Detik-Detik Genting di Balik Parit: Ketika Iman Diuji dan Keberanian Berbicara

Pemandangan malam yang mencekam di padang pasir berbatu. Sekelompok pria berseragam sederhana sedang berdoa dengan khusyuk, menghadap kiblat dengan tangan terangkat. Ekspresi wajah mereka campuran antara ketakutan dan harap yang mendalam. Di kejauhan, terlihat ribuan titik api dari perkemahan pasukan musuh yang mengepung dari segala arah, menciptakan suasana terkepung.

Perang Khandaq memasuki babak yang paling menegangkan. Kabar pengkhianatan Bani Quraizhah sudah sampai, namun Rasulullah tak langsung bertindak. Beliau mengutus para pemimpin terbaik untuk memastikan kebenaran berita. Di saat yang sama, ujian berat menerpa kaum muslimin, orang-orang munafik mulai menunjukkan wajah asli mereka, dan para kesatria Quraisy nekat menerobos parit, menantang duel. Inilah kisah tentang kecerdasan intelijen, keguncangan jiwa, dan keperkasaan seorang pahlawan.

Misi Intelijen: Mengendus Kabar Pengkhianatan

Saat berita mengejutkan tentang kemungkinan Bani Quraizhah mengkhianati perjanjian sampai ke telinga Rasulullah , beliau tidak serta-merta mempercayainya. Dengan penuh kehati-hatian, beliau membentuk sebuah tim intelijen kecil yang terdiri dari tokoh-tokoh besar: Sa'ad bin Mu'adz, pemimpin Aus; Sa'ad bin 'Ubadah, pemimpin Khazraj; ditemani oleh 'Abdullah bin Rawahah dan Khawwat bin Jubair.

Rasulullah berpesan kepada mereka dengan instruksi yang sangat teliti:

"Pergilah kalian, temui kaum itu (Bani Quraizhah). Lihatlah dan pastikan, benarkah berita yang sampai kepada kami tentang mereka? Jika berita itu benar, maka sampaikanlah kepadaku dengan kata-kata sindiran (al-lahn) yang bisa aku pahami. Jangan sampai kalian membuat gentar hati kaum muslimin. Namun, jika mereka masih tetap setia pada perjanjian, maka umumkanlah terang-terangan kepada manusia."

Misi pun dimulai. Keempat sahabat ini berangkat menuju perkampungan Bani Quraizhah. Sesampainya di sana, mereka mendapati kenyataan pahit: berita itu benar. Bahkan, Bani Quraizhah mulai berani mencela dan melontarkan kata-kata kasar kepada Rasulullah di hadapan para utusan.

Mendengar celaan itu, Sa'ad bin Mu'adz tidak dapat menahan diri dan mulai memaki balik mereka. Pertengkaran mulut pun tak terhindarkan. Melihat hal itu, Sa'ad bin 'Ubadah menenangkan, "Tinggalkanlah pertengkaran dengan mereka. Urusan kita dengan mereka lebih besar dari sekadar adu mulut."

Mereka pun segera kembali ke markas muslimin. Sesuai pesan Rasul, mereka menyampaikan berita itu dengan sindiran. Mereka berkata, "(Pengkhianatan itu seperti) 'Adhal dan al-Qarah." Ungkapan ini adalah kiasan yang sangat dipahami orang Arab saat itu, merujuk pada pengkhianatan suku 'Adhal dan al-Qarah terhadap utusan Rasulullah dalam peristiwa Bi'rul Ma'unah. Artinya, Bani Quraizhah telah berkhianat seperti mereka.

Mendengar kabar sindiran itu, Rasulullah pun berseru, "Allahu Akbar! Bergembiralah, wahai kaum muslimin!" Namun, setelah itu beliau menutup wajahnya dengan kain, lalu berbaring cukup lama. Para sahabat yang melihatnya paham, pasti ada berita buruk yang beliau terima tentang Bani Quraizhah. Beberapa saat kemudian, beliau mengangkat kepala dan bersabda, "Bergembiralah dengan pertolongan Allah dan kemenangan-Nya."

Puncak Kesulitan: Ketika Mata Melirik dan Jantung Hampir Sampai di Kerongkongan

Ujian yang menimpa kaum muslimin kala itu sungguh luar biasa beratnya. Musuh datang dari dua arah: dari atas (pasukan Quraisy dan Ghathafan di luar parit) dan dari bawah (ancaman Bani Quraizhah yang mengintai dari dalam kota). Pikiran manusia menjadi beragam, dipenuhi prasangka dan kekhawatiran.

Bagi para mukmin yang tulus, kondisi ini justru menambah keimanan mereka. Mereka yakin, bahwa janji pertolongan Allah pasti akan datang. Namun, bagi orang-orang munafik dan mereka yang lemah iman, kondisi ini membuka tabir hati mereka yang busuk.

