Arab Aribah dan Musta'ribah
Bangsa Arab dalam kisah para ahli nasab selalu dibagi ke dalam beberapa lapisan. Pada bab sebelumnya telah diceritakan tentang al-‘Arab al-Bā’idah, yaitu bangsa-bangsa Arab purba yang punah sebelum datangnya Islam; mereka hanya tinggal nama dan jejak dalam cerita: seperti ‘Ād, Ṯamūd, dan selainnya.
Kini kisah berpindah ke dua lapisan berikutnya: al-‘Arab
al-‘Āribah dan al-‘Arab al-Musta‘ribah. Kedua golongan inilah yang
masih hidup hingga masa munculnya Islam, dan dari merekalah mayoritas orang
Arab di masa Nabi berasal. Para ahli nasab menyebut:
- al-‘Arab
al-‘Āribah sebagai Arab Qaḥṭaniyyūn
- al-‘Arab
al-Musta‘ribah sebagai Arab ‘Adnāniyyūn
Seluruh Arab yang nasabnya dianggap “murni” pada masa
munculnya Islam biasanya dihubungkan kepada dua rumpun besar ini: Qaḥṭān dan
‘Adnān.
Qaḥṭān: Leluhur Besar Arab Selatan
Para ahli nasab sepakat bahwa lapisan kedua bangsa Arab
setelah kelompok yang punah (al-Bā’idah) adalah al-‘Arab al-‘Āribah,
yaitu bangsa Arab asli, dan mereka menisbatkan kelompok ini kepada seorang
leluhur bernama Qaḥṭān.
Dari Qaḥṭān inilah, menurut mereka, lahir seluruh
bangsa Qaḥṭaniyyīn, yaitu orang-orang Arab Selatan (Yaman dan
sekitarnya), yang dalam sejarah sering berhadapan dan “bersaing” dengan bangsa
Arab keturunan ‘Adnān (Arab Utara).
Dalam kitab-kitab Arab, nama Qaḥṭān disamakan
dengan tokoh Yaqṭān yang disebut dalam Kitab Kejadian
(Perjanjian Lama). Jalur nasab yang paling masyhur di kalangan ahli nasab
menyebut bahwa:
Qaḥṭān adalah putra ‘Ābir, putra Syālikh, putra Arfakhsyadz,
putra Sām, putra Nūḥ ‘alaihis-salām.
Dalam Taurat (dalam bahasa Ibrani), ia disebut Yaqṭān
bin ‘Ābir bin Syālaḥ bin Arfakhsyād bin Sēm bin Nūḥ. Susunan ini hampir
persis sama dengan yang terdapat dalam kitab-kitab nasab Arab.
Dari kecocokan inilah tampak jelas bahwa para ahli khabar
(sejarawan/ahli riwayat Arab klasik) banyak mengambil pengetahuan tentang nasab
kuno dari riwayat Ahl al-Kitāb (Yahudi dan Nasrani), dan
mereka sendiri tidak mengingkari hal itu.
Namun, tidak semua ahli nasab sepakat dalam satu jalur.
Sebagian menyusun silsilah Qaḥṭān dengan bentuk lain. Ada yang menyebut:
- Qaḥṭān
bin Hūd
- Qaḥṭān
bin Hūd bin ‘Abdullāh bin al-Khulūd bin ‘Ād
- atau
jalur lain yang memasukkan nama-nama Arab seperti ‘Ād, Iram, dan
seterusnya
- bahkan
ada yang menyebut Qaḥṭān sebagai keturunan Ismā‘īl bin Ibrāhīm
‘alaihimā-s-salām.
Artinya, di antara nama-nama yang diambil dari Taurat,
mereka selipkan pula nama-nama yang hidup dalam tradisi Arab.
Perdebatan: Qaḥṭān, Anak Hūd atau Keturunan Ismā‘īl?
Sebagian ahli nasab dari kalangan Yaman sangat bersikeras
menjadikan Nabi Hūd ‘alaihis-salām sebagai ayah Qaḥṭān. Mereka
menyamakan Hūd dengan ‘Ābir, lalu berkata: “Qaḥṭān adalah putra Hūd (‘Ābir).”
