Tahun Penuh Kenangan: Antara Duka dan Kebahagiaan di Sekitar Rasulullah ﷺ

Seorang pria (Utsman bin Affan) berdiri di tepi liang lahat, tubuhnya sedikit membungkuk, wajahnya tidak terlihat jelas (bisa digambarkan dari belakang atau samping dengan ekspresi duka dari postur tubuhnya). Pakaiannya sederhana berwarna putih. Di depannya, terlihat lubang kuburan kecil yang baru digali di tanah merah. Beberapa pria lain di belakangnya berdiri dengan kepala tertunduk, tangan bersedekap, menunjukkan rasa hormat dan duka. Langit di atas agak mendung namun tidak gelap, mencerminkan kesedihan yang tenang. Pepohonan kurma terlihat di kejauhan.

Kepergian Seorang Sahabat Mulia: Wafatnya Abu Salamah

Semuanya berawal dari sebuah kepergian yang menyisakan duka mendalam. Di penghujung bulan Jumadil Awal, kabar duka menyelimuti keluarga besar kaum muslimin. Abu Salamah, seorang sahabat mulia, telah berpulang ke rahmatullah. Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal Al-Qurasyi Al-Makhzumi. Ia bukanlah orang sembarangan. Ibunya, Barrah binti Abdul Muthalib, adalah bibi Rasulullah . Bahkan, ikatan persaudaraannya dengan Nabi semakin kuat karena mereka sama-sama pernah disusui oleh Tsuwaibah, budak wanita Abu Lahab. Itulah mengapa ia adalah saudara sepersusuan Rasulullah .

Abu Salamah adalah salah satu dari orang-orang yang pertama kali memeluk Islam. Demi mempertahankan imannya, ia rela meninggalkan tanah kelahirannya, berhijrah ke negeri Habasyah (Ethiopia) bersama istri tercintanya, Ummu Salamah. Di sana, mereka dikaruniai anak-anak. Sepulang dari Habasyah ke Makkah, ia kembali menunjukkan keberaniannya dengan menjadi orang pertama yang hijrah ke Madinah, lagi-lagi ditemani Ummu Salamah dan putranya. Namun, perjalanannya tidak mulus; keluarganya menghalangi Ummu Salamah untuk ikut serta, hingga setahun baru mereka bisa bersatu kembali di Madinah.

Keteguhan hatinya terus teruji di medan perang. Ia turut serta dalam Perang Badar dan Perang Uhud. Di perang Uhud, ia mendapat luka yang cukup parah. Selama sebulan ia merawat lukanya hingga sembuh. Ketika lukanya mulai pulih, ia pun dipercaya oleh Rasulullah untuk memimpin sebuah pasukan kecil di awal tahun ini. Namun, sepulang dari tugas mulia itu, lukanya yang belum benar-benar pulih kambuh lagi. Sakitnya bertambah parah, dan akhirnya ia menghembuskan napas terakhirnya di sisa tiga hari bulan Jumadil Awal. Semoga Allah meridhoinya dan menempatkannya di tempat terbaik.


Duka di Keluarga Nabi: Wafatnya Abdullah bin Utsman

Tak lama setelah kepergian Abu Salamah, duka kembali menyelimuti hati Rasulullah . Di bulan yang sama, Jumadil Awal, cucu kesayangan beliau, Abdullah bin Utsman, meninggal dunia. Abdullah adalah putra dari Sayyidah Ruqayyah, putri Rasulullah . Usianya masih sangat belia, baru enam tahun. Dengan hati yang pilu, Rasulullah menshalatkan jenazahnya, dan sang ayah, Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, yang turun ke liang lahat untuk menguburkannya.


Cahaya Baru dari Fatimah: Kelahiran Al-Husain

Namun, kehidupan harus terus berjalan. Duka yang menyelimuti, perlahan sirna oleh hadirnya cahaya baru. Di malam-malam bulan Sya'ban tahun ini, lahirlah seorang bayi laki-laki dari pasangan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah . Bayi mungil itu diberi nama Al-Husain. Rasulullah sangat menyayangi Al-Husain dan kakaknya, Al-Hasan. Beliau bersabda tentang mereka berdua:

«هُمَا رَيْحَانَتَايَ مِنَ الدُّنْيَا»

"Keduanya adalah dua bunga kesayanganku di dunia."

Bahkan, diriwayatkan bahwa Rasulullah sering mencium dan mengecup mereka. Kelak, Al-Husain tumbuh menjadi pemuda mulia yang dijuluki sayyidul syababi ahlil jannah, penghulu para pemuda penghuni surga.


Penghormatan untuk Ummul Masakin: Pernikahan dengan Zainab binti Khuzaimah

Di tengah suasana baru kelahiran sang cucu, Rasulullah juga melangkahkan kaki ke jenjang pernikahan. Pada bulan Ramadhan tahun ini, beliau menikahi Zainab binti Khuzaimah bin Al-Harits. Ia berasal dari Bani Hilal bin Amir bin Sha'sha'ah. Zainab memiliki julukan yang sangat mulia, yaitu Ummul Masakin (Ibu para orang miskin). Julukan itu melekat karena kedermawanannya yang luar biasa; ia tak pernah lelah bersedekah, berbuat baik, dan memberi kepada mereka yang membutuhkan.

