Jejak Kabilah ‘Akk dan Perebutan Nasab Anak-Anak Ma‘add
Di antara hamparan sejarah suku-suku Arab awal, ada nama-nama yang hari ini nyaris tenggelam, tetapi dulu sangat kuat gaungnya. Salah satunya adalah kabilah ‘Akk, yang sering dikelompokkan bersama rumpun besar Bani ‘Adnān dan ditempatkan berdekatan dengan suku-suku keturunan Ma‘add.
‘Akk: Antara Adnani dan Yamani
Dalam narasi para ahli sejarah klasik, kabilah ‘Akk
menempati wilayah selatan tanah Ma‘add. Ada kisah yang menyebut bahwa ketika
raja Babilonia, Bukhtanashar, menyerbu daerah “Ḥaḍurā” di Yaman, kabilah ‘Akk
meninggalkan negeri mereka dan pindah ke Yaman. Di sana mereka menetap,
berbaur, dan perlahan-lahan nasab mereka bercampur dengan masyarakat
Yaman.
Lama-kelamaan, orang-orang ‘Akk mendiami jalur pesisir
Tihāmah, dari wilayah Yaman hingga mendekati Jeddah. Dari sisi bahasa, kata
“‘akk” sendiri di antara maknanya adalah “panas yang sangat menyengat”, seolah
menggambarkan betapa keras dan teriknya alam yang mereka huni.
Sebagian ahli nasab mulai melihat adanya kesamaan dan
kedekatan wilayah antara kabilah ‘Akk dan kabilah besar lain, al‑Azd.
Dari sinilah tumbuh dugaan bahwa keduanya punya jalur nasab yang berhubungan.
Ada riwayat yang bahkan membalik urutan cerita: bukan ‘Akk yang semula Adnani
lalu menjadi Yamani, melainkan sejak awal ‘Akk digambarkan sebagai kabilah
Yaman, yang kemudian “berpindah” menjadi bagian dari rumpun Ma‘add setelah
kalah perang melawan kabilah Ghassān di Tihāmah. Menurut versi ini, Ghassān
mengusir ‘Akk dari negeri mereka, dan akibatnya ‘Akk melepaskan diri dari nasab
Yaman dan menisbatkan diri kepada Ma‘add.
Belum berhenti di situ, ada pula ahli nasab yang menyusun
bentuk silsilah baru. Mereka menempatkan ‘Akk sebagai:
“‘Akk bin ad‑Dīth bin ‘Adnān”
atau
“‘Akk bin ‘Adnān bin ‘Abdullāh,” yang dikaitkan sebagai salah satu cabang al‑Azd.
Dengan konstruksi seperti ini, sebagian penulis berhasil
menjembatani dua dunia: sisi Adnani dan sisi Yamani.
Di sisi lain, penyair seperti al‑‘Abbās bin Mirdās justru
membalik citra kekalahan ‘Akk. Dalam sebuah bait ia berbangga:
“Dan ‘Akk bin ‘Adnān, merekalah yang mempermainkan Ghassān,
hingga mereka mengusir siapa pun yang patut diusir.”
Di sini, ‘Akk bukan korban Ghassān, tetapi penakluk yang
mengusir mereka. Perbedaan ini menunjukkan betapa cerita sejarah suku sering
kali lebih banyak diwarnai oleh kebanggaan dan kepentingan kelompok daripada
data yang benar-benar pasti.
‘Akk di Mata Ptolemaios
Menariknya, nama yang mirip dengan ‘Akk juga muncul dalam
karya geografi Ptolemaios, ahli geografi Yunani-Romawi abad ke-2
Masehi. Ia menyebut suatu suku Arab dengan nama Anchitae, Achitae, Akkitae,
atau Akkitai. Letak wilayah suku ini sesuai dengan area yang oleh para ahli
nasab Arab dikaitkan dengan kabilah ‘Akk.
Para peneliti modern melihat kecocokan ini dan berpendapat
bahwa yang dimaksud Ptolemaios sebenarnya adalah kabilah ‘Akk. Jika
demikian, maka catatan Ptolemaios adalah salah satu rujukan tertulis
tertua tentang mereka, jauh sebelum datangnya Islam.
Namun, Ptolemaios tidak memberi rincian tentang asal-usul
dan hubungan nasab suku ini. Dari sudut pandangnya, mereka hanyalah “satu suku
Arab di wilayah tertentu”. Di sinilah kita melihat perbedaan: bagi orang luar,
suku-suku ini hanya titik-titik di peta; sementara bagi orang Arab sendiri,
mereka adalah mata rantai panjang dalam pohon nasab.
