Nizār, Rabī‘ah, Muḍar, dan Lahirnya Quraisy


Di tengah labirin sejarah suku-suku Arab kuno, nama Nizār berdiri sebagai salah satu simpul penting. Di sekelilingnya menjuntai nama-nama besar: Rabī‘ahMuḍarIyādAnmār, dan dari cabang-cabang itu lahir puluhan kabilah yang kelak mengisi lembar-lembar sejarah: dari padang pasir Najd hingga Lembah Mekah.

Nizār: Leluhur yang Diperebutkan

Dalam tradisi ahli nasab, Nizār digambarkan sebagai putra Ma‘add yang menikah dengan seorang wanita Jurhumi, Ma‘ānah. Dari pasangan inilah lahir empat tokoh: Rabī‘ah, Muḍar, Iyād, dan Anmār. Mereka tidak hanya sekadar empat orang, tetapi menjadi titik awal bagi banyak kabilah besar yang tersebar di jazirah.

Namun, sebagaimana sering terjadi dalam sejarah suku, batas antara fakta dan dongeng tidak selalu jelas. Para ahli khabar menuturkan kisah-kisah tentang bagaimana keempat putra Nizār itu saling berselisih, bagaimana mereka membagi-bagi wilayah, hingga konon mereka bersengketa dan meminta seorang tua bijak dari Jurhum — al‑Af‘ā — untuk memberi keputusan. Cerita-cerita ini lebih mirip legenda daripada laporan sejarah kering, tetapi ia menunjukkan satu hal: sejak awal, nama Nizār sudah dipandang sebagai leluhur bersama yang dijadikan rujukan.

Pada masa Bani Umayyah, istilah “an‑Nizāriyyah” bahkan dipakai sebagai lawan dari “al‑Yamāniyyah”. Di situ, Nizār bukan hanya nama genealogis, tetapi juga bendera politik: lambang kelompok suku-suku utara yang berhadapan dengan suku-suku selatan keturunan Qaḥṭān.

Sejarawan modern seperti Levi Della Vida melihat bahwa istilah “Nizāriyyah” ini kemungkinan besar lebih merupakan ciptaan politik zaman Umayyah ketimbang cerminan ikatan suku yang sebenarnya. Menurutnya, belum ada kajian yang benar-benar tuntas tentang hal ini. Namun, penulis teks yang kita baca (Jawād ‘Alī) mengajukan bukti lain: nama Nizār muncul dalam Prasasti Namārah abad ke-3 M, jauh sebelum Islam, sebagai salah satu kabilah yang tunduk pada kekuasaan seorang raja Arab. Artinya, sebagai nama kelompok, Nizār sudah dikenal cukup lama.

Rabī‘ah dan Muḍar: Dua “Anak Lautan” Nizār

Dari keempat putra Nizār, dua nama yang paling sering terdengar dalam syair dan sejarah adalah Rabī‘ah dan Muḍar. Para penyair awal Islam menyebut mereka sebagai “ibnā Nizār” — dua putra Nizār — atau juga “baḥrā Nizār”, dua lautan Nizār, untuk menggambarkan betapa besar dan dalamnya kekuatan mereka.

Di masa Kulayb Wā’il (Kulayb bin Rabī‘ah), kepemimpinan atas rumpun Muḍar dikisahkan berada di tangan Rabī‘ah. Keduanya digambarkan sebagai dua saudara yang bertetangga dan bersekutu, meskipun di antara para pemukanya sering terjadi persaingan, saling iri, dan saling membanggakan nasab. Hubungan mereka sangat dekat, tetapi juga sarat gesekan.

Dari sisi budaya, bahkan bahasa Al‑Qur’an pun oleh Ibn Jinnī disebut sebagai “bahasa dua anak Nizār”, yaitu bahasa yang berkembang di tengah cabang-cabang Rabī‘ah dan Muḍar. Ini menunjukkan betapa besar pengaruh rumpun Nizār dalam pembentukan standar bahasa Arab yang kemudian menjadi rujukan.

Iyād dan Anmār: Cabang yang Membaur

Berbeda dengan Rabī‘ah dan Muḍar yang jelas-jeas menjadi payung besar bagi banyak kabilah, posisi Iyād dan Anmār lebih kabur. Ada yang mengatakan mereka adalah putra Nizār, ada pula yang memundurkan satu tingkat dan menjadikan mereka putra Ma‘add.

Kabilah Iyād semula tinggal di kawasan Tihāmah hingga perbatasan Najran. Namun karena konflik dengan Rabī‘ah dan Muḍar, mereka terpaksa menyebar: sebagian ke Irak, sebagian ke Bahrain dan bergabung dengan Quḍā‘ah, sebagian ke Wādī Bīsyah, dan sebagian lain ke Syam. Mereka jarang tampil sebagai kabilah “inti”; sering kali mereka disebut sebagai pengikut atau sekutu dari kabilah-kabilah besar lain.

Anmār pun berada dalam posisi serupa. Di satu sisi ia digolongkan sebagai putra Nizār; di sisi lain, sebagian ulama nasab mengaitkannya dengan cabang-cabang Yaman. Citra Anmār bahkan sampai dibubuhi julukan ganjil seperti “al‑Ḥimār” (keledai), kontras dengan Rabī‘ah yang disebut “al‑Faras” (kuda), atau Muḍar yang digelari “al‑Ḥamrā’” (si merah).

Semua ini menunjukkan bahwa pohon nasab bukan hanya hitungan siapa melahirkan siapa, tetapi juga cermin persepsi sosial: siapa yang dianggap mulia, kuat, atau sebaliknya.

