Nabi Hūd, Kaum ‘Ād, dan Jejaknya dalam Sejarah Arab Pra Islam

Ilustrasi Nabi Hud AS berdiri di atas bukit pasir, menghadap kaum ‘Ad di depan reruntuhan kota megah yang tertimbun gurun, dengan langit gelap dan sumur tua mirip Barhut di kejauhan.

Nabi Hūd dan Kaum ‘Ād dalam Al-Qur’an

Dalam kisah-kisah tentang kaum ‘Ād, para ulama sejarah Arab menyebut seorang nabi yang diutus dari kalangan mereka sendiri: Nabi Hūd. Al-Qur’an menamainya sebagai “saudara kaum ‘Ād” dan juga menyebut kaum ‘Ād sebagai “kaum Hūd”.

Allah berfirman tentang pengutusan Hūd kepada kaum ‘Ād:

﴿وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾
(سورة الأعراف، الآية ٦٥)

“Dan kepada (kaum) ‘Ād Kami utus saudara mereka, Hūd. Ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah; tidak ada bagi kalian tuhan selain Dia. Maka tidakkah kalian bertakwa?’”

Di tempat lain, Allah menyebut kehancuran kaum ‘Ād dan menyebut mereka sebagai “kaum Hūd”:

﴿وَأُتْبِعُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ أَلَا إِنَّ عَادًا كَفَرُوا رَبَّهُمْ ۗ أَلَا بُعْدًا لِعَادٍ قَوْمِ هُودٍ﴾
(سورة هود، الآية ٦٠)

“Dan mereka diikuti di dunia ini dengan laknat, dan (begitu pula) pada hari Kiamat. Ketahuilah, sesungguhnya kaum ‘Ād telah kafir kepada Tuhan mereka. Ketahuilah, kebinasaanlah bagi kaum ‘Ād, kaum Hūd itu.”

Nama Hūd juga muncul ketika Allah mengingatkan kaum Nabi Syu‘aib agar tidak tertimpa azab seperti umat-umat terdahulu:

﴿وَيَا قَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ ۚ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ﴾
(سورة هود، الآية ٨٩)

“Dan wahai kaumku, janganlah pertentangan antara aku dengan kalian menjadikan kalian tertimpa (azab) seperti yang menimpa kaum Nūḥ, atau kaum Hūd, atau kaum Ṣāliḥ. Dan kaum Lūṭ tidaklah jauh (zamannya) dari kalian.”

Dengan demikian, dalam pandangan Al-Qur’an, Hūd adalah nabi Arab kuno yang diutus kepada kaum besar bernama ‘Ād, yang kemudian dibinasakan karena kekafiran mereka.


Nasab Nabi Hūd menurut Ahli Genealogi

Ahli nasab (para penulis silsilah keturunan) berbeda pendapat tentang garis keturunan Nabi Hūd. Di antara pendapat-pendapat yang disebutkan:

Sebagian menisbatkannya kepada:

  • al-Khulūd bin Ma‘īd bin ‘Ād.

Sebagian lagi menyebut:

  • ‘Abdullāh bin Ribāḥ bin Jāwab bin ‘Ād bin ‘Aūṣ bin Iram.

Ada pula yang menggabungkan keduanya dan menyebut:

  • ‘Abdullāh bin Ribāḥ bin al-Khulūd bin ‘Ād bin ‘Aūṣ bin Iram.

Sebagian ahli nasab lainnya berpendapat bahwa Hūd adalah:

  • ‘Ābir bin Shāliḥ bin Arfakhsyadz bin Sām bin Nūḥ,

yakni keturunan langsung dari garis Nabi Nūḥ. Di samping itu masih ada berbagai riwayat lain yang saling berbeda, sebagaimana lazim terjadi dalam tradisi penulisan nasab kuno.

Kisah Hūd dengan kaumnya, termasuk larangan menyembah berhala dan ajakan kepada tauhid, diceritakan dalam beberapa surah Al-Qur’an, terutama dalam Surah Hūd, al-A‘rāf, dan asy-Syu‘arā’.


“Lebih Kafir dari Ḥimār”: Sebuah Ungkapan dari Kaum ‘Ād

Dalam literatur Arab, pernah muncul ungkapan:

أكفر من حمار” – “Lebih kafir daripada Ḥimār.”

