Di Balik Gigihnya Penggalian Khandaq: Antara Kemunafikan, Mukjizat, dan Pengkhianatan

Pemandangan luas dari atas bukit. Di bawah, terbentang parit panjang yang baru digali memisahkan dua wilayah. Di seberang parit, terlihat perkemahan pasukan berkuda yang sangat besar dengan ratusan tenda dan kuda, terlihat dari kejauhan. Di sisi dekat parit, terlihat beberapa penjaga bersenjata tombak dan pedang yang waspada.

Perang Khandaq, atau yang juga dikenal sebagai Perang Ahzab, merupakan salah satu ujian terbesar bagi kaum Muslimin di Madinah. Saat pasukan gabungan dari berbagai kabilah Arab (Quraisy, Ghathafan, dan lainnya) berkumpul untuk memusnahkan Islam, Rasulullah dan para sahabat menggali parit di utara Madinah atas usulan cemerlang Salman Al-Farisi . Namun, di tengah hiruk-pikuk penggalian itu, tersimpan berbagai kisah yang menjadi cermin iman, mulai dari perilaku orang-orang munafik, mukjizat kenabian, hingga pengkhianatan Bani Quraizhah.

1. Orang-Orang Munafik yang Lari dari Tanggung Jawab

Di saat para mukmin yang tulus bahu-membahu memecahkan batu dan memindahkan tanah di bawah terik matahari dan dinginnya malam, orang-orang munafik justru menunjukkan wajah asli mereka. Mereka bermalas-malasan dan menyelinap pergi meninggalkan medan penggalian tanpa izin dari Rasulullah .

Berbeda dengan mereka, seorang mukmin sejati jika memiliki keperluan mendesak, ia akan meminta izin terlebih dahulu kepada Rasulullah. Setelah urusannya selesai, ia pun kembali dengan penuh semangat, mengharap kebaikan dan pahala dari Allah.

Terkait dua golongan ini—yang setia dan yang munafik—Allah menurunkan firman-Nya:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاِذَا كَانُوْا مَعَهٗ عَلٰٓى اَمْرٍ جَامِعٍ لَّمْ يَذْهَبُوْا حَتّٰى يَسْتَأْذِنُوْهُۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَأْذِنُوْنَكَ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ فَاِذَا اسْتَأْذَنُوْكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِّمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"(Yang disebut) orang-orang (yang benar-benar) mukmin hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad), dan apabila mereka berada bersama-sama dengan dia (Nabi Muhammad) dalam suatu urusan bersama, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Nabi Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nur: 62) 

Kemudian Allah memperingatkan dengan keras tentang bahaya menyelisihi perintah Rasul:

لَا تَجْعَلُوْا دُعَاۤءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاۤءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۗ قَدْ يَعْلَمُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ يَتَسَلَّلُوْنَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya). Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (QS. An-Nur: 63) 

Ayat ini turun untuk menegaskan etika kepada Rasulullah . Panggilan beliau bukanlah panggilan biasa, melainkan panggilan yang membawa ketaatan. Dan bagi mereka yang menyelinap pergi tanpa izin, ada peringatan keras akan datangnya fitnah (cobaan) di dunia atau azab pedih di akhirat.

2. Nubuat-Nubuat yang Terbukti: Cahaya dari Balik Batu

Di tengah kelelahan menggali, para sahabat dihadapkan pada sebuah batu besar putih dan keras yang sulit dipecahkan. Salman Al-Farisi segera melapor kepada Rasulullah . Beliau pun datang, mengambil beliung dari tangan Salman, lalu menghantamkan nya ke batu itu.

Dentuman pertama terdengar. Batu itu retak, dan dari pecahannya memancar cahaya berkilauan yang menerangi kedua sisi kota Madinah, seakan-akan sebuah pelita di malam yang gelap gulita. Melihat itu, Rasulullah bertakbir, dan para sahabat pun ikut bertakbir.

Hantaman kedua kembali dilakukan, dan hal serupa terjadi: cahaya kembali memancar.

Hantaman ketiga pun menyusul, dan sekali lagi cahaya terang benderang menyinari ufuk.

Para sahabat yang heran segera bertanya tentang cahaya-cahaya itu. Maka Rasulullah bersabda:

"Pada pukulan pertama, Allah memperlihatkan kepadaku istana-istana putih al-Hirah (di Irak) dan istana-istana Kisra (Persia). Jibril mengabarkan kepadaku bahwa umatku akan menaklukkannya. Pada pukulan kedua, diperlihatkan kepadaku istana-istana merah di tanah Romawi (Bizantium), dan Jibril mengabarkan bahwa umatku akan menaklukkannya. Pada pukulan ketiga, diperlihatkan kepadaku istana-istana Shan'a (Yaman), dan Jibril mengabarkan bahwa umatku akan menaklukkannya. Maka bergembiralah!" 

