Tahun Keempat Hijriah: Mengembalikan Keperkasaan di Tengah Duka

pemandangan di pinggiran kota Madinah pada abad ke-7 Masehi, bulan Muharram. Sekelompok pasukan berkuda berjumlah sekitar 150 orang bersiap berangkat menuju perkampungan Bani Asad. Para prajurit mengenakan pakaian perang sederhana: jubah putih, sorban, beberapa memakai baju besi ringan. Mereka membawa pedang, tombak, dan perisai. Di barisan depan, seorang panglima bernama Abu Salamah bin Abdul Asad menaiki kuda putih, sosoknya tegap meski terlihat sedikit lemah karena luka Uhud yang belum sembuh total, namun matanya penuh tekad. Latar belakang: bukit-bukit pasir dan pepohonan kurma, langit pagi jingga keemasan. Bendera putih polos berkibar di antara pasukan. Suasana haru namun penuh semangat jihad.

Setelah Badai Uhud

Nabi Muhammad kembali ke Madinah dari ekspedisi Hamra' al-Asad. Meski luka-luka di tubuh para sahabat belum sembuh total, setidaknya wibawa kaum Muslimin mulai pulih kembali di kota Madinah dan sekitarnya. Namun di luar sana, beberapa kabilah Badui yang bermukim di sekitar Madinah tergoda oleh kekalahan kaum Muslimin di Uhud. Mereka berpikir inilah saat yang tepat untuk menyerang. Apalagi hasutan dari Quraisy terus mengalir, memicu mereka untuk memerangi Rasulullah.

Namun Rasulullah tidak pernah lengah. Beliau memiliki mata-mata dan intelijen yang selalu melaporkan gerak-gerik musuh sebelum mereka sempat bertindak. Atas izin Allah, beliau selalu bergerak cepat untuk memadamkan api permusuhan sebelum berkobar menjadi kebakaran besar. Di sinilah dimulainya rangkaian ekspedisi militer di tahun keempat hijriah.


Ekspedisi Abu Salamah bin Abdul Asad: Harta Rampasan di Tengah Duka

Pada bulan Muharram tahun keempat hijriah, sampailah berita kepada Rasulullah bahwa Thulaihah dan Salamah, kedua putra Khuwailid al-Asadi, telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang Madinah. Rasulullah segera mengirim Abu Salamah bin Abdul Asad memimpin pasukan berkekuatan 150 orang.

Mereka bergegas menuju perkampungan Bani Asad. Namun ketika penduduk setempat mendengar kedatangan pasukan Muslim, mereka segera melarikan diri dan berpencar. Yang mereka tinggalkan adalah harta benda yang melimpah: unta dan kambing dalam jumlah besar. Pasukan Muslim mengambil semua itu sebagai rampasan perang.

Sesuai ketentuan Allah, seperlima dari rampasan (khumus) disisihkan untuk Rasulullah , sementara sisanya dibagi-bagikan di antara para pasukan. Maka pulanglah mereka ke Madinah dengan kemenangan dan harta rampasan, mengobati luka Uhud yang masih membekas.

Namun takdir berkata lain. Abu Salamah, panglima mulia itu, tidak lama kemudian wafat. Ia pernah terluka dalam Perang Uhud, dan lukanya sempat sembuh. Namun setelah ekspedisi ini, lukanya pecah kembali dan mengakibatkan kematiannya. Maka bergabunglah ia dengan para syuhada, meninggalkan duka mendalam bagi Rasulullah dan seluruh umat.


Ekspedisi Abdullah bin Unais: Pembunuhan Tokoh di Bulan Haram

Di bulan yang sama, Rasulullah mendapat informasi bahwa Sufyan bin Khalid bin Nubaih al-Hudzali, yang bermukim di daerah 'Uranah, sedang mengumpulkan pasukan untuk memerangi beliau. Rasulullah segera mengirim Abdullah bin Unais untuk menyingkirkannya.

Abdullah bin Unais meminta izin kepada Rasulullah untuk berbohong (taqiyyah) demi bisa mendekati targetnya. Rasulullah mengizinkan. Maka berangkatlah ia sendirian.

Setibanya di perkampungan Bani Hudzail, Sufyan menyambutnya dengan curiga, "Dari mana kau datang?"

Abdullah menjawab dengan tenang, "Dari Khuza'ah. Aku mendengar kau mengumpulkan pasukan untuk memerangi Muhammad, maka aku datang untuk bergabung."

Sufyan tersenyum puas, "Benar, aku sedang mempersiapkan pasukan besar untuk menyerangnya."

