Rasulullah ﷺ: Pahlawan Sejati, Penepati Janji, dan Pribadi Pemaaf
Keberanian yang Tak Tertandingi
Rasulullah ﷺ
memiliki kedudukan tertinggi dalam keberanian, kekuatan, dan keteguhan
menghadapi maut. Beliau pernah bergulat dengan Rukanah bin Yazid dan
mengalahkannya —padahal belum pernah ada yang mampu mengalahkan
Rukanah. Peristiwa ini menjadi sebab masuk Islamnya Rukanah.
Beliau hadir di medan-medan perang yang dahsyat. Para
pemberani dan kesatria sering kali melarikan diri, tetapi Rasulullah ﷺ
tetap tegak, tidak mundur, tidak beranjak. Tidak ada seorang pemberani
pun yang tercatat pernah melarikan diri kecuali selain beliau.
Anas bin Malik berkata:
“Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling tampan dan paling
berani. Suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suara gemuruh. Orang-orang
berjalan menuju arah suara. Ternyata Rasulullah ﷺ telah mendahului
mereka dan kembali dari arah suara itu dengan menunggang kuda milik Abu
Thalhah, pedang tergantung di lehernya, seraya bersabda: ‘Jangan takut, jangan
takut.’” (HR. Bukhari-Muslim)
Ali bin Abi Thalib berkata:
“Ketika pertempuran semakin sengit dan mata memerah, kami
berlindung di belakang Rasulullah ﷺ. Tidak ada seorang pun yang lebih dekat
kepada musuh daripada beliau. Sungguh, aku melihat sendiri pada Perang Badar,
kami berlindung di balik Nabi ﷺ, dan beliau adalah yang paling dekat dengan musuh. Beliau
adalah orang yang paling pemberani.” (HR. Ahmad)
Dan inilah kesaksian dari Ali sendiri
—sosok pemberani yang tak diragukan lagi.
Keberanian Spiritual: Bersama Hati yang Lembut
Rasulullah ﷺ
menggabungkan antara keberanian fisik dan keberanian spiritual yang
luar biasa. Suatu ketika, pamannya Abu Thalib berkata: “Wahai
putra saudaraku, selamatkanlah dirimu dan diriku.” Beliau mengira pamannya akan
melepaskannya. Maka beliau bersabda dengan tegas:
“وَاللَّهِ
يَا عَمِّ، لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي، وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي،
عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللَّهُ أَوْ أَهْلِكَ
دُونَهُ مَا تَرَكْتُهُ”
Artinya: “Demi Allah, wahai pamanku, sekalipun mereka
meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku
meninggalkan urusan (dakwah) ini, sampai Allah memenangkannya atau aku binasa
karenanya, aku tidak akan meninggalkannya.”
Kebesaran jiwa ini membuat Abu Thalib terpukau, lalu ia
berkata: “Pergilah, katakan apa yang engkau sukai. Demi Allah, aku tidak akan
menyerahkanmu kepada siapa pun selamanya!”
Tangisan Rahmat, Bukan Kelemahan
Meskipun pemberani, Rasulullah ﷺ adalah orang yang penyayang,
lembut hati, dan mudah menangis karena rahmat. Ketika melihat Mus'ab
bin Umair —yang tumbuh dalam kemewahan tetapi kini hidup dalam
kesederhanaan setelah beriman—beliau menangis.
Ketika diizinkan mengunjungi makam ibunya di Al-Abwa',
beliau menangis dan membuat orang-orang di sekitarnya ikut menangis. Ketika
putranya Ibrahim meninggal, beliau menangis dan bersabda:
“الْعَيْنُ
تَدْمَعُ، وَالْقَلْبُ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا،
وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ”
Artinya: “Mata menangis, hati bersedih, dan kami tidak
mengatakan kecuali apa yang diridhai Tuhan kami. Sungguh, karena kepergianmu
wahai Ibrahim, kami bersedih.”
Abdurrahman bin 'Auf bertanya: “Apakah engkau
juga, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “يَا ابْنَ عَوْفٍ، إِنَّهَا رَحْمَةٌ” (Wahai
Ibnu 'Auf, ini adalah rahmat).
