Ketika Perjanjian Dikhianati: Kisah Bani Qainuqa’ dan Kejatuhan Ka’ab bin al-Asyraf

rombongan orang-orang dengan pakaian khas Yahudi abad ke-7 Masehi berjalan meninggalkan kota. Mereka membawa wanita dan anak-anak kecil dengan unta dan keledai yang membawa barang-barang sederhana. Di sisi lain, seorang laki-laki dewasa dengan pakaian Arab kuno berdiri tegak mengawasi kepergian mereka dengan sikap tenang—ini adalah sosok Ubadah bin ash-Shamit yang ditugaskan mengawal pengusiran.

Di masa awal pemerintahan Islam di Madinah, kaum Muslimin hidup berdampingan dengan tiga suku Yahudi utama: Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Selain itu, terdapat pula komunitas Yahudi yang besar di Khaibar dan sekitarnya. Namun, ketenangan itu hanya tampak di permukaan. Di balik bayang-bayang, berbagai rencana jahat terus digerakkan untuk menghancurkan dakwah Islam yang sedang berkembang.


Bani Qainuqa’: Kekuatan yang Menyimpan Dendam

Nasihat yang Ditolak dengan Sombong

Ketika kemenangan gemilang kaum Muslimin dalam Perang Badar mengguncangkan Semenanjung Arab, hati kaum Yahudi Bani Qainuqa’ dipenuhi amarah dan iri. Mereka mulai membuat kekacauan di Madinah, melontarkan kata-kata pedas, dan memprovokasi penduduk.

Rasulullah , dengan penuh kebijaksanaan, memilih pendekatan damai terlebih dahulu. Beliau mendatangi perkampungan Bani Qainuqa’, mengumpulkan mereka di pasar mereka, lalu bersabda dengan lembut namun tegas:

يَا مَعْشَرَ يَهُودَ، احْذَرُوا مِنَ اللَّهِ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ بِقُرَيْشٍ مِنَ النَّقْمَةِ، وَأَسْلِمُوا، فَإِنَّكُمْ قَدْ عَرَفْتُمْ أَنِّي نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، تَجِدُونَ ذَلِكَ فِي كِتَابِكُمْ وَعَهْدِ اللَّهِ إِلَيْكُمْ
Artinya: “Wahai sekalian Yahudi, takutlah kalian kepada Allah seperti siksaan yang ditimpakan kepada Quraisy. Masuklah Islam, karena sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah. Kalian menemukan hal itu dalam kitab suci kalian dan dalam perjanjian Allah kepada kalian.”

Namun jawaban mereka adalah kesombongan yang meledak-ledak:
“Wahai Muhammad, janganlah engkau terpedaya karena engkau bertemu dengan kaum yang tidak pandai berperang, lalu engkau mendapatkan kesempatan darinya. Demi Allah, sungguh jika kami memerangimu, pasti engkau akan tahu bahwa kami adalah orang-orang yang (pantas diperhitungkan)!”

Mereka terus larut dalam kesesatan. Maka Allah menurunkan ayat peringatan:

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ
Artinya: “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: ‘Kamu pasti akan dikalahkan dan digiring ke dalam neraka Jahanum. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.’”
(QS. Ali ‘Imran: 12)


Peristiwa yang Memicu Kemarahan

Namun peringatan itu tidak membuat mereka jera. Mereka terus melampaui batas. Suatu hari, seorang wanita Arab datang ke pasar Bani Qainuqa’ untuk berdagang. Ia membawa barang dagangannya dan menjualnya, lalu duduk di dekat seorang pandai emas dari kalangan Yahudi.

Orang-orang Yahudi itu mulai mengganggunya, meminta ia membuka wajahnya. Sang wanita menolak. Namun seorang pandai emas di antara mereka melakukan perbuatan keji: diam-diam ia mengikat ujung kain wanita itu ke punggungnya. Ketika wanita itu berdiri, pakaiannya tersingkap dan auratnya terbuka. Mereka pun tertawa terbahak-bahak menghinanya.

Wanita itu berteriak meminta tolong. Seorang Muslim yang mendengar teriakan itu segera bangkit dan menyerang pandai emas Yahudi tersebut hingga tewas. Sebagai balasan, sekelompok Yahudi lainnya menyerang dan membunuh Muslim itu. Keluarga korban pun meminta bantuan kaum Muslimin, dan suasana pun memanas menjadi konflik terbuka.

Peristiwa ini bukan sekadar keributan biasa. Di mata orang Arab yang menjunjung tinggi kehormatan dan perlindungan terhadap wanita, perbuatan seperti ini adalah penghinaan yang tak terampuni. Perjanjian damai yang selama ini dijaga telah dilanggar dengan cara yang sangat keji.


