Di Istana Delhi yang Penuh Intrik
Awal Mula Kekuasaan Sultan 'Ala al-Din
Semuanya bermula ketika 'Ala al-Din membunuh pamannya
sendiri, merebut tahta yang pernah digenggam sang paman. Dari perbuatan keji
itu, sebagian besar pasukan pamannya justru membelot kepadanya. Sementara yang
lain kembali ke Delhi dan berkumpul di bawah panji Rukn al-Din, putra sah
penguasa sebelumnya. Namun, saat Rukn al-Din maju untuk mempertahankan haknya,
para pendukungnya justru gentar dan melarikan diri menuju 'Ala al-Din. Rukn
al-Din sendiri akhirnya terpaksa melarikan diri ke Sind. Maka berdirilah 'Ala
al-Din Muhammad Syah al-Khalji di atas singgasana Delhi, dan negerinya berada
dalam genggamannya selama dua puluh tahun.
Sultan yang Dekat dengan Rakyatnya
Aku mendengar banyak pujian tentang Sultan 'Ala al-Din dari
penduduk India. Ia benar-benar seorang sultan yang baik. Ia tak hanya duduk di
istana, tetapi turun langsung memperhatikan urusan rakyatnya. Setiap hari, ia
menanyakan harga-harga kebutuhan pokok di pasar kepada pejabat yang
disebut al-ra'is.
Suatu hari, ia bertanya mengapa harga daging melambung
tinggi. Sang pejabat menjawab, "Wahai Sultan, ini karena pajak yang tinggi
atas sapi." Mendengar itu, Sultan segera memerintahkan agar pajak tersebut
dihapuskan. Ia bahkan memanggil para pedagang, memberikan mereka modal dari kas
negara, dan berkata, "Belilah sapi dan kambing dengan uang ini, lalu
juallah kepada rakyat. Keuntungannya kembalikan ke kas negara, dan kalian akan
mendapat upah atas jerih payah kalian." Para pedagang pun melakukannya,
dan harga daging pun turun.
Bukan hanya daging, ia juga melakukan hal serupa dengan
kain-kain yang didatangkan dari Daulatabad. Dan ketika harga gandum melambung,
ia tak segan membuka lumbung-lumbung penyimpanan milik kerajaan dan menjualnya
dengan harga murah hingga pasar kembali stabil.
Ada satu kejadian yang sangat terkenal. Suatu ketika harga
pangan melambung tinggi. Sultan 'Ala al-Din memerintahkan agar gandum dijual
dengan harga tertentu. Namun, para pedagang justru menimbun dan menolak
menjualnya. Dengan tegas, Sultan mengumumkan, "Tak seorang pun boleh
menjual gandum kecuali dari lumbung kerajaan!" Selama enam bulan penuh,
Sultan-lah satu-satunya penyedia pangan bagi rakyat Delhi. Melihat stok mereka
sendiri akan busuk, para penimbun itu akhirnya ketakutan dan memohon agar
diizinkan kembali berjualan. Sultan mengizinkannya, dengan syarat mereka
menjual dengan harga yang lebih murah dari harga yang dulu
mereka tolak. Sungguh, keadilan seorang Sultan adalah rahmat bagi rakyatnya.
Luka yang Tak Kunjung Sembuh: Pengkhianatan Keponakan
Namun, di balik keadilannya, ada luka yang tak pernah sembuh
dalam diri Sultan 'Ala al-Din. Sejak peristiwa nahas itu, ia tak pernah lagi
menunggang kuda, baik untuk shalat Jumat, shalat Id, atau keperluan lainnya.
Sebabnya adalah keponakannya sendiri, Sulaiman Syah. Sultan
sangat menyayangi dan memuliakannya. Suatu hari, mereka pergi berburu bersama.
Di saat Sultan 'Ala al-Din sedang lengah dan bersiap untuk makan siang,
Sulaiman Syah yang telah menyusun rencana jahat, melepaskan anak panah dan
mengenai pamannya. Sultan pun tersungkur. Seorang budak segera menutupi Sultan
dengan perisai. Melihat pamannya tak bergerak, Sulaiman Syah mengira ia sudah
tewas. Ia bergegas memasuki istana menemui para perempuan harem. Namun, Sultan
'Ala al-Din ternyata hanya pingsan. Ia sadar, segera menaiki kudanya, dan
pasukan kembali berkumpul di sekelilingnya. Keponakannya yang durhaka itu
berhasil ditangkap dan dihadirkan ke hadapannya. Tak ada ampun. Ia pun dihukum
mati atas perbuatannya. Sejak hari itu, Sultan tak pernah lagi menaiki
kendaraan.
Putra Mahkota yang Tersisih
Sultan 'Ala al-Din memiliki beberapa putra: Khidr Khan,
Syadi Khan, Abu Bakr Khan, Mubarak Khan (yang kelak bergelar Quthb al-Din dan
menjadi raja), dan Syihab al-Din. Di antara mereka, Quthb al-Din adalah yang
paling sedikit mendapat perhatian ayahnya. Ia merasa bahwa ayahnya lebih
mengutamakan saudara-saudaranya yang lain.
