Perang Badar Kubra Bagian 3
Musyawarat-Musyawarat Bijak di Medan Badar
Angin gurun berhembus pelan ketika pasukan kecil kaum Muslimin berhenti di sebuah lembah yang kelak dikenal dengan nama Badar. Mereka datang dari Madinah, lelah oleh perjalanan jauh, sementara di hadapan mereka, tanpa mereka lihat, pasukan besar Quraisy sedang berjalan mendekat.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan pasukan berhenti di suatu titik. Di sanalah mereka menurunkan barang-barang, menyiapkan tenda-tenda sederhana, dan bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Di tengah kesibukan itu, datanglah seorang sahabat yang dikenal sangat cerdas dalam urusan perang, Al-Hubab bin Al-Mundzir Al-Khazraji. Ia mendekati Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan penuh adab dan bertanya dengan hati-hati.
“Wahai Rasulullah,” ujarnya, “bagaimana pendapat Anda tentang tempat singgah ini? Apakah ini tempat yang Allah tunjukkan kepada Anda, sehingga kita tidak boleh maju atau mundur darinya? Ataukah ini hanyalah pendapat, strategi perang, dan siasat semata?”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab bahwa itu hanyalah pendapat dan strategi, bukan ketetapan wahyu. Mendengar itu, Al-Hubab memberanikan diri mengemukakan fikirannya.
“Wahai Rasulullah,” katanya, “menurutku ini bukan tempat yang tepat. Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan hingga sampai di sumber air yang paling dekat dengan posisi musuh, lalu kita singgah di sana. Kemudian kita timbun semua sumur di belakang kita. Setelah itu kita bangun satu kolam di atas sumur kita dan kita penuhi dengan air. Nanti kita perangi mereka: kita bisa minum, sementara mereka tidak bisa minum.”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menerima saran itu dengan lapang dada. Beliau memuji pendapat Al-Hubab dan mengatakannya sebagai saran yang tepat. Lalu beliau memindahkan pasukan, menempati posisi baru dekat sumber air, serta menutup sumur-sumur yang lain sebagaimana diusulkan.
Dengan sikap ini, tampak jelas bahwa Nabi tidak bersikap otoriter, meski beliau adalah pemimpin tertinggi, manusia paling cerdas, dan paling tajam pandangannya. Dalam perkara yang tidak diturunkan wahyu, beliau bermusyawarah, mau mendengar, dan mau kembali kepada pendapat yang lebih benar. Inilah beda beliau dengan banyak pemimpin yang rela menyeret umat ke jurang bahaya demi mempertahankan pendapat yang mungkin keliru.
Allah meneguhkan sifat lemah lembut dan musyawarah Rasulullah dalam Al-Qur'an:
فَبِما رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah menyukai orang yang bertawakal.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)
Usulan Cermat Sa’ad bin Mu’adz
Di malam sebelum pertempuran, seorang sahabat besar dari kaum Aus, Sa’ad bin Mu’adz, mengajukan usulan lain yang tak kalah penting. Ia memandang jauhnya dan beratnya risiko bila pemimpin tertinggi ikut langsung di tengah kancah pertempuran.
“Wahai Nabi Allah,” kata Sa’ad, “bagaimana jika kami bangunkan untuk Anda sebuah balai-balai di tempat yang tinggi. Anda tinggal di dalamnya, dan kami siapkan tunggangan Anda di dekat Anda. Lalu kami maju menghadapi musuh. Jika Allah memuliakan kami dan memberi kami kemenangan, itulah yang kami harapkan. Namun jika terjadi sebaliknya, Anda dapat segera naik tunggangan dan bergabung dengan orang-orang di belakang kami di Madinah. Di sana ada kaum yang kecintaannya kepada Anda tidak kurang dari kami. Seandainya mereka tahu Anda pasti akan berperang, mereka tidak akan tertinggal. Allah akan melindungi Anda dengan mereka; mereka akan menasihati Anda dan berjihad bersama Anda.”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memuji usulan itu dan mendoakan kebaikan untuk Sa’ad. Maka dibangunlah sebuah balai-balai sederhana di atas bukit kecil yang menghadap ke medan pertempuran. Di situlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berada, ditemani oleh sahabat terdekatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, yang menjaga beliau.