Sebagian dari mereka berkata dengan sinis, "Muhammad dulu menjanjikan kepada kita harta karun Kisra dan Kaisar, tapi sekarang siapa di antara kita yang tidak bisa menjamin keselamatan dirinya sendiri bahkan saat hendak ke kakus?!" Ada pula yang berniat kembali ke kota, beralasan rumah mereka terbuka dan tidak terjaga, lalu meminta izin kepada Nabi dan benar-benar pergi meninggalkan medan jihad.

Tidak ada gambaran yang lebih dahsyat untuk melukiskan kondisi ini selain firman Allah dalam Surah Al-Ahzab:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَاۤءَتْكُمْ جُنُوْدٌ فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيْحًا وَّجُنُوْدًا لَّمْ تَرَوْهَا ۗوَكَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًا ۩

"Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah (yang telah diberikan) kepadamu ketika bala tentara (bergabung) datang kepadamu, lalu Kami mengirimkan angin topan dan bala tentara yang tidak terlihat olehmu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

اِذْ جَاۤءُوْكُمْ مِّنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ اَسْفَلَ مِنْكُمْ وَاِذْ زَاغَتِ الْاَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوْبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ الظُّنُوْنَا ۛ

"(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke kerongkongan serta kamu berprasangka (bermacam-macam) terhadap Allah."

هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُوْنَ وَزُلْزِلُوْا زِلْزَالًا شَدِيْدًا ۛ

"Di situlah diuji orang-orang mukmin dan diguncangkan (hatinya) dengan guncangan yang dahsyat."

وَاِذْ يَقُوْلُ الْمُنٰفِقُوْنَ وَالَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اِلَّا غُرُوْرًا ۩

"Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya berpenyakit berkata, "Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami selain tipuan." (QS. Al-Ahzab: 9-12)

Menyikapi situasi genting ini, dengan adanya pengkhianatan Bani Quraizhah, Rasulullah terpaksa membagi kekuatan. Beliau mengirim Muslamah bin Aslam dengan 200 orang, dan Zaid bin Haritsah dengan 300 orang untuk menjaga kota Madinah dari serangan mendadak Yahudi. Akibatnya, jumlah pasukan yang bertahan di garis depan parit semakin menipis, diperparah dengan mundurnya orang-orang munafik.

Penyerbuan di Titik Sempit dan Duel Legendaris

Melihat parit tak kunjung bisa dilewati, situasi mulai membuat beberapa kesatria Quraisy frustrasi. Mereka mencari titik tersempit di parit itu, memaksa kuda-kuda mereka untuk menerobos masuk. Akhirnya mereka berhasil menyeberang di sebuah tanah lapang yang keras di antara parit dan bukit Sala'. Di antara para penyerbu itu adalah panglima terhebat Quraisy yang selama ini tak pernah hadir di medan perang: Amr bin Abd Wudd, bersama 'Ikrimah bin Abu Jahal, dan Dhirar bin Al-Khattab.

Melihat pasukan berkuda musuh berhasil masuk, 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu segera bergerak cepat bersama sekelompok muslimin. Mereka mengambil posisi di celah yang sama, memotong jalan masuk dan keluar para penyerbu.

Amr bin Abd Wudd adalah seorang pendekar yang terkenal sangat perkasa. Ia pernah terluka parah di Perang Badar sehingga absen dalam Perang Uhud. Kini, di Perang Khandaq, ia datang dengan tanda khusus di tubuhnya agar mudah dikenali. Begitu berhasil menyeberang, ia berteriak menantang duel, "Siapa yang berani maju?"

Maka majulah 'Ali bin Abi Thalib menghadapinya. 'Ali berkata, "Wahai Amr, bukankah engkau dulu pernah berjanji kepada Allah, bahwa tidak ada seorang Quraisy pun yang menawarkan dua pilihan kepadamu, melainkan akan kau terima salah satunya?"

Amr menjawab, "Benar."

'Ali berkata, "Kalau begitu, aku menawarkan kepadamu: (bersyahadat) kepada Allah, Rasul-Nya, dan Islam."

Amr menolak, "Aku tidak butuh itu."

'Ali berkata lagi, "Kalau begitu, aku menantangmu berduel."

Amr berkata, "Wahai anak saudaraku, demi Allah, aku tidak ingin membunuhmu."

Mendengar itu, 'Ali menjawab dengan tegas, "Tapi aku, demi Allah, sangat ingin membunuhmu!"

