Rihlah Ibnu Bathutah #27: Ziarah Makam Wali dan Tradisi Sufi di Shiraz
Di kota Shiraz yang makmur dan ramai di negeri Fars, aku (Ibn Battuta) menghabiskan beberapa waktu melihat tempat-tempat yang dimuliakan penduduknya. Di kota inilah aku menyaksikan bagaimana cinta kepada para wali, para ulama, dan para keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup begitu kuat di hati manusia.
________________________________________
Makam Ahmad bin Musa dan Majelis Thasy Khatun
Di antara tempat paling mulia di Shiraz adalah makam Ahmad bin Musa, saudara Imam Ali al-Ridha, putra Musa bin Ja‘far, dari keturunan Agung: Muhammad bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Semoga Allah meridhai mereka semua.
Makam ini sangat diagungkan oleh penduduk Shiraz. Mereka datang untuk berziarah, mencari berkah, dan bertawassul kepada Allah melalui kehormatan beliau. Di atas makam itu, Thasy Khatun, ibunda Sultan Abu Ishaq, membangun sebuah madrasah besar dan sebuah zawiyah (semacam pesantren/surau sufi). Di sana selalu tersedia makanan untuk siapa pun yang datang dan pergi, dan para qari’ terus-menerus membaca al-Qur’an di dekat pusara.
Thasy Khatun mempunyai satu kebiasaan khusus: setiap malam Senin ia datang ke makam itu. Malam itu menjadi malam besar di Shiraz. Para qadi, para ahli fikih, dan para syarif (keturunan Nabi) berkumpul di sana.
Shiraz, kata orang-orang yang dapat dipercaya kepadaku, adalah salah satu kota dengan jumlah keturunan Nabi terbanyak di muka bumi. Disebutkan bahwa para syarif yang mendapat tunjangan tetap di sana mencapai lebih dari seribu empat ratus orang, dari yang kecil sampai yang tua. Pemimpin mereka adalah seorang laki-laki mulia bernama ‘Adhududdin al-Husayni.
Ketika rombongan para ulama dan syarif sudah berkumpul di makam Ahmad bin Musa, mereka mengkhatamkan al-Qur’an bersama-sama dengan membaca dari mushaf. Para qari’ melantunkan ayat-ayat dengan suara merdu yang menggetarkan hati. Setelah itu, makanan dihidangkan: aneka masakan, buah-buahan, dan manisan disajikan untuk semua yang hadir.
Setelah mereka makan, seorang penceramah berdiri dan memberi nasihat, mengingatkan mereka kepada Allah dan akhirat. Semua itu berlangsung dari setelah salat Zuhur hingga menjelang senja. Thasy Khatun sendiri duduk di sebuah kamar di lantai atas yang jendelanya menghadap ke masjid, menyaksikan seluruh kegiatan itu dari balik jendela.
Ketika majelis berakhir, genderang, nafiri, dan sangkakala dibunyikan di depan pintu makam, seperti bunyi-bunyian yang biasa dimainkan di pintu istana para raja. Penghormatan kepada para wali di Shiraz betul-betul terasa seperti penghormatan kepada raja, bahkan lebih mulia lagi di mata mereka.
________________________________________
Makam Abu ‘Abdillah Khafif dan Karamah di Gunung Serendib
Di Shiraz juga terdapat makam seorang wali besar, imam dan quthub yang agung: Syaikh Abu ‘Abdillah Khafif. Di kalangan mereka beliau hanya disebut “al-Syaikh” saja, karena kedudukan beliau yang sangat istimewa. Dialah panutan seluruh negeri Fars.
Makamnya dimuliakan luar biasa. Orang-orang datang pagi dan petang, menyentuh dinding makamnya, mengusapnya dengan penuh hormat dan harap. Aku pernah melihat sendiri Qadi Majduddin, seorang ulama besar di Shiraz, datang berziarah ke sana dan menyentuh makamnya sebagai bentuk penghormatan.
