Rihlah Ibnu Bathutah #26 : Kisah Sultan Syiraz Abu Ishaq dan Raja India

Ilustrasi istana India abad pertengahan yang megah, Raja India duduk di singgasana emas di samping timbangan raksasa. Di satu sisi timbangan duduk seorang ulama Khurasan berpakaian jubah tebal dan sorban putih, di sisi lain bertumpuk koin emas yang lebih berat darinya. Lantai marmer berornamen, pilar tinggi berukir, dan cahaya hangat dari lampu minyak menonjolkan suasana agung dan kedermawanan raja.

Kisah Sultan Syiraz dan Raja India

Di masa perjalananku ke negeri negeri Timur, aku singgah di sebuah kota yang indah dan makmur: Syiraz. Ketika itu, yang berkuasa di sana adalah Sultan Abu Ishaq bin Muhammad Syah Yanju, seorang raja muda yang rupawan, lembut perangai, dan terkenal dermawan. Ayahnya memberinya nama mengikuti nama seorang wali besar, Syekh Abu Ishaq al Kazruni, dengan harapan keberkahan tokoh itu menyertai putranya.

Walaupun lembut dalam budi, Abu Ishaq adalah penguasa yang kuat. Kerajaannya luas, tentaranya lebih dari lima puluh ribu orang, kebanyakan dari bangsa Turki dan non Arab. Namun ada satu hal yang sangat mencolok: ia jauh lebih percaya kepada orang orang Isfahan daripada kepada penduduk Syiraz sendiri. Orang orang Isfahan menjadi lingkaran dalam kekuasaannya, sedangkan warga Syiraz ia curigai dan dijauhkan dari urusan penting negara.

Ia sama sekali tidak mengizinkan penduduk Syiraz memegang senjata. Menurutnya, mereka terlalu berani, terlalu tangguh, dan tidak segan menantang raja. Siapa pun di Syiraz yang kedapatan membawa senjata akan dihukum.

Aku sendiri pernah melihat seorang laki laki diseret oleh para penjaga menuju hakim, lehernya diikat tali. Ketika aku bertanya apa kesalahannya, orang orang menjawab, “Dia ditemukan memegang busur panah pada malam hari.” Itulah beratnya larangan senjata di kota itu.

Ayah yang Dicintai dan Perubahan Kekuasaan

Sebelum Abu Ishaq naik takhta, ayahnya, Muhammad Syah Yanju, adalah gubernur Syiraz yang diangkat oleh Raja Irak. Muhammad Syah terkenal bijak dan berakhlak baik, sehingga penduduk Syiraz mencintainya.

Ketika Muhammad Syah wafat, kekuasaan di Syiraz berganti arah. Sultan besar di Irak, Abu Sa‘id, tidak mengangkat Abu Ishaq sebagai penerus, melainkan menunjuk seorang tokoh bernama Syekh Husain, putra al Juyyan, Amir al Umara (panglima para panglima). Ia dikirim ke Syiraz dengan pasukan yang besar.

Syekh Husain pun datang, mengambil alih Syiraz, dan mengatur seluruh pemasukan kota. Dari pengelola pajak di sana, al Hajj Qiwamuddin al Tumaghji, aku mendengar bahwa penghasilan pajak Syiraz begitu besar hingga ia sendiri menanggung setoran sepuluh ribu dinar dalam mata uang dirham setiap hari, yang setara dengan sekitar dua ribu lima ratus dinar emas Maghribi. Syiraz benar benar termasuk kota dengan pemasukan pajak terbesar yang pernah kulihat.

Syekh Husain tinggal di Syiraz dalam beberapa waktu, hingga kemudian ia berniat pergi menghadap Sultan Abu Sa‘id di Irak. Sebelum berangkat, ia mengambil langkah yang menggemparkan: ia menangkap Abu Ishaq bin Muhammad Syah Yanju, saudaranya Ruknuddin, seorang tokoh bernama Mas‘ud Bek, serta ibu mereka, Tash Khatun. Ia bermaksud membawa mereka ke Irak untuk menuntut harta peninggalan ayah mereka yang berada dalam kekuasaan pusat.

