Perang Badar Kubra Bagian 1
Masa Penantian dan Pengintaian
Rasulullah ﷺ bersama kaum mukminin tetap berada di Madinah, menantikan kedatangan kafilah dagang besar milik Quraisy yang berhasil lolos bersama Abu Sufyan. Kafilah itu terdiri dari seribu ekor unta yang membawa sebagian besar harta Quraisy. Kafilah inilah yang dahulu hendak dihadang Rasulullah ﷺ dalam Perang ‘Asyirah yang telah disebutkan sebelumnya.
Rasulullah ﷺ mengutus dua orang sahabatnya, yaitu Thalhah bin ‘Ubaidillah dan Sa‘id bin Zaid, ke daerah Al-Haurā’ di pesisir Laut Merah. Tempat itu merupakan salah satu persinggahan kafilah dagang yang melintas antara Hijaz dan Syam, dan pasti kafilah tersebut akan melewatinya. Kedua utusan itu berhasil menjalin hubungan baik dengan Bani Juhainah, lalu menetap di sana untuk mengumpulkan berita, hingga mereka yakin akan waktu keberangkatan kafilah dari Syam. Setelah itu, mereka kembali kepada Rasulullah ﷺ untuk menyampaikan kabar tersebut.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak menunggu kepulangan kedua utusan itu, melainkan segera memutuskan berangkat menuju jalur Syam, khawatir kafilah itu kembali lolos sebagaimana sebelumnya, terutama karena beliau telah memperkirakan nilai harta kafilah tersebut mencapai lima puluh ribu dinar.
________________________________________
Keberangkatan Menuju Kafilah
Rasulullah ﷺ menyeru para sahabatnya untuk berangkat, seraya bersabda:
«هَذِهِ عِيرُ قُرَيْشٍ، فَاخْرُجُوا إِلَيْهَا لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَنْفِلَكُمُوهَا»
“Inilah kafilah Quraisy. Keluarlah kalian untuk menghadapinya, semoga Allah menganugerahkannya kepada kalian sebagai harta rampasan.”
Sebagian sahabat segera memenuhi seruan tersebut, sementara sebagian lain merasa berat untuk berangkat, karena mereka mengira Rasulullah ﷺ tidak bermaksud berperang. Dugaan ini semakin kuat ketika Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ كَانَ ظَهْرُهُ حَاضِرًا فَلْيَرْكَبْ مَعَنَا»
“Barang siapa kendaraannya telah siap, hendaklah ia berangkat bersama kami.”
Beliau tidak menunggu orang yang kendaraannya belum siap.
Rasulullah ﷺ berangkat pada hari ketiga—menurut riwayat lain hari kedelapan—bulan Ramadan. Jumlah pasukan beliau 313 orang, terdiri dari sekitar 240 orang Anshar, dan sisanya dari kaum Muhajirin. Tidak ada yang tertinggal kecuali Utsman bin ‘Affan, karena harus merawat istrinya Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ yang sedang sakit parah.
Nabi ﷺ menunjuk Abdullah bin Ummi Maktum sebagai imam shalat di Madinah. Beliau sempat menunjuk Abu Lubabah Al-Anshari sebagai pemimpin Madinah dari daerah Rauha’, lalu menggantinya, dan juga menunjuk ‘Ashim bin ‘Adi untuk memimpin daerah Quba’ dan Al-‘Aliyah. Panji perang diserahkan kepada Mush‘ab bin ‘Umair, berwarna putih. Di hadapan Rasulullah ﷺ terdapat dua bendera hitam: satu dipegang Ali bin Abi Thalib, dan yang lain oleh Sa‘ad bin Mu‘adz.
Pasukan Muslimin memiliki dua orang penunggang kuda: Zubair bin Al-‘Awwam dan Miqdad bin Al-Aswad, serta 70 ekor unta yang ditunggangi secara bergantian oleh tiga atau empat orang.
Rasulullah ﷺ, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Lubabah bergantian menaiki seekor unta. Setelah Abu Lubabah dikembalikan ke Madinah, posisi beliau digantikan oleh Marthad bin Abi Marthad Al-Ghanawi. Rasulullah ﷺ menunjukkan keadilan dan kasih sayang yang luar biasa. Ketika tiba giliran beliau berjalan kaki, kedua sahabatnya berkata, “Biarlah kami saja yang berjalan.” Beliau bersabda:
«مَا أَنْتُمَا بِأَقْوَى مِنِّي، وَلَا أَنَا بِأَغْنَى عَنِ الْأَجْرِ مِنْكُمَا»
“Kalian tidak lebih kuat dariku, dan aku pun tidak lebih membutuhkan pahala daripada kalian.”
