Rihlah Ibnu Bathutah #60 : Dari Reruntuhan Bukhara hingga Kelahiran Putri di Padang Stepa

Ilustrasi Bukhara abad ke-14 pasca-invasi Mongol. Ibnu Battutah berdiri memandangi reruntuhan masjid dan madrasah. Makam Imam Al-Bukhari tampak di kejauhan. Suasana senja muram penuh sejarah. Gaya miniatur Persia digital

Reruntuhan yang Bercerita

Aku berdiri di tengah Bukhara, kota yang pernah menjadi mercu ilmu dunia. Kini, yang tersisa hanyalah bisu reruntuhan dan luka yang mengering. Di sekelilingku, masjid-masjid agung hanya menyisakan dinding retak, madrasah-madrasah megah berubah menjadi sarang laba-laba, dan pasar-pasar ramai kini sunyi sepi. Penduduknya hidup dalam kehinaan, bahkan kesaksian mereka tak lagi diterima di negeri-negeri lain.

Ah, Bukhara... kota Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, ahli hadits teragung sepanjang masa. Kini engkau jatuh begitu dalam. Dan aku pun bertanya-tanya: bagaimana bisa negemilau ini sirna dalam telapak tangan sang perusak?

Maka kumulai kisah ini—bukan sekadar catatan perjalanan, tetapi juga pengingat akan kejayaan yang pernah tumbuh, dan malapetaka yang meratakannya dengan tanah.


Kisah Sang Penguasa Step*a: Awal Mula Bencana

Konon, sebelum menjadi badai yang menghancurkan separuh dunia, Tengiz Khan hanyalah seorang tukang besi biasa di negeri Khatha. Namun Allah mengkaruniainya nyali besar, tubuh kekar, dan hati yang lapang. Ia gemar mengumpulkan orang-orang dan memberi mereka makan. Lambat laun, pengikutnya bertambah. Mereka mengangkatnya sebagai pemimpin.

Dari hari ke hari, kekuatannya menggunung. Ia menaklukkan negeri Khatha, lalu menjatuhkan kekaisaran Cina. Pasukannya membengkak, dan satu per satu negeri jatuh: Khathan, Kasygar, Al-Maliq.

Namun ada satu nama yang membuatnya ragu: Jalaluddin Sanjar bin Khwarizmshah, penguasa Khawarizmi, Khurasan, dan seluruh negeri seberang Jaihun. Begitu perkasa dan disegani, hingga Tengiz Khan pun mengurungkan niatnya. Ia tidak berani menyentuh wilayahnya.

Sampai suatu hari...


Satu Keputusan Kelam yang Membawa Petaka

Tengiz Khan mengirim para pedagangnya membawa barang dagangan dari Cina dan Khatha—kain sutera, rempah, dan permata—ke kota Uthrar, wilayah kekuasaan Jalaluddin.

Gubernur Uthrar menerima mereka. Namun alih-alih menyambut, ia mengirim utusan ke Jalaluddin meminta perintah. Dan di situlah musibah bermula.

Entah karena takdir yang telah dituliskan-Nya, atau karena kebijakan paling keliru sepanjang sejarah kerajaannya, Jalaluddin memberi perintah kejam: rampas harta mereka, potong-potong tubuh mereka, dan kirim mereka pulang dalam keadaan tercincang.

Sumpah serapah itu sampai ke telinga Tengiz Khan. Dengan mata merah membara, ia menghimpun pasukan tanpa bilangan. Ia bersumpah akan membalas dendam kepada negeri Islam.


Mata-mata di Kemah Perang

Gubernur Uthrar mengirim mata-matanya. Seorang penyusup menyamar sebagai pengemis dan menyusup ke perkemahan salah satu panglima Tengiz. Di sana, ia tidak menemukan seorang pun yang memberinya makanan. Ia duduk di samping seorang prajurit Mongol. Prajurit itu tidak membawa perbekalan apa pun.

Menjelang malam, prajurit itu mengeluarkan sepotong daging kering. Ia membasahinya dengan air, lalu menusuk urat kudanya, menampung darah dalam kantong daging, menjahitnya, dan memanggangnya di atas bara. Itulah makanannya.

Mata-mata itu segera kembali ke Uthrar dan melapor. Ia berkata dengan gemetar, "Pasukan ini bukan manusia biasa. Mereka mampu bertahan dari apa pun. Tidak ada satu bala tentara pun di dunia ini yang sanggup mengalahkan mereka."