Mendengar kabar gembira ini, kaum muslimin pun bersuka cita dan berkata, "Ini adalah janji yang benar." Sekitar seperempat abad setelah peristiwa itu, semua nubuat tersebut terbukti. Kota-kota yang disebutkan Rasulullah satu per satu tunduk di bawah naungan Islam.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu sering berkata ketika negeri-negeri itu mulai ditaklukkan, "Taklukkanlah apa yang kalian inginkan. Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah di tangan-Nya, tidaklah kalian menaklukkan sebuah kota hingga hari kiamat, kecuali Allah telah memberikan kunci-kuncinya kepada Muhammad jauh sebelumnya!"

Bagi mereka yang meragukan kenabian, kisah ini menjadi renungan. Bisakah seseorang yang berada dalam tekanan perang, dengan rasa lapar dan takut yang mencekam, tiba-tiba mengucapkan nubuat tentang masa depan yang begitu jauh dan pasti menjadi kenyataan? Tentu tidak. Ini adalah bukti nyata bahwa beliau adalah seorang Nabi yang menerima wahyu dari langit.

3. Persiapan Perang dan Kekagetan Musuh

Setelah parit selesai, Rasulullah mengatur barisan pasukan. Beliau membawa sekitar 3.000 personil dan menunjuk Abdullah bin Ummi Maktum untuk menggantikannya di Madinah. Bendera kaum Muhajirin dipegang oleh Zaid bin Haritsah, sementara bendera kaum Anshar dipegang oleh Sa'ad bin Ubadah. Para wanita dan anak-anak ditempatkan di benteng-benteng (athom) yang kokoh.

Dari kejauhan, pasukan Quraisy yang datang dengan membawa 10.000 personil  terkejut bukan main. Mereka mengira akan menemui kaum muslimin di medan terbuka seperti Perang Uhud. Namun, di depan mata mereka terbentang sebuah parit besar yang tak pernah mereka lihat dalam strategi perang Arab. Pasukan musuh pun terpaku, hanya bisa melontarkan panah dari balik parit selama berhari-hari, tak mampu menyeberang.

4. Khianat Bani Quraizhah: Upaya Licik Huyay bin Akhtab

Di tengah kebuntuan ini, tokoh Yahudi Bani Nadhir yang terusir, Huyay bin Akhtab, melihat peluang. Ia mendatangi pemimpin Bani Quraizhah, Ka'ab bin Asad Al-Qurazhi, yang selama ini terikat perjanjian damai dengan Rasulullah .

Mendengar kedatangan Huyay, Ka'ab langsung mengunci pintu bentengnya. "Wahai Huyay, engkau adalah pembawa sial! Aku telah terikat janji dengan Muhammad, dan aku tidak akan mengkhianatinya. Aku tidak pernah melihat darinya kecuali kesetiaan dan kejujuran," seru Ka'ab. Namun, Huyay terus membujuknya dengan licik.

Huyay berkata, "Celaka engkau, wahai Ka'ab! Aku datang membawa kemuliaan zaman. Aku bawakan engkau Quraisy dengan pemimpin-pemimpinnya, dan Ghathafan dengan para pembesarnya. Mereka telah bersumpah tidak akan pergi sebelum kita membinasakan Muhammad dan pengikutnya."

Perlahan-lahan, bujuk rayu Huyay mulai merasuki hati Ka'ab. Sahabatnya, Amr bin Sa'di Al-Qurazhi, mengingatkan akan kesetiaan Rasulullah, "Jika engkau tak mau membantunya, biarkanlah dia dan musuhnya!" Namun, Huyay terus memutarbalikkan keadaan. Sampai akhirnya, sifat Yahudi yang selalu ingkar janji menguasai Ka'ab. Ia menyetujui usulan Huyay, merobek-robek perjanjian damai dengan Rasulullah , dan bersiap bergabung dengan pasukan Ahzab untuk menyerang Madinah dari dalam.

Hanya beberapa orang dari Bani Quraizhah, seperti Bani Sa'nah (Asad, Asyad, dan Tsa'labah), yang tetap teguh pada perjanjian dan keluar mendatangi Rasulullah .

Pengkhianatan inilah yang kemudian menjadi awal dari blokade total terhadap Madinah, yang akhirnya berakhir dengan datangnya pertolongan Allah melalui angin topan dan pasukan gaib yang membuat pasukan musuh porak-poranda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nizār, Rabī‘ah, Muḍar, dan Lahirnya Quraisy

Kisah Al-Ifk: Fitnah Keji yang Menimpa Aisyah, Istri Rasulullah

Ismā‘īl dan Jejak Silsilah Arab