Peristiwa Bi'r Ma'unah: Keteguhan Iman di Tengah Pengkhianatan

Suasana Madinah pada pagi hari yang tenang. Tampak sekelompok sahabat Nabi bersiap melakukan perjalanan dakwah menuju wilayah Najd. Mereka berjumlah sekitar 70 orang, mengenakan pakaian sederhana khas Arab abad ke-7: jubah panjang berwarna netral, sorban, dan perlengkapan perjalanan. Beberapa membawa mushaf Al-Qur’an, kantong air, dan perbekalan.

Utusan dari Bani Amir

Pada bulan Shafar tahun keempat hijriah, seorang utusan datang menghadap Rasulullah di Madinah. Ia adalah Abu Barra' Amir bin Malik, yang dijuluki "Mula'ib al-Asinnah" (Pemain Tombak), seorang pemuka besar Bani Amir. Rasulullah mengajaknya memeluk Islam, namun ia tidak masuk Islam, namun juga tidak menolak dengan keras.

Abu Barra' berkata, "Wahai Muhammad, seandainya engkau mengutus beberapa orang sahabatmu kepada penduduk Najd untuk mengajak mereka kepada agamamu, aku berharap mereka akan menyambut seruanmu."

Rasulullah menjawab dengan penuh kehati-hatian, "Aku khawatirkan keselamatan mereka dari (kejahatan) penduduk Najd."

Maka Abu Barra' menjamin, "Aku akan melindungi mereka. Mereka berada dalam jaminan keamananku."

Keberangkatan Para Penghafal Al-Qur'an

Atas jaminan itu, Rasulullah mengirimkan Al-Mundzir bin 'Amr bersama tujuh puluh orang sahabat pilihan. Mereka dikenal dengan sebutan "al-Qurra'" (para pembaca Al-Qur'an). Di siang hari mereka mencari kayu bakar, di malam hari mereka membaca Al-Qur'an dan shalat, serta memberi makan para ahli shuffah. Jika diajak berjihad, mereka segera memenuhi panggilan. Ada pula yang meriwayatkan jumlah mereka empat puluh orang, namun pendapat pertama lebih kuat.

Di antara mereka terdapat nama-nama mulia: Al-Harits bin Ash-ShimmahHaram bin Milhan — paman Anas bin Malik — dan Amir bin Fuhairah, mantan budak Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Mereka berangkat menuju Najd hingga tiba di sebuah tempat bernama Bi'r Ma'unah (Sumur Ma'unah), sebuah lokasi di wilayah kabilah Hudzail antara Makkah dan Usfan.

Pengkhianatan Berdarah

Dari tempat itu, mereka mengutus Haram bin Milhan untuk menyampaikan surat Rasulullah kepada Amir bin Ath-Thufail, seorang pemuka Bani Amir yang juga sepupu Abu Barra'. Namun ketika Haram datang, Amir bin Ath-Thufail bahkan tidak membaca surat itu. Dengan keji, ia memberi isyarat kepada seorang pengikutnya untuk menusuk Haram dari belakang dengan tombak.

Di saat-saat akhir hayatnya, Haram bin Milhan berseru dengan penuh keyakinan, "Fuztu wa Rabbil Ka'bah! — Aku menang, demi Tuhan Pemilik Ka'bah!"

Setelah membunuh utusan itu, Amir bin Ath-Thufail segera meminta bantuan Bani Amir untuk menyerang rombongan Muslimin. Namun Bani Amir menolak. Mereka berkata, "Kami tidak akan mengkhianati perjanjian Abu Barra' yang telah memberikan jaminan keamanan kepada mereka."

Tidak putus asa, Amir bin Ath-Thufail meminta bantuan kabilah-kabilah dari Bani Sulaim: Ri'lDzakwan, dan Ushayyah. Mereka menyambut seruannya. Maka berangkatlah mereka dan mengepung para sahabat di tempat persinggahan mereka.

Perlawanan Hingga Titik Darah Terakhir

Melihat kepungan musuh, para sahabat berkata, "Demi Allah, bukan kalian yang kami tuju. Kami hanya singgah di sini dalam perjalanan untuk melaksanakan perintah Rasulullah ."

Namukabilah-kabilah itu tidak peduli. Mereka terus mengepung dan memerangi para sahabat hingga gugurlah seluruh tujuh puluh orang itu — kecuali satu orang yang masih tersisa nyawanya.

Ka'ab bin Zaid ditemukan masih bernafas di antara tumpukan jenazah. Ia dipungut dari medan pertempuran dalam keadaan sekarat, dan kemudian hidup hingga akhirnya gugur sebagai syahid dalam Perang Khandaq.

Dua orang lagi selamat karena sedang tidak berada di tempat kejadian: Amr bin Umayyah Adh-Dhamari dan Al-Mundzir bin Muhammad bin Uqbah. Saat itu mereka sedang menggembala ternak rombongan. Mereka tidak mengetahui musibah yang menimpa saudara-saudara mereka, kecuali setelah melihat burung-burung berputar-putar di sekitar perkemahan.