Pengepungan dan Pengusiran Bani Qainuqa’

Melihat pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian, Rasulullah tidak memiliki pilihan lain. Beliau bergerak mengepung benteng-benteng Bani Qainuqa’. Pengepungan berlangsung selama lima belas malam. Tidak ada pertumpahan darah besar; mereka bertahan di balik benteng hingga akhirnya kehabisan daya dan menyerah, bersedia menerima keputusan yang akan dijatuhkan.

Rasulullah kemudian meminta pendapat para sahabat. Beberapa mengusulkan agar mereka dihukum mati karena pengkhianatan mereka. Namun ada dua tokoh yang menjadi sekutu Bani Qainuqa’: Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin kaum munafik, dan Ubadah bin ash-Shamit.

Ubadah, seorang Muslim sejati, segera melepaskan diri dari ikatan sekutu lamanya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku berlindung kepada Allah dan Rasul-Nya, aku berlepas diri dari sekutu orang-orang kafir ini.” Sikap tegas Ubadah menunjukkan bahwa iman lebih tinggi dari sekadar ikatan kesukuan.

Sebaliknya, Abdullah bin Ubay terus mendesak Rasulullah , “Wahai Muhammad, berbuat baiklah kepada sekutuku (Bani Qainuqa’).” Beliau berpaling darinya, namun Abdullah bin Ubay terus memohon, “Aku khawatir akan kekalahan (yang menimpaku jika mereka dibunuh).” Akhirnya, demi menjaga stabilitas dan menghormati peran Abdullah bin Ubay yang masih berpengaruh di kalangan Aus dan Khazraj, Rasulullah menerima syafaatnya dengan syarat: Bani Qainuqa’ diusir dari Madinah, harta mereka menjadi milik kaum Muslimin, tetapi mereka diperbolehkan membawa istri dan anak-anak mereka.

Rasulullah menunjuk Ubadah bin ash-Shamit untuk mengawal pengusiran mereka. Mereka diberi waktu tiga malam untuk pergi menuju Adzri’at di perbatasan Syam (Suriah). Dengan demikian, satu dari tiga duri yang menusuk keamanan Madinah pun tercabut. Peristiwa ini terjadi pada awal tahun ke-3 Hijriah, menurut pendapat yang kuat, atau pada bulan Syawal tahun ke-2 Hijriah.


Pelajaran dari Langit: Ayat-Ayat tentang Loyalitas

Perbedaan sikap antara Ubadah bin ash-Shamit yang tegas membela Allah dan Rasul-Nya, dengan Abdullah bin Ubay yang masih membela sekutu Yahudinya, menjadi pelajaran agung bagi umat Islam. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
*(QS. Al-Ma’idah: 51)*

Allah juga menyinggung orang-orang yang ragu-ragu dan masih terpengaruh oleh bujukan musuh:

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ ۚ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

Artinya: “Maka engkau akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi), seraya berkata, ‘Kami takut akan mendapat bencana.’ Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan atau suatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”
*(QS. Al-Ma’idah: 52)*

Sebaliknya, Allah memuji orang-orang yang loyal sepenuhnya kepada Allah, Rasul, dan kaum beriman, seperti Ubadah bin ash-Shamit:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Artinya: “Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat serta tunduk (kepada Allah).”
*(QS. Al-Ma’idah: 55)*


Ka’ab bin al-Asyraf: Durinya yang Membahayakan

Sosok yang Meluap-Luap Kebenciannya

Di tengah ketegangan dengan Bani Qainuqa’, ada sosok lain yang lebih berbahaya: Ka’ab bin al-Asyraf. Ia adalah seorang pemuda dari keturunan Arab Bani Thayyi’ yang telah menjadi sekutu Bani Nadhir. Perawakannya tinggi besar, dan ia dikenal sebagai seorang penyair yang tajam lisannya.

Ketika berita kekalahan Quraisy dalam Perang Badar sampai ke Madinah, Ka’ab meluapkan kemarahannya: “Demi Allah, jika Muhammad benar-benar mengalahkan mereka, maka perut bumi lebih baik daripada permukaannya!”

Dengan amarah yang membara, ia berangkat ke Mekah untuk melayat para pemimpin Quraisy yang gugur, meratapi mereka dengan syair-syair pedas, dan menghasut agar kembali menyerang Rasulullah dan kaum Muslimin. Kembali ke Madinah, ia terus melantunkan syair-syair yang menghina kehormatan wanita Muslim dan mencaci-maki Islam.

