Suku Umim, Wabar, ‘Ubail, dan ‘Abd Dakhm

Ilustrasi kisah suku Umim, Wabar, dan ‘Ubail di Rub’ al-Khali: kawah hitam mirip kota kuno terbakar dikelilingi bukit pasir, puing bangunan setengah tertimbun, kafilah Badui dengan unta menunjuk ke arah kawah saat senja, suasana misterius dengan siluet makhluk nasnās di kejauhan.

Jejak Tipis Bangsa-bangsa Arab yang Hilang

Dalam kajian tentang bangsa Arab sebelum Islam, para ahli berita (ahl al-akhbār) tidak hanya menyebut suku-suku besar seperti ‘Ād dan Tsamūd. Mereka juga menyinggung kabilah-kabilah kecil yang jejaknya jauh lebih samar: Umīm (أميم)Wabār (وبار)‘Ubail (عبيل), dan ‘Abd Dakhm (عبد ضخم).

Nama-nama ini hadir di persimpangan antara sejarah, mitos, dan upaya ilmuwan modern untuk menghubungkannya dengan teks-teks kuno seperti Taurat dan geografi Yunani–Romawi.

Berikut adalah kisah ringkas mereka berdasarkan apa yang dihimpun Juwād ‘Alī dari literatur Arab klasik dan studi modern.


Suku Umim dan Negeri Wabar

Para ahli berita memasukkan Umim (أميم) ke dalam lapisan suku purba, sejajar dengan Tasm dan Jadis. Mereka menyusun beberapa versi silsilah, misalnya:

Umim adalah keturunan Lāūdz bin ‘Amālīq, atau
keturunan Lūdh bin Nūḥ, dan silsilah sejenis yang berputar sekitar nama-nama tua Bani Sām.

Menurut riwayat mereka, dari keturunan Umim inilah muncul satu kelompok bernama Wabār bin Umim, yang tinggal di padang pasir ‘Ālij antara al-Yamāmah dan asy-Shaḥr (al-Shiḥr). Dikisahkan, bukit-bukit pasir runtuh menimpa mereka hingga semuanya binasa.

Sebagian ahli berita juga mengklaim bahwa negeri asal Umim berada di wilayah Fāris (Persia). Karena itu, sebagian ahli nasab Persia menghubungkan asal-usul mereka kepada Umim, dan mengaitkan tokoh legendaris Persia Kayūmarṯ (كيومرت / جيومرت) sebagai putra Umim bin Lāūdz.

Juwād ‘Alī mencatat dengan jujur:
Selain potongan riwayat seperti ini, kita hampir tidak tahu apa-apa tentang Umim. Para ahli berita sendiri tidak menjelaskan:

Bagaimana bisa Umim digolongkan sebagai “Arab pertama” sementara negeri mereka diletakkan di wilayah Persia?
Bagaimana secara persis hubungan antara Wabār dan Umim disusun?

Riwayat-riwayat itu dibiarkan tanpa penjelasan rinci.

Wabar: Antara Geografi Ptolemaios dan Cerita Rakyat Arab

Sejarawan Yaman al-Hamdānī menyebut bahwa Wabār adalah saudara Kayūmarṯ, dan keduanya anak Umim. Negeri Wabār kemudian dikenal dengan namanya: “Arḍ Wabār”, dan menurut al-Hamdānī, wilayah inilah yang dimaksud sebagai negeri Umim.

Dalam Geografi Ptolemaios, ada nama satu kaum Arab yang ia sebut “lobaritai / jobaritae / jobabitae”, ditempatkan sebagai bangsa Arabia Selatan yang tinggal dekat suku lain bernama sachalitae, di sekitar teluk yang disebut Sinus Sachalites.

Nama jobaritae ini terdengar sangat dekat dengan “Wabār”, sehingga sejumlah orientalis mengusulkan bahwa:

jobaritae = Wabār
mungkin sama dengan “Banū Wabār” yang dikenal dalam riwayat Arab.

Namun, beberapa peneliti lain berpendapat bahwa bacaan asli teks Ptolemaios sebenarnya adalah “Yobabitae / Yobab”, dan bahwa para penyalin tulisan kuno salah membaca huruf b kedua sebagai r sehingga menjadi “jobabitae”. Menurut mereka, bangsa yang dimaksud adalah Yobab/Yabab, bukan Wabār.

