Jejak Kabilah ‘Akk dan Perebutan Nasab Anak-Anak Ma‘add

lanskap Tihamah di pesisir Yaman menuju Jeddah, gurun pasir datar yang membentang hingga pantai Laut Merah, udara tampak beriak karena panas yang menyengat, langit siang kekuningan dengan cahaya terik membakar. Di tengah komposisi tampak perkemahan besar suku badui: deretan tenda kulit gelap, unta dan kuda diikat, orang‑orang Arab pra‑Islam berjubah kasar warna cokelat dan putih pudar, bersorban, sebagian duduk dalam majelis musyawarah suku mengelilingi api kecil yang padam, wajah serius seolah memperdebatkan nasab dan persekutuan antara ‘Adnān dan Qaḥṭān. Di sisi kiri, kelompok prajurit bersenjata tombak dan pedang mengawasi dari atas bukit pasir, bendera suku berkibar ditiup angin gurun. Di sisi kanan, dekat garis pantai, bayangan samar kapal dagang kecil menunjukkan hubungan dengan Yaman dan dunia lua

Di antara hamparan sejarah suku-suku Arab awal, ada nama-nama yang hari ini nyaris tenggelam, tetapi dulu sangat kuat gaungnya. Salah satunya adalah kabilah ‘Akk, yang sering dikelompokkan bersama rumpun besar Bani ‘Adnān dan ditempatkan berdekatan dengan suku-suku keturunan Ma‘add.

‘Akk: Antara Adnani dan Yamani

Dalam narasi para ahli sejarah klasik, kabilah ‘Akk menempati wilayah selatan tanah Ma‘add. Ada kisah yang menyebut bahwa ketika raja Babilonia, Bukhtanashar, menyerbu daerah “Ḥaḍurā” di Yaman, kabilah ‘Akk meninggalkan negeri mereka dan pindah ke Yaman. Di sana mereka menetap, berbaur, dan perlahan-lahan nasab mereka bercampur dengan masyarakat Yaman.

Lama-kelamaan, orang-orang ‘Akk mendiami jalur pesisir Tihāmah, dari wilayah Yaman hingga mendekati Jeddah. Dari sisi bahasa, kata “‘akk” sendiri di antara maknanya adalah “panas yang sangat menyengat”, seolah menggambarkan betapa keras dan teriknya alam yang mereka huni.

Sebagian ahli nasab mulai melihat adanya kesamaan dan kedekatan wilayah antara kabilah ‘Akk dan kabilah besar lain, al‑Azd. Dari sinilah tumbuh dugaan bahwa keduanya punya jalur nasab yang berhubungan. Ada riwayat yang bahkan membalik urutan cerita: bukan ‘Akk yang semula Adnani lalu menjadi Yamani, melainkan sejak awal ‘Akk digambarkan sebagai kabilah Yaman, yang kemudian “berpindah” menjadi bagian dari rumpun Ma‘add setelah kalah perang melawan kabilah Ghassān di Tihāmah. Menurut versi ini, Ghassān mengusir ‘Akk dari negeri mereka, dan akibatnya ‘Akk melepaskan diri dari nasab Yaman dan menisbatkan diri kepada Ma‘add.

Belum berhenti di situ, ada pula ahli nasab yang menyusun bentuk silsilah baru. Mereka menempatkan ‘Akk sebagai:

“‘Akk bin ad‑Dīth bin ‘Adnān”
atau
“‘Akk bin ‘Adnān bin ‘Abdullāh,” yang dikaitkan sebagai salah satu cabang al‑Azd.

Dengan konstruksi seperti ini, sebagian penulis berhasil menjembatani dua dunia: sisi Adnani dan sisi Yamani.

Di sisi lain, penyair seperti al‑‘Abbās bin Mirdās justru membalik citra kekalahan ‘Akk. Dalam sebuah bait ia berbangga:

“Dan ‘Akk bin ‘Adnān, merekalah yang mempermainkan Ghassān,
hingga mereka mengusir siapa pun yang patut diusir.”

Di sini, ‘Akk bukan korban Ghassān, tetapi penakluk yang mengusir mereka. Perbedaan ini menunjukkan betapa cerita sejarah suku sering kali lebih banyak diwarnai oleh kebanggaan dan kepentingan kelompok daripada data yang benar-benar pasti.

‘Akk di Mata Ptolemaios

Menariknya, nama yang mirip dengan ‘Akk juga muncul dalam karya geografi Ptolemaios, ahli geografi Yunani-Romawi abad ke-2 Masehi. Ia menyebut suatu suku Arab dengan nama Anchitae, Achitae, Akkitae, atau Akkitai. Letak wilayah suku ini sesuai dengan area yang oleh para ahli nasab Arab dikaitkan dengan kabilah ‘Akk.

