Menuju Singgasana Delhi: Petualangan Ibnu Battuta di Multan

kota Multan di India abad ke-14, ibu kota negeri Sind, dengan arsitektur khas India-Islam: benteng bata merah yang kokoh, menara-menara tinggi, gerbang kota berukir, dan rumah-rumah bata lumpur dengan atap datar. Sungai Indus mengalir di kejauhan, dengan perahu-perahu tradisional bersandar. Pasar kota ramai dengan pedagang dari berbagai negeri: Persia, Turkistan, dan India, memakai pakaian warna-warni, menjual rempah, kuda, kurma, dan barang dagangan lainnya. Di halaman istana, penguasa Quthb al-Mulk duduk di singgasana dengan bantal-bantal sutra, dikelilingi para perwira, hakim, dan khatib.

Perubahan Kebijakan Sang Sultan

Dua tahun telah berlalu sejak kedatanganku di India. Kemudian terjadilah peristiwa besar: Sultan Muhammad Syah mengangkat sumpah setia kepada Khalifah Abu al-Abbas al-Abbasi. Seiring dengan itu, beliau mengeluarkan kebijakan baru yang menggembirakan rakyat. Seluruh pajak yang memberatkan dihapuskan. Kini, tidak ada lagi pungutan kecuali zakat dan 'usyur (sepersepuluh) sebagaimana yang disyariatkan Islam.

Di saat kami hendak menyeberangi lembah besar menuju Multan, petugas-petugas kerajaan memeriksa seluruh barang bawaan para pelintas dengan teliti. Hatiku cemas bukan kepalang. Meskipun barang-barangku tidak seberapa, namun di mata orang banyak aku tampak seperti orang besar. Aku khawatir mereka akan membongkar seluruh isi bawaanku dan melihat betapa sederhananya harta yang kupunya.

Namun Allah Maha Lembut kepada hamba-Nya. Seorang perwira tinggi dari pasukan Quthb al-Mulk, penguasa Multan, tiba-tiba datang. Ia memerintahkan agar aku tidak diperiksa. Maka para petugas pun membiarkanku begitu saja. Aku memuji Allah atas pertolongan-Nya yang lembut dan tak terduga.

Malam itu kami bermalam di tepi lembah. Keesokan paginya, datanglah Malik al-Barid (Kepala Dinas Pos), seorang lelaki bernama Dihqan, asli Samarkand. Dialah yang menulis laporan untuk Sultan tentang segala peristiwa di kota ini: keadaan para pejabat, kejadian-kejadian penting, dan siapa saja orang asing yang datang. Aku segera berkenalan dengannya, dan atas bantuannya aku bisa menghadap Amir Multan.

Menghadap Penguasa Multan

Amir Multan adalah Quthb al-Mulk, seorang bangsawan utama lagi mulia. Ketika aku masuk, ia berdiri menyambutku, menjabat tanganku, dan mempersilakan aku duduk di sampingnya. Sebagai hadiah, aku persembahkan seorang budak, seekor kuda, serta sedikit kismis dan badam (almond). Di negeri ini, kismis dan badam adalah hadiah paling istimewa, karena tidak tumbuh di sini dan hanya didatangkan dari Khurasan.

Aku perhatikan dengan saksama majelis sang Amir. Ia duduk di atas bangku panjang yang dialasi permadani indah. Di dekatnya duduk sang hakim bernama Salaru dan sang khatib yang aku lupa namanya. Di kanan-kirinya berjejer para perwira pasukan. Para pengawal bersenjata berdiri di dekat kepalanya. Sementara itu, barisan tentara sedang diperagakan di hadapannya.

Yang menarik perhatianku adalah cara mereka menguji kemampuan prajurit. Di tempat itu tersimpan banyak busur dengan tingkat ketegangan yang berbeda-beda. Jika ada orang yang ingin diangkat sebagai pemanah, ia diberi sebuah busur untuk diuji tarikannya. Semakin kuat tarikannya, semakin tinggi pangkatnya.

Bagi yang ingin menjadi prajurit berkuda, ada sebuah gendang besar yang ditancapkan di tanah. Calon prajurit harus menombaknya sambil berlari kencang dengan kudanya. Ada pula sebuah lingkaran kecil yang digantung di dinding. Ia harus mencoba mengangkat lingkaran itu dengan ujung tombaknya saat kuda berlari. Jika berhasil, ia dianggap piawai.

