Bagaimana Taurat Membentuk Cerita Silsilah Arab

sebuah ruang perpustakaan atau majelis ilmu klasik bergaya Timur Tengah, dinding dipenuhi rak kayu berisi gulungan dan manuskrip tua. Di tengah, beberapa ulama Arab abad awal Islam duduk melingkar di atas karpet, berjubah dan bersorban, sebagian menulis dengan qalam di atas kertas, sebagian membaca dari gulungan beraksara Ibrani dan Arab yang terbuka di hadapan mereka. Di salah satu sisi, tampak sosok Ahlul Kitab yang sudah masuk Islam (berjenggot, mengenakan pakaian sederhana) sedang menunjuk kepada teks Taurat, sementara seorang ahli nasab Arab menggambar pohon silsilah di atas lembaran besar

Di balik nama-nama besar dalam sejarah Arab—seperti ‘Adnān, Qaḥṭān, Ma‘add, dan Nizār—ada lapisan halus yang jarang terlihat: pengaruh kitab-kitab suci Bani Israil, terutama Taurat, terhadap cara kaum Muslim awal memahami dan menuliskan silsilah mereka.

Dari Al‑Qur’an ke Taurat: Mencari Rangkaian Kisah

Ketika Al‑Qur’an datang dengan kisah-kisah tentang Adam, Nuh, Ibrahim, Isma‘il, ‘Ād, Ṡamūd, dan bangsa-bangsa purba, ia menyebut mereka secara singkat dan padat. Bagi generasi pertama Muslim, kisah-kisah ini menimbulkan rasa ingin tahu: siapa tepatnya kaum ‘Ād dan Ṡamūd? Di mana mereka tinggal? Dari mana mereka datang?

Jawaban terperinci tidak selalu mereka temukan dalam Al‑Qur’an sendiri. Maka mereka pun menoleh kepada pihak yang mereka anggap “ahli sejarah terdahulu”: Ahlul Kitab — kaum Yahudi dan Nasrani yang sudah berabad-abad hidup di sekitar mereka dan menyimpan kitab-kitab tua.

Dari sinilah bermula peran tokoh-tokoh seperti Ka‘b al‑AhbārWahb bin Munabbih‘Abdullāh bin Salām, dan lain-lain. Mereka adalah orang Yahudi (atau Nasrani) yang masuk Islam, membawa serta pengetahuan — atau setidaknya cerita-cerita — yang diklaim bersumber dari Taurat, Talmud, dan tradisi lisan Bani Israil.

“Ilmu Permulaan” dan Godaan Mengarang

Kaum Muslim awal ingin tahu “ilmu al‑bad’”: bagaimana alam diciptakan, bagaimana manusia pertama hidup, bagaimana para nabi berdatangan dan bagaimana bangsa-bangsa menyebar. Kebutuhan ini membuka ladang subur bagi Ahlul Kitab yang ingin menunjukkan kelebihan mereka.

Sebagian memang menyampaikan apa yang mereka ketahui dengan jujur. Namun sebagian lain, seperti dicatat Jawād ‘Alī, tergoda untuk menambah, mengubah, bahkan mengarang. Mereka menulis buku-buku kecil, lalu menjualnya kepada orang Arab dengan klaim: “Ini dari Allah.” Ada pula yang mengaitkan cerita yang tidak pernah ada dalam Taurat lalu menisbatkannya kepada kitab suci itu.

Contohnya adalah klaim bahwa di dalam Kitab Barukh bin Naryā, sekretaris nabi Yeremia, terdapat silsilah Ma‘add bin ‘Adnān. Setelah kitab Barukh diperiksa dalam terjemahan Arab, ternyata tidak ada sama sekali pembahasan tentang Ma‘add ataupun ‘Adnān. Nama-nama yang ada hanya menyebut Kanaan, Teman, dan Bani Hajar (Hagrites) secara umum, tanpa satu pun menyentuh silsilah Arab utara yang dikenal ahli nasab.

Hal-hal seperti ini menunjukkan bahwa sebagian “pengetahuan” yang beredar di kalangan ahli sejarah Muslim tentang silsilah Arab bukan murni warisan Taurat, melainkan gabungan antara:

  • petikan Taurat yang benar,
  • tafsir bebas dan cerita lisan Yahudi,
  • kisah-kisah Persia kuno,
  • dan karangan perawi sendiri.