Masalahnya, tidak ada bukti kuat yang dapat memutuskan dengan pasti bacaan mana yang benar. Karena itu, hubungan antara Wabār Arab dan lobaritai/jobaritae Ptolemaios masih bersifat dugaan.

Di Mana Letak Negeri Wabar?

Riwayat Arab klasik menyebut Wabār sebagai wilayah yang:

Berada di antara pasir Yabrīn dan Yaman,
di rentang antara Najrān dan Ḥaḍramaut,
antara Mahrah dan asy-Shaḥr,
atau antara asy-Shaḥr dan perbatasan Ṣan‘ā’.

Ada pula ungkapan:

“Desa Wabār adalah milik Bani Wabār, di antara pasir Bani Sa‘d dan antara asy-Shaḥr dan Mahrah.”

Orang yang dinisbatkan ke Wabār disebut “Abārī”, sebuah nisbah yang mirip dengan bentuk yang disebut dalam teks Ptolemaios.

Ahli geografi Yāqūt al-Ḥamawī menyatakan bahwa Wabār dinisbatkan kepada Wabār bin Iram bin Sām bin Nūḥ. Dengan demikian, dalam mata para ahli berita, Wabār adalah suku tua keturunan Sām yang tinggal di gurun luas selatan Jazirah Arab.

Legenda “Nasnās”: Manusia Setengah Tubuh

Buku-buku Arab klasik memuat banyak cerita tentang Wabār, dan salah satu legenda paling aneh adalah tentang makhluk yang disebut “Nasnās (النسناس)”.

Ringkasnya, diceritakan bahwa:

Nasnās adalah keturunan Nasnās bin Umim bin ‘Amālīq bin Yalma‘ bin Lāūdz bin Sām.
Mereka pada asalnya manusia biasa, lalu Allah menjadikan mereka nasnās.
Setiap nasnās hanya memiliki setengah kepala, setengah wajah, satu mata, satu tangan, dan satu kaki.
Mereka hidup seperti binatang ternak, merumput di padang, melompat jauh dan berlari dengan cara yang aneh.

Cerita-cerita ini kemungkinan besar berasal dari tradisi Jahiliyyah, lalu di masa Islam diperluas dengan tambahan kisah dan bahkan syair yang dikarang “atas nama” makhluk separuh manusia separuh hewan itu. Hingga sekarang, kisah nasnās masih hidup di sebagian cerita rakyat Arab sebagai dongeng menakutkan dari padang pasir.

Apakah Wabar Hanya Mitos?

Sejumlah orientalis meragukan keberadaan historis Wabār, dan menganggapnya sebagai suku khayalan yang diciptakan para pencerita Arab. Menurut mereka:

Bentang gurun pasir yang sangat luas, kosong, dan menakutkan di selatan Jazirah Arab – terutama kawasan Rub‘ al-Khālī – mengilhami para pencerita untuk menciptakan imajinasi tentang kota-kota yang hilang dan suku-suku misterius seperti Wabār dan nasnās.

Juwād ‘Alī menyikapi ini lebih seimbang. Ia mengatakan:

Keraguan para sarjana modern tidak otomatis meniadakan kemungkinan adanya suku bernama Wabār di masa lampau.
Dulu, sebagian peneliti juga meragukan keberadaan ‘Ād dan Tsamūd, sampai kemudian inskripsi kuno membuktikan bahwa nama mereka memang pernah ada.
Bisa jadi suatu hari nanti ditemukan prasasti Wabār yang memberi cahaya baru tentang mereka.

Menariknya, sebagian kisah ahli berita tentang kesuburan negeri Wabār di masa lampau – banyak tanaman, padang rumput, dan sumber air – dikuatkan oleh laporan para penjelajah modern yang menemukan jejak-jejak permukiman tua di wilayah yang kini menjadi gurun gersang. Ini menjadi salah satu bahan diskusi bagi mereka yang membicarakan perubahan iklim dan kondisi tanah di Jazirah Arab sepanjang ribuan tahun.

Wabar dalam Ingatan Arab Kontemporer

Nama Wabār belum hilang dari ingatan penduduk gurun sampai hari ini.

