Bai'atur Ridwan: Ketika Allah Meridhai Para Mukmin di Bawah Pohon
Perjalanan menuju umrah kali ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Quraisy yang keras kepala tetap bersikeras menghalangi rombongan kaum Muslimin untuk memasuki Mekah. Namun di balik kebuntuan ini, Allah menyimpan sebuah kejutan besar yang akan menjadi titik balik sejarah. Sebuah baiat (janji setia) yang membuat Allah sendiri meridhai mereka, dan sebuah perjanjian damai yang oleh para sejarawan disebut sebagai Al-Fathul Mubin (Kemenangan yang Nyata).
Kabar yang Menggetarkan: Utsman Diduga Dibunuh
Saat utusan Rasulullah, Utsman bin Affan, tertahan di Mekah
lebih lama dari perkiraan, tersiar kabar yang menghentak seluruh pasukan:
Utsman telah dibunuh Quraisy! Kabar ini bagaikan petir di siang bolong. Darah
para sahabat mendidih. Rasulullah ﷺ yang mendengar kabar ini bersabda dengan tegas:
"Kita tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum
kita memerangi kaum itu."
Baiat di Bawah Pohon Samurah
Seruan untuk berperang pun dikumandangkan. Rasulullah ﷺ
mengajak para sahabat untuk berbaiat (berjanji setia) di bawah sebuah pohon
Samurah yang rindang. Suasana haru dan penuh tekad menyelimuti tempat itu.
Sebagian sahabat berbaiat untuk mati syahid, sebagian lagi berjanji tidak akan
lari dari medan pertempuran. Hanya satu orang yang bersembunyi di balik perut
untanya untuk menghindari baiat, yaitu Al-Jadd bin Qais, seorang munafik.
Orang pertama yang mengulurkan tangan untuk berbaiat adalah
Abu Sinan Wahb bin Muhsin, saudara dari Ukasyah bin Muhsin. Setelah seluruh
sahabat yang hadir menyelesaikan baiat mereka, Rasulullah ﷺ meletakkan satu
tangannya di atas tangan yang lain seraya bersabda:
"Dan ini (baiat) untuk Utsman."
Demikianlah, tangan Rasulullah ﷺ untuk Utsman lebih baik daripada tangan
Utsman untuk dirinya sendiri. Baiat yang bersejarah ini kemudian dikenal
sebagai Bai'atur Ridwan (Baiat Keridhaan), karena Allah
sendiri memuji mereka dalam firman-Nya:
لَقَدْ
رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ
فَتْحًا قَرِيبًا
"Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika
mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa
yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan
memberi balasan dengan kemenangan yang dekat." (QS. Al-Fath: 18)
Kemenangan dekat yang dimaksud dalam ayat ini adalah
Perjanjian Hudaibiyah itu sendiri. Kini kaum Muslimin dalam keadaan siap
tempur, menanti saat kemenangan atau syahid dengan hati yang ridha dan tenang.
Kembalinya Utsman dan Usaha Provokasi Quraisy
Saat mereka bersiap untuk bertempur, tiba-tiba tersiar kabar
bahwa Utsman ternyata tidak dibunuh. Tak lama kemudian, Utsman pun kembali
dengan selamat. Allah menyelamatkan kaum mukminin dari peperangan dan
mengabulkan keinginan mereka akan kedamaian.
Namun Quraisy belum habis akal. Mereka mengirim sekitar lima
puluh orang pasukan di bawah pimpinan Mikraz bin Hafsz untuk mengitari
perkemahan kaum Muslimin, mencari celah untuk menyerang. Tetapi penjaga pasukan
Muslimin, Muhammad bin Maslamah, berhasil menangkap mereka semua. Hanya
pemimpinnya yang melarikan diri. Para tawanan dibawa ke hadapan Rasulullah ﷺ,
dan beliau memaafkan mereka. Sikap ini menunjukkan komitmen beliau pada
perdamaian dan penghormatan terhadap bulan suci di mana pertumpahan darah
dilarang.
