Rihlah Ibnu Battutah #59 : Dari Khawarizmi ke Bukhara
Keistimewaan Buat-Buahan Khawarizmi
Semangka Khawarizmi benar-benar tak tertandingi di seluruh dunia, baik di Timur
maupun di Barat. Hanya semangka Bukhara yang bisa menyainginya, lalu disusul
semangka Isfahan. Kulitnya hijau, isinya merah, manisnya sungguh terasa, dan
dagingnya padat. Salah satu keajaibannya adalah ia bisa diiris tipis dan
dikeringkan di bawah matahari, lalu disimpan dalam peti, seperti cara kita
mengawetkan daging asap atau buah tin Malaga di negeri kami. Semangka kering
ini dibawa dari Khawarizmi hingga ke ujung negeri India dan Cina. Di antara
semua buah kering, tak ada yang lebih lezat darinya.
Selama tinggal di Delhi, India, setiap kali ada musafir yang datang, aku selalu
menyuruh seseorang membelikan semangka kering untukku. Bahkan, Raja India jika
mendapat kiriman buah ini, selalu mengirimkannya kepadaku karena ia tahu betapa
aku menyukainya. Memang sudah menjadi kebiasaan sang raja untuk menjamu orang
asing dengan buah-buahan khas negeri mereka dan memperhatikan mereka dengan
cara itu.
Kisah Seorang Pedagang yang Penuh Tragedi
Dalam perjalananku dari kota As-Sara ke Khawarizmi, aku ditemani seorang syarif
(keturunan Nabi) dari Karbila bernama Ali bin Manshur, seorang
pedagang. Aku sering memintanya membelikan pakaian dan barang lainnya untukku.
Ia biasa membelikan sehelai pakaian seharga sepuluh dinar, lalu berkata padaku
harganya delapan dinar, dan ia sendiri yang membayar selisih dua dinarnya dari
kantongnya sendiri tanpa kuketahui. Dari cerita orang lainlah akhirnya aku tahu
kelakuannya yang mulia ini. Selain itu, ia juga pernah memberiku pinjaman
dinar. Ketika aku menerima pemberian yang melimpah dari Amir Khawarizmi, segera
kukembalikan semua pinjamannya. Aku ingin membalas kebaikannya, tetapi ia
menolak keras dan bersumpah untuk tidak menerimanya. Aku juga berniat berbuat
baik pada seorang pemuda bernama Kafur, tapi ia pun bersumpah
menolak. Ia adalah orang paling dermawan yang kutemui dari bangsa Iraq.
Awalnya, ia berniat melanjutkan perjalanan bersamaku ke India. Namun, ketika
sekelompok orang dari kampung halamannya tiba di Khawarizmi dengan tujuan
berdagang ke Cina, ia memutuskan untuk bergabung dengan mereka. Saat kutetapkan
niatnya, ia berkata, "Mereka ini orang sekampungku. Jika mereka pulang dan
menceritakan bahwa aku pergi ke India untuk mencari hadiah (berdagang), itu
akan menjadi aib bagiku. Aku tidak akan melakukannya." Akhirnya ia
berangkat bersama mereka ke Cina.
Ketika aku sudah berada di India, kabar sampai kepadaku tentang akhir hidupnya
yang menyedihkan. Saat tiba di kota Al-Malaq—kota terakhir di
wilayah Transoxiana dan gerbang pertama ke Cina—ia menetap di sana. Ia mengutus
seorang pemuda pembantunya untuk menjual barang dagangannya, tetapi si pemuda
lama tidak kembali. Di saat yang sama, beberapa pedagang dari kampung halamannya
tiba dan tinggal di penginapan yang sama. Sang Syarif meminjam sedikit uang
kepada mereka sambil menunggu pembantunya kembali, namun mereka menolak. Lebih
buruk lagi, mereka malah menuntut agar ia menambah bayaran untuk kamarnya di
penginapan itu.
Mendengar hal itu, Sang Syarif merasa sangat tertekan. Ia masuk ke kamarnya dan
mencoba bunuh diri dengan menyembelih lehernya sendiri. Saat ditemukan masih
bergerak, orang-orang menuduh pembantunya yang lain telah membunuhnya. Dengan
sisa napas, ia membela pembantunya, "Jangan kalian zalimi dia. Akulah yang
melakukan ini." Ia pun meninggal pada hari itu juga. Semoga Allah
mengampuninya.
Dahulu, ia pernah bercerita bahwa suatu kali ia menerima enam ribu dirham dari
seorang pedagang Damaskus sebagai modal usaha (qiradh). Ketika bertemu
kembali dengan pedagang itu di kota Hama, Suriah, dan ditagih hutangnya, ia
sedang tidak memiliki uang karena barang dagangannya belum laku. Merasa malu,
ia pulang ke rumahnya, mengikat sorban ke langit-langit, dan hendak gantung
diri. Namun, ajalnya rupanya belum tiba. Ia teringat pada seorang temannya yang
bekerja sebagai penukar uang (shayarif), mendatanginya, menceritakan
masalahnya, dan akhirnya mendapat pinjaman untuk melunasi hutangnya pada
pedagang Damaskus itu.
