Hijrah: Perjalanan Suci dari Makkah ke Madinah

Ilustrasi perjalanan hijrah di padang pasir Arabia saat senja. Seorang wanita menggendong anak kecil di atas unta yang dituntun oleh seorang lelaki berjubah putih. Di kejauhan tampak siluet pohon kurma dan perkampungan Madinah. Suasana penuh pengorbanan dan harapan dalam perjalanan suci dari Makkah ke Madinah.

Mimpi Nabi tentang Negeri Tujuan

Di tengah tekanan dan penindasan yang semakin berat di Makkah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menerima petunjuk istimewa dari langit. Aisyah radhiyallahu anha mengisahkan bahwa suatu hari, ketika Nabi masih berada di Makkah, beliau bersabda kepada kaum muslimin tentang sebuah penglihatan yang luar biasa.

Beliau melihat tempat hijrah mereka kelak. Sebuah tanah tandus yang dipenuhi pohon-pohon kurma, terletak di antara dua padang bebatuan hitam. Gambaran itu begitu jelas dalam benak beliau.

Abu Musa Al-Asy'ari meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, "Aku melihat dalam mimpi bahwa aku berhijrah dari Makkah ke sebuah negeri yang banyak pohon kurmanya. Awalnya aku menduga bahwa itu Yamamah atau Hajar. Namun ternyata, negeri itu adalah Madinah yang dahulu bernama Yatsrib."

Sebuah riwayat lain menyebutkan bahwa Allah memberikan pilihan kepada Nabi-Nya. Melalui wahyu, Nabi diberitahu bahwa tiga negeri terbentang di hadapannya sebagai pilihan tempat hijrah: Madinah, Bahrain, atau Qinnasrin. Namun kemudian, hati beliau dimantapkan untuk memilih Madinah sebagai tujuan.

Begitu Nabi menyampaikan kabar ini, gelombang hijrah pun dimulai. Mereka yang siap segera berangkat menuju Madinah. Bahkan para sahabat yang sebelumnya telah mengungsi ke negeri Habasyah pun kembali dan bergabung menuju kota yang sama.
________________________________________
Izin Perang dan Perintah Hijrah

Sebuah babak baru dalam sejarah Islam terbuka ketika Allah Ta'ala menurunkan ayat yang mengizinkan kaum muslimin untuk berperang membela diri.

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ ۝ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ

"Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sesungguhnya Allah Mahakuasa menolong mereka. Yaitu orang-orang yang diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: Tuhan kami ialah Allah." (QS. Al-Hajj: 39-40)

Izin ini turun setelah kaum Anshar dari Madinah memberikan bai'at kepada Nabi. Mereka berjanji untuk memeluk Islam, menolong Nabi, dan melindungi siapa pun dari kaum muslimin yang datang kepada mereka.

Dengan jaminan ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun memerintahkan para sahabatnya untuk berangkat ke Madinah. Beliau bersabda dengan penuh kelembutan, "Sesungguhnya Allah telah menjadikan untuk kalian saudara-saudara dan negeri yang kalian akan merasa aman di dalamnya."

Satu per satu, para sahabat berangkat secara bertahap. Sementara itu, Rasulullah sendiri tetap tinggal di Makkah, menunggu izin dari Tuhannya untuk menyusul mereka.
________________________________________
Kisah Pilu Ummu Salamah: Terpisah dari Suami dan Anak

Di antara kisah hijrah yang paling memilukan adalah kisah Ummu Salamah. Kisahnya adalah potret pengorbanan seorang wanita mukminah yang harus menanggung perpisahan yang menyayat hati.

Abu Salamah adalah orang pertama dari kalangan Muhajirin Quraisy yang berhijrah ke Madinah. Ia berasal dari Bani Makhzum, dan hijrahnya terjadi setahun sebelum Bai'at Aqabah.

Ketika Abu Salamah memutuskan untuk berangkat, ia mempersiapkan unta untuk istrinya, Ummu Salamah. Sang istri digendongkan ke atas unta dengan putra kecil mereka, Salamah, dalam pangkuannya. Dengan penuh harap, Abu Salamah mulai menuntun unta itu, membawa keluarga kecilnya menuju kebebasan.

Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama.

Begitu lelaki-lelaki dari Bani Mughirah melihat mereka, mereka segera menghadang. Dengan kasar mereka berkata, "Dirimu sendiri boleh pergi, kami tak bisa menahanmu. Tapi saudari kami ini? Tidak! Kami tidak akan membiarkanmu membawanya pergi!"

