Dari Ma‘add ke ‘Adnān – Jejak Sebuah Nama Besar
Di balik istilah besar seperti “Arab Qaḥṭāniyyah” dan “Arab ‘Adnaniyyah” yang sering kita dengar, ternyata tersimpan satu nama lain yang pada masa awal justru jauh lebih populer: Ma‘add. Nama ini melintas di syair-syair jahiliah, muncul dalam catatan sejarawan Arab, bahkan disebut oleh seorang sejarawan Bizantium, Procopius, dalam bahasa Latin-Yunani. Baru belakangan sosok ‘Adnān naik ke panggung sebagai leluhur besar, menggantikan Ma‘add dalam kesadaran umum.
Nizār, Ma‘add, dan ‘Adnān: Mengapa Kakek Hilang dari
Panggung?
Dalam salah satu syair Imru’l-Qays, kita mendapati
nama Nizār disebut sebagai nama kabilah. Padahal, menurut
sistem nasab yang dibangun ulama-ulama kemudian, Nizār adalah putra Ma‘add,
dan Ma‘add adalah cucu ‘Adnān. Menariknya, di syair itu tak ada
jejak nama ‘Adnān sama sekali.
Hal kecil ini membuat para peneliti curiga: jangan-jangan
gagasan tentang ‘Adnān sebagai “leluhur besar orang utara” belum dikenal luas
di masa jahiliah awal. Barangkali ia baru menguat di ujung zaman jahiliah dan,
terutama, setelah Islam datang, ketika kebutuhan menyusun pohon nasab
besar-besaran menjadi semakin terasa.
Kisah-kisah Ma‘add: Dari Nebukadnezar sampai Nabi Musa
Dalam riwayat klasik, Ma‘add diceritakan hidup sezaman
dengan Bukhtanashar (Nebukadnezar) raja Babilonia. Saat
negeri-negeri di Yaman diserang, Ma‘add dikisahkan berhasil lari dan
bersembunyi di Ḥarrān, sementara ayahnya ‘Adnān tewas pada masa
kekuasaan sang raja. Setelah Nebukadnezar binasa, Ma‘add kembali ke Mekah dan
mengajak kerabatnya pulang dari Yaman.
Ada pula ulama yang memundurkan masa hidup Ma‘add sampai ke
zaman Nabi Musa. Riwayat ini jelas tidak dapat dibuktikan secara
sejarah, tetapi menggambarkan bagaimana sebagian penulis klasik ingin
mengaitkan garis nasab Arab utara dengan kisah-kisah besar para nabi dalam
tradisi Bani Israil. Nama-nama seperti Yasyjub, Ya‘rub, Qaḥṭān, dan Yaqsyān bin
Ibrāhīm dimasukkan untuk menjalin jembatan antara jalur keturunan Arab dan
jalur para nabi dalam kitab-kitab sebelumnya.
Lebih jauh lagi, sebagian ahli khabar mengawinkan nasab
Ma‘add dengan Qaḥṭān lewat jalur ibu, bahkan menjadikan ibu
‘Adnān sebagai putri Ya‘rub bin Qaḥṭān. Dengan begitu, Ya‘rub
digambarkan sebagai paman dari pihak ibu bagi ‘Adnān dan seluruh keturunannya.
Nampak jelas di sini adanya dorongan emosional dan politis: setiap kelompok
ingin garis keturunannya tersambung kepada figur-figur besar.
Ma‘add di Mata Penyair Jahiliah
Jika ingin memahami bagaimana suatu istilah dipahami di masa
lalu, syair jahiliah adalah jendela yang paling jujur. Nama Ma‘add berkali-kali
muncul dalam bait-bait para penyair besar: Imru’l‑Qays, an‑Nābighah, Zuhayr,
‘Amr bin Kulthūm, dan banyak lainnya.
Dalam syair itu, Ma‘add tampak bukan sebagai nama seorang
individu, tetapi sebagai nama himpunan kabilah. Ada ungkapan “al‑ḥayyu
al‑ma‘dī” (kelompok Ma‘add), “ḥayyun fī Ma‘add” (sebuah kelompok dalam Ma‘add),
dan “al‑qabā’il min Ma‘add” (kabilah-kabilah dari Ma‘add). Ini semua
menunjukkan bahwa Ma‘add dipahami sebagai payung besar yang menaungi banyak
rumpun suku dan kabilah, bukan satu suku tunggal.
Para ahli bahasa juga menegaskan bahwa “Ma‘add” cenderung
diperlakukan sebagai bentuk mudzakkar dan tidak lazim diberi pola “Bani Fulan”
sebagaimana nama-nama kakek tertentu. Dari sini disimpulkan bahwa Ma‘add semula
adalah sebutan kolektif, yang kemudian dipersonifikasi menjadi
tokoh leluhur dalam tradisi nasab.
