Arab Musta‘ribah: Keturunan Ismail dan Misteri Nama Adnan
Para penulis sejarah Arab klasik membagi bangsa Arab ke dalam beberapa lapisan. Teks ini membicarakan lapisan ketiga, yang mereka sebut al-‘Arab al-musta‘ribah atau al-mut‘arribah, yaitu “Arab yang menjadi Arab”.
Mereka juga dikenal dengan beberapa nama lain: al-‘Adnaniyyūn (kaum
Adnan), al-Nizāriyyūn (keturunan Nizār), atau al-Ma‘diyyūn (keturunan
Ma‘d). Menurut tradisi, mereka adalah keturunan langsung Nabi Ismail bin
Ibrahim dan istrinya yang bernama Ra‘lah binti Muḍāḍ bin ‘Amr al-Jurhumī.
Disebut “Arab musta‘ribah” karena pada asalnya mereka bukan
penutur Arab. Mereka hidup bersama Arab ‘āribah (Arab asli), lalu
belajar bahasa dan budaya Arab dari kelompok itu. Dari kabilah-kabilah inilah,
Ismail — yang dianggap kakek besar bagi orang Arab musta‘ribah — mempelajari
bahasa Arab, hingga keturunannya kemudian diakui sebagai bagian dari bangsa
Arab dan melebur di tengah mereka.
Para ahli berita (ahl al-akhbār) menyimpulkan bahwa tempat
tinggal pertama keturunan Ismail ini adalah Mekah. Di sanalah Ismail belajar
bahasa Arab dan di sanalah pula anak-anaknya lahir. Karena itu, Mekah dianggap
sebagai tempat kelahiran pertama bagi komunitas keturunan Ismail.
Dua Belas Putra Ismail dan Sumber dari Kitab Suci
Para sejarawan klasik menyebut bahwa dari istri bernama
Ra‘lah, Ismail memiliki dua belas putra. Nama-nama yang mereka sebut antara
lain: Nābit (yang tertua), Qaydhār, Adzbal, Mīsya, Mismā‘, Māsya, Dūmā, Adzr,
Tīmā, Yaytūr, Nabsy, dan Qaydzmā.
Di dalam literatur Arab, nama yang paling sering muncul
hanyalah dua: Nābit dan Qaydhār. Para ahli nasab sendiri mengakui bahwa mereka
meminjam daftar nama ini dari Taurat (Perjanjian Lama).
Dalam Kitab Kejadian disebutkan (dalam bentuk terjemahan):
“Inilah nama-nama anak-anak Ismail, menurut nama mereka,
menurut urutan kelahiran mereka: Nebayot, anak sulung Ismail, kemudian Kedar,
Adbeel, Mibsam, Mishma, Duma, Masa, Hadar, Tema, Yetur, Nafish, dan Kedema.”
(Kejadian 25:12 dan seterusnya; 25:18 menyebut kawasan tempat mereka tinggal
“dari Hawila sampai ke Syur”)
Menariknya, Taurat tidak menyebut nama istri Ismail yang
melahirkan kedua belas putra itu. Hanya disebut bahwa keturunan mereka menyebar
dan mendiami wilayah luas “dari Hawila sampai ke Syur”, yaitu kawasan luas di
jazirah Arab bagian utara–barat.
Adnan dan Qahtan: Dua Poros Besar Keturunan Arab
Dalam tradisi keturunan Arab, Adnān menempati posisi sangat
penting di mata kaum Adnaniyyin. Ia dipandang sebagai leluhur tertinggi mereka,
sebagaimana Qaḥṭān dianggap sebagai leluhur tertinggi kaum Qaḥṭaniyyin (yang
umumnya dikaitkan dengan Arab Yaman).
Para sejarawan juga menyebut bahwa “lapisan pertama” bangsa
Arab — generasi paling awal — telah punah. Karena itu, ketika orang Arab “yang
tersisa” dibicarakan, yang dimaksud adalah keturunan dari dua rumpun besar:
keturunan Qaḥṭān dan keturunan Adnān. Dari dua poros inilah semua suku Arab
yang dikenal kemudian “ditampung” dan dijelaskan silsilahnya.