Mereka merebut tali kekang unta dari tangan Abu Salamah dan mengambil Ummu Salamah secara paksa.

Melihat hal ini, Bani Abdul Asad — keluarga Abu Salamah — naik darah. Mereka berseru, "Jika kalian merebut dia dari sahabat kami, maka kami tidak akan membiarkan anak kami bersamanya!"

Terjadilah perebutan yang mengerikan. Anak kecil itu, Salamah, ditarik-tarik di antara kedua keluarga hingga tangannya terkilir. Akhirnya Bani Abdul Asad membawa pergi sang anak, sementara Bani Mughirah menahan Ummu Salamah. Dan Abu Salamah, dengan hati yang hancur, terpaksa berangkat sendirian ke Madinah.

Dalam satu malam, sebuah keluarga yang utuh tercerai-berai. Istri terpisah dari suami. Anak terpisah dari ibu. Sungguh ujian yang amat berat.

Setiap pagi, Ummu Salamah keluar ke lembah Abthah. Di sana ia duduk dan menangis sepanjang hari hingga sore tiba. Begitu terus berulang — hampir satu tahun lamanya.

Hingga suatu hari, seorang lelaki dari bani pamannya lewat dan melihat keadaannya yang memprihatinkan. Hatinya tersentuh. Ia mendatangi Bani Mughirah dan berkata, "Tidakkah kalian membiarkan wanita malang ini pergi? Kalian telah memisahkannya dari suami dan anaknya!"

Akhirnya mereka luluh. Mereka berkata kepada Ummu Salamah, "Pergilah menyusul suamimu jika kau mau."
Bani Abdul Asad pun mengembalikan anak kecil itu kepada ibunya. Dengan segera, Ummu Salamah mempersiapkan untanya, menggendong putranya di pangkuan, dan berangkat menuju Madinah. Sendirian. Tanpa siapa pun menemani.
________________________________________
Kemuliaan Utsman bin Thalhah

Ketika Ummu Salamah tiba di Tan'im — daerah di pinggir Makkah — seorang lelaki bernama Utsman bin Thalhah bin Abi Thalhah melihatnya. Ia dari Bani Abdul Dar, dan saat itu masih musyrik.

"Hendak ke mana, wahai putri Abu Umayyah?" tanyanya.
"Aku ingin menyusul suamiku di Madinah," jawab Ummu Salamah.
"Tidak adakah seseorang yang menemanimu?"
"Tidak ada seorang pun, kecuali Allah dan anakku ini."

Mendengar itu, Utsman bin Thalhah berkata dengan tegas, "Demi Allah, engkau tidak boleh dibiarkan pergi sendirian."

Ia pun mengambil tali kekang unta dan berjalan menemani Ummu Salamah. Sepanjang perjalanan, ia menunjukkan akhlak yang luar biasa mulia.

Setiap kali tiba di tempat istirahat, ia menambatkan unta, lalu menjauh memberi ruang privasi kepada Ummu Salamah untuk turun. Setelah itu, ia mengurus unta — melepas pelananya dan mengikatnya di pohon. Kemudian ia menjauh ke pohon lain dan berbaring di bawahnya.

Ketika waktu berangkat tiba, ia mempersiapkan unta kembali, memasang pelana, lalu menjauh seraya berkata, "Naiklah."

Setelah Ummu Salamah naik dan duduk dengan nyaman, barulah ia mendekat, mengambil tali kekang, dan menuntun unta itu. Begitu terus sepanjang perjalanan.

"Demi Allah," kata Ummu Salamah mengisahkan, "aku tidak pernah bepergian dengan seorang Arab pun yang lebih mulia darinya."

Ketika mereka tiba dan melihat perkampungan Bani Amr bin Auf di Quba, Utsman bin Thalhah berkata, "Suamimu ada di perkampungan itu. Masuklah dengan berkah Allah."

Kemudian ia berbalik dan kembali ke Makkah.

Ummu Salamah selalu mengenang kebaikan itu. Ia sering berkata, "Aku tidak mengetahui ada keluarga dalam Islam yang ditimpa musibah seperti keluarga Abu Salamah. Dan aku tidak pernah melihat pendamping perjalanan yang lebih mulia daripada Utsman bin Thalhah."