Perempuan yang Mengguncang Pasar Syiraz

Rombongan tawanan itu melintas di tengah pasar Syiraz. Tash Khatun, ibu Abu Ishaq, awalnya menutup wajahnya karena malu dilihat dalam keadaan sebagai tahanan. Padahal, adat wanita Turki umumnya tidak menutup wajah. Di tengah hiruk pikuk pasar, ia tak kuat lagi menahan diri. Ia menyibakkan cadarnya, menampakkan wajahnya, lalu berseru lantang kepada penduduk kota:

“Wahai penduduk Syiraz! Apakah kalian rela aku dikeluarkan dari tengah tengah kalian seperti ini? Aku adalah Fulanah, istri si Fulan (menyebut nama suaminya yang kalian kenal).”

Suasana mendadak hening, lalu bergetar. Di antara kerumunan itu, bangkit seorang tukang kayu bernama Bahlawan Mahmud. Aku pernah melihatnya saat pertama kali tiba di Syiraz, di salah satu sudut pasar. Ia berteriak:

“Kita tidak boleh membiarkan dia keluar dari negeri kita! Kita tidak rela ini terjadi!”

Orang orang pun mengikuti seruannya. Massa bangkit. Mereka nekat mengangkat senjata, melanggar larangan sultan. Pertempuran pecah di tengah kota. Banyak tentara Syekh Husain terbunuh, harta mereka dirampas, dan akhirnya Tash Khatun beserta anak anaknya berhasil dibebaskan oleh rakyat Syiraz.

Syekh Husain dan orang orangnya melarikan diri. Ia kemudian menghadap Sultan Abu Sa‘id di Irak dalam keadaan kalah memalukan.

Balas Serangan dan Perdamaian yang Terpaksa

Mendengar kabar itu, Sultan Abu Sa‘id murka, tetapi ia tetap mempercayakan urusan Syiraz kepada Syekh Husain. Ia mengirimnya kembali ke Syiraz dengan pasukan yang jauh lebih besar, memberi wewenang penuh untuk menundukkan penduduk kota dan memperlakukan mereka sesuka hatinya.

Ketika kabar kedatangan pasukan besar ini sampai ke Syiraz, penduduk menyadari mereka tidak akan sanggup melawan kekuatan sebesar itu untuk kedua kalinya. Mereka lalu sepakat mendatangi seorang tokoh yang disegani, Qadi Majduddin, dan memohon agar ia turun tangan mendamaikan kedua pihak, demi menyelamatkan darah penduduk kota dan tentara.

Qadi Majduddin keluar menemui Syekh Husain. Ketika melihat sang qadi, Syekh Husain turun dari kudanya untuk menghormatinya, menyalaminya dengan penuh takzim. Melalui perantaraan qadi inilah perdamaian disepakati.

Hari pertama, Syekh Husain memilih bermalam di luar kota. Keesokan harinya, penduduk Syiraz keluar menyambut rombongannya dengan tatanan yang rapi dan megah. Kota dihias, lampu lampu minyak dan lilin dinyalakan di banyak sudut, dan Syekh Husain memasuki Syiraz dalam satu iring iringan besar yang meriah. Setelah itu, ia memerintah penduduk dengan cara yang baik dan lembut.

Runtuhnya Abu Sa‘id dan Bangkitnya Abu Ishaq

Waktu berlalu. Sultan Abu Sa‘id wafat, dan garis keturunannya pun terputus. Kerajaan besar yang dahulu bersatu mulai retak. Setiap amir menguasai wilayah yang ada di tangannya dan memerintah seolah olah sebagai raja kecil.

Di tengah kekacauan ini, Syekh Husain merasa posisinya tidak lagi aman. Ia meninggalkan Syiraz. Di saat itulah Abu Ishaq bangkit dan berhasil menguasai kembali Syiraz, lalu memperluas kekuasaannya hingga mencakup Isfahan dan seluruh wilayah Fars. Luas kekuasaannya terbentang sejauh perjalanan sebulan setengah.