Di dalam Taurat, Qaḥṭān dapat dihubungkan dengan tokoh
bernama “Yaqṭān” atau “Yoqṭān”. Antara Yaqṭān dan Sām (Shem) hanya terdapat
tiga atau empat generasi. Namun, nama Adnān sama sekali tidak muncul dalam
Taurat. Jika garis keturunannya ditarik hingga ke Sām, jumlah ayah dan kakek
yang harus disisipkan jauh lebih banyak. Ini sendiri sudah menimbulkan tanda
tanya di kalangan ahli nasab.
Berapa Banyak Generasi antara Ismail dan Adnan?
Para ahli nasab berbeda pendapat keras tentang berapa banyak
orang yang berada di antara Ismail dan Adnān.
Ada yang mengatakan jumlahnya empat puluh nama. Ada yang
berkata dua puluh. Ada yang menyingkatnya menjadi lima belas. Kelompok lain
berkomentar bahwa jarak waktu antara Ismail dan Adnān terlalu panjang untuk
diisi hanya dengan sedikit nama seperti itu; secara kebiasaan sejarah, jumlah
generasi semestinya jauh lebih banyak.
Perbedaan ini tidak berhenti pada angka. Mereka bahkan
berbeda dalam menyebut bentuk nama-nama di dalam rangkaian itu dan
cara pengucapannya. Yang menarik, perbedaan sebesar ini hanya terjadi pada
silsilah Adnān. Untuk silsilah Qaḥṭān justru hampir tidak ada perdebatan:
nama-namanya relatif seragam dan cara membacanya juga jelas.
Pengaruh Kitab-Kitab Yahudi dan Peran Para Ahli Sejarah
Muhammad bin Sa‘d (murid al-Wāqidī) menukil sebuah
penjelasan dari gurunya, al-Wāqidī. Ia bercerita tentang seorang lelaki dari
kota Tadmur (Palmyra) yang dikenal sebagai Abū Ya‘qūb. Ia seorang dari “Muslim
Bani Israil” yang pernah membaca kitab-kitab mereka dan memahami ilmu mereka.
Menurut tokoh inilah, Barūkh bin Naryā — penulis Nabi Irmiyā
(Yeremia) — pernah menuliskan nasab Ma‘d bin Adnān dan menyimpannya dalam
kitabnya. Nasab itu, katanya, juga dikenal di kalangan para ulama Ahl al-Kitāb
dan termaktub dalam kitab-kitab mereka. Rangkaian nama yang ia sebut mirip
dengan nasab yang beredar di kalangan ahli nasab Arab, walaupun tidak sama
persis.
Al-Wāqidī menyimpulkan, perbedaan yang terjadi di sana-sini
bisa jadi muncul karena masalah bahasa. Nama-nama itu diterjemahkan dari bahasa
Ibrani ke dalam bahasa Arab, sehingga bentuk dan pelafalannya bergeser.
Di tempat lain, al-Wāqidī berkata kurang lebih begini:
perbedaan yang begitu besar dalam silsilah Adnān menunjukkan bahwa nasab itu
sebenarnya tidak terjaga dengan baik. Ia banyak diambil dari Ahl al-Kitāb, lalu
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, sehingga terjadilah kekeliruan. Seandainya
silsilah itu benar-benar sahih dan terpelihara, tentu Rasulullah ﷺ
adalah orang yang paling tahu tentangnya.
Karena itu, menurut al-Wāqidī, sikap yang tepat adalah
berhenti pada Ma‘d bin Adnān saja, dan tidak berusaha memaksakan susunan nama
sebelum Ma‘d hingga ke Ismail bin Ibrahim. Ia juga menegaskan bahwa mereka
“tidak menemukan dalam ilmu seorang alim, dan tidak pula dalam syair seorang
penyair, orang yang benar-benar tahu secara pasti apa yang ada setelah Ma‘d bin
Adnān.”
