Perang Badar al-Akhirah: Keteguhan Hati di Tengah Tipu Daya

Ilustrasi sinematik sejarah Islam pada bulan Sya’ban tahun keempat Hijriah, rasio 16:9. Suasana padang pasir Badar yang luas dengan langit biru keemasan menjelang siang. Terlihat rombongan besar kaum Muslimin sekitar 1.500 orang sedang tiba dan berkemah, mengenakan pakaian sederhana khas Arab abad ke-7: jubah panjang berwarna netral, sorban, dan perlengkapan perjalanan. Unta-unta, pedang tersarung, dan bendera-bendera sederhana tampak tertata rapi.

Janji yang Harus Ditepati

Bulan Sya'ban tahun keempat Hijriah menjadi saksi sebuah peristiwa yang menunjukkan betapa teguhnya kaum Muslimin memegang janji. Setahun telah berlalu sejak Perang Uhud, ketika Abu Sufyan, pemimpin Quraisy, menantang Rasulullah untuk bertemu kembali di medan Badar. Kini saatnya tiba.

Rasulullah keluar dari Madinah bersama seribu lima ratus orang sahabat. Beliau menunjuk Abdullah bin Abdullah bin Ubay — putra pemimpin kaum munafik — untuk mengurus kota Madinah selama ketiadaannya. Sebuah pilihan yang menunjukkan bahwa Rasul tidak pernah membeda-bedakan berdasarkan keyakinan seseorang.

Tujuan mereka adalah Badar, sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi. Di sinilah setahun sebelumnya Allah memberikan kemenangan besar kepada kaum Muslimin. Namun kali ini Badar bukan hanya medan pertempuran potensial, tetapi juga pasar tahunan yang ramai. Setiap bulan Sya'ban, para pedagang dari berbagai penjuru berdatangan ke Badar untuk mengadakan transaksi selama delapan hari penuh.

Tipu Daya Abu Sufyan

Sementara itu, Abu Sufyan bergerak dari Mekah bersama pasukan Quraisy. Ia berjalan hingga tiba di 'Usfan — ada yang mengatakan di Majannah — namun tiba-tiba rasa takut merayapi hatinya. Hawa dingin keraguan menyusup ke dadanya.

"Wahai kaum Quraisy," katanya mengumpulkan pasukan, "tahun ini adalah tahun paceklik. Kalian hanya bisa bertahan di tahun yang subur, saat bisa merumputkan ternak dan minum susu. Aku memutuskan untuk kembali. Kembalilah kalian!"

Pasukan Quraisy pun berbalik pulang ke Mekah. Orang-orang Mekah kemudian mengejek mereka dengan sebutan "Jaysh as-Sawiq" — pasukan tepung. Mereka ingin mengatakan bahwa pasukan itu keluar bukan untuk berperang, melainkan hanya untuk minum sawiq, minuman dari gandum atau jelai.

Namun sesungguhnya Abu Sufyan tidak hanya mundur karena alasan paceklik. Ia juga menggunakan tipu daya. Ia menghubungi Na'im bin Mas'ud al-Asyja'i dan menjanjikan imbalan. Tugas Na'im sederhana: pergi ke Madinah dan menakut-nakuti kaum Muslimin dengan kabar bahwa pasukan Quraisy sangat besar dan kuat. Dengan begitu, kaum Muslimin mungkin akan urung keluar ke Badar, dan janji pertemuan akan dilanggar dari pihak Muslim, bukan dari pihak Quraisy.

Na'im pun pergi ke Madinah dan berkata kepada Rasulullah serta para sahabat, "Sesungguhnya Quraisy telah mengumpulkan pasukan besar untuk menghadapi kalian!"

Hasbunallah wa Ni'mal Wakil

Namun kaum Muslimin tidak gentar. Mereka tidak peduli dengan kabar burung dan tipu daya itu. Dengan penuh keyakinan mereka tetap berangkat, dan di lisan mereka terus terucap doa yang penuh tawakal:

"حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ"

"Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung."

Setibanya di Badar, mereka menunggu selama delapan hari. Pasukan Quraizy tidak kunjung datang. Sambil menunggu, mereka tidak berdiam diri. Mereka berdagang di pasar tahunan itu, dan Allah melimpahkan keuntungan besar kepada mereka. Perang yang dinantikan tidak terjadi, namun keberkahan justru datang dari arah yang tak terduga.

Allah SWT mengabadikan keteguhan hati dan keimanan para sahabat ini dalam firman-Nya:

الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِن بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
فَانقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

"(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan bertakwa, ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang (yang ketika) ada orang-orang mengatakan kepadanya, 'Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' ternyata (ucapan itu) menambah iman mereka, dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung.' Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana dan mereka mengikuti keridaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Ali Imran: 172-174)

Para mufasir berbeda pendapat tentang konteks turunnya ayat ini. Sebagian besar mengatakan ayat ini turun terkait Perang Hamra' al-Asad yang terjadi setelah Uhud. Namun sebagian lain, termasuk al-Waqidi dalam kitab al-Maghazi, berpendapat bahwa ayat pertama (172) tentang Hamra' al-Asad, sedangkan dua ayat berikutnya (173-174) turun terkait Perang Badar al-Akhirah ini.

Hikmah di Balik Peristiwa

Jika kita renungkan peristiwa ini, tampak jelas perubahan besar yang terjadi pada diri kaum musyrikin. Dulu mereka begitu percaya diri, sombong, dan selalu mencari kesempatan untuk memerangi kaum Muslimin. Namun kini, rasa takut mulai merayapi hati mereka. Mereka tidak lagi berani berhadapan langsung dengan pasukan Muslim.

Kemenangan mereka di Uhud ternyata hanya sebuah "kebetulan" yang tidak bisa diulang. Kini, mereka lebih suka bersembunyi di balik tipu daya daripada bertempur secara terhormat. Mereka ingin melempar tanggung jawab ingkar janji kepada kaum Muslimin, namun gagal total.

Kaum Muslimin justru menunjukkan keteguhan hati. Mereka tidak goyah oleh kabar bohong, tidak gentar oleh ancaman, dan tidak silau oleh keuntungan duniawi. Mereka pergi karena memenuhi janji, dan ketika musuh tidak datang, mereka tetap mendapatkan keuntungan berlipat.

Kembalinya mereka ke Madinah dengan selamat tanpa luka sedikit pun, ditambah dengan keuntungan dagang yang besar, adalah bukti nyata bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang bertakwa dan bertawakal kepada-Nya.

Shafwan bin Umayyah, seorang tokoh Quraisy, berkata kepada Abu Sufyan dengan nada menyesal, "Demi Allah, aku telah melarangmu mengadakan perjanjian dengan mereka. Sekarang mereka semakin berani terhadap kita, karena mereka melihat kita ingkar janji."

Benarlah apa yang difirmankan Allah dalam ayat di atas: mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, tidak ditimpa suatu bencana, dan mereka mengikuti keridaan Allah. Sungguh, Allah adalah Pemilik karunia yang besar.


Sumber:
As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau'i al-Qur'an wa as-Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India

Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India

Jurhum dan Kaum ‘Amaliq: Jejak Bangsa-Bangsa Arab Purba