________________________________________
Penyaringan Pasukan
Pasukan kecil ini, besar dengan iman dan semangatnya, tiba di Baitu As-Suqya di luar Madinah. Di sana Rasulullah ﷺ memeriksa pasukan dan memulangkan mereka yang belum mampu berperang, di antaranya Al-Bara’ bin ‘Azib dan Abdullah bin ‘Umar.
Dalam Shahih Bukhari, Al-Bara’ berkata:
«اسْتُصْغِرْتُ أَنَا وَابْنُ عُمَرَ يَوْمَ بَدْرٍ، وَكَانَ الْمُهَاجِرُونَ يَوْمَ بَدْرٍ نَيِّفًا عَلَى سِتِّينَ، وَالْأَنْصَارُ نَيِّفًا وَأَرْبَعِينَ وَمِائَتَيْنِ»
“Aku dan Ibnu Umar dianggap masih terlalu muda pada hari Badar. Jumlah kaum Muhajirin sekitar enam puluh lebih, dan kaum Anshar sekitar dua ratus empat puluh lebih.”
________________________________________
Abu Sufyan dan Mobilisasi Quraisy
Abu Sufyan sangat waspada agar kafilahnya tidak jatuh ke tangan kaum Muslimin. Ketika mendekati Hijaz, ia mulai mengumpulkan informasi, hingga mendapat kabar bahwa Muhammad ﷺ telah menggerakkan para sahabatnya untuk menghadang kafilah. Ia pun ketakutan, karena pengawalnya hanya sekitar 30–40 orang.
Ia segera menyewa Dhamdham bin ‘Amr Al-Ghifari untuk pergi ke Makkah dan meminta pertolongan Quraisy. Dhamdham tiba di Makkah dalam keadaan mengenaskan, dengan unta yang telinganya terpotong dan hidungnya terluka, pelananya dibalik, bajunya disobek, sambil berteriak:
“Wahai Quraisy! Kafilah dagang! Kafilah dagang! Harta kalian bersama Abu Sufyan telah dihadang Muhammad dan para sahabatnya! Tolong! Tolong!”
Abu Jahal segera menghasut orang-orang dari sekitar Ka‘bah. Quraisy pun bersiap seluruhnya, kecuali Abu Lahab. Hampir seluruh pembesar Quraisy keluar.
________________________________________
Quraisy Berangkat dengan Kesombongan
Quraisy keluar dengan penuh kesombongan dan pamer kekuatan. Allah ﷻ menggambarkan keadaan mereka dalam firman-Nya:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ ۖ فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنكُمْ إِنِّي أَرَىٰ مَا لَا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ ۚ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan untuk pamer kepada manusia serta menghalangi dari jalan Allah. Dan Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan. Dan ketika setan menjadikan perbuatan mereka terasa indah bagi mereka dan berkata: ‘Tidak ada seorang pun dari manusia yang dapat mengalahkan kalian hari ini, dan aku adalah pelindung kalian.’ Tetapi ketika dua pasukan saling berhadapan, setan itu berbalik ke belakang seraya berkata: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian. Aku melihat apa yang tidak kalian lihat. Aku takut kepada Allah.’ Dan Allah sangat keras siksa-Nya.”
(QS. Al-Anfal: 47–48)
________________________________________
Keselamatan Kafilah dan Perpecahan Pendapat
Abu Sufyan berhasil menyelamatkan kafilah dengan menempuh jalur pantai. Ia mengirim pesan kepada Quraisy agar kembali. Sebagian Quraisy setuju, tetapi Abu Jahal bersikeras melanjutkan perjalanan hingga Badar.
Sebagian kabilah seperti Bani Zuhrah memilih pulang. Akhirnya, pasukan Quraisy melanjutkan perjalanan dengan penuh kesombongan hingga tiba di Lembah Badar, dan turun di sisi lembah yang jauh dari Madinah.
Sumber :
السيرة النبوية في ضوء القرآن والسنة

Komentar
Posting Komentar