Para peneliti modern melihat kecocokan ini dan berpendapat bahwa yang dimaksud Ptolemaios sebenarnya adalah kabilah ‘Akk. Jika demikian, maka catatan Ptolemaios adalah salah satu rujukan tertulis tertua tentang mereka, jauh sebelum datangnya Islam.

Namun, Ptolemaios tidak memberi rincian tentang asal-usul dan hubungan nasab suku ini. Dari sudut pandangnya, mereka hanyalah “satu suku Arab di wilayah tertentu”. Di sinilah kita melihat perbedaan: bagi orang luar, suku-suku ini hanya titik-titik di peta; sementara bagi orang Arab sendiri, mereka adalah mata rantai panjang dalam pohon nasab.

Anak-Anak Ma‘add: Di Antara Sejarah dan Politik

Dari wilayah ‘Akk, pembicaraan para ahli nasab mengalir ke sosok yang lebih besar: Ma‘add bin ‘Adnān. Ia ditempatkan sebagai salah satu leluhur utama rumpun Arab utara. Para penulis klasik menyebut bahwa Ma‘add memiliki beberapa anak, dan di sinilah cerita mulai bercabang.

Sebagian penulis menyebut empat nama utama: Nizār, Quḍā‘ah, Qansh, dan Iyād. Penulis lain menambah daftar itu dengan nama-nama lain yang lebih kecil, sebagian bahkan nyaris tidak kita kenal lagi selain dari sebaris catatan: ‘Ubayd ar‑Rimāḥ, aḍ‑Ḍaḥḥāk (yang dikisahkan pernah menyerang Bani Israil), Qanāṣah, Sanām, Ḥaydān, dan seterusnya. Dalam banyak kasus, nama-nama ini tampak lebih sebagai upaya untuk mengisi celah dalam pohon nasab daripada jejak keluarga yang benar-benar terverifikasi.

Tentang kepemimpinan setelah Ma‘add wafat, ada riwayat yang mengatakan bahwa Qansh diangkat sebagai pemimpin orang-orang Arab. Namun ia ingin mengusir saudaranya, Nizār, dari kawasan al‑Ḥaram. Penduduk Mekah tidak menerima langkah itu. Mereka justru mengusir Qansh dan mengutamakan Nizār. Di sini kita melihat gambaran awal perebutan pengaruh di sekitar Mekah, antara nama-nama yang kelak menjadi dasar bagi pembagian besar suku-suku Arab.

Quḍā‘ah: Diperebutkan Adnani dan Yamani

Dari semua nama anak Ma‘add, Quḍā‘ah adalah yang paling banyak diperdebatkan nasabnya. Sebagian ahli berita mengeluarkannya dari garis keturunan Ma‘add dan memindahkannya ke rumpun Qaḥṭānī (Yamani). Mereka mengatakan: Quḍā‘ah adalah keturunan Quḍā‘ah bin Mālik bin Ḥimyar bin Saba’. Dengan begitu, Quḍā‘ah menjadi bagian dari suku-suku besar Yaman.

Namun, di pihak lain, ada kelompok ahli nasab — dan bersama mereka kabilah Quḍā‘ah sendiri — yang keras kepala mempertahankan bahwa mereka adalah anak sulung Ma‘add. Mereka berkata: “Kami Quḍā‘ah bin Ma‘add,” dan menambahkan bahwa Ma‘add sendiri digelari “Abū Quḍā‘ah”. Untuk menguatkan klaim tersebut, mereka menukil berbagai syair lama, baik dari zaman jahiliah maupun setelahnya, di mana Quḍā‘ah digambarkan sebagai bagian dari rumpun Ma‘add.

Penyair besar seperti al‑Kumayt bahkan menjadikan ini bahan sindiran. Ia mengejek Quḍā‘ah karena mengaku Yaman dan mengaitkan diri kepada Quḍā‘ah bin Mālik bin Ḥimyar, padahal menurutnya mereka adalah Quḍā‘ah bin Ma‘add bin ‘Adnān. Dalam bait-bait pedasnya, ia menggambarkan klaim mereka seperti tiang-tiang tenda yang tak punya keturunan, dan menyamakan “bagian” mereka dari Qaḥṭān dan Mālik dengan bagian seorang pezina dari kehamilan: hanya menambah aib, bukan kehormatan.

Di bait lain, ia menyerupakan Quḍā‘ah dengan anak-anak burung unta yang meninggalkan kawanannya: gambarannya tajam, bahwa mereka telah meninggalkan saudara tua mereka, Nizār, dan berpindah ke Yaman demi kebanggaan baru yang dipersoalkan.

Ketika Politik Mengubah Peta Nasab

Mengapa satu kabilah bisa diperebutkan seperti ini? Jawabannya bukan sekadar pada sisi sejarah, tetapi juga politik.