Kondisi ini membuat kehidupan kaum Muslimin terganggu. Rasulullah pun bersabda:
مَنْ لِكَعْبِ بْنِ الأَشْرَفِ، فَإِنَّهُ قَدْ آذَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ؟
Artinya: “Siapa yang akan menangani (urusan) Ka’ab bin al-Asyraf, karena ia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya?”


Rencana yang Disusun Rapi

Muhammad bin Maslamah al-Anshari dari suku Aus segera mengangkat tangan. “Aku yang akan menanganinya, wahai Rasulullah. Izinkan aku berkata sesuatu (berpura-pura) tentang dirimu,” katanya. Rasulullah mengizinkan.

Muhammad bin Maslamah lalu mengajak beberapa orang kepercayaannya, di antaranya Abu Naila (yang merupakan saudara sesusuan Ka’ab), Abbad bin Bisyr bin Waqasy, dan Al-Harits bin Aus. Mereka menyusun rencana dengan cermat.

Abu Naila—yang masih memiliki hubungan dekat dengan Ka’ab—datang menemui Ka’ab terlebih dahulu. Ia berpura-pura mengeluhkan beban yang ditanggung setelah masuk Islam. “Kami lelah dengan urusan ini,” katanya. Ia juga merendahkan Rasulullah di hadapan Ka’ab hingga Ka’ab merasa simpati dan luluh.

Kemudian mereka meminta Ka’ab untuk meminjamkan makanan berupa beberapa wasaq (takaran) kurma. Ka’ab setuju, tetapi meminta jaminan. Mereka pura-pura menawar: “Apakah engkau mau menerima jaminan istri-istri kami?” Ka’ab menolak. “Anak-anak kami?” tanya mereka lagi. Ka’ab menolak karena takut akan menjadi aib. Akhirnya mereka sepakat menjaminkan senjata—sesuatu yang wajar bagi mereka sebagai laki-laki yang biasa berperang.

Mereka berjanji akan datang pada malam hari dengan membawa senjata.


Malam yang Menentukan

Pada malam yang telah ditentukan, Muhammad bin Maslamah dan Abu Naila kembali mendatangi Ka’ab. Mereka memanggilnya dari luar rumah. Istri Ka’ab berkata, “Aku mendengar suara yang meneteskan darah.” Namun Ka’ab meremehkan, “Itu hanya saudaraku Muhammad bin Maslamah dan saudara sesusuanku Abu Naila. Orang mulia jika dipanggil di malam hari untuk ditikam, ia akan datang.”

Ka’ab keluar dengan menyandang pedang, tubuhnya semerbak wewangian minyak misik. Muhammad bin Maslamah mulai memuji wewangian itu: “Aku belum pernah mencium wangi seenak ini. Izinkan aku mencium kepalamu?” Ka’ab mengizinkan. Abu Naila pun melakukan hal yang sama.

Setelah Ka’ab benar-benar lengah dan merasa aman, Muhammad bin Maslamah meraih ubun-ubun Ka’ab, lalu berteriak, “Serang dia!” Mereka pun segera menuntaskan tugas itu. Ka’ab bin al-Asyraf, duri yang selama ini menyakiti hati kaum Muslimin, akhirnya tidak lagi menjadi ancaman.

Kaum Muslimin pun kembali dengan selamat melaporkan keberhasilan mereka kepada Rasulullah . Dengan peristiwa ini, satu sumber fitnah dan provokasi yang besar telah dihilangkan. Peristiwa ini terjadi pada bulan Rabi’ul Awal tahun ke-3 Hijriah.


Hikmah di Balik Kisah

Dari dua peristiwa besar ini—pengusiran Bani Qainuqa’ dan terbunuhnya Ka’ab bin al-Asyraf—kita dapat memetik pelajaran berharga:

  1. Keadilan Sebelum Tindakan – Rasulullah selalu memberikan peringatan dan kesempatan terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan tegas.
  2. Perlindungan Kehormatan Adalah Prioritas – Penghinaan terhadap wanita dan kehormatan adalah pelanggaran yang sangat berat dalam Islam.
  3. Loyalitas Seorang Mukmin – Ikatan iman lebih kuat dari ikatan darah, suku, maupun sekutu lama.
  4. Menangkal Fitnah – Ketika seseorang menjadi sumber kekacauan dan bahaya bagi masyarakat, tindakan tegas untuk melindungi umat adalah keniscayaan.

Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Allah Membela Para Wanita Mukmin yang Hijrah

Surat-Surat Cinta untuk Dunia: Ketika Islam Menyapa Para Penguasa

Tahun Ketujuh Hijriah: Antara Ketaatan, Kesetiaan, dan Kemudahan dalam Ibadah