Kekuasaannya menguat, dan ambisinya tumbuh. Ia mulai memikirkan untuk menaklukkan negeri negeri di sekelilingnya. Sasaran pertama adalah negeri yang paling dekat: kota Yazd, yang dalam sebagian naskah ditulis Buzd.

Yazd adalah kota yang bersih, tertata, pasar pasarnya mengagumkan, dialiri sungai sungai kecil dan dikelilingi pepohonan hijau. Penduduknya kebanyakan pedagang, bermazhab Syafi‘i. Abu Ishaq mengepung kota itu dan berhasil menguasainya, tetapi penguasanya, Amir Muzaffar Syah bin Amir ‘Ali Syah bin Muzaffar, bertahan di sebuah benteng kuat yang terletak enam mil dari kota, dikelilingi padang pasir.

Muzaffar Syah: Pemberani dari Benteng Pasir

Di benteng inilah kisah keberanian yang luar biasa terjadi. Amir Muzaffar Syah menunjukkan keberanian yang menurutku melampaui kebiasaan dan jarang sekali terdengar padanannya.

Pada malam hari, ia sering memimpin serangan kecil ke perkemahan pasukan Sultan Abu Ishaq. Dengan sekelompok prajurit pilihan, ia menerobos kegelapan, menyerang tenda tenda, membunuh siapa saja yang sempat ia jangkau, merobek tenda dan kemah mereka, lalu kembali ke benteng tanpa seorang pun mampu menahannya.

Suatu malam, ia bahkan berani menyerang tenda utama tempat Sultan Abu Ishaq biasa beristirahat. Di sana, ia membunuh sejumlah orang dan berhasil membawa lari sepuluh ekor kuda terbaik milik sultan, lalu kembali dengan selamat ke bentengnya.

Melihat keberanian yang tak kunjung surut ini, Sultan Abu Ishaq mengeluarkan perintah khusus: setiap malam lima ribu pasukan berkuda harus disiagakan, dan beberapa posisi pengintaian (kudang kudang penyergapan) dibuat untuk menjebak Muzaffar Syah. Pasukan tambahan dari berbagai penjuru juga berdatangan.

Namun, sekali lagi, Muzaffar Syah mampu memerangi mereka, menerobos barisan, kembali ke bentengnya, dan hampir semua pengikutnya selamat. Hanya satu orang saja yang tertangkap dan dibawa menghadap Sultan Abu Ishaq.

Yang mengherankan, Sultan Abu Ishaq tidak menghukumnya. Ia justru memakaikan pakaian kehormatan kepada tawanan itu, membebaskannya, dan bahkan mengirimkannya kembali ke benteng Muzaffar dengan membawa surat jaminan keamanan. Dalam surat itu, sultan mengajak Muzaffar turun dari benteng dengan aman dan bergabung dengannya. Muzaffar menolak.

Pertemuan Dua Pemberani

Setelah itu, mereka saling berkirim surat. Di balik permusuhan, di hati Sultan Abu Ishaq tumbuh rasa kagum kepada Muzaffar Syah. Kegigihan dan keberaniannya membuat sultan ingin melihatnya secara langsung.

“Aku ingin melihat lelaki ini dengan mata kepalaku sendiri,” kurang lebih demikian isi tekad Sultan Abu Ishaq, “Jika aku sudah melihatnya, aku akan kembali dan meninggalkannya.”

Diputuskanlah sebuah pertemuan. Sultan berdiri di luar benteng, sementara Muzaffar Syah berdiri di pintu benteng, di balik gerbang yang kokoh. Mereka saling memberi salam.

Sultan berkata, “Turunlah, aku menjaminkan keamanan untukmu.”

Muzaffar menjawab, “Aku telah berjanji kepada Allah tidak akan turun menemui engkau sampai engkau sendiri masuk ke dalam bentengku. Saat engkau masuk ke dalam, barulah aku akan turun kepadamu.”

Tanpa ragu, Sultan Abu Ishaq berkata, “Baik, aku akan melakukannya.” Ia pun masuk ke dalam benteng dengan hanya ditemani sepuluh orang sahabat dekatnya.