Kelak, Utsman bin Thalhah masuk Islam setelah Perjanjian Hudaibiyah dan berhijrah bersama Khalid bin Al-Walid. Pada hari Fathu Makkah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyerahkan kunci Ka'bah kepadanya dan kepada sepupunya Syaibah — sebuah amanah yang turun-temurun dalam keluarga mereka. Berkenaan dengan itu, turunlah firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya." (QS. An-Nisa: 58)

________________________________________
Umar bin Khaththab dan Ujian Ayyasy

Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu memiliki kisahnya sendiri. Ketika hendak berhijrah, ia membuat janji dengan dua sahabatnya: Ayyasy bin Abi Rabi'ah dan Hisyam bin Al-Ash. Mereka sepakat bertemu di Tanadub, sebuah tempat di atas bukit Sarif.

"Siapa pun yang tidak hadir di sana pada pagi hari, berarti ia tertahan. Maka kedua temannya boleh berangkat tanpa menunggu," begitu kesepakatan mereka.

Keesokan harinya, Umar dan Ayyasy sudah berada di tempat. Namun Hisyam tidak datang. Ia tertahan dan dipaksa murtad oleh kaumnya. Maka berangkatlah Umar dan Ayyasy berdua menuju Madinah, dan mereka tinggal di Quba bersama Bani Amr bin Auf.

Tak lama kemudian, datanglah Abu Jahal dan Al-Harits bin Hisyam ke Madinah mencari Ayyasy. Keduanya adalah sepupu sekaligus saudara seibu Ayyasy. Mereka membawa kabar yang menyentuh hati.

"Ibumu telah bernazar," kata mereka, "tidak akan menyisir rambutnya hingga melihatmu. Tidak akan berteduh dari matahari hingga bertemu denganmu."

Hati Ayyasy tersentuh. Kasihan kepada ibunya.

Umar segera menasihatinya, "Demi Allah, mereka hanya ingin memfitnahmu dari agamamu. Waspadalah! Demi Allah, kalau kutu sudah menyakiti ibumu, pasti ia akan menyisir. Kalau panas matahari sudah menyengatnya, pasti ia akan berteduh."

"Aku akan memenuhi nazar ibuku," jawab Ayyasy. "Dan aku punya harta di sana yang harus kuambil."
Umar tak menyerah. "Engkau tahu bahwa aku termasuk orang Quraisy yang paling banyak hartanya. Ambillah separuh hartaku, tapi jangan pergi bersama mereka!"

Namun Ayyasy tetap kukuh. Melihat keputusan itu sudah bulat, Umar berkata, "Kalau begitu, ambillah untaku ini. Ia unta yang tangguh dan jinak. Tetaplah di atas punggungnya. Jika kau mencurigai sesuatu dari mereka, larilah!"

Ayyasy berangkat dengan unta itu. Di tengah perjalanan, Abu Jahal berkata dengan nada bersahabat, "Wahai saudaraku, untaku sudah kelelahan. Maukah engkau bertukar denganku?"

Ayyasy setuju. Mereka berhenti dan turun dari unta masing-masing. Begitu Ayyasy berada di tanah, kedua lelaki itu menyerangnya. Mereka mengikatnya erat-erat, menyeretnya ke Makkah, dan memaksanya murtad.

Peristiwa ini mengguncang hati kaum muslimin. Mereka yang pernah murtad karena dipaksa merasa putus asa. "Allah tidak akan menerima taubat orang yang murtad," begitu mereka meyakini dengan sedih.
Hingga kemudian, setelah Rasulullah tiba di Madinah, Allah menurunkan ayat yang membawa harapan:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ۝ وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ۝ وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

"Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya." (QS. Az-Zumar: 53-55)

Umar menulis ayat-ayat ini dengan tangannya sendiri dan mengirimkannya kepada Hisyam bin Al-Ash di Makkah. Hisyam mengisahkan, "Ketika ayat itu sampai kepadaku, aku membacanya di Dzi Thuwa. Aku ulang-ulang membacanya, tapi tidak memahaminya. Hingga aku berdoa: Ya Allah, berilah aku pemahaman."

Maka Allah memasukkan keyakinan ke dalam hatinya bahwa ayat itu diturunkan untuk mereka — untuk orang-orang yang pernah murtad karena tekanan, dan untuk menyembuhkan keputusasaan mereka.

"Aku segera kembali ke untaku," lanjut Hisyam, "lalu menyusul Rasulullah di Madinah."

Kisah lain menyebutkan bahwa yang membawa Hisyam dan Ayyasy kembali ke Madinah adalah Al-Walid bin Al-Walid bin Al-Mughirah. Ia "mencuri" mereka dari Makkah, membawa keduanya di atas untanya sementara ia sendiri berjalan kaki. Dalam perjalanan itu, ia tersandung hingga jarinya berdarah. Dengan tenang ia berkata:

"Engkau hanyalah jari yang berdarah, dan di jalan Allah-lah semua ini terjadi."
________________________________________
Rumah Bani Jahsy yang Kosong

Abdullah bin Jahsy berhijrah bersama seluruh keluarganya. Ia membawa saudaranya Abu Ahmad — seorang lelaki buta yang biasa berkeliling Makkah tanpa pemandu — beserta istri, anak-anak, dan seluruh kerabat dari Bani Ghanm bin Dudan.

