Rihlah Ibnu Bathutah #60 : Dari Reruntuhan Bukhara hingga Kelahiran Putri di Padang Stepa
Reruntuhan yang Bercerita
Aku berdiri di tengah Bukhara, kota yang pernah menjadi
mercu ilmu dunia. Kini, yang tersisa hanyalah bisu reruntuhan dan luka yang
mengering. Di sekelilingku, masjid-masjid agung hanya menyisakan dinding retak,
madrasah-madrasah megah berubah menjadi sarang laba-laba, dan pasar-pasar ramai
kini sunyi sepi. Penduduknya hidup dalam kehinaan, bahkan kesaksian mereka tak
lagi diterima di negeri-negeri lain.
Ah, Bukhara... kota Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail
al-Bukhari, ahli hadits teragung sepanjang masa. Kini engkau jatuh begitu
dalam. Dan aku pun bertanya-tanya: bagaimana bisa negemilau ini sirna dalam
telapak tangan sang perusak?
Maka kumulai kisah ini—bukan sekadar catatan perjalanan,
tetapi juga pengingat akan kejayaan yang pernah tumbuh, dan malapetaka yang
meratakannya dengan tanah.
Kisah Sang Penguasa Step*a: Awal Mula Bencana
Konon, sebelum menjadi badai yang menghancurkan separuh
dunia, Tengiz Khan hanyalah seorang tukang besi biasa di
negeri Khatha. Namun Allah mengkaruniainya nyali besar, tubuh kekar, dan hati
yang lapang. Ia gemar mengumpulkan orang-orang dan memberi mereka makan. Lambat
laun, pengikutnya bertambah. Mereka mengangkatnya sebagai pemimpin.
Dari hari ke hari, kekuatannya menggunung. Ia menaklukkan
negeri Khatha, lalu menjatuhkan kekaisaran Cina. Pasukannya membengkak, dan
satu per satu negeri jatuh: Khathan, Kasygar, Al-Maliq.
Namun ada satu nama yang membuatnya ragu: Jalaluddin
Sanjar bin Khwarizmshah, penguasa Khawarizmi, Khurasan, dan seluruh negeri
seberang Jaihun. Begitu perkasa dan disegani, hingga Tengiz Khan pun
mengurungkan niatnya. Ia tidak berani menyentuh wilayahnya.
Sampai suatu hari...
Satu Keputusan Kelam yang Membawa Petaka
Tengiz Khan mengirim para pedagangnya membawa barang
dagangan dari Cina dan Khatha—kain sutera, rempah, dan permata—ke kota Uthrar,
wilayah kekuasaan Jalaluddin.
Gubernur Uthrar menerima mereka. Namun alih-alih menyambut,
ia mengirim utusan ke Jalaluddin meminta perintah. Dan di situlah musibah
bermula.
Entah karena takdir yang telah dituliskan-Nya, atau karena
kebijakan paling keliru sepanjang sejarah kerajaannya, Jalaluddin memberi
perintah kejam: rampas harta mereka, potong-potong tubuh mereka, dan
kirim mereka pulang dalam keadaan tercincang.
Sumpah serapah itu sampai ke telinga Tengiz Khan. Dengan
mata merah membara, ia menghimpun pasukan tanpa bilangan. Ia bersumpah akan
membalas dendam kepada negeri Islam.
Mata-mata di Kemah Perang
Gubernur Uthrar mengirim mata-matanya. Seorang penyusup
menyamar sebagai pengemis dan menyusup ke perkemahan salah satu panglima
Tengiz. Di sana, ia tidak menemukan seorang pun yang memberinya makanan. Ia
duduk di samping seorang prajurit Mongol. Prajurit itu tidak membawa perbekalan
apa pun.
Menjelang malam, prajurit itu mengeluarkan sepotong daging
kering. Ia membasahinya dengan air, lalu menusuk urat kudanya, menampung darah
dalam kantong daging, menjahitnya, dan memanggangnya di atas bara. Itulah
makanannya.
Mata-mata itu segera kembali ke Uthrar dan melapor. Ia
berkata dengan gemetar, "Pasukan ini bukan manusia biasa. Mereka mampu
bertahan dari apa pun. Tidak ada satu bala tentara pun di dunia ini yang
sanggup mengalahkan mereka."