Disebutkan bahwa Ḥimār adalah nama seorang laki-laki dari kaum ‘Ād. Anak-anaknya meninggal dunia, lalu ia menjadi sangat kufur. Diceritakan: tidak ada seorang pun yang melewati daerahnya, kecuali ia ajak kepada kekafiran; jika orang itu menuruti ajakannya, ia biarkan hidup, tetapi bila menolak, ia bunuh.

Kisah ini diriwayatkan dengan banyak bentuk yang berbeda dalam rincian, tetapi intinya sama: menggambarkan puncak kekafiran dan kebengisan. Coraknya sangat mirip dengan cerita-cerita para penceramah dan ahli kisah (quṣṣāṣ) dalam tradisi keagamaan, yang sering kali menonjolkan sisi peringatan dan ibrah.


Akhir Kaum ‘Ād dan Kelompok Kecil yang Selamat

Para ahli berita (akhbāriyyūn) menyebut bahwa mayoritas kaum ‘Ād tidak beriman kepada kerasulan Nabi Hūd. Mereka menolak dakwahnya, sehingga ditimpa azab dan kebinasaan.

Hanya segelintir orang yang beriman dan mengikuti Hūd yang selamat, yakni mereka yang meninggalkan kaum ‘Ād bersama beliau sebelum azab turun.


“Hūd” dan “هودًا”: Nabi Hūd atau Orang Yahudi?

Sejumlah orientalis (sarjana Barat) menaruh perhatian pada kemiripan nama “Hūd” dengan kata “هُودًا” dalam Al-Qur’an, yang dalam konteks lain berarti “orang-orang Yahudi”.

Di antara ayat yang sering dijadikan rujukan adalah:

﴿وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾
(سورة البقرة، الآية ١٣٥)

“Dan mereka berkata, ‘Jadilah kalian orang-orang Yahudi atau Nasrani, niscaya kalian akan mendapat petunjuk.’ Katakanlah, ‘Bahkan (kami mengikuti) agama Ibrāhīm yang lurus, dan dia tidak termasuk orang-orang musyrik.’”

Dalam ayat-ayat semacam ini, hūdan (هُودًا) dipahami para mufasir sebagai “Yahudi”. Dari sini sebagian orientalis berpendapat bahwa kata “Hūd” berhubungan dengan konsep “tahawud” (masuk ke dalam agama Yahudi).

Para ahli bahasa Arab sendiri memang menyinggung beberapa makna kata ini. Dalam sebagian kamus klasik disebutkan:

النَّصُّ اللُّغَوِيّ

«وَالْهُودُ: جَمْعُ هَائِدٍ، وَهُوَ التَّائِبُ، وَالْهُودُ: الْيَهُودُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ﴾.
وَالتَّهْوِيدُ: الْمَشْيُ الرُّوَيْدُ، وَفِي حَدِيثِ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ:
إِذَا مِتُّ فَخَرَجْتُمْ بِي فَأَسْرِعُوا الْمَشْيَ وَلَا تُهَوِّدُوا كَمَا تُهَوِّدُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ”.
وَهَوَّدَ الإِنْسَانُ وَلَدَهُ: أَيْ جَعَلَهُ عَلَى دِينِ الْيَهُودِ

Terjemahan bebas:

  • al-hūd adalah jamak dari hā’id, yakni orang yang bertaubat.
  • al-hūd juga dipakai untuk menyebut “orang-orang Yahudi”.
  • “At-tahwīd” (dalam konteks lain) berarti berjalan pelan-pelan.
  • Dalam hadis dari ‘Imrān bin Ḥuṣain disebutkan:

“Jika aku telah meninggal, lalu kalian membawaku (untuk dikuburkan), percepatlah langkah kalian dan jangan berjalan pelan seperti jalannya orang-orang Yahudi dan Nasrani.”

  • Ungkapan hawwada al-insān waladahu berarti “menjadikan anaknya beragama Yahudi”.

Berangkat dari kemiripan-kemiripan istilah ini, sejumlah orientalis memperhatikan pula bahwa sebagian ahli nasab menyebut Hūd sebagai ‘Ābir bin Shāliḥ bin Arfakhsyadz, yang dalam tradisi Ibrani dikenal sebagai nenek moyang bangsa Yahudi.

