Di Balik Gigihnya Penggalian Khandaq: Antara Kemunafikan, Mukjizat, dan Pengkhianatan
Perang Khandaq, atau yang juga dikenal sebagai Perang Ahzab, merupakan salah satu ujian terbesar bagi kaum Muslimin di Madinah. Saat pasukan gabungan dari berbagai kabilah Arab (Quraisy, Ghathafan, dan lainnya) berkumpul untuk memusnahkan Islam, Rasulullah ﷺ dan para sahabat menggali parit di utara Madinah atas usulan cemerlang Salman Al-Farisi . Namun, di tengah hiruk-pikuk penggalian itu, tersimpan berbagai kisah yang menjadi cermin iman, mulai dari perilaku orang-orang munafik, mukjizat kenabian, hingga pengkhianatan Bani Quraizhah.
1. Orang-Orang Munafik yang Lari dari Tanggung Jawab
Di saat para mukmin yang tulus bahu-membahu memecahkan batu
dan memindahkan tanah di bawah terik matahari dan dinginnya malam, orang-orang
munafik justru menunjukkan wajah asli mereka. Mereka bermalas-malasan dan
menyelinap pergi meninggalkan medan penggalian tanpa izin dari Rasulullah ﷺ.
Berbeda dengan mereka, seorang mukmin sejati jika memiliki
keperluan mendesak, ia akan meminta izin terlebih dahulu kepada Rasulullah.
Setelah urusannya selesai, ia pun kembali dengan penuh semangat, mengharap
kebaikan dan pahala dari Allah.
Terkait dua golongan ini—yang setia dan yang munafik—Allah ﷻ
menurunkan firman-Nya:
اِنَّمَا
الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاِذَا كَانُوْا
مَعَهٗ عَلٰٓى اَمْرٍ جَامِعٍ لَّمْ يَذْهَبُوْا حَتّٰى يَسْتَأْذِنُوْهُۗ اِنَّ
الَّذِيْنَ يَسْتَأْذِنُوْنَكَ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ
وَرَسُوْلِهٖۚ فَاِذَا اسْتَأْذَنُوْكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِّمَنْ
شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"(Yang disebut) orang-orang (yang benar-benar) mukmin
hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad),
dan apabila mereka berada bersama-sama dengan dia (Nabi Muhammad) dalam suatu
urusan bersama, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin
kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Nabi Muhammad),
mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya. Maka, apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan,
berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka dan
mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nur: 62)
Kemudian Allah memperingatkan dengan keras tentang bahaya
menyelisihi perintah Rasul:
لَا
تَجْعَلُوْا دُعَاۤءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاۤءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۗ
قَدْ يَعْلَمُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ يَتَسَلَّلُوْنَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ
فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ
اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu
seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah
telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan
berlindung (kepada kawannya). Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi
perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (QS.
An-Nur: 63)
Ayat ini turun untuk menegaskan etika kepada Rasulullah ﷺ.
Panggilan beliau bukanlah panggilan biasa, melainkan panggilan yang membawa
ketaatan. Dan bagi mereka yang menyelinap pergi tanpa izin, ada peringatan
keras akan datangnya fitnah (cobaan) di dunia atau azab pedih di akhirat.
2. Nubuat-Nubuat yang Terbukti: Cahaya dari Balik Batu
Di tengah kelelahan menggali, para sahabat dihadapkan pada
sebuah batu besar putih dan keras yang sulit dipecahkan. Salman Al-Farisi
segera melapor kepada Rasulullah ﷺ. Beliau pun datang, mengambil beliung dari tangan Salman, lalu
menghantamkan nya ke batu itu.
Dentuman pertama terdengar. Batu itu retak, dan
dari pecahannya memancar cahaya berkilauan yang menerangi kedua sisi kota
Madinah, seakan-akan sebuah pelita di malam yang gelap gulita. Melihat itu,
Rasulullah ﷺ
bertakbir, dan para sahabat pun ikut bertakbir.
Hantaman kedua kembali dilakukan, dan hal serupa
terjadi: cahaya kembali memancar.
Hantaman ketiga pun menyusul, dan sekali lagi
cahaya terang benderang menyinari ufuk.
Para sahabat yang heran segera bertanya tentang
cahaya-cahaya itu. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
"Pada pukulan pertama, Allah memperlihatkan kepadaku
istana-istana putih al-Hirah (di Irak) dan istana-istana Kisra (Persia). Jibril
mengabarkan kepadaku bahwa umatku akan menaklukkannya. Pada pukulan kedua,
diperlihatkan kepadaku istana-istana merah di tanah Romawi (Bizantium), dan
Jibril mengabarkan bahwa umatku akan menaklukkannya. Pada pukulan ketiga,
diperlihatkan kepadaku istana-istana Shan'a (Yaman), dan Jibril mengabarkan
bahwa umatku akan menaklukkannya. Maka bergembiralah!"
