Mengarungi Sungai Indus: Dari Armada Mewah hingga Kota Membatu

kota kuno Lahri (abad ke-14 M) di tepi samudra besar, tempat muara Sungai Indus bertemu dengan lautan. Kota ini indah dengan arsitektur khas India-Islam: bangunan dari bata lumpur dan batu pahat, menara-menara kecil, serta dinding kota yang kokoh. Pelabuhan besar terlihat ramai dengan kapal-kapal dagang dari berbagai negeri: kapal layar khas Yaman, Persia, dan India bersandar di dermaga. Para pedagang dengan pakaian berwarna-warni (sorban putih, jubah warna-warni, kain sarung India) sibuk bongkar muat barang: rempah-rempah, kain sutra, kuda, dan barang dagangan lainnya

Berlayar bersama Sang Hakim

Setelah melewati masa-masa mencekam di Siyustan, takdir membawaku bertemu dengan seorang pria mulia. Ia adalah Ala al-Mulk al-Khurasani, seorang hakim yang adil dan utama, yang lebih dikenal dengan julukan Fakhruddin. Di masa lalu, ia pernah menghadap Raja India dan kemudian diangkat sebagai penguasa di Kota Lahri beserta wilayah sekitarnya di negeri Sind. Kini, ia datang bersama pasukan Imad al-Mulk Sartiz dalam ekspedisi penumpasan pemberontakan.

Aku pun bertekad untuk ikut bersamanya menuju Kota Lahri. Ia memiliki lima belas buah kapal yang telah lebih dulu berlayar di Sungai Indus membawa seluruh barang bawaannya. Maka aku pun turut serta dalam armada megah ini.

Di antara kapal-kapal itu, ada satu yang paling istimewa, bernama al-Ahawrah. Bentuknya seperti sejenis kapal perang di negeri kami, namun lebih lebar dan lebih pendek. Di tengah kapal terdapat sebuah ruang kayu bertingkat yang bisa dinaiki melalui tangga. Di atasnya terdapat singgasana megah tempat duduk sang Amir, sementara para sahabatnya duduk di hadapannya, dan para budak berdiri di kanan-kiri. Para pendayung, yang jumlahnya sekitar empat puluh orang, bekerja dengan penuh semangat.

Mengelilingi al-Ahawrah ini, ada empat kapal pengawal. Dua di kanan dan dua di kiri. Dua kapal berisi para pembawa panji-panji kerajaan, penabuh drum, peniup trompet, peniup serunai, dan berbagai alat musik lainnya. Dua kapal lainnya berisi para penghibur dan penyanyi.

Kemegahan di Atas Air

Setiap pagi, perjalanan dimulai dengan meriah. Drum ditabuh, trompet ditiup, dan para penyanyi mulai bersenandung. Suasana riuh rendah menyambut mentari. Irama berganti-ganti sepanjang perjalanan hingga tiba waktu makan siang.

Saat tiba waktu makan, semua kapal merapat dan saling bersambung. Jembatan-jembatan kayu dipasang di antara mereka. Para penghibur naik ke kapal al-Ahawrah sang Amir, bernyanyi dengan merdu hingga ia selesai menikmati hidangan. Baru setelah itu giliran mereka makan. Begitu selesai, mereka kembali ke kapal masing-masing, dan perjalanan dilanjutkan dengan tata cara yang sama hingga malam tiba.

Ketika malam menjelang, perkemahan didirikan di tepi sungai. Sang Amir turun ke kemahnya. Hamparan makanan terbentang panjang, dihadiri oleh sebagian besar pasukan. Setelah salat Isya, tibalah saatnya hiburan malam. Para penghibur bergantian tampil. Setiap kali satu kelompok selesai, seorang penyeru akan berteriak dengan suara lantang, "Wahai Tuan Raja, telah berlalu malam sekian jam." Lalu kelompok berikutnya melanjutkan hiburan, hingga akhirnya fajar tiba.