Usulan Sa’ad ini menunjukkan betapa cermatnya strategi perang: pemimpin utama seharusnya berada di posisi yang agak jauh dari pusaran pedang dan tombak, agar bisa mengarahkan pasukan dengan tenang, dan agar jika ia terluka, tidak berakibat kacau dan runtuhnya semangat seluruh pasukan.
Malam itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bermalam di balai-balai tersebut bersama Abu Bakar. Sa’ad bin Mu’adz berdiri di pintu, menggenggam pedang, menjaga pemimpin yang dicintainya. Sementara itu, kaum Muslimin yang lain tertidur lelap, melepas lelah perjalanan panjang sebelum fajar pertempuran.
Menyusun Barisan Kaum Muslimin
Pagi hari pun tiba. Saat cahaya mulai menyinari lembah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bangkit dan mulai mengatur barisan pasukan. Beliau menata mereka dalam saf-saf yang rapi, rapat, tidak bengkok dan tidak terputus. Seakan-akan mereka adalah satu bangunan kokoh.
Itulah gambaran yang dipuji Allah dalam firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيانٌ مَرْصُوصٌ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
(QS. Ash-Shaff: 4)
Sementara pasukan Muslim menata barisan, dari kejauhan pasukan Quraisy mulai muncul, turun dari balik bukit-bukit pasir menuju lembah Badar. Jumlah mereka jauh lebih banyak, perlengkapan mereka lebih lengkap, dan di antara mereka ada para pembesar Makkah yang sombong dan keras kepala.
Melihat mereka mendekat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya, bermunajat kepada Allah dengan doa yang menyentuh:
اللَّهُمَّ هَذِهِ قُرَيْشٌ أَقْبَلَتْ بِخُيَلَائِهَا وَفَخْرِهَا، تُحَادُّكَ وَتُكَذِّبُ رَسُولَكَ، اللَّهُمَّ فَنَصْرَكَ الَّذِي وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ أَحْنِهِمِ الْغَدَاةَ
“Ya Allah, inilah Quraisy. Mereka datang dengan kesombongan dan kebanggaan mereka, menentang-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, turunkanlah pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, binasakanlah mereka di pagi hari ini.”
Kemudian kedua pasukan pun berhadap-hadapan, saling memandang dalam jarak yang makin dekat. Di antara pasukan musyrik, tampak ‘Utbah bin Rabi’ah di atas unta merahnya, duduk sebagai salah satu tokoh yang disegani.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memandang ke arahnya lalu bersabda bahwa jika ada sedikit kebaikan pada salah seorang di pasukan Quraisy, maka itu terdapat pada pemilik unta merah tersebut. Andaikata mereka mau mematuhi ‘Utbah, niscaya mereka akan mendapat petunjuk. Namun takdir Allah telah berjalan: suara kebaikan di tengah mereka akan kalah oleh kesombongan.
Mimpi yang Meneguhkan Hati
Pada malam sebelum pertempuran, Allah memberi kabar gembira kepada Rasul-Nya melalui mimpi. Dalam mimpi itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat pasukan musyrik tampak sedikit jumlahnya. Ini bukan sekadar mimpi biasa, melainkan bentuk pertolongan agar hati kaum Muslimin menjadi berani dan tidak gentar melihat musuh yang sesungguhnya jauh lebih banyak.
Allah menceritakan hal ini dalam Al-Qur’an:
إِذْ يُرِيكَهُمُ اللَّهُ فِي مَنامِكَ قَلِيلًا وَلَوْ أَراكَهُمْ كَثِيرًا لَفَشِلْتُمْ وَلَتَنازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَلكِنَّ اللَّهَ سَلَّمَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذاتِ الصُّدُورِ
“(Ingatlah), ketika Allah memperlihatkan mereka (kaum musyrikin) kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu kamu akan menjadi gentar dan tentu kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam dada.”