Thasy Khatun juga datang ke masjid yang terhubung dengan makam ini setiap malam Jumat. Di tempat itu juga ada sebuah zawiyah dan madrasah. Para qadi dan ahli fikih berkumpul di situ dan melakukan kegiatan yang hampir sama seperti di makam Ahmad bin Musa: zikir, bacaan al-Qur’an, makan bersama, dan nasihat. Aku sendiri sempat hadir di kedua tempat mulia ini dan menyaksikan semuanya dengan mata kepalaku.
Berdekatan dengan makam Abu ‘Abdillah Khafif, terdapat pula makam Amir Muhammad Shah Yanju, ayah Sultan Abu Ishaq. Kedua pusara ini seperti disatukan oleh kemuliaan dan doa-doa yang terus mengalir.
Abu ‘Abdillah bin Khafif terkenal di kalangan para wali di seluruh dunia Islam. Diceritakan bahwa dialah yang pertama kali membuka jalan ke Gunung Serendib di Pulau Sailan (Sri Lanka sekarang), yang termasuk wilayah India. Dari beliaulah kemudian jalur itu dikenal dan dilalui para penempuh jalan Allah.
Tentang beliau, orang-orang menceritakan sebuah karamah yang menakjubkan.
Suatu ketika, Syaikh Abu ‘Abdillah bertekad menempuh perjalanan menuju Gunung Serendib, bersama sekitar tiga puluh orang faqir (para sufi yang hidup sederhana). Di tengah perjalanan, di wilayah pegunungan yang tidak berpenduduk dan tidak ada bangunan, mereka tersesat dan dilanda kelaparan hebat.
Di kawasan itu banyak sekali gajah, terutama gajah-gajah kecil, yang biasa ditangkap lalu dikirim sebagai hadiah ke istana Raja India. Para faqir itu meminta izin kepada syaikh untuk menangkap salah satu anak gajah, menyembelihnya, dan memakan dagingnya.
Namun sang syaikh melarang mereka.
Kelaparan yang sangat membuat mereka tak tahan. Mereka pun melanggar perintah beliau. Mereka menangkap seekor gajah kecil, menyembelihnya, memasak dan memakan dagingnya bersama-sama. Hanya satu orang yang tidak ikut makan: Abu ‘Abdillah sendiri. Ia menahan diri, meskipun lapar.
Malam pun datang. Rombongan tertidur setelah kenyang. Tiba-tiba, di tengah malam, gajah-gajah dari segala penjuru hutan berkumpul. Mereka datang berduyun-duyun, mengelilingi para musafir yang tertidur. Gajah-gajah itu mencium satu per satu orang yang terbaring, dan setiap kali mencium seseorang, mereka mengamuk dan membunuhnya, sampai habis seluruh anggota rombongan itu.
Ketika mereka sampai kepada Abu ‘Abdillah, mereka mencium beliau, tetapi tidak menyentuhnya. Salah seekor gajah malah mengangkatnya dengan belalainya, meletakkannya di punggungnya, lalu berjalan membawanya pergi. Gajah itu membawanya hingga sampai ke sebuah wilayah yang berpenduduk.
Penduduk di daerah itu terkejut. Dari kejauhan, mereka melihat seekor gajah berjalan dengan seorang lelaki di atas punggungnya. Mereka keluar menyambut, ingin mengetahui apa gerangan yang terjadi. Ketika sudah dekat, gajah itu mengambil beliau dengan belalainya, menurunkannya perlahan ke tanah, lalu pergi. Penduduk segera mengerumuni Abu ‘Abdillah dan menanyakan kisahnya, kemudian membawanya menghadap raja mereka. Raja dan rakyatnya ketika itu masih kafir, namun kisah syaikh membuat mereka takjub.
Abu ‘Abdillah tinggal beberapa hari di negeri itu. Tempat tersebut berada di pinggir sebuah aliran air besar (estuari) yang mereka sebut “Khor al-Khayzaran”. Di sana juga terdapat lokasi penyelaman mutiara. Dalam salah satu kesempatan, di hadapan raja mereka, sang syaikh menyelam ke dasar air. Ketika muncul, ia menggenggam kedua tangannya erat-erat.