Untuk menguatkan pendapat itu, mereka membawa-bawa syair, misalnya bait:
«وَأَبُو
قَحْطَانَ هُوَ ذُو الحَقْفِ»
“Maka ayah Qaḥṭān adalah Ḏū al-Ḥaqf.”
Bagi mereka, menemukan atau bahkan membuat syair semacam ini
bukan sesuatu yang sulit. Ia digunakan sebagai alat retorika untuk membungkam
lawan debat.
Kelompok lain –khususnya ahli nasab keturunan Nizār
bin Ma‘add (golongan Nizāriyyah yang mewakili rumpun
‘Adnān)– justru melakukan hal sebaliknya: mereka berpendapat bahwa Qaḥṭān
adalah keturunan Ismā‘īl bin Ibrāhīm.
Mereka menyusun jalur seperti: Qaḥṭān bin al-Humaysa‘ bin
Tayman bin Nabit bin Ismā‘īl bin Ibrāhīm.
Pendapat ini, menariknya, juga didukung beberapa tokoh dari
kalangan Yaman seperti Hishām bin al-Kalbī, al-Syarqī bin al-Qaṭamī, Naṣr bin
Zarū‘ al-Kalbī, dan al-Hayṯam bin ‘Adī. Seakan-akan mereka ingin mengatakan:
“Kami (Qaḥṭaniyyūn) pun tersambung kepada Ismā‘īl,
sebagaimana kalian (‘Adnāniyyūn).”
Sementara itu, kelompok Yaman lainnya menolak keras. Mereka
tetap berpegang bahwa nasab Qaḥṭān adalah sebagaimana tertera dalam Taurat: Qaḥṭān
bin ‘Ābir bin Syālikh bin Arfakhsyadz bin Sām bin Nūḥ.
Kebanggaan Nasab: Mengapa Mereka Berebut Para Nabi?
Di balik perbedaan jalur ini, tampak jelas adanya tujuan
emosional dan sosial.
Bangsa Qaḥṭaniyyīn merasa memiliki sejarah
kerajaan dan peradaban yang panjang sebelum Islam, khususnya di Yaman dan Arab
Selatan. Namun, mereka melihat bahwa bangsa ‘Adnāniyyīn memiliki
satu keunggulan besar: di kalangan mereka ada para nabi, terutama Ismā‘īl dan
dari garis keturunannya lahir Rasulullah Muḥammad ﷺ.
Karena itu, orang-orang Qaḥṭaniyyīn ingin juga memiliki
hubungan khusus dengan para nabi. Maka muncullah beberapa klaim:
- Qaḥṭān
adalah keturunan Nabi Hūd ‘alaihis-salām.
- Qaḥṭān
adalah keturunan Ismā‘īl.
- Hūd
adalah sama dengan ‘Ābir, dan ‘Ābir termasuk keturunan para nabi.
Intinya, mereka ingin kedudukan nasab mereka tidak lebih
rendah dari saingan mereka, kaum ‘Adnāniyyīn. Setidaknya, dalam hal kebanggaan
asal-usul.
Nama Yaqṭān: Dari “Yang Kecil” Menjadi “Yang Perkasa”
Orang-orang Yaman tampaknya tidak menyukai makna kata Yaqṭān dalam
bahasa Taurat. Dalam bahasa Ibrani, kata itu bermakna “yang menjadi kecil”,
atau secara sederhana: “kecil, remeh.”
Mungkin mereka mengetahui makna ini dari Ahl al-Kitāb. Lalu,
dengan berani, mereka membalik maknanya. Mereka menafsirkan Yaqṭān sebagai “al-Jabbār (ٱلْجَبَّارُ,
yang perkasa)” dan berkata dengan penuh keyakinan:
“Namanya dalam Taurat adalah al-Jabbār, yang perkasa.”
