Kebesaran Kepribadian Nabi Muhammad ﷺ: Fenomena yang Menggetarkan Musuh dan Meluluhkan Hati

Pendahuluan: Sumber Kekuatan Kepribadian

Siapa pun yang menelusuri sejarah, baik para rasul, nabi, raja, penguasa, maupun tokoh pembawa ideologi dan gerakan reformasi, akan mendapati bahwa mereka memiliki kepribadian yang kuat yang memungkinkan mereka mempengaruhi orang-orang di sekitarnya, membuat perkataan mereka didengar dan perintah mereka dipatuhi.

Sumber kekuatan kepribadian bisa bermacam-macam:

  • Ada yang karena kekerasan, kesombongan, dan tindakan tegas terhadap siapa pun yang berbeda pendapat atau menyaingi kekuasaan mereka.
  • Ada yang karena keunggulan fisik, kekuatan, keberanian, dan kepahlawanan, terutama di medan perang.
  • Ada yang karena kewibawaan dan wibawa yang dianugerahkan Allah, disertai akhlak mulia dan keutamaan yang memaksa orang untuk menghormatinya, seperti keadilan, kasih sayang, kebaikan, dan kedermawanan.
  • Ada pula yang karena berasal dari keluarga terhormat yang mewarisi kejayaan turun-temurun.

Para rasul Allah, terutama mereka yang memiliki keteguhan hati tinggi (ulul 'azmi), telah dianugerahi oleh Allah wibawa, keagungan, dan kesempurnaan akhlak. Allah memilih mereka dari kalangan terbaik dan paling mulia kaumnya, sehingga mereka memiliki pribadi yang agung dan disegani.

Dan di puncak kesempurnaan kepribadian dan kebesarannya adalah Nabi kita Muhammad . Beliau mengumpulkan kemuliaan nasab, kesucian asal-usul, kesempurnaan fisik, dan kesempurnaan akhlak yang tidak pernah dimiliki siapa pun sebelumnya.


Kepribadian yang Unik: Lembut tapi Disegani

Beliau memiliki kepribadian yang unik dan luar biasa, di atas hati yang lembut, sikap yang lunak, jiwa yang lapang, dan rasa malu yang begitu tinggi hingga beliau lebih pemalu daripada seorang perawan di kamarnya. Namun di sisi lain, beliau sangat membenci kesombongan, keangkuhan, dan tindakan sewenang-wenang terhadap orang lain.

Sungguh ini fenomena yang mengagumkan! Tidak ada penjelasan selain: Itu adalah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Para sahabat radhiyallahu 'anhum tidak mampu menatap beliau secara terus-menerus; mereka menundukkan pandangan karena rasa hormat. Ali bin Abi Thalib berkata: “Barang siapa yang melihatnya secara tiba-tiba, akan merasa segan kepadanya. Barang siapa yang bergaul dengannya, akan mencintainya. Orang yang menggambarkannya berkata: ‘Aku belum pernah melihat orang seperti dia sebelumnya maupun sesudahnya.’”

Kewibawaan dan keagungan yang menyelimuti beliau ini memiliki dampak luar biasa:

  • Menggagalkan niat jahat para musyrik. Sering kali mereka yang datang dengan niat buruk kepada beliau justru keluar dengan ketundukan dan kepasrahan.
  • Membuat mereka yang berniat membunuh menjadi gemetar, senjata jatuh dari tangan, lalu mereka masuk Islam.

Berikut beberapa contoh nyata.


Contoh 1: Orang Asing dari Irasy vs Abu Jahal

Ibnu Ishaq dalam Sirah-nya meriwayatkan:

Seorang laki-laki dari Irasy datang ke Mekah membawa unta dagangannya. Abu Jahal membeli untanya, tetapi menunda-nunda pembayaran. Laki-laki Irasy itu pun pergi ke majelis Quraisy. Saat itu Rasulullah sedang duduk di sudut masjid. Laki-laki itu berkata: “Wahai sekalian Quraisy, siapa yang akan membantuku menagih hakku dari Abu al-Hakam bin Hisyam (Abu Jahal)? Aku orang asing dan musafir, dan ia telah menzalimiku.”