Kata-kata 'Ali itu membuat Amr tersulut amarahnya. Ia turun dari kudanya, memotong urat kaki kudanya (agar tidak lari), lalu mencambuki wajah kuda itu. Kemudian ia berjalan menghadapi 'Ali. Keduanya pun bertarung sengit. Beberapa saat kemudian, 'Ali berhasil membunuh Amr bin Abd Wudd. Melihat pemimpin mereka tewas, pasukan berkuda Quraisy lainnya lari tunggang langgang menerobos parit.

Ada juga Naufal bin Abdullah bin Al-Mughirah yang berusaha menyeberang saat matahari terbenam. Ia dan kudanya terjatuh ke dalam parit dan tewas di tempat.

Abu Sufyan bin Harb mengirim utusan untuk menebus jasad Naufal dengan seratus ekor unta. Namun Rasulullah menolak tebusan itu dengan tegas, "Biarkan saja dia. Sesungguhnya dia itu najis, dan tebusannya pun najis. Kami tidak mau memakan harga orang-orang mati."

Di hari yang sama, Sa'ad bin Mu'adz terkena panah hingga putus urat tangannya. Luka ini kelak menjadi sebab kesyahidannya. Sementara itu, baku tembak panah terus berlangsung seharian penuh. Rasulullah sendiri menempatkan para penjaga di sepanjang parit, dan beliau turut menjaga salah satu celah yang rawan diterobos, meskipun malam itu terasa sangat dingin.

Negosiasi di Ujung Tombak: Keteguhan Hati Para Anshar

Melihat situasi yang kian pelik, Rasulullah berupaya melakukan manuver politik untuk memecah belah pasukan musuh (Ahzab). Beliau mengirim utusan kepada 'Uyainah bin Hishn dan Al-Harits bin 'Auf Al-Murri, dua pemimpin Bani Ghathafan. Beliau menawarkan negosiasi: sepertiga hasil kurma Madinah akan diberikan kepada mereka, asalkan mereka bersedia menarik pasukan dan pulang.

Tawaran itu disambut baik oleh kedua pemimpin Ghathafan. Namun Rasulullah tidak akan memutuskan perkara sebesar ini tanpa musyawarah dengan para pemuka sahabat, terutama dari kalangan Anshar yang merupakan "pemilik" kebun kurma itu.

Beliau memanggil Sa'ad bin Mu'adz dan Sa'ad bin 'Ubadah. Beliau menceritakan tawaran yang telah disampaikan kepada Ghathafan.

Sa'ad bin Mu'adz bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah ini sesuatu yang engkau inginkan dan kami harus melaksanakannya? Atau ini perintah Allah yang harus kami kerjakan? Atau ini sesuatu yang engkau lakukan untuk (membela) kami?"

Rasulullah menjawab, "Ini adalah sesuatu yang aku lakukan untuk kalian. Demi Allah, aku melakukan ini tidak lain karena aku melihat bangsa Arab telah memanah kalian dari satu busur, dan mereka telah mengeroyok kalian dari segala penjuru. Aku ingin mematahkan kekuatan mereka dengan cara ini."

Maka dengan penuh semangat keimanan, Sa'ad bin Mu'adz berkata, "Wahai Rasulullah, dahulu kami dan kaum ini sama-sama musyrik, menyembah berhala, tidak menyembah Allah dan tidak mengenal-Nya. Namun mereka tidak pernah berani memakan buah kurma kami setangkai pun, kecuali dengan cara membeli atau sebagai tamu. Apakah setelah Allah memuliakan kami dengan Islam, memberi kami petunjuk, dan menjadikan kami mulia bersamamu, kami malah akan memberikan harta kami kepada mereka?!"

Dengan tegas ia melanjutkan, "Demi Allah, kami tidak butuh tawaran ini. Demi Allah, kami tidak akan memberikan mereka kecuali pedang, sampai Allah memutuskan perkara antara kami dan mereka."

Mendengar jawaban penuh keyakinan itu, Rasulullah pun bersabda, "Terserah engkau. (Aku setuju dengan pendapatmu)."

Sebagian sejarawan berpendapat bahwa tawaran Rasulullah ini bukan sekadar negosiasi biasa, melainkan juga untuk menguji sejauh mana kedalaman iman dan kesiapan para sahabat Anshar dalam membela agama. Dan ujian itu pun berhasil dilalui dengan gemilang. Mereka menunjukkan bahwa bahaya dan ketakutan justru semakin menambah keimanan dan keteguhan mereka

Sumber Kisah:
Sirah Nabawiyah fi Dhau`il Qur'an was Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Al-Ifk: Fitnah Keji yang Menimpa Aisyah, Istri Rasulullah

Ismā‘īl dan Jejak Silsilah Arab

Fitnah Besar yang Berakhir dengan Kemuliaan: Kisah Al-Ifk