Jalaluddin mendapat kabar itu. Ia mengirim bala bantuan: enam puluh ribu prajurit pilihan. Namun, di medan laga, semuanya rubuh. Tengiz Khan menghancurkan Uthrar dengan pedangnya. Laki-laki dibantai, perempuan dan anak-anak dijadikan tawanan.

Jalaluddin sendiri turun ke medan perang. Pertempuran demi pertempuran terjadi. Belum pernah dunia Islam menyaksikan kengerian seperti itu.

Dan pada akhirnya, satu per satu negeri Islam di seberang Jaihun jatuh.


Kota-kota yang Terbang dalam Debu

Tengiz Khan melumatkan Bukhara hingga rata dengan tanah. Samarkand yang megah, Tirmidz yang kukuh—semua remuk redam. Ia menyeberangi sungai Jaihun menuju Balkh, kota para bijak, dan meratakannya. Lalu ke Al-Yamian (Bamiyan), dan menghabiskannya.

Sekali waktu, kaum muslimin di Balkh dan seberang sungai memberontak. Namun balasannya begitu kejam: Tengiz Khan kembali, membantai penghuni Balkh, dan meninggalkan kota itu sunyi, hanya tinggal dinding-dinding tanpa jiwa. Tirmidz mengalami nasib serupa. Kota itu tidak pernah bangkit lagi. Yang berdiri sekarang adalah kota baru dua mil darinya, yang kami sebut Tirmidz hari ini.

Seluruh penduduk Bamiyan dibantai. Tidak satu bangunan pun tersisa, kecuali satu menara masjid Jami' yang menjulang sunyi, seperti jari yang menunjuk ke langit, menanyakan keadilan-Nya.

Namun kepada penduduk Bukhara dan Samarkand, Tengiz Khan memberi ampunan.

Mereka selamat. Tapi kota mereka tidak.


Baghdad: Mahkota yang Pecah

Lalu ia bergerak ke Irak. Tak ada yang mampu menahan lajunya.

Ia memasuki Baghdad—pusat kekhalifahan, jantung dunia Islam—dengan pedang terhunus. Darah mengalir di jalan-jalan yang dulu dihiasi kitab dan syair. Khalifah Al-Musta'shim Billah Al-Abbasi—semoga Allah merahmatinya—disembelih seperti domba kurban.

Empat ribu tahun peradaban, sirna dalam satu hari.


Dua Puluh Empat Ribu Ulama: Mereka yang Hilang

Syaikhuna, Qadhi Qudhat Abu Barakat Ibnul Hajj—semoga Allah memuliakannya—berkata padaku:

"Aku mendengar khatib Abu Abdullah bin Rusyd bercerita. Ia bertemu Nuruddin bin Az-Zajjaj, seorang ulama Irak, di Makkah. Di sampingnya ada keponakannya. Mereka berbincang tentang fitnah Tartar. Lalu Nuruddin berkata:
'Dalam fitnah Tartar di Irak, dua puluh empat ribu ulama gugur. Tidak ada yang selamat selain aku... dan ini.'
—Ia menunjuk keponakannya."

Dua puluh empat ribu pelita ilmu. Padam dalam sekejap.


Di Zawiyah Syaikh Al-Bakharzi: Malam yang Tak Kulupa

Kami turun di pinggiran Bukhara, di sebuah tempat bernama Fathabad. Di sana berdiri zawiyah Syaikh Saifuddin Al-Bakharzi, seorang wali besar dari kalangan kaum salaf. Zawiyah ini luas, memiliki wakaf melimpah. Setiap yang datang dan pergi diberi makan.

Syaikhnya sekarang adalah keturunannya, Al-Hajj As-Sayyah Yahya Al-Bakharzi. Ia menjamuku di rumahnya. Wajah-wajah terkemuka Bukhara dikumpulkannya. Para qari' melantunkan ayat dengan suara merdu, seorang penceramah memberi wejangan, dan mereka bernyanyi dalam bahasa Turk dan Persia dengan cara yang sangat indah.

Malam itu adalah salah satu malam terindah dalam hidupku.

Di sana aku juga bertemu Shadr asy-Syari'ah, seorang fakih alim dan saleh yang baru tiba dari Herat. Ia duduk bersamaku, dan hatiku tenang berada di dekatnya.


Di Pusara Imam Al-Bukhari

Aku berziarah ke makam Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, penyusun kitab Al-Jami' Ash-Shahih, Syaikhul Muslimin, semoga Allah meridhainya.