Suatu hari, Sultan memberikan penghargaan berupa panji-panji
dan genderang kebesaran kepada semua putranya, kecuali Quthb al-Din. Melihat
itu, Sultan berkata kepadanya, "Aku pasti akan memberimu seperti yang
kuberikan kepada saudara-saudaramu."
Dengan rendah hati, Quthb al-Din menjawab, "Allah-lah
yang akan memberiku."
Jawaban itu, meskipun tampak pasrah, justru membuat Sultan
'Ala al-Din terkejut dan merasa cemas. Ada firasat buruk yang menyelimuti
hatinya.
Wasiat yang Terabaikan dan Kudeta Istana
Sakit keras menghampiri Sultan 'Ala al-Din. Sementara itu,
istrinya, Mah Haq (yang berarti "Bulan Kebenaran"), ibu dari Khidr
Khan, berkomplot dengan saudara laki-lakinya, Sanjar, untuk menjadikan Khidr
Khan sebagai putra mahkota. Rencana ini diketahui oleh seorang amir berpengaruh
bernama Malik Na'ib, yang dikenal dengan julukan al-Alfi karena Sultan pernah
membelinya dengan seribu tanka (mata uang emas yang nilainya
sangat besar). Ia segera melaporkan konspirasi itu kepada Sultan yang sedang
sakit.
Sultan pun merancang tipu daya. Ketika Sanjar datang
menghadap, ia diberi hadiah sehelai pakaian kebesaran. Begitu Sanjar
memakainya, para pengawal langsung menangkapnya dan membunuhnya di tempat. Saat
itu, Khidr Khan sedang berada di Sondibat, sebuah tempat yang berjarak sehari
perjalanan dari Delhi. Ia pergi untuk berziarah ke makam para syuhada, memenuhi
nazarnya untuk berjalan kaki demi kesembuhan ayahnya. Ketika kabar kematian
pamannya sampai, ia sangat berduka dan merobek bajunya, sesuai adat India untuk
orang yang sangat dicintai. Namun, tindakannya itu justru membuat Sultan 'Ala
al-Din murka. Ia menganggapnya sebagai bentuk protes.
Sekembalinya ke Delhi, Khidr Khan bukan disambut kasih
sayang. Ayahnya sendiri memerintahkan agar tangan dan kakinya dibelenggu. Ia
kemudian diserahkan kepada Malik Na'ib untuk dipenjarakan di benteng Kalbur
(atau Kayalir), sebuah benteng yang menjulang tinggi di tengah wilayah
orang-orang kafir Hindu, sepuluh hari perjalanan dari Delhi.
Kondisi Sultan kian memburuk. Di ambang kematian, ia
memanggil Malik Na'ib dan berwasiat, "Panggil kembali putraku, Khidr Khan.
Aku ingin menunjuknya sebagai putra mahkota." Malik Na'ib hanya
mengiyakan, "Baiklah, Tuanku." Namun, ia terus menunda-nunda. Setiap
Sultan bertanya, ia menjawab, "Sedang dalam perjalanan, Tuanku."
Hingga akhirnya, Sultan 'Ala al-Din menghembuskan nafas terakhirnya. Wasiatnya
tak pernah terlaksana.
Quthb al-Din: Antara Korban dan Penguasa
Sepeninggal Sultan 'Ala al-Din, Malik Na'ib bertindak cepat.
Ia menobatkan putra bungsu Sultan, Syihab al-Din, sebagai Sultan. Namun,
kekuasaan sesungguhnya ada di tangannya. Ia membutakan Abu Bakr Khan dan Syadi
Khan, lalu mengirim mereka ke benteng Kalbur. Di sana, ia juga memerintahkan
agar Khidr Khan, kakak mereka, dibutakan matanya. Semua putra Sultan 'Ala
al-Din dipenjara, kecuali Quthb al-Din yang untuk sama sekali tak tersentuh.
Sementara itu, Malik Na'ib menjadi sangat sombong. Dua orang
budak kepercayaan Sultan 'Ala al-Din yang setia, bernama Basyir dan Mubasyir,
dihasut oleh ibunda para pangeran. Sang ibunda mengingatkan mereka akan
kebaikan mendiang Sultan dan bagaimana Malik Na'ib telah menyiksa anak-anaknya,
serta berencana membunuh Quthb al-Din.
Kedua budak itu pun menyusun rencana. Mereka biasa tidur
berjaga di dekat Malik Na'ib dan selalu membawa senjata. Pada malam yang telah
ditentukan, saat Malik Na'ib sedang berada di rumah kayu beratap khurmakah di
atas istana, ia meminjam pedang dari salah satu dari mereka. Setelah
membolak-baliknya, ia mengembalikan pedang itu. Saat itulah, sang budak dengan
cepat mengayunkan pedangnya, diikuti oleh temannya. Malik Na'ib tewas seketika,
kepalanya dipenggal.
