Menyusuri Negeri Indus: Perjumpaan dengan Badak, Kota Kuno, dan Kisah Berdarah di Siyustan

pemandangan kota kuno Siyustan (abad ke-14 M) di tepi Sungai Indus, sekarang wilayah Pakistan. Kota ini dikelilingi oleh hamparan padang pasir dan bukit-bukit pasir yang luas dengan warna keemasan. Bangunan-bangunan kota terbuat dari bata lumpur dengan arsitektur khas India-Islam: dinding tebal, jendela kecil, dan beberapa menara sederhana. Di luar tembok kota, hanya terlihat sedikit pepohonan langka seperti pohon umm ghailan yang rindang namun kering. Sungai mengalir di kejauhan dengan air berwarna biru kehijauan. Langit sangat cerah dengan matahari terik memancarkan cahaya putih menyilaukan. Di beberapa tempat, penduduk lokal dengan pakaian tipis berwarna putih atau krem duduk bernaung di bawah tenda-tenda sederhana. Beberapa dari mereka membawa kendi air dan kain basah untuk mendinginkan tubuh. Di pasar terbuka, terlihat tumpukan jagung, kacang-kacangan (al-musyunk), dan ikan kering. Suasana panas, kering, namun tetap hidup dengan aktivitas perdagangan.

Mengarungi Sungai dan Berjumpa Makhluk Raksasa

Setelah kami menyeberangi Sungai Indus yang terkenal dengan sebutan Banj Ab — "Lima Air" — kami memasuki sebuah hutan tebu yang sangat lebat. Jalan setapak terletak di tengah-tengah hutan itu, sehingga kami harus melaluinya. Di situlah tiba-tiba seekor badak (al-karkadan) muncul menghadang kami.

Badak adalah hewan berwarna hitam dengan tubuh raksasa. Kepalanya sangat besar, tak sebanding dengan badannya. Bahkan ada perumpamaan yang menyebutkan, "Badak itu kepala tanpa badan." Meskipun secara keseluruhan tubuhnya lebih kecil daripada gajah, kepalanya berkali-kali lipat lebih besar daripada kepala gajah. Di antara kedua matanya tumbuh satu tanduk sepanjang kira-kira tiga hasta dan selebar satu jengkal.

Ketika hewan itu keluar menghadang kami, seorang prajurit berkuda mencoba menghadangnya. Namun badak itu menyodok kuda yang ditunggangi dengan tanduknya, menembus paha kuda, dan menjatuhkannya. Kemudian ia kembali masuk ke dalam hutan tebu dan kami tidak dapat menangkapnya.

Aku melihat badak untuk kedua kalinya di jalan yang sama, setelah salat Asar. Ia sedang merumput. Begitu kami mendekat, ia lari menjauh. Pengalaman ketiga terjadi saat aku bersama Raja India. Kami memasuki hutan tebu, sang raja menunggang gajah, dan kami pun ikut menaiki gajah. Pasukan berjalan kaki dan berkuda masuk ke dalam hutan, memburu badak itu hingga terbunuh. Mereka membawa kepalanya ke perkemahan.

Kota Janani dan Kaum Samira

Setelah dua hari perjalanan dari Sungai Indus, kami tiba di kota Janani (dengan bunyi: Ja-na-ni, huruf pertama dan nun pertama berbaris fathah, nun kedua dikasrah). Kota ini besar dan indah, terletak di tepi Sungai Indus. Pasar-pasarnya ramai dan menarik.

Penduduk kota ini adalah kelompok yang disebut as-Samirah. Mereka telah tinggal di sini sejak lama, sejak nenek moyang mereka menetap saat negeri ini ditaklukkan pada masa kekuasaan Hajjaj bin Yusuf, seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah tentang penaklukan Sind.

Di kota ini aku bertemu dengan seorang syekh yang sangat terpelajar, seorang alim yang zuhud lagi ahli ibadah, bernama Ruknuddin bin Syamsuddin bin Bahauddin Zakariyya al-Qurasyi. Ia adalah salah satu dari tiga orang yang pernah diberitahukan kepadaku oleh Syekh Burhanuddin al-A'raj di Iskandariyah bahwa aku akan bertemu mereka dalam perjalanan ini. Alhamdulillah, aku benar-benar bertemu mereka.