Ibn Khaldūn kemudian mengutip pendapat para sejarawan
sebelum dirinya. Di antara yang ia sebut adalah al-Qurṭubī yang menukil Hishām
bin Muḥammad (Ibn al-Kalbī). Menurut Hishām, antara Adnān dan Qaydhār (Qedar),
putra Ismail, terdapat sekitar empat puluh generasi. Ada pula cerita tentang
seorang lelaki dari Tadmur (kemungkinan sama dengan yang diceritakan al-Wāqidī)
yang mengaku membaca nasab Ma‘d bin Adnān dalam Kitab Nabi Irmiyā. Rangkaian
itu mendekati susunan yang dikenal ahli nasab Arab, baik dari sisi jumlah
maupun nama, hanya berbeda sedikit. Lagi-lagi, faktor terjemahan dari bahasa
Ibrani dianggap sebagai sebab utama perbedaan.
Larangan Menembus Silsilah di Atas Adnan
Sebagian ahli berita mengaitkan perbedaan pendapat tentang
jumlah nama antara Adnān dan Ismail ini dengan masa Nabi Muhammad ﷺ
sendiri. Menurut mereka, ketika orang-orang saling berselisih tentang jumlah
leluhur di antara Adnān dan Ismail, Nabi ﷺ melarang mereka meneruskan silsilah
melewati Ma‘d bin Adnān dan memerintahkan agar mereka berhenti di situ saja.
Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ menasabkan dirinya hingga Adnān dan
bersabda:
«كَذَبَ
النَّسَّابُونَ، فَمَا بَعْدَ عَدْنَانَ، فَهِيَ أَسْمَاءٌ سُرْيَانِيَّةٌ لَا
يُوَضِّحُهَا الِاشْتِقَاقُ».
Artinya:
“Para ahli nasab itu telah keliru (atau: berdusta). Adapun (silsilah) yang
melampaui Adnan, itu hanyalah nama‑nama berbahasa Suryani yang tidak dapat
dijelaskan dengan ilmu etimologi (asal-usul kata).”
Riwayat inilah yang sering dijadikan dasar oleh sebagian
ulama untuk bersikap hati-hati dan tidak memastikan secara detail rangkaian
nasab sebelum Adnān hingga kepada Ismail.
Siapa Ayah Adnan? Silsilah Panjang yang Diduga Rekayasa
Sebagian ahli nasab menyebut bahwa nama ayah Adnān adalah
“Udad” (أُدَد).
Mereka menggambarkan nasabnya secara ringkas sebagai:
Adnān bin Udad bin Yarā bin A‘rāq al-ṯarā.
Yang lain membuat rangkaian yang jauh lebih panjang,
misalnya:
Adnān bin Udad bin al-Hamīsya‘ bin Salāmān bin ‘Auṣ bin Iyūz
bin Qamwāl bin Abī bin al-‘Awām bin Nāshid bin Baldās bin Tidlāf bin Ṭābikh bin
Jāḥim bin Nāḥis bin Mākhī bin ‘Ayqī bin ‘Ubayd bin al-Du‘ā … dan seterusnya,
sampai mencapai Ismail.
Rangkaian seperti ini, dengan puluhan nama yang terdengar
asing dan tidak dikenal dari sumber lain, jelas tampak dibuat-buat. Banyak di
antaranya dikaitkan dengan Hishām ibn al-Kalbī, seorang ahli nasab populer yang
banyak dikutip para penulis sesudahnya. Beberapa versi lain yang sedikit
berbeda juga disebut dalam kitab Nasab Quraysy karya al-Zubayrī.
Para ahli berita sendiri tidak memberi penjelasan jelas
tentang siapa sebenarnya “Ad” atau “Udad” ini, dan bagaimana cara mereka
menemukan nama tersebut. Sebagian ahli bahasa mencoba menjelaskan bahwa kata
“Adّ” berasal dari akar kata adda yang terkait dengan mawaddah (kasih
sayang), lalu huruf wawu berubah menjadi alif karena alasan fonetik.
