Ketika Perjanjian Dikhianati: Kisah Bani Qainuqa’ dan Kejatuhan Ka’ab bin al-Asyraf
Di masa awal pemerintahan Islam di Madinah, kaum Muslimin hidup berdampingan dengan tiga suku Yahudi utama: Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Selain itu, terdapat pula komunitas Yahudi yang besar di Khaibar dan sekitarnya. Namun, ketenangan itu hanya tampak di permukaan. Di balik bayang-bayang, berbagai rencana jahat terus digerakkan untuk menghancurkan dakwah Islam yang sedang berkembang.
Bani Qainuqa’: Kekuatan yang Menyimpan Dendam
Nasihat yang Ditolak dengan Sombong
Ketika kemenangan gemilang kaum Muslimin dalam Perang Badar
mengguncangkan Semenanjung Arab, hati kaum Yahudi Bani Qainuqa’ dipenuhi amarah
dan iri. Mereka mulai membuat kekacauan di Madinah, melontarkan kata-kata
pedas, dan memprovokasi penduduk.
Rasulullah ﷺ,
dengan penuh kebijaksanaan, memilih pendekatan damai terlebih dahulu. Beliau
mendatangi perkampungan Bani Qainuqa’, mengumpulkan mereka di pasar mereka,
lalu bersabda dengan lembut namun tegas:
“يَا
مَعْشَرَ يَهُودَ، احْذَرُوا مِنَ اللَّهِ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ بِقُرَيْشٍ مِنَ
النَّقْمَةِ، وَأَسْلِمُوا، فَإِنَّكُمْ قَدْ عَرَفْتُمْ أَنِّي نَبِيٌّ مُرْسَلٌ،
تَجِدُونَ ذَلِكَ فِي كِتَابِكُمْ وَعَهْدِ اللَّهِ إِلَيْكُمْ”
Artinya: “Wahai sekalian Yahudi, takutlah kalian kepada Allah seperti
siksaan yang ditimpakan kepada Quraisy. Masuklah Islam, karena sesungguhnya
kalian telah mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah. Kalian menemukan hal itu
dalam kitab suci kalian dan dalam perjanjian Allah kepada kalian.”
Namun jawaban mereka adalah kesombongan yang meledak-ledak:
“Wahai Muhammad, janganlah engkau terpedaya karena engkau bertemu dengan kaum
yang tidak pandai berperang, lalu engkau mendapatkan kesempatan darinya. Demi
Allah, sungguh jika kami memerangimu, pasti engkau akan tahu bahwa kami adalah
orang-orang yang (pantas diperhitungkan)!”
Mereka terus larut dalam kesesatan. Maka Allah menurunkan
ayat peringatan:
قُلْ
لِلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ ۚ وَبِئْسَ
الْمِهَادُ
Artinya: “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: ‘Kamu pasti akan
dikalahkan dan digiring ke dalam neraka Jahanum. Dan itulah seburuk-buruk
tempat tinggal.’”
(QS. Ali ‘Imran: 12)
Peristiwa yang Memicu Kemarahan
Namun peringatan itu tidak membuat mereka jera. Mereka terus
melampaui batas. Suatu hari, seorang wanita Arab datang ke pasar Bani Qainuqa’
untuk berdagang. Ia membawa barang dagangannya dan menjualnya, lalu duduk di
dekat seorang pandai emas dari kalangan Yahudi.
Orang-orang Yahudi itu mulai mengganggunya, meminta ia
membuka wajahnya. Sang wanita menolak. Namun seorang pandai emas di antara
mereka melakukan perbuatan keji: diam-diam ia mengikat ujung kain wanita itu ke
punggungnya. Ketika wanita itu berdiri, pakaiannya tersingkap dan auratnya
terbuka. Mereka pun tertawa terbahak-bahak menghinanya.
Wanita itu berteriak meminta tolong. Seorang Muslim yang
mendengar teriakan itu segera bangkit dan menyerang pandai emas Yahudi tersebut
hingga tewas. Sebagai balasan, sekelompok Yahudi lainnya menyerang dan membunuh
Muslim itu. Keluarga korban pun meminta bantuan kaum Muslimin, dan suasana pun
memanas menjadi konflik terbuka.
Peristiwa ini bukan sekadar keributan biasa. Di mata orang
Arab yang menjunjung tinggi kehormatan dan perlindungan terhadap wanita,
perbuatan seperti ini adalah penghinaan yang tak terampuni. Perjanjian damai
yang selama ini dijaga telah dilanggar dengan cara yang sangat keji.