(QS. Al-Anfal: 43)
Bukan hanya dalam mimpi. Di saat kedua pasukan saling melihat, Allah juga menghendaki agar pasukan Quraisy tampak sedikit di mata kaum Muslimin, dan kaum Muslimin tampak sedikit di mata kaum musyrik. Tujuannya, agar kedua pihak berani berperang, sehingga terjadi pertempuran yang akan menampakkan kemenangan bagi kebenaran dan kehinaan bagi kebatilan.
Allah berfirman:
وَإِذْ يُرِيكُمُوهُمْ إِذِ الْتَقَيْتُمْ فِي أَعْيُنِكُمْ قَلِيلًا وَيُقَلِّلُكُمْ فِي أَعْيُنِهِمْ لِيَقْضِيَ اللَّهُ أَمْرًا كانَ مَفْعُولًا وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ
“Dan (ingatlah) ketika Allah menampakkan mereka (kaum musyrikin) kepadamu, ketika kamu berjumpa, berjumlah sedikit dalam penglihatan matamu dan kamu juga ditampakkan-Nya berjumlah sedikit dalam pandangan mereka, karena Allah hendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan. Dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.”
(QS. Al-Anfal: 44)
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa pada hari Badar, musuh tampak sedikit di mata mereka, sampai-sampai ia berkata kepada orang di sampingnya, “Menurutmu, berapa jumlah mereka? Tujuh puluh?” Orang itu menjawab, “Aku pikir mereka seratus.”
Padahal pada akhirnya, ketika pertolongan malaikat datang, Allah menjadikan kaum musyrik melihat kaum Muslimin seakan dua kali lipat dari jumlah mereka sendiri. Hal ini diisyaratkan dalam firman Allah:
قَدْ كانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتا فِئَةٌ تُقاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرى كافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشاءُ إِنَّ فِي ذلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصارِ
“Sungguh, telah ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kamu pada dua golongan yang bertemu (bertempur). Satu golongan berperang di jalan Allah dan (golongan) yang lain kafir yang melihat (musuh-musuh mereka) berjumlah dua kali lipat mereka dengan mata kepala sendiri. Dan Allah memperkuat dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.”
(QS. Ali ‘Imran: 13)
Makna yang paling kuat dari ayat ini adalah bahwa golongan kafir melihat kaum mukmin berjumlah dua kali lipat jumlah mereka sendiri. Ini adalah bentuk lain dari pertolongan Allah: musuh menjadi gentar karena merasa berhadapan dengan lawan yang jauh lebih besar.
Keraguan di Barisan Quraisy
Di pihak Quraisy, meski jumlah mereka besar, tidak semua hati mereka mantap. Setelah menempati posisi pertempuran, mereka mengutus seorang laki-laki bernama ‘Umar bin Wahb Al-Jumahi untuk mengintai jumlah pasukan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Ia menunggang kuda mengelilingi pasukan Muslim, mengamati satu per satu, lalu kembali kepada kaumnya dan berkata, “Mereka sekitar tiga ratus orang, lebih sedikit atau lebih banyak sedikit. Tapi beri aku waktu untuk melihat apakah ada pasukan tambahan yang bersembunyi.”
Ia pun memacu kudanya jauh ke sudut-sudut lembah. Tidak terlihat bala bantuan sedikit pun. Ia kembali sambil membawa kesimpulan yang berat.