Ḥassān bin Tsābit dan Peralihan dari Ma‘add ke ‘Adnān
Penyair sahabat Nabi, Ḥassān bin Tsābit, hidup
di masa peralihan: ia lahir di jahiliah dan besar di era Islam. Dalam
syair-syairnya, ia sering menyebut Ma‘add sebagai lawan
dari al-Anṣār. Baginya, “Ma‘add” mewakili kelompok-kelompok Quraisy
dan kaum Muhajirin yang menjadi rival politik dan sosial Anṣār, sementara “Qaḥṭān”
menjadi payung nasab bagi dirinya dan kaum Yatsrib yang berakar Yaman.
Menariknya, dalam kumpulan syair yang sampai kepada
kita, Ḥassān tidak pernah memakai nama ‘Adnān. Ia mencela Ma‘add,
membanggakan Qaḥṭān, tetapi nama ‘Adnān absen sama sekali. Ini mengindikasikan
bahwa pada masanya, istilah “Ma‘add” masih jauh lebih hidup dan konkret dalam
percakapan sehari-hari daripada “‘Adnān”.
Baru setelah masa awal Islam, terutama ketika ilmu nasab
tersusun rapi, istilah “‘Adnān”, “‘Adnaniyyah” dan “Arab ‘Adnaniyyah” menguat
dan menenggelamkan istilah-istilah lama seperti “Ma‘add”, “Ma‘adiyyah” dan
“qabā’il Ma‘adiyyah”. Sejak itu peta besar bangsa Arab sering diringkas menjadi
dua: Qaḥṭānī dan ‘Adnānī.
Arti Sosial Kata Ma‘add: Kasar, Badui, dan Penuh Akal
Dalam kamus-kamus Arab klasik, kata “Ma‘add” bukan hanya
nama kelompok, tetapi juga punya nuansa makna sosial. Ia
menggambarkan hidup yang keras, serba kurang, dan sangat sederhana. Hidup badui yang
jauh dari kenyamanan kota dipandang sebagai hidup “ma‘dī”: keras, kaku, dan
terjal.
Pakaian mereka dicirikan sebagai kasar. Muncul nasihat:
“Ambillah gaya berpakaian Ma‘add”, artinya biasakan diri dengan pakaian yang
keras dan tidak mewah. Bahkan beredar ungkapan: “ikhsyusyynū wa tamā‘addadū”
yang mengajak orang membiasakan diri hidup keras dan sederhana seperti Ma‘add.
Sebuah pepatah yang bertahan sampai kini mengabadikan citra
itu:
“Tasma‘u bil‑mu‘aydī khayrun min an tarāhu”
“Mendengar kabar tentang si orang Ma‘add kecil lebih baik daripada melihatnya
langsung.”
“Mu‘aydī” di sini adalah bentuk kecil dari “Ma‘dī”, yaitu
seorang lelaki dari Ma‘add. Maksudnya, dari jauh orang ini mungkin terdengar
hebat, tetapi jika sudah dilihat dari dekat, ketidaksopanannya, kekasarannya,
dan sifat-sifat lain membuat orang enggan.
Dalam syair lain, an‑Nābighah juga mengejek Ma‘add,
menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang tertipu oleh kelemahan akal
mereka sendiri, sementara perilaku mereka dalam menggembala dan mengembara
dianggap buruk. Bahkan di Irak modern, istilah “mi‘dān” untuk menyebut sebagian
kelompok badui yang kasar dan berkulit hitam mungkin berakar pada nama Ma‘add,
karena dahulu wilayah Ma‘add juga mencakup bagian dari Irak, dan sifat-sifat
yang dinisbatkan kepada “mi‘dān” mirip dengan gambaran tentang Ma‘add.
Selain keras, Ma‘add juga digambarkan penuh tipu
daya dan siasat. Dalam kisah-kisah lama ada ungkapan: “Orang-orang
Ma‘adiyyah tidak pernah lepas dari muslihat,” atau, “Ma‘add tidak pernah tidur
dari upaya makar dan tipu dayanya.” Seorang tokoh bernama ‘Adī bin Zayd
digambarkan sebagai orang yang licik, dan dikatakan: “Orang Ma‘dī memang tidak
cocok kecuali seperti itu.” Di sini tampak kewaspadaan para penguasa Ḥīrah
terhadap kabilah-kabilah Ma‘add: mereka kuat, tetapi tidak bisa sepenuhnya
dipercaya.