Maka berjalanlah mereka berdua, dan Abdullah pandai merangkai kata hingga Sufyan terpesona oleh pembicaraannya. Ketika kesempatan tiba, Abdullah menghunus pedangnya dan membunuh Sufyan seketika. Lalu ia kembali ke Madinah dengan selamat. Allah telah menyelamatkan kaum Mukminin dari pertempuran besar. Setelah kematian pemimpin mereka, Bani Lahyan dari Hudzail terdiam, menunggu saat yang tepat untuk membalas dendam.


Tragedi Raji': Pengkhianatan dan Kesyahidan yang Mengharukan

Pada bulan Shafar tahun yang sama, datanglah utusan dari kabilah 'Adl dan al-Qarah menemui Rasulullah . Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, beberapa orang dari kami telah masuk Islam. Utuslah bersama kami beberapa sahabatmu untuk mengajarkan agama, membacakan Al-Qur'an, dan mengajarkan syariat Islam kepada kami."

Rasulullah pun mengirimkan sepuluh orang sahabat (menurut riwayat Shahih Bukhari, riwayat yang lebih kuat). Beliau menunjuk Ashim bin Tsabit bin Abi al-Aqlah sebagai pemimpin rombongan. Mereka adalah para penghafal Al-Qur'an dan ahli agama, diutus untuk misi mulia sekaligus menjadi mata-mata yang mengawasi pergerakan Quraisy dan kaum musyrik.

Mereka berangkat dengan penuh semangat. Namun ketika sampai di suatu tempat bernama ar-Raji' — sebuah lembah di wilayah Hudzail antara Makkah dan 'Usfan — mereka dikhianati. Utusan 'Adl dan al-Qarah ternyata berpura-pura masuk Islam. Mereka meminta bantuan Bani Lahyan dari Hudzail — kaumnya Sufyan bin Khalid yang baru saja dibunuh Abdullah bin Unais — untuk membalas dendam.

Maka datanglah dua ratus orang Bani Lahyan mengepung para sahabat yang sedang beristirahat. Para sahabat segera berlindung di sebuah bukit kecil, menghunus pedang untuk bertempur. Namun musuh yang pengecut itu menggunakan tipu daya. Mereka berkata, "Kami tidak ingin membunuh kalian. Turunlah, kami akan membawa kalian ke Makkah dan menjual kalian. Demi Allah, kami berjanji tidak akan membunuh kalian."

Kesetiaan yang Tak Tergoyahkan

Ashím bin Tsabit dan beberapa sahabatnya menjawab tegas, "Demi Allah, kami tidak akan pernah menerima janji dari orang musyrik." Mereka memilih bertempur hingga titik darah penghabisan. Maka gugurlah mereka sebagai syuhada.

Adapun Khubaib bin AdiZaid bin ad-Datsinnah, dan Abdullah bin Thariq tertipu oleh janji musuh. Mereka turun dari bukit dan menyerah. Begitu mereka berada dalam genggaman, Bani Lahyan segera mengikat mereka dengan tali busur panah. Saat itulah Abdullah bin Thariq sadar akan pengkhianatan itu. Ketika mereka sampai di azh-Zhahran, dalam perjalanan menuju Makkah, Abdullah berhasil melepaskan ikatannya dan mengambil pedang untuk melawan. Namun ia segera dihujani batu hingga gugur sebagai syahid.

Sementara Khubaib dan Zaid dijual kepada penduduk Makkah. Khubaib dibeli oleh Bani al-Harits bin Amir untuk dibunuh sebagai balas dendam atas kematian ayah mereka di Perang Badar. Zaid dibeli oleh Shafwan bin Umayyah untuk dibunuh sebagai balas dendam atas kematian ayahnya juga.

Kemuliaan Khubaib dalam Penjara

Selama ditawan di rumah Bani al-Harits, Khubaib menunjukkan akhlak yang luar biasa. Suatu hari ia meminjam pisau cukur dari seorang budak perempuan untuk membersihkan bulu kemaluannya menjelang kematian. Budak itu meminjamkannya, namun lalai mengawasi anak kecil majikannya yang merangkak mendekati Khubaib. Ketika dilihatnya anak itu berada di pangkuan Khubaib dengan pisau terhunus, budak itu terkejut setengah mati. Ia mengira Khubaib akan membunuh anak itu sebagai balas dendam.

Namun Khubaib, yang membaca kegelisahan di wajahnya, berkata dengan tenang, "Apakah kau takut aku akan membunuhnya? Aku tidak akan melakukan itu, insya Allah."

Budak perempuan itu kemudian masuk Islam dan sering bercerita, "Aku tidak pernah melihat tawanan sekebaik Khubaib. Demi Allah, aku melihatnya makan setangkai anggur padahal saat itu tidak ada buah di Makkah, sementara ia terikat rantai besi. Itu sungguh rezeki dari Allah."