Dari sini mereka mengemukakan sebuah teori:

  • “Hūd” bukan nama seorang tokoh tunggal,
  • melainkan nama sebuah kelompok orang Yahudi yang berhijrah ke jazirah Arab,
  • bermukim di kawasan al-Aḥqāf (daerah bukit-bukit pasir antara Yaman dan ‘Umān),
  • berusaha mengajak penduduk lokal yang musyrik untuk masuk Yahudi,
  • dikenal dengan nama Yehūdā atau sejenisnya, dan dari nama ini kemudian lahir sebutan “Hūd” yang kemudian dipakai seakan-akan nama seorang nabi.

Pandangan ini adalah interpretasi para sarjana Barat berdasarkan bahasa dan tradisi Ibrani; ia berbeda dengan keyakinan umat Islam yang mengimani Hūd sebagai nabi yang benar-benar hidup dan diutus khusus kepada kaum ‘Ād.


Hijrah Nabi Hūd dan Makamnya di Hadramaut (Versi Riwayat)

Sebagian perawi menyebut bahwa setelah azab menimpa kaum ‘Ād yang kafir, Nabi Hūd bersama orang-orang beriman meninggalkan negeri ‘Ād dan berpindah ke wilayah pesisir yang disebut asy-Syiḥr (timur Yaman sekarang).

Setelah Nabi Hūd wafat, dikatakan bahwa beliau dimakamkan di tanah Ḥaḍramaut. Para perawi menunjuk sebuah lembah bernama Wādī Barhūt, tidak jauh dari Bi’r Barhūt (Sumur Barhūt), yang terletak di lembah utama yang bercabang menjadi tujuh lembah. Sumur itu termasuk sumur-sumur kuno yang terkenal di kalangan orang Arab.

Dalam riwayat disebut sebuah ungkapan:

حَدِيث

«خَيْرُ بِئْرٍ فِي الْأَرْضِ زَمْزَمُ، وَشَرُّ بِئْرٍ فِي الْأَرْضِ بَرَهُوتُ

“Sebaik-baik sumur di bumi adalah Zamzam, dan seburuk-buruk sumur di bumi adalah (sumur) Barhūt.”

Dan dalam sebuah riwayat dari ‘Alī r.a. dikatakan:

أَثَر

«شَرُّ بِئْرٍ فِي الْأَرْضِ بِئْرُ بَرَهُوتَ

“Seburuk-buruk sumur di bumi adalah Sumur Barhūt.”

Dalam penjelasan ahli bahasa disebutkan bahwa “Barhūt” adalah sebuah lembah yang masyhur, dikatakan berada di Ḥaḍramaut. Namanya terkadang diucapkan dengan Barhūt (بَرَهُوت) dan ada pula yang mengucapkannya Burhūt (بُرْهُوت).


Sumur Barhūt: Antara Mitos dan Penjelasan Geologi

Sumur Barhūt sudah dikenal sejak masa Jahiliyah sebagai “sumur terburuk di bumi”. Airnya digambarkan berwarna hitam, berbau busuk, dan dari dasar sumur terdengar suara-suara aneh dan menjerit yang mengerikan. Dari lubangnya juga disebut keluar bau yang sangat tidak sedap.

Karena gambaran menakutkan ini, orang-orang dahulu membayangkan bahwa sumur itu adalah tempat di mana roh-roh orang kafir disiksa.

Para pelancong dan peneliti modern yang mengunjungi kawasan itu lalu mengemukakan penjelasan lain. Mereka berpendapat bahwa daerah ini sebenarnya merupakan kawah gunung berapi purba yang pernah meletus hebat, sehingga membinasakan siapa pun yang tinggal di sekitarnya.

Pendapat ini dikuatkan oleh keterangan dalam sebagian buku Arab lama yang menyebut bahwa dari tempat itu dahulu terdengar suara gemuruh seperti halilintar dari kejauhan, dan ia memuntahkan bermacam-macam material pijar yang menimbulkan suara mendesis menakutkan.

Dari latar seperti inilah, menurut orientalis Von Kremer, kemungkinan besar lahir kisah tentang “kubur Nabi Hūd” dan “azab kaum ‘Ād” yang dikaitkan dengan lembah Barhūt tersebut.