Ketika menjenguk Sa'ad bin 'Ubadah yang
sakit hingga pingsan, beliau menangis bersama para sahabat, lalu bersabda:
“إِنَّ
اللَّهَ لَا يُؤَاخِذُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ، وَلَا بِحَزَنِ الْقَلْبِ، وَإِنَّمَا
يُؤَاخِذُ بِهَذَا” – dan beliau menunjuk ke
lidahnya.
Dan dalam kesempatan lain: “إِنَّهَا رَحْمَةٌ، وَإِنَّمَا
يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ” (Ini adalah
rahmat. Dan sesungguhnya Allah merahmati hamba-hamba-Nya yang penyayang).
Nabi yang Paling Menepati Janji
Rasulullah ﷺ
adalah manusia paling setia pada janji, paling menjaga komitmen,
dan paling menyambung silaturahmi —baik sebelum kenabian maupun sesudahnya.
Beliau mengadakan perjanjian dengan Yahudi dan musyrik, dan beliau
tidak pernah mengkhianati. Pengkhianatan justru datang dari pihak mereka.
Setelah wafatnya Khadijah, beliau selalu menyebut
namanya dan memujinya hingga Aisyah cemburu. Beliau juga menyayangi
orang-orang yang dicintai Khadijah. Beliau menyembelih kambing, memotongnya,
dan bersabda: “أَرْسِلُوا
إِلَى صَدِيقَاتِ خَدِيجَةَ” (Kirimkanlah kepada teman-teman
Khadijah).
Halah binti Khuwailid (saudara perempuan
Khadijah) pernah meminta izin menemui beliau. Beliau menyambutnya dengan
sukacita karena suaranya mengingatkan beliau pada Khadijah.
Suatu ketika, seorang wanita tua yang pernah menjadi teman
Khadijah datang. Rasulullah ﷺ
menanyakan keadaannya dengan penuh perhatian. Setelah wanita itu pergi, Aisyah
berkata: “Engkau begitu perhatian kepada wanita tua itu?” Beliau menjawab:
“إِنَّهَا
كَانَتْ تَأْتِينَا زَمَانَ خَدِيجَةَ، وَإِنَّ حُسْنَ الْعَهْدِ مِنَ الْإِيمَانِ”
Artinya: “Dahulu ia sering datang kepada kami pada masa
Khadijah. Sungguh, baik dalam menepati janji adalah bagian dari iman.” (HR.
Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Bahkan, beliau berwasiat untuk menepati janji terhadap hewan.
Dalam kisah seorang wanita yang bernazar jika selamat naik unta akan
menyembelihnya, beliau bersabda: “Alangkah buruk balasanmu kepada unta
itu. Allah menyelamatkanmu di atasnya, lalu engkau menyembelihnya?”
Setia kepada Musuh dan Memenuhi Perjanjian
Rasulullah ﷺ
setia kepada musuh sekalipun. Dalam Perjanjian Hudaibiyah, beliau
mengembalikan Abu Jandal dan Abu Bashir yang
datang sebagai Muslim, meskipun hal itu memberatkan beliau dan para sahabat.
Allah kemudian memberi jalan keluar bagi mereka.
Ketika Umrah Qadha', beliau hanya tinggal tiga hari
di Mekah dengan pedang tersarung. Ketika masa tiga hari habis, utusan Quraisy
meminta beliau keluar. Sebagian sahabat keberatan, tetapi Rasulullah ﷺ
memerintahkan mereka pergi karena memenuhi janji. Beliau baru
mengadakan walimah pernikahan dengan Maimunah di Sarif (di
luar Mekah).
Bahkan, kesetiaan beliau melampaui batas: beliau
memerintahkan agar Amr bin Al-Jamuh dan Abdullah bin Haram (ayah Jabir) —dua
syuhada Uhud yang bersahabat baik—dikubur dalam satu liang lahat karena
persahabatan mereka di dunia.