Padahal makna sebenarnya justru kebalikan dari itu. Dengan
cara seperti ini –melalui tafsir yang dibuat-buat– wibawa sosok Qaḥṭān
dikembalikan di hadapan kaumnya.
Berapa Lama Qaḥṭān Memerintah?
Sebagian ahli khabar bahkan ingin tampak “teliti” dalam hal
yang sangat sulit diverifikasi: umur kekuasaan Qaḥṭān. Hishām bin al-Kalbī,
seorang tokoh besar ahli khabar, menyebut angka pasti:
Qaḥṭān memerintah selama dua ratus tahun, tidak
kurang dan tidak lebih.
Angka ini jelas menunjukkan betapa kisah-kisah semacam ini
sangat kental dengan nuansa legenda dan kebanggaan, bukan catatan sejarah yang
keras dan kering seperti yang kita kenal hari ini.
Qaḥṭān dalam Prasasti dan Geografi Kuno
Dalam karya geografi Ptolemaios (Ptolemy), disebut sebuah
nama yang mirip Qaḥṭān, yaitu Katanitae (كتنيتة / كتانيتة).
Namun kemiripan bunyi tidak otomatis berarti sama. Bisa jadi itu nama tempat,
atau kabilah lain yang kebetulan mirip.
Demikian pula, dalam sumber-sumber Arab disebut adanya
kabilah bernama Qaṭn atau Banū Qaṭn, lembah yang
dikenal dengan Jau Qaṭn, dan sebuah kota antara Zabīd dan Ṣan‘ā
yang disebut Qaḥṭān. Bahkan al-Mas‘ūdī menyebut adanya Jazā’ir
Qaṭn.
Penulis teks asal (yang Anda lampirkan) memilih bersikap
hati-hati: belum menetapkan hubungan pasti antara semua nama itu dengan sosok
Qaḥṭān, sebelum bukti yang kuat tersedia.
Dalam teks-teks prasasti Musnad (aksara
kuno Arabia Selatan), ditemukan pula nama sebuah kabilah Qaḥṭn (قحطن),
yang dibaca Qaḥṭān. Namanya muncul setelah kabilah Kdt (كدت),
yang dimaknai sebagai Kindah, dalam teks yang disebut Jamme 635.
Dua kabilah ini –Qaḥṭān dan Kindah– berada di bawah seorang
raja bernama Rabī‘at / Rabī‘ah, dari kabilah Ṯwrm / Āl Ṯwrm
/ al-Ṯawrm, yaitu Āl Ṯawr. Menurut para ahli nasab, Ṯawr ini adalah
leluhur kabilah Kindah sejak masa raja Sya‘r Awtar, yang kisahnya
dibicarakan di bagian lain kitab.
Namun, di luar silsilah dan nama-nama seperti itu, kita
tidak tahu banyak tentang sosok Qaḥṭān sendiri. Di kalangan orang Ibrani, yang
diketahui hanya bahwa ia adalah salah satu –bahkan yang terakhir– dari
anak-anak ‘Ābir, dan bahwa ia menjadi leluhur beberapa kabilah tua.
Diamnya para ahli khabar tentang detail kehidupannya, dan
cukupnya mereka dengan menyebut nasab yang identik dengan Taurat, menjadi bukti
kuat bahwa sumber utama mereka memang Kitab Suci Yahudi itu.
Anak-Anak Qaḥṭān dan Munculnya Ya‘rub
Berbeda dengan sosok Qaḥṭān yang “kosong cerita”, para ahli
khabar justru sangat “murah hati” ketika menisbatkan keturunan kepadanya.
Ada yang menyebut Qaḥṭān memiliki sepuluh anak,
ada yang mengatakan sampai tiga puluh satu. Di antara nama-nama
yang sering disebut adalah:
- Ya‘rub
- Ḥaḍramawt
- ‘Umān
- Jurhum
Bahkan sebagian menyebutkan nama istri Qaḥṭān: Ḥannā
binti Rūq bin Fuzārah bin Sa‘d bin Suwayd bin ‘Auṣ bin Iram bin Sām bin Nūḥ.
