Sebab Hijrah Rasulullah ﷺ ke Madinah

Ilustrasi malam di Mekah, sekelompok pemuda Quraisy bersenjata mengepung rumah bergaya Arab, sementara sosok berjubah dengan selendang hijau keluar dengan tenang sambil menaburkan debu ke arah mereka di bawah cahaya bulan.

Doa Rasulullah Meminta Jalan Keluar

Di Mekah, tekanan terhadap Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin semakin berat. Di tengah kesulitan itu, Allah mengajarkan kepada beliau sebuah doa yang agung, yang kelak menjadi isyarat akan datangnya perintah hijrah.

Allah Ta'ala berfirman:

وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَٱجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَـٰنًا نَّصِيرًا 

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan masuk yang benar, dan keluarkanlah aku dengan keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.’”

(QS. Al-Isra [17]: 80)

Para ahli tafsir mengatakan:

“Masukkanlah aku dengan masuk yang benar” adalah masuk ke Madinah,

dan “Keluarkanlah aku dengan keluar yang benar” adalah keluar (hijrah) dari Mekah.

Doa ini menjadi permohonan agar Allah segera memberikan jalan keluar dari tekanan di Mekah, dan menggantinya dengan tempat yang aman serta penolong-penolong yang setia.

Menanti Izin Hijrah

Satu demi satu, para sahabat telah hijrah ke Madinah. Rasulullah ﷺ masih tinggal di Mekah, menunggu izin khusus dari Allah untuk hijrah.

Yang tersisa bersama beliau di Mekah hanyalah:

Orang-orang yang ditahan dan tidak diizinkan keluar.

Orang-orang yang difitnah dan dihalangi dari agamanya.

Dua sahabat dekat: Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar ash-Shiddiq ra.

Abu Bakar berkali-kali meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk hijrah. Namun beliau selalu menjawab:

“Jangan tergesa-gesa; mudah-mudahan Allah akan menjadikan untukmu seorang sahabat (dalam hijrah).”

Abu Bakar pun berharap besar bahwa sahabat yang dimaksud itu adalah dirinya sendiri.

Kekhawatiran Quraisy dan Rapat Darurat

Sementara itu, Quraisy melihat sesuatu yang sangat mereka takuti:

Rasulullah ﷺ telah mempunyai pendukung di luar Mekah: kaum muslimin di Madinah.

Para sahabat Muhajirin satu per satu meninggalkan Mekah menuju Madinah.

Mereka menyadari bahwa kaum muslimin kini memiliki negeri tempat tinggal dan kekuatan yang melindungi mereka.

Quraisy pun khawatir:

“Bagaimana jika Muhammad keluar menyusul para pengikutnya, lalu kembali memerangi kami dengan kekuatan baru?”

Maka para pemuka Quraisy sepakat mengadakan rapat penting di sebuah tempat bernama Dār an-Nadwah, rumah milik Qushay bin Kilab. Di sanalah mereka biasa memutuskan perkara-perkara besar.

Kedatangan “Syaikh dari Najd”

Hari itu disebut Yawmuz Zahmah (Hari Keramaian) karena para pembesar Quraisy berkumpul di Dār an-Nadwah. Ketika mereka hendak masuk, tiba-tiba muncul seorang lelaki tua yang tampak berwibawa, memakai selimut di pundaknya, berdiri di depan pintu.

Mereka bertanya, “Siapakah syaikh ini?”

Ia menjawab, “Aku seorang syaikh dari Najd. Aku mendengar bahwa kalian akan bermusyawarah tentang urusan Muhammad. Aku datang agar dapat mendengar pendapat kalian, dan semoga aku bisa memberi saran yang berguna.”

Mereka berkata, “Silakan masuk.”

Lelaki itu pun masuk. Padahal, sebagaimana diceritakan oleh para ulama sirah, ia sebenarnya adalah Iblis yang menjelma dalam rupa seorang syaikh dari Najd.

Di dalam, telah berkumpul para pembesar Quraisy: Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah, Abu Sufyan, Abu Jahl, Umayyah bin Khalaf, Hakim bin Hizam, an-Nadhr bin al-Harits, dan tokoh-tokoh besar lainnya.

Usulan-usulan Jahat terhadap Rasulullah ﷺ

Mereka berkata satu sama lain:

“Orang ini (Muhammad) telah melakukan sesuatu yang kalian semua sudah lihat. Kita tidak merasa aman kalau dia tiba-tiba menyerang kita bersama pengikut-pengikutnya dari luar. Maka tetapkanlah satu keputusan tentang dirinya.”

Mereka pun mengajukan beberapa usulan.

Usulan pertama: Memenjarakan Rasulullah ﷺ

Salah seorang dari mereka mengusulkan:

“Kita penjarakan saja dia dengan belenggu besi, kita kunci dia di dalam satu ruangan. Lalu kita biarkan saja sampai dia mati, sebagaimana para penyair sebelum dia: Zuhair, an-Nabighah, dan yang lainnya. Lama-lama dia akan mati dengan sendirinya.”

