Malam yang Mengubah Segalanya
Malam itu adalah malam yang bersejarah. Di sebuah bukit bernama Aqabah, tujuh puluh tiga lelaki dan dua perempuan dari Madinah diam-diam menemui Rasulullah ﷺ. Satu per satu mereka menggenggam tangan beliau, berjanji setia untuk membela Islam. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Baiat Aqabah Kedua.
Ketika fajar menyingsing, mereka kembali ke Madinah dengan hati yang dipenuhi cahaya iman. Sesampainya di kampung halaman, mereka tak lagi menyembunyikan keyakinan mereka. Islam kini dianut secara terbuka.
________________________________________
Tetua yang Masih Terbelenggu
Namun, tidak semua penduduk Madinah menyambut perubahan ini.
Di antara para tetua yang masih kukuh menyembah berhala adalah seorang bangsawan bernama Amr bin Al-Jamuh. Ia adalah pemuka Bani Salamah — dihormati, disegani, dan sangat berpengaruh.
Seperti kebanyakan pembesar Arab kala itu, Amr memiliki berhala pribadi dari kayu di rumahnya. Ia menamakannya Manat. Setiap hari ia merawatnya dengan penuh khidmat — memandikannya, mengharumkannya, dan memujanya sebagai tuhan pelindung.
Yang menarik, putranya sendiri — Mu'adz bin Amr — justru termasuk di antara mereka yang berbaiat di Aqabah malam itu.
________________________________________
Konspirasi Para Pemuda
Beberapa pemuda Bani Salamah yang telah memeluk Islam — di antaranya Mu'adz putra Amr dan Mu'adz bin Jabal — berkumpul dan berunding. Bagaimana caranya membuka mata tetua mereka? Bagaimana caranya menunjukkan bahwa berhala itu tak lebih dari potongan kayu tak berdaya?
Mereka pun menyusun rencana.
"Kita tunjukkan kepada paman kita bahwa tuhan yang ia sembah bahkan tak mampu menjaga dirinya sendiri."
________________________________________
Malam Pertama
Ketika malam tiba dan Amr terlelap, para pemuda itu menyelinap ke rumahnya. Dengan hati-hati mereka mengangkat berhala Manat, membawanya keluar, lalu melemparkannya ke dalam lubang pembuangan sampah Bani Salamah — tempat yang penuh dengan kotoran dan najis. Berhala itu mereka letakkan terbalik, kepala di bawah.
Pagi harinya, Amr terbangun dan mendapati berhalanya lenyap.
"Celaka kalian! Siapa yang berani menganiaya tuhan kita semalam?!" teriaknya murka.
Ia mencari ke sana kemari hingga akhirnya menemukan Manat tergeletak di lubang kotoran. Dengan penuh kesabaran, ia mengangkatnya, memandikannya, mengharumkannya, lalu mengembalikannya ke tempat semula.
"Demi Allah," geramnya, "andai aku tahu siapa pelakunya, akan kupastikan ia malu seumur hidupnya!"
________________________________________
Malam Demi Malam
Namun malam berikutnya, kejadian yang sama terulang.
Dan malam berikutnya lagi.
Dan lagi.
Setiap pagi Amr menemukan tuhannya tergeletak hina di lubang sampah. Setiap pagi ia memungutnya, memandikannya, dan mengharumkannya. Setiap pagi ia mengumpat dan mengancam pelaku misterius itu.
Tapi para pemuda tak gentar. Mereka terus melanjutkan misi mereka.
________________________________________
Ujian Terakhir
Suatu hari, Amr kehabisan akal. Ia mengeluarkan berhala dari lubang sampah untuk kesekian kalinya, memandikannya, mengharumkannya, lalu melakukan sesuatu yang berbeda.
Ia mengambil pedangnya — pedang tajam yang selalu diandalkannya — dan menggantungkannya di leher berhala itu.
Dengan suara bergetar antara marah dan memohon, ia berkata:
"Wahai Manat, demi Allah, aku tidak tahu siapa yang terus memperlakukanmu seperti ini. Tapi jika memang ada kebaikan dalam dirimu, belalah dirimu sendiri! Ini pedang, sudah kusertakan bersamamu!"
Ia berharap malam itu berbeda. Ia berharap tuhannya akan melawan.
________________________________________
Pembongkaran Besar
Malam itu, para pemuda datang lagi.
Kali ini, mereka tersenyum melihat pedang tergantung di leher berhala.
Mereka mencabut pedang itu, lalu mencari seekor bangkai anjing yang sudah membusuk. Dengan seutas tali, mereka mengikat bangkai anjing itu pada berhala, lalu melemparkan keduanya ke dalam sumur yang penuh kotoran manusia.
Tuhan kayu itu kini terikat bersama bangkai najis, tenggelam dalam kehinaan.
________________________________________
Fajar Pencerahan
Pagi harinya, Amr mencari ke tempat biasa. Berhala tidak ada.
Ia mencari ke lubang sampah yang biasa. Tidak ada juga.
Dengan gelisah ia menelusuri jejak, bertanya ke sana kemari, hingga akhirnya ia sampai di tepi sumur itu. Ia menengok ke dalam, dan pemandangan yang ia lihat menghancurkan seluruh keyakinannya.
Di dasar sumur yang penuh kotoran, tergeletak Manat — tuhannya — terbalik, terikat dengan bangkai anjing yang membusuk.
Amr terdiam.
Lama ia berdiri di sana, menatap berhala yang selama ini ia sembah. Berhala yang tak pernah bisa membela dirinya sendiri. Berhala yang tak bisa mencegah dirinya dilempar ke lubang sampah, apalagi ke dasar sumur najis. Berhala yang tak bisa melepaskan diri dari ikatan bangkai anjing.
