Dari Ma‘add ke ‘Adnān – Jejak Sebuah Nama Besar

padang pasir luas Tihamah–Najd–Hijaz dengan langit senja keemasan yang suram, bukit-bukit pasir dan pegunungan batu di kejauhan. Di tengah komposisi tampak perkemahan besar kabilah badui: tenda-tenda kulit gelap, unta dan kuda terikat, beberapa prajurit Arab pra-Islam berjubah kasar dan bersenjata tombak dan pedang berdiri berjaga, wajah keras dan lelah, menggambarkan hidup yang berat dan penuh siasat. Di salah satu sisi tampak bekas serangan ke desa subur di pinggir oasis: pagar roboh, asap tipis sisa pembakaran, penduduk kota berpakaian lebih halus memandangi dari kejauhan dengan cemas.

Di balik istilah besar seperti “Arab Qaḥṭāniyyah” dan “Arab ‘Adnaniyyah” yang sering kita dengar, ternyata tersimpan satu nama lain yang pada masa awal justru jauh lebih populer: Ma‘add. Nama ini melintas di syair-syair jahiliah, muncul dalam catatan sejarawan Arab, bahkan disebut oleh seorang sejarawan Bizantium, Procopius, dalam bahasa Latin-Yunani. Baru belakangan sosok ‘Adnān naik ke panggung sebagai leluhur besar, menggantikan Ma‘add dalam kesadaran umum.

Nizār, Ma‘add, dan ‘Adnān: Mengapa Kakek Hilang dari Panggung?

Dalam salah satu syair Imru’l-Qays, kita mendapati nama Nizār disebut sebagai nama kabilah. Padahal, menurut sistem nasab yang dibangun ulama-ulama kemudian, Nizār adalah putra Ma‘add, dan Ma‘add adalah cucu ‘Adnān. Menariknya, di syair itu tak ada jejak nama ‘Adnān sama sekali.

Hal kecil ini membuat para peneliti curiga: jangan-jangan gagasan tentang ‘Adnān sebagai “leluhur besar orang utara” belum dikenal luas di masa jahiliah awal. Barangkali ia baru menguat di ujung zaman jahiliah dan, terutama, setelah Islam datang, ketika kebutuhan menyusun pohon nasab besar-besaran menjadi semakin terasa.

Kisah-kisah Ma‘add: Dari Nebukadnezar sampai Nabi Musa

Dalam riwayat klasik, Ma‘add diceritakan hidup sezaman dengan Bukhtanashar (Nebukadnezar) raja Babilonia. Saat negeri-negeri di Yaman diserang, Ma‘add dikisahkan berhasil lari dan bersembunyi di Ḥarrān, sementara ayahnya ‘Adnān tewas pada masa kekuasaan sang raja. Setelah Nebukadnezar binasa, Ma‘add kembali ke Mekah dan mengajak kerabatnya pulang dari Yaman.

Ada pula ulama yang memundurkan masa hidup Ma‘add sampai ke zaman Nabi Musa. Riwayat ini jelas tidak dapat dibuktikan secara sejarah, tetapi menggambarkan bagaimana sebagian penulis klasik ingin mengaitkan garis nasab Arab utara dengan kisah-kisah besar para nabi dalam tradisi Bani Israil. Nama-nama seperti Yasyjub, Ya‘rub, Qaḥṭān, dan Yaqsyān bin Ibrāhīm dimasukkan untuk menjalin jembatan antara jalur keturunan Arab dan jalur para nabi dalam kitab-kitab sebelumnya.

Lebih jauh lagi, sebagian ahli khabar mengawinkan nasab Ma‘add dengan Qaḥṭān lewat jalur ibu, bahkan menjadikan ibu ‘Adnān sebagai putri Ya‘rub bin Qaḥṭān. Dengan begitu, Ya‘rub digambarkan sebagai paman dari pihak ibu bagi ‘Adnān dan seluruh keturunannya. Nampak jelas di sini adanya dorongan emosional dan politis: setiap kelompok ingin garis keturunannya tersambung kepada figur-figur besar.

Ma‘add di Mata Penyair Jahiliah

Jika ingin memahami bagaimana suatu istilah dipahami di masa lalu, syair jahiliah adalah jendela yang paling jujur. Nama Ma‘add berkali-kali muncul dalam bait-bait para penyair besar: Imru’l‑Qays, an‑Nābighah, Zuhayr, ‘Amr bin Kulthūm, dan banyak lainnya.

Dalam syair itu, Ma‘add tampak bukan sebagai nama seorang individu, tetapi sebagai nama himpunan kabilah. Ada ungkapan “al‑ḥayyu al‑ma‘dī” (kelompok Ma‘add), “ḥayyun fī Ma‘add” (sebuah kelompok dalam Ma‘add), dan “al‑qabā’il min Ma‘add” (kabilah-kabilah dari Ma‘add). Ini semua menunjukkan bahwa Ma‘add dipahami sebagai payung besar yang menaungi banyak rumpun suku dan kabilah, bukan satu suku tunggal.