Begitu sultan mendekati pintu benteng, Muzaffar turun dari kudanya, mencium tali kekang kuda sultan sebagai bentuk penghormatan, lalu berjalan di depan sultan dengan berjalan kaki. Ia mempersilakan sultan masuk ke rumahnya, menjamunya, dan menghidangkan makanan. Setelah makan bersama, mereka berdua keluar dari benteng dengan berkendara menuju perkemahan sultan.

Di hadapan pasukan, Sultan Abu Ishaq mendudukkan Muzaffar Syah di sisinya, memakaikannya pakaian kehormatan, dan memberinya harta yang besar. Keduanya pun mencapai kesepakatan: khutbah Jumat di wilayah Muzaffar dibacakan atas nama Sultan Abu Ishaq sebagai penguasa tertinggi, sementara negeri negeri itu tetap dibiarkan berada di bawah kekuasaan Muzaffar dan ayahnya. Setelah perjanjian itu, Sultan Abu Ishaq kembali ke negerinya.

Mimpi Besar: Menyamai Iwan Kisra

Pada suatu waktu, rasa cinta Abu Ishaq kepada keagungan mendorongnya untuk bermimpi besar: ia ingin membangun sebuah iwan (aula besar beratap tinggi, terbuka di satu sisi) seperti Iwan Kisra, aula megah raja raja Persia kuno.

Ia memerintahkan penduduk Syiraz untuk bergotong royong menggali fondasi bangunan itu. Warga kota menyambut proyek ini dengan antusias, bahkan berlebihan. Setiap kelompok profesi ingin tampil paling baik di hadapan sultan dan sesama warga.

Mereka membuat keranjang keranjang untuk mengangkut tanah dari kulit, tapi tidak dibiarkan polos: keranjang keranjang itu dilapisi kain sutra penuh hiasan. Alas punggung dan pelana hewan pengangkut tanah juga dilapisi kain sutra berwarna warni. Sebagian dari mereka bahkan membuat kapak dengan kepala dari perak murni. Pada malam hari mereka menyalakan banyak lilin, sehingga tempat kerja tampak seperti arena pesta.

Ketika menggali fondasi, orang orang itu mengenakan pakaian terbaik mereka, melilitkan kain sutra di pinggang, seolah hendak menghadiri pesta, bukan kerja kasar. Dari sebuah bangunan pandang yang tinggi, Sultan Abu Ishaq menyaksikan semua itu dengan senang hati.

Aku sendiri pernah melihat bangunan ini: dindingnya baru naik sekitar tiga hasta (kira kira satu setengah hingga dua meter) dari permukaan tanah. Setelah fondasi kokoh, sultan melepaskan penduduk dari kewajiban kerja bakti. Pekerjaan selanjutnya dikerjakan buruh upahan, dan ribuan orang didatangkan untuk mengerjakannya.

Seorang pejabat di kota berkata kepadaku, “Sebagian besar pemasukan pajak kota ini habis untuk membiayai bangunan ini.” Orang yang bertanggung jawab mengawasi proyek adalah Amir Jalaluddin al Falaki al Taurizi, seorang pembesar terkemuka. Ayahnya dulu adalah wakil dari menteri Sultan Abu Sa‘id yang bernama ‘Ali Syah Jilan.

Jalaluddin mempunyai saudara bernama Hibatullah, bergelar Baha’ al Mulk. Ia pernah diutus kepada Raja India pada saat aku juga diundang ke istana raja itu. Bersama kami, ada juga seorang tokoh bernama Syarf al Mulk Amir Yakht. Raja India menyambut kami, memakaikan pakaian kehormatan, memberikan tugas yang layak bagi masing masing, dan menetapkan tunjangan serta hadiah yang tetap. Dari sinilah aku mulai membandingkan kemurahan hati Abu Ishaq dengan Raja India.

Abu Ishaq dan Raja India: Dua Tingkatan Kedermawanan

Abu Ishaq ingin terkenal sebagai raja yang dermawan. Ia menjadikan Raja India sebagai teladan dalam soal ini. Namun, perbandingan di antara keduanya begitu jauh, sampai sampai aku teringat pepatah Arab: “Jauh sekali antara Tsurayya (gugusan bintang tinggi di langit) dan ats tsara (debu di tanah).”