Orang-orang di majelis itu berkata sambil menunjuk ke arah Rasulullah : “Lihatlah orang itu! Pergilah kepadanya, dia akan membantumu menagih hakmu dari Abu Jahal.” Mereka bermaksud mengejek dan memperolok-olok beliau.

Laki-laki Irasy itu pun mendatangi Rasulullah dan menceritakan masalahnya. Beliau berdiri bersamanya. Melihat itu, mereka menyuruh seseorang untuk mengikuti dan melihat apa yang akan terjadi.

Rasulullah keluar hingga sampai di rumah Abu Jahal. Beliau mengetuk pintu. Abu Jahal bertanya, “Siapa ini?” Beliau menjawab: مُحَمَّدٌ، فَاخْرُجْ (Muhammad, keluarlah). Abu Jahal keluar dengan wajah pucat pasi, tidak setetes darah pun tersisa di wajahnya.

Rasulullah bersabda: أَعْطِ هَذَا الرَّجُلَ حَقَّهُ (Berikan hak orang ini). Abu Jahal berkata: “Janganlah engkau pergi sampai aku memberinya haknya.” Ia segera keluar membawa haknya dan memberikannya.

Rasulullah lalu berpaling dan berkata kepada laki-laki Irasy itu: “Uruslah keperluanmu.” Orang Irasy itu kembali ke majelis Quraisy dan berkata: “Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Aku telah mendapatkan hakku.”

Orang yang diutus untuk mengintip kembali dan berkata: “Demi Allah, begitu beliau mengetuk pintunya, Abu Jahal keluar seakan tidak bernyawa, lalu beliau berkata: ‘Berikan hak orang ini!’ Maka ia pun memberikannya.”

Abu Jahal kemudian datang dan mereka mencelanya dengan nada mengejek: “Demi Allah, kami belum pernah melihat yang seperti yang kau lakukan!” Abu Jahal menjawab: “Celaka kalian! Demi Allah, begitu dia mengetuk pintuku dan aku mendengar suaranya, aku diliputi rasa takut yang luar biasa. Di atas kepalaku ada seekor unta jantan yang belum pernah aku lihat sebesar itu, setinggi itu, dan setajam taringnya! Demi Allah, seandainya aku membangkang, niscaya ia akan memakanku hidup-hidup!”


Contoh 2: Para Pemimpin Quraisy di Hijir Ismail

Para pemimpin Quraisy pernah berkumpul di Hijir (area setengah lingkaran di samping Ka'bah). Mereka membicarakan Rasulullah :

“Kami belum pernah melihat kesabaran seperti yang kami alami karena orang ini. Ia menganggap remeh akal kami, mencaci-maki bapak kami, mencela agama kami, memecah belah persatuan kami, dan menghina tuhan-tuhan kami. Kami benar-benar dalam keadaan yang sangat sulit karenanya.”

Ketika mereka sedang asyik berbicara, tiba-tiba Rasulullah muncul. Beliau berjalan hingga menyentuh Hajar Aswad, lalu melewati mereka sambil thawaf. Mereka menyindirnya dengan kata-kata kasar. Beliau mengetahui dari raut wajahnya, lalu berlalu.

Ketika beliau melewati mereka untuk kedua kalinya, mereka menyindir lagi. Demikian pula pada kali ketiga. Maka beliau menghadap mereka dan bersabda:

أَتَسْمَعُونَ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ؟ أَمَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِالذَّبْحِ

Artinya: “Apakah kalian mendengar, wahai sekalian Quraisy? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku datang kepada kalian dengan membawa (sesuatu yang bisa) menyembelih (kalian).”