Tentu, semakin “dermawan” perawinya, semakin banyak pula
anak yang dinisbatkan kepada Qaḥṭān.
Kerajaan Ya‘rub bin Qaḥṭān
Setelah Qaḥṭān, menurut ahli khabar, kekuasaan beralih
kepada putranya: Ya‘rub bin Qaḥṭān. Kerajaan Ya‘rub berada di
wilayah Yaman.
Dikisahkan bahwa ia mengalahkan sisa-sisa kaum ‘Ād, lalu
membagi saudara-saudaranya ke berbagai wilayah:
- saudaranya
yang bernama Ḥaḍramawt ditempatkan di wilayah yang
kemudian dikenal dengan nama itu,
- saudaranya ‘Umān ditempatkan
di daerah ‘Umān,
- dan Jurhum dijadikan
penguasa di wilayah Ḥijāz (sekitar Makkah).
Tentang ibu Ya‘rub, ada riwayat yang menyebut bahwa ia
berasal dari kaum ‘Ād atau dari kalangan ‘Amālīq. Ya‘rub dikatakan memiliki
beberapa saudara seibu, seperti Jurhum, al-Mu‘tamir, al-Mutalammis, ‘Āṣim,
Manī‘, al-Qaṭāmī, ‘Āmī, Ḥimyar, dan lainnya.
Sebagian ahli khabar mengatakan bahwa Ya‘rub memerintah
selama dua ratus tahun, sama seperti ayahnya. Jika demikian, tentu
umurnya harus jauh lebih panjang dari itu. Penulis teks asal secara halus
menyindir: umur seperti itu pasti akan membuat orang-orang yang hidup di zaman
modern ini iri, jika benar.
Menariknya, nama Ya‘rub tidak ditemukan dalam Taurat sebagai
salah satu anak Yaqṭān. Namun dalam Taurat ada nama seorang raja bernama Yareb
(ירב).
Sebagian pakar Perjanjian Lama menduga bahwa ia adalah
seorang raja Arab yang memerintah di sebuah wilayah Arab, mungkin di Yatsrib
(Madinah) atau daerah lain di Jazirah Arab. Tidak mustahil, kata
penulis, para ahli khabar Arab mendengar nama ini dari orang-orang Yahudi
Yatsrib, lalu memolesnya menjadi kisah Ya‘rub bin Qaḥṭān.
Jurhum: Penjaga Ka‘bah dalam Bayangan Jahiliyah
Nama Jurhum muncul berkali-kali dalam
kisah-kisah Arab kuno. Para ahli khabar yang dimaksud dalam teks biasanya
berbicara tentang Jurhum kedua, yaitu Jurhum yang datang setelah
kebinasaan Jurhum pertama.
Mereka adalah kabilah Qaḥṭaniyyah yang bermukim di Makkah.
Dari merekalah, menurut riwayat, para penjaga dan pengurus Ka‘bah berasal.
Dalam kamus Tāj al-‘Arūs disebut:
“Jurhum –dibaca seperti lafal qunfud (landak)–
adalah suatu kabilah dari Yaman; ia adalah putra Qaḥṭān bin ‘Ābir bin Syālikh
bin Arfakhsyadz bin Sām bin Nūḥ. Mereka turun di Mekah; Ismail ‘alaihis-salām
menikah di kalangan mereka, dan mereka adalah besan-besannya. Lalu mereka
menyimpang (dari kebenaran), maka Allah Ta‘ālā membinasakan mereka…”
Dalam Syams al-‘Ulūm disebut:
“Jurhum adalah suatu kabilah Arab dari keturunan Jurhum bin
Qaḥṭān bin Hūd.”