Bagi sebagian orang Badui, di Rub‘ al-Khālī ada sebuah tempat yang mereka yakini sebagai kota Wabār, yang dihancurkan murka Allah hingga menjadi runtuhan.

Penjelajah terkenal H. St. John Philby (Abdullāh Philby) menceritakan bahwa beberapa Badui pernah membawanya ke sebuah lokasi di Rub‘ al-Khālī yang mereka klaim sebagai Wabār. Ia menemukan di sana sebuah kawah vulkanik yang pernah memuntahkan lava, sehingga tanah di sekitarnya tampak seperti reruntuhan yang terbakar.

Badui lain menuntun penjelajah Bertram Thomas ke tempat berbeda, sekitar 200 mil di tenggara lokasi yang pertama, juga diklaim sebagai Wabār, kota yang hilang.

Bahkan, pada tahun 1944, para pekerja ARAMCO menemukan sebuah lokasi di padang gersang yang oleh pemandu lokal disebut sebagai Wabār.

Semua ini menunjukkan bahwa nama Wabār dipakai secara longgar untuk menyebut beberapa tempat di gurun yang tampak aneh, runtuh, atau berjejak tua. Dalam imajinasi orang gurun, tanah kosong dan liar seperti itulah yang paling cocok disebut sebagai negeri Wabār yang terkutuk.


Suku ‘Ubail dan Yatsrib

Seperti Umim, suku ‘Ubail (عبيل) juga hanya dikenal melalui potongan kecil yang disampaikan para ahli berita. Mereka mengklaim bahwa:

‘Ubail adalah saudara kaum ‘Ād bin ‘Aus, atau
saudara ‘Aus bin Iram,

yang semuanya kembali kepada keturunan Sām bin Nūḥ.

Diriwayatkan bahwa kaum ‘Ubail berpindah dan tinggal di suatu tempat bernama Yatsrib (يثرب). Di sanalah mereka mendirikan kota Yatsrib, yang kelak dikenal sebagai al-Madīnah al-Munawwarah setelah kedatangan Nabi Muhammad.

Pembangun kota itu, menurut riwayat, adalah:

Yatsrib bin Bāṯilah bin Muhalhil bin ‘Ubail.

Setelah beberapa waktu, datanglah sebagian kaum ‘Amālīq (al-‘Amāliqah) ke Yatsrib. Mereka menguasai kota itu dan mengusir kaum ‘Ubail. ‘Ubail kemudian berpindah ke sebuah tempat bernama al-Juḥfah. Di sana, menurut cerita, datang banjir besar yang menyapu mereka hingga habis. Karena banjir itu meng-”ijtiḥāf” (mengganyang, menyapu bersih) mereka, tempat itu kemudian dinamai “al-Juḥfah”.

‘Ubail dan Obal dalam Taurat

Dalam Kitab Kejadian, di antara nama putra-putra Yoqṭān (Yaqṭān / Qaḥṭān) muncul nama “Obal” atau “Ebal” (عوبال / Ebal). Bentuk nama ini sangat dekat dengan ‘Ubail dalam riwayat Arab.

Sebagian sarjana biblis berpendapat bahwa sangat mungkin ‘Ubail yang disebut dalam tradisi Arab adalah Obal yang disebut Taurat.

Ptolemaios dalam Geografinya menyebut pula sebuah wilayah bernama “Avalites” yang terletak di sebuah teluk yang dinamai “Avalites Sinus”, dengan sebuah kota dagang bernama “Avalites Emporium”. Penduduknya disebut Avalites / Abalites / Abalitae dalam variasi Latin dan Yunani.

Sejarawan Forster mengusulkan bahwa:

Kaum “Abalitae / Avalites” bisa jadi adalah keturunan Obal (عوبال).
Jika demikian, maka anak cucu Obal bisa dikenali dalam tradisi Arab sebagai ‘Ubail.

Di Yaman sendiri terdapat sebuah tempat bernama ‘Ubail, dan sebuah desa di jalur Ṣan‘ā’ yang dikenal sebagai ‘Abāl. Kedua nama ini mirip dengan ‘Ubail, tetapi Juwād ‘Alī menegaskan bahwa kemiripan nama saja tidak cukup untuk memutuskan bahwa semuanya berkaitan. Ia hanya menyebutnya sebagai catatan kemungkinan, bukan kepastian sejarah.


