Postingan

Rihlah Ibnu Bathutah #26 : Kisah Sultan Syiraz Abu Ishaq dan Raja India

Gambar
Kisah Sultan Syiraz dan Raja India Di masa perjalananku ke negeri negeri Timur, aku singgah di sebuah kota yang indah dan makmur: Syiraz. Ketika itu, yang berkuasa di sana adalah Sultan Abu Ishaq bin Muhammad Syah Yanju, seorang raja muda yang rupawan, lembut perangai, dan terkenal dermawan. Ayahnya memberinya nama mengikuti nama seorang wali besar, Syekh Abu Ishaq al Kazruni, dengan harapan keberkahan tokoh itu menyertai putranya. Walaupun lembut dalam budi, Abu Ishaq adalah penguasa yang kuat. Kerajaannya luas, tentaranya lebih dari lima puluh ribu orang, kebanyakan dari bangsa Turki dan non Arab. Namun ada satu hal yang sangat mencolok: ia jauh lebih percaya kepada orang orang Isfahan daripada kepada penduduk Syiraz sendiri. Orang orang Isfahan menjadi lingkaran dalam kekuasaannya, sedangkan warga Syiraz ia curigai dan dijauhkan dari urusan penting negara. Ia sama sekali tidak mengizinkan penduduk Syiraz memegang senjata. Menurutnya, mereka terlalu berani, terlalu tangguh, dan tidak...

Sebab Hijrah Rasulullah ﷺ ke Madinah

Gambar
Doa Rasulullah Meminta Jalan Keluar Di Mekah, tekanan terhadap Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin semakin berat. Di tengah kesulitan itu, Allah mengajarkan kepada beliau sebuah doa yang agung, yang kelak menjadi isyarat akan datangnya perintah hijrah. Allah Ta'ala berfirman: وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَٱجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَـٰنًا نَّصِيرًا  “Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan masuk yang benar, dan keluarkanlah aku dengan keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.’” (QS. Al-Isra [17]: 80) Para ahli tafsir mengatakan: “Masukkanlah aku dengan masuk yang benar” adalah masuk ke Madinah, dan “Keluarkanlah aku dengan keluar yang benar” adalah keluar (hijrah) dari Mekah. Doa ini menjadi permohonan agar Allah segera memberikan jalan keluar dari tekanan di Mekah, dan menggantinya dengan tempat yang aman serta penolong-penolong yang setia. Menanti Izin Hijrah Satu demi satu, para sahabat t...

Rihlah Ibnu Bathutah #25 : Karomah Qadhi Majduddin dan Pertobatan Sultan di Syiraz

Gambar
Kisah Syaikh Quthbuddin, Perjalanan ke Syiraz, dan Karomah Qadhi Majduddin Suatu hari, ketika aku sedang menginap di sebuah zawiyah, Syaikh Quthbuddin datang menjengukku. Kamarku berada di bagian atas, menghadap ke sebuah kebun milik beliau. Hari itu pakaian-pakaiannya baru saja dicuci dan dijemur di kebun itu. Di antara jemuran itu, mataku tertumbuk pada sebuah jubah putih berlapis, yang di negeri itu disebut “hazramikhi”. Jubah itu sangat indah. Dalam hati aku berkata, tanpa seorang pun yang mendengar: “Jubah seperti inilah yang sebenarnya aku inginkan...” Tak lama, Syaikh Quthbuddin masuk menemuiku. Beliau memandang sejenak ke arah kebun, lalu berkata kepada salah seorang khadamnya: “Bawakan kepadaku pakaian hazramikhi itu.” Mereka segera mengambil jubah yang tadi kulihat dan membawanya kepada beliau. Tanpa banyak bicara, sang syaikh mendekat kepadaku dan memakaikan jubah itu di tubuhku. Aku sangat terharu. Aku hendak merendahkan diri di hadapannya; aku merunduk ingin mencium kedua ...

Hijrah: Perjalanan Suci dari Makkah ke Madinah

Gambar
Mimpi Nabi tentang Negeri Tujuan Di tengah tekanan dan penindasan yang semakin berat di Makkah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menerima petunjuk istimewa dari langit. Aisyah radhiyallahu anha mengisahkan bahwa suatu hari, ketika Nabi masih berada di Makkah, beliau bersabda kepada kaum muslimin tentang sebuah penglihatan yang luar biasa. Beliau melihat tempat hijrah mereka kelak. Sebuah tanah tandus yang dipenuhi pohon-pohon kurma, terletak di antara dua padang bebatuan hitam. Gambaran itu begitu jelas dalam benak beliau. Abu Musa Al-Asy'ari meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, "Aku melihat dalam mimpi bahwa aku berhijrah dari Makkah ke sebuah negeri yang banyak pohon kurmanya. Awalnya aku menduga bahwa itu Yamamah atau Hajar. Namun ternyata, negeri itu adalah Madinah yang dahulu bernama Yatsrib." Sebuah riwayat lain menyebutkan bahwa Allah memberikan pilihan kepada Nabi-Nya. Melalui wahyu, Nabi diberitahu bahwa tiga negeri terbentang di hadapannya sebagai pilihan te...

Kisah Berhala yang Tak Berdaya

Gambar
Malam yang Mengubah Segalanya Malam itu adalah malam yang bersejarah. Di sebuah bukit bernama Aqabah, tujuh puluh tiga lelaki dan dua perempuan dari Madinah diam-diam menemui Rasulullah ﷺ. Satu per satu mereka menggenggam tangan beliau, berjanji setia untuk membela Islam. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Baiat Aqabah Kedua. Ketika fajar menyingsing, mereka kembali ke Madinah dengan hati yang dipenuhi cahaya iman. Sesampainya di kampung halaman, mereka tak lagi menyembunyikan keyakinan mereka. Islam kini dianut secara terbuka. ________________________________________ Tetua yang Masih Terbelenggu Namun, tidak semua penduduk Madinah menyambut perubahan ini. Di antara para tetua yang masih kukuh menyembah berhala adalah seorang bangsawan bernama Amr bin Al-Jamuh. Ia adalah pemuka Bani Salamah — dihormati, disegani, dan sangat berpengaruh. Seperti kebanyakan pembesar Arab kala itu, Amr memiliki berhala pribadi dari kayu di rumahnya. Ia menamakannya Manat. Setiap hari ia merawatnya denga...