Quḍā‘ah dikenal sebagai kabilah yang besar dan kuat. Dalam banyak riwayat, ia disebut sejajar dengan dua kabilah raksasa lain: Muḍar dan Rabī‘ah. Bahkan, dalam klasifikasi tertentu, Quḍā‘ah dimasukkan ke dalam kelompok kabilah “al‑Ḥillah” — sekumpulan suku besar yang menetap — bersama nama-nama kuat lain, kecuali dua kabilah tertentu.

Kekuasaan dan jumlah yang besar membuat Quḍā‘ah menjadi “hadiah berharga”. Bila mereka bisa dibuktikan sebagai Adnani, maka kubu ‘Adnān — yang berkaitan dengan garis keturunan Nabi dan banyak kabilah Hijaz — akan tampak lebih dominan. Sebaliknya, jika mereka bisa digolongkan sebagai Qaḥṭāni, maka kubu Yaman — yang juga punya tradisi kerajaan tua dan peradaban tinggi — akan mendapat dukungan simbolis yang besar.

Pertaruhan ini makin terasa pada masa Dinasti Umawiyah, ketika konflik antara kubu Qays dan Kalb (yang secara kasar mewakili ‘Adnani vs Yamani) menjadi konflik politik bersenjata. Jazirah Arab bagian utara, khususnya wilayah Syam, terbelah menjadi dua. Masing-masing pihak berusaha menarik kabilah-kabilah kuat seperti Quḍā‘ah agar berdiri di barisannya. Dalam situasi seperti itu, pohon nasab pun bisa bergeser, bukan karena fakta biologis, tetapi karena aliansi politik dan kebutuhan identitas.

Kelompok Quḍā‘ah yang lebih dekat ke Yaman diseret nasabnya ke pihak Qaḥṭān. Sementara kelompok lain yang hidup di daerah berbeda, lebih mandiri dan dekat dengan kabilah-kabilah ‘Adnaniyyah, menolak keras pengelompokan itu dan tetap memandang diri sebagai keturunan Ma‘add.

Quḍā‘ah di Medan Perang

Bila kita menengok kisah-kisah pertempuran kuno (ayyām al-‘Arab), jejak Quḍā‘ah tampak jelas di barisan yang sama dengan Rabī‘ah dan Muḍar, dua pilar besar rumpun Ma‘add. Beberapa kali disebut bahwa mereka bersama-sama memerangi “Yaman” dalam berbagai pertempuran, seperti:

  • “Yaum al‑Bayḍā’”, ketika kabilah-kabilah Madḥij menekan Bani Ma‘add, dan seorang pemimpin bernama ‘Āmir bin aḍ‑Ḍarb al‑‘Adwānī memimpin gabungan Rabī‘ah, Muḍar, dan Quḍā‘ah melawan suku-suku Yaman.
  • “Yaum as‑Silān” dan “Yaum Khurāzī”, ketika pemimpin-pemimpin Taghlib seperti Rabī‘ah bin al‑Ḥārith dan putranya Kulayb Wā’il memimpin Rabī‘ah, Muḍar, dan Quḍā‘ah dalam ekspedisi militer ke arah Yaman.

Rangkaian peristiwa ini menguatkan gambaran bahwa Quḍā‘ah secara praktik berada dalam satu barisan persekutuan dengan Ma‘add, setidaknya pada masa-masa itu. Namun belakangan, percampuran tempat tinggal, aliansi baru, dan gejolak politik membuat cara mereka menisbatkan diri ikut berubah.

Di Antara Qaḥṭān dan ‘Adnān

Ibn Sa‘d, salah satu penulis biografi dan sejarah Islam awal, menyimpulkan bahwa anak-anak Ma‘add, selain Nizār, banyak yang berpencar dan berbaur dengan suku-suku Yaman. Dari percampuran inilah silsilah-silsilah mereka menjadi “mengambang” di antara Qaḥṭān dan ‘Adnān.

Pada akhirnya, ketika kita membaca nama-nama seperti ‘AkkQuḍā‘ah, atau cabang-cabang lain dari Ma‘add, kita tidak hanya sedang berhadapan dengan garis keturunan yang kaku, tetapi dengan cerita panjang tentang perpindahan, perang, aliansi, dan kebanggaan. Di sana, nasab adalah bahasa untuk mengatakan: “Kami dari pihak ini”, bukan sekadar catatan siapa-ayah-siapa.


Sumber:
Jawād ‘Alī, al‑Mufassal fī Tārīkh al‑‘Arab qabla al‑Islām

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India

Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India

Jurhum dan Kaum ‘Amaliq: Jejak Bangsa-Bangsa Arab Purba