Menuju Singgasana Delhi: Petualangan Ibnu Battuta di Multan
Perubahan Kebijakan Sang Sultan
Dua tahun telah berlalu sejak kedatanganku di India.
Kemudian terjadilah peristiwa besar: Sultan Muhammad Syah mengangkat sumpah
setia kepada Khalifah Abu al-Abbas al-Abbasi. Seiring dengan itu, beliau
mengeluarkan kebijakan baru yang menggembirakan rakyat. Seluruh pajak yang
memberatkan dihapuskan. Kini, tidak ada lagi pungutan kecuali zakat dan 'usyur
(sepersepuluh) sebagaimana yang disyariatkan Islam.
Di saat kami hendak menyeberangi lembah besar menuju Multan,
petugas-petugas kerajaan memeriksa seluruh barang bawaan para pelintas dengan
teliti. Hatiku cemas bukan kepalang. Meskipun barang-barangku tidak seberapa,
namun di mata orang banyak aku tampak seperti orang besar. Aku khawatir mereka
akan membongkar seluruh isi bawaanku dan melihat betapa sederhananya harta yang
kupunya.
Namun Allah Maha Lembut kepada hamba-Nya. Seorang perwira
tinggi dari pasukan Quthb al-Mulk, penguasa Multan, tiba-tiba datang. Ia
memerintahkan agar aku tidak diperiksa. Maka para petugas pun membiarkanku
begitu saja. Aku memuji Allah atas pertolongan-Nya yang lembut dan tak terduga.
Malam itu kami bermalam di tepi lembah. Keesokan paginya,
datanglah Malik al-Barid (Kepala Dinas Pos), seorang lelaki
bernama Dihqan, asli Samarkand. Dialah yang menulis laporan untuk
Sultan tentang segala peristiwa di kota ini: keadaan para pejabat,
kejadian-kejadian penting, dan siapa saja orang asing yang datang. Aku segera
berkenalan dengannya, dan atas bantuannya aku bisa menghadap Amir Multan.
Menghadap Penguasa Multan
Amir Multan adalah Quthb al-Mulk, seorang
bangsawan utama lagi mulia. Ketika aku masuk, ia berdiri menyambutku, menjabat
tanganku, dan mempersilakan aku duduk di sampingnya. Sebagai hadiah, aku
persembahkan seorang budak, seekor kuda, serta sedikit kismis dan badam
(almond). Di negeri ini, kismis dan badam adalah hadiah paling istimewa, karena
tidak tumbuh di sini dan hanya didatangkan dari Khurasan.
Aku perhatikan dengan saksama majelis sang Amir. Ia duduk di
atas bangku panjang yang dialasi permadani indah. Di dekatnya duduk sang hakim
bernama Salaru dan sang khatib yang aku lupa namanya. Di
kanan-kirinya berjejer para perwira pasukan. Para pengawal bersenjata berdiri
di dekat kepalanya. Sementara itu, barisan tentara sedang diperagakan di
hadapannya.
Yang menarik perhatianku adalah cara mereka menguji
kemampuan prajurit. Di tempat itu tersimpan banyak busur dengan tingkat
ketegangan yang berbeda-beda. Jika ada orang yang ingin diangkat sebagai
pemanah, ia diberi sebuah busur untuk diuji tarikannya. Semakin kuat
tarikannya, semakin tinggi pangkatnya.
Bagi yang ingin menjadi prajurit berkuda, ada sebuah gendang
besar yang ditancapkan di tanah. Calon prajurit harus menombaknya sambil
berlari kencang dengan kudanya. Ada pula sebuah lingkaran kecil yang digantung
di dinding. Ia harus mencoba mengangkat lingkaran itu dengan ujung tombaknya
saat kuda berlari. Jika berhasil, ia dianggap piawai.
Untuk menjadi pemanah berkuda, ada sebuah bola yang
diletakkan di tanah. Ia harus memanahnya sambil berlari. Tingkat ketepatan
dalam ujian-ujian inilah yang menentukan pangkat dan kedudukan seseorang di
ketentaraan.
Setelah selesai upacara penyambutan, sang Amir memerintahkan
kami ditempatkan di sebuah rumah di luar kota. Rumah itu milik para pengikut
Syekh Ruknuddin yang telah kusebutkan sebelumnya. Biasanya, mereka tidak
menjamu siapa pun sebelum ada perintah dari Sultan.