Quraisy pun tercengang. Semua alasan mereka bahwa Nabi ingin
berperang gugur sudah. Mereka sadar bahwa jika mereka menyerang kaum Muslimin,
orang-orang Arab akan memandangnya sebagai pengkhianatan keji, sementara kaum
Muslimin berhak penuh untuk mempertahankan diri. Tentang peristiwa ini, Allah
berfirman:
وَهُوَ
الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ
مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ
بَصِيرًا
"Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari
(membinasakan) kamu dan menahan tangan kamu dari (membinasakan) mereka di
tengah (kota) Mekah setelah Allah memenangkan kamu atas mereka. Dan Allah Maha
Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Fath: 24)
Utusan Damai: Suhail bin Amr
Quraisy akhirnya berpikir serius untuk berdamai. Mereka
mengirim Suhail bin Amr sebagai utusan, dengan pesan tegas: "Temui
Muhammad dan adakan perjanjian damai dengannya. Syaratnya, ia harus kembali
tahun ini. Jangan sampai orang-orang Arab berkata bahwa ia memasuki kota kita
dengan paksa."
Begitu melihat Suhail datang, Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sungguh, urusan kalian telah dimudahkan." (kata 'Suhail' dalam
bahasa Arab dekat dengan kata 'sahl' yang berarti mudah). Terjadilah negosiasi
panjang antara Suhail dan Rasulullah ﷺ, hingga akhirnya tercapai kesepakatan yang dituangkan dalam
sebuah perjanjian.
Isi Perjanjian Hudaibiyah
Perjanjian yang disepakati berisi poin-poin penting berikut:
Pertama, gencatan senjata antara kaum Muslimin dan
Quraisy selama sepuluh tahun. Manusia akan hidup aman dan saling menahan diri.
Tidak ada pencurian, tidak ada pengkhianatan.
Kedua, siapa pun dari Quraisy yang datang kepada
Muhammad tanpa izin walinya, akan dikembalikan. Sebaliknya, siapa pun dari
pengikut Muhammad yang kembali ke Quraisy, tidak akan dikembalikan.
Ketiga, siapa pun boleh masuk ke dalam perjanjian dan
perlindungan Muhammad, dan siapa pun boleh masuk ke dalam perjanjian dan
perlindungan Quraisy. Maka Khuza'ah memilih bergabung dengan Rasulullah,
sementara Bani Bakr memilih bergabung dengan Quraisy.
Keempat, Rasulullah dan para sahabatnya harus kembali
tahun ini tanpa melakukan umrah. Tahun depan, mereka diizinkan masuk ke Mekah
selama tiga hari, dengan hanya membawa pedang dalam sarungnya.
Rasulullah ﷺ
menerima syarat-syarat ini, meskipun sepintas terlihat merugikan kaum Muslimin.
Namun beliau bertindak berdasarkan perintah dan ilham dari Allah, karena beliau
sangat menginginkan perdamaian dan penghormatan terhadap kesucian Baitullah.
Reaksi Para Sahabat: Antara Pasrah dan Protes
Para sahabat terbelah dalam menyikapi syarat-syarat ini. Abu
Bakar Ash-Shiddiq langsung menerima dan memahami keputusan Rasulullah. Namun
sebagian lain, terutama pasal kedua yang mewajibkan pengembalian kaum muslimin
yang hijrah ke Madinah, dirasa sangat berat. Mereka bertanya,
"Subhanallah, bagaimana mungkin kita mengembalikan orang yang datang dalam
keadaan muslim, sementara mereka tidak mengembalikan orang yang murtad kepada
kita?"
Rasulullah ﷺ
menjawab dengan bijaksana:
"Barangsiapa dari kita yang pergi kepada mereka,
semoga Allah menjauhkannya. Dan barangsiapa dari mereka yang datang kepada kita
lalu kita kembalikan, kelak Allah akan memberikan jalan keluar dan solusi
baginya."