Jurhum dalam Syair Jahiliyah
Orang-orang Jahiliyah membayangkan bahwa kabilah Jurhum
adalah penjaga dan pengurus Baitullah al-Ḥarām. Hal ini tampak dalam bait syair
yang dinisbatkan kepada Zuhayr bin Abī Sulmā:
«فَأَقْسَمْتُ
بِالْبَيْتِ الَّذِي طَافَ حَوْلَهُ
رِجَالٌ،
بَنَوْهُ مِنْ قُرَيْشٍ وَجَرْهُمِ»
“Aku bersumpah demi Bait (Ka‘bah) yang di sekelilingnya
bertawaf
orang-orang yang membangunnya, dari (kabilah) Quraisy dan Jurhum.”
Para ahli khabar juga menyebut bahwa Ismā‘īl
‘alaihis-salām tumbuh besar di tengah mereka dan menikah dari kalangan
mereka. Setelah Nabi Ibrāhīm ‘alaihis-salām menyelesaikan pembangunan Ka‘bah
dan meninggikan fondasinya, beliau meninggalkan putranya, Ismā‘īl, di
tengah-tengah Jurhum. Dari sinilah hubungan Ismā‘īl dengan kabilah itu
terjalin.
Kemudian, tugas penjagaan Ka‘bah berpindah. Khuza‘ah mengalahkan
Jurhum dan merebut dari mereka kedudukan sebagai penjaga Ka‘bah, sampai
akhirnya berpindah lagi kepada Quraisy.
Kezaliman Jurhum dan Datangnya Khuza‘ah
Mengapa Jurhum tergeser?
Dikisahkan bahwa Jurhum mulai berbuat zalim di Makkah.
Mereka menindas siapa saja yang datang ke kota itu dari luar, dan memakan harta
Ka‘bah berupa persembahan dan hadiah yang dipersembahkan untuknya.
Sebelumnya, Jurhum juga berselisih dengan kabilah Qatūrā’,
kerabat sepupu mereka. Qatūrā’ tinggal di bagian bawah kota Makkah, di
lembah Ajyād, sedangkan Jurhum tinggal di bagian atasnya, di
bukit Qu‘ayqi‘ān.
Keduanya pernah terlibat peperangan sengit. Pemimpin
Qatūrā’, al-Sumaidā‘, terbunuh. Setelah itu diadakan perdamaian,
dan kekuasaan tetap di tangan Jurhum.
Namun, ketika kezhaliman Jurhum semakin menjadi-jadi
–merampas hak orang, mengambil persembahan Ka‘bah, dan menindas pendatang– dua
kelompok bangkit:
- Banū
Bakr bin ‘Abd Manāt bin Kinānah,
- dan Ghubshān,
cabang dari kabilah Khuza‘ah.
Mereka bersekutu untuk memerangi Jurhum dan mengusir mereka
dari Makkah. Terjadilah pertempuran, dan pada akhirnya Jurhum kalah lalu
meninggalkan kota suci itu.
Siapakah Qatūrā’?
Menurut ahli nasab, Qatūrā’ adalah kerabat sepupu Jurhum,
sekelompok kabilah pengembara dari Yaman yang datang dan kemudian menetap di
Makkah bersama Jurhum dan kaum ‘Adnāniyyīn (keturunan Ismā‘īl) setelah hijrah
mereka dari Yaman.
Para ahli nasab tidak terlalu mendalam meneliti asal-usul
Qatūrā’. Namun Ibn Isḥāq mengatakan:
“Saudaranya, Qatūrā’, adalah orang pertama yang berbicara
dengan bahasa Arab ketika bahasa-bahasa menjadi kacau,”
yakni pada peristiwa besar ketika bahasa-bahasa manusia
bercampur dan berbeda-beda.
Jurhum dalam Riwayat al-Ṭabarī dan Taurat
Al-Ṭabarī menyebut bahwa nama nenek moyang Jurhum
adalah Hadhram (هذرم), dan bahwa ayahnya adalah ‘Ābir bin Sabā’ bin Yaqṭan bin
‘Ābir bin Syālikh bin Arfakhsyadz bin Sām bin Nūḥ.