Kata-kata beliau begitu menggetarkan mereka sehingga tidak seorang pun dari mereka kecuali seperti ada burung yang bertengger di kepalanya (diam ketakutan). Orang yang paling keras permusuhannya terhadap beliau pun berusaha menenangkan dan melunakkan hatinya, seraya berkata: “Pergilah, wahai Abul Qasim, semoga engkau selamat. Engkau bukanlah orang bodoh.”


Contoh 3: Wahb bin Umair dan Rencana Membunuh Nabi

Setelah Perang Badar, di mana banyak pemimpin Quraisy terbunuh dan sebagian ditawan, Wahb bin Umair bin Wahb al-Jumahi – seorang yang sangat memusuhi Islam – duduk bersama Shafwan bin Umayyah. Mereka membicarakan bencana yang menimpa mereka di Badar.

Wahb berkata: “Demi Allah, seandainya aku tidak punya utang yang belum terbayar dan keluarga yang aku khawatirkan kehancurannya sepeninggalku, niscaya aku akan pergi menemui Muhammad dan membunuhnya. Putraku ada di tangannya sebagai tawanan.”

Shafwan segera menangkap peluang itu. Ia berkata: “Utangmu tanggunganku, aku akan membayarnya. Keluargamu akan kusantuni bersama keluargaku selama mereka masih hidup. Tidak ada sesuatu pun yang kumiliki melainkan untuk mereka.” Wahb berkata: “Rahasiakan ini.” Shafwan menjawab: “Akan kulakukan.”

Wahb lalu memerintahkan agar pedangnya diasah dan diberi racun. Ia berangkat ke Madinah.

Di Madinah, Umar bin al-Khaththab sedang berbincang dengan beberapa sahabat tentang kemenangan di Badar, ketika ia melihat Wahb bin Umair menambatkan untanya di pintu masjid dengan pedang terselip di pinggangnya. Umar berkata: “Ini musuh Allah, Wahb bin Umair. Ia datang tidak lain untuk kejahatan. Dulu ia yang menghasut mereka dan memperkirakan kekuatan kita di Badar.” Umar segera masuk menemui Rasulullah dan memberitahukan hal itu.

Rasulullah bersabda: أَدْخِلْهُ عَلَيَّ (Masukkan dia ke dalam kemaraku). Umar mendekati Wahb, mengambil tali pedangnya dan melingkarkannya ke leher Wahb, lalu berkata kepada para sahabat Anshar: “Masuklah kalian ke hadapan Rasulullah .”

Ketika Rasulullah melihat Umar memegang tali pedang di leher Wahb, beliau bersabda: أَرْسِلْهُ يَا عُمَرُ، اُدْنُ يَا عُمَيْرُ (Lepaskan dia wahai Umar. Mendekatlah wahai Umair).

Wahb mendekat. Rasulullah bertanya: فَمَا جَاءَ بِكَ يَا عُمَيْرُ؟ (Apa yang membawamu ke sini wahai Umair?). Wahb menjawab: “Aku datang untuk tawanan yang ada di tangan kalian, agar kalian berbuat baik kepadanya.” Beliau bersabda: اُصْدُقْنِي مَا الَّذِي جِئْتَ لَهُ؟ (Katakan yang sebenarnya, untuk apa engkau datang?). Wahb berkata: “Aku tidak datang kecuali untuk itu.” Maka beliau bersabda:

بَلْ قَعَدْتَ أَنْتَ وَصَفْوَانُ بْنُ أُمَيَّةَ فِي الْحِجْرِ، فَذَكَرْتُمَا أَصْحَابَ الْقَلِيبِ مِنْ قُرَيْشٍ، ثُمَّ قُلْتَ: لَوْلَا دَيْنٌ عَلَيَّ وَعِيَالٌ عِنْدِي لَخَرَجْتُ حَتَّى أَقْتُلَ مُحَمَّدًا، فَتَحَمَّلَ لَكَ صَفْوَانُ بْنُ أُمَيَّةَ بِدَيْنِكَ وَعِيَالِكَ أَنْ تَقْتُلَنِي، وَاللَّهُ حَائِلٌ بَيْنَكَ وَبَيْنَ ذَٰلِكَ

Artinya: “Tidak! Engkau dan Shafwan bin Umayyah duduk di Hijir. Kalian berdua menyebut-nyebut para penghuni sumur (yang terbunuh) dari Quraisy. Lalu engkau berkata: ‘Seandainya tidak ada utang yang harus kubayar dan keluarga yang harus kutinggalkan, niscaya aku akan keluar hingga membunuh Muhammad.’ Maka Shafwan bin Umayyah menanggung utangmu dan keluargamu agar engkau membunuhku. Akan tetapi, Allah menjadi penghalang antara dirimu dan niat itu.”