“Aku tidak melihat ada pasukan lain,” katanya. “Tapi demi Allah, wahai kaum Quraisy, aku melihat malapetaka yang membawa kematian. Itu adalah unta-unta Yatsrib yang membawa kematian yang pasti. Kaum yang tidak punya perlindungan apa-apa selain pedang mereka. Demi Allah, aku tidak melihat seorang pun dari mereka akan terbunuh kecuali ia telah membunuh seorang dari kalian. Bila mereka membunuh dari kalian sejumlah mereka, maka tidak ada lagi kebaikan hidup setelah itu. Putuskanlah pendapat kalian sendiri.”
Kata-kata ini menebar keraguan. Sebagian tokoh mulai berpikir: apakah perang ini benar-benar perlu? Apakah mereka akan pulang dengan kemuliaan, atau justru dengan berita kematian keluarga dan kerabat?
Upaya Mencegah Peperangan yang Gagal
Di tengah suasana tegang itu, bangkitlah beberapa orang bijak yang masih ingin menghindari pertumpahan darah. Di antara mereka adalah Hakim bin Hizam. Ia mendatangi ‘Utbah bin Rabi’ah, salah satu sesepuh Quraisy yang berpengaruh.
“Wahai Abu Al-Walid,” kata Hakim, “engkau adalah orang tua Quraisy, pemimpin dan orang yang ditaati. Maukah engkau melakukan sesuatu yang akan diingat kebaikannya hingga akhir zaman?”
“Apa itu, wahai Hakim?” tanya ‘Utbah.
“Engkau kembalikan orang-orang ini pulang,” jawab Hakim, “dan engkau tanggung sendiri tebusan sekutumu, ‘Amr bin Al-Hadhrami, yang terbunuh. Engkau bayarkan diyatnya dan hartanya.”
‘Utbah setuju. Ia berkata, “Dia sekutuku. Akulah yang menanggung tebusan dan hartanya.” Lalu Hakim mengingatkannya, “Temuilah Ibnul Hanzhaliyyah (Abu Jahal). Aku khawatir dialah yang akan mengobarkan peperangan.”
‘Utbah lalu berdiri dan berpidato di hadapan kaum Quraisy.
“Wahai kaum Quraisy,” katanya, “demi Allah kalian tidak akan mendapat kebaikan sedikit pun bila berperang dengan Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Demi Allah, jika kalian mengalahkan mereka, seseorang tetap akan melihat wajah laki-laki yang ia benci untuk dipandang, karena ia telah membunuh sepupunya, atau anak pamannya, atau orang dari keluarganya sendiri. Kembalilah dan biarkan Muhammad bersama orang-orang Arab lainnya. Jika mereka yang membunuhnya, itu yang kalian inginkan. Jika sebaliknya, kalian tidak akan terlibat dalam sesuatu yang kalian benci darinya.”
Suara ini adalah suara akal sehat. Tapi ada satu orang yang tidak pernah rela mundur: Abu Jahal. Ketika Hakim menyampaikan pendapat ‘Utbah kepadanya, Abu Jahal marah besar. Ia menuduh ‘Utbah pengecut, takut perang, dan khawatir terhadap anaknya, Abu Hudzaifah, yang ikut dalam barisan kaum Muslimin.
Untuk memanaskan suasana, Abu Jahal memberi isyarat kepada ‘Amir bin Al-Hadhrami, saudara laki-laki orang yang terbunuh sebelumnya, agar mengobarkan dendam. ‘Amir pun berdiri, membuka bajunya, dan berteriak keras meratapi saudaranya. Suaranya mengguncang emosi para prajurit. Dendam mengalahkan suara kewarasan.
Dengan itu, upaya kebaikan dikalahkan oleh kejahatan. Jalan damai tertutup, dan peperangan tidak lagi bisa dihindari.
Aksi Nekat di Dekat Kolam
Sebelum dua pasukan resmi beradu, seorang laki-laki dari kaum musyrik bernama Al-Aswad bin ‘Abdul Asad Al-Makhzumi maju dengan penuh kesombongan. Ia menunjuk ke arah kolam air yang dibuat kaum Muslimin dan berkata, “Demi Allah, aku pasti akan minum dari kolam itu, atau aku akan menghancurkannya, atau aku akan mati di dekatnya!”
