah ditentukan, saat Malik Na'ib sedang berada di rumah kayu beratap khurmakah di atas istana, ia meminjam pedang dari salah satu dari mereka. Setelah membolak-baliknya, ia mengembalikan pedang itu. Saat itulah, sang budak dengan cepat mengayunkan pedangnya, diikuti oleh temannya. Malik Na'ib tewas seketika, kepalanya dipenggal.

Kedua budak pemberani itu segera membawa kepala Malik Na'ib ke penjara tempat Quthb al-Din ditahan. Mereka melemparkannya ke hadapannya dan membawanya keluar. Quthb al-Din kemudian menghadap saudaranya, Sultan Syihab al-Din. Selama beberapa hari, ia bertindak seolah-olah hanya seorang wakil Sultan. Namun, ambisinya tak terbendung. Ia pun memakzulkan saudaranya sendiri, memotong jarinya sebagai simbol, lalu mengirimnya ke benteng Kalbur untuk dipenjara bersama saudara-saudara yang lain. Maka berkuasalah Quthb al-Din di Delhi.

Akhir Tragedi di Benteng Kalbur

Kekuasaan Quthb al-Din Mubarak Syah tidak berlangsung damai. Ia memindahkan ibu kota sementara ke Daulatabad, yang berjarak empat puluh hari perjalanan. Jalur antara Delhi dan Daulatabad sangatlah indah, dipenuhi pepohonan bagaikan taman, dengan pos-pos peristirahatan setiap mil. Di sanalah, saat Quthb al-Din sedang dalam perjalanan, ia mendapat kabar adanya konspirasi. Seorang amir berencana memberontak dan mengangkat putra kecil Khidr Khan, yang saat itu baru berusia sekitar sepuluh tahun dan ikut serta dalam rombongan, sebagai Sultan.

Quthb al-Din murka. Ia segera mengambil keponakannya yang masih bocah itu, memegang kedua kakinya, lalu membantingkan kepalanya ke batu hingga otaknya berhamburan. Kekejaman tak berhenti di situ. Ia mengirim utusan bernama Malik Syah ke benteng Kalbur dengan perintah untuk membunuh semua saudaranya yang dipenjara di sana.

Kisah mengerikan ini kudengar langsung dari Qadhi Zain al-Din Mubarak, hakim di benteng tersebut. Ia bercerita, "Suatu siang, Malik Syah tiba di Kalbur. Saat itu aku sedang bersama Khidr Khan di penjaranya. Begitu mendengar kabar kedatangan Malik Syah, Khidr Khan pucat pasi. Ketika Malik Syah masuk, Khidr Khan bertanya, 'Ada perlu apa engkau ke sini?' Malik Syah menjawab, 'Aku datang untuk suatu keperluan, Khund Alam (panggilan untuk pangeran).' 'Apakah jiwaku selamat?' tanya Khidr Khan lagi. 'Ya,' jawab Malik Syah singkat, lalu keluar."

Setelah itu, Malik Syah memanggil komandan benteng dan tiga ratus petugas administrasi. Ia juga memanggilku dan para saksi. Perintah Sultan Quthb al-Din dibacakan. Kemudian, mereka mendatangi Syihab al-Din, Sultan yang pernah dimakzulkan itu. Ia dihukum pancung dengan tenang, tanpa rasa takut. Disusul kemudian Abu Bakr Khan dan Syadi Khan.

Giliran Khidr Khan tiba. Ia sangat ketakutan dan linglung. Ibunya, Mah Haq, yang juga ditahan bersamanya, berusaha melindunginya. Para algojo menutup pintu di depan ibunya, menghalangi ia melihat nasib putranya. Khidr Khan pun dibunuh. Semua jasad mereka diseret ke sebuah lubang, dikubur tanpa dikafani dan dimandikan. Beberapa tahun kemudian, jenazah mereka dipindahkan dan dimakamkan di pemakaman keluarga.

Ibunda Khidr Khan selamat dari peristiwa itu. Aku bahkan sempat melihatnya di Makkah pada tahun 728 H. Adapun benteng Kalbur itu sendiri sangatlah kokoh, terletak di puncak bukit batu yang menjulang. Di dalamnya terdapat banyak sumber air dan sumur. Untuk memasukinya, ada jalan yang cukup lebar untuk dilalui gajah dan kuda. Di bawahnya terbentang kota yang indah, semuanya terbuat dari batu putih.

Penutup: Hukum Sebab Akibat

Setelah membunuh semua saudaranya, Quthb al-Din Mubarak Syah berkuasa penuh, tanpa ada lagi yang berani menentangnya. Namun, keadilan Ilahi berlaku. Orang kepercayaannya sendiri, amir terbesarnya, Nashir al-Din Khusraw Khan, memberontak dan membunuhnya. Khusraw Khan pun naik tahta, meski hanya sebentar. Allah kemudian mengirimkan Sultan Tughluq untuk menumpasnya, mengakhiri kekuasaan dinasti Khalji dan memulai babak baru dalam sejarah Delhi. Sungguh, kekuasaan duniawi hanyalah titipan, dan setiap perbuatan akan mendapat balasannya.


Sumber Kisah:
Rihlah Ibnu Battutah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perang Hunain: Pelajaran dari Kemenangan yang Hampir Sirna

Setelah Fathu Makkah: Ketakutan Anshar, Kisah Bani Judzaimah, dan Penghancuran Berhala

Perang Tha'if: Ketika Ketekunan Berjumpa dengan Kasih Sayang