Dari Ruknuddin kuketahui bahwa kakek moyangnya bernama Muhammad bin Qasim al-Qurasyi, yang ikut serta dalam pasukan penaklukan Sind yang dikirim oleh Hajjaj bin Yusuf pada masa pemerintahannya di Irak. Ia menetap di sana dan keturunannya berkembang biak.

Kaum Samirah ini memiliki adat yang unik: mereka tidak mau makan bersama siapa pun, tidak seorang pun boleh melihat mereka saat makan, mereka tidak menjalin hubungan pernikahan dengan orang di luar kelompok mereka, dan tidak ada orang luar yang bisa menikah dengan mereka. Pada masa itu, mereka dipimpin oleh seorang Amir bernama Wunar (dengan wawu didhammah dan nun difathah). Kisahnya akan kusebutkan nanti.

Menuju Siyustan: Padang Pasir, Panas, dan Daging "Hniysyah"

Kami melanjutkan perjalanan dari Janani hingga tiba di kota Siyustan (dibaca: Sin pertama dikasrah, ya' mad, wawu difathah, sin dikasrah, ta' marbutah, dan nun). Kota ini besar, dikelilingi padang pasir dan bukit pasir. Hampir tak ada pepohonan selain pohon umm ghailan. Lahan pertanian hanya mengandalkan sungai, dan yang ditanam hanyalah semangka. Makanan pokok penduduk adalah jagung dan sejenis kacang-kacangan yang mereka sebut al-musyunk (dengan mim dan syin didhammah, nun disukun). Dari bahan itulah mereka membuat roti.

Kota ini kaya akan ikan dan susu kerbau. Yang paling mengherankan, penduduknya memakan as-saqanqur, yaitu sejenis hewan kecil mirip umm hubain — yang oleh orang Maghribi disebut hanisyah al-jannah — tetapi tidak memiliki ekor. Aku melihat mereka menggali pasir, mengeluarkan hewan itu, membelah perutnya, membuang isinya, lalu mengisinya dengan kunyit (yang mereka sebut zardasyubah, artinya "kayu kuning", sebagai pengganti za'faran). Melihat hewan itu dan cara mereka memakannya, aku merasa jijik dan tidak mencicipinya.

Sengatan Panas Siyustan

Kami memasuki kota ini saat musim panas memuncak. Udara terasa sangat panas. Aku melihat teman-temanku duduk bertelanjang dada. Sehelai kain mereka lilitkan di pinggang, dan sehelai lagi di pundak, dibasahi air. Tak lama kemudian kain itu kering, lalu mereka basahi lagi. Begitu seterusnya sepanjang hari.

Di kota ini aku bertemu dengan khatibnya yang dikenal dengan julukan as-Syaibani. Ia menunjukkan kepadaku sebuah surat dari Amirul Mukminin, Khalifah Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu 'anhu, yang ditujukan kepada kakek moyangnya. Surat itu berisi perintah untuk menjadi khatib di kota ini. Sejak masa itu hingga sekarang, jabatan khatib di Siyustan diwariskan turun-temurun dalam keluarga mereka.

Naskah surat itu berbunyi: "Inilah yang diperintahkan oleh hamba Allah, Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, kepada fulan." Tertulis tarikh tahun sembilan puluh sembilan Hijriah. Di bagian bawahnya ada tulisan tangan Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz: "Segala puji bagi Allah semata." Demikianlah cerita khatib itu kepadaku.

Syekh Berusia 140 Tahun

Di Siyustan aku juga bertemu dengan seorang syekh sepuh, Muhammad al-Baghdadi, yang tinggal di sebuah zawiyah dekat makam Syekh Utsman al-Murandi. Ia mengaku usianya melebihi 140 tahun. Ia pernah menyaksikan peristiwa terbunuhnya Khalifah al-Musta'shim billah, khalifah terakhir Bani Abbasiyah, yang dibunuh oleh orang kafir Hulagu bin Tankiz at-Tatari. Meski usianya sangat lanjut, tubuhnya masih kuat dan ia masih bisa berjalan dengan kedua kakinya.