Inikah yang selama ini kusembah?
Inikah yang kumohon perlindungannya?
Inikah... tuhan?
________________________________________
Pintu Hati yang Terbuka
Saat itulah orang-orang dari kaumnya yang telah Islam menghampirinya. Dengan lembut mereka berbicara tentang Allah — Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, yang tidak membutuhkan siapa pun tapi semua makhluk membutuhkan-Nya.
Amr mendengarkan.
Dan kali ini, hatinya terbuka lebar.
Dengan rahmat Allah, Amr bin Al-Jamuh memeluk Islam. Bukan Islam yang setengah-setengah, tapi Islam yang sempurna dan indah. Ia menjadi Muslim yang taat dan kelak gugur sebagai syahid di medan Uhud.
________________________________________
Syair Kesadaran
Setelah memeluk Islam, Amr mengungkapkan perasaannya dalam bait-bait syair yang menyentuh:
Demi Allah, andai engkau benar-benar tuhan,
Takkan kau tergeletak bersama anjing di dasar sumur dalam satu ikatan
Cih! Betapa hina engkau yang kami anggap tempat bersandar,
Kini terbongkar sudah betapa buruk penipuan yang kami alami
Segala puji bagi Allah, Yang Maha Tinggi lagi Maha Pemberi,
Sang Pemberi Rezeki, Penguasa Hari Pembalasan
Dialah yang menyelamatkanku,
Sebelum aku menjadi tawanan dalam kegelapan kubur yang pekat
________________________________________
Mereka yang Berbaiat di Aqabah
Kisah Amr bin Al-Jamuh tidak bisa dilepaskan dari peristiwa besar yang melatarbelakanginya: Baiat Aqabah Kedua.
Menurut riwayat Ibnu Ishaq, mereka yang hadir berjumlah 73 lelaki dan 2 perempuan.
________________________________________
Sebelas Pahlawan dari Suku Aus
No Nama Keterangan
1 Usaid bin Hudhair Naqib (pemimpin)
2 Abu Al-Haitsam bin At-Taiyihan Veteran Badar
3 Salamah bin Salamah bin Waqsy Veteran Badar
4 Zhuhair bin Rafi' —
5 Abu Burdah bin Niyar Veteran Badar
6 Nuhair bin Al-Haitsam —
7 Sa'd bin Khaitsamah Naqib, syahid di Badar
8 Rifa'ah bin Abdul Mundzir Naqib, veteran Badar
9 Abdullah bin Jubair Veteran Badar, syahid di Uhud sebagai komandan pemanah
10 Ma'n bin Adi Sekutu Aus, syahid di Yamamah
11 Uwaim bin Sa'idah Veteran Badar
________________________________________
Enam Puluh Dua Kesatria dari Suku Khazraj
Di antara mereka:
Para Naqib (Pemimpin):
• As'ad bin Zurarah (Abu Umamah) — wafat sebelum Badar
• Sa'd bin Ar-Rabi' — syahid di Uhud
• Abdullah bin Rawahah — syahid di Mu'tah sebagai panglima
• Rafi' bin Malik
• Ubadah bin Ash-Shamit — veteran Badar dan seterusnya
• Sa'd bin Ubadah bin Dulaim
• Al-Mundzir bin Amr — syahid di Bi'r Ma'unah sebagai panglima
Pahlawan-Pahlawan Badar:
• Abu Ayyub Al-Anshari — wafat syahid di Konstantinopel pada masa Muawiyah
• Mu'adz, Auf, dan Mu'awwidz (putra-putra Afra')
• Abu Thalhah Zaid bin Sahl
• Mu'adz bin Jabal — wafat karena wabah Amwas pada masa Umar
• Khallad bin Suwaid — syahid di Bani Quraizhah, Nabi ﷺ bersabda bahwa ia mendapat pahala dua syahid
Dan puluhan nama lainnya yang masing-masing memiliki kisah kepahlawanan tersendiri.
________________________________________
Dua Wanita Pemberani
1. Ummu Umarah — Nusaibah binti Ka'b
Wanita luar biasa yang bukan hanya berbaiat, tapi juga ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ.
Putranya, Habib, dibunuh oleh Musailamah Al-Kadzdzab dengan cara yang mengerikan. Musailamah bertanya berulang kali:
"Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?"
"Ya!"
"Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah rasul Allah?"
"Aku tidak mendengar apa-apa."
Musailamah memotong tubuh Habib sedikit demi sedikit, tapi pemuda itu tak bergeming hingga syahid.
Ketika perang Yamamah untuk menumpas Musailamah, Ummu Umarah ikut serta. Ia pulang dengan 12 luka — tusukan dan tebasan — di tubuhnya.
Semoga Allah meridhainya.
2. Ummu Mani' — Asma' binti Amr
Wanita mulia dari Bani Salamah yang turut menyaksikan malam bersejarah itu.
Semoga Allah meridhainya.
________________________________________
Penutup
Kisah Amr bin Al-Jamuh adalah kisah tentang hidayah — bagaimana Allah membuka hati seseorang melalui cara-cara yang tak terduga.
Berhala yang ia sembah selama bertahun-tahun tak mampu melindungi dirinya sendiri dari ulah sekelompok pemuda. Sementara Allah — yang tak terlihat oleh mata tapi terasa oleh hati — mampu mengubah seorang penyembah berhala menjadi syahid di jalan-Nya.
Dan di balik kisah ini, ada tujuh puluh tiga lelaki dan dua perempuan yang rela mempertaruhkan segalanya demi sebuah keyakinan. Mereka adalah fondasi Islam di Madinah. Mereka adalah Anshar — para penolong.
Semoga Allah meridhai mereka semua.
________________________________________
Sumber:
Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Al-Hafizh Ibnu Katsir
Komentar
Posting Komentar