Anak-Anak Ma‘add: Di Antara Sejarah dan Politik
Dari wilayah ‘Akk, pembicaraan para ahli nasab mengalir ke
sosok yang lebih besar: Ma‘add bin ‘Adnān. Ia ditempatkan sebagai
salah satu leluhur utama rumpun Arab utara. Para penulis klasik menyebut bahwa
Ma‘add memiliki beberapa anak, dan di sinilah cerita mulai bercabang.
Sebagian penulis menyebut empat nama utama: Nizār,
Quḍā‘ah, Qansh, dan Iyād. Penulis lain menambah daftar itu dengan nama-nama
lain yang lebih kecil, sebagian bahkan nyaris tidak kita kenal lagi selain dari
sebaris catatan: ‘Ubayd ar‑Rimāḥ, aḍ‑Ḍaḥḥāk (yang dikisahkan pernah menyerang
Bani Israil), Qanāṣah, Sanām, Ḥaydān, dan seterusnya. Dalam banyak kasus,
nama-nama ini tampak lebih sebagai upaya untuk mengisi celah dalam
pohon nasab daripada jejak keluarga yang benar-benar terverifikasi.
Tentang kepemimpinan setelah Ma‘add wafat, ada riwayat yang
mengatakan bahwa Qansh diangkat sebagai pemimpin orang-orang
Arab. Namun ia ingin mengusir saudaranya, Nizār, dari kawasan al‑Ḥaram.
Penduduk Mekah tidak menerima langkah itu. Mereka justru mengusir Qansh dan
mengutamakan Nizār. Di sini kita melihat gambaran awal perebutan pengaruh di
sekitar Mekah, antara nama-nama yang kelak menjadi dasar bagi pembagian besar
suku-suku Arab.
Quḍā‘ah: Diperebutkan Adnani dan Yamani
Dari semua nama anak Ma‘add, Quḍā‘ah adalah
yang paling banyak diperdebatkan nasabnya. Sebagian ahli berita mengeluarkannya
dari garis keturunan Ma‘add dan memindahkannya ke rumpun Qaḥṭānī (Yamani).
Mereka mengatakan: Quḍā‘ah adalah keturunan Quḍā‘ah bin Mālik bin Ḥimyar bin
Saba’. Dengan begitu, Quḍā‘ah menjadi bagian dari suku-suku besar Yaman.
Namun, di pihak lain, ada kelompok ahli nasab — dan bersama
mereka kabilah Quḍā‘ah sendiri — yang keras kepala mempertahankan bahwa mereka
adalah anak sulung Ma‘add. Mereka berkata: “Kami Quḍā‘ah bin
Ma‘add,” dan menambahkan bahwa Ma‘add sendiri digelari “Abū Quḍā‘ah”. Untuk
menguatkan klaim tersebut, mereka menukil berbagai syair lama, baik dari zaman
jahiliah maupun setelahnya, di mana Quḍā‘ah digambarkan sebagai bagian dari
rumpun Ma‘add.
Penyair besar seperti al‑Kumayt bahkan
menjadikan ini bahan sindiran. Ia mengejek Quḍā‘ah karena mengaku Yaman dan
mengaitkan diri kepada Quḍā‘ah bin Mālik bin Ḥimyar, padahal menurutnya mereka
adalah Quḍā‘ah bin Ma‘add bin ‘Adnān. Dalam bait-bait pedasnya, ia
menggambarkan klaim mereka seperti tiang-tiang tenda yang tak punya keturunan,
dan menyamakan “bagian” mereka dari Qaḥṭān dan Mālik dengan bagian seorang
pezina dari kehamilan: hanya menambah aib, bukan kehormatan.
Di bait lain, ia menyerupakan Quḍā‘ah dengan anak-anak
burung unta yang meninggalkan kawanannya: gambarannya tajam, bahwa mereka telah
meninggalkan saudara tua mereka, Nizār, dan berpindah ke Yaman demi
kebanggaan baru yang dipersoalkan.
Ketika Politik Mengubah Peta Nasab
Mengapa satu kabilah bisa diperebutkan seperti ini?
Jawabannya bukan sekadar pada sisi sejarah, tetapi juga politik.
Quḍā‘ah dikenal sebagai kabilah yang besar dan kuat. Dalam
banyak riwayat, ia disebut sejajar dengan dua kabilah raksasa lain: Muḍar dan Rabī‘ah.
