Keajaiban Flora India: Buah-Buahan dan Tanaman yang Mempesona

pemandangan kebun buah-buahan di India abad ke-14, seperti yang digambarkan oleh Ibnu Battuta. Di tengah, pohon Anba yang besar dan rimbun dengan buah sebesar tin besar berwarna kuning keemasan bergelantungan, beberapa buah hijau masih muda tergeletak di tanah. Di dekatnya, pohon Syaki/Barki yang unik dengan buah besar seperti labu tumbuh dari pangkal pohon, ada yang masih utuh dan ada yang sudah dibelah memperlihatkan ratusan biji di dalamnya. Di latar belakang, pohon-pohon lain seperti naranj manis dengan buah jeruk, pohon mahwa dengan buah kecil kehitaman, dan pohon delima yang sedang berbuah. Di kejauhan, sawah terasering hijau dan ladang padi yang subur, petani lokal dengan pakaian tradisional India sedang memanen jewawut (kudzru) dan mengumpulkan biji syamakh dengan tongkat dan keranjang.

Pohon Anba: Raksasa di Antara Pepohonan

Memasuki negeri India, aku disambut oleh pemandangan yang sama sekali baru. Pepohonan tumbuh subur di mana-mana, namun bukan pohon yang biasa kulihat di negeri Syam, Maghribi, atau Irak. Semuanya asing, semuanya mengundang rasa ingin tahu.

Salah satu pohon yang paling menarik perhatianku adalah pohon Anba (dibaca: An-ba, dengan 'ain difathah, nun disukun, dan ba' difathah). Pohon ini menyerupai pohon jeruk manis (naranj), namun jauh lebih besar dan lebih rimbun daunnya. Di bawah naungannya, udara terasa sejuk, namun anehnya, siapa pun yang tidur di bawah pohon ini akan jatuh sakit. Maka penduduk setempat pun menghindari tidur di bawah pohon Anba.

Buahnya sebesar buah tin besar. Ketika masih hijau dan belum matang sempurna, penduduk memungut buah yang jatuh lalu memberi garam padanya. Mereka mengasinkannya sebagaimana kami mengasinkan limau dan lemon di negeri kami. Begitu pula mereka mengasinkan jahe hijau dan tandan-tandan lada. Semua acar ini dimakan bersama nasi: setiap kali menyuap nasi, mereka mengambil sedikit acar sebagai penyedap.

Memasuki musim gugur, buah Anba berubah warna menjadi kuning. Saat itulah mereka memakannya seperti apel. Ada yang mengirisnya dengan pisau, ada pula yang menyedotnya hingga kering. Rasanya manis dengan sedikit rasa asam yang menyegarkan. Di dalamnya terdapat biji besar yang mereka tanam kembali, persis seperti menanam biji jeruk. Dari biji itulah tumbuh pohon-pohon baru.

Syaki dan Barki: Buah Ajaib dari Akar Pohon

Di antara keajaiban alam India, aku menemukan dua jenis buah yang sungguh aneh: Syaki (dibaca: Sya-ki, dengan syin difathah dan ka' dikasrah) dan Barki (dibaca: Bar-ki, dengan ba' difathah dan ka' dikasrah). Keduanya tumbuh dari pohon yang sama. Daunnya mirip daun kenari. Namun yang menarik, buahnya tumbuh dari pangkal pohon, bukan dari ranting.

Buah yang menyentuh tanah disebut Barki. Rasanya lebih manis dan lebih lezat. Buah yang tumbuh di atas tanah disebut Syaki. Bentuk buahnya seperti labu besar, kulitnya tebal menyerupai kulit sapi. Ketika menguning di musim gugur, mereka memotong dan membelahnya. Di dalam setiap buah terdapat seratus hingga dua ratus biji-biji yang tersusun rapi.