Penyair Jahiliah dan Jejak Kitab Suci

Yang menarik, pengaruh Taurat dan Injil tidak hanya muncul di kitab-kitab sejarah, tetapi juga di dalam puisi Arab pra-Islam.

Penyair seperti ‘Adī bin Zayd — seorang Nasrani berpendidikan tinggi di Irak — menulis bait-bait tentang Adam, Hawa, surga, dan ular, yang jelas diambil dari Kitab Kejadian. Secara sastra mungkin tidak istimewa, tetapi secara sejarah, jika benar miliknya, ini adalah syair Arab tertua yang menggubah kisah Taurat.

Penyair lain, Umayyah bin Abī aṣ‑Ṣalt, dikenal membaca kitab-kitab Yahudi dan Nasrani, dan digambarkan sebagai sosok ḥanīf yang bimbang antara dua agama. Dalam syair yang dinisbatkan kepadanya, ada kisah Nuh, banjir besar, burung gagak, dan burung merpati. Susunan ceritanya mirip dengan versi Taurat. Jika syair itu otentik, ia menjadi bukti langsung bahwa beberapa penyair jahiliah telah mengenal dan memanfaatkan kisah-kisah kitab suci dalam karya mereka.

Di sisi lain, ada pula syair tentang banjir yang dinisbatkan kepada al‑A‘shā. Namun di situ, susunan kata dan detail ceritanya justru sangat mirip dengan ayat-ayat Al‑Qur’an tentang Nuh dan anaknya yang menolak naik kapal. Besar kemungkinan ini adalah syair seorang Muslim yang kemudian “ditempelkan” ke nama al‑A‘shā, bukan karya asli sang penyair jahiliah.

Campur Aduk Sumber: Dari Adam = Kayūmarth hingga Nuh = Fereydun

Karena bergantung kepada sekian banyak sumber yang bercampur — Taurat, Talmud, kisah Persia, cerita Arab — tidak heran jika dalam buku-buku sejarah dan nasab Islam klasik muncul campuran aneh:

  • Adam kadang dijadikan sama dengan Kayūmarth, tokoh manusia pertama dalam mitologi Persia.
  • Nuh dikaitkan dengan Fereydun, raja besar dalam epos Iran.
  • Nama‑nama seperti Lud, Aram, ‘Uz, Gether ditarik ke sana-sini untuk dijadikan leluhur kabilah-kabilah Arab kuno, padahal posisinya dalam Taurat berbeda.

Di samping itu, sebagian nama dibaca keliru karena perbedaan bunyi huruf antara bahasa Ibrani dan Arab. Hal ini sudah dicatat oleh Ibn Khaldun: ketika kata asing ditransfer ke bahasa Arab, huruf-huruf yang tidak ada padanannya sering dialihkan ke huruf terdekat, dan pemanjangan suara (mad) kadang dihapus. Dari sinilah lahir varian seperti Arpakhshadh → ArfakhshadzLud → LaudhAram → Iram, dan seterusnya.

Namun Jawād ‘Alī menekankan bahwa persoaloannya bukan hanya soal bunyi. Lebih dalam dari itu, seringkali terjadi pemutaran konteks dan pengalihan posisi. Misalnya:

  • Dalam Taurat, ‘Ābir adalah cicit Sam, tetapi dalam sebagian riwayat Arab dijadikan anak langsung Sam.
  • Nama Yaqtan (Joktan) di Taurat diambil bulat-bulat dan diubah menjadi Qaḥṭān, lalu dijadikan leluhur besar Arab selatan.
  • Sementara itu, daftar 13 anak Yaqtan yang jelas-jelas ada di Taurat hampir tidak disentuh oleh ahli nasab Muslim, padahal mereka begitu teliti menyalin nama-nama anak Isma‘il.

Ini semua menunjukkan bahwa para ahli khabar tidak membaca Taurat secara sistematis. Mereka hanya mengambil potongan-potongan yang dikisahkan kepada mereka oleh Ahlul Kitab lokal — yang sendiri tidak selalu kuat pegangan dan ilmunya.

Mencari Leluhur Tertua: Menghubungkan Arab Bā’idah ke Sam

Di kalangan ahli sejarah Arab kuno muncul gagasan bahwa sebelum Qaḥṭān dan ‘Adnān, pernah ada “Arab pertama” yang sudah lama lenyap: kaum ‘Ād, Ṡamūd, Jadīs, ‘Amāliqah, dan seterusnya. Mereka ingin mengembalikan kabilah-kabilah ini kepada leluhur yang lebih tua dari Qaḥṭān dan ‘Adnān, agar rantai nasab tampak utuh.