Bahkan, dalam klasifikasi tertentu, Quḍā‘ah dimasukkan ke dalam kelompok
kabilah “al‑Ḥillah” — sekumpulan suku besar yang menetap — bersama nama-nama
kuat lain, kecuali dua kabilah tertentu.
Kekuasaan dan jumlah yang besar membuat Quḍā‘ah menjadi
“hadiah berharga”. Bila mereka bisa dibuktikan sebagai Adnani, maka
kubu ‘Adnān — yang berkaitan dengan garis keturunan Nabi dan banyak kabilah
Hijaz — akan tampak lebih dominan. Sebaliknya, jika mereka bisa digolongkan
sebagai Qaḥṭāni, maka kubu Yaman — yang juga punya tradisi kerajaan
tua dan peradaban tinggi — akan mendapat dukungan simbolis yang besar.
Pertaruhan ini makin terasa pada masa Dinasti
Umawiyah, ketika konflik antara kubu Qays dan Kalb (yang
secara kasar mewakili ‘Adnani vs Yamani) menjadi konflik politik bersenjata.
Jazirah Arab bagian utara, khususnya wilayah Syam, terbelah menjadi dua.
Masing-masing pihak berusaha menarik kabilah-kabilah kuat seperti Quḍā‘ah agar
berdiri di barisannya. Dalam situasi seperti itu, pohon nasab pun bisa
bergeser, bukan karena fakta biologis, tetapi karena aliansi politik dan
kebutuhan identitas.
Kelompok Quḍā‘ah yang lebih dekat ke Yaman diseret nasabnya
ke pihak Qaḥṭān. Sementara kelompok lain yang hidup di daerah berbeda, lebih
mandiri dan dekat dengan kabilah-kabilah ‘Adnaniyyah, menolak keras
pengelompokan itu dan tetap memandang diri sebagai keturunan Ma‘add.
Quḍā‘ah di Medan Perang
Bila kita menengok kisah-kisah pertempuran kuno (ayyām
al-‘Arab), jejak Quḍā‘ah tampak jelas di barisan yang sama dengan Rabī‘ah dan Muḍar,
dua pilar besar rumpun Ma‘add. Beberapa kali disebut bahwa mereka bersama-sama
memerangi “Yaman” dalam berbagai pertempuran, seperti:
- “Yaum
al‑Bayḍā’”, ketika kabilah-kabilah Madḥij menekan Bani Ma‘add, dan seorang
pemimpin bernama ‘Āmir bin aḍ‑Ḍarb al‑‘Adwānī memimpin gabungan Rabī‘ah,
Muḍar, dan Quḍā‘ah melawan suku-suku Yaman.
- “Yaum
as‑Silān” dan “Yaum Khurāzī”, ketika pemimpin-pemimpin Taghlib seperti
Rabī‘ah bin al‑Ḥārith dan putranya Kulayb Wā’il memimpin Rabī‘ah, Muḍar,
dan Quḍā‘ah dalam ekspedisi militer ke arah Yaman.
Rangkaian peristiwa ini menguatkan gambaran bahwa Quḍā‘ah
secara praktik berada dalam satu barisan persekutuan dengan Ma‘add,
setidaknya pada masa-masa itu. Namun belakangan, percampuran tempat tinggal,
aliansi baru, dan gejolak politik membuat cara mereka menisbatkan diri ikut
berubah.
Di Antara Qaḥṭān dan ‘Adnān
Ibn Sa‘d, salah satu penulis biografi dan sejarah Islam
awal, menyimpulkan bahwa anak-anak Ma‘add, selain Nizār, banyak yang berpencar
dan berbaur dengan suku-suku Yaman. Dari percampuran inilah
silsilah-silsilah mereka menjadi “mengambang” di antara Qaḥṭān dan ‘Adnān.
Pada akhirnya, ketika kita membaca nama-nama seperti ‘Akk, Quḍā‘ah,
atau cabang-cabang lain dari Ma‘add, kita tidak hanya sedang berhadapan
dengan garis keturunan yang kaku, tetapi dengan cerita
panjang tentang perpindahan, perang, aliansi, dan kebanggaan. Di sana,
nasab adalah bahasa untuk mengatakan: “Kami dari pihak ini”, bukan sekadar
catatan siapa-ayah-siapa.
Jawād ‘Alī, al‑Mufassal fī Tārīkh al‑‘Arab qabla al‑Islām

Komentar
Posting Komentar