Rihlah Ibnu Bathutah #60 : Dari Reruntuhan Bukhara hingga Kelahiran Putri di Padang Stepa
Reruntuhan yang Bercerita Aku berdiri di tengah Bukhara, kota yang pernah menjadi mercu ilmu dunia. Kini, yang tersisa hanyalah bisu reruntuhan dan luka yang mengering. Di sekelilingku, masjid-masjid agung hanya menyisakan dinding retak, madrasah-madrasah megah berubah menjadi sarang laba-laba, dan pasar-pasar ramai kini sunyi sepi. Penduduknya hidup dalam kehinaan, bahkan kesaksian mereka tak lagi diterima di negeri-negeri lain. Ah, Bukhara... kota Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, ahli hadits teragung sepanjang masa. Kini engkau jatuh begitu dalam. Dan aku pun bertanya-tanya: bagaimana bisa negemilau ini sirna dalam telapak tangan sang perusak? Maka kumulai kisah ini—bukan sekadar catatan perjalanan, tetapi juga pengingat akan kejayaan yang pernah tumbuh, dan malapetaka yang meratakannya dengan tanah. Kisah Sang Penguasa Step*a: Awal Mula Bencana Konon, sebelum menjadi badai yang menghancurkan separuh dunia, Tengiz Khan hanyalah seorang tuka...
Komentar
Posting Komentar