Kedua budak pemberani itu segera membawa kepala Malik Na'ib
ke penjara tempat Quthb al-Din ditahan. Mereka melemparkannya ke hadapannya dan
membawanya keluar. Quthb al-Din kemudian menghadap saudaranya, Sultan Syihab
al-Din. Selama beberapa hari, ia bertindak seolah-olah hanya seorang wakil
Sultan. Namun, ambisinya tak terbendung. Ia pun memakzulkan saudaranya sendiri,
memotong jarinya sebagai simbol, lalu mengirimnya ke benteng Kalbur untuk
dipenjara bersama saudara-saudara yang lain. Maka berkuasalah Quthb al-Din di
Delhi.
Akhir Tragedi di Benteng Kalbur
Kekuasaan Quthb al-Din Mubarak Syah tidak berlangsung damai.
Ia memindahkan ibu kota sementara ke Daulatabad, yang berjarak empat puluh hari
perjalanan. Jalur antara Delhi dan Daulatabad sangatlah indah, dipenuhi
pepohonan bagaikan taman, dengan pos-pos peristirahatan setiap mil. Di sanalah,
saat Quthb al-Din sedang dalam perjalanan, ia mendapat kabar adanya konspirasi.
Seorang amir berencana memberontak dan mengangkat putra kecil Khidr Khan, yang
saat itu baru berusia sekitar sepuluh tahun dan ikut serta dalam rombongan,
sebagai Sultan.
Quthb al-Din murka. Ia segera mengambil keponakannya yang
masih bocah itu, memegang kedua kakinya, lalu membantingkan kepalanya ke batu
hingga otaknya berhamburan. Kekejaman tak berhenti di situ. Ia mengirim utusan
bernama Malik Syah ke benteng Kalbur dengan perintah untuk membunuh semua
saudaranya yang dipenjara di sana.
Kisah mengerikan ini kudengar langsung dari Qadhi Zain
al-Din Mubarak, hakim di benteng tersebut. Ia bercerita, "Suatu siang,
Malik Syah tiba di Kalbur. Saat itu aku sedang bersama Khidr Khan di
penjaranya. Begitu mendengar kabar kedatangan Malik Syah, Khidr Khan pucat
pasi. Ketika Malik Syah masuk, Khidr Khan bertanya, 'Ada perlu apa engkau ke
sini?' Malik Syah menjawab, 'Aku datang untuk suatu keperluan, Khund Alam
(panggilan untuk pangeran).' 'Apakah jiwaku selamat?' tanya Khidr Khan lagi.
'Ya,' jawab Malik Syah singkat, lalu keluar."
Setelah itu, Malik Syah memanggil komandan benteng dan tiga
ratus petugas administrasi. Ia juga memanggilku dan para saksi. Perintah Sultan
Quthb al-Din dibacakan. Kemudian, mereka mendatangi Syihab al-Din, Sultan yang
pernah dimakzulkan itu. Ia dihukum pancung dengan tenang, tanpa rasa takut.
Disusul kemudian Abu Bakr Khan dan Syadi Khan.
Giliran Khidr Khan tiba. Ia sangat ketakutan dan linglung.
Ibunya, Mah Haq, yang juga ditahan bersamanya, berusaha melindunginya. Para
algojo menutup pintu di depan ibunya, menghalangi ia melihat nasib putranya.
Khidr Khan pun dibunuh. Semua jasad mereka diseret ke sebuah lubang, dikubur
tanpa dikafani dan dimandikan. Beberapa tahun kemudian, jenazah mereka
dipindahkan dan dimakamkan di pemakaman keluarga.
Ibunda Khidr Khan selamat dari peristiwa itu. Aku bahkan
sempat melihatnya di Makkah pada tahun 728 H. Adapun benteng Kalbur itu sendiri
sangatlah kokoh, terletak di puncak bukit batu yang menjulang. Di dalamnya
terdapat banyak sumber air dan sumur. Untuk memasukinya, ada jalan yang cukup
lebar untuk dilalui gajah dan kuda. Di bawahnya terbentang kota yang indah,
semuanya terbuat dari batu putih.
Penutup: Hukum Sebab Akibat
Setelah membunuh semua saudaranya, Quthb al-Din Mubarak Syah
berkuasa penuh, tanpa ada lagi yang berani menentangnya. Namun, keadilan Ilahi
berlaku. Orang kepercayaannya sendiri, amir terbesarnya, Nashir al-Din Khusraw
Khan, memberontak dan membunuhnya. Khusraw Khan pun naik tahta, meski hanya
sebentar. Allah kemudian mengirimkan Sultan Tughluq untuk menumpasnya,
mengakhiri kekuasaan dinasti Khalji dan memulai babak baru dalam sejarah Delhi.
Sungguh, kekuasaan duniawi hanyalah titipan, dan setiap perbuatan akan mendapat
balasannya.
Sumber Kisah:
Rihlah Ibnu Battutah

Komentar
Posting Komentar