Umar bin Khattab, dengan karakternya yang tegas, merasa
keberatan. Ia mendatangi Abu Bakar dan bertanya, "Wahai Abu Bakar,
bukankah dia utusan Allah?" Abu Bakar menjawab, "Ya."
"Bukankah kita ini orang muslim?" "Ya." "Bukankah
mereka orang musyrik?" "Ya." "Lalu mengapa kita menerima
penghinaan dalam agama kita?" Abu Bakar menasihati, "Wahai Umar,
tetaplah ikuti jejaknya. Aku bersaksi bahwa dia utusan Allah."
Umar yang masih merasa ragu lalu mendatangi Rasulullah
langsung dengan pertanyaan serupa. Rasulullah menjawab dengan tegas, "Aku
hamba Allah dan utusan-Nya, aku tidak akan melanggar perintah-Nya, dan Dia
tidak akan menyia-nyiakan aku." Umar pun pasrah, menunggu apa yang akan
terjadi di kemudian hari.
Umar sendiri kemudian merasa cemas dengan sikapnya saat itu.
Ia berkata, "Aku terus berpuasa, bersedekah, salat, dan memerdekakan budak
karena tindakanku hari itu, hingga aku berharap semuanya menjadi
kebaikan." Dalam Shahih Bukhari, Umar berkata, "Aku melakukan banyak
amal (kebaikan) karenanya."
Mimpi Rasulullah yang Belum Tergenang
Ada pula ganjalan di hati sebagian sahabat terkait mimpi
Rasulullah ﷺ
bahwa mereka akan memasuki Masjidil Haram. Mereka mengira itu akan terjadi
tahun ini. Ketika kenyataannya mereka harus kembali, mereka merasa sedih. Umar
bertanya kepada Rasulullah tentang hal ini, dan beliau menjawab, "Apakah
aku pernah mengatakan kepadamu bahwa itu tahun ini?" Umar menjawab,
"Tidak." "Sungguh, engkau akan memasukinya dan akan bertawaf di
sana."
Penulisan Perjanjian: Perdebatan Gelar Kenabian
Rasulullah ﷺ
memanggil Ali bin Abi Thalib untuk menuliskan perjanjian. Beliau mendiktekan,
"Tulislah: Bismillahirrahmanirrahim." Suhail langsung memotong,
"Aku tidak tahu ar-Rahman itu apa. Tulis saja: Dengan nama-Mu ya
Allah." Kaum Muslimin keberatan, tapi Rasulullah ﷺ bersabda, "Tulislah: Dengan nama-Mu
ya Allah."
Kemudian beliau melanjutkan, "Tulislah: Inilah yang
diperjanjikan oleh Muhammad Utusan Allah dengan Suhail bin Amr." Suhail
kembali memprotes, "Demi Allah, seandainya kami mengakui engkau utusan
Allah, kami tidak akan menghalangimu dari Baitullah dan tidak akan memerangimu.
Tulis saja nama dan nama ayahmu."
Rasulullah ﷺ
bersabda, "Demi Allah, sungguh aku ini utusan Allah meskipun kalian
mendustakanku." Lalu beliau memerintahkan Ali untuk menghapus tulisan itu
dan menulis "Muhammad bin Abdullah". Ali enggan karena rasa
hormatnya, maka Rasulullah sendiri mengambil lembaran itu dan menghapusnya,
kemudian menulis "Muhammad bin Abdullah". Padahal beliau tidak bisa
menulis. Ini adalah mukjizat tersendiri.
Perjanjian ini disaksikan oleh para sahabat: Abu Bakar,
Umar, Ali, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Suhail bin Amr (putra Suhail
sendiri), Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Mahmud bin Maslamah. Dari pihak musyrikin,
disaksikan oleh Huwaithib bin Abdul Uzza dan Mikraz bin Hafsh. Dua naskah
perjanjian dibuat: satu untuk Nabi dan satu untuk Quraisy.
Renungan: Teladan dalam Perdamaian
Peristiwa ini menunjukkan betapa sabar dan besarnya jiwa
Rasulullah ﷺ.