Dua Rakaat Sebelum Kematian

Ketika mereka membawa Khubaib ke tanah haram (at-Tan'im) untuk dibunuh, ia memohon, "Biarkan aku salat dua rakaat." Maka ia pun salat dengan khusyuk. Setelah salam, ia berkata kepada para algojo, "Demi Allah, seandainya kalian tidak mengira aku takut mati, pasti akan kutambah lagi rakaatku." Maka sejak saat itu, salat dua rakaat sebelum dieksekusi menjadi sunnah bagi setiap Muslim yang menghadapi kematian.

Saat ia diangkat di atas tiang kayu dan diikat untuk dibunuh, ia berdoa dengan suara lantang:

"اللَّهُمَّ إِنَّا قَدْ بَلَّغْنَا رِسَالَةَ رَسُولِكَ، فَبَلِّغْهُ الْغَدَاةَ مَا يُفْعَلُ بِنَا، اللَّهُمَّ أَحْصِهِمْ عَدَدًا، وَاقْتُلْهُمْ بَدَدًا، وَلَا تُبْقِ مِنْهُمْ أَحَدًا"

"Ya Allah, sungguh kami telah menyampaikan risalah Rasul-Mu. Sampaikanlah kepadanya pada pagi ini apa yang diperbuat terhadap kami. Ya Allah, hitunglah mereka satu per satu, bunuhlah mereka semua, dan jangan Engkau sisakan seorang pun dari mereka."

Kemudian ia bersenandung dengan syair yang mengharukan:

"وَلَسْتُ أُبَالِي حِينَ أُقْتَلُ مُسْلِمًا ... عَلَى أَيِّ جَنْبٍ كَانَ فِي اللهِ مَصْرَعِي"

"Aku tak peduli saat terbunuh sebagai Muslim ... ke sisi mana pun jasadku rebah karena Allah."

"وَذَلِكَ فِي ذَاتِ الْإِلَهِ وَإِنْ يَشَأْ ... يُبَارِكْ عَلَى أَوْصَالِ شِلْوٍ مُمَزَّعِ"

"Itu semua karena Allah, dan jika Dia berkehendak ... Dia akan memberkati anggota tubuh yang tercerai-berai."

Maka majulah Uqbah bin al-Harits dan membunuhnya. Khubaib gugur sebagai syahid, membawa keimanan dan keikhlasan di hatinya.

Zaid: Cinta kepada Rasul Melebihi Segalanya

Adapun Zaid bin ad-Datsinnah, ketika mereka membawanya untuk dibunuh, Abu Sufyan bin Harb bertanya kepadanya, "Aku bertanya kepadamu demi Allah, wahai Zaid, apakah kau berharap Muhammad sekarang berada di tempatmu, kami penggal lehernya, dan kau bersama keluargamu dengan selamat?"

Zaid menjawab tegas, "Demi Allah, aku tidak rela jika Muhammad sekarang berada di tempatnya lalu tertusuk duri, sementara aku duduk bersama keluargaku!"

Abu Sufyan terperangah dan berkata, "Aku tidak pernah melihat seorang pun yang mencintai seseorang seperti cintanya para sahabat Muhammad kepada Muhammad." Lalu Nisthas, budak Shafwan, maju dan membunuhnya.

Perlindungan Allah atas Jasad Ashim

Adapun Ashim bin Tsabit, sang panglima, setelah ia gugur, Bani Hudzail ingin memenggal kepalanya untuk dijual kepada Sulafah binti Sa'd. Wanita ini telah bernadzar, jika ia mendapatkan kepala Ashim, ia akan minum arak di dalam tempurung kepalanya sebagai balas dendam atas kematian kedua putranya di Perang Uhud.

Namun Allah Maha Pelindung. Setelah Ashim gugur, Allah mengirimkan sekumpulan lebah atau tawon (ad-dabr) yang membentuk seperti awan menaungi jasadnya. Para musuh tidak bisa mendekat. Mereka berkata, "Biarkan saja hingga malam, nanti lebah-lebah itu pergi, baru kita ambil." Namun ketika malam tiba, Allah menenggelamkan jasad Ashim ke dalam aliran sungai di lembah itu. Mereka tidak menemukan jejaknya sama sekali.

Ashim pernah berjanji kepada Allah bahwa ia tidak akan pernah menyentuh orang musyrik, dan tidak akan pernah disentuh oleh orang musyrik, karena ia menjauhi kenajisan mereka. Maka Allah melindunginya setelah wafat sebagaimana ia menjaga diri selama hidupnya. Umar bin Khattab ketika mendengar kabar ini berkata, "Allah menjaga hamba-Nya yang beriman. Ashim bernadzar tidak akan disentuh orang musyrik selama hidupnya, maka Allah menjaganya setelah wafat."



Sumber:
As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau'i al-Qur'an wa as-Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India

Jurhum dan Kaum ‘Amaliq: Jejak Bangsa-Bangsa Arab Purba

Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India