Tahun Penuh Kenangan: Antara Duka dan Kebahagiaan di Sekitar Rasulullah ﷺ
Kepergian Seorang Sahabat Mulia: Wafatnya Abu Salamah
Semuanya berawal dari sebuah kepergian yang menyisakan duka
mendalam. Di penghujung bulan Jumadil Awal, kabar duka menyelimuti keluarga
besar kaum muslimin. Abu Salamah, seorang sahabat mulia, telah berpulang ke
rahmatullah. Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal
Al-Qurasyi Al-Makhzumi. Ia bukanlah orang sembarangan. Ibunya, Barrah binti
Abdul Muthalib, adalah bibi Rasulullah ﷺ. Bahkan, ikatan persaudaraannya dengan
Nabi ﷺ
semakin kuat karena mereka sama-sama pernah disusui oleh Tsuwaibah, budak
wanita Abu Lahab. Itulah mengapa ia adalah saudara sepersusuan Rasulullah ﷺ.
Abu Salamah adalah salah satu dari orang-orang yang pertama
kali memeluk Islam. Demi mempertahankan imannya, ia rela meninggalkan tanah
kelahirannya, berhijrah ke negeri Habasyah (Ethiopia) bersama istri
tercintanya, Ummu Salamah. Di sana, mereka dikaruniai anak-anak. Sepulang dari
Habasyah ke Makkah, ia kembali menunjukkan keberaniannya dengan menjadi orang
pertama yang hijrah ke Madinah, lagi-lagi ditemani Ummu Salamah dan putranya.
Namun, perjalanannya tidak mulus; keluarganya menghalangi Ummu Salamah untuk
ikut serta, hingga setahun baru mereka bisa bersatu kembali di Madinah.
Keteguhan hatinya terus teruji di medan perang. Ia turut
serta dalam Perang Badar dan Perang Uhud. Di perang Uhud, ia mendapat luka yang
cukup parah. Selama sebulan ia merawat lukanya hingga sembuh. Ketika lukanya
mulai pulih, ia pun dipercaya oleh Rasulullah ﷺ untuk memimpin sebuah pasukan kecil di
awal tahun ini. Namun, sepulang dari tugas mulia itu, lukanya yang belum
benar-benar pulih kambuh lagi. Sakitnya bertambah parah, dan akhirnya ia
menghembuskan napas terakhirnya di sisa tiga hari bulan Jumadil Awal. Semoga
Allah meridhoinya dan menempatkannya di tempat terbaik.
Duka di Keluarga Nabi: Wafatnya Abdullah bin Utsman
Tak lama setelah kepergian Abu Salamah, duka kembali
menyelimuti hati Rasulullah ﷺ.
Di bulan yang sama, Jumadil Awal, cucu kesayangan beliau, Abdullah bin Utsman,
meninggal dunia. Abdullah adalah putra dari Sayyidah Ruqayyah, putri Rasulullah
ﷺ.
Usianya masih sangat belia, baru enam tahun. Dengan hati yang pilu, Rasulullah ﷺ
menshalatkan jenazahnya, dan sang ayah, Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu,
yang turun ke liang lahat untuk menguburkannya.
Cahaya Baru dari Fatimah: Kelahiran Al-Husain
Namun, kehidupan harus terus berjalan. Duka yang
menyelimuti, perlahan sirna oleh hadirnya cahaya baru. Di malam-malam bulan
Sya'ban tahun ini, lahirlah seorang bayi laki-laki dari pasangan Ali bin Abi
Thalib dan Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah ﷺ. Bayi mungil itu diberi nama Al-Husain.
Rasulullah ﷺ
sangat menyayangi Al-Husain dan kakaknya, Al-Hasan. Beliau bersabda tentang
mereka berdua:
«هُمَا
رَيْحَانَتَايَ مِنَ الدُّنْيَا»
"Keduanya adalah dua bunga kesayanganku di
dunia."