Untuk menjadi pemanah berkuda, ada sebuah bola yang diletakkan di tanah. Ia harus memanahnya sambil berlari. Tingkat ketepatan dalam ujian-ujian inilah yang menentukan pangkat dan kedudukan seseorang di ketentaraan.

Setelah selesai upacara penyambutan, sang Amir memerintahkan kami ditempatkan di sebuah rumah di luar kota. Rumah itu milik para pengikut Syekh Ruknuddin yang telah kusebutkan sebelumnya. Biasanya, mereka tidak menjamu siapa pun sebelum ada perintah dari Sultan.

Para Pendatang dari Berbagai Negeri

Di Multan, aku bertemu banyak perantau dari berbagai negeri yang juga datang menghadap Sultan India. Di antaranya Khudawandzadeh Qiwamuddin, hakim dari kota Tirmidz, yang datang bersama istri dan anak-anaknya. Kemudian datang pula saudara-saudaranya: Imaduddin, Dhiauddin, dan Burhanuddin. Ada juga Mubarak Syah, seorang bangsawan Samarkand; Arun Bukha dari Bukhara; Malikzadah, keponakan Khudawandzadeh; dan Badruddin al-Fashshal. Masing-masing datang dengan pengikut, pelayan, dan rombongannya sendiri.

Dua bulan setelah kedatanganku di Multan, tibalah utusan Sultan. Mereka adalah Syamsuddin al-Busyanji, seorang hijab (penjaga pintu) kerajaan, dan Malik Muhammad al-Harawi, komandan benteng. Sultan mengutus mereka untuk menjemput Khudawandzadeh. Bersama mereka datang pula tiga orang pemuda utusan Makhdumah Jahan, ibu suri, yang khusus diutus untuk menyambut istri Khudawandzadeh. Mereka membawa jubah kehormatan (khil'ah) untuk pasangan suami-istri itu dan anak-anak mereka, serta perlengkapan bagi seluruh rombongan yang datang.

Mereka semua datang menemuiku dan bertanya, "Untuk keperluan apa engkau datang ke negeri ini?" Aku menjawab, "Aku datang untuk menetap dan mengabdi kepada Khudzand Alam — itulah gelar Sultan di negerinya." Sebelumnya, Sultan telah memerintahkan bahwa tidak seorang pun dari Khurasan boleh masuk ke India kecuali jika ia berniat menetap.

Setelah mendengar penjelasanku, mereka memanggil hakim dan para saksi. Dibuatlah sebuah akta resmi yang menyatakan bahwa aku dan beberapa pengikutku berniat menetap. Namun sebagian pengikutku menolak untuk ikut serta dalam perjanjian ini.

Persiapan Menuju Ibu Kota

Kami pun bersiap untuk perjalanan menuju ibu kota Delhi. Jarak antara Multan dan Delhi adalah empat puluh hari perjalanan, melewati kawasan berpenduduk yang sambung-menyambung tanpa putus. Sang hijab dan rekannya menyiapkan segala keperluan untuk jamuan perjalanan Qiwamuddin. Dari Multan mereka membawa sekitar dua puluh orang juru masak.

Setiap malam, sang hijab berangkat lebih dulu ke tempat peristirahatan berikutnya. Ia menyiapkan makanan dan segala sesuatunya. Ketika Qiwamuddin tiba, hidangan telah siap. Setiap rombongan para pendatang itu memiliki tenda dan perkemahan sendiri. Kadang-kadang mereka diundang untuk makan bersama dalam jamuan yang disediakan untuk Qiwamuddin.

Aku sendiri hanya sekali menghadiri jamuan itu. Begini susunan hidangan mereka:

Pertama, roti tipis (ar-riqaq) yang menyerupai kue kering di negeri kami. Daging panggang dipotong besar-besar —seekor kambing hanya dipotong empat atau enam bagian—dan diletakkan di hadapan setiap tamu sepiring besar. Kemudian ada roti yang dimasak dengan minyak samin, bentuknya seperti roti besar di negeri kami. Di tengahnya diisi halwa ash-shabuniyah (sejenis manisan), lalu ditutup dengan selembar roti manis yang disebut al-khusyti. Roti manis ini dibuat dari tepung, gula, dan minyak samin.

Selanjutnya, daging yang dimasak dengan minyak samin, bawang merah, dan jahe hijau dihidangkan dalam piring-piring besar. Lalu ada hidangan yang disebut samusak: daging cincang yang dimasak dengan kacang almond, walnut, pistachio, bawang, dan rempah-rempah, kemudian dibungkus dengan adonan tipis dan digoreng dengan minyak samin. Setiap orang mendapat empat atau lima potong.