Jalaluddin mendapat kabar itu. Ia mengirim bala bantuan:
enam puluh ribu prajurit pilihan. Namun, di medan laga, semuanya rubuh. Tengiz
Khan menghancurkan Uthrar dengan pedangnya. Laki-laki dibantai, perempuan dan
anak-anak dijadikan tawanan.
Jalaluddin sendiri turun ke medan perang. Pertempuran demi
pertempuran terjadi. Belum pernah dunia Islam menyaksikan kengerian seperti
itu.
Dan pada akhirnya, satu per satu negeri Islam di seberang
Jaihun jatuh.
Kota-kota yang Terbang dalam Debu
Tengiz Khan melumatkan Bukhara hingga rata
dengan tanah. Samarkand yang megah, Tirmidz yang
kukuh—semua remuk redam. Ia menyeberangi sungai Jaihun menuju Balkh,
kota para bijak, dan meratakannya. Lalu ke Al-Yamian (Bamiyan),
dan menghabiskannya.
Sekali waktu, kaum muslimin di Balkh dan seberang sungai
memberontak. Namun balasannya begitu kejam: Tengiz Khan kembali, membantai
penghuni Balkh, dan meninggalkan kota itu sunyi, hanya tinggal dinding-dinding
tanpa jiwa. Tirmidz mengalami nasib serupa. Kota itu tidak pernah bangkit lagi.
Yang berdiri sekarang adalah kota baru dua mil darinya, yang kami sebut Tirmidz
hari ini.
Seluruh penduduk Bamiyan dibantai. Tidak satu bangunan pun
tersisa, kecuali satu menara masjid Jami' yang menjulang sunyi, seperti jari
yang menunjuk ke langit, menanyakan keadilan-Nya.
Namun kepada penduduk Bukhara dan Samarkand, Tengiz Khan
memberi ampunan.
Mereka selamat. Tapi kota mereka tidak.
Baghdad: Mahkota yang Pecah
Lalu ia bergerak ke Irak. Tak ada yang mampu menahan
lajunya.
Ia memasuki Baghdad—pusat kekhalifahan, jantung
dunia Islam—dengan pedang terhunus. Darah mengalir di jalan-jalan yang dulu
dihiasi kitab dan syair. Khalifah Al-Musta'shim Billah Al-Abbasi—semoga
Allah merahmatinya—disembelih seperti domba kurban.
Empat ribu tahun peradaban, sirna dalam satu hari.
Dua Puluh Empat Ribu Ulama: Mereka yang Hilang
Syaikhuna, Qadhi Qudhat Abu Barakat Ibnul Hajj—semoga Allah
memuliakannya—berkata padaku:
"Aku mendengar khatib Abu Abdullah bin Rusyd bercerita.
Ia bertemu Nuruddin bin Az-Zajjaj, seorang ulama Irak, di Makkah.
Di sampingnya ada keponakannya. Mereka berbincang tentang fitnah Tartar. Lalu
Nuruddin berkata:
'Dalam fitnah Tartar di Irak, dua puluh empat ribu ulama gugur. Tidak ada
yang selamat selain aku... dan ini.'
—Ia menunjuk keponakannya."
Dua puluh empat ribu pelita ilmu. Padam dalam sekejap.
Di Zawiyah Syaikh Al-Bakharzi: Malam yang Tak Kulupa
Kami turun di pinggiran Bukhara, di sebuah tempat
bernama Fathabad. Di sana berdiri zawiyah Syaikh Saifuddin
Al-Bakharzi, seorang wali besar dari kalangan kaum salaf. Zawiyah ini luas,
memiliki wakaf melimpah. Setiap yang datang dan pergi diberi makan.
Syaikhnya sekarang adalah keturunannya, Al-Hajj
As-Sayyah Yahya Al-Bakharzi. Ia menjamuku di rumahnya. Wajah-wajah
terkemuka Bukhara dikumpulkannya. Para qari' melantunkan ayat dengan suara
merdu, seorang penceramah memberi wejangan, dan mereka bernyanyi dalam bahasa
Turk dan Persia dengan cara yang sangat indah.
Malam itu adalah salah satu malam terindah dalam hidupku.
Di sana aku juga bertemu Shadr asy-Syari'ah,
seorang fakih alim dan saleh yang baru tiba dari Herat. Ia duduk bersamaku, dan
hatiku tenang berada di dekatnya.