Ziarah ke “Makam Nabi Hūd” dan Peninggalan Kota-Kota yang Hilang

Hingga hari ini, tempat yang dikenal masyarakat setempat sebagai “makam Nabi Hūd” masih diziarahi. Orang-orang datang dari berbagai daerah, terutama pada tanggal 11 Sya‘bān, khusus untuk berziarah.

Diperkirakan, tempat ini kemungkinan sudah dihormati sejak masa Jahiliyah sebagai salah satu situs suci lokal, lalu kemudian diberi makna baru dalam bingkai kisah Nabi Hūd setelah datangnya Islam.

Di daerah sekitar lembah ini, para peneliti arkeologi menemukan sisa-sisa kota yang lenyap dan desa-desa Jahiliyah. Terlihat pula gua-gua dan ceruk-ceruk batu di tepi lembah, serta tulisan dan gambar yang dipahat pada batu-batu besar. Semua ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut dahulu pernah padat penduduk, kemudian ditinggalkan—kemungkinan besar karena wabah, bencana alam, atau perubahan lingkungan yang berat.


Dari Lembah Barhūt ke “Styx”: Jejak dalam Tradisi Yunani-Romawi?

Beberapa orientalis berpendapat bahwa daerah yang sekarang dikenal sebagai lokasi “makam Hūd” adalah tempat yang oleh para penulis Yunani kuno disebut sebagai Styx atau Stygis.

Sementara itu, sebagian penulis Romawi terdahulu menuturkan kisah dua suku dari Pulau Kreta (Krit), yaitu kabilah Minos dan Rhadamantys. Dikatakan bahwa kedua kabilah ini meninggalkan tanah asal mereka dan berpindah ke wilayah Arab yang dihuni oleh ratusan kabilah Arab, dan mereka menjadi dua di antara kabilah yang paling kuat di sana.

Mereka diduga bermukim tidak jauh dari sebuah lokasi yang oleh Plinius (Pliny) disebut Stygis aguniae fossa—nama Latin yang kemudian sebagian orientalis hubungkan dengan lembah dan sumur misterius di kawasan Hadramaut ini.

Hubungan semacam ini, tentu, lebih bersifat hipotesis ilmiah modern yang mencoba mengaitkan mitos lokal Arab dengan mitologi Yunani-Romawi, tanpa dapat dipastikan kebenarannya secara pasti.


Versi Lain: Makam Hūd di Makkah dan di Damaskus?

Tidak semua ahli riwayat sepakat bahwa Nabi Hūd dimakamkan di Ḥaḍramaut. Ada beberapa versi lain yang beredar dalam khazanah klasik.

1. Versi: Hūd Wafat di Makkah

Sebagian ahli berita menyebut bahwa setelah putus asa karena kaumnya menolak dakwah, Hūd meninggalkan kaum ‘Ād bersama para pengikutnya dan pergi ke Makkah. Di sana ia tinggal cukup lama, hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di Makkah.

Al-Wāqidī dikutip mengatakan bahwa lokasi kubur para nabi pada dasarnya tidak diketahui secara pasti, kecuali tiga:

«مَا يُعْلَمُ مَوْضِعُ قَبْرِ نَبِيٍّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ، إِلَّا ثَلَاثَةٌ: قَبْرُ إِسْمَاعِيلَ، فَإِنَّهُ تَحْتَ الْمِيزَابِ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْبَيْتِ، وَقَبْرُ هُودٍ، فَإِنَّهُ فِي حِقْفٍ مِنَ الرَّمْلِ تَحْتَ جَبَلٍ مِنْ جِبَالِ الْيَمَنِ، عَلَيْهِ شَجَرَةٌ تَنْدَى، وَمَوْضِعُهُ أَشَدُّ الْأَرْضِ حَرًّا، وَقَبْرُ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَإِنَّ هَذِهِ قُبُورُهُمْ بِحَقٍّ

Terjemahan bebas:

“Tidak diketahui secara pasti letak kubur seorang nabi pun, kecuali tiga:

  • Kubur Ismā‘īl, yang berada di bawah talang (Ka‘bah), di antara rukun dan bangunan Ka‘bah,
  • Kubur Hūd, yang berada di sebuah gundukan pasir di bawah salah satu gunung Yaman, di atasnya ada sebuah pohon yang selalu basah dan tempat itu adalah salah satu bagian bumi yang paling panas,
  • Dan kubur Rasulullah .
    Inilah kubur-kubur mereka yang diyakini benar.”