Mendengar itu, Wahb bin Umair gemetar, mentalnya hancur, dan kaget luar biasa. Ia tidak bisa berkata apa-apa selain mengakui dan tunduk. Ia berkata: أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ!” (Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah!)

Ia melanjutkan: “Wahai Rasulullah, dahulu kami mendustakanmu dengan berita langit yang engkau sampaikan. Peristiwa ini tidak disaksikan oleh siapa pun selain aku dan Shafwan. Demi Allah, aku tahu tidak ada yang memberitahumu selain Allah. Segala puji bagi Allah yang telah memberiku petunjuk kepada Islam dan mengantarkanku ke jalan ini.” Ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat.

Rasulullah bersabda kepada para sahabat: فَقِّهُوا أَخَاكُمْ فِي دِينِهِ، وَعَلِّمُوهُ الْقُرْآنَ، وَأَطْلِقُوا لَهُ أَسِيرَهُ (Ajarkanlah saudaramu ini tentang agamanya, ajarkan Al-Qur'an, dan bebaskan tawanannya untuknya). Mereka pun melakukannya.

Wahb kemudian berkata: “Wahai Rasulullah, aku dulu berusaha keras memadamkan cahaya Allah dan sangat menyakiti orang yang berada di atas agama Allah. Aku ingin engkau mengizinkanku kembali ke Mekah untuk menyeru mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kepada Islam. Mudah-mudahan Allah memberi mereka petunjuk. Jika tidak, aku akan menyakiti mereka dalam agama mereka sebagaimana mereka dulu menyakiti para sahabatmu.” Rasulullah mengizinkannya.


Kekecewaan Shafwan bin Umayyah

Shafwan, saat Wahb berangkat, berangan-angan: “Bergembiralah! Suatu peristiwa akan datang dalam beberapa hari yang akan membuat kalian melupakan peristiwa Badar.” Ia keluar menemui para kafilah untuk memastikan keberhasilan rencana. Hingga suatu hari, seorang musafir tiba dan memberitahukan tentang masuk Islamnya Wahb! Maka Shafwan pun kecewa dan bersumpah tidak akan pernah berbicara atau memberikan manfaat apa pun kepada Wahb selamanya.

Wahb, setelah tiba di Mekah, berdakwah menyeru kepada Allah dan Islam. Ia sangat keras terhadap siapa pun yang menentangnya. Banyak orang masuk Islam melalui tangannya. Ia keluar sebagai kafir yang berusaha membunuh Nabi, lalu kembali sebagai mukmin sejati.


Contoh 4: Saat Nabi Tidur di Bawah Pohon

Dalam suatu peperangan, Rasulullah pergi berteduh di bawah pohon untuk beristirahat sendirian. Seorang laki-laki pemberani dari kaum musyrik menyelinap ketika beliau tidur. Beliau terbangun dan mendapati laki-laki itu berdiri di atas kepalanya, mengangkat pedang. Rasulullah tidak gentar sedikit pun. Beliau hanya memandangnya dengan pandangan seorang mukmin yang yakin akan perlindungan Tuhannya.

Laki-laki itu bertanya: “Siapa yang dapat melindungimu dariku, wahai Muhammad?” Rasulullah menjawab: اللَّهُ (Allah). Seketika itu juga, laki-laki itu gemetar, ketakutan, dan pedangnya jatuh dari tangannya. Rasulullah mengambil pedang itu lalu menghunuskannya ke arah laki-laki itu seraya bertanya: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي؟ (Siapa yang akan melindungimu dariku?). Laki-laki itu menjawab: “Maafmu.” Maka beliau pun memaafkannya.