Beliau rela mengalah demi tercapainya perdamaian, meskipun harus mengorbankan
gelar dan sebagian hak. Jika beliau mengikuti keinginan sebagian sahabat atau
hawa nafsunya sendiri, perjanjian ini tidak akan terwujud. Ini membuktikan
bahwa beliau adalah nabi yang menerima wahyu, dengan jiwa yang jauh lebih
tinggi dari ambisi duniawi dan gelar kebesaran. Semua ini demi memenuhi
janjinya: "Demi Allah, tidaklah mereka memintaku suatu rencana
yang di dalamnya mereka mengagungkan hal-hal yang diharamkan Allah, melainkan
akan aku penuhi."
Apa yang terjadi dalam Perjanjian Hudaibiyah seharusnya
menjadi teladan bagi para pemimpin di dunia yang kini dilanda kekacauan. Betapa
banyak konferensi dan pertemuan demi perdamaian digelar, namun berakhir tanpa
hasil? Sungguh, jejak Rasulullah adalah solusi.
Tragedi Abu Jandal: Antara Janji dan Air Mata
Di tengah penulisan perjanjian, tiba-tiba muncullah Abu
Jandal bin Suhail bin Amr. Ia datang dengan terhuyung-huyung, masih terbebat
rantai besi. Ia telah masuk Islam dan berhasil melarikan diri dari penjara
ayahnya sendiri. Suhail, ayahnya, langsung bangkit, memukul wajahnya, dan
menarik kerah bajunya seraya berkata, "Wahai Muhammad, ini orang pertama
yang harus engkau kembalikan kepadaku sesuai perjanjian yang baru saja kita
buat!"
Rasulullah ﷺ
berkata, "Kita belum selesai menulis perjanjian." Suhail bersikeras,
"Demi Allah, jika demikian, aku tidak akan pernah berdamai denganmu."
Rasulullah ﷺ
memohon, "Berikan dia untukku." Suhail menolak.
Abu Jandal berteriak di hadapan kaum Muslimin, "Wahai
kaum Muslimin, apakah aku akan dikembalikan kepada kaum musyrikin padahal aku
datang dalam keadaan muslim? Tidakkah kalian lihat penderitaanku?" Rasa
sedih semakin menyelimuti mereka. Rasulullah ﷺ hanya bisa menenangkannya, "Wahai Abu
Jandal, bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah. Sungguh, Allah akan
memberikan jalan keluar bagimu dan bagi mereka yang tertindas bersamamu. Kita
telah mengikat perjanjian dengan mereka, dan kita tidak boleh berkhianat."
Unta Kurban dan Hikmah Ummu Salamah
Setelah perjanjian selesai, Rasulullah ﷺ memerintahkan para
sahabat, "Berdirilah, sembelihlah hewan kurban kalian, lalu cukurlah
rambut." Beliau mengucapkannya hingga tiga kali, namun tak satu pun
sahabat bergerak. Kesedihan yang mendalam membuat mereka seperti lumpuh.
Rasulullah ﷺ
masuk ke kemah istrinya, Ummu Salamah, yang saat itu ikut serta karena undian
memenangkannya untuk mendampingi beliau. Beliau menceritakan sikap para
sahabat. Ummu Salamah, yang dikenal cerdas, berkata, "Wahai Nabi Allah,
keluarlah dan jangan berbicara sepatah kata pun kepada mereka, sampai engkau
menyembelih untamu dan memanggil tukang cukur untuk mencukur rambutmu."
Rasulullah ﷺ
melakukan persis seperti saran itu. Begitu para sahabat melihat beliau
melakukannya, mereka serentak bangkit, menyembelih hewan kurban mereka, dan
bergantian bercukur atau bergunting. Rasulullah ﷺ lalu mendoakan, "Semoga Allah
merahmati mereka yang bercukur." Para sahabat bertanya, "Dan yang
bergunting, wahai Rasulullah?" Beliau ulangi, "Semoga Allah merahmati
mereka yang bercukur." Hingga tiga kali, barulah pada kali keempat beliau
bersabda, "Dan yang bergunting." Ketika ditanya mengapa beliau
mendahulukan yang bercukur, beliau menjawab, "Karena mereka tidak
ragu-ragu."
