Perang Badar Kubra Bagian 2
Perjalanan Kaum Muslimin Menuju Badar
Adapun Nabi ﷺ, beliau berangkat bersama para sahabatnya menempuh perjalanan menuju Badar. Pada saat itu masih tersebar luas di kalangan kaum Muslimin kabar bahwa kafilah dagang Abu Sufyan akan melewati jalur tersebut dalam perjalanannya menuju Makkah. Rasulullah ﷺ belum mengetahui bahwa Abu Sufyan telah berhasil menyelamatkan kafilah itu, dan juga belum mengetahui apa yang telah dilakukan oleh kaum Quraisy,
Kaum Quraisy telah mengerahkan pasukannya dan bergerak menuju Badar hingga mereka sampai di sebuah lembah yang disebut Dzufrān (1) atau Ar-Rauḥā’. Di tempat itulah Rasulullah ﷺ memperoleh kabar tentang kaum Quraisy dan pergerakan mereka dalam jumlah pasukan besar untuk mencegah dan melindungi kafilah dagang tersebut.
Pada saat itulah keadaan berubah. Urusan tidak lagi terbatas pada mengejar kafilah dan merebutnya. Kini kaum Quraisy telah keluar dengan kekuatan besar, sehingga peluang terjadinya peperangan dan pertempuran terbuka menjadi lebih besar. Maka Rasulullah ﷺ mengumpulkan para tokoh pasukan dan bersabda:
«يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ وَعَدَنِي إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ: إِمَّا الْعِيرَ، وَإِمَّا النَّفِيرَ»
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadaku salah satu dari dua golongan itu akan menjadi milik kalian: kafilah atau pasukan perang.”
Dari sini Rasulullah ﷺ mengetahui bahwa sebagian sahabat menginginkan kafilah dan tidak menghendaki bertemu dengan pasukan perang. Sebagian berkata: “Seandainya engkau jelaskan kepada kami tentang peperangan, agar kami bersiap-siap.” Namun mayoritas menginginkan bertemu pasukan perang. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah menyebutkan hal ini dalam firman-Nya:
وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ
Terjemahannya:
“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan itu pasti menjadi milikmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjata itulah yang menjadi milikmu, dan Allah menghendaki untuk menegakkan kebenaran dengan firman-firman-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menegakkan kebenaran dan melenyapkan kebatilan, walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya.”
(QS. Al-Anfāl: 7–8)
Apabila Allah menghendaki sesuatu, Dia akan menyiapkan sebab-sebabnya. Dan sesungguhnya Allah pasti melaksanakan urusan-Nya; Allah telah menetapkan bagi setiap sesuatu suatu ketentuan.
________________________________________
Musyawarah Nabi dengan Para Sahabat tentang Peperangan
Musyawarah ini merupakan ujian bagi keimanan kaum Muslimin, kekokohan akidah mereka, serta sejauh mana kesiapan mereka untuk berperang dan berkorban di jalan Islam. Hasil ujian ini sangat gemilang dan membuktikan bahwa mereka benar-benar layak memikul risalah Muhammadiyah dan berjihad demi menyampaikannya kepada seluruh manusia.
Rasulullah ﷺ bermusyawarah dengan para sahabat mengenai peperangan. Abu Bakar ash-Shiddiq berdiri dan berbicara dengan sangat baik. Umar al-Faruq pun berdiri dan berbicara dengan sangat baik. Kemudian bangkitlah Al-Miqdad bin Al-Aswad (1), lalu berkata:
“Wahai Rasulullah, teruskanlah apa yang telah Allah perlihatkan kepadamu, kami bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan mengatakan seperti perkataan Bani Israil kepada Musa: ‘Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, kami di sini hanya duduk menunggu’. Tetapi kami katakan: Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, kami akan berperang bersama kalian.”
Dalam riwayat al-Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya disebutkan:
“Kami akan berperang di sebelah kananmu, di sebelah kirimu, di depanmu, dan di belakangmu.”
Ia melanjutkan:
“Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau membawa kami hingga ke Bark al-Ghimād (2), niscaya kami akan berperang bersamamu melawan siapa pun yang menghalangimu sampai engkau mencapainya.”
Rasulullah ﷺ memujinya dan mendoakannya dengan kebaikan.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَشِيرُوا عَلَيَّ أَيُّهَا النَّاسُ»
“Berilah aku pendapat, wahai manusia.”
Yang beliau maksud adalah kaum Anshar, karena saat baiat Aqabah mereka berjanji melindungi beliau sebagaimana mereka melindungi anak dan istri mereka selama beliau berada di tengah mereka, dan baiat itu belum mencakup peperangan di luar Madinah. Ini merupakan permintaan musyawarah yang jujur dari orang-orang yang paling setia pada janji dan paling jauh dari tipu daya.