Mereka juga menyebut bahwa nama “Wudd” (وُدّ) — nama sebuah
berhala terkenal yang disembah di Dūmat al-Jandal dan diagungkan kabilah Khalb,
Quraisy, dan banyak kabilah lain — kadang disebut dengan hamzah sebagai “Udd”.
Dari nama berhala inilah, menurut mereka, muncul nama-nama seperti ‘Abd Wudd, juga
“Ad bin Ṭābikhah”, serta “Udad, kakek Ma‘d bin Adnān”.
Di tengah bangsa-bangsa Semitik lain sendiri dikenal nama
dewa badai yang disebut “Adad” atau “Addu”. Penulis teks ini menduga bahwa ada
hubungan antara nama berhala tersebut dengan bentuk nama “Udad” yang muncul
dalam silsilah Arab, meski kepastiannya sulit dibuktikan.
Silsilah Versi Ibn Ishaq dan Kacau-Balau Nama Ibrani
Muhammad bin Isḥāq, seorang ahli sirah awal, juga menyusun
nasab Adnān dalam salah satu riwayatnya sebagai berikut:
Adnān bin Maqūm bin Nāḥūr bin Tīraḥ bin Ya‘rub bin Yashjub
bin Nābit bin Ismail.
Dengan susunan ini, Ibn Isḥāq menyatukan dua jalur keturunan
besar: jalur Adnān dan jalur Ya‘rub, dan pada akhirnya mengembalikan keduanya
kepada Ismail. Di tempat lain, ia juga meriwayatkan susunan berbeda lagi.
Yang mengherankan, para perawi yang menjadi sumber utama
pengetahuan kita tentang aneka silsilah ini — seperti Ibn al-Kalbī dan Ibn Isḥāq
sendiri — tidak konsisten. Mereka meriwayatkan beberapa bentuk silsilah yang
saling bertentangan, kadang hanya berbeda sedikit, kadang sangat jauh berbeda.
Nama-nama Ibrani sering dipelesetkan dalam bentuk Arab yang janggal, lalu di
sela-selanya disisipkan nama-nama Arab yang akrab di telinga pendengar.
Murīd-murīd mereka kemudian meriwayatkan ulang, terkadang
hanya mengutip dari buku-buku mereka, tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Hal itu
tampak jelas dari rantai periwayatan yang sampai kepada kita.
Karena sebagian besar nama dalam “tiang nasab” Adnān —
nama-nama antara Adnān dan Ismail — tampak sebagai bentuk Ibrani yang
dipelesetkan dan bahkan tidak tercantum dalam Taurat, penulis menyimpulkan
bahwa para pencerita Yahudi yang berbicara kepada Ibn al-Kalbī, Ibn Isḥāq, dan
tokoh lain semacam mereka, kemungkinan besar:
- tidak
benar-benar menguasai apa yang mereka ceritakan, atau
- sengaja
merekayasa dan mengarang nama-nama itu, mungkin untuk mencari muka di
hadapan kaum Muslim, mengklaim diri “berilmu”, atau karena motif-motif
lain.
Namun, para perawi Muslim yang menerima begitu saja
cerita-cerita ini pun sulit dibersihkan sama sekali dari kemungkinan kekeliruan
atau bahkan kebohongan. Apalagi Hishām ibn al-Kalbī yang menjadi sumber utama
banyak berita semacam ini. Bisa jadi ia memang mengutip dari Ahl al-Kitāb, lalu
menambahkan dari dirinya sendiri, atau bahkan menciptakan beberapa bagian, lalu
menyampaikannya kepada orang banyak. Sulit membayangkan kekacauan sebesar itu
keluar dari seorang perawi benar-benar terpercaya yang sangat teliti terhadap
apa yang ia sampaikan.