Beliau juga sangat menyambung silaturahmi. Beliau bersabda:
“إِنَّ
آلَ فُلَانٍ لَيْسُوا بِأَوْلِيَائِي، إِنَّمَا وَلِيِّيَ اللَّهُ وَصَالِحُ
الْمُؤْمِنِينَ، غَيْرَ أَنَّ لَهُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبِلَالِهَا”
Artinya: “Sesungguhnya keluarga si fulan bukanlah
kekasihku. Kekasihku hanyalah Allah dan orang-orang mukmin yang saleh. Namun
mereka memiliki hubungan kerabat yang akan aku sambung sebagaimana mestinya.” (HR.
Bukhari-Muslim)
Pemaaf dan Penyantun: Sifat yang Diedepankan Allah
Allah telah mendidik Nabi-Nya dengan sifat pemaaf,
penyantun, dan sabar. Firman-Nya:
خُذِ
الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Artinya: “Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang
makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A'raf:
199)
Jibril menafsirkan ayat ini: “Allah
memerintahkanmu untuk menyambung orang yang memutuskanmu, memberi orang yang
tidak memberimu, dan memaafkan orang yang menzalimimu.”
Dan firman-Nya:
وَجَزَاءُ
سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى
اللَّهِ
Artinya: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan
yang serupa. Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas
Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)
وَلَمَنْ
صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Artinya: “Tetapi siapa yang sabar dan memaafkan, sungguh
yang demikian itu termasuk perbuatan yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura:
43)
Tidak heran, Rasulullah ﷺ bagaikan lautan tawar yang tidak keruh
oleh batu yang dilemparkan ke dalamnya, tidak pernah habis oleh timba. Tidak
pernah beliau membalas dendam untuk dirinya sendiri, kecuali jika
kehormatan Allah dilanggar, maka beliau membalas karena Allah. (HR. Muslim)
Kisah Zaid bin Sa'nah: Kesabaran yang Meluluhkan Hati
Zaid bin Sa'nah —seorang Yahudi—datang sebelum
masuk Islam menagih utang kepada Rasulullah ﷺ yang belum jatuh tempo. Ia menarik
selendang beliau dari bahu hingga membekas, dan berkata kasar: “Wahai Bani
Abdul Muthalib, kalian suka menunda-nunda pembayaran!”
Umar marah dan membentaknya. Namun Rasulullah ﷺ
tersenyum, lalu bersabda: “Wahai Umar, aku dan dia lebih membutuhkan
saran yang berbeda darimu. Engkau harus memerintahku untuk membayar dengan
baik, dan memerintahnya untuk menagih dengan baik.”
Kemudian beliau bersabda: “Masih tersisa tiga hari
dari masa tenggangnya.” Beliau memerintahkan Umar untuk membayarnya
dan menambah 20 sha' kurma karena Umar telah
menakut-nakutinya.
Peristiwa ini membuat Zaid masuk Islam. Ia berkata: “Tidak
tersisa satu pun tanda kenabian yang aku ketahui kecuali telah aku lihat pada
Muhammad. Dua tanda yang tersisa: kesabarannya melebihi kebodohan yang
dihadapinya, dan kebodohan tidak menambahnya kecuali kesabaran. Aku telah
mengujinya dan menemukannya seperti yang disebutkan.”
Ini di atas keadilan. Keadilan hanya menuntut pembayaran
tanpa tambahan. Namun Rasulullah ﷺ menambah sebagai bentuk kebaikan.
Kisah Badui Kasar yang Dibalas Senyuman
Seorang badui datang, menarik beliau dengan keras hingga
bekasnya membekas di bahu, lalu berkata: “Wahai Muhammad, bawakan
untukku di atas dua untaku ini dari harta Allah yang ada padamu, karena engkau
tidak membawakanku dari hartamu atau hartamu ayahmu!”
Rasulullah ﷺ
diam, lalu bersabda: “Harta itu milik Allah, dan aku adalah hamba-Nya.” Kemudian
beliau bertanya: “Apakah engkau akan dihukum karena perbuatanmu itu?” Badui
itu menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya: “Mengapa?” Badui itu menjawab: “Karena
engkau tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.”
Mendengar itu, Rasulullah ﷺ tertawa, gembira dengan jawabannya, lalu
memerintahkan agar badui itu diberi muatan jelai dan kurma.
Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah
Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)
Komentar
Posting Komentar