Mendengar kabar gembira ini, kaum muslimin pun bersuka cita
dan berkata, "Ini adalah janji yang benar." Sekitar seperempat abad
setelah peristiwa itu, semua nubuat tersebut terbukti. Kota-kota yang
disebutkan Rasulullah ﷺ
satu per satu tunduk di bawah naungan Islam.
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu sering berkata ketika
negeri-negeri itu mulai ditaklukkan, "Taklukkanlah apa yang kalian
inginkan. Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah di tangan-Nya, tidaklah kalian
menaklukkan sebuah kota hingga hari kiamat, kecuali Allah telah memberikan
kunci-kuncinya kepada Muhammad ﷺ jauh sebelumnya!"
Bagi mereka yang meragukan kenabian, kisah ini menjadi
renungan. Bisakah seseorang yang berada dalam tekanan perang, dengan rasa lapar
dan takut yang mencekam, tiba-tiba mengucapkan nubuat tentang masa depan yang
begitu jauh dan pasti menjadi kenyataan? Tentu tidak. Ini adalah bukti nyata
bahwa beliau adalah seorang Nabi yang menerima wahyu dari langit.
3. Persiapan Perang dan Kekagetan Musuh
Setelah parit selesai, Rasulullah ﷺ mengatur barisan pasukan. Beliau membawa
sekitar 3.000 personil dan menunjuk Abdullah bin Ummi Maktum untuk
menggantikannya di Madinah. Bendera kaum Muhajirin dipegang oleh Zaid bin
Haritsah, sementara bendera kaum Anshar dipegang oleh Sa'ad bin Ubadah. Para
wanita dan anak-anak ditempatkan di benteng-benteng (athom) yang kokoh.
Dari kejauhan, pasukan Quraisy yang datang dengan membawa
10.000 personil terkejut bukan main. Mereka mengira akan menemui
kaum muslimin di medan terbuka seperti Perang Uhud. Namun, di depan mata mereka
terbentang sebuah parit besar yang tak pernah mereka lihat dalam strategi
perang Arab. Pasukan musuh pun terpaku, hanya bisa melontarkan panah dari balik
parit selama berhari-hari, tak mampu menyeberang.
4. Khianat Bani Quraizhah: Upaya Licik Huyay bin Akhtab
Di tengah kebuntuan ini, tokoh Yahudi Bani Nadhir yang
terusir, Huyay bin Akhtab, melihat peluang. Ia mendatangi pemimpin Bani
Quraizhah, Ka'ab bin Asad Al-Qurazhi, yang selama ini terikat perjanjian damai
dengan Rasulullah ﷺ.
Mendengar kedatangan Huyay, Ka'ab langsung mengunci pintu
bentengnya. "Wahai Huyay, engkau adalah pembawa sial! Aku telah terikat
janji dengan Muhammad, dan aku tidak akan mengkhianatinya. Aku tidak pernah
melihat darinya kecuali kesetiaan dan kejujuran," seru Ka'ab. Namun, Huyay
terus membujuknya dengan licik.
Huyay berkata, "Celaka engkau, wahai Ka'ab! Aku datang
membawa kemuliaan zaman. Aku bawakan engkau Quraisy dengan
pemimpin-pemimpinnya, dan Ghathafan dengan para pembesarnya. Mereka telah
bersumpah tidak akan pergi sebelum kita membinasakan Muhammad dan
pengikutnya."
Perlahan-lahan, bujuk rayu Huyay mulai merasuki hati Ka'ab.
Sahabatnya, Amr bin Sa'di Al-Qurazhi, mengingatkan akan kesetiaan Rasulullah,
"Jika engkau tak mau membantunya, biarkanlah dia dan musuhnya!"
Namun, Huyay terus memutarbalikkan keadaan. Sampai akhirnya, sifat Yahudi yang
selalu ingkar janji menguasai Ka'ab. Ia menyetujui usulan Huyay, merobek-robek
perjanjian damai dengan Rasulullah ﷺ, dan bersiap bergabung dengan pasukan Ahzab untuk menyerang
Madinah dari dalam.
Hanya beberapa orang dari Bani Quraizhah, seperti Bani
Sa'nah (Asad, Asyad, dan Tsa'labah), yang tetap teguh pada perjanjian dan
keluar mendatangi Rasulullah ﷺ.
Pengkhianatan inilah yang kemudian menjadi awal dari blokade
total terhadap Madinah, yang akhirnya berakhir dengan datangnya pertolongan
Allah melalui angin topan dan pasukan gaib yang membuat pasukan musuh
porak-poranda.

Komentar
Posting Komentar