Ia berkata kepada sang raja, “Pilih salah satu dari kedua tanganku.”
Raja memilih tangan kanan. Sang syaikh membuka genggaman tangan kanannya dan melemparkan isinya ke arah raja: tiga batu yaqut yang keindahannya tiada bandingan. Batu-batu permata itu kemudian disimpan di mahkota raja-raja mereka, diwariskan turun-temurun.
Aku sendiri, pada suatu masa, pernah memasuki Pulau Sailan ini. Penduduknya ketika itu masih dalam kekafiran. Namun ada sesuatu yang sangat membedakan mereka dari banyak kaum kafir lain: mereka sangat memuliakan para faqir Muslim.
Mereka menampung orang-orang saleh muslim di rumah-rumah mereka, memberi makan, dan membiarkan mereka tinggal di tengah keluarga mereka, bersama istri dan anak-anak mereka, tanpa rasa takut. Sikap mereka ini sangat berbeda dengan kebanyakan orang-orang kafir di India daratan. Orang kafir India tidak mau mendekat kepada kaum muslimin; mereka enggan memberi makan dengan bejana mereka, atau memberi minum dengan wadah mereka. Meskipun demikian, mereka sebenarnya tidak menyakiti atau mencaci kaum muslimin.
Sering kali kami terpaksa meminta mereka untuk memasakkan daging bagi kami. Mereka pun memasaknya di periuk mereka, membawanya kepada kami, lalu duduk menjauh. Mereka juga membawa daun pisang, menaruh nasi di atasnya (itu makanan pokok mereka), lalu menyiramnya dengan kuah lauk yang mereka sebut “kushal”. Setelah itu mereka pergi. Kami makan dari yang ada di daun pisang itu. Sisa makanan dibiarkan untuk dimakan anjing dan burung.
Jika ada anak kecil mereka yang belum mengerti apa-apa ikut memakan sisa makanan itu, mereka memukulnya dan memberinya makan kotoran sapi, karena menurut mereka itulah yang dapat “menyucikan” si anak. Keyakinan mereka aneh, tetapi begitulah keadaan mereka.
________________________________________
Wali-wali Shiraz: Rozjahan al-Qibli dan Tradisi Kubur di Rumah
Di antara tempat ziarah lain di Shiraz adalah makam seorang wali besar bernama Syaikh Rozjahan al-Qibli. Kuburnya terletak di sebuah masjid jami’ tempat salat Jumat ditegakkan. Di masjid itu pula Qadi Majduddin — ulama yang sudah aku sebutkan tadi — biasa mengimami salat dan mengajar.
Di masjid jami’ ini pula aku sempat mendengar langsung darinya pembacaan kitab Musnad Imam al-Syafi‘i, kitab hadis besar yang dinisbatkan kepada Imam Muhammad bin Idris al-Syafi‘i. Qadi Majduddin membacakannya dengan menyebutkan mata rantai ulama yang menyampaikan kitab itu hingga sampai kepada Imam al-Syafi‘i sendiri. Aku pun tercatat sebagai salah satu yang mendengar dan menerima periwayatan itu darinya.
Aku juga mendengar darinya kitab lain di masjid ini, yaitu Masyariq al-Anwar, karya Imam Radhiyuddin al-Shaghani, sebuah kitab yang memuat hadis-hadis penting. Ia meriwayatkannya dengan sanad (rangkaian periwayat) yang bersambung kepada pengarangnya.
Selain itu, di kota ini juga ada makam orang saleh bernama Zarkub. Di atas makamnya dibangun sebuah zawiyah khusus untuk memberi makan orang-orang yang datang, baik faqir maupun musafir.
Menariknya, hampir semua makam mulia yang aku sebutkan tadi terletak di dalam kota. Bahkan kebanyakan penduduk Shiraz tidak menguburkan keluarga mereka di pemakaman umum, tetapi di rumah sendiri.