Berkatalah Al-Mundzir kepada Amr, "Aku melihat burung-burung ini pasti ada sesuatu." Mereka pun mendekat untuk melihat, dan betapa terkejutnya mereka mendapati para sahabat terbujur kaku dalam darah mereka, sementara kuda-kuda yang menyerang masih berdiri di tempat.

Al-Mundzir bertanya, "Apa pendapatmu?"

Amr menjawab, "Aku melihat kita harus segera menemui Rasulullah dan mengabarkan berita ini."

Namun Al-Mundzir bin Muhammad berkata dengan tegas, "Aku tidak rela meninggalkan tempat di mana Al-Mundzir bin 'Amr telah gugur. Aku tidak akan pulang hanya untuk mengabarkan berita ini kepada orang-orang!"

Maka ia pun maju memerangi musuh hingga gugur sebagai syahid — syahidnya keberanian dan kesetiaan. Adapun Amr bin Umayyah, ia ditawan oleh musuh.

Amr bin Umayyah dan Dua Tawanan yang Terbunuh

Ketika Amr bin Umayyah memberitahukan bahwa ia berasal dari kabilah Mudhar, Amir bin Ath-Thufail membebaskannya setelah memotong jambulnya. Ia memerdekakannya sebagai kafarat (tebusan) untuk seorang budak wanita, demikian menurut pengakuannya.

Amr pun berjalan menuju Madinah. Di tengah jalan, ia bertemu dengan dua orang laki-laki dari Bani Amir. Keduanya membawa surat perjanjian keamanan dari Rasulullah , namun Amr tidak mengetahuinya. Ia membiarkan mereka tidur, lalu membunuh mereka berdua, karena ia mengira tindakan itu adalah balasan yang setimpal atas apa yang dilakukan Bani Amir terhadap para sahabatnya.

Ketika Amr tiba di Madinah dan menceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah , beliau bersabda, "Engkau telah membunuh dua orang yang aku harus membayar diyat (tebusan) mereka."

Kemudian beliau bersabda, "Ini adalah perbuatan Abu Barra'. Sungguh aku sejak semula tidak menyukai hal ini dan mengkhawatirkannya."

Hukuman bagi Pengkhianat

Berita itu sampai kepada Abu Barra'. Ia sangat terpukul karena jaminan keamanannya telah dikhianati oleh keponakannya sendiri, Amir bin Ath-Thufail. Maka putranya, Rabi'ah, pergi menemui Amir bin Ath-Thufail dan menikamnya dengan tombak sebagai balasan atas perbuatan kejinya. Amir terluka namun tidak mati.

Setelah peristiwa itu, Amir bin Ath-Thufail datang menghadap Nabi dengan niat menipu dan membunuh beliau. Namun Allah melindungi Rasul-Nya dari tipu dayanya. Rasulullah berdoa:

"اللَّهُمَّ اكْفِنِي عَامِرًا"

"Ya Allah, cukupkanlah aku dari (kejahatan) Amir."

Maka Allah mengirimkan penyakit gembur-gembur (gddah) — sejenis penyakit tha'un yang menyerang unta — kepadanya saat ia berada di rumah seorang wanita dari Bani Salul. Dalam penderitaannya, ia berkata, "Gembur-gembur seperti gembur-gembur unta di rumah wanita Saluliyah!" Kemudian ia menaiki kudanya dan mati di atas punggung kuda di tanah lapang, menjadi santapan burung dan binatang buas.

Duka yang Mendalam

Kabar tentang peristiwa tragis di Bi'r Ma'unah ini tiba di Madinah pada hari yang sama dengan kabar tentang peristiwa Ar-Raji' (kesyahidan sepuluh sahabat di tempat lain). Rasulullah dan kaum Muslimin bersedih dengan kesedihan yang mendalam. Hanya keyakinan bahwa mereka telah gugur sebagai syahid di sisi Tuhan mereka dan mendapat rezeki di sisi-Nya yang sedikit meredakan duka itu.

Kesedihan Rasulullah begitu dalam hingga selama sebulan penuh beliau berdoa dalam shalat Subuh untuk melaknat kabilah Ri'l, Dzakwan, dan Ushayyah yang telah berkhianat dan membantai para qurra'.