“Pasar” Silsilah Kuno dan Peran Ahli Kitab
Tampaknya, sebagian Ahl al-Kitāb — termasuk Yahudi dari
Tadmur yang dikisahkan telah masuk Islam — memanfaatkan “lapar ilmu” para
penulis berita Arab terhadap segala hal yang berbau kuno: leluhur-leluhur jauh,
nasab-nasab tua, dan kisah-kisah purba.
Mereka menyusun rangkaian nama yang terdengar “berat” dan
“serasi” di telinga Arab, lalu menyerahkannya sebagai “nama-nama yang disebut
dalam Taurat”. Para perawi Arab menerimanya dengan antusias tanpa mengecek
langsung ke teks Taurat, karena yang mereka inginkan hanyalah bahan baru untuk
diceritakan, agar tampak lebih unggul daripada sesama ahli berita.
Di Mana Nama Adnan dalam Sumber-Sumber Kuno?
Nama Adnān sama sekali tidak ditemukan dalam
prasasti-prasasti Arab kuno sebelum Islam yang telah ditemukan hingga kini, dan
juga tidak tercatat dalam karya-karya penulis “klasik” non-Arab (penulis
Yunani–Romawi dan sejenisnya).
Dalam syair Jahiliyyah, nama Adnān baru muncul dalam dua
tempat yang populer: satu bait yang dinisbatkan kepada penyair terkenal Labīd,
dan satu lagi dalam bait yang dinisbatkan kepada ‘Abbās bin Mirdās.
Dari Labīd diriwayatkan bait yang kira-kira berbunyi: bahwa
bila seseorang tidak menemukan ayah di atas Adnān dan di atas Ma‘d, maka
biarlah celaan para perempuan (para pengingat) itu tidak mengusiknya. Intinya:
garis kehormatan seorang Arab cukup ditarik sampai Adnān dan Ma‘d.
Disebutkan pula bait ‘Abbās bin Mirdās yang menyebut “Bani
‘Ukk bin Adnān” yang berperang dan mengalahkan kabilah lain.
Para peneliti mencatat bahwa putra-putra Nizār (cabang
penting dalam rumpun Adnān) dalam nasab dan syair mereka biasanya berhenti pada
Ma‘d. Mereka jarang, bahkan hampir tidak pernah, menyebut Adnān. Disebutkan
bahwa tidak ada seorang pun penyair Jahili besar yang menyebut nama Adnān
selain Labīd; dan itu pun dalam satu bait. Hal ini menunjukkan bahwa Adnān
tampaknya belum menjadi sosok “leluhur agung” yang sangat populer di masa
Jahiliyyah sebagaimana digambarkan para penulis nasab sesudahnya.
Yang aneh, nama Ma‘d — yang menurut tradisi adalah putra
Adnān — justru muncul dalam tulisan sejarawan Bizantium Procopius dan dalam
syair Jahili yang sangat tua, seolah-olah Ma‘d jauh lebih dikenal sebagai
leluhur bangsa Arab daripada ayahnya sendiri.
Dalam prasasti Nabathiyah dan Thamudiyah, ditemukan beberapa
nama yang mirip seperti “Abd ‘Adnūn” dan “‘Adnūn”. Namun, dalam
prasasti-prasasti Arab Selatan (Yaman kuno) nama Adnān tidak pernah muncul.
Untuk Qaḥṭān, kita bisa cukup mudah menelusuri sumbernya
pada nama “Yaqṭān” dalam Taurat. Namun, untuk Adnān, kita hampir tidak punya
pijakan. Tidak ada nama mirip Adnān di antara anak-anak Ismail dalam Taurat,
juga tidak di antara raja-raja atau kepala-kepala suku Arab yang tersebut di
sana.
Karena itu, sulit diketahui dari mana para ahli berita Arab
mendapatkan nama “Adnān”, lalu membentuknya dengan pola yang mirip Qaḥṭān.
Apakah nama ini benar-benar ciptaan baru? Ataukah ia adalah nama kabilah atau
persekutuan suku yang kemudian diubah menjadi nama seorang leluhur? Ataukah
nama itu hidup dalam ingatan sebagian orang yang masih sempat berjumpa masa
Jahiliyyah di Mekah atau di suku-suku keturunan Ismail, lalu kemudian diangkat
menjadi poros besar nasab?