Begitu pagi menyingsing, drum dan trompet kembali bersahut-sahutan. Salat Subuh didirikan berjamaah. Sarapan dihidangkan. Setelah selesai, perjalanan dimulai kembali.

Jika sang Amir ingin berlayar, ia akan menaiki kapalnya dengan tata cara yang telah kugambarkan. Jika ia ingin berjalan di darat, drum-drum besar dan trompet ditabuh. Para pengawal berjalan di depan, diikuti para pejalan kaki. Di hadapan para pengawal, enam orang prajurit berkuda berjalan: tiga di antaranya membawa drum yang dikalungkan di leher, tiga lainnya membawa serunai. Setiap kali melewati desa atau tempat tinggi, mereka menabuh drum dan meniup serunai. Seluruh pasukan pun ikut meramaikan dengan alat musik masing-masing. Di kanan-kiri para pengawal, para penyanyi terus melantunkan lagu bergantian hingga tiba waktu makan siang, saat mereka semua berhenti untuk beristirahat.

Kota Lahri: Muara Dua Lautan

Setelah lima hari berlayar bersama Ala al-Mulk, tibalah kami di wilayah kekuasaannya: Kota Lahri (dibaca: La-ha-ri, dengan ha' difathah dan ra' dikasrah). Kota ini indah, terletak di tepi samudra besar. Di sinilah Sungai Indus bermuara, bertemu dengan lautan. Dua lautan berpadu di hadapan kota ini.

Lahri memiliki pelabuhan besar yang menjadi persinggahan para pedagang dari Yaman, Persia, dan negeri-negeri lainnya. Karena itu, pendapatan pajaknya sangat besar dan kekayaan kota ini melimpah. Amir Ala al-Mulk sendiri bercerita kepadaku bahwa pendapatan pajak kota ini mencapai enam puluh lak setiap tahun. Satu lak, sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya, adalah seratus ribu dinar.

Dari pendapatan itu, sang Amir berhak mengambil nim dah yik, yang artinya setengah dari sepersepuluh (5 persen). Demikianlah kebiasaan Sultan memberikan wilayah kepada para pejabatnya; mereka boleh mengambil untuk diri mereka sendiri setengah dari sepersepuluh hasil pendapatan daerah itu.

Kota yang Membatu

Suatu hari aku berkuda bersama Ala al-Mulk menuju sebuah dataran luas yang berjarak tujuh mil dari kota, bernama Tarna. Di sana aku menyaksikan pemandangan yang tak terlukiskan. Batu-batu bertebaran di mana-mana, dan yang mengherankan, batu-batu itu berbentuk seperti manusia dan binatang. Namun kebanyakan telah berubah dan bentuknya kabur. Ada yang masih tampak jelas berupa kepala, atau kaki, atau anggota tubuh lainnya.

Ada pula batu-batu yang menyerupai butiran makanan: gandum, kacang arab, kacang lebar, dan kacang adas. Di tempat itu juga terlihat bekas-bekas tembok dan pondasi rumah-rumah. Di antara reruntuhan itu, kami menemukan sebuah bangunan dari batu pahat. Di tengahnya terdapat bangku panjang dari batu pahat, seolah-olah dari satu batu utuh. Di atas bangku itu terpahat sosok manusia, namun kepalanya panjang dan mulutnya berada di sisi wajahnya. Kedua tangannya terikat di belakang punggung, seperti orang yang dibelenggu.

Di sekitarnya mengalir air yang sangat busuk baunya. Di beberapa dinding terukir tulisan dalam bahasa India. Ala al-Mulk bercerita bahwa para sejarawan meyakini tempat ini dulunya adalah sebuah kota yang penduduknya banyak melakukan kerusakan. Mereka pun dikutuk menjadi batu. Sosok yang duduk di bangku itu adalah raja mereka. Bangunan itu hingga kini disebut "Dar al-Mulk" (Istana Kerajaan). Adapun tulisan di dinding itu, menurut para ahli, adalah catatan tentang kehancuran kota tersebut, yang terjadi sekitar seribu tahun yang lalu.