Padahal, dalam Taurat, yang disebut adalah Hadoram (هدورام),
anak kelima Yaqṭan (Qaḥṭān). Artinya, Jurhum –menurut susunan Taurat– termasuk
kabilah-kabilah Qaḥṭāniyyah juga. Hanya saja riwayat yang sampai kepada al-Ṭabarī
sudah mengalami perubahan.
Sisa-Sisa Jurhum hingga Masa Islam
Nama Jurhum tidak lenyap begitu saja. Pada permulaan Islam,
masih ada orang yang dinisbatkan kepadanya, misalnya seorang pencerita
kisah (qāṣṣ) bernama ‘Ubayd bin Syurayyah al-Jurhumī.
Dalam syair Ḥassān bin Thābit, sahabat Nabi ﷺ,
tampak bahwa masih ada sisa-sisa kabilah itu:
«فَلَو
سُئِلَتْ عَنْهُ مَعَدٌّ بِأَسْرِهَا
وَقَحْطَانُ
أَوْ بَاقِي بَقِيَّةِ جَرْهَمَا»
“Seandainya seluruh (kabilah) Ma‘add seluruhnya ditanyai
tentangnya,
dan (demikian pula) Qaḥṭān, atau sisa terakhir yang masih tersisa dari Jurhum,”
Sejumlah kecil dari mereka masih hidup di pesisir Laut
Merah, berhadapan dengan Makkah, hingga akhir abad kedua Hijriah. Sebagian ahli
khabar mengklaim bahwa al-‘Ubaydiyyūn di Yaman adalah
sisa-sisa keturunan Jurhum.
Plinius (Pliny) dan Stefanus Byzantinus menyebut suatu
bangsa bernama Charmaei. Seorang peneliti bernama Forster mengira
bahwa yang dimaksud adalah Jurhum. Namun, sebagian peneliti lain meragukannya,
karena bangsa itu tinggal di dekat wilayah bangsa Ma‘īn, jauh dari
Makkah.
Al-Hamdānī bahkan menyebut bahwa di Makkah ada tempat
bernama Dūḥat az-Zaytūn, salah satu pekuburan Jurhum. Sekelompok
orang pernah memasuki pekuburan itu dan menemukan perhiasan dan tulisan-tulisan
kuno.
Bahasa Arab dan Salam Para Raja: Klaim Ya‘rub bin Qaḥṭān
Para ahli khabar dari pihak Qaḥṭāniyyīn menisbatkan kemunculan
bahasa Arab kepada Ya‘rub. Mereka mengatakan:
“Dialah orang pertama yang a‘raba dengan
lisannya,”
yakni yang pertama kali berbicara dengan bahasa Arab yang
fasih. Dari sinilah, katanya, muncul istilah al-‘Arabiyyah untuk
bahasa itu.
Riwayat seperti ini jelas bertentangan dengan
riwayat-riwayat dari pihak ‘Adnāniyyīn, yang punya versi lain
tentang asal-usul bahasa Arab.
Sebagian riwayat juga menyebut bahwa Ya‘rub adalah orang
yang membawa anak-anaknya ke tanah Yaman. Diriwayatkan:
“Ya‘rub bin Qaḥṭān pergi ke tanah Yaman bersama
anak-anaknya, lalu menetap di sana; dialah orang pertama yang berbahasa Arab.”
Anak-anak Ya‘rub bahkan digambarkan sebagai orang-orang
pertama yang mengucapkan salam penghormatan khas kepada raja, seperti:
أَبَيْتَ
اللَّعْنَ
“Semoga engkau enggan tersentuh celaan/kehinaan.”
أَنْعِمْ
صَبَاحًا
“Selamat pagi; semoga pagimu baik.”
Namun, ahli khabar lain menisbatkan salam-salam ini kepada
raja-raja lain di masa sesudahnya. Ada banyak versi dalam tradisi lisan Arab.
Dari Ya‘rub ke Yasyjub (Yaman) dan Sabā’
Menurut para ahli khabar, kekuasaan kerajaan berpindah dari
Ya‘rub kepada putranya, Yasyjub, yang juga dikenal dengan
sebutan “Yaman”.