Sejauh ini, tidak ada bahan yang cukup untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut. Penulis teks ini menyerahkannya kepada
penemuan-penemuan masa depan. Barangkali suatu hari nanti ditemukan prasasti
atau sumber baru yang dapat menyingkap tabir gelap di sekitar nama Adnān dan
ide besar tentang “kaum Adnaniyyin”.
Tanah Asal Kaum Adnaniyyin dan Penyebaran Mereka
Dari riwayat-riwayat para ahli berita, tampak bahwa
wilayah Tihāmah (jalur pesisir Laut Merah di Arabia bagian barat)
dianggap sebagai tanah asal kaum Adnaniyyin. Mekah sendiri termasuk dalam
kawasan Tihāmah.
Namun, berbagai peristiwa besar membuat suku-suku Adnaniyyin
terusir atau terpencar dari tanah asal mereka. Disebutkan bahwa kabilah Quḍā‘ah adalah
yang pertama kali terpecah dan hijrah, karena peperangan sengit yang terjadi
antara mereka dengan rumpun Nizār (salah satu cabang utama keturunan Adnān).
Setelah Quḍā‘ah, menyusul gelombang hijrah lain dari
suku-suku Adnaniyyin. Mereka pun menyebar ke berbagai penjuru jazirah Arab,
hingga sampai ke Irak dan Syam (Suriah dan sekitarnya), lalu bercampur dengan
suku-suku lain yang telah lebih dulu menetap di sana.
Dari berbagai kisah itu tampak bahwa kabilah-kabilah
Adnaniyyin dikenal sebagai kabilah yang saling bermusuhan dan sering berperang
satu sama lain. Gaya hidup nomaden, kerasnya kehidupan padang pasir, serta
perebutan sumber daya langka seperti padang rumput dan air, semuanya mendorong
lahirnya konflik terus-menerus. Hingga akhirnya, sifat sering berpecah-belah
dan saling bermusuhan di antara kabilah-kabilah keturunan Adnān itu sendiri
menjadi bahan perumpamaan dan sindiran di kalangan orang Arab.
Penutup: Antara Tradisi Nasab dan Kritik Sejarah
Gambaran tentang Arab musta‘ribah, keturunan Ismail,
dan sosok Adnān memperlihatkan dua wajah tradisi Arab klasik.
Di satu sisi, ada keinginan kuat untuk menghubungkan diri
dengan Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim, menjadikan garis keturunan sebagai sumber
kehormatan dan identitas kolektif. Dari sinilah muncul nama-nama besar seperti
Adnān dan Qaḥṭān sebagai tiang penyangga nasab Arab.
Di sisi lain, para sejarawan dan ahli nasab yang lebih
kritis melihat betapa rapuh dan bertentangannya sumber-sumber tentang silsilah
yang sangat jauh ke masa lampau — terlebih ketika mulai tercampur dengan
penuturan Ahl al-Kitāb, proses terjemahan, dan bahkan kemungkinan rekayasa.
Karena itu, sebagian mereka memilih sikap yang lebih hati-hati: cukup berhenti
pada Ma‘d bin Adnān, dan tidak memaksakan diri menuturkan nama-nama yang tidak
mungkin bisa dipastikan kebenarannya.
Hingga kini, banyak rincian itu tetap berada di wilayah
dugaan dan tradisi, bukan kepastian sejarah. Namun, justru di situlah
menariknya: dari cerita-cerita tentang nasab dan leluhur inilah kita bisa
melihat bagaimana orang Arab sebelum Islam dan awal Islam memahami asal-usul
mereka sendiri, membangun identitas, dan bernegosiasi dengan warisan
kitab-kitab terdahulu.
Sumber
Jawād ‘Alī, al-Mufaṣṣal fī Tārīkh al-‘Arab Qabla
al-Islām

Komentar
Posting Komentar