Bani ‘Abd Dakhm dan Asal-usul Tulisan Arab

Nama lain yang disebut sebagai bagian dari bangsa-bangsa Arab bā’idah adalah ‘Abd Dakhm (عبد ضخم).

Para ahli berita menyatakan bahwa:

Bani ‘Abd Dakhm tinggal di wilayah Ṭā’if,
mereka kemudian punah bersama suku-suku tua lainnya,
dan menurut sebagian riwayat, merekalah orang pertama yang menulis dengan huruf Arab.

Ibn Khaldūn menyebut mereka sebagai “‘Abd Dakhm bin Iram”, sedangkan ath-Ṭabarī menyatakan bahwa mereka adalah salah satu klan dari ‘Abs al-Ūlā (Abs pertama).

Penyair terkenal masa pra-Islam, Umayyah bin Abī aṣ-Ṣalt, dikatakan pernah menyebut Bani ‘Abd Dakhm dalam syairnya, menggambarkan kehancuran mereka sebagai contoh kaum terdahulu yang lenyap.

Siapa yang Menciptakan Huruf Arab?

Sejarawan al-Hamdānī mengutip pendapat ahli nasab besar Ibn al-Kalbī, yang mengatakan bahwa:

Dua kabilah, yakni ‘Abd Dakhm dan Bayḍ (بَيض),
adalah yang pertama kali menciptakan bentuk tulisan Arab.

Penyair Hājiz al-Azdī menyetujui pandangan ini dalam salah satu baitnya yang dikutip al-Hamdānī. Bait itu memuji:

Bani ‘Abd Dakhm bila ditelusuri nasabnya,
dan Bani Bayḍ sebagai pemilik kehormatan tinggi.

Lalu ia menambahkan bahwa mereka:

Menciptakan cara baru untuk menuliskan ucapan mereka,
sehingga tulisan itu menjadi cerminan logat orang Arab.

Dengan kata lain, sebagian tradisi Arab menisbatkan penyusunan huruf Arab kepada kabilah-kabilah tua yang kemudian lenyap, seperti ‘Abd Dakhm dan Bayḍ. Tentu klaim ini sulit diverifikasi secara sejarah, namun menunjukkan bagaimana orang Arab melihat asal-usul tulisan mereka sebagai sesuatu yang lahir dari tangan nenek moyang jauh, bukan dari pengaruh luar.


Penutup

Bangsa-bangsa seperti Umim, Wabār, ‘Ubail, dan ‘Abd Dakhm hidup di wilayah abu-abu antara sejarah dan mitos.

Dari mereka, kita hanya memiliki:

Potongan silsilah,
Beberapa kisah pendirian kota dan kehancuran akibat banjir atau pasir,
Hubungan longgar dengan nama-nama dalam Taurat dan peta Yunani–Romawi,
Dan jejak samar dalam puisi, peribahasa, serta pengetahuan lokal orang Badui.

Boleh jadi sebagian dari mereka memang pernah eksis sebagai suku nyata, sebagian lain mungkin hasil konstruksi imajinasi sejarah yang berusaha mengisi kekosongan masa lalu.

Namun, seperti yang terjadi pada ‘Ād dan Tsamūd, arkeologi dan ilmu prasasti mungkin suatu hari akan menemukan bukti-bukti baru yang mengungkap siapa sebenarnya Wabār, Umim, atau ‘Ubail. Sampai hari itu tiba, kita hanya bisa membaca kisah-kisah ini dengan mata kritis namun terbuka, menyadari bahwa dalam tradisi Arab pra-Islam, sejarah dan legenda hampir selalu berjalan beriringan.


Peta Lokasi

Sumber

Juwād ‘Alī, المفصل في تاريخ العرب قبل الإسلام 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Battutah #59 : Dari Khawarizmi ke Bukhara

Rihlah Ibnu Bathutah #60 : Dari Reruntuhan Bukhara hingga Kelahiran Putri di Padang Stepa

Nabi Hūd, Kaum ‘Ād, dan Jejaknya dalam Sejarah Arab Pra Islam