Rihlah Ibnu Bathutah #49 di Kaffa & Krimea: Kisah Muslim di Negeri Nasrani

Ilustrasi digital realistik Ibnu Battuta berdiri di pelabuhan Kaffa abad ke-14 yang ramai, dengan latar belakang ratusan kapal dagang dan perang serta arsitektur kota bergaya Genoa di tepi laut

Perjumpaan di Negeri Asing: Catatan dari Kaffa dan Al-Qiram

Keesokan hari setelah kapal kami berlabuh, beberapa saudagar dari rombongan kami pergi menemui suku Qifjaq yang tinggal di gurun. Mereka adalah penganut Nasrani. Kami menyewa sebuah kereta kuda dari mereka, lalu melintasi padang menuju kota Kaffa.

Kota itu besar, memanjang di tepian laut. Penduduknya kebanyakan Nasrani dari Genoa, dipimpin oleh seorang bernama Al-Dandir. Kami turun dan bermalam di sebuah masjid milik kaum Muslimin.

Lonceng dan Azan

Belum lama kami beristirahat, tiba-tiba terdengar bunyi lonceng bergema dari segala penjuru. Aku belum pernah mendengarnya seumur hidup! Hatiku menjadi gelisah. Segera kusuruh para sahabatku naik ke menara masjid, membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan mengumandangkan azan. Mereka pun melakukannya.

Tidak lama kemudian, seorang lelaki berbaju zirah dan bersenjata lengkap masuk. Ia mengucapkan salam.

“Siapa engkau?” tanyaku.

“Aku adalah hakim Muslim di kota ini,” jawabnya. “Tadi kudengar lantunan Qur’an dan azan. Aku khawatir akan keselamatan kalian, maka aku datang seperti ini.”

Setelah berbincang sebentar, ia pun pergi. Syukurlah, setelah itu tidak ada hal buruk yang menimpa kami.

Jamuan dan Pelabuhan yang Ramai

Besoknya, sang Pemimpin kota datang menjamu kami dengan makanan. Setelah makan, kami berkeliling. Pasar-pasar di Kaffa teratur baik, meski kebanyakan penduduknya bukan Muslim. Kami juga mengunjungi pelabuhannya. Luar biasa! Sekitar dua ratus kapal—perang dan dagang, besar dan kecil—berjejal di sana. Sungguh, ini salah satu pelabuhan tertermasyhur di dunia.

Melanjutkan Perjalanan ke Al-Qiram

Kami meninggalkan Kaffa dengan menyewa kereta lagi, menuju kota Al-Qiram. Kota yang termasuk dalam wilayah Sultan agung Muhammad Uzbak Khan ini dipimpin seorang Amir bernama Tulaktumur.

Sebelum kami tiba, salah seorang pelayan Amir yang menemani kami di perjalanan telah memberitahukan kedatangan kami. Maka, Amir mengirimkan hadiah seekor kuda untukku melalui Imamnya, Sa'duddin. Kami menginap di sebuah zawiyah (tempat ibadah dan belajar) yang dipimpin Syaikh Zadah Al-Khurasani. Beliau menyambut kami dengan penuh keramahan dan penghormatan.

Aku memperhatikan, banyak orang datang menghadapnya—hakim, khatib, faqih, dan lainnya—untuk memberi salam. Syaikh Zadah bercerita bahwa di kota ini hidup seorang rahib Nasrani yang sangat zuhud, mampu berpuasa empat puluh hari berturut-turut dan hanya berbuka dengan sebutir kacang. Ia mengajakku menemuinya, tetapi aku menolak. Ah, kemudian aku menyesal telah melewatkan kesempatan melihat orang saleh itu.

Para Cendekiawan dan Ulama

Di Al-Qiram, aku berkesempatan bertemu dengan banyak orang terpandang:

Hakim Agung Syamsuddin As-Sa'ili, hakim mazhab Hanafi.

Hakim Syafi'i yang bernama Khidhir.

Faqih dan Guru 'Alauddin Al-Ashi.

Khatib Abu Bakar, yang berkhotbah di Masjid Jami' peninggalan Sultan An-Nashir.

Syaikh Muzhaffaruddin, seorang bijak yang sebelumnya adalah seorang Romawi lalu masuk Islam dengan baik.

