Tahun Keempat Hijriah: Mengembalikan Keperkasaan di Tengah Duka
Setelah Badai Uhud
Nabi Muhammad ﷺ kembali ke Madinah dari ekspedisi Hamra' al-Asad. Meski
luka-luka di tubuh para sahabat belum sembuh total, setidaknya wibawa kaum
Muslimin mulai pulih kembali di kota Madinah dan sekitarnya. Namun di luar
sana, beberapa kabilah Badui yang bermukim di sekitar Madinah tergoda oleh
kekalahan kaum Muslimin di Uhud. Mereka berpikir inilah saat yang tepat untuk
menyerang. Apalagi hasutan dari Quraisy terus mengalir, memicu mereka untuk
memerangi Rasulullah.
Namun Rasulullah ﷺ tidak pernah lengah. Beliau memiliki mata-mata dan intelijen
yang selalu melaporkan gerak-gerik musuh sebelum mereka sempat bertindak. Atas
izin Allah, beliau selalu bergerak cepat untuk memadamkan api permusuhan
sebelum berkobar menjadi kebakaran besar. Di sinilah dimulainya rangkaian
ekspedisi militer di tahun keempat hijriah.
Ekspedisi Abu Salamah bin Abdul Asad: Harta Rampasan di
Tengah Duka
Pada bulan Muharram tahun keempat hijriah, sampailah berita
kepada Rasulullah ﷺ
bahwa Thulaihah dan Salamah, kedua putra Khuwailid
al-Asadi, telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang Madinah. Rasulullah segera
mengirim Abu Salamah bin Abdul Asad memimpin pasukan
berkekuatan 150 orang.
Mereka bergegas menuju perkampungan Bani Asad. Namun ketika
penduduk setempat mendengar kedatangan pasukan Muslim, mereka segera melarikan
diri dan berpencar. Yang mereka tinggalkan adalah harta benda yang melimpah:
unta dan kambing dalam jumlah besar. Pasukan Muslim mengambil semua itu sebagai
rampasan perang.
Sesuai ketentuan Allah, seperlima dari rampasan (khumus)
disisihkan untuk Rasulullah ﷺ,
sementara sisanya dibagi-bagikan di antara para pasukan. Maka pulanglah mereka
ke Madinah dengan kemenangan dan harta rampasan, mengobati luka Uhud yang masih
membekas.
Namun takdir berkata lain. Abu Salamah, panglima mulia itu,
tidak lama kemudian wafat. Ia pernah terluka dalam Perang Uhud, dan lukanya
sempat sembuh. Namun setelah ekspedisi ini, lukanya pecah kembali dan
mengakibatkan kematiannya. Maka bergabunglah ia dengan para syuhada,
meninggalkan duka mendalam bagi Rasulullah dan seluruh umat.
Ekspedisi Abdullah bin Unais: Pembunuhan Tokoh di Bulan
Haram
Di bulan yang sama, Rasulullah ﷺ mendapat informasi bahwa Sufyan
bin Khalid bin Nubaih al-Hudzali, yang bermukim di daerah 'Uranah, sedang
mengumpulkan pasukan untuk memerangi beliau. Rasulullah segera mengirim Abdullah
bin Unais untuk menyingkirkannya.
Abdullah bin Unais meminta izin kepada Rasulullah untuk
berbohong (taqiyyah) demi bisa mendekati targetnya. Rasulullah mengizinkan.
Maka berangkatlah ia sendirian.
Setibanya di perkampungan Bani Hudzail, Sufyan menyambutnya
dengan curiga, "Dari mana kau datang?"
Abdullah menjawab dengan tenang, "Dari Khuza'ah. Aku
mendengar kau mengumpulkan pasukan untuk memerangi Muhammad, maka aku datang
untuk bergabung."
Sufyan tersenyum puas, "Benar, aku sedang mempersiapkan
pasukan besar untuk menyerangnya."
Maka berjalanlah mereka berdua, dan Abdullah pandai
merangkai kata hingga Sufyan terpesona oleh pembicaraannya. Ketika kesempatan
tiba, Abdullah menghunus pedangnya dan membunuh Sufyan seketika. Lalu ia
kembali ke Madinah dengan selamat. Allah telah menyelamatkan kaum Mukminin dari
pertempuran besar. Setelah kematian pemimpin mereka, Bani Lahyan dari Hudzail
terdiam, menunggu saat yang tepat untuk membalas dendam.
Tragedi Raji': Pengkhianatan dan Kesyahidan yang
Mengharukan
Pada bulan Shafar tahun yang sama, datanglah utusan dari
kabilah 'Adl dan al-Qarah menemui Rasulullah ﷺ.
Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, beberapa orang dari kami telah masuk
Islam. Utuslah bersama kami beberapa sahabatmu untuk mengajarkan agama,
membacakan Al-Qur'an, dan mengajarkan syariat Islam kepada kami."
Rasulullah ﷺ
pun mengirimkan sepuluh orang sahabat (menurut riwayat Shahih Bukhari, riwayat
yang lebih kuat). Beliau menunjuk Ashim bin Tsabit bin Abi al-Aqlah sebagai
pemimpin rombongan. Mereka adalah para penghafal Al-Qur'an dan ahli agama,
diutus untuk misi mulia sekaligus menjadi mata-mata yang mengawasi pergerakan
Quraisy dan kaum musyrik.
Mereka berangkat dengan penuh semangat. Namun ketika sampai
di suatu tempat bernama ar-Raji' — sebuah lembah di wilayah
Hudzail antara Makkah dan 'Usfan — mereka dikhianati. Utusan 'Adl dan al-Qarah
ternyata berpura-pura masuk Islam. Mereka meminta bantuan Bani Lahyan dari
Hudzail — kaumnya Sufyan bin Khalid yang baru saja dibunuh Abdullah bin Unais —
untuk membalas dendam.
Maka datanglah dua ratus orang Bani Lahyan mengepung para
sahabat yang sedang beristirahat. Para sahabat segera berlindung di sebuah
bukit kecil, menghunus pedang untuk bertempur. Namun musuh yang pengecut itu
menggunakan tipu daya. Mereka berkata, "Kami tidak ingin membunuh kalian.
Turunlah, kami akan membawa kalian ke Makkah dan menjual kalian. Demi Allah,
kami berjanji tidak akan membunuh kalian."
Kesetiaan yang Tak Tergoyahkan
Ashím bin Tsabit dan beberapa sahabatnya menjawab tegas,
"Demi Allah, kami tidak akan pernah menerima janji dari orang
musyrik." Mereka memilih bertempur hingga titik darah penghabisan. Maka
gugurlah mereka sebagai syuhada.
Adapun Khubaib bin Adi, Zaid bin
ad-Datsinnah, dan Abdullah bin Thariq tertipu oleh janji
musuh. Mereka turun dari bukit dan menyerah. Begitu mereka berada dalam
genggaman, Bani Lahyan segera mengikat mereka dengan tali busur panah. Saat
itulah Abdullah bin Thariq sadar akan pengkhianatan itu. Ketika mereka sampai
di azh-Zhahran, dalam perjalanan menuju Makkah, Abdullah berhasil
melepaskan ikatannya dan mengambil pedang untuk melawan. Namun ia segera
dihujani batu hingga gugur sebagai syahid.
Sementara Khubaib dan Zaid dijual kepada penduduk Makkah.
Khubaib dibeli oleh Bani al-Harits bin Amir untuk dibunuh sebagai balas dendam
atas kematian ayah mereka di Perang Badar. Zaid dibeli oleh Shafwan bin Umayyah
untuk dibunuh sebagai balas dendam atas kematian ayahnya juga.
Kemuliaan Khubaib dalam Penjara
Selama ditawan di rumah Bani al-Harits, Khubaib menunjukkan
akhlak yang luar biasa. Suatu hari ia meminjam pisau cukur dari seorang budak
perempuan untuk membersihkan bulu kemaluannya menjelang kematian. Budak itu
meminjamkannya, namun lalai mengawasi anak kecil majikannya yang merangkak
mendekati Khubaib. Ketika dilihatnya anak itu berada di pangkuan Khubaib dengan
pisau terhunus, budak itu terkejut setengah mati. Ia mengira Khubaib akan
membunuh anak itu sebagai balas dendam.
Namun Khubaib, yang membaca kegelisahan di wajahnya, berkata
dengan tenang, "Apakah kau takut aku akan membunuhnya? Aku tidak akan
melakukan itu, insya Allah."
Budak perempuan itu kemudian masuk Islam dan sering
bercerita, "Aku tidak pernah melihat tawanan sekebaik Khubaib. Demi Allah,
aku melihatnya makan setangkai anggur padahal saat itu tidak ada buah di
Makkah, sementara ia terikat rantai besi. Itu sungguh rezeki dari Allah."
Dua Rakaat Sebelum Kematian
Ketika mereka membawa Khubaib ke tanah haram (at-Tan'im)
untuk dibunuh, ia memohon, "Biarkan aku salat dua rakaat." Maka ia
pun salat dengan khusyuk. Setelah salam, ia berkata kepada para algojo,
"Demi Allah, seandainya kalian tidak mengira aku takut mati, pasti akan
kutambah lagi rakaatku." Maka sejak saat itu, salat dua rakaat sebelum
dieksekusi menjadi sunnah bagi setiap Muslim yang menghadapi kematian.