Khindaf dan Qays ‘Aylān: Dua Tiang Besar Muḍar

Rumpun Muḍar kemudian diketahui terbagi menjadi dua kelompok besar yang sangat berpengaruh:

Yang pertama adalah Khindaf, nama yang dinisbatkan kepada ibu mereka. Dari Khindaf lahir kabilah-kabilah raksasa: TamīmKinanahQuraisyAsadHudhail, dan lain-lain. Nama-nama ini kelak akan mendominasi sejarah politik dan agama di jazirah Arab.

Yang kedua adalah Qays ‘Aylān, keturunan Ilyas yang juga digelari demikian. Dari Qays ‘Aylān muncul kabilah-kabilah yang sama besarnya: Ghathafān‘AbsDhubyānSulaymHawāzinBāhilahGhanī, dan lainnya. Di masa Bani Umayyah, nama Qays ‘Aylān bahkan berubah menjadi bendera politik, sebagai salah satu poros besar konflik di Syam.

Para penyair sering menyebut Khindaf dan Qays bersama-sama. Al‑Farazdaq, misalnya, menggambarkan keduanya sebagai dua kelompok yang membentuk Ma‘add, sedangkan Jarīr menggambarkan bahwa jika Qays dan Khindaf telah mengepung seseorang dari segala penjuru, ia tidak lagi tahu ke mana harus lari. Ini bukan sekadar permainan kata; ia menunjukkan kekuatan militer dan sosial kedua rumpun itu.

Secara historis, tampaknya Khindaf dan Qays ‘Aylān mula-mula adalah sebuah persekutuan besar kabilah-kabilah yang berada di sekitar Muḍar. Seiring waktu, jaringan persekutuan ini diubah menjadi ikatan nasab, sehingga kelompok-kelompok yang semula sekadar sekutu diceritakan sebagai satu keluarga besar dari satu ayah.

Dari Kinanah ke Fihr: Munculnya Identitas Quraisy

Di antara cabang-cabang Khindaf, salah satu yang paling penting adalah Kinanah. Dari Kinanah lahir beberapa nama:

An‑Naḍr, dari garis inilah kemudian muncul tokoh-tokoh yang menjadi inti Quraisy.

Mālik, yang darinya lahir Fihr dan al‑Ḥārith; Fihr kelak menjadi “akar” seluruh kabilah Quraisy.

Malkān dan ‘Abd Manāt, dengan berbagai cabang seperti Mudlij (ahli pelacak jejak), Layth, Ḍumrah, hingga Ghifār.

Pada suatu masa, Quṣayy bin Kilāb memainkan peran besar. Dikisahkan, Quraisy dahulu terpencar di tengah-tengah cabang-cabang Kinanah. Quṣayy mengumpulkan Bani Fihr dan memindahkan mereka untuk bermukim di Mekah. Sejak itu, para ahli nasab menyatakan bahwa batas Quraisy adalah Fihr: siapa pun yang berada di bawah Fihr adalah Quraisy, sementara kabilah-kabilah di atasnya — seperti Kinanah, Asad, dan Muḍar lainnya — tetap disebut Arab, tetapi bukan Quraisy.

Kata “Quraisy” sendiri, menurut penafsiran para ulama bahasa, berasal dari beberapa kemungkinan makna: berkumpul, mengumpulkan harta, atau merajai dalam perdagangan. Apa pun asal kata pastinya, yang jelas ia mula-mula adalah sebuah gelar untuk sekelompok kecil Bani Fihr yang menguasai Mekah. Seiring waktu, gelar itu mengalahkan nama lain dan akhirnya dianggap sebagai nama seorang leluhur dalam silsilah: “Quraisy” diubah menjadi sosok tokoh, bukan sekadar julukan.

Dari sinilah kemudian lahir cabang-cabang Quraisy yang kita kenal: Banū Hāsyim, Banū ‘Abd Syams, Banū Makhzūm, Banū Zuhrah, Banū Taim, Banū ‘Adiyy, dan lain-lain. Di puncak salah satu cabang itu muncul nama yang mengubah sejarah dunia: Muḥammad bin ‘Abdillāh, keturunan Hāsyim, cucu Quṣayy, dan bagian dari jaringan besar yang berawal dari Nizār, Ma‘add, dan lebih ke atas lagi.

Nasab sebagai Peta, Bukan Sekadar Pohon Keluarga

Di bagian penutup, penulis teks, Jawād ‘Alī, mengingatkan bahwa semua rangkaian nasab yang ia susun bukan dimaksudkan sebagai pohon keluarga lengkap. Ia hanya mengambil garis besar dari kitab-kitab seperti al‑Iklīl dan al‑Ma‘ārif, dan sadar bahwa banyak nama suku, cabang, dan anak-cabang yang sengaja tidak disebut karena ketenarannya terbatas, sementara di antara para ahli nasab sendiri banyak perbedaan cara susun dan urutan.

Tujuan utamanya adalah sederhana tetapi penting: memberikan kepada pembaca sebuah peta umum nama-nama kabilah ‘Adnān dan Qaḥṭān, sehingga ketika mereka membaca kisah peperangan, persekutuan, atau persaingan politik pada masa lalu, mereka tidak tersesat di tengah nama-nama yang asing. Dalam dunia Arab pra-Islam, mengenal nama kabilah berarti memahami siapa berdiri di pihak siapa — dan tanpa itu, sejarah hanya akan menjadi deretan peristiwa tanpa makna.


Sumber:
Jawād ‘Alī, al‑Mufassal fī Tārīkh al‑‘Arab qabla al‑Islām

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India

Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India

Tahun Penuh Kenangan: Antara Duka dan Kebahagiaan di Sekitar Rasulullah ﷺ