Sebelum menikah dengan Rasulullah , Zainab adalah seorang janda. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa ia pernah menikah dengan Thufail bin Al-Harits, lalu setelah itu dengan saudara Thufail, yaitu Ubaidah bin Al-Harits, salah seorang syuhada Perang Badar. Riwayat lain mengatakan bahwa ia adalah janda dari Abdullah bin Jahsy yang gugur sebagai syahid di Perang Uhud. Dari sini, terlihat jelas hikmah di balik pernikahan ini. Rasulullah menikahinya bukan semata karena kecantikan atau kemudaan usianya. Sebaliknya, ia adalah wanita yang usianya tak lagi muda. Pernikahan ini adalah bentuk penghargaan dan penghormatan dari Nabi atas pengorbanan para suaminya yang telah gugur di jalan Allah. Lebih dari itu, ini adalah cara untuk menjamin kesejahteraan seorang wanita salehah yang sangat mencintai kaum miskin. Mahar yang diberikan Rasulullah kepadanya adalah sebesar empat ratus dirham. Sayangnya, Zainab tidak lama mendampingi Nabi . Hanya sekitar dua atau tiga bulan setelah pernikahan, ia pun wafat. Semoga Allah meridhoinya.


Janji Allah yang Lebih Baik: Kisah Pernikahan dengan Ummu Salamah

Tak berselang lama setelah pernikahan dengan Zainab, tepatnya di bulan Syawal tahun ini, Rasulullah kembali melangsungkan pernikahan. Kali ini, dengan seorang wanita yang hatinya tengah berduka, Ummu Salamah. Nama aslinya adalah Hindun binti Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumiyah. Ummu Salamah adalah janda dari sahabat mulia yang baru saja wafat, Abu Salamah. Dari pernikahannya dengan Abu Salamah, ia dikaruniai beberapa orang anak, di antaranya Salamah, Umar, Zainab, dan Ruqayyah.

Kisah pernikahan ini diawali dari sebuah wasiat. Suatu hari, Abu Salamah pulang dari majelis Rasulullah dan berkata kepada Ummu Salamah, "Aku mendengar dari Rasulullah suatu ucapan yang membuatku sangat gembira. Beliau bersabda:

«لَا يُصِيبُ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ مُصِيبَةٌ فَيَسْتَرْجِعُ عِنْدَ مُصِيبَتِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا فَعَلَ اللَّهُ ذَلِكَ بِهِ»

"Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah lalu ia mengucapkan istirja' (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un) saat musibahnya, kemudian berdoa: 'Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya', melainkan Allah akan mengabulkan doanya dan memberinya ganti yang lebih baik."

Ummu Salamah menghafal baik ucapan suaminya itu. Ketika Abu Salamah wafat, ia pun mengucapkan istirja' dan berdoa persis seperti yang diajarkan, "Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya." Namun, setelah berdoa, ia termenung dan berkata dalam hati, "Siapa yang lebih baik dari Abu Salamah?"

Setelah masa idahnya selesai, Rasulullah yang mengetahui kesedihan dan kondisi Ummu Salamah, meminangnya. Awalnya, Ummu Salamah menolak dengan alasan ia adalah wanita pencemburu, sudah berusia lanjut, dan memiliki banyak anak. Namun, Rasulullah dengan penuh kelembutan menjawab, "Mengenai sifat cemburu yang engkau sebutkan, Allah akan menghilangkannya dariku. Mengenai usia, aku juga merasakan hal yang sama sepertimu. Dan mengenai anak-anakmu, mereka adalah anak-anakku juga."

Mendengar jawaban yang begitu mengharukan itu, Ummu Salamah pun pasrah dan menerima pinangan Rasulullah . Ia kemudian menyadari betapa agungnya ganti yang Allah berikan. Dengan penuh kebahagiaan, ia pun berkata, "Sungguh, Allah telah menggantikanku dengan yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah sendiri." Pernikahan ini dilangsungkan dengan mahar sebuah tempat tidur yang diisi sabut, sebuah mangkuk, dan sebuah penggilingan gandum. Anak-anak Ummu Salamah pun tumbuh dalam asuhan langsung Nabi , sehingga mereka tidak pernah merasakan pahitnya menjadi yatim.


Kecerdasan Seorang Pemuda: Zaid bin Tsabit Belajar Bahasa Yahudi

Di samping peristiwa-peristiwa besar dalam rumah tangga Nabi, terdapat pula kisah menarik tentang seorang sahabat muda yang cerdas. Di tahun yang sama ini, Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu, atas perintah Rasulullah , mempelajari bahasa dan tulisan Yahudi.

Dalam riwayat Imam Ahmad diceritakan, ketika Rasulullah tiba di Madinah, suatu hari Zaid dibawa menghadap beliau. Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, ini adalah seorang anak dari Bani Najjar. Ia telah hafal beberapa belas surat dari Al-Qur'an yang diturunkan kepadamu." Rasulullah pun kagum dan bersabda, "Wahai Zaid, belajarlah untukku tulisan Yahudi. Demi Allah, aku tidak merasa aman terhadap orang Yahudi (jika mereka menulis surat untukku)."

Zaid pun melaksanakan perintah tersebut. Dengan kecerdasan yang luar biasa, ia menguasai tulisan dan bahasa mereka hanya dalam waktu lima belas hari. Setelah itu, ia bertugas membaca surat-surat yang datang dari orang Yahudi untuk Rasulullah dan menuliskan jawaban beliau untuk mereka. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk mempelajari bahasa dan ilmu pengetahuan lain, terutama jika hal itu dibutuhkan untuk kemaslahatan dan menjaga keamanan umat.


Demikianlah rangkaian peristiwa di tahun itu. Di tengah duka karena kehilangan para sahabat tercinta dan seorang cucu, Allah menghadirkan kebahagiaan melalui kelahiran dan pernikahan yang penuh berkah. Semua ini adalah goresan tinta emas dalam sejarah hidup Rasulullah , yang penuh dengan pelajaran tentang ketabahan, kasih sayang, penghormatan, dan kecerdasan.

Sumber Kisah:
As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau'i al-Qur'an wa as-Sunnah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India

Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India

Mengarungi Sungai Indus: Dari Armada Mewah hingga Kota Membatu