Kepergian mereka begitu menyeluruh hingga rumah Bani Jahsy kosong melompong, pintunya bergoyang-goyang tanpa penghuni.

Suatu hari, Utbah bin Rabi'ah lewat di depan rumah itu bersama Al-Abbas bin Abdul Muththalib dan Abu Jahal. Melihat kekosongan itu, Utbah menghela napas panjang dan melantunkan syair:

"Setiap rumah, walaupun keselamatannya lama, suatu hari akan ditimpa malapetaka dan musibah."
Kemudian ia berkata dengan nada sendu, "Rumah Bani Jahsy telah kosong dari penghuninya."
Abu Jahal menyahut dengan sinis, "Apa yang kau tangisi dari orang-orang hina itu?" Lalu ia menoleh kepada Al-Abbas dan berkata dengan tajam, "Ini semua ulah anak saudaramu! Ia memecah belah jamaah kita, merusak urusan kita, dan memutus hubungan di antara kita."

Sementara itu, Abu Ahmad bin Jahsy merekam perasaan mereka dalam bait-bait syair yang menyentuh. Ia menceritakan bagaimana istrinya, Ummu Ahmad, awalnya keberatan dengan keputusan hijrah. Ia ingin pergi ke mana saja, asal jangan Yatsrib.

Namun Abu Ahmad menjawab dengan penuh keyakinan, "Wajahku menuju Allah dan Rasul. Dan siapa yang menghadapkan wajahnya kepada Allah, tidak akan pernah kecewa."
Ia terus melantunkan:

"Betapa banyak sahabat setia yang kami tinggalkan, dan wanita-wanita yang menangis meratap. Mereka melihat kepergian kami sebagai luka. Sedangkan kami melihat bahwa yang kami cari adalah keinginan yang mulia."

________________________________________
Shuhaib yang Mengorbankan Seluruh Hartanya

Kisah pengorbanan lain datang dari Shuhaib bin Sinan. Ketika ia hendak berhijrah, orang-orang kafir Quraisy menghadangnya.

"Engkau datang kepada kami sebagai orang miskin yang hina," kata mereka. "Lalu hartamu bertambah banyak di negeri kami. Engkau mencapai kedudukan tinggi. Sekarang engkau mau pergi dengan harta dan dirimu? Demi Allah, itu tidak akan terjadi!"

Shuhaib berpikir sejenak, lalu bertanya, "Bagaimana jika aku serahkan seluruh hartaku kepada kalian? Apakah kalian akan membiarkanku pergi?"

"Ya," jawab mereka.
"Kalau begitu, ambillah semua hartaku."
Ia meninggalkan segalanya — hasil jerih payah bertahun-tahun — demi bisa menyusul Rasulullah.
Suatu malam, Shuhaib memutuskan untuk berangkat. Beberapa pemuda Quraisy mengawasi rumahnya. Malam itu ia terus berdiri mondar-mandir, tidak tidur. Para pengawas mengira ia sedang sakit perut.
"Allah telah menyibukkan dia dengan perutnya," kata mereka. Padahal Shuhaib sama sekali tidak sakit.

Ketika mereka tertidur, Shuhaib menyelinap keluar. Namun setelah berjalan sejauh satu barid, beberapa orang menyusulnya. Shuhaib berkata, "Aku akan tunjukkan tempat hartaku tersembunyi. Galilah di bawah ambang pintuku, di sana ada uqiyah-uqiyah emas. Dan datanglah kepada si fulanah, ambillah dua kain yang ada padanya."

Mereka pun membiarkannya pergi.
Shuhaib terus berjalan hingga tiba di Quba, saat Rasulullah masih berada di sana — belum pindah ke Madinah. Ketika Nabi melihatnya dari kejauhan, beliau tersenyum dan bersabda, "Wahai Abu Yahya, untunglah jual-beli itu! Untunglah jual-beli itu! Untunglah jual-beli itu!"
Shuhaib heran. "Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun yang mendahuluiku datang kepadamu. Siapa yang memberitahumu?"
"Tidak ada," jawab Nabi, "kecuali Jibril."
________________________________________
Gelombang Muhajirin Tiba di Madinah

Para Muhajirin terus berdatangan secara bertahap. Al-Bara' bin Azib mengisahkan urutan kedatangan mereka.