Para Pendatang dari Berbagai Negeri
Di Multan, aku bertemu banyak perantau dari berbagai negeri
yang juga datang menghadap Sultan India. Di antaranya Khudawandzadeh
Qiwamuddin, hakim dari kota Tirmidz, yang datang bersama istri dan
anak-anaknya. Kemudian datang pula saudara-saudaranya: Imaduddin, Dhiauddin,
dan Burhanuddin. Ada juga Mubarak Syah, seorang bangsawan
Samarkand; Arun Bukha dari Bukhara; Malikzadah,
keponakan Khudawandzadeh; dan Badruddin al-Fashshal. Masing-masing
datang dengan pengikut, pelayan, dan rombongannya sendiri.
Dua bulan setelah kedatanganku di Multan, tibalah utusan
Sultan. Mereka adalah Syamsuddin al-Busyanji, seorang hijab
(penjaga pintu) kerajaan, dan Malik Muhammad al-Harawi, komandan
benteng. Sultan mengutus mereka untuk menjemput Khudawandzadeh. Bersama mereka
datang pula tiga orang pemuda utusan Makhdumah Jahan, ibu suri,
yang khusus diutus untuk menyambut istri Khudawandzadeh. Mereka membawa jubah
kehormatan (khil'ah) untuk pasangan suami-istri itu dan anak-anak mereka, serta
perlengkapan bagi seluruh rombongan yang datang.
Mereka semua datang menemuiku dan bertanya, "Untuk
keperluan apa engkau datang ke negeri ini?" Aku menjawab, "Aku datang
untuk menetap dan mengabdi kepada Khudzand Alam — itulah gelar
Sultan di negerinya." Sebelumnya, Sultan telah memerintahkan bahwa tidak
seorang pun dari Khurasan boleh masuk ke India kecuali jika ia berniat menetap.
Setelah mendengar penjelasanku, mereka memanggil hakim dan
para saksi. Dibuatlah sebuah akta resmi yang menyatakan bahwa aku dan beberapa
pengikutku berniat menetap. Namun sebagian pengikutku menolak untuk ikut serta
dalam perjanjian ini.
Persiapan Menuju Ibu Kota
Kami pun bersiap untuk perjalanan menuju ibu kota Delhi.
Jarak antara Multan dan Delhi adalah empat puluh hari perjalanan, melewati
kawasan berpenduduk yang sambung-menyambung tanpa putus. Sang hijab dan
rekannya menyiapkan segala keperluan untuk jamuan perjalanan Qiwamuddin. Dari
Multan mereka membawa sekitar dua puluh orang juru masak.
Setiap malam, sang hijab berangkat lebih dulu ke tempat
peristirahatan berikutnya. Ia menyiapkan makanan dan segala sesuatunya. Ketika
Qiwamuddin tiba, hidangan telah siap. Setiap rombongan para pendatang itu
memiliki tenda dan perkemahan sendiri. Kadang-kadang mereka diundang untuk
makan bersama dalam jamuan yang disediakan untuk Qiwamuddin.
Aku sendiri hanya sekali menghadiri jamuan itu. Begini
susunan hidangan mereka:
Pertama, roti tipis (ar-riqaq) yang menyerupai kue kering di
negeri kami. Daging panggang dipotong besar-besar —seekor kambing hanya
dipotong empat atau enam bagian—dan diletakkan di hadapan setiap tamu sepiring
besar. Kemudian ada roti yang dimasak dengan minyak samin, bentuknya seperti
roti besar di negeri kami. Di tengahnya diisi halwa ash-shabuniyah (sejenis
manisan), lalu ditutup dengan selembar roti manis yang disebut al-khusyti.
Roti manis ini dibuat dari tepung, gula, dan minyak samin.
Selanjutnya, daging yang dimasak dengan minyak samin, bawang
merah, dan jahe hijau dihidangkan dalam piring-piring besar. Lalu ada hidangan
yang disebut samusak: daging cincang yang dimasak dengan kacang
almond, walnut, pistachio, bawang, dan rempah-rempah, kemudian dibungkus dengan
adonan tipis dan digoreng dengan minyak samin. Setiap orang mendapat empat atau
lima potong.