Di Pusara Imam Al-Bukhari
Aku berziarah ke makam Imam Abu Abdullah Muhammad
bin Ismail Al-Bukhari, penyusun kitab Al-Jami' Ash-Shahih,
Syaikhul Muslimin, semoga Allah meridhainya.
Di nisannya terukir:
"Ini adalah makam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Ia telah menyusun
sekian dan sekian kitab."
Di makam para ulama Bukhari lainnya juga terukir nama mereka
dan kitab-kitab karangan mereka. Aku sempat mencatatnya dengan panjang lebar.
Namun semua catatan itu hilang—tersapu bersama hartaku yang lain, saat
orang-orang kafir India merampasku di tengah laut.
Kenangan itu menyakitkan, tapi inilah jalanku: kehilangan,
lalu melanjutkan langkah.
Perjalanan Menuju Samarkand yang Tertunda
Kami berangkat dari Bukhara menuju perkemahan Sultan Alauddin
Tharmasyirin, raja agung yang saleh. Kami melewati Nakhsyab,
kota kecil nan permai, dikelilingi kebun dan sungai yang mengalir jernih. Nama
kota ini dinisbatkan kepada Syaikh Abu Turb an-Nakhsyabi.
Kami singgah di luar kota, di rumah amirnya. Saat itu, salah
satu budak perempuanku hampir melahirkan. Aku ingin membawanya ke Samarkand
agar ia melahirkan di kota megah itu. Namun takdir berkata lain.
Di tengah perjalanan, dalam usungan (mahmal), ia
melahirkan.
Para sahabatku berangkat malam hari, membawa serta budak
itu, perbekalan, dan seluruh barangku. Aku sengaja tinggal, menunggu siang agar
bisa menyusul dengan beberapa orang yang bersamaku.
Kami mengambil jalan berbeda. Sore harinya, kami tiba di
perkemahan Sultan dalam keadaan sangat lapar.
Malam Pertama di Tanah Asing
Kami turun agak jauh dari pasar. Seorang pedagang
meminjamkan tenda tua. Salah seorang sahabat membeli sedikit makanan, sekadar
mengganjal perut. Malam itu kami tidur dalam kelelahan dan kebingungan.
Pagi harinya, sahabatku pergi mencari unta dan rombongan
yang kutinggalkan. Mereka baru kembali sore hari, membawa serta semua yang
sempat terpisah.
Sultan sedang pergi berburu. Aku bertemu dengan wakilnya,
Amir Taqbuqa. Ia menempatkanku di dekat masjid, dan memberiku
sebuah kharkah—semacam tenda yang pernah kujelaskan sebelumnya.
Budak perempuanku kupanggil masuk ke dalam kharkah itu.
Malam itu juga, ia melahirkan.
Seorang Putri di Bawah Bintang
Para pelayan datang memberi kabar gembira: "Bayinya
laki-laki, Tuan!"
Namun saat perayaan akikah tiba, salah seorang sahabatku
berkata pelan, "Tuanku... bayinya perempuan."
Aku memanggil para budak. Mereka tertunduk malu.
Ternyata, sejak awal ia lahir sebagai putri.
Aku tidak marah. Sebaliknya, kulihat bayi mungil itu
dilahirkan di bawah perjalanan besar, di tengah padang asing—dan sejak saat
itu, segala urusanku menjadi mudah, hati lapang, dan jalan terasa ringan.
Namun Allah lebih menyayanginya. Dua bulan setelah aku tiba
di India, ia dipanggil pulang.
Semoga Allah merahmatinya. Ia adalah pengingat bahwa di
tengah debu dan pelana, kehidupan tetap tumbuh—meski hanya untuk singgah
sebentar.
Dua Syaikh di Perkemahan
Di perkemahan ini aku bertemu dua orang saleh.
Pertama, Maulana Husamuddin Al-Yaghi—dalam
bahasa Turk, "yaghi" berarti pemberontak. Ia berasal dari Uthrar.
Wajahnya teduh, ucapannya penuh hikmah, ibadahnya khusyuk.
Kedua, seorang syaikh yang merupakan besan Sultan.
Aku lupa namanya, tapi aku tak pernah melupakan kerendahan hatinya.
Mereka adalah penenun doa di tengah hiruk-pikuk kekuasaan.
Di dekat mereka, aku merasa seperti berada di masjid, bukan di perkemahan raja.
Sumber Kisah:
*Rihlah Ibnu Battutah

Komentar
Posting Komentar