Pemberian terbesar yang pernah kudengar dari Abu Ishaq adalah ketika ia menghadiahi seorang utusan bernama Syekh Zadah al Khurasani, yang datang dari Raja Herat, dengan tujuh puluh ribu dinar. Jumlah ini tentu sangat besar untuk ukuran banyak raja.

Namun Raja India, yang pernah kudatangi dan kusebutkan dalam catatan lain, biasa memberi hadiah yang berkali kali lipat lebih besar daripada itu, dan bukan hanya kepada satu orang, tetapi kepada orang orang Khurasan dan lainnya dalam jumlah yang sulit dihitung.

Untuk menggambarkan betapa besarnya kedermawanan Raja India, aku akan menceritakan beberapa kisah yang kusaksikan atau kualami sendiri.

Kisah Faqih dari Khurasan dan Tiga Belas Kantong Emas

Suatu hari, datang ke istana Raja India seorang ahli fikih dari Khurasan, kelahiran kota Herat, yang tinggal di Khwarazm. Namanya Amir ‘Abdullah. Ia diutus oleh seorang perempuan bangsawan, Khatun Turabak, istri Amir Qutlud Mur, penguasa Khwarazm, membawa hadiah untuk Raja India.

Raja menerima hadiah itu dengan senang, lalu membalasnya dengan hadiah yang nilainya berkali kali lipat lebih besar. Semua itu dikembalikan kepada sang khatun sebagai bentuk penghormatan. Adapun Amir ‘Abdullah, ia memilih untuk tetap tinggal di sisi Raja India, dan raja pun memasukkannya ke dalam lingkaran sahabat dekat istana.

Pada suatu hari, Raja India berkata kepadanya, “Masuklah ke gudang harta, dan ambillah emas dari sana sebanyak yang sanggup engkau bawa.”

‘Abdullah kembali ke rumahnya sebentar, lalu muncul dengan membawa tiga belas kantong kosong. Ia masuk ke gudang harta, mengisi masing masing kantong dengan emas sampai penuh, kemudian mengikat tiap kantong pada anggota badannya: di bahu, pinggang, tangan, dan sebagainya. Ia adalah seorang yang kuat, dan awalnya ia masih sanggup berdiri.

Namun ketika ia hendak keluar dari gudang, berat emas itu membuatnya jatuh tersungkur. Ia tidak mampu bangkit lagi.

Raja memerintahkan agar semua emas yang dibawanya itu ditimbang. Ternyata beratnya tiga belas mann menurut timbangan Delhi. Satu mann di sana sama dengan dua puluh lima ratl Mesir, dan setiap ratl adalah satu ukuran berat yang cukup besar. Setelah tahu beratnya, raja berkata, “Ambillah semuanya,” dan ‘Abdullah pun membawa pulang emas yang luar biasa banyak itu.

Menimbang Manusia dengan Emas

Kisah lain terjadi pada sahabat kami, Amir Yakht, yang bergelar Syarfuddin al Khurasani. Ia pernah sakit ketika berada di sisi Raja India. Raja sendiri datang menjenguknya.

Saat raja masuk ke kamarnya, Amir Yakht berusaha bangun dari tempat tidurnya untuk menghormati raja. Tetapi Raja India bersumpah bahwa ia tidak boleh turun dari “kat”-nya, yaitu tempat tidur yang biasa ia pakai. Sebagai gantinya, raja memerintahkan agar sebuah bantal sandaran istimewa, yang mereka sebut “al mura”, diletakkan untuknya. Raja duduk di sana, di samping si pasien.

Lalu raja memerintahkan agar emas dan timbangan besar dihadirkan. Ketika keduanya sudah di hadapan mereka, raja memerintahkan Amir Yakht duduk di salah satu anak timbangan. Amir Yakht berkata, “Wahai Tuanku Penguasa Alam, jika aku tahu engkau akan melakukan ini, tentu aku sudah mengenakan banyak pakaian.”