Hal ini disadari oleh pemimpin besar mereka, Sa‘d bin Mu‘adz, yang berkata:
“Demi Allah, seakan-akan engkau menghendaki pendapat kami, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab: “Ya.”
Sa‘d berkata:
“Kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu, dan bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran. Kami telah memberikan janji dan perjanjian kepada engkau untuk mendengar dan taat. Maka teruskanlah apa yang engkau kehendaki, kami bersamamu. Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau mengajak kami menyeberangi lautan lalu engkau menyelaminya, niscaya kami akan menyelaminya bersamamu, tidak seorang pun dari kami tertinggal. Kami tidak keberatan bertemu musuh kami esok hari. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sabar dalam peperangan dan jujur saat bertemu musuh. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu apa yang menenangkan hatimu. Maka berjalanlah dengan keberkahan Allah.”
Maka Rasulullah ﷺ bergembira dan wajah beliau bersinar, lalu beliau memberi kabar gembira kemenangan kepada pasukan seraya bersabda:
«سِيرُوا وَأَبْشِرُوا، فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ وَعَدَنِي إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ، وَاللَّهِ لَكَأَنِّي الْآنَ أَنْظُرُ إِلَى مَصَارِعِ الْقَوْمِ»
“Berangkatlah dan bergembiralah, karena Allah telah menjanjikan kepadaku salah satu dari dua golongan itu. Demi Allah, seakan-akan sekarang aku melihat tempat-tempat bergelimpangnya mereka.”
Bagaimana mungkin Rasulullah ﷺ tidak bergembira dengan sikap-sikap mulia seperti ini, yang lahir dari iman yang tulus, yang tidak mengenal kelemahan dan kehinaan, yang membuahkan kata-kata penuh keimanan, serta menyingkap kemuliaan hakiki bangsa Arab Muslim. Sikap ini memperlihatkan perbedaan yang sangat jauh antara sikap kaum Yahudi terhadap Nabi Musa ‘alaihis salām dan sikap kaum Muslimin terhadap Nabi Muhammad ﷺ. Ini merupakan perbandingan yang jujur dan nyata dalam situasi genting, yang menampakkan kemuliaan watak Arab dan keberanian mereka, serta keburukan watak Bani Israil dan kehinaan mereka.
________________________________________
Pengintaian Berita tentang Quraisy
Kaum Muslimin berangkat dari Dzufrān. Ketika mereka mendekati Badar, Rasulullah ﷺ dan sahabatnya Abu Bakar ash-Shiddiq menaiki tunggangan hingga berhenti di hadapan seorang tua Arab bernama Sufyan ad-Dhamri. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya tentang Quraisy dan tentang Muhammad serta para sahabatnya, dan apa saja berita yang sampai kepadanya.
Orang tua itu berkata: “Aku tidak akan memberitahu kalian berdua sampai kalian memberitahuku, dari mana kalian berdua?”
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا أَخْبَرْتَنَا أَخْبَرْنَاكَ»
“Jika engkau memberitahu kami, kami akan memberitahumu.”
Ia berkata: “Apakah itu sepadan dengan ini?”
Beliau menjawab: “Ya.”
Ia berkata: “Telah sampai kepadaku kabar bahwa Muhammad dan para sahabatnya keluar pada hari ini dan itu. Jika orang yang memberitahuku benar, maka hari ini mereka berada di tempat ini dan itu.” (Ia menunjuk tempat Rasulullah ﷺ mengumpulkan pasukan.)
“Dan telah sampai kepadaku kabar bahwa Quraisy keluar pada hari ini dan itu. Jika kabar itu benar, maka hari ini mereka berada di tempat ini dan itu.” (Ia menunjuk tempat Quraisy.)
Setelah selesai, ia bertanya: “Dari manakah kalian berdua?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
«نَحْنُ مِنْ مَاءٍ»
“Kami dari air.”
Kemudian Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar pergi meninggalkannya. Orang tua itu berkata sendiri: “Dari air mana? Apakah dari air Irak?”
Rasulullah ﷺ dan sahabatnya kembali kepada pasukan. Saat malam tiba, beliau mengutus Ali bin Abi Thalib, Zubair bin al-‘Awwam, dan Sa‘d bin Abi Waqqash bersama beberapa sahabat menuju sumur Badar untuk mencari berita dan memata-matai Quraisy. Mereka berhasil menangkap dua pembawa air Quraisy, lalu membawanya kepada Rasulullah ﷺ yang sedang salat.
Kedua orang itu berkata: “Kami adalah pembawa air untuk Quraisy.” Para sahabat tidak menyukai jawaban itu dan berharap mereka adalah milik Abu Sufyan, sehingga mereka memukul keduanya. Ketika dipukul dengan keras, keduanya berkata: “Kami milik Abu Sufyan,” maka mereka dilepaskan.