Saat ia diangkat di atas tiang kayu dan diikat untuk
dibunuh, ia berdoa dengan suara lantang:
"اللَّهُمَّ إِنَّا قَدْ بَلَّغْنَا رِسَالَةَ رَسُولِكَ، فَبَلِّغْهُ
الْغَدَاةَ مَا يُفْعَلُ بِنَا، اللَّهُمَّ أَحْصِهِمْ عَدَدًا، وَاقْتُلْهُمْ
بَدَدًا، وَلَا تُبْقِ مِنْهُمْ أَحَدًا"
"Ya Allah, sungguh kami telah menyampaikan risalah
Rasul-Mu. Sampaikanlah kepadanya pada pagi ini apa yang diperbuat terhadap
kami. Ya Allah, hitunglah mereka satu per satu, bunuhlah mereka semua, dan
jangan Engkau sisakan seorang pun dari mereka."
Kemudian ia bersenandung dengan syair yang mengharukan:
"وَلَسْتُ أُبَالِي حِينَ أُقْتَلُ مُسْلِمًا ... عَلَى أَيِّ جَنْبٍ
كَانَ فِي اللهِ مَصْرَعِي"
"Aku tak peduli saat terbunuh sebagai Muslim ... ke
sisi mana pun jasadku rebah karena Allah."
"وَذَلِكَ فِي ذَاتِ الْإِلَهِ وَإِنْ يَشَأْ ... يُبَارِكْ عَلَى
أَوْصَالِ شِلْوٍ مُمَزَّعِ"
"Itu semua karena Allah, dan jika Dia berkehendak
... Dia akan memberkati anggota tubuh yang tercerai-berai."
Maka majulah Uqbah bin al-Harits dan
membunuhnya. Khubaib gugur sebagai syahid, membawa keimanan dan keikhlasan di
hatinya.
Zaid: Cinta kepada Rasul Melebihi Segalanya
Adapun Zaid bin ad-Datsinnah, ketika mereka membawanya untuk
dibunuh, Abu Sufyan bin Harb bertanya kepadanya, "Aku
bertanya kepadamu demi Allah, wahai Zaid, apakah kau berharap Muhammad sekarang
berada di tempatmu, kami penggal lehernya, dan kau bersama keluargamu dengan
selamat?"
Zaid menjawab tegas, "Demi Allah, aku tidak rela jika
Muhammad sekarang berada di tempatnya lalu tertusuk duri, sementara aku duduk
bersama keluargaku!"
Abu Sufyan terperangah dan berkata, "Aku tidak pernah
melihat seorang pun yang mencintai seseorang seperti cintanya para sahabat
Muhammad kepada Muhammad." Lalu Nisthas, budak Shafwan, maju
dan membunuhnya.
Perlindungan Allah atas Jasad Ashim
Adapun Ashim bin Tsabit, sang panglima, setelah ia gugur,
Bani Hudzail ingin memenggal kepalanya untuk dijual kepada Sulafah
binti Sa'd. Wanita ini telah bernadzar, jika ia mendapatkan kepala Ashim,
ia akan minum arak di dalam tempurung kepalanya sebagai balas dendam atas
kematian kedua putranya di Perang Uhud.
Namun Allah Maha Pelindung. Setelah Ashim gugur, Allah
mengirimkan sekumpulan lebah atau tawon (ad-dabr) yang membentuk seperti awan
menaungi jasadnya. Para musuh tidak bisa mendekat. Mereka berkata,
"Biarkan saja hingga malam, nanti lebah-lebah itu pergi, baru kita
ambil." Namun ketika malam tiba, Allah menenggelamkan jasad Ashim ke dalam
aliran sungai di lembah itu. Mereka tidak menemukan jejaknya sama sekali.
Ashim pernah berjanji kepada Allah bahwa ia tidak akan
pernah menyentuh orang musyrik, dan tidak akan pernah disentuh oleh orang
musyrik, karena ia menjauhi kenajisan mereka. Maka Allah melindunginya setelah
wafat sebagaimana ia menjaga diri selama hidupnya. Umar bin Khattab ketika
mendengar kabar ini berkata, "Allah menjaga hamba-Nya yang beriman. Ashim
bernadzar tidak akan disentuh orang musyrik selama hidupnya, maka Allah
menjaganya setelah wafat."
As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau'i al-Qur'an wa as-Sunnah

Komentar
Posting Komentar