Jika seorang penduduk Shiraz meninggal dunia anaknya atau istrinya, ia akan memilih salah satu ruangan di rumahnya dan menjadikannya sebagai ruang kubur. Jenazah dikuburkan di sana, lalu ruangan itu dialasi dengan tikar dan permadani. Di dekat kepala dan kaki jenazah, mereka letakkan banyak lilin. Kemudian mereka membuat sebuah pintu baru di ruangan itu yang menghadap ke gang kecil (zawqaq), dan sebuah jendela besi.
Para qari’ datang dan membaca al-Qur’an dari jendela itu, dengan suara-suara yang sangat indah. Aku belum pernah mendengar bacaan al-Qur’an seindah bacaan penduduk Shiraz di negeri manapun di dunia. Penghuni rumah itu pun terus merawat ruang kubur tersebut, menghamparinya, menyalakan lampu dan pelita di dalamnya, seakan-akan si mayat masih hidup di tengah mereka.
Kepadaku diceritakan, bahwa keluarga si mayat bahkan memasak makanan setiap hari seolah-olah menyiapkan “jatah” untuknya, lalu mereka menyedekahkan makanan itu atas namanya.
________________________________________
Masjid di Pasar dan Lelaki Saleh yang Menyiapkan Kuburnya Sendiri
Suatu hari, saat aku berjalan melewati salah satu pasar di Shiraz, aku melihat sebuah masjid yang bangunannya sangat bagus dan kokoh. Lantainya terbentang dengan hamparan yang indah. Di dalam masjid itu, terdapat beberapa mushaf al-Qur’an yang diletakkan di dalam sarung-sarung sutra, tersusun rapi di atas rak kayu.
Di sisi utara masjid, ada sebuah zawiyah kecil yang memiliki jendela terbuka menghadap ke pasar. Di dalamnya duduk seorang syaikh yang sangat rapi penampilan dan pakaiannya. Di hadapannya sebuah mushaf, dan ia sedang membaca al-Qur’an.
Aku mengucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Ia bertanya kepadaku tentang kedatanganku: dari mana aku datang dan kapan aku tiba di Shiraz. Setelah aku menjawab, aku balik bertanya, “Siapa yang membangun masjid ini? Dan apa kisahnya?”
Ia tersenyum dan berkata bahwa dialah yang membangun masjid itu. Ia telah mewakafkan harta yang banyak untuk para qari’ dan siapa saja yang beribadah di dalamnya. Kemudian ia menunjukkan kepadaku zawiyah kecil tempat kami duduk itu dan berkata dengan tenang, “Inilah tempat kuburanku nanti, jika Allah menakdirkan aku wafat di kota ini.”
Lalu ia mengangkat permadani yang sedang didudukinya. Di bawahnya ternyata sudah ada liang kubur, ditutup dengan papan-papan kayu. Di sampingnya, ada sebuah peti. Ia membukanya dan berkata, “Di dalam peti ini tersimpan kain kafanku dan wewangian untuk mengafaniku. Di sini juga ada beberapa dirham, upahku ketika dulu aku menyewakan tenagaku untuk menggali sebuah sumur bagi seorang lelaki saleh. Ia memberiku dirham-dirham ini. Aku sengaja menyimpannya untuk biaya penguburanku. Kalau masih ada sisa setelah itu, aku ingin sisa itu disedekahkan atas namaku.”
Aku benar-benar takjub terhadap kewaspadaan dan persiapannya menghadapi kematian. Ketika aku hendak pergi, ia bersikeras menahanku dan menjamuku di tempat itu. Aku pun tinggal bersamanya sejenak, merasakan sejuknya amal saleh yang dilakukan diam-diam, jauh dari pujian manusia.
________________________________________
Ziarah ke Makam Sa‘di dan Syamsuddin al-Samani
Di luar kota Shiraz terdapat makam seorang syaikh saleh yang sangat terkenal di dunia sastra Persia: Sa‘di. Dialah penyair terbesar di zamannya dengan bahasa Persia, dan sering pula menyelipkan kalimat-kalimat Arab dalam tulisannya. Karya-karyanya kelak dikenal luas sepanjang masa.