Memulai Perjalanan Menuju Bukhara
Ketika aku hendak berangkat dari Khawarizmi, aku menyewa beberapa unta dan
membeli sebuah tenda (maharah). Teman seperjalananku adalah ‘Afifuddin
At-Turizi. Para pelayan menunggang sebagian kuda, sementara kuda-kuda
lainnya kami selimuti untuk menghangatkan mereka dari udara dingin.
Kami memasuki gurun pasir yang membentang antara Khawarizmi dan Bukhara, sebuah
perjalanan selama delapan belas hari di hamparan pasir tanpa pemukiman, kecuali
satu kota kecil. Sebelum berangkat, aku berpamitan pada Amir Quthludumur. Ia
menganugerahiku sebuah jubah kehormatan (khil’ah) dan memberikan jubah
lain untuk Qadhi. Sang Amir bahkan keluar bersama para fuqaha untuk melepas
kepergianku.
Setelah berjalan empat hari, kami tiba di kota Alkaf. Hanya kota
inilah satu-satunya permukiman di sepanjang jalan itu. Kota ini kecil namun
indah. Kami bermalam di luar kota, di dekat sebuah kolam yang telah membeku
karena dinginnya udara. Anak-anak setempat bermain dan meluncur di atas
permukaan esnya.
Kedatangan yang Dihormati
Kedatanganku terdengar oleh Qadhi Alkaf yang bernama Shadr asy-Syari’ah—yang
pernah kutenui di rumah Qadhi Khawarizmi. Ia datang menyambutku dengan
mengucapkan salam, didampingi para penuntut ilmu dan seorang syaikh kota yang
shaleh lagi ahli ibadah, Mahmud Al-Khayufi.
Kemudian, Qadhi menawarkan untuk mengantarku menemui Amir kota itu. Namun,
Syaikh Mahmud Al-Khayufi berkata, "Sepatutnya tamu ini yang dikunjungi.
Andai kita punya semangat, kitalah yang harus pergi ke Amir dan membawanya
kemari." Dan itulah yang mereka lakukan. Tak lama kemudian, Amir datang
bersama para pengiring dan pelayannya. Kami pun memberi salam. Karena tujuan
kami adalah melanjutkan perjalanan dengan cepat, Amir justru meminta kami untuk
tinggal lebih lama. Ia mengadakan sebuah jamuan yang dihadiri para fuqaha,
tokoh-tokoh militer, dan lainnya. Para penyair berdiri memujinya. Amir
memberikanku seperangkat pakaian dan seekor kuda yang bagus.
Melintasi Padang Pasir Sibayah
Kami melanjutkan perjalanan melalui jalan yang dikenal sebagai Sibayah,
melintasi padang pasir itu selama enam hari tanpa menemukan air.
Setelah itu, kami tiba di kota kecil Wabkanah, yang berjarak satu
hari perjalanan dari Bukhara. Kota yang indah ini dialiri sungai-sungai dan
dipenuhi kebun. Mereka menyimpan anggur dari tahun ke tahun. Di sana ada buah
yang mereka sebut "Alu" (mungkin sejenis plum atau
aprikot). Buah ini dikeringkan dan diekspor ke India dan Cina. Orang-orang
merendamnya dalam air untuk diminum sari buahnya. Saat masih hijau, rasanya
manis. Setelah dikeringkan, muncul rasa asam yang sedikit, dan daging buahnya
tebal. Aku tidak pernah melihat buah serupa di Andalusia, Maghribi, maupun
Syam.
Kemudian kami berjalan seharian penuh melintasi rangkaian kebun yang
bersambungan, sungai-sungai, pepohonan, dan permukiman, hingga akhirnya tiba
di Bukhara.
Kota Bukhara yang Dulu Megah
Kota inilah yang menjadi tanah kelahiran Imam Ahli Hadits, Abu Abdullah
Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Dahulu, kota ini adalah ibu kota wilayah
Transoxiana. Namun, sang terkutuk Tengiz (Genghis) Khan Tartar—nenek
moyang raja-raja Iraq—telah menghancurkannya. Sekarang, sebagian besar masjid,
madrasah, dan pasar-pasarnya masih menjadi reruntuhan, hanya sedikit yang
tersisa.
Penduduknya pun hidup dalam kehinaan. Kesaksian mereka bahkan tidak diterima di
Khawarizmi dan tempat lain, karena mereka terkenal fanatik, sering mengklaim
yang batil, dan mengingkari kebenaran. Saat ini, hampir tidak ada lagi orang di
sana yang mendalami ilmu pengetahuan, atau punya perhatian padanya.

Komentar
Posting Komentar