Kembali ke Madinah dan Turunnya Surat Al-Fath
Rasulullah ﷺ
kembali ke Madinah dengan hati gembira atas perdamaian yang telah dicapai. Di
tengah perjalanan, turunlah surat Al-Fath. Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan
bahwa suatu malam dalam sebuah perjalanan, Umar bin Khattab bertanya kepada
Rasulullah tiga kali namun tidak dijawab. Umar khawatir, "Aku khawatir
ayat Al-Qur'an turun tentang diriku." Tak lama kemudian ia mendengar orang
berteriak memanggilnya. Ia segera menemui Rasulullah yang bersabda, "Tadi
malam telah diturunkan kepadaku sebuah surat yang lebih aku cintai daripada
dunia dan seisinya." Lalu beliau membaca: Inna fatahna laka fathan
mubina.
Para ulama berbeda pendapat tentang tempat turunnya surat
ini: ada yang mengatakan di Juhfah, di Kara' Al-Ghamim, atau di Dajnan. Yang
jelas, surat ini turun sepulang dari Hudaibiyah, bukan setelah Fathu Mekah
seperti dugaan sebagian orang.
Hudaibiyah: Kemenangan yang Nyata
Banyak riwayat menegaskan bahwa yang dimaksud
"kemenangan" dalam surat Al-Fath adalah Perjanjian Hudaibiyah.
Mujammi' bin Haritsah berkata, "Kami ikut dalam perjanjian Hudaibiyah.
Ketika kami kembali, kami dapati Rasulullah ﷺ berdiri di Kara' Al-Ghamim membacakan
kepada orang banyak: Inna fatahna laka fathan mubina. Seseorang
bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah ini kemenangan?' Beliau menjawab, 'Ya, demi
Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh ini adalah kemenangan.'"
Al-Barra' bin Azib berkata, "Kalian menganggap Fathu
Mekah sebagai kemenangan, padahal Fathu Mekah adalah kemenangan biasa. Kami
menganggap kemenangan (yang dimaksud dalam Al-Qur'an) adalah Bai'atur Ridwan
pada hari Hudaibiyah."
Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, "Tidak ada kemenangan
dalam Islam yang lebih besar daripada kemenangan Hudaibiyah. Tetapi manusia
dangkal pemahamannya tentang apa yang terjadi antara Muhammad dan Tuhannya.
Hamba selalu tergesa-gesa, sementara Allah tidak tergesa-gesa karena
tergesa-gesanya hamba, hingga segala urusan sampai pada apa yang Dia
kehendaki."
Imam Az-Zuhri berkata, "Tidak ada kemenangan sebelumnya
yang lebih besar dari ini. Dulu pertempuran terjadi ketika dua pihak bertemu.
Ketika gencatan senjata terjadi, perang berhenti, manusia merasa aman, mereka
saling bertemu dan berdiskusi. Maka tidak ada seorang pun yang diajak bicara
tentang Islam dengan akal sehat, kecuali ia akan masuk Islam. Dalam dua tahun
setelah Hudaibiyah, jumlah yang masuk Islam melebihi jumlah sebelumnya."
Buktinya, saat Hudaibiyah jumlah pasukan sekitar 1.500 orang, namun saat Fathu
Mekah jumlahnya mencapai 10.000 orang.
Keuntungan Besar di Balik Perjanjian
Agar semakin yakin bahwa Hudaibiyah adalah kemenangan besar,
mari kita lihat apa yang diperoleh kaum Muslimin darinya:
Pertama, Quraisy mengakui kaum Muslimin sebagai
tandingan yang setara. Ini adalah promosi besar bagi Islam di mata seluruh
Jazirah Arab.