Para ahli bahasa juga menegaskan bahwa “Ma‘add” cenderung diperlakukan sebagai bentuk mudzakkar dan tidak lazim diberi pola “Bani Fulan” sebagaimana nama-nama kakek tertentu. Dari sini disimpulkan bahwa Ma‘add semula adalah sebutan kolektif, yang kemudian dipersonifikasi menjadi tokoh leluhur dalam tradisi nasab.

Ḥassān bin Tsābit dan Peralihan dari Ma‘add ke ‘Adnān

Penyair sahabat Nabi, Ḥassān bin Tsābit, hidup di masa peralihan: ia lahir di jahiliah dan besar di era Islam. Dalam syair-syairnya, ia sering menyebut Ma‘add sebagai lawan dari al-Anṣār. Baginya, “Ma‘add” mewakili kelompok-kelompok Quraisy dan kaum Muhajirin yang menjadi rival politik dan sosial Anṣār, sementara “Qaḥṭān” menjadi payung nasab bagi dirinya dan kaum Yatsrib yang berakar Yaman.

Menariknya, dalam kumpulan syair yang sampai kepada kita, Ḥassān tidak pernah memakai nama ‘Adnān. Ia mencela Ma‘add, membanggakan Qaḥṭān, tetapi nama ‘Adnān absen sama sekali. Ini mengindikasikan bahwa pada masanya, istilah “Ma‘add” masih jauh lebih hidup dan konkret dalam percakapan sehari-hari daripada “‘Adnān”.

Baru setelah masa awal Islam, terutama ketika ilmu nasab tersusun rapi, istilah “‘Adnān”, “‘Adnaniyyah” dan “Arab ‘Adnaniyyah” menguat dan menenggelamkan istilah-istilah lama seperti “Ma‘add”, “Ma‘adiyyah” dan “qabā’il Ma‘adiyyah”. Sejak itu peta besar bangsa Arab sering diringkas menjadi dua: Qaḥṭānī dan ‘Adnānī.

Arti Sosial Kata Ma‘add: Kasar, Badui, dan Penuh Akal

Dalam kamus-kamus Arab klasik, kata “Ma‘add” bukan hanya nama kelompok, tetapi juga punya nuansa makna sosial. Ia menggambarkan hidup yang keras, serba kurang, dan sangat sederhana. Hidup badui yang jauh dari kenyamanan kota dipandang sebagai hidup “ma‘dī”: keras, kaku, dan terjal.

Pakaian mereka dicirikan sebagai kasar. Muncul nasihat: “Ambillah gaya berpakaian Ma‘add”, artinya biasakan diri dengan pakaian yang keras dan tidak mewah. Bahkan beredar ungkapan: “ikhsyusyynū wa tamā‘addadū” yang mengajak orang membiasakan diri hidup keras dan sederhana seperti Ma‘add.

Sebuah pepatah yang bertahan sampai kini mengabadikan citra itu:

Tasma‘u bil‑mu‘aydī khayrun min an tarāhu
“Mendengar kabar tentang si orang Ma‘add kecil lebih baik daripada melihatnya langsung.”

“Mu‘aydī” di sini adalah bentuk kecil dari “Ma‘dī”, yaitu seorang lelaki dari Ma‘add. Maksudnya, dari jauh orang ini mungkin terdengar hebat, tetapi jika sudah dilihat dari dekat, ketidaksopanannya, kekasarannya, dan sifat-sifat lain membuat orang enggan.

Dalam syair lain, an‑Nābighah juga mengejek Ma‘add, menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang tertipu oleh kelemahan akal mereka sendiri, sementara perilaku mereka dalam menggembala dan mengembara dianggap buruk. Bahkan di Irak modern, istilah “mi‘dān” untuk menyebut sebagian kelompok badui yang kasar dan berkulit hitam mungkin berakar pada nama Ma‘add, karena dahulu wilayah Ma‘add juga mencakup bagian dari Irak, dan sifat-sifat yang dinisbatkan kepada “mi‘dān” mirip dengan gambaran tentang Ma‘add.

Selain keras, Ma‘add juga digambarkan penuh tipu daya dan siasat. Dalam kisah-kisah lama ada ungkapan: “Orang-orang Ma‘adiyyah tidak pernah lepas dari muslihat,” atau, “Ma‘add tidak pernah tidur dari upaya makar dan tipu dayanya.” Seorang tokoh bernama ‘Adī bin Zayd digambarkan sebagai orang yang licik, dan dikatakan: “Orang Ma‘dī memang tidak cocok kecuali seperti itu.” Di sini tampak kewaspadaan para penguasa Ḥīrah terhadap kabilah-kabilah Ma‘add: mereka kuat, tetapi tidak bisa sepenuhnya dipercaya.