Dengan langkah besar ia bergerak menuju kolam. Namun Allah telah menyiapkan singa-Nya: Hamzah bin Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu, paman Rasulullah dan salah satu pejuang paling berani dalam Islam.
Hamzah menghadangnya dan dengan satu tebasan pedang, ia memutus salah satu betis Al-Aswad. Laki-laki itu jatuh tersungkur, namun dalam keangkuhannya ia tetap merangkak menuju kolam untuk memenuhi sumpahnya. Sampai akhirnya ia menerobos ke dalam kolam dalam keadaan terluka parah. Di sana Hamzah menyelesaikan urusannya dengan satu tebasan lagi yang mengakhiri hidupnya.
Darah pertama pun tumpah. Urat-urat nadi memanas. Pemandangan darah di tanah Badar mengubah suasana. Roda peperangan sudah siap berputar.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri di tengah para sahabat, meniupkan semangat ke dalam jiwa mereka. Beliau menguatkan tekad mereka dengan kata-kata yang jujur dan menenangkan. Di antara yang beliau sampaikan adalah makna sabda beliau bahwa kesabaran di medan keberanian adalah sebab Allah melapangkan kesulitan dan menyelamatkan dari kesedihan. Inilah kunci kemenangan: sabar, teguh, dan yakin kepada pertolongan Allah.
Permulaan Perang: Duel Tiga Lawan Tiga
Sebagaimana tradisi perang Arab waktu itu, pertempuran besar biasanya diawali dengan perang tanding antara para pendekar dari masing-masing pihak.
Dari barisan Quraisy keluarlah tiga orang pembesar: ‘Utbah bin Rabi’ah, saudaranya Syaibah, dan anaknya Al-Walid. Mereka menantang perang tanding dan meminta lawan yang sepadan.
Dari barisan Muslim, muncul tiga pemuda Anshar. Mereka berdiri gagah. Orang-orang Quraisy bertanya, “Kalian siapa?” Mereka menjawab, “Kami sekelompok dari Anshar.” Tokoh Quraisy berkata, “Kalian orang-orang baik dan mulia. Tapi kami ingin lawan dari bani paman kami sendiri.”
Sebagian ahli sirah menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak begitu menyukai ketika tiga pemuda Anshar itu maju pertama kali. Beliau ingin keluarga dan kerabat dekat beliau sendiri yang berada di garis depan duel ini. Maka beliau memerintahkan tiga sahabat terdekat dari keluarga beliau untuk bangkit.
Beliau bersabda (kurang lebih maknanya), “Berdirilah, wahai ‘Ubaidah bin Al-Harits. Berdirilah, wahai Hamzah. Berdirilah, wahai ‘Ali.”
Maka ‘Ubaidah bin Al-Harits –yang paling tua– maju menghadapi ‘Utbah. Hamzah menghadapi Syaibah. Dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menghadapi Al-Walid bin ‘Utbah.
Duel pun berkobar. Pedang beradu pedang. Debu bertebaran. Dalam waktu singkat, Hamzah berhasil membunuh Syaibah, dan ‘Ali berhasil membunuh Al-Walid. Sementara itu, ‘Ubaidah dan ‘Utbah saling melukai. Keduanya menerima tebasan yang berat.
Melihat kondisi ‘Ubaidah, Hamzah dan ‘Ali segera datang membantu. Mereka berdua menghabisi ‘Utbah, lalu mengangkat ‘Ubaidah yang terluka parah dan membawanya ke hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Rasulullah membentangkan salah satu kakinya, dan ‘Ubaidah meletakkan pipinya di atasnya dengan rasa tenang. Dalam kondisi sakaratul maut, ia berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah aku berharap Abu Thalib masih hidup dan melihat ini, agar ia tahu bahwa kami lebih berhak atas bait syair yang dulu ia ucapkan:
‘Dan kami serahkan dia (Muhammad) hingga kami tersungkur di sekelilingnya,
Dan kami lupakan anak-anak dan istri-istri kami.’”