“Syaikh Najdi” (Iblis) menolak dengan tegas:

“Tidak, demi Allah, ini bukan pendapat yang baik!

Jika kalian memenjarakannya, urusannya akan keluar menembus pintu yang kalian kunci. Pengikut-pengikutnya akan datang menerjang kalian dan membebaskannya. Lalu mereka akan melawan kalian dengan jumlah yang besar, dan akhirnya menguasai urusan kalian. Ini bukan pendapat yang baik.”

Usulan kedua: Mengusir Rasulullah ﷺ dari Mekah

Seorang yang lain mengusulkan:

“Kalau begitu, kita usir saja dia dari tengah-tengah kita. Kita buang dia ke luar negeri ini. Jika dia sudah pergi, kita tidak peduli ke mana dia pergi. Yang penting dia jauh dari kita dan kita bisa kembali memperbaiki urusan dan persatuan kita seperti dulu.”

“Syaikh Najdi” kembali menolak:

“Tidak, demi Allah, ini juga bukan pendapat yang baik!

Kalian sudah tahu betapa indah bicaranya, manis ucapannya, dan kuat pengaruhnya terhadap hati manusia.

Jika kalian mengusirnya, aku tidak merasa aman dia akan singgah ke sebuah kabilah Arab, lalu menguasai hati mereka dengan kata-katanya, dan mereka semua mengikutinya.

Kemudian ia datang bersama mereka untuk memerangi kalian, menguasai negeri kalian, dan melakukan terhadap kalian apa saja yang ia kehendaki.

Carilah pendapat lain!”

Rencana Pembunuhan yang Disepakati

Saat itulah Abu Jahl mengajukan usul ketiga:

“Menurutku, ada satu pendapat yang kalian belum sampai kepadanya.

Kita ambil dari setiap kabilah seorang pemuda kuat, dari keluarga terhormat, yang paling berani.

Kita berikan kepada masing-masing mereka sebilah pedang tajam.

Lalu mereka datang bersama-sama kepada Muhammad, dan memukulnya serentak dengan satu pukulan.

Dengan begitu, kita bisa membunuhnya dalam satu waktu, dan kita pun terbebas darinya.

Jika itu terjadi, maka darahnya akan terbagi di antara seluruh kabilah.

Bani Abdi Manaf tidak akan sanggup memerangi semua kabilah sekaligus.

Pada akhirnya mereka akan rela menerima diyat (uang darah) dari kita, dan kita pun membayarnya.”

“Syaikh Najdi” langsung menyetujui:

“Pendapat yang benar adalah apa yang dikatakan lelaki ini.

Inilah pendapat yang terbaik, tidak ada selainnya.”

Maka mereka pun bersepakat bulat dengan rencana ini:

Malam itu, para pemuda dari berbagai kabilah akan mengepung rumah Nabi ﷺ dan membunuh beliau bersama-sama.

Peringatan dari Jibril

Saat mereka bersepakat, di saat yang sama Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata:

“Jangan engkau tidur malam ini di atas ranjangmu yang biasa engkau tiduri.”

Rencana besar Quraisy itu tidak tersembunyi dari Allah. Allah menjaga Nabi-Nya dengan cara yang menakjubkan.

Malam Pengepungan Rumah Nabi ﷺ

Pada malam hari, ketika keadaan sudah gelap, para pemuda Quraisy berkumpul di depan rumah beliau. Mereka mengintai, menunggu saat beliau tidur, agar bisa menerjang secara serentak.

Rasulullah ﷺ melihat mereka sudah mengepung rumah. Beliau lalu memanggil Ali bin Abi Thalib ra dan berkata:

“Tidurlah di atas ranjangku, dan selimutilah dirimu dengan burd (selimut) hijau Hadhrami milikku ini.

Engkau tidak akan ditimpa sesuatu pun yang tidak engkau sukai dari mereka.”

Rasulullah ﷺ memang biasa tidur dengan selimut hijau itu.

Malam itu, Ali ra berbaring di ranjang beliau, dengan selimut yang sama, sementara kaum musyrikin menyangka bahwa yang tidur di sana adalah Muhammad ﷺ.

Rasulullah ﷺ Keluar dan Menaburkan Debu

Sebagian riwayat menjelaskan, pada saat para pemuda Quraisy mengepung rumah dan Abu Jahl berada di antara mereka, ia berkata mengejek:

“Muhammad mengaku bahwa jika kalian mengikutinya, kalian akan menjadi raja-raja Arab dan non-Arab.

Lalu setelah kalian mati, kalian akan dibangkitkan dan diberi surga seperti kebun-kebun di Yordania.