Di tempat ia dimakamkan, beliau sendiri dahulu membangun sebuah zawiyah yang indah, di dalamnya ada sebuah kebun yang elok. Lokasinya dekat hulu sungai besar yang dikenal dengan nama Rukn Abad. Di tepian sungai itu, Sa‘di membuat beberapa kolam kecil dari marmer untuk tempat orang-orang mencuci pakaian.
Penduduk Shiraz sering keluar kota untuk berziarah ke makamnya. Mereka menikmati makanan yang dihidangkan di zawiyah, lalu mencuci pakaian mereka di sungai itu, kemudian kembali ke kota. Aku pun melakukan hal yang sama ketika menziarahi beliau — semoga Allah merahmatinya.
Tidak jauh dari zawiyah Sa‘di, terdapat zawiyah lain yang menyatu dengan sebuah madrasah. Madrasah itu dibangun di atas kubur seorang amir sekaligus ahli fikih, bernama Syamsuddin al-Samani. Ia sendiri berwasiat untuk dimakamkan di tempat itu, dan wasiatnya dilaksanakan.
________________________________________
Syarif Majduddin, Sang Dermawan
Di antara ulama besar Shiraz ada seorang faqih dari keturunan Nabi yang dikenal sebagai Syarif Majduddin. Sifat dermawannya benar-benar luar biasa. Kadang-kadang, ia menyedekahkan seluruh harta yang ada padanya, bahkan sampai pakaian yang sedang dipakainya. Setelah itu, ia hanya mengenakan pakaian tambalan.
Para pembesar kota sering datang menemuinya. Mereka mendapati beliau dalam keadaan sangat sederhana, lalu memberikan pakaian dan bantuan kepadanya. Padahal, dari sultan ia mendapat tunjangan tetap lima puluh dinar (dalam bentuk dirham) setiap hari. Namun apa pun yang datang kepadanya sering kali segera ia salurkan lagi kepada orang lain. Hatinya seakan-akan tidak bisa menyimpan harta lebih lama dari satu hari.
________________________________________
Perjalanan Keluar Shiraz dan Pertemuan dengan Bahlul al-Syuli
Setelah beberapa lama tinggal di Shiraz, aku pun bersiap melanjutkan perjalanan. Tujuanku berikutnya adalah menziarahi makam syaikh saleh Abu Ishaq al-Kazaruni di kota Kazerun, yang berjarak dua hari perjalanan dari Shiraz.
Sebelum menceritakan perjalananku ke Kazerun, aku teringat satu peristiwa yang terjadi ketika aku masih di Shiraz.
Suatu siang, setelah salat Zuhur di salah satu masjid, aku duduk dan membaca Kitab Allah (al-Qur’an) dari hafalan. Saat itu terlintas di benakku: “Seandainya aku punya mushaf di tanganku, tentu aku akan membacanya langsung dari mushaf.”
Sekejap kemudian, seorang pemuda masuk ke dalam masjid. Dengan suara lantang ia berkata kepadaku, “Ambillah!”
Aku mengangkat kepala, dan ia meletakkan sebuah mushaf yang indah di pangkuanku, lalu pergi tanpa menunggu jawaban.
Pada hari itu juga, aku mengkhatamkan mushaf tersebut dengan membaca. Aku menunggu pemuda itu kembali, agar bisa mengembalikan mushaf kepadanya, tetapi ia tidak pernah muncul lagi. Aku bertanya kepada orang-orang, “Siapakah pemuda tadi?” Mereka menjawab, “Itu adalah Bahlul al-Syuli.”
Setelah hari itu, aku tidak pernah lagi melihatnya. Aku pun menyimpan kisah itu sebagai salah satu tanda pertolongan Allah dan keanehan para wali-Nya yang tersembunyi di tengah manusia.
________________________________________
Tiba di Kazerun dan Zawiyah Abu Ishaq al-Kazaruni
Kami berangkat meninggalkan Shiraz. Hari pertama, kami singgah di negeri al-Syul, sebuah kawasan yang dihuni kaum ajam (non-Arab) yang tinggal di padang-padang luas. Di antara mereka juga ada orang-orang yang saleh.