Pengepungan dan Pengusiran Bani Qainuqa’
Melihat pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian,
Rasulullah ﷺ
tidak memiliki pilihan lain. Beliau bergerak mengepung benteng-benteng Bani
Qainuqa’. Pengepungan berlangsung selama lima belas malam. Tidak
ada pertumpahan darah besar; mereka bertahan di balik benteng hingga akhirnya
kehabisan daya dan menyerah, bersedia menerima keputusan yang akan dijatuhkan.
Rasulullah ﷺ
kemudian meminta pendapat para sahabat. Beberapa mengusulkan agar mereka
dihukum mati karena pengkhianatan mereka. Namun ada dua tokoh yang menjadi
sekutu Bani Qainuqa’: Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin kaum
munafik, dan Ubadah bin ash-Shamit.
Ubadah, seorang Muslim sejati, segera melepaskan diri
dari ikatan sekutu lamanya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku berlindung
kepada Allah dan Rasul-Nya, aku berlepas diri dari sekutu orang-orang kafir
ini.” Sikap tegas Ubadah menunjukkan bahwa iman lebih tinggi dari sekadar
ikatan kesukuan.
Sebaliknya, Abdullah bin Ubay terus
mendesak Rasulullah ﷺ,
“Wahai Muhammad, berbuat baiklah kepada sekutuku (Bani Qainuqa’).” Beliau
berpaling darinya, namun Abdullah bin Ubay terus memohon, “Aku khawatir akan
kekalahan (yang menimpaku jika mereka dibunuh).” Akhirnya, demi menjaga
stabilitas dan menghormati peran Abdullah bin Ubay yang masih berpengaruh di
kalangan Aus dan Khazraj, Rasulullah ﷺ menerima syafaatnya dengan syarat: Bani Qainuqa’ diusir
dari Madinah, harta mereka menjadi milik kaum Muslimin, tetapi mereka
diperbolehkan membawa istri dan anak-anak mereka.
Rasulullah ﷺ
menunjuk Ubadah bin ash-Shamit untuk mengawal pengusiran
mereka. Mereka diberi waktu tiga malam untuk pergi menuju Adzri’at di
perbatasan Syam (Suriah). Dengan demikian, satu dari tiga duri yang menusuk
keamanan Madinah pun tercabut. Peristiwa ini terjadi pada awal tahun ke-3
Hijriah, menurut pendapat yang kuat, atau pada bulan Syawal tahun ke-2 Hijriah.
Pelajaran dari Langit: Ayat-Ayat tentang Loyalitas
Perbedaan sikap antara Ubadah bin ash-Shamit yang tegas
membela Allah dan Rasul-Nya, dengan Abdullah bin Ubay yang masih membela sekutu
Yahudinya, menjadi pelajaran agung bagi umat Islam. Maka Allah menurunkan
firman-Nya:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ
أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ
فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu
menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu
sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka
sebagai teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh,
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
*(QS. Al-Ma’idah: 51)*
Allah juga menyinggung orang-orang yang ragu-ragu dan masih
terpengaruh oleh bujukan musuh:
فَتَرَى
الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَنْ
تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ ۚ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ
مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ
Artinya: “Maka engkau akan melihat orang-orang yang ada
penyakit dalam hatinya (munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi), seraya
berkata, ‘Kami takut akan mendapat bencana.’ Mudah-mudahan Allah akan
mendatangkan kemenangan atau suatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka
menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”
*(QS. Al-Ma’idah: 52)*
Sebaliknya, Allah memuji orang-orang yang loyal sepenuhnya
kepada Allah, Rasul, dan kaum beriman, seperti Ubadah bin ash-Shamit:
إِنَّمَا
وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ
الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
Artinya: “Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah,
Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan salat dan menunaikan
zakat serta tunduk (kepada Allah).”
*(QS. Al-Ma’idah: 55)*
Ka’ab bin al-Asyraf: Durinya yang Membahayakan
Sosok yang Meluap-Luap Kebenciannya
Di tengah ketegangan dengan Bani Qainuqa’, ada sosok lain
yang lebih berbahaya: Ka’ab bin al-Asyraf. Ia adalah seorang pemuda
dari keturunan Arab Bani Thayyi’ yang telah menjadi sekutu Bani Nadhir.
Perawakannya tinggi besar, dan ia dikenal sebagai seorang penyair yang tajam
lisannya.
Ketika berita kekalahan Quraisy dalam Perang Badar sampai ke
Madinah, Ka’ab meluapkan kemarahannya: “Demi Allah, jika Muhammad benar-benar
mengalahkan mereka, maka perut bumi lebih baik daripada permukaannya!”
Dengan amarah yang membara, ia berangkat ke Mekah untuk
melayat para pemimpin Quraisy yang gugur, meratapi mereka dengan syair-syair
pedas, dan menghasut agar kembali menyerang Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin.
