Perang Badar al-Akhirah: Keteguhan Hati di Tengah Tipu Daya
Bulan Sya'ban tahun keempat Hijriah menjadi saksi sebuah
peristiwa yang menunjukkan betapa teguhnya kaum Muslimin memegang janji.
Setahun telah berlalu sejak Perang Uhud, ketika Abu Sufyan, pemimpin Quraisy,
menantang Rasulullah ﷺ
untuk bertemu kembali di medan Badar. Kini saatnya tiba.
Rasulullah ﷺ
keluar dari Madinah bersama seribu lima ratus orang sahabat. Beliau
menunjuk Abdullah bin Abdullah bin Ubay — putra pemimpin kaum
munafik — untuk mengurus kota Madinah selama ketiadaannya. Sebuah pilihan yang
menunjukkan bahwa Rasul tidak pernah membeda-bedakan berdasarkan keyakinan
seseorang.
Tujuan mereka adalah Badar, sebuah tempat yang sudah tidak
asing lagi. Di sinilah setahun sebelumnya Allah memberikan kemenangan besar
kepada kaum Muslimin. Namun kali ini Badar bukan hanya medan pertempuran
potensial, tetapi juga pasar tahunan yang ramai. Setiap bulan Sya'ban, para
pedagang dari berbagai penjuru berdatangan ke Badar untuk mengadakan transaksi
selama delapan hari penuh.
Tipu Daya Abu Sufyan
Sementara itu, Abu Sufyan bergerak dari Mekah bersama
pasukan Quraisy. Ia berjalan hingga tiba di 'Usfan — ada yang mengatakan di
Majannah — namun tiba-tiba rasa takut merayapi hatinya. Hawa dingin keraguan
menyusup ke dadanya.
"Wahai kaum Quraisy," katanya mengumpulkan
pasukan, "tahun ini adalah tahun paceklik. Kalian hanya bisa bertahan di
tahun yang subur, saat bisa merumputkan ternak dan minum susu. Aku memutuskan
untuk kembali. Kembalilah kalian!"
Pasukan Quraisy pun berbalik pulang ke Mekah. Orang-orang
Mekah kemudian mengejek mereka dengan sebutan "Jaysh
as-Sawiq" — pasukan tepung. Mereka ingin mengatakan bahwa pasukan
itu keluar bukan untuk berperang, melainkan hanya untuk minum sawiq, minuman
dari gandum atau jelai.
Namun sesungguhnya Abu Sufyan tidak hanya mundur karena
alasan paceklik. Ia juga menggunakan tipu daya. Ia menghubungi Na'im
bin Mas'ud al-Asyja'i dan menjanjikan imbalan. Tugas Na'im sederhana:
pergi ke Madinah dan menakut-nakuti kaum Muslimin dengan kabar bahwa pasukan
Quraisy sangat besar dan kuat. Dengan begitu, kaum Muslimin mungkin akan urung
keluar ke Badar, dan janji pertemuan akan dilanggar dari pihak Muslim, bukan
dari pihak Quraisy.
Na'im pun pergi ke Madinah dan berkata kepada Rasulullah
serta para sahabat, "Sesungguhnya Quraisy telah mengumpulkan pasukan besar
untuk menghadapi kalian!"
Hasbunallah wa Ni'mal Wakil
Namun kaum Muslimin tidak gentar. Mereka tidak peduli dengan
kabar burung dan tipu daya itu. Dengan penuh keyakinan mereka tetap berangkat,
dan di lisan mereka terus terucap doa yang penuh tawakal:
"حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ"
"Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Dia
adalah sebaik-baik pelindung."
Setibanya di Badar, mereka menunggu selama delapan hari.
Pasukan Quraizy tidak kunjung datang. Sambil menunggu, mereka tidak berdiam
diri. Mereka berdagang di pasar tahunan itu, dan Allah melimpahkan keuntungan
besar kepada mereka. Perang yang dinantikan tidak terjadi, namun keberkahan
justru datang dari arah yang tak terduga.
Allah SWT mengabadikan keteguhan hati dan keimanan para
sahabat ini dalam firman-Nya:
الَّذِينَ
اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِن بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۚ
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ
الَّذِينَ
قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ
فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
فَانقَلَبُوا
بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا
رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ
"(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan
Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). Bagi orang-orang
yang berbuat kebaikan di antara mereka dan bertakwa, ada pahala yang besar.
(Yaitu) orang-orang (yang ketika) ada orang-orang mengatakan kepadanya,
'Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena
itu takutlah kepada mereka,' ternyata (ucapan itu) menambah iman mereka, dan
mereka menjawab, 'Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung.'
Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, mereka tidak ditimpa
suatu bencana dan mereka mengikuti keridaan Allah. Allah mempunyai karunia yang
besar." (QS. Ali Imran: 172-174)
Para mufasir berbeda pendapat tentang konteks turunnya ayat
ini. Sebagian besar mengatakan ayat ini turun terkait Perang Hamra' al-Asad
yang terjadi setelah Uhud. Namun sebagian lain, termasuk al-Waqidi dalam kitab
al-Maghazi, berpendapat bahwa ayat pertama (172) tentang Hamra' al-Asad,
sedangkan dua ayat berikutnya (173-174) turun terkait Perang Badar al-Akhirah
ini.
Hikmah di Balik Peristiwa
Jika kita renungkan peristiwa ini, tampak jelas perubahan
besar yang terjadi pada diri kaum musyrikin. Dulu mereka begitu percaya diri,
sombong, dan selalu mencari kesempatan untuk memerangi kaum Muslimin. Namun
kini, rasa takut mulai merayapi hati mereka. Mereka tidak lagi berani
berhadapan langsung dengan pasukan Muslim.
Kemenangan mereka di Uhud ternyata hanya sebuah
"kebetulan" yang tidak bisa diulang. Kini, mereka lebih suka
bersembunyi di balik tipu daya daripada bertempur secara terhormat. Mereka
ingin melempar tanggung jawab ingkar janji kepada kaum Muslimin, namun gagal
total.
Kaum Muslimin justru menunjukkan keteguhan hati. Mereka
tidak goyah oleh kabar bohong, tidak gentar oleh ancaman, dan tidak silau oleh
keuntungan duniawi. Mereka pergi karena memenuhi janji, dan ketika musuh tidak
datang, mereka tetap mendapatkan keuntungan berlipat.
Kembalinya mereka ke Madinah dengan selamat tanpa luka
sedikit pun, ditambah dengan keuntungan dagang yang besar, adalah bukti nyata
bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang bertakwa dan bertawakal kepada-Nya.
Shafwan bin Umayyah, seorang tokoh Quraisy, berkata
kepada Abu Sufyan dengan nada menyesal, "Demi Allah, aku telah melarangmu
mengadakan perjanjian dengan mereka. Sekarang mereka semakin berani terhadap
kita, karena mereka melihat kita ingkar janji."
Benarlah apa yang difirmankan Allah dalam ayat di atas:
mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, tidak ditimpa suatu
bencana, dan mereka mengikuti keridaan Allah. Sungguh, Allah adalah Pemilik
karunia yang besar.
As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau'i al-Qur'an wa as-Sunnah

Komentar
Posting Komentar