Tak lama kemudian, ruh ‘Ubaidah bin Al-Harits keluar dari jasadnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersaksi bahwa ia adalah seorang syahid.
Tentang dua golongan yang saling berhadapan ini, Allah menurunkan firman-Nya:
هذانِ خَصْمانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ
“Inilah dua golongan (orang-orang mukmin dan orang-orang kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar tentang Tuhan mereka.”
(QS. Al-Hajj: 19)
Rasulullah Meluruskan Barisan dan Kisah Suwad
Setelah duel tiga lawan tiga itu, pertempuran besar hampir dimulai. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kembali ke barisan kaum Muslimin dan mulai meluruskan barisan mereka dengan tongkat di tangan beliau. Beliau ingin saf-saf itu rapi, seperti saf shalat.
Saat berjalan di depan barisan, beliau melihat seorang sahabat bernama Suwad bin Ghaziyyah, sekutu Bani An-Najjar, yang sedikit maju keluar dari saf. Dengan lembut tapi tegas, Rasulullah menyentuh perut Suwad dengan tongkat sambil berkata, kurang lebih, “Luruslah, wahai Suwad.”
Suwad lalu berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah menyakitiku. Padahal Allah mengutusmu dengan kebenaran dan keadilan. Maka izinkan aku qishash (membalas) terhadapmu.”
Permintaan itu, di tengah suasana genting perang, terdengar mengejutkan. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah teladan keadilan. Beliau pun mengangkat pakaiannya dan membuka bagian perutnya, lalu bersabda, kurang lebih, “Balaslah, wahai Suwad.”
Namun alih-alih membalas dengan tongkat, Suwad mendekat, memeluk Rasulullah, dan mencium perut beliau. Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Apa yang membuatmu melakukan ini, wahai Suwad?”
Dengan suara yang tenang namun dalam, Suwad menjawab, “Wahai Rasulullah, sebentar lagi kita akan menghadapi medan syahid. Aku tidak tahu apakah aku akan kembali hidup atau tidak. Aku ingin, jika itu pertemuan terakhirku denganmu di dunia, maka kulitku sempat menyentuh kulitmu.”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun mendoakan kebaikan untuknya.
Dari peristiwa ini, tergambar betapa tinggi akhlak Nabi: beliau rela, dengan sepenuh hati, untuk di-qishash bila memang ada hak seorang Muslim pada dirinya. Inilah puncak keadilan seorang pemimpin. Di sisi lain, kita melihat betapa besar cinta para sahabat kepada Rasulullah; di saat genting menjelang kematian, yang diinginkan Suwad hanyalah sentuhan tubuh Rasulullah yang menenangkan hati dan menghidupkan ruh.
Penutup: Pelajaran dari Badar
Kisah menjelang Perang Badar ini adalah rangkaian peristiwa yang sarat pelajaran:
Seorang pemimpin besar yang mau bermusyawarah dan menerima pendapat bawahannya.
Sahabat-sahabat yang matang strategi, seperti Al-Hubab dan Sa’ad bin Mu’adz.
Upaya damai yang hampir berhasil, namun dikalahkan oleh kesombongan dan dendam.
Pertolongan Allah yang turun melalui mimpi, pengaturan jumlah yang tampak di mata, dan keberanian yang ditanamkan di hati.
Juga cinta para sahabat kepada Rasulullah yang begitu dalam, hingga menyentuh bagian terdalam jiwa mereka.
Di balik semua itu, ada sunnatullah: ketika kebenaran dan kesabaran bertemu tawakal dan ketaatan, maka kemenangan dan kemuliaan akan berpihak kepada orang-orang beriman.
Sumber kisah:
As-Sirah An-Nabawiyyah fī Dhau’i Al-Qur’ān wa As-Sunnah

Komentar
Posting Komentar