Biji-biji itu bentuknya seperti mentimun kecil. Di antara setiap biji terdapat selaput berwarna kuning. Setiap biji memiliki tempurung sebesar kacang arab besar. Jika biji ini dipanggang atau direbus, rasanya persis seperti kacang arab — makanan yang tidak ada di negeri ini. Penduduk setempat menyimpan biji-biji ini dalam tanah merah, dan bisa bertahan hingga setahun penuh.

Syaki dan Barki inilah buah terlezat di seluruh India.

Tando: Buah dari Pohon Eboni

Pohon Tando (dibaca: Tan-do, dengan ta' difathah, nun disukun, dan dal didhammah) adalah pohon eboni (kayu hitam). Buahnya sebesar buah aprikot, berwarna kuning kemerahan, dan rasanya manis sekali. Jika sudah matang, buah ini menjadi makanan favorit penduduk.

Jauz: Zaitunnya India

Pohon Jauz (dibaca: Jauz, dengan jim didhammah) tumbuh liar di mana-mana. Buahnya mirip zaitun, berwarna hitam, dengan biji tunggal seperti zaitun. Namun rasanya berbeda. Aku belum pernah menemukan buah seperti ini di negeri lain.

Naranj Manis: Buah yang Melimpah

Jeruk manis (naranj) tumbuh subur di India. Hampir di setiap kebun kita bisa menemukannya. Sebaliknya, jeruk asam justru sulit dicari. Yang menarik, ada jenis ketiga yang berada di antara manis dan asam. Buahnya sebesar limau, dan rasanya sangat lezat. Aku sendiri sangat gemar memakannya.

Mahwa: Anggur Pengganti Ara

Pohon Mahwa (dibaca: Mah-wa, dengan mim dan wawu difathah) tumbuh liar di hutan-hutan. Daunnya mirip daun kenari, namun kemerah-merahan dan kekuning-kuningan. Buahnya sebesar tin kecil, dengan rasa manis yang kuat. Di ujung setiap buah terdapat biji kecil sebesar buah anggur, berlubang di tengah, dan rasanya persis seperti anggur.

Namun ada pantangan: jika terlalu banyak memakan buah ini, kepala akan terasa pusing. Yang mengherankan, jika biji-biji kecil itu dijemur di bawah matahari hingga kering, rasanya berubah menjadi seperti buah tin. Karena di India tidak ada pohon ara, aku sering memakan biji Mahwa kering sebagai pengganti ara. Penduduk setempat menyebut biji ini al-ankur (dibaca: An-kur, dengan hamzah difathah, nun disukun, kaf didhammah, wawu dan ra'). Artinya dalam bahasa mereka adalah "anggur".

Ngomong-ngomong soal anggur, di India buah ini sangat langka. Hanya tumbuh di beberapa tempat seperti sekitar ibu kota Delhi dan beberapa daerah lain. Menariknya, anggur di sini berbuah dua kali dalam setahun. Biji buah ini diperas untuk diambil minyaknya, dan minyak itu digunakan untuk menyalakan lampu-lampu.

Kasira: Manis di Bawah Tanah

Ada pula buah yang mereka sebut Kasira (dibaca: Ka-si-ra, dengan kaf difathah, sin dikasrah, ya' mad, dan ra'). Buah ini tumbuh di dalam tanah, sehingga harus digali untuk mendapatkannya. Rasanya manis sekali, menyerupai kastanye. Aku belum pernah melihat buah seperti ini di negeri lain.

Delima: Buah Kenangan

Dari buah-buahan negeri kami, hanya delima yang tumbuh di India. Menakjubkannya, pohon delima di sini berbuah dua kali dalam setahun. Bahkan di Kepulauan Dhibat al-Mahal (Maldives), pohon delima berbuah sepanjang tahun tanpa henti. Penduduk setempat menyebutnya anar (dibaca: A-nar, dengan hamzah dan nun difathah). Aku menduga inilah asal kata jilnar: dalam bahasa Persia, jul berarti bunga, dan nar berarti delima. Jadi jilnar artinya bunga delima.