Kemudian nasi yang dimasak dengan minyak samin, di atasnya
diletakkan ayam. Lalu disusul luqaimat al-qadhi (kue kecil
khas hakim) yang mereka sebut al-Hasyimi, dan terakhir al-Qahiriyah (kue
khas Kairo). Para pelayan berdiri di sepanjang hamparan makanan sebelum makan
dimulai. Mereka memberi hormat ke arah tempat duduk Sultan—meskipun Sultan
tidak hadir, tradisi ini tetap dilakukan. Cara menghormat mereka adalah dengan
menundukkan kepala hingga hampir rukuk. Setelah itu, mereka duduk untuk makan.
Sebelum makan, mereka membawakan gelas-gelas emas, perak,
dan kaca berisi air nabiz (air perasan buah) yang dicampur air biasa. Mereka
menyebut minuman ini asy-syarbah. Setelah itu, sang hijab
mengucapkan, "Bismillah," dan mereka pun mulai makan.
Selesai makan, mereka membawakan kendi-kendi berisi fuqqa' (minuman
fermentasi ringan). Setelah meminumnya, giliran at-tambul dan al-fufal (sirih
dan pinang) yang telah kujelaskan sebelumnya. Ketika mereka telah mengambil
sirih dan pinang, sang hijab kembali mengucapkan, "Bismillah." Maka
mereka semua berdiri, memberi hormat seperti pertama kali, lalu bubar.
Demikianlah kemegahan jamuan di negeri India, negeri yang
kaya dengan tradisi dan adat istiadat yang memukau. Perjalananku masih panjang
menuju ibu kota Delhi, tempat Sang Sultan menanti.
Perjalanan Panjang Menuju Negeri Baru
Kami meninggalkan Kota Multan dengan segala kemegahan dan
tradisinya. Berhari-hari kami berjalan menyusuri jalan yang berliku, melewati
desa demi desa, sungai demi sungai. Rombongan besar para pendatang dari
berbagai negeri itu terus bergerak maju, bagaikan sungai yang mengalir menuju
muara: ibu kota Delhi yang megah.
Setelah empat puluh hari perjalanan—sesuai dengan rencana
dan tata cara yang telah kusebutkan—kami akhirnya tiba di perbatasan wilayah
India yang sesungguhnya. Debu-debu perjalanan masih melekat di pakaian, namun
semangat kami justru berkobar-kobar. Negeri yang selama ini hanya kudengar dari
cerita para pedagang kini terbentang di hadapan mataku.
Abu Har: Gerbang India nan Permai
Kota pertama yang kami masuki di negeri India ini
bernama Abu Har (dibaca: Abu Har, dengan ha' difathah). Sebuah
kota kecil, namun indah dan penuh dengan kehidupan. Rumah-rumah penduduknya
tertata rapi, sawah-sawah menghijau diairi sungai-sungai kecil yang mengalir
jernih. Pepohonan rindang tumbuh di sepanjang jalan, memberikan kesejukan di
tengah teriknya matahari India.
Aku mengamati sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu. Namun
semakin aku memandang, semakin aku merasa berada di negeri yang benar-benar
asing. Hampir tidak ada satu pun pohon yang kukenal. Buah-buahan yang biasa
kami nikmati di negeri Maghribi, Suriah, atau Irak, tidak kutemukan di sini.
Semuanya asing, semuanya baru.
Hanya satu jenis pohon yang kukenal, yaitu pohon Nabiq. Namun betapa terkejutnya aku melihat besarnya buah Nabiq di negeri ini! Di negeri kami, buahnya kecil-kecil, sebesar buah kurma mungkin. Di sini, buahnya sebesar buah 'afsh (buah jauz, sebesar biji kemiri), dengan rasa yang sangat manis. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa pohon yang sama bisa menghasilkan buah yang begitu berbeda.
Selain pohon Nabiq, di sini tumbuh pula berbagai jenis pohon lain yang sama sekali tidak pernah kulihat di negeri-negeri yang telah kusinggahi. Sebagian besar buahnya tidak kukenal, sebagian lagi belum pernah kudengar namanya. Subhanallah, betapa luasnya ciptaan Allah di muka bumi ini. Setiap negeri dianugerahi kekayaan alamnya sendiri-sendiri..
Sumber:
Rihlah Ibnu Bathuthah

Komentar
Posting Komentar