Di nisannya terukir:
"Ini adalah makam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Ia telah menyusun sekian dan sekian kitab."

Di makam para ulama Bukhari lainnya juga terukir nama mereka dan kitab-kitab karangan mereka. Aku sempat mencatatnya dengan panjang lebar. Namun semua catatan itu hilang—tersapu bersama hartaku yang lain, saat orang-orang kafir India merampasku di tengah laut.

Kenangan itu menyakitkan, tapi inilah jalanku: kehilangan, lalu melanjutkan langkah.


Perjalanan Menuju Samarkand yang Tertunda

Kami berangkat dari Bukhara menuju perkemahan Sultan Alauddin Tharmasyirin, raja agung yang saleh. Kami melewati Nakhsyab, kota kecil nan permai, dikelilingi kebun dan sungai yang mengalir jernih. Nama kota ini dinisbatkan kepada Syaikh Abu Turb an-Nakhsyabi.

Kami singgah di luar kota, di rumah amirnya. Saat itu, salah satu budak perempuanku hampir melahirkan. Aku ingin membawanya ke Samarkand agar ia melahirkan di kota megah itu. Namun takdir berkata lain.

Di tengah perjalanan, dalam usungan (mahmal), ia melahirkan.

Para sahabatku berangkat malam hari, membawa serta budak itu, perbekalan, dan seluruh barangku. Aku sengaja tinggal, menunggu siang agar bisa menyusul dengan beberapa orang yang bersamaku.

Kami mengambil jalan berbeda. Sore harinya, kami tiba di perkemahan Sultan dalam keadaan sangat lapar.


Malam Pertama di Tanah Asing

Kami turun agak jauh dari pasar. Seorang pedagang meminjamkan tenda tua. Salah seorang sahabat membeli sedikit makanan, sekadar mengganjal perut. Malam itu kami tidur dalam kelelahan dan kebingungan.

Pagi harinya, sahabatku pergi mencari unta dan rombongan yang kutinggalkan. Mereka baru kembali sore hari, membawa serta semua yang sempat terpisah.

Sultan sedang pergi berburu. Aku bertemu dengan wakilnya, Amir Taqbuqa. Ia menempatkanku di dekat masjid, dan memberiku sebuah kharkah—semacam tenda yang pernah kujelaskan sebelumnya.

Budak perempuanku kupanggil masuk ke dalam kharkah itu. Malam itu juga, ia melahirkan.


Seorang Putri di Bawah Bintang

Para pelayan datang memberi kabar gembira: "Bayinya laki-laki, Tuan!"

Namun saat perayaan akikah tiba, salah seorang sahabatku berkata pelan, "Tuanku... bayinya perempuan."

Aku memanggil para budak. Mereka tertunduk malu.

Ternyata, sejak awal ia lahir sebagai putri.

Aku tidak marah. Sebaliknya, kulihat bayi mungil itu dilahirkan di bawah perjalanan besar, di tengah padang asing—dan sejak saat itu, segala urusanku menjadi mudah, hati lapang, dan jalan terasa ringan.

Namun Allah lebih menyayanginya. Dua bulan setelah aku tiba di India, ia dipanggil pulang.

Semoga Allah merahmatinya. Ia adalah pengingat bahwa di tengah debu dan pelana, kehidupan tetap tumbuh—meski hanya untuk singgah sebentar.


Dua Syaikh di Perkemahan

Di perkemahan ini aku bertemu dua orang saleh.

Pertama, Maulana Husamuddin Al-Yaghi—dalam bahasa Turk, "yaghi" berarti pemberontak. Ia berasal dari Uthrar. Wajahnya teduh, ucapannya penuh hikmah, ibadahnya khusyuk.

Kedua, seorang syaikh yang merupakan besan Sultan. Aku lupa namanya, tapi aku tak pernah melupakan kerendahan hatinya.

Mereka adalah penenun doa di tengah hiruk-pikuk kekuasaan. Di dekat mereka, aku merasa seperti berada di masjid, bukan di perkemahan raja.


Sumber Kisah:
*Rihlah Ibnu Battutah

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peristiwa-Peristiwa di Tahun ke-3 Hijriah

Rihlah Ibnu Bathutah #56 : Konstantinopel, Sarā Barkah dan Sultan Uzbak

Rihlah Ibnu Baathutah #57 : Dari As-Sarā ke Khawarizmi