Taurat menyebut nama-nama seperti Sam, Aram, Lud, ‘Uz, Gether. Para ahli khabar melihat di sana bahan mentah yang menarik. Mereka lalu:

  • Mencantolkan Arab Bā’idah kepada Lud dan Aram,
  • Menjadikan ‘Uz dan Gether sebagai titik awal silsilah ‘Ād, Ṡamūd, Jadīs, dan kaum-kaum punah,
  • Memadukan nama-nama Ibrani dengan citra-citra Arab yang telah hidup dalam cerita rakyat.

Dengan begitu, Arab kuno ditempatkan di dalam kerangka silsilah besar anak-anak Sam, berdampingan — dalam tataran nama — dengan Asshur, Aram, dan Arpakhshad.

Qaḥṭān = Yaqtan? Antara Tafsir Taurat dan Rekayasa Nasab

Untuk lapisan kedua bangsa Arab, yaitu Arab ‘Āribah (Qaḥṭāniyyīn), pengaruh Taurat paling jelas terlihat dalam penyamaan Qaḥṭān dengan Yaqtan (Joktan).

Dalam Taurat, Yaqtan adalah anak ‘Ābir, adik Peleg. Dari keturunannya muncul 13 nama yang sebagian besar dapat dihubungkan dengan wilayah-wilayah di Arabia Selatan: Hadramaut, Saba’, Havilah, Ophir, dan lain-lain. Para ahli nasab Muslim mengadopsi Yaqtan, mengarabkannya menjadi Qaḥṭān, dan menjadikannya leluhur semua kabilah Yaman.

Sejumlah peneliti modern memandang langkah ini murni akibat kesamaan bunyi: Yaqtan ~ Qaḥṭān. Namun mereka tidak menolak bahwa Yaqtan dalam Taurat memang mewakili sekelompok suku di Arabia Selatan. Jadi boleh jadi, dalam perspektif Ibrani, Yaqtan adalah lambang kolektif bagi kabilah-kabilah Arab selatan yang tidak sepenuhnya mereka kenal.

Yang menarik, meski mengambil Qaḥṭān dari Yaqtan, para ahli nasab tidak memasukkan 13 anak Yaqtan ke dalam silsilah Qaḥṭān versi Arab. Sebaliknya, mereka membuat daftar baru dengan nama-nama Arab yang tidak ada dalam Taurat. Jawād ‘Alī melihat ini sebagai bukti bahwa mereka tidak bekerja dengan teks Taurat, melainkan hanya dengan apa yang mereka dengar dari Ahlul Kitab: satu dua nama di bagian atas silsilah, sementara rinciannya diisi dengan tradisi lokal dan karangan mereka sendiri.

Penutup: Di Antara Kitab dan Cerita

Akhirnya, apa yang kita lihat dalam buku-buku nasab Arab klasik adalah jaringan rumit:

  • Di satu sisi, ada jejak nyata Taurat: nama-nama seperti Sam, Aram, Arpakhshad, Yaqtan, Isma‘il, dan anak-anaknya.
  • Di sisi lain, ada pengaruh kuat legenda Persia, mitos lokal Arab, serta kebutuhan psikologis dan politis untuk menempatkan setiap kabilah dalam posisi yang mulia.

Jawād ‘Alī mengingatkan bahwa ilmu para ahli khabar tentang Taurat tidak pernah benar-benar mendalam. Mereka bergerak di wilayah “antara”: antara teks suci yang otentik, cerita-cerita lisan Ahlul Kitab, dan kreativitas mereka sendiri. Di tengah semua itu, Taurat tetap memberi bentuk kasar pada peta besar silsilah Arab, tetapi detailnya — terutama tentang bangsa Arab sendiri — banyak diisi oleh tangan-tangan Arab dengan tinta imajinasi mereka.


Sumber:
Jawād ‘Alī, al‑Mufassal fī Tārīkh al‑‘Arab qabla al‑Islām

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India

Tahun Penuh Kenangan: Antara Duka dan Kebahagiaan di Sekitar Rasulullah ﷺ

Mengarungi Sungai Indus: Dari Armada Mewah hingga Kota Membatu