Sistem Pertanian yang Mengagumkan

Orang-orang India menanam dua kali dalam setahun. Ketika hujan turun di musim panas, mereka menanam tanaman musim gugur dan memanennya setelah enam puluh hari. Inilah tanaman-tanaman musim gugur yang utama:

Al-Kudzru (dibaca: Kudz-ru, dengan kaf didhammah, dzal disukun, ra' didhammah, dan wawu) adalah sejenis jewawut (millet). Inilah tanaman paling utama dan paling banyak di India.

Al-Qal (dengan qaf) menyerupai sejenis gandum.

Asy-Syamakh (dengan syin dan kha' yang sama-sama di-'jam-kan) bijinya lebih kecil dari al-qal. Yang menakjubkan, tanaman ini kadang tumbuh tanpa ditanam. Ia menjadi makanan utama para ahli ibadah, orang-orang yang wara', fakir miskin, dan kaum dhuafa.

Mereka keluar mengumpulkan tanaman liar ini. Caranya: masing-masing memegang keranjang besar di tangan kiri, dan di tangan kanan sebatang tongkat pemukul. Mereka memukul tanaman itu hingga bijinya jatuh ke dalam keranjang. Dari sinilah mereka mendapatkan makanan untuk setahun penuh. Biji asy-syamakh sangat kecil. Setelah dikumpulkan, mereka menjemurnya di bawah matahari, lalu menumbuknya dalam lumpang kayu. Kulitnya terbang tertiup angin, tersisalah isi putihnya. Dari isi inilah mereka membuat bubur yang dimasak dengan susu kerbau. Rasanya jauh lebih lezat daripada roti. Aku sendiri sering memakannya selama di India, dan aku sangat menyukainya.

Al-Masy adalah sejenik kacang-kacangan (julban).

Al-Munj (dengan mim didhammah, nun, dan jim) mirip dengan al-masy, namun bijinya lebih panjang dan berwarna hijau cerah. Mereka memasak al-munj bersama nasi dan minyak samin, lalu menamainya Kusyri (dibaca: Kusy-ri, dengan kaf, syin mu'jam, dan ra'). Hidangan ini mereka makan setiap kali berbuka puasa. Di India, kedudukannya seperti al-harirah (bubur) di negeri Maghribi.

Al-Lubiya adalah sejenis kacang (fawl).

Al-Muts (dengan mim didhammah) mirip dengan al-kudzru namun bijinya lebih kecil. Ini adalah makanan ternak mereka. Kuda-kuda menjadi gemuk karenanya.

Adapun gandum (sya'ir) di sini kurang kuat khasiatnya. Maka mereka memberi makan ternak dengan al-muts atau kacang arab yang digiling, dibasahi air, lalu diberikan kepada hewan. Mereka juga memberi makan ternak dengan daun al-masy sebagai pengganti rumput segar. Namun sebelumnya, hewan itu harus diberi minyak samin selama sepuluh hari, setiap hari sebanyak tiga sampai empat liter, dan tidak boleh ditunggangi selama masa itu. Setelah itu, mereka memberi makan daun al-masy selama sebulan atau lebih.

Tanaman-tanaman yang telah kusebutkan adalah tanaman musim gugur. Setelah dipanen enam puluh hari kemudian, mereka menanam tanaman musim semi: gandum, barley, kacang arab, dan lentil. Penanaman dilakukan di tanah bekas tanaman musim gugur. Tanah India sangat subur dan bagus.

Padi: Tanaman Tiga Musim

Padi adalah tanaman terpenting di India. Luar biasanya, mereka menanam padi tiga kali dalam setahun. Sungguh negeri yang diberkahi!

Bersamaan dengan tanaman musim gugur, mereka juga menanam wijen dan tebu. Semua tumbuh subur di tanah yang sama, dalam musim yang sama. Maha Suci Allah yang menciptakan bumi dengan segala kekayaannya.


Sumber:
Rihlah Ibnu Bathuthah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India

Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India

Jurhum dan Kaum ‘Amaliq: Jejak Bangsa-Bangsa Arab Purba