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah mengabarkan wafatnya para qurra', beliau bersabda:

"إِنَّ أَصْحَابَكُمْ قَدْ أُصِيبُوا، وَإِنَّهُمْ قَدْ سَأَلُوا رَبَّهُمْ فَقَالُوا: رَبَّنَا أَخْبِرْ عَنَّا إِخْوَانَنَا بِمَا رَضِينَا عَنْكَ وَرَضِيتَ عَنَّا، فَأَخْبَرَهُمْ عَنْهُمْ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِمْ قُرْآنًا كَانَ يُتْلَى: بَلِّغُوا عَنَّا قَوْمَنَا أَنَّا لَقِينَا رَبَّنَا فَرَضِيَ عَنَّا وَأَرْضَانَا، ثُمَّ نُسِخَ بَعْدُ"

"Sesungguhnya sahabat-sahabat kalian telah gugur. Mereka telah meminta kepada Tuhan mereka, 'Wahai Tuhan kami, sampaikanlah kepada saudara-saudara kami bahwa kami ridha kepada-Mu dan Engkau pun ridha kepada kami.' Maka Allah menyampaikan kabar mereka kepada kaum Muslimin. Allah menurunkan Al-Qur'an tentang mereka yang pernah dibaca: 'Sampaikanlah kepada kaum kami bahwa kami telah bertemu Tuhan kami, Dia ridha kepada kami dan kami pun ridha kepada-Nya.' Kemudian ayat itu dihapus (dinaskh)." (HR. Bukhari)

Renungan: Keimanan yang Mengalahkan Ketakutan

Ada pelajaran berharga yang dapat kita petik dari peristiwa Ar-Raji' dan Bi'r Ma'unah. Betapa iman telah membuat sekelompok kecil orang asing di negeri orang berani melawan dua ratus pasukan musuh. Betapa iman mengangkat mereka dari kelemahan dan ketundukan, memilih jalan kehormatan daripada kompromi yang merendahkan.

Seandainya Zaid dan Khubaib (dalam peristiwa Ar-Raji') mau mengucapkan kata-kata kekufuran atau mencela Nabi, padahal hati mereka tetap teguh dalam iman, tentu mereka dapat menyelamatkan diri dari kematian dan penyaliban. Namun mereka yang memiliki tekad kuat dan keyakinan tulus itu memilih mati sebagai pahlawan, sebagaimana mereka hidup sebagai pahlawan.

Seandainya Khubaib yang ditawan dan akan dibunuh sebagai balas dendam atas kematian anak seorang Quraisy — seandainya ia membunuh anak itu sebagai pembalasan — tentu tindakannya tidak dapat disalahkan. Ia adalah orang yang teraniaya yang membela diri. Namun itulah akhlak Islam yang sejati, hati yang beriman, dan nurani yang hidup. Semua itu mengangkat pemiliknya dari perbuatan khianat dan tipu daya, meskipun itu sebagai balasan. Betapa mulia perkataan Khubaib kepada wanita Quraisy yang menjaga anaknya: "Apakah engkau khawatir aku akan membunuhnya? Aku tidak akan melakukan itu!"

Kami ingin mendengar komentar para orientalis yang begitu berlebihan dalam mengkritik karena dua tawanan perang Badr yang dihukum mati. Mengapa mereka tidak berbicara tentang pembunuhan dua tawanan Muslim yang mulia ini — betapa jauh perbedaan kedua situasi itu? Dan tentang pembunuhan orang-orang yang dibantai dengan khianat dalam peristiwa Ar-Raji' dan Bi'r Ma'unah? Namun sebagaimana pepatah:

"Mata yang ridha (cinta) buta terhadap segala keburukan,
Sedangkan mata yang benci mampu melihat segala kejelekan."

Hikmah di Balik Pengiriman Pasukan

Mungkin ada yang bertanya: Bagaimana mungkin Rasulullah menyetujui pengiriman dua pasukan ini bersama orang-orang yang belum memeluk Islam, di bawah jaminan seorang yang belum masuk Islam, padahal mungkin saja ini adalah tipu daya untuk menjebak kaum Muslimin? Sementara Rasulullah dikenal memiliki akal yang cemerlang, pandangan jauh ke depan, dan bakat politik yang tak tertandingi?

Jawabannya adalah:

Pertama: Menjaga jaminan keamanan adalah salah satu sifat mulia orang Arab dan karakter yang mendarah daging dalam diri mereka. Kemungkinan mereka mengkhianati jaminan itu sangatlah jauh, terlebih lagi para qurra' itu berada di bawah jaminan seorang tokoh terhormat di kalangan Bani Amir, yaitu Abu Barra'. Itulah sebabnya Bani Amir menolak untuk mengkhianati jaminannya, sehingga Amir bin Ath-Thufail terpaksa meminta bantuan kabilah lain dari Bani Sulaim.

Kedua: Pengiriman kedua pasukan ini tidak lain adalah satu mata rantai dari rangkaian jihad di jalan Allah, dakwah menuju agama ini, dan upaya menyebarkannya dengan berbagai cara. Bukankah risiko terburuk yang mungkin terjadi adalah mereka gugur sebagai syahid? Dan itulah yang diharapkan oleh setiap Muslim saat itu.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya:

قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ

"Katakanlah (Muhammad), 'Tidaklah yang kamu tunggu-tunggu untuk kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (kemenangan atau mati syahid).'" (QS. At-Taubah: 52)


Sumber:
As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau'i al-Qur'an wa as-Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India

Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India

Jurhum dan Kaum ‘Amaliq: Jejak Bangsa-Bangsa Arab Purba