Yang pertama tiba adalah Mush'ab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum. Keduanya langsung mengajarkan Al-Qur'an kepada penduduk Madinah.
Kemudian datang Bilal, Sa'd bin Abi Waqqash, dan Ammar bin Yasir.
Setelah itu, Umar bin Khaththab tiba bersama dua puluh orang sahabat Nabi.
Dan akhirnya, yang paling ditunggu-tunggu datang — Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri.

"Aku tidak pernah melihat penduduk Madinah bergembira dengan sesuatu sebagaimana kegembiraan mereka dengan kedatangan Rasulullah," kata Al-Bara'. "Hingga para budak perempuan pun berseru-seru: Telah datang Rasulullah! Telah datang Rasulullah!"

Al-Bara' yang saat itu masih kecil menambahkan, "Beliau tidak datang hingga aku sudah hafal surah Sabbihisma Rabbikal A'la dan beberapa surah lain dari Al-Mufashshal."
________________________________________
Tuan Rumah yang Merangkul Para Muhajirin

Penduduk Madinah — kaum Anshar — membuka pintu rumah mereka lebar-lebar untuk saudara-saudara mereka yang baru datang.

Abu Salamah, Amir bin Rabi'ah, dan keluarga Bani Jahsy tinggal di Quba bersama Mubassyir bin Abdul Mundzir.

Umar bin Khaththab bersama rombongannya — saudaranya Zaid bin Khaththab, Sa'id bin Zaid, Khunais bin Hudzafah yang kelak menjadi suami Hafshah, dan lainnya — tinggal bersama Rifa'ah bin Abdul Mundzir di Quba.

Hamzah bin Abdul Muththalib, Zaid bin Haritsah, dan beberapa sahabat lainnya tinggal bersama Kultsum bin Al-Hidm.
Abdurrahman bin Auf tinggal bersama Sa'd bin Ar-Rabi' — sahabat Anshar yang kelak membagi hartanya menjadi dua dan menawarkan separuhnya kepada Abdurrahman.

Az-Zubair bin Al-Awwam tinggal bersama Mundzir bin Muhammad di Al-Ushbah.

Mush'ab bin Umair tinggal bersama Sa'd bin Mu'adz, pemuka Bani Abdul Asyhal.
Utsman bin Affan tinggal bersama Aus bin Tsabit — saudara penyair terkenal Hassan bin Tsabit — di perkampungan Bani Najjar.
Para bujangan dari Muhajirin tinggal bersama Sa'd bin Khaitsamah, karena ia sendiri belum menikah.

Thalha bin Ubaidillah dan Shuhaib bin Sinan tinggal bersama Khubaib bin Isaf di As-Sanh.

Ibnu Umar mengisahkan bahwa ayahnya Umar, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, dan Salim — mantan budak Abu Hudzaifah — pernah tinggal bersama di Al-Ushbah. Yang mengimami shalat mereka adalah Salim, karena ia yang paling banyak hafalan Al-Qur'annya di antara mereka.
________________________________________
Penutup: Pengorbanan demi Iman

Begitulah kisah hijrah para sahabat — sebuah perjalanan yang diwarnai air mata, pengorbanan, dan keimanan yang teguh. Mereka meninggalkan rumah, harta, keluarga, dan kampung halaman, semata-mata karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ada yang terpisah dari anak dan suami selama setahun. Ada yang menyerahkan seluruh hartanya. Ada yang ditipu dan dipaksa murtad, namun kemudian kembali ke jalan yang benar. Ada yang berjalan kaki menuntun unta demi menolong wanita yang tak dikenalnya.
Mereka adalah generasi terbaik. Generasi yang Allah puji dalam firman-Nya dan Rasul-Nya abadikan dalam sejarah.

Kisah mereka bukan sekadar masa lalu. Ia adalah cahaya yang menerangi jalan kita — mengajarkan bahwa iman sejati selalu menuntut pengorbanan, dan bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan orang-orang yang berjuang di jalan-Nya.

________________________________________
Sumber: Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Al-Hafizh Ibnu Katsir

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Sahabat Anshar: Suwaid, Iyas, Rafi’ dan Mu’adz – Pertemuan dengan Nabi di Makkah dan Awal Islam di Madinah

Rihlah Ibnu Bathutah #23 : Dari Basrah ke Tustar dan Īydzaj

Rihlah Ibnu Bathutah #24 :Idaj dan Isfahan, Sultan Atabik & Negeri Lur