Kedua, gencatan senjata memberi kesempatan kaum
Muslimin untuk menyebarkan Islam ke seluruh penjuru Jazirah dan ke
negara-negara tetangga. Rasulullah ﷺ mengirim surat kepada para raja dan penguasa, sehingga Islam
tersebar jauh lebih luas.
Ketiga, pengakuan bahwa kaum Muslimin akan berumrah
tahun depan, tanpa pertumpahan darah, adalah apa yang diinginkan kaum Muslimin.
Keempat, pasal yang paling menyakitkan hati sebagian
sahabat—tentang pengembalian orang yang hijrah—ternyata terbukti tidak
berbahaya. Tidak ada seorang pun yang murtad kembali ke Quraisy. Sebaliknya,
pasal ini justru menjadi bumerang bagi Quraisy sendiri.
Abu Bashir dan Runtuhnya Pasal Pengembalian
Seorang muslim Quraisy bernama Abu Bashir bin Usaid
Ats-Tsaqafi melarikan diri ke Madinah. Quraisy mengirim dua orang untuk
memintanya kembali. Rasulullah ﷺ menyerahkannya dan berkata, "Wahai Abu Bashir, kita telah
memberi perjanjian kepada kaum ini, dan dalam agama kita tidak boleh
berkhianat. Allah akan memberimu jalan keluar. Kembalilah kepada kaummu."
Abu Bashir protes, "Wahai Rasulullah, apakah engkau
mengembalikanku kepada kaum musyrikin untuk memfitnah agamaku?" Rasulullah
hanya mengulangi perkataannya.
Di perjalanan, saat singgah di Dzul Hulaifah, Abu Bashir
berhasil merebut pedang salah satu penjaganya dan membunuhnya. Penjaga lainnya
lari terbirit-birit ke Madinah. Rasulullah ﷺ yang melihatnya berkata, "Orang ini
pastinya ketakutan." Setelah mendengar ceritanya, beliau menjamin
keamanannya.
Abu Bashir kembali dan berkata, "Demi Allah, Allah
telah menepati janji-Mu. Engkau telah mengembalikanku, lalu Allah
menyelamatkanku." Rasulullah ﷺ bersabda, "Celaka ibunya, sungguh dia adalah penyulut
perang jika saja ada orang bersamanya."
Abu Bashir menangkap maksud Rasulullah. Ia pergi ke Al-'Aish, sebuah tempat di pesisir jalur dagang Quraisy ke Syam. Tak lama, Abu Jandal menyusulnya, dan terus bertambah hingga 70 orang lebih. Mereka memutus jalur perdagangan Quraisy. Akhirnya Quraisy mengirim utusan memohon kepada Rasulullah ﷺ agar mengambil mereka dan menjamin keamanan mereka. Mereka rela pasal pengembalian itu dibatalkan, siapa pun yang datang kepada Nabi tidak akan diminta kembali.
Inilah bukti bahwa pandangan Rasulullah ﷺ jauh lebih baik
daripada pandangan para sahabat. Sahl bin Hunaif, seorang sahabat mulia,
berkata, "Wahai manusia, curigailah pendapat kalian sendiri. Sungguh, pada
hari Abu Jandal, seandainya aku sanggup menolak perintah Rasulullah ﷺ,
pasti aku lakukan. Tapi Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Umar bin Khattab
juga berkata, "Curigailah pendapat dalam urusan agama. Sungguh, aku pernah
menolak perintah Rasulullah ﷺ
dengan pendapatku, padahal aku tidak mengingkari kebenaran. Rasulullah ridha
sementara aku menolak, hingga beliau berkata, 'Wahai Umar, engkau melihatku
ridha tapi engkau menolak?'"
Semoga Allah meridhai para sahabat semuanya, dan semoga
kisah ini menjadi pelajaran bahwa di balik setiap peristiwa yang tampak pahit,
tersimpan hikmah dan kemenangan yang hanya diketahui oleh Allah dan Rasul-Nya.


Komentar
Posting Komentar