Pemberontakan Berdarah di Siyustan

Di kota ini pernah tinggal seorang amir bernama Wunar as-Samiri (yang telah disebut sebelumnya) dan seorang amir lainnya bernama Qaisar ar-Rumi. Keduanya adalah pelayan Sultan (Raja India) dan memiliki sekitar 1.800 pasukan berkuda.

Juga tinggal di sini seorang Hindu kafir bernama Ratan (dengan ra' difathah, ta' difathah, dan nun). Ia pandai berhitung dan menulis. Suatu ketika ia menghadap Raja India bersama beberapa amir. Sultan terkesan dan memberinya gelar "Azhim as-Sind" (Pembesar Sind), menunjuknya sebagai gubernur di negeri itu, dan memberikan wilayah Siyustan beserta sekitarnya. Ia juga diberi hak istimewa berupa alat-alat kebesaran (at-thubul) dan tanda-tanda kehormatan sebagaimana para amir besar.

Kedatangan Ratan membuat Wunar, Qaisar, dan para pembesar lainnya merasa terhina karena seorang kafir diangkat di atas mereka. Maka mereka sepakat untuk membunuhnya. Beberapa hari setelah kedatangannya, mereka membujuk Ratan untuk berkeliling ke wilayah sekitar kota. Ia pun keluar bersama mereka. Ketika malam tiba, mereka membuat keributan di perkemahan, mengaku bahwa binatang buas telah menyerang, lalu mendatangi kemah Ratan dan membunuhnya.

Mereka kembali ke kota dan merampas harta Sultan yang ada di sana, sebanyak dua belas lak. Satu lak sama dengan seratus ribu dinar. Satu lak setara dengan sepuluh ribu dinar emas India, dan satu dinar India setara dengan dua setengah dinar emas Maghribi.

Mereka kemudian mengangkat Wunar sebagai pemimpin dan memberinya gelar Malik Fairuz. Wunar membagi harta rampasan kepada pasukan. Namun setelah itu ia merasa cemas karena jauh dari kaumnya. Maka ia pergi bersama kerabatnya menuju sukunya. Pasukan yang tersisa kemudian mengangkat Qaisar ar-Rumi sebagai pemimpin mereka.

Berita ini sampai kepada Imad al-Mulk Sartiz, seorang mamluk Sultan yang menjadi panglima tertinggi di Sind, berkedudukan di Multan. Ia segera mengerahkan pasukan darat dan sungai. Jarak Multan ke Siyustan adalah sepuluh hari perjalanan.

Qaisar keluar menghadapi pasukan Sartiz, tetapi mengalami kekalahan telak. Ia dan pengikutnya berlindung di dalam kota Siyustan. Sartiz mengepung mereka dan memasang manjanik (ketapel). Pengepungan berlangsung selama empat puluh hari. Akhirnya mereka meminta jaminan keamanan (aman). Sartiz memberikannya. Namun ketika mereka turun dari benteng, ia mengkhianati janji: merampas harta mereka dan memerintahkan pembantaian.

Setiap hari, beberapa orang dipenggal lehernya, ada yang dibelah badannya, ada pula yang dikuliti, lalu kulitnya diisi jerami dan digantung di tembok kota. Kulit-kulit yang tersalib itu tampak mengerikan, menakutkan siapa pun yang memandang. Kepala-kepala mereka dikumpulkan di tengah kota hingga membentuk bukit kecil.

Tinggal di Tengah Kengerian

Aku tiba di Siyustan tidak lama setelah peristiwa mengerikan itu. Aku menempati sebuah madrasah besar di kota itu. Aku tidur di atapnya. Setiap kali terbangun di malam hari, aku melihat kulit-kulit manusia tersalib itu. Perasaanku menjadi ngeri, jiwaku tak tenang. Akhirnya aku pindah dari madrasah itu.



Sumber:

Rihlah Ibnu Bathuthah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India

Jurhum dan Kaum ‘Amaliq: Jejak Bangsa-Bangsa Arab Purba

Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India