Syaikh Muzhharuddin, seorang faqih dan ahli ibadah yang sangat dihormati.

Kami juga menjenguk Amir Tulaktumur yang sedang sakit. Ia menerima kami dengan sangat baik. Karena Amir akan berangkat ke ibu kota Sultan, Al-Sara, aku memutuskan untuk ikut dalam rombongannya. Aku pun mempersiapkan beberapa kereta untuk perjalanan panjang.

Tata Krama dan Kehidupan di Jalan

Kereta mereka disebut 'Arabah, memiliki roda besar dan bisa ditarik kuda, sapi, atau unta. Penjaganya menunggangi salah satu kuda penarik. Kereta untuk penumpang tertutup rapat, sehingga yang di dalam bisa melihat keluar, tapi orang luar tidak bisa melihat ke dalam. Di dalamnya, seseorang bisa beraktivitas dengan leluasa.

Ketika berkumpul, Amir memiliki seorang Mu'arif yang bertugas memperkenalkan tamu. Jika seorang hakim datang, ia akan berseru lantang: "Bismillah, sayyiduna wa maulana, Qadhi al-Qudhat wal Hukkam, Mubayyin al-Fatawa wal Ahkam, Bismillah!" Maka semua orang akan berdiri dan memberi tempat.

Perjalanan di padang luas mengingatkanku pada kafilah haji di jalan Hijaz. Mereka berangkat setelah Subuh, istirahat pada dhuha, berangkat lagi setelah Zhuhur, dan berhenti pada sore hari. Yang unik, hewan-hewan tunggangan dibiarkan mencari makan sendiri siang dan malam, karena tumbuhan gurun ini sangat bernutrisi. Tidak ada penjaga khusus karena hukum mereka sangat keras terhadap pencurian. Siapa yang mencuri kudu harus mengembalikan sembilan ekor yang serupa! Jika tidak mampu, anak-anaknya akan diambil. Jika tidak punya anak, ia sendiri yang akan dihukum mati.

Adat Makan dan Sebuah Kisah tentang Manisan

Mereka tidak biasa makan roti. Makanan pokok mereka adalah Duqi (sejenis bubur). Mereka juga minum Qimizz (semacam susu asam fermentasi). Mereka kuat dan tangguh.

Mereka menganggap makan manisan (halwa) sebagai sesuatu yang kurang pantas. Pernah suatu hari di bulan Ramadhan, aku menghadap Sultan Uzbak. Aku membawa hidangan manisan buatan sahabatku. Sultan hanya mencelupkan jarinya, lalu menjilatnya, tidak lebih.

Amir Tulaktumur bercerita, seorang pembesar dekat Sultan pernah ditawari kebebasan untuk dirinya dan seluruh keluarganya—hanya dengan satu syarat: memakan manisan. Ia menolak dan berkata, "Sekalipun engkau bunuh aku, aku tidak akan memakannya."

Sebuah Kesalahpahaman yang Menggelikan

Ketika kami singgah di suatu tempat bernama Sajaf, Amir mengundangku makan. Di sana disajikan minuman putih dalam piring kecil. Syaikh Muzhaffaruddin di sampingku berkata, "Ini adalah ma' ad-dahn (air minyak)." Aku tidak paham, lalu mencicipinya. Rasanya asam! Aku pun menolak meminumnya.

Setelah keluar, aku baru tahu bahwa itu sebenarnya Buza, sejenis minuman anggur dari fermentasi Duqi. Mereka bermazhab Hanafi yang membolehkan minuman semacam itu. Rupanya Syaikh Muzhaffaruddin, karena logat Ajamnya, menyebut "ma' ad-dahn" dan kupahami sebagai "air minyak"! Sungguh sebuah kesalahpahaman yang lucu.

Demikianlah catatan perjalananku di negeri yang jauh ini, penuh dengan perjumpaan, pelajaran, dan kejadian yang tak terduga.

________________________________________

Peta Perjalanan Ibnu Bathutah #49

Sumber Kisah: Rihlah Ibn Battuthah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pensyariatan Haji dan Wafatnya Sa'ad bin Mu'adz

Di Balik Pernikahan Rasulullah: Membantah Fitnah dan Menyingkap Hikmah Agung

Zainab binti Jahsy: Pernikahan Langit yang Mengubah Syariat