Setelah Rasulullah ﷺ selesai salat, beliau bersabda:
“Jika mereka berkata jujur, kalian memukul mereka; dan jika mereka berdusta, kalian membiarkan mereka. Demi Allah, sesungguhnya mereka adalah milik Quraisy.”
Kemudian beliau bertanya:
“Beritahu aku tentang Quraisy.”
Mereka menjawab: “Mereka berada di balik bukit pasir itu, di sisi lembah yang jauh.”
Beliau bertanya:
“Berapa jumlah mereka?”
Mereka menjawab: “Banyak.”
Beliau bertanya lagi:
“Berapa jumlah pastinya?”
Mereka menjawab: “Kami tidak tahu.”
Rasulullah ﷺ bertanya:
“Berapa ekor unta yang mereka sembelih setiap hari?”
Mereka menjawab: “Suatu hari sembilan, suatu hari sepuluh.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jumlah mereka antara sembilan ratus hingga seribu orang.”
Kemudian beliau bertanya:
“Siapa saja tokoh Quraisy di antara mereka?”
Mereka menyebutkan: ‘Utbah bin Rabi‘ah, Syaibah, Abu Jahl, Umayyah bin Khalaf, Suhail bin ‘Amr, dan tokoh-tokoh Quraisy lainnya.
Maka Rasulullah ﷺ menghadap para sahabatnya seraya bersabda:
“Inilah Makkah yang telah melemparkan kepada kalian potongan-potongan hatinya.”
________________________________________
Mengetahui Berita Kafilah Dagang
Sebagaimana Ali dan rombongannya kembali dengan membawa dua pemuda serta berita tentang Quraisy, dua orang lainnya kembali setelah mencari berita tentang kafilah dagang. Mereka mendengar dari dua budak perempuan yang sedang berselisih tentang hak air, bahwa kafilah akan tiba esok atau lusa. Mereka pun menyampaikan kabar itu kepada Rasulullah ﷺ.
Abu Sufyan sendiri telah mendahului kafilah untuk mencari berita, khawatir kaum Muslimin telah menguasai jalur. Ketika ia sampai di sebuah sumber air, ia bertemu Majdi bin ‘Amr dan bertanya apakah ia melihat seseorang. Ia menjawab bahwa ia hanya melihat dua orang penunggang unta yang berhenti di sebuah bukit.
Abu Sufyan mendatangi tempat mereka berhenti dan menemukan biji kurma di kotoran unta mereka. Ia mengenalinya sebagai makanan khas unta-unta Yatsrib (Madinah). Maka ia segera kembali kepada rombongannya dan mengubah jalur perjalanan, menyusuri pantai laut dengan cepat hingga kafilah itu selamat.
Keesokan harinya, kaum Muslimin menunggu lewatnya kafilah, tetapi berita sampai kepada mereka bahwa kafilah telah lolos dan Quraisy telah berkemah dengan pasukannya di dekat mereka. Maka loloslah kafilah itu, dan yang tersisa hanyalah pasukan perang, sehingga pertempuran pun tidak dapat dihindari.
________________________________________
Pasukan Kaum Muslimin di Badar
Kaum Muslimin terus berjalan hingga mereka turun di sisi lembah yang dekat (1), jauh dari sumber air, di tanah berlumpur yang tidak kokoh dipijak. Mereka kehausan, sebagian dalam keadaan junub, dan sebagian berhadas. Iblis dan para pengikutnya pun mendapatkan peluang untuk membisikkan keraguan, seraya berkata: “Tidak ada yang ditunggu kaum musyrik dari kalian selain memutus leher-leher kalian dengan kehausan dan melemahkan kekuatan kalian, lalu mereka akan memperlakukan kalian sesuka hati.”
________________________________________
Ayat dari Langit
Namun Allah Yang Maha Mulia membatalkan tipu daya itu dan menganugerahkan kepada mereka hujan yang deras. Mereka minum, berwudu, mandi, mengisi kantong-kantong air, dan hujan itu memadatkan tanah di bawah kaki mereka sehingga memudahkan langkah mereka. Sementara itu hujan menjadi bencana bagi kaum musyrik, karena tanah di bawah kaki mereka menjadi becek sehingga mereka tidak mampu bergerak. Benarlah firman Allah:
إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَى قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْأَقْدَامَ
Terjemahannya:
“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan setan, serta untuk menguatkan hatimu dan meneguhkan dengannya telapak kakimu.”
(QS. Al-Anfāl: 11)
Pasukan kaum Muslimin pun melanjutkan perjalanan hingga turun di sumber air terdekat dari Badar.
________________________________________

Komentar
Posting Komentar