Bahkan, diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ sering mencium dan
mengecup mereka. Kelak, Al-Husain tumbuh menjadi pemuda mulia yang dijuluki
sayyidul syababi ahlil jannah, penghulu para pemuda penghuni surga.
Penghormatan untuk Ummul Masakin: Pernikahan dengan
Zainab binti Khuzaimah
Di tengah suasana baru kelahiran sang cucu, Rasulullah ﷺ
juga melangkahkan kaki ke jenjang pernikahan. Pada bulan Ramadhan tahun ini,
beliau menikahi Zainab binti Khuzaimah bin Al-Harits. Ia berasal dari Bani
Hilal bin Amir bin Sha'sha'ah. Zainab memiliki julukan yang sangat mulia,
yaitu Ummul Masakin (Ibu para orang miskin). Julukan itu
melekat karena kedermawanannya yang luar biasa; ia tak pernah lelah bersedekah,
berbuat baik, dan memberi kepada mereka yang membutuhkan.
Sebelum menikah dengan Rasulullah ﷺ, Zainab adalah seorang janda. Ada riwayat
yang menyebutkan bahwa ia pernah menikah dengan Thufail bin Al-Harits, lalu
setelah itu dengan saudara Thufail, yaitu Ubaidah bin Al-Harits, salah seorang
syuhada Perang Badar. Riwayat lain mengatakan bahwa ia adalah janda dari
Abdullah bin Jahsy yang gugur sebagai syahid di Perang Uhud. Dari sini,
terlihat jelas hikmah di balik pernikahan ini. Rasulullah ﷺ menikahinya bukan
semata karena kecantikan atau kemudaan usianya. Sebaliknya, ia adalah wanita
yang usianya tak lagi muda. Pernikahan ini adalah bentuk penghargaan dan
penghormatan dari Nabi ﷺ
atas pengorbanan para suaminya yang telah gugur di jalan Allah. Lebih dari itu,
ini adalah cara untuk menjamin kesejahteraan seorang wanita salehah yang sangat
mencintai kaum miskin. Mahar yang diberikan Rasulullah ﷺ kepadanya adalah
sebesar empat ratus dirham. Sayangnya, Zainab tidak lama mendampingi Nabi ﷺ.
Hanya sekitar dua atau tiga bulan setelah pernikahan, ia pun wafat. Semoga
Allah meridhoinya.
Janji Allah yang Lebih Baik: Kisah Pernikahan dengan Ummu
Salamah
Tak berselang lama setelah pernikahan dengan Zainab,
tepatnya di bulan Syawal tahun ini, Rasulullah ﷺ kembali melangsungkan pernikahan. Kali
ini, dengan seorang wanita yang hatinya tengah berduka, Ummu Salamah. Nama
aslinya adalah Hindun binti Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumiyah. Ummu
Salamah adalah janda dari sahabat mulia yang baru saja wafat, Abu Salamah. Dari
pernikahannya dengan Abu Salamah, ia dikaruniai beberapa orang anak, di
antaranya Salamah, Umar, Zainab, dan Ruqayyah.
Kisah pernikahan ini diawali dari sebuah wasiat. Suatu hari,
Abu Salamah pulang dari majelis Rasulullah ﷺ dan berkata kepada Ummu Salamah, "Aku
mendengar dari Rasulullah ﷺ
suatu ucapan yang membuatku sangat gembira. Beliau bersabda:
«لَا
يُصِيبُ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ مُصِيبَةٌ فَيَسْتَرْجِعُ عِنْدَ
مُصِيبَتِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي
خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا فَعَلَ اللَّهُ ذَلِكَ بِهِ»
"Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah lalu ia
mengucapkan istirja' (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un) saat musibahnya,
kemudian berdoa: 'Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah
untukku dengan yang lebih baik darinya', melainkan Allah akan mengabulkan
doanya dan memberinya ganti yang lebih baik."