Dan jika kalian tidak mengikutinya, maka akan terjadi penyembelihan di tengah kalian, lalu kalian dibangkitkan kembali dan dimasukkan ke dalam neraka!”

Pada saat itu, Rasulullah ﷺ keluar dari rumah, mendekati mereka tanpa mereka sadari. Beliau mengambil segenggam tanah di tangan beliau, lalu bersabda kepada Abu Jahl:

“Benar, aku mengatakan hal itu. Dan engkau salah seorang dari mereka (yang akan diazab).”

Kemudian Allah menutup penglihatan mereka sehingga mereka tidak melihat Rasulullah ﷺ sama sekali.

Beliau pun menaburkan tanah itu di atas kepala mereka satu per satu sambil membaca ayat-ayat dari surat Yā Sīn:

يس ۚ وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ تَنزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ 

“Yā Sīn.

Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah,

sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar salah seorang dari rasul-rasul,

yang berada di atas jalan yang lurus,

sebagai wahyu yang diturunkan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.”

(QS. Yā Sīn [36]: 1–5)

Hingga beliau membaca firman Allah:

وَجَعَلْنَا مِنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَـٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ 

“Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), kemudian Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”

(QS. Yā Sīn [36]: 9)

Tidak ada seorang pun dari mereka melainkan sudah ditaburi tanah di atas kepalanya. Namun mereka tidak menyadarinya. Rasulullah ﷺ pun berjalan meninggalkan mereka dan pergi ke arah yang beliau kehendaki, menuju langkah pertama dalam hijrah yang agung.

Terbongkarnya Kegagalan Quraisy

Tak lama kemudian, datang seseorang yang tidak ikut berjaga sejak awal. Ia bertanya kepada para pemuda Quraisy:

“Apa yang kalian tunggu di sini?”

Mereka menjawab, “Muhammad.”

Orang itu berkata:

“Celakalah kalian! Demi Allah, Muhammad telah keluar melewati kalian.

Tidak seorang pun di antara kalian melainkan ia telah menaruh tanah di atas kepala kalian.

Lalu ia pergi untuk urusannya.

Tidakkah kalian melihat apa yang ada di kepala kalian?”

Masing-masing dari mereka pun meletakkan tangannya di atas kepala.

Ternyata di atas kepala mereka memang ada tanah.

Mereka terkejut. Namun ketika mereka mengintip ke dalam rumah, mereka melihat sosok yang mereka kira adalah Muhammad ﷺ sedang berbaring di ranjang dengan selimut hijau beliau.

Mereka berkata:

“Demi Allah, Muhammad masih tidur; itu burd (selimut) miliknya.”

Mereka pun tetap menunggu hingga datang waktu pagi.

Saat fajar menyingsing, Ali bin Abi Thalib ra bangun dari ranjang itu.

Barulah mereka sadar bahwa mereka telah tertipu. Mereka pun berkata:

“Demi Allah, sungguh orang yang tadi berkata kepada kami itu benar-benar berkata benar.”

Ayat-ayat Al-Qur'an tentang Peristiwa Ini

Peristiwa besar ini diabadikan oleh Allah dalam beberapa ayat Al-Qur'an.

Tentang rencana jahat Quraisy untuk memenjarakan, membunuh, atau mengusir Rasulullah ﷺ, Allah berfirman:

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ ٱللَّهُ ۖ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلْمَـٰكِرِينَ 

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkapmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya, dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

(QS. Al-Anfal [8]: 30)

Tentang ucapan mereka yang menuduh Nabi sebagai penyair dan berharap beliau binasa, Allah berfirman:

 أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَّتَرَبَّصُ بِهِۦ رَيْبَ ٱلْمَنُونِ قُلْ تَرَبَّصُوا۟ فَإِنِّى مَعَكُم مِّنَ ٱلْمُتَرَبِّصِينَ 

“Ataukah mereka mengatakan, ‘Dia (Muhammad) adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.’

Katakanlah, ‘Tunggulah (olehmu), sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kalian.’”

(QS. Ath-Thur [52]: 30–31)

Setelah peristiwa malam itu, dan setelah ayat-ayat ini turun, Allah pun mengizinkan Rasulullah ﷺ untuk melaksanakan hijrah menuju Madinah. Di sanalah beliau akan membangun masyarakat Islam, mendapat perlindungan dari kaum Anshar, dan menjadikan Madinah sebagai pusat dakwah dan pemerintahan Islam.

Sumber Kisah

Ibnu Katsir, al-Bidāyah wan-Nihāyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Sahabat Anshar: Suwaid, Iyas, Rafi’ dan Mu’adz – Pertemuan dengan Nabi di Makkah dan Awal Islam di Madinah

Rihlah Ibnu Bathutah #23 : Dari Basrah ke Tustar dan Īydzaj

Rihlah Ibnu Bathutah #24 :Idaj dan Isfahan, Sultan Atabik & Negeri Lur