Pada sore hari di hari kedua, kami pun sampai di kota Kazerun. Tujuan kami jelas: zawiyah Syaikh Abu Ishaq al-Kazaruni — semoga Allah menjadikan beliau sebab kebaikan bagi kami semua. Kami bermalam di zawiyah itu pada malam pertama kami di Kazerun.
Ada satu adat yang sangat mulia di zawiyah ini: siapa pun yang datang, dalam keadaan apa pun, akan diberi makan. Makanan khas yang mereka hidangkan adalah harisah, sejenis bubur gandum yang dimasak dengan daging dan mentega, dimakan bersama roti tipis (raqaq). Tidak ada tamu yang dibiarkan pergi begitu saja; mereka diminta tinggal sebagai tamu paling sedikit tiga hari.
Setelah itu, tamu dipersilakan menyampaikan hajat dan kebutuhannya kepada syaikh yang memimpin zawiyah. Syaikh tersebut kemudian menyampaikan semua hajat itu kepada para faqir yang menetap di zawiyah, yang jumlahnya lebih dari seratus orang. Di antara mereka ada yang sudah berkeluarga, dan ada pula yang bujangan dan benar-benar mengasingkan diri dari dunia.
Para faqir itu kemudian mengkhatamkan al-Qur’an, memperbanyak zikir, dan mendoakan si tamu di sisi makam Syaikh Abu Ishaq. Dengan izin Allah, banyak hajat para tamu yang terkabul melalui doa-doa yang dipanjatkan dari tempat itu.
________________________________________
Nazar Para Pelaut Laut Cina untuk Abu Ishaq
Syaikh Abu Ishaq al-Kazaruni bukan hanya dimuliakan di Kazerun dan Persia, tetapi juga sangat dihormati di India dan negeri Cina. Ada satu kebiasaan yang sangat terkenal di kalangan para pelaut yang mengarungi Laut Cina.
Jika para pelaut itu menghadapi angin yang mengganas, atau mereka khawatir akan diserang oleh para perompak, mereka bernazar untuk Syaikh Abu Ishaq. Masing-masing menuliskan nazar itu atas namanya sendiri: berapa yang ia janjikan, apa yang ia serahkan jika selamat.
Jika kapal mereka akhirnya sampai di pelabuhan dengan selamat, para pelayan zawiyah naik ke atas kapal. Mereka mengambil tali pengikat kapal sebagai tanda penguasaan atas kapal itu secara simbolis, lalu mulai mengumpulkan nazar dari setiap orang yang pernah bernazar untuk Syaikh Abu Ishaq.
Tidak ada kapal yang datang dari India atau Cina kecuali di dalamnya terkumpul nazar yang nilainya bisa mencapai ribuan dinar. Para wakil yang diutus oleh pelayan zawiyah datang untuk menerimanya, sesuai dengan catatan yang dibawa para pelaut.
Sebagian faqir yang datang ke zawiyah meminta bagian dari “sedekah Syaikh” ini. Jika syaikh atau para pengurus zawiyah menilai mereka berhak, mereka menuliskan sebuah surat perintah pemberian kepada si faqir. Di atas surat itu dibubuhkan tanda resmi zawiyah: sebuah cap dari perak, yang diukir dengan nama atau tanda khusus Syaikh Abu Ishaq.
Cap itu dicelupkan ke tinta merah, lalu ditempelkan di surat perintah, hingga bekasnya tampak jelas. Isi surat itu biasanya seperti ini: siapa pun yang mempunyai nazar untuk Syaikh Abu Ishaq hendaklah memberikan kepada si Fulan sejumlah sekian.
Nominal dalam surat-surat itu beragam; ada yang seribu, ada yang seratus dinar; ada yang di antara keduanya atau lebih sedikit, sesuai keadaan si faqir. Jika faqir yang memegang surat perintah itu bertemu dengan orang yang menyimpan nazar, ia menunjukkan suratnya. Orang itu pun memberikan bagian nazarnya kepada si faqir. Setelah itu, pemilik nazar menuliskan tanda di belakang surat perintah tentang berapa yang sudah ia serahkan.