Kemudian nasi yang dimasak dengan minyak samin, di atasnya diletakkan ayam. Lalu disusul luqaimat al-qadhi (kue kecil khas hakim) yang mereka sebut al-Hasyimi, dan terakhir al-Qahiriyah (kue khas Kairo). Para pelayan berdiri di sepanjang hamparan makanan sebelum makan dimulai. Mereka memberi hormat ke arah tempat duduk Sultan—meskipun Sultan tidak hadir, tradisi ini tetap dilakukan. Cara menghormat mereka adalah dengan menundukkan kepala hingga hampir rukuk. Setelah itu, mereka duduk untuk makan.

Sebelum makan, mereka membawakan gelas-gelas emas, perak, dan kaca berisi air nabiz (air perasan buah) yang dicampur air biasa. Mereka menyebut minuman ini asy-syarbah. Setelah itu, sang hijab mengucapkan, "Bismillah," dan mereka pun mulai makan.

Selesai makan, mereka membawakan kendi-kendi berisi fuqqa' (minuman fermentasi ringan). Setelah meminumnya, giliran at-tambul dan al-fufal (sirih dan pinang) yang telah kujelaskan sebelumnya. Ketika mereka telah mengambil sirih dan pinang, sang hijab kembali mengucapkan, "Bismillah." Maka mereka semua berdiri, memberi hormat seperti pertama kali, lalu bubar.

Demikianlah kemegahan jamuan di negeri India, negeri yang kaya dengan tradisi dan adat istiadat yang memukau. Perjalananku masih panjang menuju ibu kota Delhi, tempat Sang Sultan menanti.

Perjalanan Panjang Menuju Negeri Baru

Kami meninggalkan Kota Multan dengan segala kemegahan dan tradisinya. Berhari-hari kami berjalan menyusuri jalan yang berliku, melewati desa demi desa, sungai demi sungai. Rombongan besar para pendatang dari berbagai negeri itu terus bergerak maju, bagaikan sungai yang mengalir menuju muara: ibu kota Delhi yang megah.

Setelah empat puluh hari perjalanan—sesuai dengan rencana dan tata cara yang telah kusebutkan—kami akhirnya tiba di perbatasan wilayah India yang sesungguhnya. Debu-debu perjalanan masih melekat di pakaian, namun semangat kami justru berkobar-kobar. Negeri yang selama ini hanya kudengar dari cerita para pedagang kini terbentang di hadapan mataku.

Abu Har: Gerbang India nan Permai

Kota pertama yang kami masuki di negeri India ini bernama Abu Har (dibaca: Abu Har, dengan ha' difathah). Sebuah kota kecil, namun indah dan penuh dengan kehidupan. Rumah-rumah penduduknya tertata rapi, sawah-sawah menghijau diairi sungai-sungai kecil yang mengalir jernih. Pepohonan rindang tumbuh di sepanjang jalan, memberikan kesejukan di tengah teriknya matahari India.

Aku mengamati sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu. Namun semakin aku memandang, semakin aku merasa berada di negeri yang benar-benar asing. Hampir tidak ada satu pun pohon yang kukenal. Buah-buahan yang biasa kami nikmati di negeri Maghribi, Suriah, atau Irak, tidak kutemukan di sini. Semuanya asing, semuanya baru.

Hanya satu jenis pohon yang kukenal, yaitu pohon Nabiq. Namun betapa terkejutnya aku melihat besarnya buah Nabiq di negeri ini! Di negeri kami, buahnya kecil-kecil, sebesar buah kurma mungkin. Di sini, buahnya sebesar buah 'afsh (buah jauz, sebesar biji kemiri), dengan rasa yang sangat manis. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa pohon yang sama bisa menghasilkan buah yang begitu berbeda. 

Selain pohon Nabiq, di sini tumbuh pula berbagai jenis pohon lain yang sama sekali tidak pernah kulihat di negeri-negeri yang telah kusinggahi. Sebagian besar buahnya tidak kukenal, sebagian lagi belum pernah kudengar namanya. Subhanallah, betapa luasnya ciptaan Allah di muka bumi ini. Setiap negeri dianugerahi kekayaan alamnya sendiri-sendiri.. 


Sumber:
Rihlah Ibnu Bathuthah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India

Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India

Jurhum dan Kaum ‘Amaliq: Jejak Bangsa-Bangsa Arab Purba