Dari keturunan Yasyjub inilah muncul sosok penting: ‘Abd
Syams, yang juga disebut ‘Āmir, dan digelari Sabā’.
Siapakah Sabā’?
Para ahli khabar mengisahkan banyak hal tentang Sabā’
(‘Abd Syams):
- Dialah
yang membangun Istana Sabā’ dan kota Ma’rib di
Yaman.
- Ia
dikatakan menaklukkan Mesir dan membangun kota ‘Ain Syams di
sana.
- Ia
disebut orang pertama yang menetapkan praktik penawanan perang
(al-sabī) secara luas. Karena itu ia dijuluki Sabā’ –dari
kata saba-yasbī, menawan.
Melalui penaklukan dan penawanan, Sabā’ memperkuat kekuasaan
orang-orang Qaḥṭaniyyīn di Yaman. Diceritakan bahwa ia berkeliling di kota-kota
Yaman beserta tempat-tempat persembunyian yang dahulu dihuni sisa-sisa kaum
‘Ād, kemudian menawan mereka dan menjadikan mereka budak.
Al-Hamdānī menukil dari sebagian perawi bahwa gelar Sabā’
adalah al-A‘qaf. Ia menulis bahwa Sabā’ adalah:
- orang
pertama yang menata sistem pemerintahan dengan rapi di kerajaannya,
- orang
pertama yang menetapkan putera mahkota (walī al-‘ahd) selagi
ia masih hidup,
- dan
orang pertama yang secara sistematis menawan dan memperbudak orang-orang
yang memberontak atau memusuhinya.
Hamzah al-Iṣfahānī, menukil dari ‘Īsā bin Dāb, menyebut
bahwa masa kerajaan ‘Abd Syams alias Sabā’ berlangsung pada zaman raja
Persia Kay-Qubād. Ini menempatkan kisah Sabā’ dalam kerangka waktu
legenda kuno yang sangat tua.
Anak-Anak Yasyjub: Nasab yang “Pelit”
Menariknya, para ahli nasab justru sangat “pelit” ketika
menyebut keturunan Yasyjub. Mereka hampir hanya sepakat menyebut satu
anak: Sabā’ al-Akbar (‘Abd Syams).
Sebagian menambah: Jurhum bin Yasyjub dan Syajbān
bin Yasyjub. Dari Syajbān lahirlah Ṣayfiyyā, darinya
lahir Mālik, dan dari Mālik lahir al-Ḥārith, yang
disebut pernah memegang kekuasaan kerajaan.
Prasasti “Sabā’ bin Yasyjub bin Ya‘rub bin Qaḥṭān” yang
Diragukan
Para sarjana modern menemukan sebuah inskripsi (prasasti)
yang mereka beri kode Rep. Epigr. 4304. Teksnya berbunyi:
“Abd Syams, Sabā’ bin Yasyjub, Ya‘rub bin Qaḥṭān.”
Sekilas, prasasti ini tampak mendukung jalur nasab yang
disebutkan para ahli khabar. Namun penulis teks asal meragukan keasliannya. Ia
berpendapat:
- Gaya
penulisan nasab seperti itu (menyebut beberapa generasi
berturut-turut) tidak dikenal dalam teks-teks Musnad yang
otentik.
- Susunan
nasab “Sabā’ bin Yasyjub bin Ya‘rub bin Qaḥṭān” adalah bentuk yang baru
tersusun pada masa kemudian, setelah memuncaknya pertentangan
antara Qaḥṭāniyyīn dan ‘Adnāniyyīn pada
zaman Umawiyyah.
Karena itu, ia menduga prasasti ini dibuat setelah
masa Jahiliyyah, mungkin oleh orang yang belajar aksara Musnad dan ingin
“membuktikan” bahwa jalur nasab Qaḥṭān sudah dikenal sejak awal.
Walau demikian, ia menyerahkan keputusan akhir kepada
penelitian teknis: para ahli epigrafi dapat meneliti bahan, gaya ukiran, dan
lain-lain untuk memastikan apakah prasasti ini otentik atau hasil rekayasa
kemudian.