Pernah suatu ketika Raja India sendiri bernazar untuk Syaikh Abu Ishaq sebesar sepuluh ribu dinar. Berita itu sampai ke telinga para faqir di zawiyah. Salah seorang di antara mereka berangkat ke India, menghadap raja, menerima nazar itu, lalu kembali membawanya ke zawiyah. Begitulah luasnya pengaruh seorang wali, yang namanya menyeberangi laut dan benua.
________________________________________
Kota al-Zaydin: Dua Zaid Sahabat Nabi
Dari Kazerun, perjalanan kami lanjutkan ke kota al-Zaydin. Kota ini diberi nama demikian karena di sana terdapat dua makam sahabat Nabi:
• Zaid bin Tsabit
• Zaid bin Arqam al-Anshari
Keduanya adalah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Semoga Allah meridhai mereka berdua.
Al-Zaydin adalah kota yang indah. Kebun-kebunnya banyak, airnya melimpah, pasar-pasarnya teratur dan bagus, dan masjid-masjidnya menakjubkan. Penduduknya dikenal sebagai orang-orang yang saleh, jujur, dan berpegang teguh pada agama.
Di antara penduduk al-Zaydin yang terkenal adalah seorang qadi (hakim) bernama Nuruddin al-Zaydani. Ia pernah berangkat menuju negeri India. Di sana, di sebuah gugusan pulau yang mereka sebut Dhibat al-Mahal, ia diangkat menjadi qadi.
Pulau-pulau itu dikuasai oleh seorang raja bernama Jalaluddin bin Salahuddin Shalih. Qadi Nuruddin menikahi saudari raja ini. Di kemudian hari, putri raja bernama Khadijah kelak memegang tampuk kekuasaan setelah ayahnya wafat. Kisah tentang raja Jalaluddin, putrinya Khadijah, dan kepulauan itu akan kuceritakan dalam bagian lain perjalananku. Di salah satu pulau itulah Qadi Nuruddin akhirnya wafat.
________________________________________
Al-Huwayza dan Jamaluddin al-Huwayza’i
Kami kemudian meninggalkan al-Zaydin dan bergerak menuju kota kecil bernama al-Huwayza, yang dinamai dengan huruf “zay” di akhirnya. Kota ini dihuni oleh orang-orang ajam (non-Arab). Jarak antara al-Huwayza dan Basrah adalah empat hari perjalanan, sedangkan jarak antara al-Huwayza dan Kufah adalah lima hari perjalanan.
Di kota yang kecil ini ada seorang syaikh saleh dan ahli ibadah bernama Jamaluddin al-Huwayza’i. Ia kelak menjadi syekh di sebuah khanqah (semacam zawiyah besar) yang terkenal di Kairo, bernama Khanqah Sa‘id al-Su‘ada. Nama dan wibawanya menyebar jauh melampaui kota kecil asalnya.
________________________________________
Menyebrangi Padang Tandus Menuju Kufah
Dari al-Huwayza, kami melanjutkan perjalanan menuju Kufah. Rute yang kami tempuh adalah padang tandus yang hampir tidak memiliki air. Hanya ada satu titik air yang dikenal orang-orang dengan nama al-Tarfawi.
Kami berjalan selama tiga hari, hingga akhirnya pada hari ketiga kami sampai di al-Tarfawi dan bisa mengisi kembali persediaan air. Setelah itu, kami berjalan lagi dua hari melewati padang yang sama keras dan sunyinya. Pada hari kedua setelah meninggalkan al-Tarfawi, kami akhirnya tiba di kota yang sarat sejarah: Kufah.
Di sanalah berakhir bagian kisah perjalanan ini, yang berawal dari lorong-lorong Shiraz yang hijau dan penuh ziarah, melewati makam para wali, ulama, penyair, dan sahabat Nabi, hingga membawaku ke gurun-gurun kering menuju detik-detik baru petualanganku di Kufah.
________________________________________
Sumber kisah:
Ibn Battuta, Rihlah Ibn Battuta

Komentar
Posting Komentar