Raja menjawab, “Kalau begitu, pakailah sekarang semua pakaian yang engkau miliki.”

Amir Yakht lalu mengenakan semua pakaiannya, termasuk pakaian tebal musim dingin yang dilapisi kapas. Setelah itu ia duduk di salah satu sisi timbangan. Di sisi lainnya, para pelayan mulai menaruh emas koin sedikit demi sedikit, hingga akhirnya sisi yang berisi emas menjadi lebih berat daripada sisi yang didudukinya.

Setelah itu, Raja India berkata, “Ambillah semua emas ini, dan sedekahkanlah atas namamu,” lalu ia bangkit dan meninggalkan ruangan. Emas seberat tubuh seorang manusia dewasa itu diserahkan begitu saja kepada seorang sahabat yang sedang sakit.

Hujan Dinar untuk Seorang Ahli Hadis

Suatu waktu, datang pula ke India seorang ulama fakir bernama ‘Abd al ‘Aziz al Ardawili. Ia pernah belajar hadis di Damaskus dan menguasainya dengan baik. Raja India mengangkatnya sebagai salah satu ulama istana dan memberinya tunjangan seratus dinar dalam mata uang dirham setiap hari, setara kira kira dua puluh lima dinar emas. Itu baru tunjangan harian.

Pernah pada suatu hari, raja menghadiri majelis hadis yang dipimpin oleh ‘Abd al ‘Aziz. Ia menanyainya tentang satu tema tertentu, dan sang ulama menjawab dengan menyebutkan banyak hadis yang seluruhnya berkaitan dengan tema itu, dari hafalannya.

Raja sangat kagum akan daya hafalnya. Ia bersumpah demi kepalanya sendiri bahwa ia tidak akan meninggalkan majelis itu sebelum memberikan sesuatu kepadanya sesuai apa yang ia pandang layak.

Raja pun turun dari singgasananya, mendekati ‘Abd al ‘Aziz, lalu mencium kedua kakinya sebagai bentuk penghormatan kepada ilmu. Ia memerintahkan agar sebuah talam besar dari emas dibawa ke hadapan mereka, bentuknya seperti nampan bundar kecil. Raja memerintahkan agar seribu dinar emas diletakkan di dalam talam itu.

Setelah talam itu penuh, raja mengambilnya dengan kedua tangannya, lalu menumpahkan koin koin emas itu ke atas tubuh sang ulama. “Ini semua untukmu,” kata raja, “beserta talam emasnya.” Maka ‘Abd al ‘Aziz pun pulang dengan tubuh dan bajunya berkilauan oleh emas.

Hadiah Lima Puluh Ribu Dinar

Masih ada kisah lain. Seorang lelaki Khurasan bernama Abu al Syekh ‘Abd al Rahman al Asfara’ini, yang ayahnya dahulu pernah menetap di Baghdad, juga datang menghadap Raja India. Tanpa perdebatan panjang, raja memberinya lima puluh ribu dinar dalam mata uang dirham, ditambah kuda kuda, budak budak, dan pakaian kehormatan.

Itu baru sebagian kecil dari apa yang kulihat dan kudengar. Dalam bagian lain catatan perjalananku, ketika aku menceritakan negeri negeri India, aku akan menyebutkan lebih banyak lagi kisah tentang kemurahan hati raja ini.

Aku sengaja menuturkan kisah kisah ini di sini agar tampak jelas perbedaan tingkatan kedermawanan antara Sultan Abu Ishaq dari Syiraz dan Raja India. Abu Ishaq memang seorang raja yang mulia dan dermawan, tetapi untuk urusan kedermawanan, ia tetap tidak dapat menyamai tingkatan Raja India yang luar biasa.

________________________________________

Sumber kisah:

Ibn Battuta, Rihlah Ibn Battuta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengarungi Sungai Indus: Catatan Perjalanan Ibnu Battuta ke Negeri India

Menelusuri Jejak Para Wali: Dari Makam Al-Ghazali hingga Gerbang India

Jurhum dan Kaum ‘Amaliq: Jejak Bangsa-Bangsa Arab Purba