Anak-Anak Sabā’: Ke Utara dan ke Selatan
Al-Mas‘ūdī menyebut bahwa Sabā’ memiliki sepuluh
orang anak. Dalam satu riwayat ia mengatakan, bahwa:
- Empat dari
mereka pergi ke wilayah Syam (utara),
- dan enam menuju
wilayah Yaman (selatan).
Disebutkan, yang menuju Syam antara lain: Lakhm, Judzām, ‘Āmilah,
dan Ghassān. Adapun yang tetap atau kembali ke Yaman antara
lain: Ḥimyar, al-Azd, Madhḥij, Kinanah, al-Asy‘ariyyūn,
dan Anmār (yang menurut sebagian riwayat adalah Bajīlah dan
Khaṯ‘am).
Dalam kitabnya at-Tanbīh wa al-Isyrāf, al-Mas‘ūdī
menyebut nama-nama lain dengan susunan sedikit berbeda, namun intinya sama:
sebagian keturunan Sabā’ menetap di selatan (Yaman), sebagian bergerak ke utara
(Syam).
Hadits Nabi ﷺ tentang Sabā’
Dalam kitab Syams al-‘Ulūm, disebut sebuah
hadits Nabi ﷺ
tentang Sabā’.
Berikut teks Arab dan terjemahnya:
النَّصُّ
العَرَبِيُّ لِلْحَدِيثِ (مَعَ الحَرَكَات):
سُئِلَ
النَّبِيُّ عَنْ سَبَإٍ، فَقَالَ:
«رَجُلٌ مِنَ
العَرَبِ أَوْلَدَ عَشَرَةً، تَيَامَنَ مِنْهُمْ سِتَّةٌ: حِمْيَرُ، وَهَمْدَانُ،
وَكِنْدَةُ، وَمَذْحِجُ، وَالأَشَاعِرُ، وَأَنْمَارُ، وَتَشَاءَمَ مِنْهُمْ
أَرْبَعَةٌ: جُذَامُ، وَلَخْمٌ، وَعَامِلَةُ، وَالأَزْدُ».
Terjemah hadits:
“Nabi ﷺ
ditanya tentang (kabilah) Sabā’. Beliau bersabda:
‘Ia adalah seorang laki-laki dari kalangan Arab yang memiliki sepuluh orang
anak. Enam di antara mereka pergi ke wilayah Yaman (selatan): Ḥimyar,
Hamdān, Kindah, Madhḥij, al-Asyā‘ir, dan Anmār; dan empat di antara mereka
pergi ke wilayah Syam (utara): Judzām, Lakhm, ‘Āmilah, dan al-Azd.’”
Hadits ini –dengan ragam riwayat dan diskusi sanadnya dalam
kitab-kitab hadis– menjadi salah satu dasar kuat bagi mereka yang menganggap
Sabā’ sebagai sosok laki-laki tertentu (bukan nama negeri atau kaum saja), dan
menghubungkan banyak kabilah besar Arab kepadanya.
Quḍā‘ah: Yaman atau ‘Adnān?
Dari Mālik bin Ḥimyar (salah satu keturunan
Sabā’) lahirlah Quḍā‘ah bin Mālik bin Ḥimyar, leluhur
kabilah-kabilah Quḍā‘ah, menurut mereka yang memasukkan Quḍā‘ah ke
dalam rumpun Yaman (Qaḥṭaniyyīn).
Namun, para ahli nasab dari kalangan ‘Adnāniyyīn menolak
hal ini. Mereka lebih suka memasukkan Quḍā‘ah ke dalam keturunan ‘Adnān,
bukan Yaman. Menurut mereka, penukilan nasab Quḍā‘ah ke Yaman terjadi
belakangan, karena dorongan politik dan fanatisme
kesukuan di masa-masa perselisihan antara dua kubu besar Arab itu.
Sumber :
المفصل
فى تاريخ العرب قبل الإسلام

Komentar
Posting Komentar