Dalam riwayat lain disebut bahwa kubur Hūd juga termasuk di antara para nabi yang kuburnya berada di Makkah, bersama puluhan nabi lainnya. Ini semua menunjukkan banyaknya tradisi lokal yang berkembang, sering tanpa kepastian sejarah yang kuat.

2. Versi: Makam Hūd di Masjid Umayyah, Damaskus

Sebagian riwayat lain menempatkan kubur Hūd di Damaskus, tepatnya di dalam Masjid Umayyah.

Kemungkinan, cerita-cerita yang mengaitkan Damaskus dengan “Īram dhāt al-‘imād” (kota tua kaum ‘Ād yang disebut dalam Al-Qur’an) ikut mendorong munculnya gagasan bahwa makam Hūd berada di kota itu.

Bahkan ada sekelompok ahli berita yang mengklaim sejumlah nabi dimakamkan di Damaskus, dan menempatkan kubur mereka di dalam Masjid Umayyah.

Penjelasan yang masuk akal untuk fenomena ini ialah: sebelum menjadi masjid, bangunan itu adalah sebuah gereja besar yang sangat dimuliakan penduduk Damaskus. Di dalamnya terdapat makam sejumlah tokoh suci dan rohaniwan Nasrani. Ketika bangunan itu diubah menjadi masjid, kubur-kubur para tokoh Kristen itu secara perlahan “ditafsir ulang” oleh ingatan kolektif masyarakat sebagai kubur para nabi.

Rangkaian kisah yang meninggikan kedudukan Masjid Umayyah ini tampaknya menguat justru pada masa ketika Ibn az-Zubair bertahan di Makkah dan penduduk Hijaz condong memusuhinya Bani Umayyah. Kisah-kisah itu, secara tidak langsung, ikut mengangkat kehormatan Damaskus—ibukota Umayyah—di hadapan Makkah.


Hūd sebagai Leluhur Qaḥṭān dan Persaingan Suku-suku Arab

Suku-suku Qaḥṭān (yang sering dihubungkan dengan “Arab asli” dari Yaman) menjadikan Nabi Hūd sebagai salah satu leluhur mereka dan menyambungkan nasab mereka kepadanya. Mereka berbangga bahwa di antara nenek moyang mereka ada seorang nabi.

Motifnya cukup jelas: dalam tradisi Arab awal, suku-suku yang disebut keturunan ‘Adnān (Arab utara) kerap membanggakan bahwa di antara kakek moyang mereka terdapat beberapa nabi. Sementara itu, dalam garis Qaḥṭān sendiri tidak ada nabi yang dikenal.

Untuk mengimbangi kebanggaan ini, para ahli nasab dari kalangan Qaḥṭān menyusun silsilah yang menghubungkan mereka dengan para nabi, dan di sisi lain juga menyusun silsilah yang mengklaim bahwa “Arab sejati” adalah Qaḥṭān, sedangkan ‘Adnān hanyalah pendatang di wilayah mereka.

Di antara teks yang sering dikutip adalah bait yang dinisbatkan kepada Ḥassān bin Tsābit, penyair besar Anshar:

بَيْتُ شِعْرٍ مَنْسُوبٌ إِلَى حَسَّانَ

«أَبُونَا نَبِيُّ اللهِ هُودُ بْنُ عَابِرٍ»

“Bapak kami adalah Nabi Allah, Hūd bin ‘Ābir.”

Dalam sebagian sumber, disebut pula bahwa Hūd adalah:

«هُودُ بْنُ عَابِرِ بْنِ أَرْفَخْشَذَ بْنِ سَامِ بْنِ نُوحٍ»

yakni Hūd bin ‘Ābir bin Arfakhsyadz bin Sām bin Nūḥ.

Ibn Khaldūn dan beberapa penulis lain menyebut bahwa Qaḥṭān adalah anak Hūd (atau cucunya), dan dengan demikian mereka menganggap suku-suku Yaman dan Aus–Khazraj sebagai keturunan langsung nabi tersebut.