Aku tinggal di Lahri bersama Ala al-Mulk selama lima hari. Ia sangat baik kepadaku, membekali aku dengan perbekalan yang cukup. Maka aku pun berpamitan dan melanjutkan perjalanan.

Bakar: Kota di Tengah Sungai

Tujuan berikutnya adalah Kota Bakar (dengan ba' difathah). Kota ini indah, terbelah oleh sebuah kanal dari Sungai Indus. Di tengah kanal itu berdiri sebuah zawiyah (pondok sufi) yang indah, menyediakan makanan bagi siapa pun yang datang dan pergi. Zawiyah ini dibangun oleh Kasylu Khan pada masa pemerintahannya di negeri Sind. Kelak kisahnya akan kusebutkan.

Di kota ini aku bertemu dengan seorang fakih terkemuka, Shadruddin al-Hanafi, juga dengan hakim kota yang bernama Abu Hanifah. Aku pun berjumpa dengan seorang syekh zahid lagi alim, Syamsuddin Muhammad asy-Syirazi. Ia termasuk orang-orang yang berusia panjang; ia bercerita bahwa usianya melebihi 120 tahun.

Ujah: Pertemuan dengan Para Wali

Dari Bakar, aku melanjutkan perjalanan menuju Kota Ujah (dibaca: U-jah, dengan hamzah didhammah dan jim difathah). Kota ini besar, terletak di tepi Sungai Indus, dengan pasar-pasar yang indah dan bangunan-bangunan yang bagus. Penguasanya saat itu adalah seorang raja yang mulia lagi terhormat, Jalaluddin al-Kiji, seorang pemberani lagi dermawan. (Di kemudian hari, ia meninggal di kota ini akibat terjatuh dari kudanya.)

Di antara aku dan Jalaluddin tumbuh ikatan persahabatan yang erat. Kami saling mengasihi. Pertemuan kami berlanjut hingga di ibu kota Delhi. Ketika Sultan hendak bepergian ke Daulatabad—seperti yang akan kuceritakan nanti—dan memerintahkanku untuk tinggal di ibu kota, Jalaluddin berkata kepadaku, "Engkau membutuhkan biaya besar, sementara Sultan akan lama perginya. Ambillah desaku ini, kelolalah hasilnya sampai ia kembali." Maka kulakukan itu, dan aku memperoleh hasil sekitar lima ribu dinar. Semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan.

Di Ujah aku juga bertemu dengan seorang syekh zahid lagi mulia, Quthbuddin Haidar al-Alawi. Ia mengenakan jubah (khirqah) kepadaku. Ia termasuk wali-wali besar. Jubah yang ia berikan itu selalu aku bawa ke mana pun, hingga akhirnya dirampas oleh orang-orang kafir Hindu di lautan.

Multan: Ibu Kota Sind

Dari Ujah, aku berangkat menuju Multan (dibaca: Mul-tan, dengan mim didhammah). Kota ini adalah pusat pemerintahan negeri Sind, tempat tinggal panglima tertinggi seluruh wilayah Sind.

Dalam perjalanan menuju Multan, sepuluh mil sebelum tiba, kami melewati sebuah lembah besar bernama Khusrau Abad. Lembah ini tidak bisa diseberangi kecuali dengan perahu. Di sinilah petugas memeriksa barang bawaan para pelintas dengan sangat teliti. Kala itu, kebiasaan mereka adalah mengambil seperempat dari seluruh barang dagangan yang dibawa para saudagar. Untuk setiap ekor kuda, mereka memungut pajak sebesar tujuh dinar.


Peta Lokasi

Sumber:
Rihlah Ibnu Bathuthah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India

Jurhum dan Kaum ‘Amaliq: Jejak Bangsa-Bangsa Arab Purba

Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India