Procopius dan Maddeni: Ma‘add di Mata Sejarawan Romawi
Sekitar abad ke-6 M, sejarawan Bizantium Procopius menulis
tentang peperangan antara Romawi dan Persia. Di sela-sela itu ia menyebut satu
kelompok “Saracen” bernama Maddeni. Mereka hidup di bawah
kekuasaan Homeritae, yaitu kerajaan Ḥimyar di Yaman. Kaisar Justinianus mengutus
seorang duta ke raja Homeritae agar bersedia bersekutu dengan Romawi dan
mengangkat seorang pemimpin bernama Caisus (Qais) sebagai
kepala orang-orang Maddeni. Rencananya, tentara Homeritae dan Maddeni akan
digabung untuk menyerang Persia.
Procopius menulis bahwa Qais sampai disebut “raja” atas
Maddeni. Di sini kita melihat bahwa, dari mata seorang Romawi, Ma‘add
(Maddeni) hanyalah satu kelompok atau gabungan kelompok badui di
wilayah Yaman yang saat itu tunduk kepada kekuasaan Ḥabasyah melalui kerajaan Ḥimyar.
Tidak tampak bahwa mereka dikenal sebagai “leluhur besar” seperti yang
dilukiskan kemudian dalam buku-buku nasab Arab; mereka hanyalah salah satu suku
Saracen di antara banyak suku lain.
Ma‘add, Saracen, dan Kehidupan di Pinggir Peradaban
Dari seluruh potongan informasi — syair Arab, kitab-kitab
nasab, kamus bahasa, dan catatan Procopius — kita bisa merangkai satu gambaran:
Ma‘add pada mulanya adalah nama bagi
kelompok-kelompok badui yang berpindah-pindah di padang pasir. Mereka
hidup di pinggir peradaban: di Bādiyat asy-Syām, Najd, Ḥijāz, hingga timur
Jazirah Arab. Mereka sering melakukan serangan mendadak ke kota-kota kecil dan
desa-desa pertanian yang jauh dari kekuatan pusat, karena tempat-tempat seperti
itu paling mudah dijarah.
Mereka bukan suku tunggal, melainkan kumpulan suku yang
berdekatan pola hidupnya: keras, miskin, hidup dari pengembaraan dan kadang
dari penyerbuan. Bagi orang kota, mereka memadukan dua hal: kekasaran
hidup dan kelicikan siasat. Dalam kategori ini, “Ma‘add”
mirip dengan istilah “Saracen” di literatur Yunani-Romawi:
sebutan umum untuk suku-suku Arab badui.
Lama-kelamaan, nama umum ini dipersonifikasi. Ma‘add berubah
menjadi sosok lelaki yang dianggap sebagai kakek besar, dan
kabilah-kabilah yang semula hanya berbagi gaya hidup kini dipandang
sebagai keturunan dari satu nenek moyang. Ini pola yang sering
terlihat dalam tradisi Semit: nama tempat, berhala, atau persekutuan berubah
menjadi nama orang yang dijadikan asal-usul.
Tihāmah: Rumah Lama Bani Ma‘add yang Retak dari Dalam
Menurut para ahli khabar, kawasan Tihāmah —
jalur pesisir Laut Merah — adalah tanah asal anak-anak Ma‘add. Kabilah Quḍā‘ah menempati
garis pantai, dari wilayah yang kelak menjadi Jeddah hingga mendekati Mekah.
Anak-anak Junādah bin Ma‘add tinggal di daerah al‑Ghamr (Ghamr
Dzi-Kindah), karena Kindah juga pernah bermukim di sana. Anak-anak Qansh
bin Ma‘add, Sanām bin Ma‘add dan keturunan lainnya
menghuni wilayah Mekah bersama sisa-sisa kabilah Jurhum.
Mula-mula mereka hidup saling menopang dan rukun, berkumpul
dalam majelis umum, bertemu di musim-musim pasar dan ibadah. Akan tetapi,
seperti lazimnya sejarah suku-suku, perselisihan internal perlahan
menggerogoti persatuan itu. Pertikaian muncul, mereka saling menjauh, hingga
berperang satu sama lain. Muhalhil menggambarkan bagaimana Tihāmah pernah
menjadi rumah yang makmur bagi Bani Ma‘add, tetapi kemudian mereka “meminum
cawan pahit” berupa perang saudara: di antara mereka, yang kuat membunuh yang
lemah.
Di ujung cerita, yang tersisa di hadapan kita bukan lagi
sosok Ma‘add sebagai lelaki tertentu, melainkan sebuah simbol:
simbol kehidupan badui yang keras, liar, dan penuh siasat; simbol kumpulan suku
yang suatu ketika menguasai pinggiran Jazirah Arab, lalu terpecah dan berubah,
tergantikan oleh istilah-istilah baru seperti ‘Adnān dan Qaḥṭān yang
lebih rapi dari sisi nasab, tetapi jauh lebih “belakangan” dari sisi sejarah
penggunaan istilah.
Jawād ‘Alī, al‑Mufassal fī Tārīkh al‑‘Arab qabla al‑Islām

Komentar
Posting Komentar