Yatsrib, Orang Yahudi, dan Klaim Nasab kepada Hūd

Bila bait syair yang dinisbatkan kepada Ḥassān bin Tsābit itu memang asli berasal darinya, maka itu menjadi bukti awal bahwa klaim “Qaḥṭān keturunan Hūd” sudah dikenal sejak masa awal Islam.

Penduduk Yatsrib (Madinah), yakni suku Aus dan Khazraj, dalam tradisi ahli nasab digolongkan sebagai suku-suku Qaḥṭān. Riwayat-riwayat menunjukkan bahwa mereka telah menghubungkan diri dengan garis keturunan ini sebelum Islam.

Jawād ‘Alī menjelaskan kemungkinan jalur pengaruhnya sebagai berikut:

  • Di Yatsrib tinggal komunitas Yahudi yang cukup besar.
  • Orang-orang Yahudi ini ingin hidup rukun dan dekat dengan kabilah-kabilah Arab setempat.
  • Karena itu mereka menyebarkan di tengah masyarakat bahwa ‘Ābir (dalam tradisi Ibrani: Eber), kakek moyang Bani Isrā’īl dan ayah dari dua putra—Fālagh (فالِغ / Peleg) dan Yaqṭān (يَقْطَان / Joktan)—adalah juga nenek moyang orang Yatsrib.
  • Mereka berkata bahwa asal-usul penduduk Yatsrib adalah dari garis Yaqṭān, sehingga hubungan mereka dengan orang Yahudi adalah hubungan “sepupu sepayah”.

Ketika kemudian Al-Qur’an turun membawa berita tentang Nabi Hūd, dan orang-orang Makkah sempat berbangga di hadapan penduduk Yatsrib mengenai kehadiran Islam dan kemuliaan mereka, penduduk Yatsrib memanfaatkan nama Hūd ini:

  • Mereka “meminjam” sosok Hūd,
  • menjadikannya leluhur Qaḥṭān atau anak Qaḥṭān,
  • dan mengklaim bahwa mereka pun adalah keturunan seorang nabi, sehingga pada mereka juga pernah turun kenabian yang kuno.

Ḥassān bin Tsābit, yang dikenal sangat fanatik terhadap suku al-Azd (yang menjadi induk bagi Aus dan Khazraj) dan sangat membanggakan keYamanan dan ke-Qaḥṭān-an, tampaknya ikut mengukuhkan klaim ini dalam syair-syairnya.

Meski demikian, penulis al-Mufassal sendiri menyatakan bahwa menurut penelitiannya, bait syair tersebut kemungkinan besar telah mengalami perubahan (disisipkan atau digeser maknanya) dan akan ia bahas lebih rinci di bagian lain dari bukunya. Dengan kata lain, dari sudut pandang kritik sejarah, silsilah-silsilah yang menghubungkan Hūd dengan Qaḥṭān dan Yatsrib sangat mungkin merupakan konstruksi sosial-politik, bukan data sejarah yang pasti.


Penutup dan Sumber

Kisah Nabi Hūd, kaum ‘Ād, dan berbagai lokasi yang dikaitkan dengan makam beliau memperlihatkan perpaduan antara:

  • berita wahyu Al-Qur’an,
  • tradisi lisan Arab pra-Islam,
  • tafsir dan kisah keagamaan,
  • serta upaya para sarjana (baik Muslim maupun Barat) untuk menafsirkan kembali teks dan situs-situs kuno.

Di satu sisi, Al-Qur’an menegaskan figur Nabi Hūd dan kehancuran kaum ‘Ād sebagai pelajaran tentang kesombongan dan penolakan terhadap tauhid. Di sisi lain, riwayat-riwayat lokal, legenda sumur Barhūt, klaim-klaim lokasi makam, dan persaingan nasab antara Qaḥṭān dan ‘Adnān menunjukkan bagaimana masyarakat Arab kemudian menenun warisan spiritual itu ke dalam identitas suku, politik, dan kesadaran sejarah mereka.

Sumber utama:
Jawād ‘Alī, المفصل في تاريخ العرب قبل الإسلام 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peristiwa-Peristiwa di Tahun ke-3 Hijriah

Rihlah Ibnu Bathutah #56 : Konstantinopel, Sarā Barkah dan Sultan Uzbak

Rihlah Ibnu Baathutah #57 : Dari As-Sarā ke Khawarizmi