Ummu Salamah menghafal baik ucapan suaminya itu. Ketika Abu
Salamah wafat, ia pun mengucapkan istirja' dan berdoa persis seperti yang
diajarkan, "Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah
untukku dengan yang lebih baik darinya." Namun, setelah berdoa, ia
termenung dan berkata dalam hati, "Siapa yang lebih baik dari Abu
Salamah?"
Setelah masa idahnya selesai, Rasulullah ﷺ yang mengetahui
kesedihan dan kondisi Ummu Salamah, meminangnya. Awalnya, Ummu Salamah menolak
dengan alasan ia adalah wanita pencemburu, sudah berusia lanjut, dan memiliki
banyak anak. Namun, Rasulullah ﷺ dengan penuh kelembutan menjawab, "Mengenai sifat cemburu
yang engkau sebutkan, Allah akan menghilangkannya dariku. Mengenai usia, aku
juga merasakan hal yang sama sepertimu. Dan mengenai anak-anakmu, mereka adalah
anak-anakku juga."
Mendengar jawaban yang begitu mengharukan itu, Ummu Salamah
pun pasrah dan menerima pinangan Rasulullah ﷺ. Ia kemudian menyadari betapa agungnya
ganti yang Allah berikan. Dengan penuh kebahagiaan, ia pun berkata,
"Sungguh, Allah telah menggantikanku dengan yang lebih baik dari Abu
Salamah, yaitu Rasulullah ﷺ
sendiri." Pernikahan ini dilangsungkan dengan mahar sebuah tempat tidur
yang diisi sabut, sebuah mangkuk, dan sebuah penggilingan gandum. Anak-anak
Ummu Salamah pun tumbuh dalam asuhan langsung Nabi ﷺ, sehingga mereka tidak pernah merasakan
pahitnya menjadi yatim.
Kecerdasan Seorang Pemuda: Zaid bin Tsabit Belajar Bahasa
Yahudi
Di samping peristiwa-peristiwa besar dalam rumah tangga
Nabi, terdapat pula kisah menarik tentang seorang sahabat muda yang cerdas. Di
tahun yang sama ini, Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu, atas perintah
Rasulullah ﷺ,
mempelajari bahasa dan tulisan Yahudi.
Dalam riwayat Imam Ahmad diceritakan, ketika Rasulullah ﷺ
tiba di Madinah, suatu hari Zaid dibawa menghadap beliau. Para sahabat berkata,
"Wahai Rasulullah, ini adalah seorang anak dari Bani Najjar. Ia telah
hafal beberapa belas surat dari Al-Qur'an yang diturunkan kepadamu."
Rasulullah ﷺ
pun kagum dan bersabda, "Wahai Zaid, belajarlah untukku tulisan Yahudi.
Demi Allah, aku tidak merasa aman terhadap orang Yahudi (jika mereka menulis
surat untukku)."
Zaid pun melaksanakan perintah tersebut. Dengan kecerdasan
yang luar biasa, ia menguasai tulisan dan bahasa mereka hanya dalam waktu lima
belas hari. Setelah itu, ia bertugas membaca surat-surat yang datang dari orang
Yahudi untuk Rasulullah ﷺ
dan menuliskan jawaban beliau untuk mereka. Peristiwa ini menunjukkan bahwa
Islam mendorong umatnya untuk mempelajari bahasa dan ilmu pengetahuan lain,
terutama jika hal itu dibutuhkan untuk kemaslahatan dan menjaga keamanan umat.
Demikianlah rangkaian peristiwa di tahun itu. Di tengah duka
karena kehilangan para sahabat tercinta dan seorang cucu, Allah ﷻ
menghadirkan kebahagiaan melalui kelahiran dan pernikahan yang penuh berkah.
Semua ini adalah goresan tinta emas dalam sejarah hidup Rasulullah ﷺ,
yang penuh dengan pelajaran tentang ketabahan, kasih sayang, penghormatan, dan
kecerdasan.
Sumber Kisah:
As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau'i al-Qur'an wa as-Sunnah

Komentar
Posting Komentar