Kembali ke Madinah, ia terus melantunkan syair-syair yang menghina kehormatan
wanita Muslim dan mencaci-maki Islam.
Kondisi ini membuat kehidupan kaum Muslimin terganggu.
Rasulullah ﷺ
pun bersabda:
“مَنْ
لِكَعْبِ بْنِ الأَشْرَفِ، فَإِنَّهُ قَدْ آذَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ؟”
Artinya: “Siapa yang akan menangani (urusan) Ka’ab bin al-Asyraf, karena ia
telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya?”
Rencana yang Disusun Rapi
Muhammad bin Maslamah al-Anshari dari suku Aus
segera mengangkat tangan. “Aku yang akan menanganinya, wahai Rasulullah.
Izinkan aku berkata sesuatu (berpura-pura) tentang dirimu,” katanya. Rasulullah
ﷺ
mengizinkan.
Muhammad bin Maslamah lalu mengajak beberapa orang
kepercayaannya, di antaranya Abu Naila (yang merupakan saudara
sesusuan Ka’ab), Abbad bin Bisyr bin Waqasy, dan Al-Harits
bin Aus. Mereka menyusun rencana dengan cermat.
Abu Naila—yang masih memiliki hubungan dekat dengan
Ka’ab—datang menemui Ka’ab terlebih dahulu. Ia berpura-pura mengeluhkan beban
yang ditanggung setelah masuk Islam. “Kami lelah dengan urusan ini,” katanya.
Ia juga merendahkan Rasulullah ﷺ di hadapan Ka’ab hingga Ka’ab merasa simpati dan luluh.
Kemudian mereka meminta Ka’ab untuk meminjamkan makanan
berupa beberapa wasaq (takaran) kurma. Ka’ab setuju, tetapi meminta jaminan.
Mereka pura-pura menawar: “Apakah engkau mau menerima jaminan istri-istri
kami?” Ka’ab menolak. “Anak-anak kami?” tanya mereka lagi. Ka’ab menolak karena
takut akan menjadi aib. Akhirnya mereka sepakat menjaminkan senjata—sesuatu
yang wajar bagi mereka sebagai laki-laki yang biasa berperang.
Mereka berjanji akan datang pada malam hari dengan membawa
senjata.
Malam yang Menentukan
Pada malam yang telah ditentukan, Muhammad bin Maslamah dan
Abu Naila kembali mendatangi Ka’ab. Mereka memanggilnya dari luar rumah. Istri
Ka’ab berkata, “Aku mendengar suara yang meneteskan darah.” Namun Ka’ab
meremehkan, “Itu hanya saudaraku Muhammad bin Maslamah dan saudara sesusuanku
Abu Naila. Orang mulia jika dipanggil di malam hari untuk ditikam, ia akan
datang.”
Ka’ab keluar dengan menyandang pedang, tubuhnya semerbak
wewangian minyak misik. Muhammad bin Maslamah mulai memuji wewangian itu: “Aku
belum pernah mencium wangi seenak ini. Izinkan aku mencium kepalamu?” Ka’ab
mengizinkan. Abu Naila pun melakukan hal yang sama.
Setelah Ka’ab benar-benar lengah dan merasa aman, Muhammad
bin Maslamah meraih ubun-ubun Ka’ab, lalu berteriak, “Serang dia!” Mereka pun
segera menuntaskan tugas itu. Ka’ab bin al-Asyraf, duri yang selama ini
menyakiti hati kaum Muslimin, akhirnya tidak lagi menjadi ancaman.
Kaum Muslimin pun kembali dengan selamat melaporkan
keberhasilan mereka kepada Rasulullah ﷺ. Dengan peristiwa ini, satu sumber fitnah
dan provokasi yang besar telah dihilangkan. Peristiwa ini terjadi pada bulan
Rabi’ul Awal tahun ke-3 Hijriah.
Hikmah di Balik Kisah
Dari dua peristiwa besar ini—pengusiran Bani Qainuqa’ dan
terbunuhnya Ka’ab bin al-Asyraf—kita dapat memetik pelajaran berharga:
- Keadilan
Sebelum Tindakan – Rasulullah ﷺ selalu
memberikan peringatan dan kesempatan terlebih dahulu sebelum mengambil
tindakan tegas.
- Perlindungan
Kehormatan Adalah Prioritas – Penghinaan terhadap wanita dan
kehormatan adalah pelanggaran yang sangat berat dalam Islam.
- Loyalitas
Seorang Mukmin – Ikatan iman lebih kuat dari ikatan darah, suku,
maupun sekutu lama.
- Menangkal
Fitnah – Ketika seseorang menjadi sumber kekacauan dan bahaya
bagi masyarakat, tindakan tegas untuk melindungi umat adalah keniscayaan.
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah

Komentar
Posting Komentar