Bukan untuk Menakuti, tetapi untuk Menenangkan

Meskipun memiliki kewibawaan luar biasa, Rasulullah ﷺ tidak pernah menjadikannya sebagai alat untuk menakuti atau merendahkan orang lain. Bahkan sebaliknya, beliau selalu berusaha menenangkan mereka dan menghilangkan rasa takut.

Suatu hari, seorang laki-laki masuk menemui beliau, lalu gemetar karena wibawa beliau. Dengan rendah hati dan penuh kasih sayang, beliau bersabda:

هَوِّنْ عَلَيْكَ، فَإِنِّي لَسْتُ بِمَلِكٍ، إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ كَانَتْ تَأْكُلُ الْقَدِيدَ

Artinya: “Tenanglah. Aku bukan seorang raja. Aku hanyalah putra seorang wanita dari Quraisy yang biasa makan daging kering.”

Ya, demi Allah, beliau bukan raja, tetapi beliau lebih agung dan lebih berwibawa daripada raja-raja. Beliau bukanlah orang yang sewenang-wenang atau tiran. Beliau adalah rahmat yang dihadiahkan untuk seluruh alam.


Kesimpulan: Dunia dalam Satu Pribadi

Ini adalah sekilas gambaran yang membatasi—tidak mencakup seluruhnya—karena menggambarkan seluruh keagungan kepribadian Nabi adalah sesuatu yang tidak dapat dijangkau akal, tidak mampu diungkapkan kata-kata. Beliau bagaikan keberadaan itu sendiri. Dunia akan berlalu, tetapi masih akan tersisa aspek-aspek rahasia keberadaan beliau yang tidak akan pernah dapat dipahami manusia.

Benarlah syair yang mengatakan:

“Namun para penggambarnya, meskipun beragam dalam melukiskan keindahannya,
Masa akan berlalu, tetapi masih ada yang tidak tergambarkan.”

Sudah jelas bahwa di antara makhluk ada golongan pilihan. Puncak golongan pilihan itu adalah para nabi dan rasul Allah. Di puncak mereka adalah para rasul ulul 'azmi, dan puncak tertinggi dari semua itu adalah Nabi kita Muhammad , intisari manusia dan keturunan terbaik Adam.

Kita mungkin menemukan sebagian dari sifat-sifat dan adab-adab luhur ini pada seorang nabi, rasul, atau shiddiq lainnya, tetapi tidak pernah kita ketahui seorang pun yang Allah kumpulkan semua keutamaan dan kekhususan ini selain pada Nabi kita Muhammad .

Dalam pengertian ini, beliau adalah satu-satunya yang tiada duanyaunik di seluruh umat manusia. Tidak mengherankan, karena setiap nabi diutus untuk kaumnya secara khusus, sedangkan beliau diutus untuk seluruh umat manusia secara umum. Maka sudah sepantasnya Allah mengumpulkan pada diri beliau semua akhlak mulia yang terpencar pada para nabi pilihan.


Penutup: Sebuah Kesimpulan

Inilah Sayyidina Muhammad Rasulullah , pemilik sejarah paling murni yang pernah dikenal dunia, pembawa risalah terakhir yang berciri universal dan abadi, pendidik generasi terbaik dalam sejarah manusia, pembangun sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, dan pendiri negara pertama dalam sejarah Islam.

Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada beliau, keluarga, para sahabat, dan siapa pun yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasulullah ﷺ: Hamba yang Bersyukur, Pemimpin yang Rendah Hati, dan Rahmat bagi Seluruh Alam

Rasulullah ﷺ: Ayah yang Penyayang, Manusia yang Agung, Pendidik yang Bijaksana

Rasulullah ﷺ: Pahlawan Sejati, Penepati Janji, dan Pribadi Pemaaf