Procopius dan Maddeni: Ma‘add di Mata Sejarawan Romawi

Sekitar abad ke-6 M, sejarawan Bizantium Procopius menulis tentang peperangan antara Romawi dan Persia. Di sela-sela itu ia menyebut satu kelompok “Saracen” bernama Maddeni. Mereka hidup di bawah kekuasaan Homeritae, yaitu kerajaan Ḥimyar di Yaman. Kaisar Justinianus mengutus seorang duta ke raja Homeritae agar bersedia bersekutu dengan Romawi dan mengangkat seorang pemimpin bernama Caisus (Qais) sebagai kepala orang-orang Maddeni. Rencananya, tentara Homeritae dan Maddeni akan digabung untuk menyerang Persia.

Procopius menulis bahwa Qais sampai disebut “raja” atas Maddeni. Di sini kita melihat bahwa, dari mata seorang Romawi, Ma‘add (Maddeni) hanyalah satu kelompok atau gabungan kelompok badui di wilayah Yaman yang saat itu tunduk kepada kekuasaan Ḥabasyah melalui kerajaan Ḥimyar. Tidak tampak bahwa mereka dikenal sebagai “leluhur besar” seperti yang dilukiskan kemudian dalam buku-buku nasab Arab; mereka hanyalah salah satu suku Saracen di antara banyak suku lain.

Ma‘add, Saracen, dan Kehidupan di Pinggir Peradaban

Dari seluruh potongan informasi — syair Arab, kitab-kitab nasab, kamus bahasa, dan catatan Procopius — kita bisa merangkai satu gambaran:

Ma‘add pada mulanya adalah nama bagi kelompok-kelompok badui yang berpindah-pindah di padang pasir. Mereka hidup di pinggir peradaban: di Bādiyat asy-Syām, Najd, Ḥijāz, hingga timur Jazirah Arab. Mereka sering melakukan serangan mendadak ke kota-kota kecil dan desa-desa pertanian yang jauh dari kekuatan pusat, karena tempat-tempat seperti itu paling mudah dijarah.

Mereka bukan suku tunggal, melainkan kumpulan suku yang berdekatan pola hidupnya: keras, miskin, hidup dari pengembaraan dan kadang dari penyerbuan. Bagi orang kota, mereka memadukan dua hal: kekasaran hidup dan kelicikan siasat. Dalam kategori ini, “Ma‘add” mirip dengan istilah “Saracen” di literatur Yunani-Romawi: sebutan umum untuk suku-suku Arab badui.

Lama-kelamaan, nama umum ini dipersonifikasi. Ma‘add berubah menjadi sosok lelaki yang dianggap sebagai kakek besar, dan kabilah-kabilah yang semula hanya berbagi gaya hidup kini dipandang sebagai keturunan dari satu nenek moyang. Ini pola yang sering terlihat dalam tradisi Semit: nama tempat, berhala, atau persekutuan berubah menjadi nama orang yang dijadikan asal-usul.

Tihāmah: Rumah Lama Bani Ma‘add yang Retak dari Dalam

Menurut para ahli khabar, kawasan Tihāmah — jalur pesisir Laut Merah — adalah tanah asal anak-anak Ma‘add. Kabilah Quḍā‘ah menempati garis pantai, dari wilayah yang kelak menjadi Jeddah hingga mendekati Mekah. Anak-anak Junādah bin Ma‘add tinggal di daerah al‑Ghamr (Ghamr Dzi-Kindah), karena Kindah juga pernah bermukim di sana. Anak-anak Qansh bin Ma‘addSanām bin Ma‘add dan keturunan lainnya menghuni wilayah Mekah bersama sisa-sisa kabilah Jurhum.

Mula-mula mereka hidup saling menopang dan rukun, berkumpul dalam majelis umum, bertemu di musim-musim pasar dan ibadah. Akan tetapi, seperti lazimnya sejarah suku-suku, perselisihan internal perlahan menggerogoti persatuan itu. Pertikaian muncul, mereka saling menjauh, hingga berperang satu sama lain. Muhalhil menggambarkan bagaimana Tihāmah pernah menjadi rumah yang makmur bagi Bani Ma‘add, tetapi kemudian mereka “meminum cawan pahit” berupa perang saudara: di antara mereka, yang kuat membunuh yang lemah.

Di ujung cerita, yang tersisa di hadapan kita bukan lagi sosok Ma‘add sebagai lelaki tertentu, melainkan sebuah simbol: simbol kehidupan badui yang keras, liar, dan penuh siasat; simbol kumpulan suku yang suatu ketika menguasai pinggiran Jazirah Arab, lalu terpecah dan berubah, tergantikan oleh istilah-istilah baru seperti ‘Adnān dan Qaḥṭān yang lebih rapi dari sisi nasab, tetapi jauh lebih “belakangan” dari sisi sejarah penggunaan istilah.


Sumber utama:
Jawād ‘Alī, al‑Mufassal fī Tārīkh al‑‘Arab qabla al‑Islām

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India

Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India

Jurhum dan Kaum ‘Amaliq: Jejak Bangsa-Bangsa Arab Purba